Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. “K” DENGAN GANGGUAN POLA


TIDUR DI BSLU MANDALIKA MATARAM

Disusun oleh:

RISTA AGUS KURDANI


NPM: 019.02.0997

PROGRAM STUDI PROFESI NERS ANGKATAN XV


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MATARAM
MATARAM
2019
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. “K” DENGAN GANGGUAN POLA TIDUR
DI BSLU MANDALIKA MATARAM

Telah dibaca dan disetujui pada:


Hari :
Tanggal :

Disusun oleh:

Mahasiswa

Rista Agus Kurdani


NPM: 019.02.0997

Disahkan oleh

Pembimbing Akademik Pembimbing Akademik

(_____________ __________) (_ )
NIP: NIP:
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi

Tidur merupakan suatu kebutuhan bukan suatu keadaan istirahat yang tidak
bermanfaat, tidur merupakan proses yang diperlukan manusia untuk pembentukan sel-sel
tubuh yang baru, perbaikan sel-sel tubuh yang rusak, memberi waktu organ tubuh untuk
istirahat maupun untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan biokimiawi tubuh
(Morhead, Johnson & Mass, 2006).

Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana seseorang masih
dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya
(Guyton & Hall, 2006).

Tidur sangat penting bagi pemeliharaan kesehatan dan proses penyembuhan


penyakit, karena tidur bermanfaat untuk menyimpan energi, meningkatkan imunitas
tubuh dan mempercepat proses penyembuhan penyakit juga pada saat tidur tubuh
mereparasi bagian-bagian tubuh yang sudah aus. Umumnya orang akan merasa segar dan
sehat sesudah istirahat. Jadi istirahat dan tidur yang cukup sangat penting untuk kesehatan
(Suyono, 2008).

Tabel. Kebutuhan Dasar Manusia


Umur Tingkat Perkembangan Jumlah Kebutuhan Tidur
0-1 bulan Bayi baru lahir 14-18 jam/hari
1-18 bulan Masa bayi 12-14 jam/hari
18 bulan -3 tahun Masa anak 11-12 jam/hari
3-6 tahun Masa prasekolah 11 jam/hari
6-12 tahun Masa sekolah 10 jam/hari
12-18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari
18-40 tahun Masa dewasa 7-8 jam/hari
40-60 tahun Masa muda paruh baya 7 jam/hari
60 tahun ke atas Masa dewasa tua 6 jam/hari

B. Etiologi

Gangguan tidur bukanlah suatu penyakit melainkan gejala yang memiliki banyak
faktor yang dapat menyebabkan atau dapat dikatakan tidak mempunyai penyebab pasti
terjadinya gangguan tidur ini.

Berdasarkan situs melileaorganik (2008) Faktor resiko yang dapat menyebabkan


gangguan tidur yaitu :
1. Faktor Psikologi
a. Stress yang berkepanjangan paling sering menjadi penyabab dari Insomnia
jenis kronis, sedangkan berita-berita buruk gagal rencana dapat menjadi
penyebab insomnia transient.
b. Problem Psikiatri, Depresi paling sering ditemukan. Kamu bangun lebih pagi
dari biasanya yang tidak kamu ingini, adalah gejala paling umum dari awal
depresi , Cemas, Neorosa, dan gangguan psikologi lainnya sering menjadi
penyebab dari gangguan tidur.
c. Sakit Fisik, Sesak nafas pada orang yang terserang asma, sinus, flu sehingga
hidung yang tersumbat dapat merupakan penyebab gangguan tidur. Selama
penyebab fisik atau sakit fisik tersebut belum dapat di tanggulangi dengan
baik ,gangguan tidur atau sulit tidur akan dapat tetap dapat terjadi.
2. Faktor Lingkungan
a. Lingkungan yang bising seperti lingkungan lintasan pesawat jet, lintasan
kereta api, pabrik atau bahkan TV tetangga dapat menjadi faktor penyebab
susah tidur.
b. Gaya Hidup
c. Alkohol , rokok, kopi, obat penurun berat badan, jam kerja yang tidak teratur,
juga dapat menjadi faktor penyebab sulit tidur.

Menurut Remelda (2008) terdapat beberapa perilaku yang dapat menyebabkan


seseorang mengalami gangguan tidur , yaitu :
1. Higienitas tidur yang kurang secara umum (cuci muka, dll)
2. Kekhawatiran tidak dapat tidur
3. Mengkonsumsi caffein secara berlebihan
4. Minum alkohol sebelum tidur
5. Merokok sebelum tidur
6. Tidur siang/sore yang berlebihan
7. Jadwal tidur/bangun yang tidak teratur.

C. Patofisiologi

Fisiologi tidur merupakan pengaturan tidur yang melibatkan hubungan mekanisme


serebral secara bergantian agar mengaktifkan dan menekan pusat otak untuk dapat tidur
dan bangun. Salah satu aktivitas tidur ini diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis.
Sistem tersebut mengatur seluruh tingkatan kegiatan susunan saraf pusat, termasuk
pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusat pengaturan kewaspadaan dan tidur terletak
dalam mesensefalon dan bagian atas pons. Dalam keadaan sadar, neuron dalam reticular
activating sistem (RAS) akan melepaskan katekolamin seperti norepineprin. Selain itu,
RAS yang dapat memberikan rangsangan visual, pendengaran, nyeri, dan perabaan juga
dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses
pikir. Pada saat tidur, terdapat pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di
pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing regional (BSR), sedangkan saat
bangun bergantung pada keseimbangan impuls yang diterima dipusat otak dan sistem
limbic. Dengan demikian, sistem batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam
tidur adalah RAS dan BSR. Selama tidur, dalam tubuh seseorang terjadi perubahan proses
fisiologis, yaitu:

1. Penurunan tekanan darah dan denyut nadi


2. Dilatasi pembuluh darah perifer
3. Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas traktus gastrointestinal
4. Relaksasi otot-otot rangka
5. Basal matabolsme rate menurun 10-30%
Pathway
D. Klasifikasi
Berdasarkan prosesnya, terdapat dua jenis tidur, pertama jenis tidur yang
disebabkan oleh menurunnya kegiatan di dalam sistem pengaktivasi retikularis. Jenis
tidur tersebut disebut dengan tidur gelombang lambat karena gelombang otaknya sangat
lambat, atau disebut tidur nonrapid eye movement (NREM). Kedua jenis tidur yang
disebabkan oleh penyaluran isyarat-isyarat abnormal dari dalam otak, meskipun kegiatan
otak tidak tertekan secara berarti. Jenis tidur yang kedua disebut dengan jenis tidur
paradox atau rapid eye movement (REM).
1. Tidur gelombang lambat/NREM, jenis tidur ini dikenal dengan tidur yang dalam, atau
juga dikenal dengan tidur yang nyenyak. Ciri-ciri tidur nyenyak adalah menyegarkan,
tanpa mimpi atau tidur dengan gelombang delta. Ciri lainnya adalah individu berada
dalam keadaan istirahat penuh, tekanan darah menurun, frekuensi napas menurun,
pergerakan bola mata melambat, mimpi berkurang dan metabolisme menurun.
Perubahan selama proses NREM tampak melalui elektroensefalografi dengan
memperlihatkan gelombang otak berada pada setiap tahap tidur NREM. Tahap
tersebut yaitu ; kewaspadaan penuh dengan gelombang delta yang berfrekuensi tinggi
dan bervoltase rendah, istirahat tenang yang dapat diperlihatkan pada gelombang alfa,
tidur ringan karena terjadi perlambatan gelombang alfa ke jenis beta atau delta yang
bervoltase rendah, dan tidur nyenyak gelombang lambat dengan gelombang delta
bervoltase tinggi dan berkecepatan 1-2 perdetik.
Tahapan tidur jenis NREM :
a. Tahap I
Tahap ini adalah tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri sebagai berikut
: rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak
dari samping ke samping, frekuensi nadi dan napas sedikit menurun, serta dapat
bangun segera selama tahap ini berlangsung selama 5 menit.

b. Tahap II
Tahap ini merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun dengan
ciri sebagai berikut : mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi
napas menurun, temperature tubuh menurun, metabolisme menurun, serta
berlangsung pendek dan berakhir 10-15 menit.

c. Tahap III
Tahap III merupakan tahap tidur dengan ciri denyut nadi, frekuensi napas, dan
proses tubuh lainnya lambat. Hal ini disebabkan oleh adanya dominasi sistem
parasimpatis sehingga sulit dibangunkan.

d. Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam dengan ciri kecepatan jantung dan
pernapasan menurun, jarang bergerak, sulit dibangunkan, gerak bola mata cepat,
sekresi lambung menurun dan tonus otot menurun.

2. Tidur paradox/REM, tidur jenis ini dapat berlangsung pada tidur malam yang terjadi
selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama timbul 80-100 menit.
Namun apabila kondisi seseorang sangat lelah, maka awal tidur sangat cepat dan
bahkan jenis tidur ini tidak ada. Ciri tidur REM adalah sebagai berikut :
a. Biasanya disertai dengan mimpi aktif
b. Lebih sulit dibangunkan daripada selama tidur nyenyak NREM
c. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertekan, menunjukan inhibisi kuat
proyeksi spinal atas sistem pengaktivasi retikularis
d. Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
e. Pada otot perifer, terjadi gerakan otot yang tidak teratur
f. Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan irregular, tekanan darah
meningkat atau berfluktuasi, sekresi gaster meningkat, dan metabolism meningkat
g. Tidur ini penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar,
memori, dan adaptasi

Apabila seseorang mengalami kehilangan tidur REM, maka akan


menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut :
a. Cenderung hiperaktif
b. Kurang dapat mengendalikan diri dan emosi
c. Nafsu makan bertambah
d. Bingung dan curiga

Secara umum, siklus tidur normal adalah sebagai berikut:


Bangun (Pratidur)

NREM I Tidur REM

NREM II NREM II

NREM III NREM III

NREM IV

Gambar. Siklus tidur (sumber : Potter & Perry, 2009)

E. Jenis-jenis gangguan tidur

1. Insomnia
Insomnia merupakan suatu keadaan yang menyebabkan individu tidak mampu
mendapatkan tidur yang adekuat, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga
individu tersebut hanya tidur sebentar atau susah tidur. Insomnia terbagi menjadi tiga
jenis, yaitu inisial insomnia. intermiten insomnia dan terminal insomnia. Inisial
insomnia merupakan ketidakmampuan individu untuk jatuh tidur atau memulai tidur.
Intermitten insomnia merupakan ketidakmampuan tetap tidur karena selalu terbangun
pada malam hari. Sedangkan terminal insomnia merupakan ketidakmampuan untuk
tidur kembali setelah bangun tidur pada malam hari. Proses gangguan tidur ini
kemungkinan besar disebakan adanya rasa khawatir dan tekanan jiwa.
2. Hipersomia
Hipersomia merupakan gangguan tidur dengan criteria tidur berlebihan. Pada
umumnya, lebih dari sembilan jam pada malam hari, yang disebabkan oleh
kemungkinan masalah psikologis, depresi, cemas, gangguan sususnan sistem saraf
pusat, ginjal, hati, dan gangguan metabolisme.

3. Parasomia
Parasomia merupakan kumpulan penyakit yang dapat menyebabkan gangguan
pola tidur. Misalnya somnmbulisme yang banyak terjadi pada anak-anak yaitu pada
tahap III dan IV dari tidur NREM.

4. Enuresis
Enuresis merupakan buang air kecil yang tidak sengaja pada waktu tidur.
Enuresis ada dua macam, yaitu enuresis nocturnal dan enuresis diurnal. Enuresis
nocturnal merupakan mengompol pada waktu tidur. Umumnya, terjadi sebagai
gangguan tidur NREM. Enuresis diurnal merupakan mengompol pada saat bangun
tidur.

5. Somnambulisme
Somnambulisme adalah gangguan tingkah laku yang sangat kompleks
mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu,
menutup pintu, duduk di tempat tidur, menabrak kursi, termasuk tingkah laku berjalan
dalam beberapa menit kemudian kembali tidur.

6. Narkolepsi
Narkolepsi merupakan suatu kondisi yang dicirikan oleh keinginan yang tidak
terkendali untuk tidur. Dapat dikatakan bahwa narkolepsi adalah serangan mengantuk
yang mendadak, sehingga ia dapat tertidur pada saat dimana serangan tidur tersebut
datang.

7. Night terrors
Night terrors merupakan mimpi buruk. Umumnya terjadi pada anak-anak.
Setelah tidur beberapa jam, anak tersebut langsung terjaga dan berteriak, pucat, dan
ketakutan.

8. Mendengkur
Mendengkur disebabkan oleh adanya rintangan terhadap pengaliran udara di
hidung dan mulut. Amandel yang membengkak dan adenoid dapat menjadi faktor
yang turut menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang menyumbat saluran napas
pada lansia. Otot-otot di bagian belakang mulut mengendur lalu bergetar jika dilewati
udara pernapasan.

Selain gangguan tidur yang telah diuraikan diatas, terdapat pula gangguan tidur
yang diklasifikasikan menjadi empat kategori utama (Thorpy, 1994), yaitu :
1. Disomnia
Merupakan gangguan primer yang berasal dari sistem tubuh yang berbeda dan
dibagi lagi menjadi tiga kelompok besar, diantaranya :

a. Gangguan tidur intrinsik meliputi gangguan untuk memulai dan


mempertahankan tidur, yaitu berbagai bentuk insomnia dan gangguan rasa
kantuk yang berlebihan seperti narkolepsi dan apnea tidur obstruktif
b. Gangguan tidur ekstrinsik terjadi akibat beberapa faktor eksternal, yang jika
dihilangkan menyebabkan hilangnya gangguan tidur.
c. Gangguan irama sirkadian sewaktu tidur dapat terjadi karena ketidaksejajaran
antara waktu tidur dan apa yang diinginkan oleh individu atau norma sosial.

2. Parasomnia
Merupakan perilaku tidak diinginkan yang terjadi terutama pada saat tidur
diantaranya gangguan terjaga, terjaga sebagian, atau selama transisi dalam siklus tidur
atau dari tidur ke terbangun.

3. Gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan medis dan psikiatrik


Banyak gangguan tidur medis dan psikiatrik yang berhubungan dengan
gangguan tidur dan bangun. Gangguan tidur tersebut dibagi menjadi gangguan tidur
yang yang berhubungan dengan psikiatrik, neurologik, atau gangguan medis lainnya.

4. Gangguan tidur yang masih bersifat usulan


Merupakan gangguan baru yang belum memiliki banyak informasi yang
adekuat mengenai keberadaan gangguan tersebut.

F. Tanda dan gejala

Menurut Remelda (2008), tanda dan gejala yang timbul dari pasien yang
mengalami gangguan tidur yaitu penderita mengalami kesulitan untuk tertidur atau sering
terjaga di malam hari dan sepanjang hari merasakan kelelahan. Gangguan tidur juga bisa
dialami dengan berbagai cara:
1. Sulit untuk tidur tidak ada masalah untuk tidur namun mengalami kesulitan untuk
tetap tidur (sering bangun)
2. Bangun terlalu awal
Kesulitan tidur hanyalah satu dari beberapa gejala gangguan tidur. Gejala yang
dialami waktu siang hari adalah :
a. Mengantuk
b. Resah
c. Sulit berkonsentrasi
d. Sulit mengingat
e. Gampang tersinggung

G. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur

Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kualitas tersebut
dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk tidur dan memperoleh jumlah
istirahat sesuai dengan kebutuhannya. Berikut ini faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
pemenuhan kebutuhan tidur, antara lain :
1. Status kesehatan
Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan dapat tidur dengan
nyenyak. Tetapi pada orang yang sakit dan rasa nyeri, maka kebutuhan istirahat dan
tidurnya tidak dapat dipenuhi dengan baik sehingga tidak dapat tidur dengan nyenyak.
Banyak penyakit yang dapat memperbesar kebutuhan tidur, seperti penyakit yang
disebabkan oleh infeksi terutama infeksi limpa. Infeksi limpa berkaitan denga
keletihan sehingga penderitanya membutuhkan banyak tidur untuk mengatasinya.
Banyak juga keadaan sakit yang membuat penderitanya kesulitan tidur atau bahkan
tidak bisa tidur. Misalnya pada klien dengan gangguan pada sistem pernapasan.
Dalam kondisinya yang sesak napas, maka seseorang tidak mungkin dapat istirahat
dan tidur.

2. Lingkungan Keadaan
Lingkungan yang nyaman dan aman bagi seseorang dapat mempercepat proses
terjadinya tidur. Sebaliknya, lingkungna yang tidak aman dan nyaman bagi seseorang
dapat menyebabkan hilangnya ketenangan sehingga mempengaruhi proses tidur.

3. Stress
Psikologis kecemasan merupakan perasaan yang tidak jelas, keprihatinan dan
kekhawatiran karena ancaman pada sistem nilai atau pola keamanan seseorang
(Carpenito, 2000). Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada frekuensi
tidur. Hal ini disebabkan karena pada kondisi cemas akan meningkatkan norepinefrin
darah melalui sistem saraf simpatis. Zat ini akan mengurangi tahap IV NREM dan
REM.

4. Obat-obatan
Obat dapat juga memengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang
memengaruhi proses tidur, seperti jenis golongan obat diuretic yang dapat
menyebabkan insomnia, antidepresan yang dapat menekan REM, kafein yangdapat
meningkatkan saraf simpatis sehingga menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan
beta blocker dapat berefek pada timbulnya insomnia, dan golongan narkotik dapat
menekan REM sehingga mudah mengantuk.

5. Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi dapat mempercepat proses tidur. Konsumsi
protein yang tinggi dapat menyebabkan individu tersebut akan mempercepat proses
terjadinya tidur karena dihasilkan tripofan. Tripofan merupakan asam amino hasil
pencernaan protein yang dapat membantu kemudahan dalam tidur. Demikian
sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang dapat juga memengaruhi proses tidur, bahkan
terkadang sulit untuk tidur.
6. Motivasi
Motivasi merupakan suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur,
sehingga dapat mempengaruhi proses tidur. Selain itu, adanya keinginan untuk tidak
tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.

H. Pemeriksaan penunjang

1. Electroencephalogram (EEG) untuk aktifitas listrik otak, Electromiogram (EMG)


untuk pengukuran tonus otot, dan electroculogram (EOG) untuk mengukur
pergerakan mata.
2. Saturasi O2 dan ECG untuk mengatahu adanya sleep apnea.

I. Komplikasi

1. Efek psikologis. Dapat berupa gangguan memori, gangguan berkonsentrasi , irritable,


kehilangan motivasi, depresi, dan sebagainya.
2. Efek fisik/somatik. Dapat berupa kelelahan, nyeri otot, hipertensi, dan sebagainya.
3. Efek sosial. Dapat berupa kualitas hidup yang terganggu, seperti susah mendapat
promosi pada lingkungan kerjanya, kurang bisa menikmati hubungan sosial dan
keluarga.
4. Kematian. Orang yang tidur kurang dari 5 jam semalam memiliki angka harapan
hidup lebih sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam semalam. Hal ini mungkin
disebabkan karena penyakit yang menginduksi insomnia yang memperpendek angka
harapan hidup atau karena high arousal state yang terdapat pada insomnia
mempertinggi angka mortalitas atau mengurangi kemungkinan sembuh dari penyakit.
Selain itu, orang yang menderita insomnia memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar
untuk mengalami kecelakaan lalu lintas jika dibandingkan dengan orang normal

J. Penatalaksanaan

Penanganan gangguan tidur dibagi menjadi 2 tahap yaitu :


1. Terapi non farmakologi
Merupakan pilihan utama sebelum menggunakan obat-obatan karena
penggunaan obat-obatan dapat memberikan efek ketergantungan. Ada pun cara
yang dapat dilakukan antara lain :
a. Terapi relaksasi
Terapi ini ditujukan untuk mengurangi ketegangan atau stress yang
dapat mengganggu tidur. Bisa dilakukan dengan tidak membawa pekerjaan
kantor ke rumah, teknik pengaturan pernapasan, aromaterapi, peningkatan
spiritual dan pengendalian emosi.

b. Terapi tidur yang bersih


Terapi ini ditujukan untuk menciptakan suasana tidur bersih dan
nyaman. Dimulai dari kebersihan penderita diikuti kebersihan tempat tidur
dan suasana kamar yang dibuat nyaman untuk tidur.
c. Terapi pengaturan tidur
Terapi ini ditujukan untuk mengatur waktu tidur perderita
mengikuti irama sirkardian tidur normal penderita. Jadi penderita harus
disiplin menjalankan waktu-waktu tidurnya

d. Terapi psikologi/psikiatri
Terapi ini ditujukan untuk mengatasi gangguan jiwa atau stress
berat yang menyebabkan penderita sulit tidur. Terapi ini dilakukan oleh
tenaga ahli atau dokter psikiatri

e. Mengubah gaya hidup


Bisa dilakukan dengan berolah raga secara teratur, menghindari
rokok dan alkohol, mengontrol berat badan dan meluangkan waktu untuk
berekreasi ke tempat-tempat terbuka seperti pantai dan gunung.

2. Terapi Farmakologi
Mengingat banyaknya efek samping yang ditimbulkan dari obat-obatan
seperti ketergantungan, maka terapi ini hanya boleh dilakukan oleh dokter yang
kompeten di bidangnya. Obat-obatan untuk penanganan gangguan tidur antara
lain:
a. Golongan obat hipnotik
b. Golongan obat antidepresan
c. Terapi hormone melatonin dan agonis melatonin
d. Golongan obat antihistamin.

Ada terapi khusus untuk kasus-kasus gangguan tidur tertentu selain yang
telah disebutkan di atas. Misalnya pada sleep apnea yang berat dapat dibantu
dengan pemakaian masker oksigen (Continuous positive airway pressure) atau
tindakan pembedahan jika disebabkan kelemahan otot atas pernapasan.Pada
Restless Leg Syndrome kita harus mencari penyakit dasarnya untuk dapat
memperoleh terapi yang adekuat.

K. Konsep Asuhan keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas
Selain identitas klien : nama tempat tanggal lahir, usia, agama, jenis
kelamin, juga identitas orangtuanya yang meliputi : nama orangtua, pendidikan,
dan pekerjaan.
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
Perawat memfokuskan pada hal-hal yang menyebabkan klien meminta
bantuan pelayanan seperti :
a) Apa yang dirasakan klien
b) Apakah masalah atau gejala yang dirasakan terjadi secara tiba-tiba atau
perlahan dan sejak kapan dirasakan
c) Bagaimana gejala itu mempengaruhi aktivitas hidup sehari-hari
d) Apakah ada perubahan fisik tertentu yang sangat mengganggu klien
2) Riwayat penyakit sekarang
Kaji kondisi yang pernah dialami oleh klien diluar gangguan yang
dirasakan sekarang khususnya gangguan yang mungkin sudah berlangsung
lama bila dihubungkan dengan usia dan kemungkinan penyebabnya, namun
karena tidak mengganggu aktivitas klien, kondisi ini tidak dikeluhkan.
3) Riwayat diit
Perubahan status nutrisi atau gangguan pada saluran pencernaan dapat
mencerminkan gangguan pola tidur. Pola dan kebiasaan makan yang salah
dapat menjadi faktor penyebab, oleh karena itu kondisi ini perlu dikaji :
a) Penurunan berat badan yang drastis
b) Selera makan yang menurun
c) Pola makan dan minum sehari-hari
d) Kebiasaan mengonsumsi makanan yang dapat mengganggu fungsi
pencernaan
4) Riwayat Tidur :
Data yang perlu dikaji seperti deskripsi masalah tidur klien, pola tidur
biasa, perubahan tidur terakhir, rutinitas menjelang tidur dan lingkungan
tidur, penggunaan obat tidur, pola asupan diet, gejala yang dialami selama
terbangun, penyakit fisik yang terjadi secara bersamaan, status emosional dan
mental saat ini.
5) Status Sosial Ekonomi
Kaji status sosial ekonomi klien dengan menghindarkan pertanyaan
yang mengarah pada jumlah atau nilai pendapatan melainkan lebih
difokuskan pada kualitas pengelolaan suatu nilai tertentu. Mendiskusikan dan
menyimpulkan bersama-sama merupakan upaya untuk mengurangi kesalahan
penafsiran.
6) Riwayat kesehatan keluarga :
Mengkaji kondisi kesehatan keluarga klien untuk menilai ada
tidaknya hubungan dengan penyakit yang sedang dialami oleh klien.

c. Pemeriksaan fisik
1) Kaji penampilan wajah klien, adakah lingkaran hitam disekitar mata, mata
sayu, konjungtiva merah, kelopak mata bengkak, wajah terlihat kusut dan
lelah
2) Kaji perilaku klien : cepat marah, gelisah, perhatian menurun, bicara lambat,
postur tubuh tidak stabil
3) Kaji kelelahan fisik, fatique, letargi

2. Diagnosa keperawatan

a. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan


3. Intervensi

Diagnosa keperawatan
No SLKI SIKI
(SDKI)
1. Gangguan pola tidur Tujuan: Setelah diberikan I. 05174: Dukungan tidur
berhubungan dengan asuhan keperawatan, Observasi:
hambatan lingkungan diharapkan pola tidur klian 1. identifikasi pola aktivitas dan
membaik tidur
Ditandai dengan: 2. identifikasi faktor penggangu
kriteria hasil:
1. Mengeluh sulit tidur tidur (fisik dan/psikologis)
-L.05045: Pola tidur:
2. Mengeluh sering terjaga 3. identifikasi makanan dan
3. Mengeluh tidak puas minuman yang mengganggu
1. Keluhan sulit tidur tidur (mis. kopi, teh, alkohol
tidur menurun dan makanan yang
4. Mengeluh pola tidur 2. Keluhan sering terjaga mendekati waktu tidur,
berubah menurun minum banyak air putih
5. Mengeluh istirahat tidak 3. Keluhan tidak puas sebelum tidur
cukup tidur menurun 4. identifikasi obat tidur yang
4. Keluhan pola tidur dikonsumsi
6. Mengeluh kemampuan
berubah menurun Terapeutik:
beraktivitas menurun 5. Keluhan istirahat tidak 5. modifikasi lingkungan (mis.
cukup menurun pencahayaan, kebisingan,
6. Kemampuan suhu, matrasdan tempat
beraktivitas meningkat tidur)
6. batasi waktu tidur siang, jika
perlu
7. fasilitasi menghilangkan
stress sebelum tidur
8. tetapkan jadwal tidur rutin
9. lakukan prosedur untuk
meningkatkan kenyamanan
(mis. pijat, pengaturan, posisi
terapi akupresur )
10. sesuaikan jadwal pemberian
obat dan atau tindakan untuk
menunjang siklus tidur
terjaga
Edukasi:
11. jelaskan pentingnya tidur
cukup selama sakit
12. anjurkan menepati kebiasaan
waktu tidur
13. anjurkan menghindari
makan/minuman yang
menggangu tidur
14. anjurkan penggunaan obat
tidur yang tidak
menggandung supresor
terhadap tidur REM
15. ajarkan faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur (mis.
psikologis, gaya hidup,
sering berubah shif bekerja
16. ajarkan relaksasi otot
autogenik atau cara
nonfarmakologi lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

1. Suyono, S. 2008. Ilmu penyakit dalam Jilid 2, Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI
2. Tarwoto, dan Wartorah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Jakarta : Salemba Indika
3. Potter dan Perry. 2009.Fundamental Keperawatan. EGC. Jakarta
4. Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep Dan Aplikasi Kebutuhan
Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika
5. Mubarak,. (2007). Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan Aplikasi dalam
Praktik. Jakarta: EGC
6. PPNI (2017). Standar diagnosis keperawatan Indonesia: Definisi dan indicator
diagnostic, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
7. PPNI (2019). Standar luaran keperawatan Indonesia: Definisi dan kriteria hasil
keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI
8. PPNI (2019). Standar intervensi keperawatan Indonesia: Definisi dan tindakan
keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI