Anda di halaman 1dari 8

KEPERAWATAN BENCANA

Ditulis Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Bencana

Oleh:
1. Adinda Dwi Karnita
2. Bunga Innashofa
3. Faricha Nur Mulya Saputri

S1- KEPERWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
PATRIA HUSADA BLITAR
TAHUN AJARAN 2017-2018
Bencana Banjir di Semarang

Liputan6.com, Semarang Jalan Kaligawe Semarang banjir. Pintu keluar masuk


Semarang itu terus digenangi air yang makin menghebat. Usai Gerhana Bulan Total Super Blue
Blood Moon, ditambah dengan curah hujan yang tinggi, menyebabkan Kali Tenggang meluap.
Pengaruh Super Blue Blood Moon adalah terjadinya air pasang rob yang cukup tinggi. Lima unit
pompa air yang disiapkan, menjadi tak sebanding dengan luasan dan genangan air.
Dari pantauan Liputan6.com, titik terdalam genangan air untuk arah keluar Semarang,
berada di Kelurahan terboyo Wetan dan kelurahan Trimulyo. Di titik ini, genangan mencapai 40-
60 cm. Sedangkan untuk arah masuk Semarang banjir terjadi di depan Polsek Genuk, Gebang
Anom, Padi Raya, Terboyo, hingga depan RSI Sultan Agung. Banjir ini menyebabkan kemacetan
sangat panjang. Bahkan di bawah jembatan tol, tidak bisa dilalui kendaraan, sehingga kendaraan
harus berputar. Yudi, salah satu pengguna jalan menjelaskan, ia hendak menuju Jakarta mengirim
barang. Jarak Sayung hingga Jalan Kaligawe yang biasanya hanya butuh waktu 5-10 menit, kali
ini molor berlipat kali.
"Mungkin sudah ada empat jam. Ini saja baru sampai Kaligawe. Kalau tertib dan nggak
saling serobot, insya Allah lancar meskipun pelan," kata Yudi, Sabtu (3/2/2018). Yudi membawa
truk berukuran kecil. Kemacetan yang dialami Yudi memang dialami ratusan pengguna jalan
lainnya. Namun kesabaran yang dijalani Yudi, tak dijalani semua pengguna jalan. Akibatnya aksi
saling serobot malah memperburuk situasi. Terutama pengguna sepeda motor.

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Telapak kaki Astuti, warga Kelurahan


Trimulyo, RT 1 RW 1, berlubang-lubang di semua bagian. Selain itu, kakinya juga terkena kutu
air. Hal itu dikarenakan kakinya selalu terendam air banjir yang merendam wilayahnya dalam
jangka waktu yang lama. Astuti mengatakan, tempat tinggalnya sering terendam air. Tidak hanya
saat terjadi hujan saja, ketika tidak hujan pun banjir rob air laut juga menggenangi rumah-rumah
di Kelurahan Trimulyo khususnya RT 1 RW 1.
"Sudah berbulan-bulan kami hidup di genangan banjir seperti ini. Tapi yang terparah
mulai Rabu (14/2) minggu lalu karena hujan deras sampai malam. Sampai sekarang banjir belum
kering juga," kata Astuti, Senin (19/2/2018).
Saat itu, sebagian besar warga RW 1 Kelurahan Trimulyo mengungsi dan belum pulang
sampai hari ini. Sebagian lainnya memilih bertahan di rumah. Setelah berhari-hari hidup di
genangan banjir, Astuti dan beberapa warga lain mengeluhkan berbagai penyakit yang
dialaminya.
"Banyak yang terkena penyakit. Dua anak saya juga. Kutu air, gatal-gatal, diare, mual,
muntah dan pusing. Sampai anak saya tidak bisa sekolah karena sakit," ujar Astuti sembari
menunjukan telapak kakinya yang keropos karena terendam banjir cukup lama.
Dua anak Astuti yang terserang penyakit masih bersekolah di sebuah MTs dan MAN di
Semarang. Anaknya tersebut hingga kini belum menerima bantuan medis dan enggan berobat ke
Puskesmas atau dokter terdekat. Sementara anaknya yang sekolah di MAN, tetap berangkat
sekolah meski kurang sehat.
"Dua minggu lalu pernah ada bantuan pengobatan gratis dari salah satu RS, kalau dari
Pemkot belum pernah," ungkapnya. Saat ditanya kenapa tidak ikut mengungsi, Astuti
mengatakan, tidak memiliki tempat tujuan. Dirinya tidak memiliki saudara yang tinggal di
Semarang. Bahkan pihak Pemkot Semarang juga tidak menyediakan tempat pengungsian bagi
warga yang terdampak banjir.
Serupa dialami warga lain, Yuni Istiyani. Ia menambahkan, sudah mengalami
beberapa penyakit akibat banjir sejak beberapa hari lalu. Yang terparah dialami anaknya yang
paling kecil yang terserang diare dan gatal-gatal.
"Ketiga anak saya sakit semua. Belum ada bantuan pengobatan ke kami. Selama ini ya
menyiapkan beberapa obat yang kami beli dari toko untuk jaga-jaga," kata Yuni yang merupakan
buruh di kawasan industri Terboyo itu. Lebih lanjut ia mengatakan, obat yang disiapkan hanya
mampu untuk mengobati sakit gatal-gatal dan kutu air saja. Sementara untuk diare, mual, muntah
sampai demam, ia hanya menggunakan obat seadanya.
"Saya tidak berani membawa anak ke RS karena tidak ada biaya. Sementara saya tidak
punya KTP Semarang meski sudah 18 tahun tinggal di Trimulyo," paparnya. Selain kedua warga
tersebut, banyak warga Kelurahan Trimulyo yang juga mengalami kondisi sama. Mereka
mengeluhkan berbagai penyakit akibat banjir merendam tempat tinggal mereka cukup lama.
RIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang
mengungkapkam bahwa sejumlah warga di dua kelurahan Kecamatan Genuk, Semarang
mengalami gatal-gatal dan infeksi saluran pernapasan (ISPA).
Penyakit itu muncul akibat banjir yang melanda wilayah tersebut selama hampir sebulan
terakhir. Kepala Dinkes Kota Semarang, Widoyono mengatakan, dua kelurahan itu adalah
Trimulyo dan Banjardowo. Dua kelurahan itu memang dikenal rentan terkena banjir atau rob
yang meluap naik.
"Banyak laporan bahwa warga Kelurahan Trimulyo dan Banjardowo banyak
terjangkit penyakit kulit dan gatal-gatal. Selain itu, ada pula yang mengalami gangguan
pernapasan. Ini merupakan imbas dari limpasan banjir yang muncul dari Jalan Raya Kaligawe,"
kata Widoyono saat dihubungi Tribunjateng.com, Selasa (27/2/2018).
Atas peristiwa ini, pihaknya telah menerjunkan tim untuk berkeliling ke semua titik
banjir di dua kelurahan tersebut. Setiap tim medis sendiri berjumlah enam orang yang terdiri dari
seorang dokter, dan beberapa petugas medis lapangan. Dari catatan medis Dinkes, adapun dua
warga yang terpaksa dirujuk ke rumah sakit terdekat karena faktor usia yang sudah lanjut dan
terserang ISPA.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya telah mendirikan posko kesehatan di sejumlah gerbang
masuk perkampungan yang ada di sana. Hal itu dilakukan guna mengantisipasi lonjakan keluhan
warga yang terjangkit penyakit saat musim banjir seperti ini.
"Ada dua sampai tiga posko kita bangun di Trimulyo dan Banjardowo. Jika genangan
banjirnya sudah benar-benar surut, kami akan menelusuri tiap jalanan kampung agar potensi
munculnya penyakit leptospirosis (infeksi yang disebarkan dari urine) bisa diantisipasi,"
paparnya.
Dalam hal ini, Ia berharap warga segera membersihkan semua selokan demi terhindar
dari penyakit leptospirosis.
1. Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat ialah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif
untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri.
Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila masyarakat itu sendiri ikut pula
berpartisipasi.
Dalam bencana banjir seperti berita diatas, pemberdayaan masyarakat sosial yaitu
Dengan memanfaatkan barang atau tempat yang masih dapat digunakan secara optimal.
Salah satunya pada berita diatas disebutkan bahwa ada dua sampai tiga posko kita bangun di
Trimulyo dan Banjardowo.

2. Pendidikan dan Kesiapsiagaan


Pemerintah kota semarang melalui program Asian Cities Climate Change Resilience Network
(ACCCRN) untuk mengembangkan sistem peringatan melalui pendektesian banjir dan kesiapsiagaan
dini bagi masyarakat dalam menghadapi risiko banjir. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara
pemerintah kota semarang, Mercy Corps Indonesia, Yayasan Bintari, dan UNDIP dengan didukung
oleh Rockefeller Foundation yang dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kerentanan
masyarakat akibat dampak perubahan iklim seperti banjir. Kegiatan fokus dilakukan di 7 kelurahan
Daerah Aliran Sungai (DAS) Bringin yaitu Kelurahan Wates, Tambak Aji, Gondoriyo, Bringin,
Wonosari, Mangkang Wetan, dan Mangunharjo dimana ketujuh kelurahan ini dianggap rentan karena
lokasinya yang berada di DAS Bringin sehingga menjadi yang paling terdampak ketika air sungai
Bringin meluap.
Beberapa kegiatan telah dilakukan seperti misalnya membangun komunikasi dan koordinasi
yang baik antar stakeholder dalam menanggapi risiko banjir. Di awal kegiatan dilakukan
pembentukan Kelompok Siaga Bencana (KSB) untuk setiap kelurahan di 7 kelurahan DAS Bringin.
Koordinasi dan komunikasi antar KSB telah dibangun untuk mendukung sistem peringatan dini.
Dalam sistem peringatan dini ini juga dikembangkan Automatic Rainfall Recorder (ARR) untuk
mengetahui curah hujan yang turun dan Automatic Water Level Recorder (AWLR) untuk melihat
ketinggian air. Kedua alat ini dipasang di kelurahan Wates. Masyarakat melalui KSB dibantu UNDIP
juga memasang alat pengukur ketinggian banjir secara manual di Kelurahan Wonosari berupa kode
warna dimana perbedaan warna akan menggambarkan ketinggian banjir dari level aman sampai level
siap mengungsi. Koordinasi yang baik juga dibangun antara KSB dengan Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) untuk memudahkan BPBD dalam menyiapkan atau mengirim bantuan tim
tanggap darurat maupun logistik. Koordinasi juga dilakukan dengan Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam hal penyampaian informasi cuaca dan iklim, Palang
Merah Indonesia (PMI) dalam hal P3K pasca banjir, dan Dinas Sosial yang juga membantu dalam
hal logistik.
Partisipasi masyarakat melalui KSB juga dilakukan dalam hal penyusunan strategi evakuasi,
seperti misalnya pembuatan peta jalur evakuasi, penentuan shelter atau tempat penampungan
sementara, kegiatan simulasi bencana banjir dan penyebarluasan informasi banjir. Partisipasi KSB
dalam setiap kegiatan sangat penting karena merekalah yang mengerti kondisi tempat tinggal.
Kegiatan simulasi banjir dilakukan agar masyarakat memiliki pengetahuan dan lebih siap siaga,
mengerti apa yang harus dilakukan ketika banjir terjadi. Untuk penyebarluasan informasi dari KSB
ke masyarakat di kelurahan dilakukan melalui alat komunikasi tradisional seperti kentongan, speaker
masjid, dan lain-lain.
Tidak hanya di masyarakat, kesiapsiagaan dini dalam menghadapi banjir juga dilakukan di
sekolah. Untuk mendukung kegiatan tersebut telah disusun modul mengenai pelatihan manajemen
bencana dan peringatan dini banjir yang ditujukan untuk beberapa sekolah yang berlokasi di dekat
DAS Bringin. Dengan adanya pelatihan tersebut diharapakan siswa sekolah lebih memiliki
pengetahuan tentang banjir dan kesiapsiagaan dalam menghadapi banjir. Siswa lebih tahu apa yang
harus dilakukan sebelum terjadi banjir, saat terjadi banjir, dan sesudah terjadi banjir.

3. Surveilan Bencana
Banjir ini menyebabkan kemacetan sangat panjang. Bahkan di bawah jembatan tol, tidak
bisa dilalui kendaraan, sehingga kendaraan harus berputar. Telapak kaki Astuti, warga
Kelurahan Trimulyo, RT 1 RW 1, berlubang-lubang di semua bagian. Selain itu, kakinya juga
terkena kutu air. Hal itu dikarenakan kakinya selalu terendam air banjir yang merendam
wilayahnya dalam jangka waktu yang lama. Astuti mengatakan, tempat tinggalnya sering
terendam air. Tidak hanya saat terjadi hujan saja, ketika tidak hujan pun banjir rob air laut
juga menggenangi rumah-rumah di Kelurahan Trimulyo khususnya RT 1 RW 1.
"Banyak yang terkena penyakit. Dua anak saya juga. Kutu air, gatal-gatal, diare, mual,
muntah dan pusing. Sampai anak saya tidak bisa sekolah karena sakit," ujar Astuti sembari
menunjukan telapak kakinya yang keropos karena terendam banjir cukup lama.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengungkapkam bahwa sejumlah warga di
dua kelurahan Kecamatan Genuk, Semarang mengalami gatal-gatal dan infeksi saluran
pernapasan (ISPA).
"Banyak laporan bahwa warga Kelurahan Trimulyo dan Banjardowo banyak
terjangkit penyakit kulit dan gatal-gatal. Selain itu, ada pula yang mengalami gangguan
pernapasan. Ini merupakan imbas dari limpasan banjir yang muncul dari Jalan Raya
Kaligawe," kata Widoyono saat dihubungi Tribunjateng.com, Selasa (27/2/2018).
Dalam data awal yang diperoleh dari dinas kesehatan setempat berkoordinasi dengan
beberapa dinas terkait maka jumlah korban yang dapat diinformasikan adalah sebanyak 0
Orang, terdiri dari 0 orang meninggal, 0 orang hilang, 0 Luka Berat/Rawat Inap , 0 Luka
Ringan/Rawat Jalan dan 0 Orang pengungsi.

4. Persiapan dan Mitigasi Bencana


Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana. Mitigasi melibatkan masyarakat untuk penangan korban bencana.
Mitigasi dalam bencana banjir terbagi menjadi 2 macam, yaitu mitigasi secara
struktural dan mitigasi secara non-struktural.
a. Mitigasi structural
Mitigasi Struktural adalah upaya yang dilakukan demi meminimalisir bencana
seperti dengan melakukan pembangunan danal khusus untuk mencegah banjir dan dengan
membuat rekayasa teknis bangunan tahan bencana, serta infrastruktur bangunan tahan air.
Contoh : Membangun tembok pertahanan dan tanggul, Mengatur kecepatan aliran dan
debit air serta Membersihkan sungai dan pembuatan sudetan.
b. Mitigasi Non-Struktural
Mitigasi non-struktural adalah upaya yang dilakukan selain mitigasi struktural
seperti dengan perencanaan wilayah dan & asuransi. Dalam mitigasi non-struktural ini
sangat mengharapkan dari perkembangan teknologi yang semakin maju. Harapannya
adalah teknologi yang dapat memprediksi, mengantisipasi & mengurangi resiko
terjadinya suatu bencana. Contoh : membentukan LSM, Melakukan Pelatihan dan
Penyuluhan, Membentuk Kelompok Kerja atau POKJA, Mengevaluasi Tempat Rawan
Banjir, Memperbaiki Sarana dan Prasarana serta Menganalisa Data-data yang Berkaitan
dengan Banjir.

5. Aplikasi Pendidikan Kesehatan Dalam Pencegahan


 Upaya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota: Melakukan Pemantauan dan Koordinasi
dengan LS terkait.
 Upaya Dinas Kesehatan Provinsi: Melakukan Koordinasi dengan Dinkes Kota
Semarang.
 Upaya Dinas Kesehatan Regional: Kemenkes: Melakukan Pemantauan dan Membuat
Laporan.
Pencegahan bencana banjir:
1. Membuat saluran air yang baik
2. Buanglah sampah pada tempatnya
3. Rajin membersihkan saluran air
4. Mendirikan bangunan/konstruksi pencegah banjir
5. Menanam pohon atau tanaman di area sekitar rumah
6. Melestarikan hutan
7. Membuat lubang biopori
8. Membuat sumur serapan
9. Proyek pendalaman sungai
10. Penggunaan paving stone untuk jalan
11. Pembuatan rumah panggung
12. Kawasan ruang terbuka hijau (rth)
13. Sikap sadar lingkungan