Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda,


bahkan mungkin satu jenis senyawa metabolit sekunder hanya ditemukan pada
satu spesies dalam suatukingdom. Senyawa ini juga tidak selalu dihasilkan, tetapi hanya pada
saat dibutuhkan saja atau pada fase-fase tertentu. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk
mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk
mengatasihama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal.Singkatnya,
metabolit sekunder digunakan organisme untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Sebagian
besar tanaman penghasil senyawa metabolit sekunder memanfaatkan senyawa tersebut untuk
mempertahankan diri dan berkompetisi dengan makhluk hidup lain di sekitarnya.

Alkaloid merupakan sebuah golongan senyawa basa bernitrogen yang


kebanyakan heterosiklik dan terdapat di tetumbuhan. Golongan alkaloid mempunyai peran
dalam menghambat kerja enzim (mampu bersifat sebagai antibiotik). Alkaloid biasanya
diklasifikasikan menurut kesamaan sumber asal molekulnya (precursors),didasari dengan
metabolisme pathway (metabolic pathway) yang dipakai untuk membentuk molekul itu.
Kalau biosintesis dari sebuah alkaloid tidak diketahui, alkaloid digolongkan menurut nama
senyawanya, termasuk nama senyawa yang tidak mengandung nitrogen (karena struktur
molekulnya terdapat dalam produk akhir). Salah satu senyawa alkaloid adalah kuinina.
Kuninina ini juga bersifat antibiotik yaitu mampu mengobati penyakit malaria. Oleh karena
itu, kami membuat makalah tentang senyawa alkaloid kuinina.
BAB II PEMBAHASAN

2.1 Tanaman Kina Kina merupakan tanaman obat berupa pohon yang berasal dari Amerika
Selatan di sepanjang pegunungan Andes yang meliputi wilayah Venezuela, Colombia,
Equador, Peru sampai Bolivia.

a. Klasifikasi Tanaman Kina


Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Keluarga : Rubiaceae
Genus : Chinchona
Spesies : Chinchona spp.
Tanaman kina dengan tinggi hingga 17m, cabang berbentuk galah yang bersegi 4 pada
ujungnya, mula-mula berbulu padat dan pendek kemudian agak gundul dan berwarna merah.
Daun letaknya berhadapan dan berbentuk elips, lama kelamaan menjadi lancip atau bundar,
warna hijau sampai kuning kehijauan, daun gugur berwarna merah. Tulang daun terdiri dari
11 – 12 pasang, agak menjangat, berbentuk galah, daun penumpu sebagian berwarna merah,
sangat lebar. Ukuran daun panjang 24 – 25cm, lebar 17 –19cm. Kelopak bunga berbentuk
tabung, bundar, bentuk gasing, bergigi lebar bentuk segitiga, lancip. Bunga wangi, bentuk
bulat telur sampai gelendong.
b. Sifat Senyawa Alkaloid Kuinina
Kuinnina merupakan alkaloid ditemukan dalam kulit pohon cinchona. Kina telah digunakan
untuk mengobati malaria (penyakit berulang yang ditandai dengan menggigil parah dan
demam)
c. Struktur Kina :

Struktur Kina

Tumbuhan Kina (Chincona sp.) merupakan bahan baku farmasi yang sangat dinilai dan
terkenal luas sebagai salah satu jenis tanaman obat-obatan berkhasiat dan
sudah lama digunakan sebagai obat anti malaria. Pada struktur kinin terdapat 2 bagian yaitu
cincin kinin dan kinolin. Pada cincin kinolin terdapat 2 atom C asimetrik sehingga produknya
berupa campuran dengan struktur dalam ruang yang berbeda. Khasiat tanaman ini,
sabagai anti malaria berasal dari senyawa alkaloid kuinina (alkaloid chincona) terutama
senyawa kuinina (C20H24N2O2), kuinidina (isomerdari kuinina), sinkonina (C19H22N2O), dan
sinkonidina (isomer dari sinkonina). Hampir keseluruhan bagian tanaman kina (akar, batang,
daun, dan kulit) mengandung senyawa alkaloid kiunina tersebut dalam persentase yang
berbeda.

Kina disintesis dari triptofan melalui 16 tahap dengan menggunakan membutuhkan 16


enzim untuk menghasilkan Kina. Dalam proses sintesis perlu dilakukan penambahan zat
induser yang diinokulasikan secara bersama-sama dengan mediumnya. Zat induser adalah
suatu zat yang memiliki komponen nutrisi yang serupa dengan dengan tanaman inangnya dan
dapat menstimulasi pertumbuhan mikroba endofit dalam memproduksi senyawa bioaktif
sebagai hasil metabolisme sekunder..

Kina akan menghambat proteolisis hemoglobin dan polimerase heme. Kedua enzim
tersebut diperlukan untuk memproduksi pigmen yang dapat membantu mempertahankan
hidup plasmodium tersebut. Kina akan menghambatan aktivitas heme polimerase tersebut
sehingga terjadi penumpukan substrat yang bersifat sitotoksik yaitu heme. Sehingga
menghambat sintesis protein, RNA dan DNA, maka akan mencegah pencernaan hemoglobin
oleh parasit dan dengan demikian mengurangi suplai asam amino yang diperlukan untuk
kehidupan parasit.

Sifat senyawa alkaloid kunina adalah bersifat basa, Optis aktif, Non polar,sehingga larut
dalam pelarut organik, Pahit dan toksik, mempunyai efek farmakologis, Berat molekul
alkaloid yang tidak ada ikatan hidrogen adalah rendah, Sebagai basa organik, alkaloid
membentuk garam dengan asam mineral dan Garam tersebut lebih larut air karena
diendapkan dari larutan berair oleh tannin

Kuinina atau kinina adalah alkaloid kristal putih alami yang memiliki rasapahit dan
mempunyai sifat antipiretik (penawar panas), antimalaria, analgesik (penawar sakit),
serta antiinflamasi. Senyawa stereoisomer dari kuinidina ini merupakan pengobatan efektif
pertama untuk malaria yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan mulai digunakan
pada sekitar abad ke-17. Pengobatan malaria dengan kuinina tetap menjadi pilihan
hingga 1940-ansampai digantikan oleh obat-obatan lain. Perolehan kuinina dari kulit
pohonkina pertama kali ditemukan oleh suku Indian Quechua di Peru dan dibawa
keEropa pertama kali oleh Yesuit.g.

2.1Teknologi Isolasi Senyawa Alkaloid Kuinina

Batang batang kina (panjang 2 cm, ø 1 cm) dicuci dengan air, lalu disterilkan dengan etanol
70% selama 1 menit, natrium hipoklorit 5,3% selama 5 menit, dan etanol 75% selama 0,5
menit. Batang kina dibelah dua secara longitudinal, lalu diletakkan di atas cawan petri
berisi corn meal-malt agar

(CMMA) yang telah dicampur dengan kloramfenikol 0,05 mg/mL. Batang yang sama
diletakkan juga di atas nutrient agar yang dicampur dengan nistatin 0,10 mg/mL. Keduanya
diinkubasi selama 3 hari pada suhu 27ºC, kemudian koloni dipindahkan ke PDA dalam
cawan petri dan selanjutnya diinkubasi lagi pada suhu 27ºC dan dilakukan pengecekan secara
berkala untuk pemurnian lebih lanjut. Masing masing endofit diisolasi melalui beberapa kali
pemindahan, sehingga diperoleh isolat murni. Sebanyak 88 mikroba endofit yang telah
diisolasi, ditanam pada agar miring (PDA) dan diinkubasi dalam inkubator suhu 29ºC,
selanjutnya setiap 2 bulan sekali dikultivasi kembali. Sebagian kecil isolat disimpan dalam
medium PDA pada suhu -80ºC.
Kaidah-kaidah dalam pemilihan pelarut yang digunakan dalam isolasi dan furifikasi secara
umum yaitu harus yang kita gunakan tidak bercampur dengan zat yang akan diisolasi. Pelarut
yang kita gunakan jangan sampai bereaksi dengan zat yang akan diisolasi. Pelarut yang kita
gunakan dapat dengan mudah melarutkan pada saat mengekstraksi. Pelarut yang kita gunakan
sesuai dengan kriteria zat yang akan diekstraksi. Pelarut yang kita gunakan mudah didapat
dan efesiensi. Berdasarkan pemilihan pelarut ini, maka kita bisa menyimpulakan bahwa
pelarut yang kita gunakan ini dapat diklasifikasikan menjadi 3 berdasarkan kepolaran pelarut-
pelarut tersebut. Kepolaran ini maksudnya pada saat proses ekstraksi senyawa yang memiliki
polaritas yang sama akan lebih mudah dilarutkan dengan pelarut yang memiliki polaritas
yang sama pula.

Adapun klasifikasinya yaitu Pelarut yang bersifat polar, semi-polar dan non-polar. Pelarut
polar ini cocok untuk mengekstraksi senyawa polar dari tanaman Contohnya Metanol, Asam
asetat, dan Air. Pelarut yang bersifat semi-polar. Pada pelarut ini kepolarannya lebih rendah
dibandingkan dengan pelarut polar, sehingga pelarut semi polar ini cocok digunakan untuk
senyawa yang bersifat semi polar pula dari tanaman tersebut. Contohnya adalah Kloroforom
dan Aseton asetat . Pelarut yang bersifat non-polar Pada pelarut ini, bearti senyawa yang
diekstrak tidak larut dalam pelarut polar. Senyawa yang diekstrak lebih menuju kepada jenis
minyak sehingga pelarut yang digunakn cocok yaitu pelarut non-polar. Contohnya adalah
Eter dan Heksana.

Flourecence terjadi ketika sebuah molekul dipromosikan ke keadaan tereksitasi dengan


absorpsi, dan kemudian kembali pada keadaan dasar dengan emisi.

Struktur molekul yang berflouresensi adalah struktur aromatik, atau struktur yang
mengandung ikatan rangkap terkonjugasi, yaitu elektron π dan elektron n dalam dua ikatan
rangkap atau lebih, sehingga dalam molekul tersebut terdapat sejumlah elektron dengan
mobilitas tinggi dibandingkan dengan elektron lainya.

Untuk analisis kuantitatif, pada konsentrasi fluorofor yang rendah, intesitas fluoresensi
sebanding dengan konsentrasi fluorofor dan untuk perhitungan digunakan fluoresensi larutan
sampel dibandingkan dengan larutan baku.
BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

Senyawa alkaloid kunina adalah senyawa yang bersifat basa, Optis aktif, Non polar,sehingga
larut dalam pelarut organik, Pahit dan toksik, mempunyai efek farmakologis, tidak
memiliki ikatan hidrogen. Dalam pengisolasian senyawa ini perlu diperhatikan dalam
pemilihan pelarut, Kaidah-kaidah dalam pemilihan pelarut yang digunakan dalam isolasi dan
furifikasi secara umum yaitu pelarut yang gunakan tidak bercampur dengan zat yang akan
diisolasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2002. Produksi Alkaloid Kuinina Oleh Beberapa Mikroba Endofit dengan
Penambahan Induser. Majalah Famasi Indonesia.

Simanjuntak, P, Titi Parwati, Bustanussalam, Titik K. Prana, Ohashi K. Dan Shibuya,


2002. Biochemical Character of Endophyte Microbes Isolated From Chincona Plants,
Proceeding Seminar on JSPS-NCRT/DOST/LIPI/VCC Large Scale Cooperative Research in
the Field of Biothecnology, in Bangkok, hailand Nov.2001.