Anda di halaman 1dari 10

SEMEN

Sewaktu ejakulasi, kelenjar seks tambahan menghasilkan sekresi yang menunjang kelangsungan hidup
sperma di dalam saluran reproduksi wanita. Sekresi ini membentuk sebagian besar semen, yaitu
campuran sekresi kelenjar seks tambahan, sperma, dan mukus. Semen, yang diejakulasikan selama
aktivitas seks laki-laki, terdiri atas cairan dan sperma yang berasal dari vas deferens (kira-kira 10 persen
dari keseluruhan semen), cairan vesikula seminalis (hampir 60 persen), cairan kelenjar prostat (kira-
kira 30 persen), dan sejumlah kecil cairan kelenjar mukosa, terutama kelenjar bulbouretra.

pH rata-rata campuran semen sekitar 7,5. Walaupun sperma dapat hidup selama beberapa minggu
dalam duktus genitalia laki-laki, begitu sperma diejakulasikan ke dalam semen, jangka waktu hidup
maksimal sperma hanya 24 sampai 48 jam pada suhu tubuh

Vesikula seminalis (1) menghasilkan fruktosa, yang berfungsi sebagai sumber energi primer
untuk sperma; (2) mengeluarkan prostaglandin, yang merangsang kontraksi otot polos di saluran
reproduksi pria dan wanita sehingga transpor sperma dari tempat penyimpanan di pria ke tempat
pembuahan di oviduktus wanita menjadi lebih mudah; (3) membentuk sekitar 60% cairan semen, yang
membantu membilas sperma ke dalam uretra serta melarutkan massa kental sperma, memungkinkan
sel ini bergerak; dan (4) mengeluarkan fibrinogen, suatu prekursor fibrin, yang membentuk anyaman
bekuan

Kelenjar prostat (1) mengeluarkan cairan basa yang menetralkan sekresi vagina yang asam,
suatu fungsi penting karena sperma lebih dapat hidup di lingkungan yang sedikit basa; (2) menghasilkan
enzim pembekuan; dan (3) melepaskan antigen spesifik prostat (PSA). Enzim pembekuan prostat bekerja
pada fibrinogen dari vesikula seminalis untuk menghasilkan fibrin yang " membekukan " semen sehingga
sperma yang diejakulasikan tetap berada di saluran reproduksi wanita ini ketika penis dikeluarkan.
Segera sesudahnya, bekuan ini diuraikan oleh antigen spesifik prostat (PSA), suatu enzim pengurai fibrin
dari prostat sehingga sperma dapat bergerak bebas di dalam saluran reproduksi wanita. Karena PSA
dihasilkan

Selama rangsangan seksual, kelenjar bulbouretra mengeluarkan bahan mirip-mukus yang


menghasilkan pelumas untuk hubungan seks.
Sistem Tubuh yang Dipengaruhi Kerja Prostaglandin
Sistem Reproduksi

 Meningkatkan transpor sperma oleh kerja otot polos di saluran reproduksi pria dan wanita

 Berperan dalam ovulasi

 Berperan penting dalam haid Ikut serta mempersiapkan bagian maternal plasenta

 Berperan dalam persalinan

Tindakan seks pria ditandai oleh ereksi dan ejakulasi.


siklus respons seks mencakup respons fisiologik yang lebih luas yang dapat dibagi menjadi
empat fase:
1. Fase eksitasi mencakup ereksi dan meningkatnya perasaan seksual.

2. Fase plateau ditandai oleh intensifikasi respons-respons ini, ditambah respons-respons tubuh
generalisata misalnya kecepatan jantung, tekanan darah, laju pernapasan, dan ketegangan otot yang
bertambah.
3. Fase orgasme yang mencakup ejakulasi serta respons lain yang menjadi puncak eksitasi seksual dan
secara kolektif dialami sebagai kenikmatan fisik yang intens.

4. Fase resolusi mengembalikan genitalia dan sistem tubuh ke keadaan sebelum rangsangan.

EMISI Pertama, impuls simpatis menyebabkan rangkaian kontraksi otot polos di prostat, saluran
reproduksi, dan vesikula seminalis. Aktivitas kontraktil ini mengalirkan cairan prostat, kemudian sperma,
dan akhirnya cairan vesikula seminalis (secara kolektif disebut semen) ke dalam uretra. Fase refleks
ejakulasi ini disebut emisi. Selama waktu ini, sfingter di leher kandung kemih tertutup erat untuk
mencegah semen masuk ke kandung kemih dan urine keluar bersama dengan ejakulat melalui uretra.

EKSPULSI Kedua, pengisian uretra oleh semen memicu impuls saraf yang mengaktifkan serangkaian otot
rangka di pangkal penis. Kontraksi ritmik otot-otot ini terjadi pada interval 0,8 detik dan meningkatkan
tekanan di dalam penis, memaksa semen keluar melalui uretra ke eksterior. Ini adalah fase ekspulsi
ejakulasi.

ORGASME Kontraksi ritmik yang terjadi selama ekspulsi semen disertai oleh denyut ritmik involunter
otot-otot panggul dan intensitas puncak respons tubuh keseluruhan yang naik selama fase-fase
sebelumnya. Bernapas dalam, kecepatan jantung hingga 180 kali per menit, kontraksi otot rangka
generalisata yang mencolok, dan peningkatan emosi merupakan cirinya. Respons panggul dan sistemik
yang memuncaki tindakan seks ini berkaitan dengan rasa nikmat intens yang ditandai oleh perasaan
lepas dan puas, suatu pengalaman yang dikenal sebagai orgasme.

RESOLUSI Selama fase resolusi setelah orgasme, impuls konstriktor memperlambat aliran darah ke
dalam penis, menyebabkan ereksi mereda. Kemudian terjadi relaksasi dalam, sering disertai rasa lelah.
Tonus otot kembali ke normal sementara sistem kardiovaskular dan pernapasan kembali ke tingkat
prarangsangan. Setelah terjadi ejakulasi timbul periode refrakter temporer dengan durasi bervariasi
sebelum rangsangan seks dapat memicu kembali ereksi. Karena itu, pria tidak dapat mengalami orgasme
multipel dalam hitungan menit, seperti yang dialami sebagian wanita.

Spermatogenesis menghasilkan sperma motil yang sangat khusus dalam jumlah besar.
Di tubulus ini terdapat dua jenis sel yang secara fungsional penting: sel germinativum, yang
sebagian besar berada dalam berbagai tahap pembentukan sperma, dan sel Sertaii, yang
memberi dukungan krusial bagi spermatogenesis.
Spermatogenesis adalah suatu proses kompleks ketika sel germinativum primordial yang relatif
belum diferensiasi (primitif atau awal), spermatogonia, berproliferasi dan diubah menjadi
spermatozoa yang sangat khusus dan motil (sperma). Spermatogenesis memerlukan waktu 64
hari untuk pembentukan dari spermatogonium menjadi sperma matang. Spermatogenesis
mencakup tiga tahap utama: proliferasi mitotik, meiosis, dan pengemasan

PROLIFERASI MITOTIK Spermatogonia yang terletak di lapisan terluar tubulus terus menerus
bermitosis. Proliferasi ini menghasilkan pasokan sel germinativum baru yang terus menerus.
Pada manusia, sel anak penghasil sperma membelah secara mitotic dua kali lagi untuk
menghasilkan empat spermatosit primer identik.

MEIOSIS Selama meiosis, setiap spermatosit primer (dengan jumlah diploid 46 kromosom
rangkap) membentuk dua spermatosit sekunder (masing-masing dengan jumlah haploid 23
kromosom rangkap) selama pembelahan meiosis pertama, akhirnya menghasilkan empat
spermatid (masingmasing dengan 23 kromosom tunggal) akibat pembelahan meiosis kedua.
Setelah tahap spermatogenesis ini tidak terjadi pembelahan Iebih lanjut. Setiap spermatid
mengalami remodeling menjadi spermatozoa. Rangkaian spermatogenik pada manusia secara
teoretis menghasilkan 16 spermatozoa setiap kali spermatogonium memulai proses ini.

PENGEMASAN Pembentukan spermatozoa yang sangat khusus dan bergerak dari spermatid
memerlukan proses remodeling, atau pengemasan, ekstensif elemen-elemen sel, suatu proses
yang dikenal sebagai spermiogenesis. Sperma pada hakikatnya adalah sel yang "ditelanjangi",
yaitu sebagian besar sitosol dan semua organel yang tidak dibutuhkan untuk menyampaikan
informasi genetik sperma ke ovum telah disingkirkan. Karena itu, sperma dapat bergerak cepat,
hanya membawa serta sedikit beban untuk melaksanakan pembuahan. Spermatozoa memiliki
tiga bagian. Kepala terutama terdiri dari nukleus, yang mengandung informasi genetik sperma.
Akrosom, vesikel terisi enzim yang menutupi ujung kepala, digunakan sebagai "bor enzim"
untuk menembus ovum (Enzim hialuronidase dan proteolitik). Mobilitas spermatozoa
dihasilkan oleh suatu ekor panjang mirip cambuk (flagellum). Energi yang dihasilkan oleh
mitokondria yang terkonsentrasi di bagian tengah sperma
Faktor-Faktor Hormonal yang Merangsang Spermatogenesis
Peran hormon dalam reproduksi akan dibahas kemudian, tetapi pada saat ini, marilah kita
perhatikan bahwa terdapat beberapa hormon yang berperan penting dalam spermatogenesisi.
Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Testosteron, yang disekresi oleh sel-sel Leydig yang terletak di interstisium testis (lihat
Gambar 80-2), penting bagi pertumbuhan dan pembelahan sel-sel germinal testis, yang
merupakan tahap pertama pembentukan sperma.
2. Hormon luteinisasi (luteinizing hormone), yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior,
merangsang sel-sel Leydig untuk menyekresi testosteron.
3. Hormon perangsang-folikel (FSH), yang juga disekresi oleh sel-sel kelenjar hipofisis anterior,
merangsang sel-sel Sertoli; tanpa rangsangan ini, pengubahan spermatid menjadi sperma
(proses spermiogenesis) tidak akan terjadi.
4. Estrogen, dibentuk dari testosteron oleh sel-sel Sertoli ketika sel Sertoli dirangsang oleh
hormon perangsang-folikel, mungkin juga penting untuk spermatogenesis.
5. Growth hormone (dan sebagian besar hormon tubuh lainnya) diperlukan untuk mengatur
latar belakang fungsi metabolisme testis. Hormon pertumbuhan secara spesifik meningkatkan
pembelahan awal spermatogonia; bila tidak terdapat hormon pertumbuhan, seperti pada
dwarfisme hipofisis, spermatogenesis sangat berkurang atau tidak ada sama sekali sehingga
menyebabkan infertilitas

Pematangan Sperma di Epididimis


Setelah terbentuk di tubulus seminiferus, sperma membutuhkan waktu beberapa hari untuk
melewati tubulus epididimis yang panjangnya 6 m. Setelah sperma berada dalam epididimis
selama 18 sampai 24 jam, sperma memiliki kemampuan motilitas, walaupun beberapa protein
penghambat dalam cairan epididimis masih mencegah motilitas akhir sampai setelah ejakulasi.
Penyimpanan Sperma di Testes.
Sebagian besar disimpan di vas deferens. Sperma tersebut dapat tetap disimpan sehingga
fertilitasnya dapat dipertahankan paling tidak selama sebulan. Selama waktu tersebut, sperma-
sperma itu dijaga pada keadaan yang sangat tidak aktif oleh berbagai zat penghambat yang
terdapat dalam sekresi duktus.

Rangsangan Saraf untuk Kinerja Kegiatan Seksual Laki-Laki


Unsur Psikis Rangsangan Seks Laki-Laki.
Rangsangan psikis yang sesuai dapat sangat meningkatkan kemampuan seseorang untuk
melakukan kegiatan seks. Hanya dengan memikirkan pikiran-pikiran seks atau bahkan hanya
dengan berkhayal sedang melakukan hubungan seks, dapat memicu kegiatan seks laki-laki, dan
menyebabkan ejakulasi. Emisi nokturnal saat bermimpi terjadi pada banyak laki-laki selama
beberapa tahap kehidupan seks, terutama pada usia remaja.
Tahap-Tahap Kegiatan Seks Laki-Laki
Ereksi Penis—Peran Saraf Parasimpatis. (GUYTON HAL 998)
Lubrikasi adalah Suatu Fungsi Parasimpatis
Emisi dan Ejakulasi adalah Fungsi Saraf Simpatis
Emisi dan ejakulasi merupakan puncak kegiatan seks laki-laki. Ketika rangsang seks menjadi
amat kuat, pusat refleks medula spinalis mulai melepas impuls simpatis yang meninggalkan
medula spinalis pada segmen T-12 sampai L-2 dan berjalan ke organ genital melalui pleksus
hipogastrik dan pleksus saraf simpatis pelvis untuk mengawali emisi, awal dari ejakulasi.
Emisi dimulai dengan kontraksi vas deferens dan ampula yang menyebabkan keluarnya sperma
ke dalam uretra interna. Kemudian, kontraksi lapisan otot kelenjar prostat yang diikuti dengan
kontraksi vesikula seminalis, akan menyemprotkan cairan prostat dan cairan seminalis ke dalam
uretra juga, mendorong sperma lebih jauh. Semua cairan ini bercampur di uretra interna
dengan mukus yang telah disekresi oleh kelenjar bulbouretra untuk membentuk semen. Proses
yang berlangsung sampai saat ini disebut emisi. Pengisian uretra interna dengan semen
mengeluarkan sinyal sensoris yang dihantarkan melalui nervus pudendus ke regio sakral medula
spinalis, yang menimbulkan rasa penuh yang mendadak di organ genitalia interna. Selain itu,
sinyal sensoris ini makin merangsang kontraksi ritmis organ genitalia interna dan menyebabkan
kontraksi otot-otot iskhiokavernosus dan bulbo kavernosus yang menekan dasar jaringan erektil
penis. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan yang ritmis dan bergelombang di kedua
jaringan erektil penis dan di duktus genital serta uretra, yang "mengejakulasikan" semen dan
uretra ke luar. Proses akhir ini disebut ejakulasi. Sementara itu, kontraksi ritmis otot pelvis dan
bahkan kontraksi beberapa otot penyangga tubuh menyebabkan gerakan mendorong dari
pelvis dan penis, yang juga membantu mendorong semen ke bagian terdalam vagina dan
bahkan mungkin sedikit ke dalam serviks uterus.

Fungsi Testosteron
A. Fungsi Testosteron selama Perkembangan Janin
Testosteron mulai dibentuk oleh testes janin laki-laki sekitar minggu ke tujuh masa embrional.
Bahkan, salah satu perbedaan fungsional utama antara kromosom seks laki-laki dan perempuan
adalah bahwa kromosom laki-laki memiliki gen SRY (sex-determining region Y atau regio
penentu-seks Y)
B. Pengaruh Testosteron yang Menyebabkan Turunnya Testes
Testes biasanya turun ke dalam skrotum selama 2 sampai 3 bulan terakhir masa kehamilan,
ketika testes menyekresi sejumlah testosteron yang cukup
C. Pengaruh Testosteron pada Perkembangan Sifat Kelamin Primer dan Sekunder Orang
Dewasa
D. Pengaruh pada Distribusi Rambut Tubuh.
(1) di atas pubis,
(2) ke atas di sepanjang linea alba kadang-kadang sampai ke umbilikus dan di atasnya,
(3) pada wajah,
(4) biasanya pada dada
(5) kurang sering pada bagian tubuh yang lain, seperti punggung
E. Kebotakan.
F. Pengaruh pada Suara
Testosteron yang disekresi oleh testes atau disuntikkan ke dalam tubuh akan menyebabkan
hipertrofi mukosa laring dan pembesaran laring. Pengaruhnya mula-mula berupa suara agak
sumbang, "serak", namun secara bertahap berubah menjadi suara maskulin dewasa yang khas.
G. Testosteron Meningkatkan Ketebalan Kulit, dan Dapat Memicu Pertumbuhan
Jerawat
Testosteron juga meningkatkan kecepatan sekresi beberapa atau mungkin semua kelenjar
sebasea tubuh. Hal yang paling penting adalah kelebihan sekresi oleh kelenjar sebasea wajah,
karena hal tersebut dapat menyebabkan jerawat
H. Testosteron Meningkatkan Pembentukan Protein dan Perkembangan Otot.
I. Testosteron Meningkatkan Matriks Tulang dan Menimbulkan Retensi Kalsium.
Testosteron memberikan pengaruh khusus pada panggul yang menyebabkan (1) penyempitan
pintu atas panggul, (2) memanjangkan panggul, (3) menyebabkan panggul berbentuk
terowongan dan bukan berbentuk ovoid yang lebar seperti panggul perempuan, dan (4) sangat
meningkatkan kekuatan seluruh panggul sebagai penahan beban.
J. Testosteron Meningkatkan Laju Metabolisme Basal.
K. Testosteron Meningkatkan Jumlah Sel Darah Merah.
L. Pengaruh pada Elektrolit dan Keseimbangan Cairan.

Pubertas dan Pengaturan Awalnya


Awal mula timbulnya pubertas telah menjadi misteri sejak lama. Akan tetapi, kini sudah
ditetapkan bahwa selama masa kanak-kanak hipotalamus tidak menyekresi GnRH dalam
jumlah yang bermakna. Salah satu alasannya adalah bahwa selama masa kanak-kanak, sekresi
hormon steroid seks yang terkecil sudah menimbulkan efek penghambat yang kuat terhadap
sekresi GnRH oleh hipotalamus. Namun, oleh sebab yang tidak diketahui, pada saat pubertas,
sekresi GnRH hipotalamus mampu melawan inhibisi masa kanak-kanak, dan masa seks dewasa
pun dimulai.
ANATOMI