Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Pertama, dengan mengucap puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikanmakalh yang berjudul “Gelatin” pada mata kuliah Kimia Dasar
tepat pada waktunya.
Dalam penulisan makalah ini tentunya tidak lepas dari kekurangan, dan
berbagai hambatan yang dialami oleh penulis. Semua ini didasarkan dari
keterbatasan yang dimiliki penulis. Makalah ini selesai tidak lepas dari bantuan
dan bimbingan serta dukungan dari pihak-pihak terkait. Untuk itu penulis
berterimakasih kepada pihak-pihak terkait, diantaranya :
1. Ibu Hj Sri Mulyati., Ir.,MM, Ibu Winda Nurtiana S.TP., M.Si selaku dosen
mata kuliah Kimia Dasar.
2. Serta pihak-pihak yang telah memberi dukungan dam bimbingan pada proses
penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Hal ini karena adanya keterbatasan waktu dan tenaga yang penulis
miliki. Penulis sangat mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun guna
mencapai kesempurnaan penulisan laporan ini. Semoga makalah yang masih
sederhana ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.

Serang, November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i


DAFTAR ISI................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 1
1.3 Tujuan Dan Manfaat ...................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Gelatin ............................................................................................ 3
2.2 Gelatin Impor Indonesia................................................................. 3
2.3 Kandungan Asam Amino Dalam Gelatin ...................................... 4
2.4 Struktur Kimia Gelatin ................................................................... 5
2.5 Fungsi Dan Kegunaan Gelatin ....................................................... 6
2.6 Klasifikasi Gelatin ......................................................................... 7
2.7 Sifat Fisiko-Kimia Gelatin ............................................................. 7
2.8 Proses Pembuatan Gelatin.............................................................. 8
BAB III PENUTUP
5.1 Simpulan ........................................................................................ 11
5.2 Saran .............................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Makanan berasal dari bahan makanan yang sudah atau tanpa mengalami
pengolahan. Makanan adalah semua produk yang dikonsumsi manusia baik
dalam bentuk bahan mentah, setengah jadi, atau jadi yang meliputi produk-
produk industri, restoran, katering serta makanan tradisional atau jajanan .
Terdapat satu kelemahan pada kebanyakan konsumen makanan/ jajanan.
Kelemahan tersebut adalah kebiasaan konsumen yang hanya melihat
tampilannya ketika membeli. Kelemahan itulah yang dimanfaatkan oleh
produsen untuk memberikan Bahan Tambahan Pangan (BTP), sehingga selera
yang dikehendaki oleh konsumen terpenuhi (Afrianti,2008).
Bahan tambahan pangan (BTP) secara umum adalah bahan yang biasanya
tidak digunakan sebagai bahan makanan dan biasanya bukan merupakan
komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang
dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada
pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan dan
penyimpanan (Cahyadi,2006).
Tujuan penambahan zat tambahan makanan adalah untuk meningkatkan
atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan, membuat bahan
pangan lebih mudah dihidangkan serta mempermudah dalam penyiapan bahan
pangan (Cahyadi,2006).
Sejak pertengahan abad ke-20, peranan bahan tambahan pangan (BTP)
semakin penting sejalan dengan kemajuan teknologi pangan sintetis.
Banyaknya BTP dalam bentuk murni yang tersedia secara komersial dengan
harga relatif murah, akan mendorong meningkatnya pemakaian BTP, yang
berarti meningkatkan konsumsi bahan tersebut bagi setiap individu (Cahyadi
2006).

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan gelatin?
2. Apakah Indonesia pernah impor gelatin?
3. Apa saja kandungan didalam gelatin?
4. Gambarkan bagaimana struktur kimia gelatin!
5. jelaskan fungsi dan kegunaan gelatin!
6. Sebutkan macam-macam klasifikasi gelatin?
7. Sebutkan sifat fisiko-kimia gelatin!
8. Jelaskan proses pembuatan gelatin!

1
1.3 Tujuan Dan Manfaat
Dari rumusan masalah diatas, tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian dari gelatin.
2. Untuk mengetahui pada tahun berapa dan berapa besar Indonesia
mengimpor gelatin.
3. Untuk mengetahui kandungan yang terdapat didalam gelatin.
4. Untuk mengetahui struktur kimia pada gelatin.
5. Agar kita mengetahui fungsi dan kegunaan serta macam-macam klasifikasi
gelatin, dan untuk mengetahui sifati fisiko kimia gelatin. Serta mengetahui
proses pembuatan gelatin

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Gelatin
Dalam industri pangan gelatin sangat bermanfaat (miracle food) karena
peranannya yang sulit tergantikan. Sebagian besar dari total produksi gelatin
diaplikasikan pada industri makanan dalam bentuk edible gelatin. Dalam
pembuatan bakery, gelatin digunakan sebagai bahan penstabil dan pengisi.
Pemanfaatan gelatin pada produk non pangan adalah industri farmasi, teknik
dan kosmetik. Pada bidang farmasi, gelatin digunakan dalam pembuatan
kapsul, berperan sebagai agen pengikat untuk tablet dan pastilles, penyamar
rasa pada pil, pengganti serum, mikroenkapsulasi vitamin, dan penstabil
emulsi. Pada industri teknik gelatin digunakan dalam bahan pembuatan lem,
kertas, cat yang berperan sebagai pengikat, dan penstabil emulsi. Dalam
industri kosmetik digunakan dalam lipstik, shampo dan sabun
(Peranginangin,2004).
Gelatin merupakan salah satu bahan yang banyak digunakan dalam
pembuatan produk makanan. Gelatin merupakan produk yang didapatkan dari
hidrolisis kolagen parsial turunan dari kulit, jaringan penghubung putih, dan
tulang hewan. Gelatin telah marak digunakan, dalam industri makanan
berfungsi sebagai penstabil, pengental (thickener), pengemulsi (emulsifier),
pembentuk jel, pengikat air, pengendap dan pembungkus makanan (edible
coating). Sedangkan dalam industri farmasi gelatin digunakan sebagai bahan
pembuat kapsul, disamping itu juga digunakan untuk bahan kosmetik dan film
(Damanik, 2005).

Gambar 2.1 Gelatin

2.2 Gelatin Impor Indonesia


Penggunaan gelatin yang beragam tidak diimbangi dengan tumbuhnya
produksi gelatin dalam negeri sehingga kebutuhan dalam negeri terhadap

3
gelatin dipenuhi dengan cara impor. Tabel berikut adalah data impor gelatin
dari tahun 2010 hingga Februari 2014 berdasarkan data Biro Pusat Statistik.

Gelatin impor biasanya adalah produk hasil pengolahan tulang dan kulit
hewan ternak seperti sapi, domba, dan babi. Namun, hal ini menjadi
permasalahan di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam.
Dalam agama islam, hukumnya haram mengkonsumsi produk mengandung
zat yang berasal dari hewan babi. Sumber lain gelatin perlu dicari lebih lanjut
2 sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan juga memenuhi persyaratan,
khususnya terkait kehalalannya. Bahan alternatif sebagai pengganti gelatin
mamalia, yang diterima oleh semua agama sebagai bahan tambahan makanan
adalah gelatin ikan (Haug,2004).

2.3 Kandungan Dalam Gelatin


Gelatin adalah derivat protein dari serat kolagen yang ada pada kulit,
tulang, dan tulang rawan. Susunan asam aminonya hampir mirip dengan
kolagen, dimana glisin sebagai asam amino utama dan merupakan 2/3 dari
seluruh asam amino yang menysunnya, 1/3 asam amino yang tersisa diisi oleh
prolin dan hidroksiprolin. Berat 5 molekul gelatin sekitar 90.000 sedangkan
rata-rata berat molekul gelatin komersial berkisar antara 20.000 – 70.000.
Tidak terdapatnya triptofan pada gelatin menyebabkan gelatin tidak dapat
digolongkan sebagai protein lengkap. Gelatin ikan dikategorikan sebagai
gelatin tipe A. Secara ekonomis, proses asam lebih disukai deibandingkan
proses basa. Hal ini karena perendaman yang dilakukan dalam proses asam
lebih singkat dibandingkan proses basa.( Wiyono, 2001).

4
Gelatin mengandung protein yang sangat tinggi dan rendah kadar
lemaknya. Gelatin kering dengan kadar air 8-12% mengandung protein sekitar
84-86% Protein, lemak hampir tidak ada dan 2-4% mineral. Dari 10 jenis
asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh, gelatin mengandung 9 jenis
asam amino essensial, satu asam amino essensial yang hampir tidak
terkandung dalam gelatin yaitu Treptophane (Dewi,2007).
Dengan komposisi kimia seperti tersebut di atas dan sifat-sifat fisik
lainnya, tidak heran kalau gelatin mempunyai multi guna dalam berbagai
industri. Hal ini dikarenakan gelatin bersifat serba bisa, yaitu bisa berfungsi
sebagai bahan pengisi, pengemulsi (emulsifier), pengikat, pengendap,
pemerkaya gizi, pengatur elastisitas, dapat membentuk lapisan tipis yang
elastis, membentuk film yang transparan dan kuat, kemudian sifat penting
lainnya yaitu daya cernanya yang tinggi dan dapat diatur, sebagai pengawet,
humektan, penstabil, dan lain-lain (Dewi,2007)

2.4 Struktur Kimia Gelatin


Asam amino saling terikat melalui ikatan peptida membentuk gelatin.
Susunan asam amino gelatin berupa Glisin-X-Y dimana X umumnya asam
amino prolin dan Y umumnya asam amino hidroksiprolin. Tidak terdapatnya
triptofan pada gelatin menyebabkan gelatin tidak dapat digolongkan sebagai
protein lengkap (Junianto,2006).
Struktur kimia gelatin dapat dilihat ditabel 2.4

5
Tabel 2.4 Struktur Kimia Gelatin

2.5 Fungsi Dan Kegunaan Gelatin


Kegunaan gelatin antara lain sebagai bahan pengisi, pengemulsi
(Emulsifier), pengikat, pengendap, pemerkaya gizi, sifatnya juga luwes yaitu
dapat membentuk lapisan tipis yang elastis, membentuk film yang transparan
dan kuat, kemudian sifat penting lainnya yaitu daya cernanya yang tinggi
(Saepul,, 2011).

6
2.6 Klasifikasi Gelatin
Gelatin dapat diklasifikasikan berdasarkan tahapan pretreatment pada
proses perendamannya yaitu gelatin tipe A dan Tipe B. gelatin tipe A yaitu
gelatin yang dalam proses perendamannya menggunakan larutan asam.
Biasanya gelatin tipe ini terbuat dari kulit hewan muda, terutama babi. Karena
kulit binatang semacam ini tidak memiliki ikatan yang kuat, sehingga proses
pelunakannya berlangsung cepat (Jaswir,2007)
Gelatin tipe B merupakan gelatin yang berbahan baku lebih keras. Tak
heran jika proses perendaman memakan waktu lebih lama, menggunakan
larutan basa (base). Ikatan kolagen dalam proses ini dipisah sebagian,
sementara itu proses selain kolagen serta zat-zat kimia lainnya dinetralisir
dengan menambahkan larutan asam kemudian dibasuh lagi dengan air untuk
mengangkat sisa-sisa garm yang masih melekat (Jaswir,2007).
Asam mampu mengubah serat kolagen triple heliks menjadi rantai tunggal
sedangkan larutan perendaman basa hanya mampu menghasilkan rantai ganda.
Hal ini menyebabkan pada waktu yang sama jumlah kolagen yang dihidrolisis
oleh larutan asam lebih banyak daripada larutan basa. Karena itu perendaman
dalam larutan basa membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menghidrolisis
kolagen (Junianto,2006).

2.7 Sifat Fisiko-Kimia Gelatin


Sifat fisik gelatin berbentuk padat, kering, tidak berasa, tidak berbau,
transparan dan berwarna kuning redup sampai kuning sawo. Umumnya
gelatin mempunyai BM 80.000 gr/mol (Fatimah,2008)
Gelatin dapat mengembang dalam air dingin, dapat membentuk film,
mempengaruhi viskositas suatu bahan, dan dapat melindungi sistem koloid.
Massa jenis gelatin adalah 1,35 gr/cm. pada suhu 71°C gelatin mudah larut
dalam air membentuk gel pada suhu 49°. Gelatin terdenaturasi pada suhu
diatas 80°C. gelatin memiliki sifat larut air (Wahyuni,2003).
Sifat fungsional gelatin sangat penting dalam aplikasi suatu produk. Sifat
fungsional gelatin merupakan sifat fisikokimia yang mempengaruhi perilaku
gelatin dalam makanan selama proses, penyimpanan, penyiapan,
pengkonsumsian. Adapun sifat fungsional dapat berupa berikut : organoleptic
meliputi warna, bau , viskositas, kekuatan gel, titik gel, titik leleh, dan pH
(Anwar,2008).
Berdasarkan tipe pembuatannya terdapat dua jenis gelatin yaitu tipe A dan
tipe B. gelatin tipe A diproduksi melalui proses asam sedangkan tipe B
diproduksi melalui proses basa. Hal ini berpengaruh terhadap sifat gelatin
yang dihasilkan (Tourtellote, 1980).
Berikut adalah table sifat gelatin tipe A dan tipe B menurut Tourtellote (1980)

7
Salah satu sifat fisik gelatin yang menentukan mutu gelatin adalah
kemampuannya untuk membentuk gel yang disebut kekuatan gel. Kekuatan
gel dipengaruhi oleh pH, adanya komponen elektrolit dan non elektrolit serta
bahan tambahan lainnya. Gelatin dapat membentuk gel yang bersifat termal
reversible. Termal reversible yaitu setelah gel dipanaskan dan selanjutnya
didinginkan dapat membentuk gel kembali. Mekanisme pembentukan gel
melibatkan ikatan ionic dari gugus karbonik dari rantai asam amino dan
sedikit ikatan hydrogen (Fatimah,2008).

2.8 Proses Pembuatan Gelatin


Proses pembuatan gelatin dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu proses
asam dan proses basa. Perbedaan kedua proses ini terletak pada proses
perendamannya (demineralisasi). Berdasarkan kekuatan ikatan kovalen silang
dan jenis bahan yang dihidrolisis maka penerapan jenis asam maupun basa
organic dan metode hidrolisis lainnya seperti lama hidrolisis, pH dan suhu
akan berbeda-beda (Fatimah,2008)
Proses utama pembuatan gelatin dibagi menjadi 3 tahap, yaitu pertama
tahap pretreatment, kedua adalah konversi kolagen menjadi gelatin (hidrolisis)
dan ketiga adalah pemurnian dan pengeringan (Fatimah,2008)
Gelatin banyak digunakan sebagai bahan penstabil (stabilizer) pada
pembuatan es krim, atau sebagai bahan sustitusi makanan lainnya. Adapun
tahap-tahap pengolahannya adalah sebagai berikut (Suparno, 2001) :
Persiapan dilakukan dengan pengecilan ukuran. Tulang terlebih dahulu
dikeringkan, setelah kering lalu dihancurkan dengan cara dipukul-pukul
dengan benda keras, atau dengan mesin pemukul (hammer) sampai menjadi
ukuran yang kecil-kecil (± 2-4 cm). Kadang-kadang setelah tulang
dihancurkan, dimasak selama ± 3 jam pada suhu 1540C untuk menghilangkan
sisa-sisa lemak. (Dewi,2007)
Perendaman (Demineralisasi). Tulang yang telah hancur kemudian
direndam dalam llarutan 4-7% asam khlorida seama 10-14 hari. Maksud

8
perendaman ini agar mineral-mineral berbentuk garam fosfat dan garam-
garam lainnya dapat hilang. Tulang yang telah direndam dalam larutan asam
ini disebut ”ossein” dan dipisahkan dengan cara penyaringan. Selanjutnya
kalau ossein akan disimpan harus dikeringkan terlebih dahulu sampai benar-
benar kering. Apabila ossein akan diolah menjadi gelatin, maka sekali lagi
harus direndam menggunakan larutan 5-15% Ca(OH)2. tujuan perendaman ini
agar ossein akan menjadi lunak, lalu disaring untuk membuang larutan
perendamannya. (Dewi,2007).
Selanjutnya tahap penggembungan (swelling) adalah tahap yang bertujuan
untuk menghilangkan kotoran-kotoran dan mengkonversi kolagen menjadi
gelatin. Pada tahap ini perendaman dapat dilakukan dengan asam organic
seperti asam asetat, sitrat, fumarat, askorbat, malat, suksinat, tartarat, dan
asam lainnya yang aman dan tidak menusuk hidung. Sedangkan asam organic
yang biasa digunakan adalah asam hidroksilat, fosfat, klorida, dan sulfat
(Saepul,2011).
Menurut Martianingsih (2010) pada proses perendaman (demineralisasi)
juga mengakibatkan terjadinya penggembungan (swelling) yang dapat
mengandung material-material yang tidak diinginkan, seperti lemak dan
protein non-kolagen dengan kehilangan kolagen yang minimum.
Selanjutnya proses pemanasan. Selanjutnya ossein ditambahkan larutan
35% asam khlorida sampai pH ossein mencapai 4,7. kemudian dipanaskan
pada suhu 60-650C selama 4-9 jam. Pada pemanasan ini akan terbentuk
larutan gelatin dan sisa ossein. Keduanya dipisahkan dengan penyaringan.
Sisa ossein dipanaskan lagi pada suhu 65-750C selama 4-8 jam, sehingga
terbentuk larutan gelatin dan sisa ossein. Keduanya dipisahkan lagi dengan
penyaringan, sisa ossein dipanaskan lagi pada suhu 75-800C selama 4-6 jam,
dan akan diperoleh lagi larutan gelatin dan sedikit sisa gelatin. Larutan gelatin
yang diperoleh dikumpulkan menjadi satu, kemudian sekali lagi dilakukan
penyaringan dengan menggunakan tekanan, pressure filter, maka akan
diperoleh larutan gelatin yang benar benar bersih (Dewi,2007).
Pemekatan. Larutan gelatin yang diperoleh masih dalam keadaan yang
encer. Larutan gelatin ini harus dipekatkan. Pemekatan dikerjakan dengan
evaporator, sampai kepekatannya menjadi 25-30%, suhu pemekatan adalah
800C, sedangkan waktu yang diperlukan ± 5 jam (Dewi,2007).
Pendinginan. Apabila larutan gelatin telah pekat lalu dicetak dengan
bentuk dan ukuran sesuai dengan selera. Umumnya dibuat lembaran-lembaran
tipis. Oleh karena itu pencetakannya dilakuakan dengan plat-plat aluminium
atau baja anti karat (stainless stell). Setelah larutan gelatin diletakkan dalam
plat-plat tersebut, lalu didinginkan dalam ruang yang dingin. Pada
pendinginan ini larutan gelatin akan menjadi padat (Dewi,2007).
Pengeringan. Tahap terakhir adalah pengeringan gelatin pekat yang telah
padat. Dapat dikerjakan pada sinar matahari langsung atau dengan

9
menggunakan mesin pengering yang bersuhu 32-600C. Pengeringan selesai
apabila kadar air gelatin sekitar 9-12%. Setalah kering gelatin disimpan pada
suhu kamar (Dewi 2007).

10
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan yaitu penggunaan gelatin
sangat luas, bukan hanya pada produk pangan, tetapi juga pada produk farmasi
dan kosmetika. Hal ini dikarenakan gelatin bersifat serba bisa, yaitu bisa
berfungsi sebagai bahan pengisi, pengemulsi (emulsifier), pengikat,
pengendap, pemerkaya gizi, sifatnya juga luwes yaitu dapat membentuk
lapisan tipis yang elastis, membentuk film yang transparan dan kuat,
kemudian sifat penting lainnya yaitu daya cernanya yang tinggi.
Gelatin terbagi menjadi dua tipe, yaitu tipe A dan tipe B. tipe A adalah tipe
gelatin yang proses perendamannya menggunakan larutan asam, biasanya
gelatin ini terbuat dari kulit hewan seperti babi, sapi. Proses penlanakannya
juga berlangsung cepat. Gelatin tipe B yaitu gelatin berbahan baku lebih keras
dibanding gelatin tipe A, oleh sebab itu perendamannya menggunakan larutan
basa.
Dan dapat disimpulkan juga pembuatan gelatin dibagi menjadi dua, yaitu
melalui proses asam dan proses basa. Berdasarkan kekuatan ikatan kovalen
silang dan jenis bahan yang dihidrolisis maka penerapan jenis asam maupun
basa organic dan metode hidrolisis lainnya seperti lama hidrolisis, pH dan
suhu akan berbeda-beda.

5.1 Saran
Saran yang diberikan adalah dalam mengkonsumsi bahan makanan,
hendaknya kita memperhatikan terlebih dahulu apakah produk tersebut adalah
produk impor atau tidak. Karena di luar negeri 70% gelatin berasal dari olahan
organ babi. Sedangkan jika produk tersebut adalah produk dalam negeri yang
mengandung gelatin berdasarkan info dari badan POM, 100% berasal dari luar
negeri yang bahannya berasal dari organ sapi. Jadi cukup aman untuk
dikonsumi.

11
DAFTAR PUSTAKA

Afrianti, L.H. 2008. Teknologi Pengawetan Pangan. Bandung: Alfabeta.


Anwar. 2008. Pemanfaatan Limbah Tulang Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)
Sebagai Gelatin dan Pengaruh Lama Penyimpanan pada Suhu Ruang.
Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Cahyadi, W. 2006. Analisis Dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
Jakarta.: Bumi Aksara.
Damanik, A. 2005. Gelatin Halal, Gelatin Haram. Jurnal Halal LP POM MUI.
Jakarta.
Dewi, Hastuti. 2007. Pengenalan Dan Proses Pembuatan Gelatin. Fakultas
Pertanian. UNWAHAS. Vol. 3 No 1. Hal 39-48.
Fatimah, S. 2008. “Faktor Kesehatan Lingkungan Rumah yang Berhubungan
dengan Kejadian TB Paru di Kabupaten Cilacap”. Tesis. Universitas
Diponegoro Semarang.
Haug, I. J. 2004. Physical Behavior of Fish GelatinCarrageenan Mixtures.
Carbohydrate Polymers 56, 11–19.
Jaswir, I. 2007. Memahami Gelatin. Artikel Iptek.
Junianto, K. 2006. Produksi Gelatin Dari Tulang Ikan Dan Pemanfaatannya
Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Cangkang Kapsul. Laporan
Penelitian. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Padjadjaran. Bandung.
Martianingsih, N. 2010. Analisis Sifat Kimia, Fisik, Dan Termal Gelatin Dari
Ekstraksi Kulit Ikan Pari (Himantura gerrardi) Melalui Variasi Jenis
Larutan Asam. Jurusan Kimia FMIPA Institut Teknologi Sepuluh
Nopember,Surabaya.
Peranginangin, R. (2005). Karakterisasi Mutu Gelatin Yang Diproduksi Dari
Tulang Ikan Patin (Pangasius Hypophthalmus) Secara Ekstraksi Asam.
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 11:15-23.
Saepul. 2011. Pembuatan Gelatin Dari Limbah Tulang Ikan. Bandung. Teknik
Kimia Polban.
Suparno. 2001. Diktat Kuliah Dasar Teknlogi Hasil Ternak. Jurusan Peternakan.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Tourtellotte, p.1980. Gelatain. inMc Graw Hill. Encylopedia of science and
Teknology. Mc. Graw Hill Book Co. New York.
Wahyuni, Sri,. 2003. Kinerja Kelompok Tani Dalam Sistem Usah atani Padi dan
Metode Pemberdayaannya. Jurnal Litbang Pertanian. Bogor.
Wiyono, V.S. 2001. Gelatin Halal Gelatin Haram. Jurnal Halal LPPOM-MUI, 36.

12