Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN (LP)

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN

RUPTUR TENDON DI RUANG MARJAN ATAS

RSUD Dr. SLAMET GARUT

Disusun oleh:

Restu Aprianisa

AKX.17.074

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


KONSENTRASI ANESTESI DAN GAWAT DARURAT
UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA BANDUNG
2019

0
LAPORAN PENDAHULUAN (LP)

RUPTUR TENDON

I. KONSEP PENYAKIT
1. Definisi penyakit
Tendon adalah jaringan fibrosa yang melekat otot ke tulang dalam
tubuh manusia. Pasukan diterapkan pada tendon mungkin lebih dari 5 kali
berat badan Anda. Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, tendon
dapat snap atau pecah. Kondisi yang membuat pecah lebih mungkin
termasuk suntikan steroid ke dalam tendon, penyakit tertentu (seperti gout
atau hiperparatiroidisme). Meskipun terbilang jarang, sebuah pecah
tendon bisa menjadi masalah serius dan dapat mengakibatkan mengerikan
sakit dan cacat permanen jika tidak diobati. Setiap jenis pecah tendon
memiliki tanda-tanda dan gejala sendiri dan bisa diobati baik operasi atau
medis tergantung pada beratnya pecah dan kepercayaan dari ahli bedah .
Tendon adalah pita jaringan fibrosa yang fleksibel terletak di bagian
belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis dengan tulang
tumit. Tendon adalah struktur dalam tubuh yang menghubungkan otot ke
tulang. Otot rangka dalam tubuh bertanggung jawab untuk menggerakkan
tulang, sehingga memungkinkan untuk berjalan, melompat, angkat, dan
bergerak dalam banyak cara. Ketika otot kontraksi, hal itu menarik pada
tulang menyebabkan gerakan ini. Struktur yang memancarkan kekuatan
kontraksi otot ke tulang disebut tendon. Ruptur adalah robek atau
koyaknya jaringan secara paksa. Ruptur tendon adalah robek, pecah atau
terputusnya tendon yang diakibatkan karena tarikan yang melebihi
kekuatan tendon.
2. Manifestasi klinik
a. Rasa sakit mendadak dan berat dapat dirasakan di bagian belakang
pergelangan kaki atau betis
b. Terlihat bengkak dan kaku serta tampak memar dan kelemahan

1
c. Sebuah kesenjangan atau depresi dapat dilihat di tendon sekitar 2 cm
di atas tulang tumit
d. Tumit tidak dapat digerakan turun atau naik
3. Etologi dan faktor predisposisi
a. Penyakit tertentu, seperti arthritis dan diabetes
b. Obat-obatan, seperti kortikosteroid dan beberapa antibiotik yang
dapat meningkatkan risiko pecah
c. Cedera dalam olah raga, seperti melompat dan berputar pada olah raga
badminton, tenis, basket dan sepak bola
d. Trauma benda tajam atau tumpul
4. Patofisiologi
Kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung (impact) atau
tidak langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot tertarik pada
arah yang salah,kontraksi otot yang berlebihan atau ketika terjadi
kontraksi ,otot belum siap,terjadi pada bagian groin muscles (otot pada
kunci paha),hamstring (otot paha bagian bawah),dan otot guadriceps.
Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan daerah sekitar cedera
memar dan membengkak.
5. Klasifikasi
Empat daerah yang paling umum tempat terjadinya ruptur tendon, antara
lain :
1. Qudriceps
Sebuah kelompok dari 4 otot, yang vastus lateralis, medialis vastus,
intermedius vastus, dan rektus femoris, datang bersama-sama tepat di
atas tempurung lutut (patella) untuk membentuk tendon patella.
Sering disebut quad, kelompok otot ini digunakan untuk
memperpanjang kaki di lutut dan bantuan dalam berjalan, berlari , dan
melompat.
2. Achilles
Tendon Achilles berasal dari gabungan tiga otot yaitu gastrocnemius,
soleus, dan otot plantaris. Pada manusia, letaknya tepat di bagian

2
pergelangan kaki. Tendon Achilles adalah tendon tertebal dan terkuat
pada tubuh manusia. Panjangnya sekitar 15 sentimeter, dimulai dari
pertengahan tungkai bawah. Kemudian strukturnya kian mengumpul
dan melekat pada bagian tengah-belakang tulang calcaneus. Tendon
ini sangat penting untuk berjalan, berlari dan melompat secara normal.
Cidera karena olahraga dan karena trauma pada tendon Achilles
adalah biasa dan bisa menyebabkan kecacatan.
3. Rotator cuff
Rotator cuff terletak di bahu dan terdiri dari 4 otot: supraspinatus
(yang umum tendon paling pecah), infraspinatus, teres minor, dan m.
subskapularis. Kelompok otot ini berfungsi untuk mengangkat tangan
ke samping, membantu memutar lengan, dan menjaga bahu keluar
dari soket tersebut.
4. Bisep
5. Otot bisep fungsi sebagai fleksor lengan dari siku. Otot ini membawa
tangan ke arah bahu dengan menekuk siku.
6. Pemeriksaan diagnostik
a. Pergerakan otot, jika pergerakan tersebut lemah atau tidak ada maka
dicurigai cedera tendon.
b. Musculoskeletal ultrasonografi dapat digunakan untuk menentukan
ketebalan tendon, karakter, dan kehadiran air mata. Ia bekerja dengan
mengirimkan frekuensi yang sangat tinggi dari suara melalui tubuh.
Beberapa suara yang dipantulkan kembali dari ruang antara cairan
interstitial dan jaringan lunak atau tulang. Gambar-gambar tercermin
dapat dianalisis dan dihitung ke dalam gambar. Gambar-gambar diambil
secara real time dan dapat sangat membantu dalam mendeteksi gerakan
tendon dan memvisualisasikan kemungkinan cedera atau air mata.
Perangkat ini membuatnya sangat mudah untuk melihat kerusakan
struktural pada jaringan lunak, dan metode yang konsisten untuk
mendeteksi jenis cedera. Pencitraan ini modalitas murah, tidak

3
melibatkan radiasi pengion dan, di tangan ultrasonographers terampil,
mungkin sangat handal.
c. Pemeriksaan dengan sinar-X.
7. Penatalaksanaan medik dan implikasi keperawatan
Tujuan pengobatan adalah untuk mengembalikan ke keadaan
normal dan memungkinkan pasien untuk melakukan apa yang dapat
dilakukan sebelum cedera. Tindakan pembedahan dapat dilakukan,
dimana ujung tendon yang terputus disambungkan kembali dengan teknik
penjahitan. Tindakan pembedahan dianggap paling efektif dalam
penatalaksanaan tendon yang terputus.
Tindakan non pembedahan dengan orthotics atau theraphi fisik. Tindakan
tersebut biasanya dilakukan untuk non atlit karena penyembuhanya lama
atau pasienya menolak untuk dilakukan tindakan operasi.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Pada fase awal cidera, terlihat bengkak dan timbul memar pada area
luka. Pada kondisi yang telah lama dan pembengkakan telah berkurang,
kondisi klinik tidak begitu jelas dan hanya menyisakan suatu bekas
trauma pada tendon walaupun dengan melakukan pemeriksaan dapat
mendeskripsikan kelainan pada tendon. Pase kedua tinjau adanya keluhan
nyeri tekan. Fase ketiga tinjau ketidakmampuan dan nyeri hebat dalam
melakukan planterfleksi.
a. Identitas diri
Meliputi gambaran umum mengenai klien yang terdiri atas nama,
umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan,
suku/bangsa, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, tanggal/
rencana operasi, nomor rekam medik, diagnosa medis, dan alamat serta
identitas dari penanggung jawab pasien.
b. Keluhan utama

4
Menguraikan saat keluhan pertama kali dirasakan, tindakan yang
dilakukan sampai klien datang ke RS, tindakan yang sudah
dilakukan di rumah sakit sampai klien menjalani perawatan.
c. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan utama saat dikaji, keluhan yang paling dirasakan oleh klien
saat dikaji, diuraikan dalam konsep PQRST dalam bentuk narasi
a) Provokatif dan paliatif : apa penyebabnya, apa yang memperberat,
dan apa yang mengurangi
b) Quality/ kuantitas : dirasakan seperti apa, tampilannya, suaranya,
berapa banyak
c) Region/ radiasi : lokasinya dimana, penyebarannya
d) Saverity/scale : intensitasnya (skala) pengaruh terhadap aktifitas
e) Timing : kapan muncul keluhan, berapa lama, bersifat (tiba-
tiba,sering,bertahap)
d. Riwayat kesehatan dahulu
Mengidentifikasi riwayat kesehatan yang memiliki hubungan
dengan klien atau memperberat keadaan penyakit yang sedang diderita
saat ini. Termasuk faktor predisposisi penyakit.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Mengidentifikasi apakah di keluarga ada riwayat penyakit menular
atau turunan atau keduanya. Bila ditemukan riwayat penyakit menular di
buat struktur keluarga, dimana diidentifikasi individu-individu yang
tinggal serumah bukan genogram. Namun, bila ditemukan riawayat
penyakit keturunan dibuat genogram minimal 3 generasi
f. Aktifitas sehari-hari
1. Pola nutrisi
Meliputi kebiasaan klien dalam memenuhi nutrisi sebelum sakit dan
saat sakit yang meliputi : frekuensi, jenis makanan dan minuman
yang dikonsumsi, porsi atau jumlah makan serta keluhan yang
berhubungan dengan nutrisi
2. Pola eliminasi

5
Eliminasi bak dan bab menggambarkan keadaan eliminasi klien
sebelum sakit dan saat sakit meliputi : frekuensi, warna, bau, keluhan
saat bab dan bak
3. Pola istirahat tidur
Kualitas dan kuantitas istirahat tidur klien sejak sebelum sakit dan
saat sakit meliputi : jumlah jam tidur siang dan malam serta masalah
atau keluhan tidur
4. Pola personal hygine
Bagaimana kebersihan diri sebelum sakit dan saat sakit melipputi
mandi, gosok gigi, keramas, gunting kuku dan ganti pakaian
5. Pola aktivitas
Aktivitas yang dilakukan pasien saat sehat dan saat sakit
d. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang dilakukan dari ujung kepala hingga ujung kaki,
meliputi pemeriksaan:
1. Keadaan Umum Pasien : Kesadaran Dan Penampilan Pasies
2. Tanda –Tanda Vital : Tekanan Darah, Nadi, Respirasi, Dan Suhu
3. Pemeriksaan Fisik Tubuh Head to Toe: Kepala, wajah, mata,
telinga, hidung, mulut, leher, dada, abdomen, punggung, genetalia,
anus dan ekstremitas atas bawah.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien rupture tendon,
antara lain :
1) Nyeri berhubungan dengan konfresi saraf, kerusakan
neuromuskuloskeletal
2) Resiko tinggi trauma berhubungan dengan ketidak mampuan
mengerakkan tungkai dan ketidaktahuan cara mobilisasi yang
adekuat.
3) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka pasca-bedah.
4) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan tendon.

6
5) Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan, kondisi fisik,
perubahan peran keluarga, kondisi status sosioekonomi.
3. Intervensi keperawatan (Rencana Keperawatan)
1) Nyeri berhubungan dengan konfresi saraf, kerusakan
neuromuskuloskeletal
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
pasien tidak mengalami nyeri

Dengan kriteria hasil :


1. Mampu mengontrol nyeri.
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri.
3. Mampu mengenali nyeri(skala, intensitas, frekuensi, dan tanda
nyeri)

Tabel 3.1 Intervensi dan rasional


Intervensi Rasional

1. kaji nyeri secara 1. Mengkaji nyeri secara


komprehensif komprehensif
2. Observasi reaksi termasuk lokasi,
nonverbal karakteristik, durasi,
3. Bantu pasien dan frekuensi, kualitas dan
keluarga untuk mencari factor presipitasi
dan menemukan 2. Mengbservasi reaksi
dukungan nonverbal dari
4. Control lingkungan yang ketidaknyamanan
dapat mempengaruhi 3. Membantu pasien dan
nyeri keluarga untuk
5. Kaji tipe dan sumber mencari dan
nyeri menemukan dukungan
6. Ajarkan tentang teknik 4. Mengontrol
nonfarmakologi lingkungan yang dapat

7
7. Berikan analgetik mempengaruhi nyeri
8. Tingkatkan istirahat sperti suhu ruangan,
9. Berikan informasi pencahayaan dan
tentang nyeri kebisingan
10. Monitor vital sign 5. Mengkaji tipe dan
sumber nyeri untuk
menentukan tingkatan
nyeri
6. Mengajarkan tentang
teknik
nonfarmakologi:
napas dalam,
relaksasi, distraksi,
kompres hangat atau
dingin
7. Memberikan analgetik
untuk mengurangi
nyeri
8. Meningkatkan waktu
istirahat
9. Memberikan
informasi tentang
nyeri seperti penyebab
nyeri, berapa
lama nyeri akan
berkurang dan
antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur
10. Memonitor vital sign
terutama sebelum dan

8
sesudah pemberian
analgesic pertama kali

2) Resiko tinggi trauma berhubungan dengan ketidak mampuan


mengerakkan tungkai dan ketidaktahuan cara mobilisasi yang
adekuat.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24
jam klien tidak mengalami trauma

Dengan kriteria : Klien bebas dari trauma fisik

Tabel 3.2 Intervensi dan rasional


Intervensi Rasional

1. Sediakan lingkungan 1. Menyediakan lingkungan


aman yang aman untuk pasien
2. Identifikasi kebutuhan 2. Mengidentifikasi kebutuhan
keamanan pasien keamanan pasien sesuai
3. Hindari lingkungan yang dengan kondisi fisik dan
berbahaya fungsi kognitif pasien dan
4. Pasang side rail tempat riwayat penyakit teradahulu
tidur pasien
5. Sediakan tempat tidur 3. Menghindarkan lingkungan
yang nyaman dan bersih yang berbahaya
6. Tempatkan saklar lampu 4. Memasang side rail tempat
yang mudah dijangkau tidur
pasien 5. Menyediakan tempat tidur
7. Batasi pengunjung yang nyaman dan bersih
8. Control lingkungan 6. Menempatkan saklar lampu
9. Berikan penjelasan yang mudah dijangkau
kepada pasien dan pasien

9
keluarga atau pengunjung 7. Membatasi pengunjung
adnaya perubahan status 8. Mengontrol lingkungan dari
kesehatan dan penyebab kebisingan
penyakit 9. Memberikan penjelasan
kepada pasien dan keluarga
tau pengunjung adnaya
perubahan status kesehatan
dan penyebab penyakit

3) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka pasca-bedah.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24
jam pasien tidak mengalami infeksi

Dengan kriteria :
1.Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
2.Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya
infeksi
3.Jumlah leukosit dalam batas normal
4.Menunjukkan perilaku hidup sehat
5.Status imun, gastrointestinal, Genitourinaria dalam batas
normal
Tabel 3.3 Intervensi dan rasional
Intervensi Rasional

1. Pertahankan teknik 1. Mempertahankan teknik


aseptic aseptic
2. Batasi pengunjung 2. Membatasi pengunjung bila
3. Cuci tangan sebelum dan perlu
sesudah tindakan 3. Mencuci tangan sebelum dan
keperawatan sesudah melakukan tindakan
keperawatan

10
4. Gunakan baju, sarung 4. Menggunakan baju, sarung
tangan sebagai alat tangan sebagai alat pelindung
pelindung 5. Mengganti letak IV perifer
5. Ganti letak IV perifer dan dan dressing sesuai dengan
dressing sesuai dengan petunjuk umum
petunjuk umum 6. Menggunakan kateter
6. Gunakan kateter intermitten untuk
intermitten untuk menurunkan infeksi kandung
menurunkan infeksi kemih
kandung kemih 7. Meningkatkan kebutuhan
7. Tingkatkan intake nutrisi intake nutrisi
8. Berikan terapi antibiotic 8. Memberikan terapi antibiotic
9. Monitor tanda gejala 9. Memonitoring tanda gejala
infeksi sistemik dan local infeksi sistemik dan local
10. Pertahankan teknik 10. Mempertahankan teknik
isolasi isolasi
11. Inspeksi kulit dan 11. Menginspeksi kulit dan
membrane mukosa membrane mukosa terhadap
12. Monitoring adanya luka kemerahan, panas, drainase.
13. Dorong masukan cairan 12. Monitoring adanya luka
14. Dorong istirahat 13. Mendorong masukan cairan
15. Ajarkan pasien dan 14. Mendorong istirahat
keluarga tanda dan gejala 15. Mengajarkan pasien dan
infeksi keluarga tanda dan gejala
infeksi

4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan tendon.


Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24 jam
gangguan mobilitas fisik teratasi

11
Dengan kriteria :
1. Klien meningkat dalam aktivitas fisik
2. Mengerti tujuan dan peningkatan mobilitas
3. Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan
kemampuan berpindah.
4. Memperagakan penggunaan alat bantu untuk mobilisasi

Tabel 3.4 Intervensi dan rasional


Intervensi Rasional

1. Monitor vital sign 1. Monitoring vital sign


sebelum/sesudah latihan sebelum atau sesudah latihan
dan lihat respon dan lihat respon pasien saat
2. Konsultasi dengan terapi latihan.
fisik tentang rencana 2. Mengkonsultasikan dengan
ambulasi terapi fisik tentang rencana
3. Bantu klien untuk ambulasi sesuai dengan
menggunakan tongkat kebutuhan
dan cegah terhadap 3. Membantu klien untuk
cedera menggunakan tongkat dan
4. Ajarkan pasien/tenaga cegah terhadap cedera
kesehatan tentang teknik 4. Mengajarkan pasien atau
ambulasi. tenaga kesehatan tentang
5. Kaji kemampuan pasien teknik ambulasi.
dalam mobilisasi 5. Mengkaji kemampuan pasien
6. Latih pasien dalam dalam mobilisasi fisik
pememnuhan kebutuhan 6. Melatih pasien dalam
ADLs pememnuhan kebutuhan
7. Dampingi dan bantu ADLs secara mandiri sesuai
pasien saat mobilisasi. kemampuan.
8. Berikan alat bantu jika 7. Mendampingi dan bantu
klien memerlukan. pasien saat mobilisasi dan

12
9. Ajarkan pasien merubah bantu penuhi kebutuhan
posisi ADLs.
8. Memberikan alat bantu jika
klien memerlukan.
9. Mengajarkan pasien
bagaimana merubah posisi
dan berikan bantuan jika
diperlukan

5)Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan, kondisi fisik,


perubahan peran keluarga, kondisi status sosioekonomi.
Tujuan : Setelah dilakukan asuhan selama 1x24 jam kecemasan
klien teratasi
Dengan hasil :
1. Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas.
2. Vital sign dalam batas normal.
3. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya kecemasan
Tabel 3.5 Intervensi dan rasional
Intervensi Rasional

1. Menggunakan pendekatan
1. Gunakan pendekatan
yang menenangkan.
yang menenangkan.
2. Menyatakan dengan jelas
2. Nyatakan dengan jelas
harapan terhadap perilaku
perilaku pasien
pasien
3. Jelaskan semua prosedur.
3. Menjelaskan semua prosedur
4. Temani pasien untuk
dan apa yang dirasakan
memberikan keamanan
selama prosedur.
dan mengurangi takut.

13
5. Berikan informasi factual 4. Menemani pasien untuk
mengenai diagnosis, memberikan keamanan dan
tindakan prognosis. mengurangi takut.
6. Libatkan keluarga untuk 5. Memberikan informasi
mendampingi klien. factual mengenai diagnosis,
7. Instruksikan pada pasien tindakan prognosis.
untuk menggunakan 6. Melibatkan keluarga untuk
teknik relaksasi. mendampingi klien.
8. Dengarkan dengan penuh 7. Menginstruksikan pada
perhatian. pasien untuk menggunakan
9. Identifikasi tingkat teknik relaksasi.
kecemasan. 8. Mendengarkan dengan penuh
10. Bantu pasien mengenal perhatian.
situasi yang 9. Mengidentifikasi tingkat
menimbulkan kecemasan.
kecemasan. 10. Membantu pasien mengenal
11. Dorong pasien untuk situasi yang menimbulkan
mengungkapkan kecemasan.
perasaan, ketakutan, 11. Mendorong pasien untuk
persepsi. mengungkapkan perasaan,
12. Kelola pemberian obat ketakutan, persepsi.
anti cemas 12. Mengelola pemberian obat
anti cemas

14