Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 KONSEP PENYAKIT


1.1.1 Definisi penyakit
Hematemesis adalah muntah darah dan melena adalah pengeluaran tinja yang
berwarna hitam seperti teh yang mengandung darah dari pencernaan. Warna
hematemesis tergantung pada lamanya hubungan atau kontak antar darah dengan
asam lambung dan besar kecilnya perdarahan, sehingga dapat berwarna seperti
kopi atau kemerah-merahan dan bergumpal gumpa (Nurarif, 2013). Melena
adalah keluarnya feses berwarna hitam per rektal yang mengandung campuran
darah, biasanya disebabkan oleh perdarahan usus proksimal (Grace &
Borley,2007).
Melena adalah keluarnya tinja yang lengket dan hitam seperti aspal, dan lengket
yang menunjukkan perdarahan saluran pencernaan bagian atas serta dicernanya
darah pada usus halus. Warna merah gelap atau hitam berasal dari konversi Hb
menjadi hematin oleh bakteri setelah 14 jam. Sumber perdarahannya biasanya
juga berasal dari saluran cerna atas. ( Sylvia, A price. 2005 ).
Hematesis melena merupakan suatu perdarahan saluran cerna bagian atas
(SCBA) yang termasuk dalam keadaan gawat darurat yang dapat terjadi karena
pecahnya varises esofagus, gastritis erosif, atau ulkus peptikum.
1.1.2 Manifestasi Klinis
Menurut (Nurarif, Amin dkk. 2015) Gejala terjadi akibat perubahan morfologi
dan lebih menggambarkan beratnya kerusakan yang terjadi dari pada etiologinya.
Didapatkan gejala dan tanda sebagai berikut :
1. Gejala-gejala intestinal yang tidak khas seperti anoreksia, mual,
muntah dan diare.
2. Demam, berat badan turun, lekas lelah.
3. Ascites, hidratonaks dan edemo.
4. Ikterus, kadang-kadang urin menjadi lebih tua warnanya atau
kecoklatan.
5. Hematomegali, bila telah lanjut hati dapat mengecil karena fibrosis. Bila
secara klinis didapati adanya demam, ikterus dan asites, dimana demam bukan
oleh sebab-sebab lain, ditambahkan sirosis dalam keadaan aktif. Hati-hati akan
kemungkinan timbulnya
6. prekoma dan koma hepatikum
7. Kelainan pembuluh darah seperti kolateral-kolateral didinding, koput
medusa, wasir dan varises esofagus.
8. Kelainan endokrin yang merupakan tanda dari hiperestrogenisme yaitu:
Impotensi, atrosi testis, ginekomastia, hilangnya rambut axila dan pubis.
Amenore, hiperpigmentasi areola mamae, Eritema dan hiperpigmentasi
1.1.3 Etiologi
Penyebab perdarahan saluran makan bagian atas :
a. Kelainan esofagus: varise, esofagitis, keganasan.
b. Kelainan lambung dan duodenum: tukak lambung dan duodenum, keganasan dan
lain-lain.
c. Penyakit darah: leukemia, DIC (disseminated intravascular coagulation), purpura
trombositopenia dan lain-lain.
d. Penyakit sistemik lainnya: uremik, dan lain-lain.
e. Penting sekali menentukan penyebab dan tempat asal perdarahan saluran makan
bagian atas, karena terdapat perbedaan usaha penanggulangan setiap macam
perdarahan saluran makan bagian atas. Penyebab perdarahan saluran makan
bagian atas yang terbanyak dijumpai di Indonesia adalah pecahnya varises
esofagus dengan rata-rata 45-50 % seluruh perdarahan saluran makan bagian atas
(Hilmy 1971: 58 %)
f. Pemakaian obat-obatan yang ulserogenik: golongan salisilat, kortikosteroid,
alkohol, dan lai-lain. Penting sekali menentukan penyebab dan tempat asal
perdarahan saluran makan bagian atas, karena terdapat perbedaan usaha
penanggulangan setiap macam perdarahan saluran makan bagian atas. Penyebab
perdarahan saluran makan bagian atas yang terbanyak dijumpai di Indonesia
adalah pecahnya varises esofagus dengan rata-rata 45-50 % seluruh perdarahan
saluran makan bagian atas.(Nurarif. 2013)
1.1.4 Patofisiologi
Adanya riwayat dyspepsia memperberat dugaan ulkus peptikum. Begitu juga
riwayat muntah-muntah berulang yang awalnya tidak berdarah, konsumsi alkohol
yang berlebihan mengarahkan ke dugaan gastritis serta penyakit ulkus peptikum.
Adanya riwayat muntah-muntah berulang yang awalnya tidak berdarah lebih
kearah Mallory-Weiss. Konsumsi alkohol berlebihan mengarahkan dugaan ke
gastritis (30-40%), penyakit ulkus peptikum (30-40%), atau kadang-kadang
varises.
Penurunan berat badan mengarahkan dugaan ke keganasan. Perdarahan yang
berat disertai adanya bekuan dan pengobatan syok refrakter meningkatkan
kemungkinan varises. Adanya riwayat pembedahan aorta abdominalis
sebelumnya meningkatkan kemungkinan fistula aortoenterik. Pada pasien usia
muda dengan riwayat perdarahan saluran cerna bagian atas singkat berulang
(sering disertai kolaps hemodinamik) dan endoskopi yang normal, harus
dipertimbangkan lesi Dieulafoy (adanya arteri submukosa, biasanya dekat
jantung, yang dapat menyebabkan perdarahan saluran pencernaan intermitten
yang banyak) (Davey, 2005).
Usaha mencari penyebab perdarahan saluran makanan dapat dikembalikan
kepada factor-faktor penyebab perdarahan, antara lain : factor pembuluh darah
(vasculopathy) seperti pada tukak peptic, pecahnya varises esophagus; factor
trombosit (thrombopathy) seperti pada ITP, factor kekurangan zat-zat pembentuk
darah (coagulopathy) seperti pada hemophilia, sirosis hati dan lain-lain. Malahan
pada serosis hati dapat terjadi ketiganya : vasculopathy, pecahnya varises
esophagus, thrombopathy, terjadinya pengurangan trombosit di sirkulasi perifer
akibat hipersplenisme, dan terdapat pula coagulophaty akibat kegagalan sel-sel
hati.
Khusus pada pecahnya varises esophagus ada 2 teori, yaitu teori erosi yaitu
pecahnya pembuluh darah karena erosi dari makanan yang kasar (berserat tinngi
dan kasar), atau minum OAINS (NSAID), dan teori erupsi karena tekanan vena
porta yang terlalu tinggi, yang dapat pula dicetuskan oleh peningkatan tekanan
intra abdomen yang tiba-tiba seperti pada mengejan, mengangkat barang berat,
dan lain-lain.
Perdarahan saluran makan dapat pula dibagi menjadi perdarahan primer, seperti
pada : hemophilia, ITP, hereditary haemorrhagic telangiectasi, dan lain-lain.
Dapat pula secara sekunder, seperti pada kegagalan hati, uremia, DIC, dan
iatrigenic seperti penderita dengan terapi antikoagulan, terapi fibrinolitik, drug-
induce thrombocytopenia, pemberian transfuse darah yang massif, dan lain-lain.
1.1.5 Klasifikasi
1.1.6 Pemeriksaan Dignostik
1) Pemeriksaan fisik
 Penurunan berat badan
 Anemia
 Demam
2) Pemeriksaan khusus
 Colon rektal
 Rektosigmoideskopi
 Barium enema
 Barium meal
3) Pemeriksaan laboratorium
 LED
 Hipokalsemia
 Avitaminosis D
 Serum albumin tinggi
4) Radiologis
5) Kolonoskopi
1.1.7 Penatalaksanaan medik
Pengobatan penderita perdarahan saluran makan bagian atas harus sedini
mungkin dan sebaiknya diraat di rumah sakit untuk mendapatkan pengawasan
yang teliti dan pertolongan yang lebih baik. Pengobatan penderita perdarahan
saluran makan bagian atas meliputi :
a. Pengawasan dan pengobatan umum
1) Penderita harus diistirahatkan mutlak, obat-obat yang menimbulkan efek
sedatif morfin, meperidin dan paraldehid sebaiknya dihindarkan.
2) Penderita dipuasakan selama perdarahan masih berlangsung dan bila
perdarahan berhenti dapat diberikan makanan cair.
3) Infus cairan langsung dipasang & diberilan larutan garam fisiologis slama
belum ada darah.
4) Pengawasan tekanan darah, nadi, kesadaran penderita dan bila perlu dipasang
CVP monitor.
5) Pemeriksaan kadar hemoglobin dan hematokrit perlu dilakukan untuk
mengikuti keadaan perdarahan.
6) Transfusi darah diperlukan untuk menggati darah yang hilang dan
mempertahankan kadar hemoglobin 50-70 % harga normal.
7) Pemberian obat hemostatik seperti vitamin K, 4 x 10 mg/hari, karbasokrom
(Adona AC), antasida dan golongan H2 reseptor antagonis (simetidin atau
ranitidin) berguna untuk menanggulangi perdarahan.
8) Dilakukan klisma atau lavemen dgn air biasa disertai pemberian antibiotika
yg tidak diserap oleh usus, sebagai tindadakan sterilisasi usus. Tindakan ini
dilakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan produksi amoniak oleh
bakteri usus, dan dapat menimbulkan ensefalopati hepatik.
b. Pemasangan pipa naso-gastrik
Tujuan pemasangan pipa naso gastrik adalah untuk aspirasi cairan lambung,
lavage (kumbah lambung) dengan air , dan pemberian obat-obatan. Pemberian
air pada kumbah lambung akan menyebabkan vasokontriksi lokal sehingga
diharapkan terjadi penurunan aliran darah di mukosa lambung, dengan demikian
perdarahan akan berhenti. Kumbah lambung ini akan dilakukan berulang kali
memakai air sebanyak 100- 150 ml sampai cairan aspirasi berwarna jernih dan
bila perlu tindakan ini dapat diulang setiap 1-2 jam. Pemeriksaan endoskopi dapat
segera dilakukan setelah cairan aspirasi lambung sudah jernih.
c. Pemberian pitresin (vasopresin)
Pitresin mempunyai efek vasokoktriksi, pada pemberian pitresin per infus akan
mengakibatkan kontriksi pembuluh darah dan splanknikus sehingga menurunkan
tekanan vena porta, dengan demikian diharapkan perdarahan varises dapat
berhenti. Perlu diingat bahwa pitresin dapat menrangsang otot polos sehingga
dapat terjadi vasokontriksi koroner, karena itu harus berhati-hati dengan
pemakaian obat tersebut terutama pada penderita penyakit jantung iskemik.
Karena itu perlu pemeriksaan elektrokardiogram dan anamnesis terhadap
kemungkinan adanya penyakit jantung koroner/iskemik.
d. Pemasangan balon SB Tube
Dilakukan pemasangan balon SB tube untuk penderita perdarahan akibat
pecahnya varises. Sebaiknya pemasangan SB tube dilakukan sesudah penderita
tenang dan kooperatif, sehingga penderita dapat diberitahu dan dijelaskan makna
pemakaian alat tersebut, cara pemasangannya dan kemungkinan kerja ikutan yang
dapat timbul pada waktu dan selama pemasangan. Beberapa peneliti
mendapatkan hasil yang baik dengan pemakaian SB tube ini dalam
menanggulangi perdarahan saluran makan bagian atas akibat pecahnya varises
esofagus. Komplikasi pemasangan SB tube yang berat seperti laserasi dan ruptur
esofagus, obstruksi jalan napas tidak pernah dijumpai.
e. Pemakaian bahan sklerotik
Bahan sklerotik sodium morrhuate 5 % sebanyak 5 ml atau sotrdecol 3 %
sebanyak 3 ml dengan bantuan fiberendoskop yang fleksibel disuntikan
dipermukaan varises kemudian ditekan dengan balon SB tube. Tindakan ini tidak
memerlukan narkose umum dan dapat diulang beberapa kali. Cara pengobatan ini
sudah mulai populer dan merupakan salah satu pengobatan yang baru dalam
menanggulangi perdarahan saluran makan bagian atas yang disebabkan pecahnya
varises esofagus.
f. Tindakan operasi
Bila usaha-usaha penanggulangan perdarahan diatas mengalami kegagalan dan
perdarahan tetap berlangsung, maka dapat dipikirkan tindakan operasi . Tindakan
operasi yang basa dilakukan adalah : ligasi varises esofagus, transeksi esofagus,
pintasan porto-kaval. Operasi efektif dianjurkan setelah 6 minggu perdarahan
berhenti dan fungsi hari membaik. Selain cara-cara diatas, adapula metode lain
untuk menghentikan perdarahan varises esophagus, antara lain :
1) Cyanoacrylate glue injection, memakai semacam lem jaringan (His-toacryl R)
yang langsung disuntikkan intravena.
2) Endoscopic band ligator
Sedangkan pada perdarahan non variceal, dapat dilakukan tindakan-tindakan
sebagai berikut :
a) Laser photo coagulation
b) Diathermy coagulation
c) Adrenalin injection
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas pasien, meliputi :
Meliputi gambaran umum mengenai klien yang terdiri atas nama, umur, jenis
kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, suku/bangsa, tanggal
masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, tanggal/ rencana operasi, nomor rekam
medik, diagnosa medis, dan alamat serta identitas dari penanggung jawab pasien
b. Keluhan utama
Menguraikan saat keluhan pertama kali dirasakan, tindakan yang dilakukan
sampai klien datang ke RS, tindakan yang sudah dilakukan di rumah sakit sampai
klien menjalani perawatan, biasanya keluhan utama pasien adalah muntah darah
atau berak darah yang datang secara tiba-tiba.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan utama saat dikaji, keluhan yang paling dirasakan oleh klien saat dikaji,
diuraikan dalam konsep PQRST dalam bentuk narasi
keluhan utama pasien adalah muntah darah atau berak darah yang datang secara
tiba-tiba
d. Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya pasien mempunyai riwayat penyakit hepatitis kronis, sirosis
hepatitis, hepatoma, ulkus peptikum, kanker saluran pencernaan bagian atas,
riwayat penyakit darah (misal : DM), riwayat penggunaan obatulserorgenik,
kebiasaan / gaya hidup (alkoholisme, gaya hidup / kebiasaan makan).
e. Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya apabila salah satu anggota keluarganya mempunyai kebiasaan makan
yang dapat memicu terjadinya hematemesis melena, maka dapat
mempengaruhi anggota keluarga yang lain
f. Aktifitas sehari-hari
g. Pemeriksaan fisik Head to Toe
1) Keadaan umum
Keadaan umum klien Hematomesis melena akan terjadi ketidak seimbangan
nutrisi akibat anoreksia, intoleran terhadap makanan / tidak dapat mencerna,
mual, muntah, kembung.
2) Sistem respirasi
Akan terjadi sesak, takipnea, pernafasan dangkal, bunyi nafas tambahan
hipoksia, ascites.
3) Sistem kardiovaskuler
Riwayat perikarditis, penyakit jantung reumatik, kanker (malfungsi hati
menimbulkan gagal hati), distritnya, bunyi jantung (S3, S4).
4) Sistem gastrointestinal.
Nyeri tekan abdomen / nyeri kuadran kanan atas, pruritus, neuritus perifer.
5) Sistem persyarafan
Penurunan kesadaran, perubahan mental, bingung halusinasi, koma, bicara
lambat tak jelas.
6) Sistem geniturianaria / eliminasi
Terjadi flatus, distensi abdomen (hepatomegali, splenomegali. asites),
penurunan / tak adanya bising usus, feses warna tanah liat, melena, urin gelap
pekat, diare / konstipasi.
2. Diagnosa keperawatan
a. Nyeri akut b/d Agens cedera biologis
b. Ketidakefektifaan pola nafas b/d ansietas
c. Mual b/d penyakit esofagus
d. Ansietas b/d status kesehatan
e. Resiko kekurangan volume cairan b/d kegagalan fungsi regulator
f. Gangguan menelan b/d riwayat makan dengan selang
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa NOC (tujuan) NIC ( Intervensi)
Keperawatan
1. Risiko kekurangan Setelah dilakukan tindakan keperawatan NIC : Fluid
volume cairan selama 2x24 defisit volume cairan teratasi Management
Definisi : beresiko dengan kriteria hasil:
mengalami dehidrasi No Indikator Awal Tujuan 1. Monitor status
vaskuler, seluler, 1 Tekanan darah, nadi, hidrasi
atau intraseluler. suhu tubuh dalam batas 5 2. Monitor vital sign
normal 3. Monitor intake
output
2 Tidak ada tanda tanda 4. Monitor status
dehidrasi, Elastisitas nutrisi
turgor kulit baik, 5. Anjurkan keluarga
5
membran Mukosa untuk memberikan
lembab, tidak ada rasa masukan nutrien dan
haus yang berlebihan cairan
3 Ferfusi jaringan 5 6. Monitor berat badan
4 Intake oral dan 7. Kolaborasi dengan
5
intravena adekuat tim medis dalam
pemberian cairan
Skala Indikator intravena
1. Gangguan ekstrem Monitor status cairan,
2. Berat respon pasien terhadap
3. Sedang cairan.
4. Ringan
Tidak ada gangguan
2. Gangguan menelan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Airway Managemen
Definition : selama 2x24 jam, pasien menunjukkan
a. Buka jalan nafas,
abnormal fungsi perubahan perbaikan menelan, dengan
guanakan teknik chin
mekanisme menelan indikator:
lift atau jaw thrust
yang dikaikan
bila perlu
dengan defisit No Indikator Awal Tujuan
b. Posisikan pasien
struktur atau fungsi 1 Mampu menelan
5 untuk
oral, faring, atau adekuat
memaksimalkan
esofagus. 2 Mampu mengontrol
5 ventilasi
mual dan muntah
c. Identifikasi pasien
3 Mampu melakukan
perlunya pemasangan
perawatan terhadap 5
alat jalan nafas
pengobatan parenteral
buatan
4 Kondisi pernafasan,
5 d. Pasang mayo bila
ventelasi adekuat
perlu
5 Pengiriman bolus ke e. Lakukan fisioterapi
hipofaring selaras dada jika perluan
dengan refleks menelan f. Keluarkan sekret
dengan batuk atau
Indikator suction
1. Gangguan ekstrem g. Auskultasi suara
2. Berat nafas, catat adanya
3. Sedang suara tambahan
4. Ringan h. Lakukan suction pada
5. Tidak ada gangguan mayo
i. Berikan
bronkodilator bila
perlu
j. Berikan pelembab
udara Kassa basah
NaCl Lembab
k. Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.

3. Nyeri akut Pain Level Pain Management


Definition :
pengalaman sensori Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 1. Mengkaji lokasi,
dan emosional yang 24 jam, klien menunjukkan perbaikan level karakteristik, durasi,
tidak menyenangkan nyeri dengan kriteria hasil : frekuensi, kualitas,
yang muncul akibat intensitas, dan faktor
kerusakan jaringan No Indikator Awal Tujuan pencetus nyeri secara
yang aktual atau 1 Melaporkan nyeri komfrehensif
5
potensial atau berkurang 2. Kontrol lingkungan
digambarkan dalam 2 Ekspresi wajah saat yang dapat
5
hal kerusakan nyeri mempengaruhi nyeri
sedemikian rupa ( 3 Gelisah 5
international 4 Mengerang / merintih 5 3. Ajarkan tekhnik
Association for 5 TTV 5 relaksasi nafas dalam
study of pain ) : 4. Ajarkan prinsip dari
awitan yang tiba-tiba Indikator manajemen nyeri
atau lambat dari 1. Gangguan ekstrem 5. Monitor TTV
intensitas ringan 2. Berat 6. Gunakan cara
hingga berat dengan 3. Sedang mengontrol nyeri
akhir yang dapat 4. Ringan sebelum nyeri
diantisipasi atau 5. Tidak ada gangguan menjadi berat
diprediksi dan 7. Pastikan klien
berlangsung < 6 menerima pemberian
bulan analgetik
Faktor yang 8. Kolaborasi dengan
berhubungan : tim medis dalam
Agens cedera ( mis : pemberian obat
biologis, zat kimia, golongan analgetik
fisik, psikologis )
4. Mual Nausea & Vomiting Control : Disruptive Nausea Management
Faktor yang effects
berhubungan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 1. Dorong pasien
Biofisik 24 jam, klien menunjukkan rasa mual hilang, memantau mual
 Gangguan dengan kriteria hasil : 2. Dorong pasien untuk
biokimia ( mis : belajar cara
uremia, No Indikator Awal Tujuan mengatasi mual
ketoasidosis 1 Mengakui timbulnya 3. Kurangi faktor yang
5
diabetik ) mual dapat memicu mual
 Penyakit esofagus 2 Penurunan berat badan 5 4. Kolaborasi dengan
 Distensi lambung 3 Rasa tidak enak 5 pasien untuk cara

 Peningkatan 4 Lesu / lemah 5 mengatasi mual

tekanan intra- 5 Gangguan tidur 5 5. Dorong pasien untuk

kranial ) 6 Intake cairan dan menjaga kebersihan


5
 Tumor intra makanan menurun mulut

abdomen
 Labirinitis Indikator 6. Monitor asupan gizi
 Nyeri 1. Gangguan ekstrem dan kalori
 Penyakit 2. Berat 7. Kolaborasi dengan
pankreas 3. Sedang tim kesehatan dalam
Situasional 4. Ringan pemberian terapi

 Ansietas 5. Tidak ada gangguan farmakologi

 Takut
 Nyeri
 Faktor psikologis
 Rasa makanan /
minuman yang
tidak enak di lidah
Terapi
 Distensi lambung
 Iritasi lambung
Farmaseutikal (
ramuan obat )
5. Ketidakefektifan  Respiratory Status : Airway Patency Respiratory
pola nafas Setelah dilakukan tindakan keperawatan Monitoring
Definition : selama 3x24 jam diharapkan pasien 1. Monitor kecepatan,
inspirasi atau menunjukkan jalan nafas patent, dengan irama, kedalaman
ekspirasi yang tidak kriteria hasil : dan usaha untuk
memberi ventilasi inspirasi
adekuat. No Kriteria Awal Tujuan 2. Monitor pola
Faktor yang bernafas, bradypnea,
1 Kecepatan pernafasan 5
berhubungan tachypnea, dyspnea
 Ansietas 2 Irama pernafasan 5 3. Monitor terjadinya
 Posisi tubuh 3 Kedalaman inspirasi 5
dyspne, dan
 Deformitas peristiwa yang dapat
4 Cemas / kegelisahan 5
tulang memperburuk

 Deformitas 5 Terengah – engah 5 keadaan

dinding dada 4. Perhatikan lokasi


Indikator :
 Keletihan trakea
 Hiperventilasi 1. Gangguan ekstrem 5. Buka jalan nafas
 Sindrom 2. Berat dengan tekhnik
hipoventilasi 3. Sedang chinlift
 Gangguan 4. Ringan 6. Membaca
muskuloskeletal Tidak ada gangguan mekanisme

 Kerusakan ventilator

neurologis 7. Kolaborasi dengan

 Disfungsi tim medis dalam

neuromuskular pemberian terapi

 Obesitas farmakologi

 Nyeri
 Keletihan otot
pernafsan
 Cedera medula
spinalis
6. Ansietas Setelah dilakukan tindakan keperawatan Anxiety Reduction
Faktor yang selama 3x24 jam diharapkan pasien 1. Anjurkan keluarga
berhubungan menunjukkan derajat kecemasan, Dengan untuk tetap berada
 Perubahan kriteria hasil : disamping klien
dalam : 2. Berusaha memahami
Status ekonomi No Kriteria Awal Tujuan perspektif pasien
Lingkungan dari kondisi stress
1 Kegelisahan 5
Status kesehatan 3. Memberikan
Pola interaksi 2 Mermas – remas tangan 5 informasi faktual
Fungsi peran 3 Kesulitan 5 mengenai diagnosis,
Status peran pengobatan, dan
4 Ketegangan wajah 5
 Pemajanan prognosis
toksin 5 Berkeringat 5 4. Mendekati pasien
 Terkait untuk
Indikator :
keluarga mempromosikan
1. Gangguan ekstrem
 Herediter keamanan dan
2. Berat
mengurangi rasa
3. Sedang
takut
 Infeksi / 4. Ringan 5. Mendengarkan
kontaminan 5. Tidak ada gangguan dengan perhatian
interpersonal 6. Mengidentifikasi
 Penularan ketika tingkat
penyakit kecemasan berubah
interpersonal 7. Bantu pasien
 Krisis maturasi mengidentifikasi

 Krisis situasi yang memicu

situasional kecemasan

 Stress
 Penyalahgunaan
zat
Ancaman kematian