Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

HAKIKAT PEMBELAJARAN KELAS RANGKAP

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH


PEMBELAJARAN KELAS RANGKAP

DOSEN PENGAMPU
Drs. MAHMUDDIN, M.Pd.

Disusun Oleh:

Kelompok 1
Achmad Rifa’i A1E314246
Siti Lisa Nurjannah A1E314265
Gusti Rizki Amalia A1E314266
Eka Sri Susilowati A1E314296
Dita Yuniarti AIE314363

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN GURU PRA-SEKOLAH DAN SEKOLAH DASAR
BANJARBARU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata
kuliah Pembelajaran Kelas Rangkap yang berjudul “Hakikat Pembelajaran
Kelas Rangkap”. Shalawat serta salam tak lupa pula kami panjatkan kepada
junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, sahabat, kerabat serta pengikut
beliau hingga akhir zaman.
Terima kasih kepada pihak yang banyak membantu dalam menyelesaikan
makalah ini baik bantuan moril maupun bantuan materil, adapun ucapan terima
kasih ini kami tujukan kepada:
1. Bapak Drs. Mahmuddin, M.Pd. selaku dosen mata kuliah Pembelajaran Kelas
Rangkap.
2. Teman-teman sekalian yang telah banyak membantu dalam penyelesaian
makalah ini.
Kami mohon maaf apabila ada kekurangan dalam penulisan laporan ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Kami berharap kritik dan
saran pembaca yang bersifat membangun pada makalah-makalah selanjutnya.

Banjarbaru, 24 September 2017


Penyusun,

Kelompok 1

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii


DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I ...................................................................................................................... 4
A. Latar Belakang ............................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 4
C. Tujuan Penulisan .......................................................................................... 5
BAB II ..................................................................................................................... 6
A. Pengertian Pembelajaran Kelas Rangkap..................................................... 6
B. Perlunya Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) ............................................ 6
C. Karakteristik PKR ........................................................................................ 8
D. Tujuan, Fungsi Dan Manfaat PKR ............................................................. 10
E. Prinsip-Prinsip Yang Mendasari PKR ....................................................... 12
BAB III ................................................................................................................. 15
A. Kesimpulan ................................................................................................ 15
B. Saran ........................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 16

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia yang mempunyai wilayah yang luas dan terdiri dari ribuan
pulau, tak dapat dihindari adanya permasalahan penyebaran dan permasalahan
perbedaan. Begitu juga dalam sistem pendidikan kita sistem pendidikan kita.
Misalnya dalam penyebaran Guru SD, sistem pendidikan kita belum mampu
menyebarkan guru SD secara merata ke segala penjuru wilayah di tanah air.
Akibatnya masih terjadi kekurangan guru SD secara lokal dimana-mana, termasuk
di Papua masih mengalami masalah kekurangan guru SD sekitar 4000 orang.
Dalam masalah perbedaan kualitas hasil belajar, pada umumnya murid SD
di kota-kota besar jauh lebih baik dibandingkan mereka yang berada di daerah,
terutama di daerah yang terpencil. Akibat kekurangan guru mungkin saja akan
menambah adanya perbedaan ini.
Namun demikian, mengajar dengan merangkap kelas bukan berarti
merupakan penyebab terjadinya kurang baiknya kualitas hasil belajar. Mungkin
hal ini dikarenakan kita belum menemukan teknik yang tepat untuk melakukan
pembelajaran kelas rangkap (PKR). Makalah ini akan membahas mengenai
hakikat PKR, oleh karena itu, kita tidak lagi mempunyai anggapan bahwa PKR
merupakan suatu masalah yang sulit diatasi. Namun, justru sebaliknya kita
mendapatkan pemahaman bahwa PKR adalah suatu tantangan dan kenyataan
tersebut harus dihadapi sebagai tugas guru SD.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, adapun
yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran kelas rangkap (PKR) ?
2. Apa yang menyebabkan perlunya pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap
(PKR) ?
3. Apa saja karakteristik dari pembelajaran kelas rangkap (PKR) ?
4. Apa tujuan, fungsi dan manfaat dari pembelajaran kelas rangkap (PKR)?

4
5

5. Apa saja prinsip-prinsip yang mendasari pembelajaran kelas rangkap ?


C. Tujuan Penulisan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian dari pembelajaran kelas rangkap (PKR).
2. Mengetahui penyebab perlunya pelaksanaan pembelajaran kelas rangkap.
3. Mengetahui karakteristik dari pembelajaran kelas rangkap (PKR).
4. Mengetahui tujuan, fungsi dan manfaat dari pembelajaran kelas rangkap.
5. Mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari pembelajaran kelas rangkap.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran Kelas Rangkap


Pembelajaran kelas rangkap di SD sudah banyak dilaksanakan di Indonesia,
di negara-negara yang sedang berkembang seperti Cina, Meksiko dan Kolombia
juga mempraktikkan Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR), bahkan di Negara maju
sekalipun PKR juga dikenal. “Di Nothem Territority of Australia, 40% dari
sekolah yang ada di kawasan ini menerapkan PKR” (A. Djalil: 2005, 1.4). Di
Belanda, dan di Negara adikuasapun masih dijumpai praktik pembelajaran kelas
rangkap.
Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR) adalah suatu betuk pembeajaran yang
mempersyaratkan seorang guru mengajar dalam satu ruang kelas atau lebih, dalam
waktu yang sama, dan menghadapi dua atau lebih tingkat kelas yang berbeda.
PKR juga mengandung arti bahwa, seorang guru mengajar dalam satu ruang kelas
atau lebih dan menghadapi murid-murid dengan kemampuan belajar yang
berbeda.
B. Perlunya Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR)
Beberapa alasan penting yang menyebabkan perlunya pembelajaran kelas
rangkap dilaksanakan, yaitu:
1. Alasan Geografis
Lokasi pembelajaran yang sulit dijangkau, terbatasnya sarana transportasi,
dan pemukiman penduduk yang jaraknya berjauhan, serta adanya ragam mata
pencaharian penduduk misalnya berladang, mencari ikan bahkan menebang kayu
atau mencari sesuatu dihutan, maka hal ini dapat mendorong penggunaan PKR.
2. Alasan Demografis
Mengajar murid dengan jumlah yang kecil, atau murid yang tinggal di
pemukiman yang jarang penduduknya, maka PKR merupakan pendekatan yang
tepat dan praktis. Bagaimana dengan daerah perkotaan, apakah alasan demografis
juga berlaku? Pada saat SD Inpres dibangun, dan apa yang terjadi beberapa tahun
kemudian? Ada beberapa SD di perkotaan mengalami kekurangan murid. Dengan

6
7

demikian setiap tingkatan kelas hanya beberapa saja muridnya. Agar tidak ada
pemborosan dalam tenaga guru, maka PKR merupakan cara pembelajaran yang
dapat dibilang praktis dan ekonomis.
3. Kekurangan Guru
Meskipun jumlah guru secara keseluruhan bisa dikatakan cukup, namun
pada kenyataannya masih ada keluhan kekurangan guru, terutama di daerah-
daerah terpencil. Apalagi bila secara geografis daerah tersebut sulit dijangkau,
maka akan membuat guru takut ditugaskan didaerah itu. Rendahnya minat guru
untuk mengadu nasib didaerah terpencil, juga di sebabkan beberapa faktor.
Misalnya mahalnya harga keperluan sehari-hari, sulitnya alat transportasi, gaji
yang lambat, bahkan terbatas peluang untuk mendapatkan pengembangan
karirnya. Oleh karena itu untuk menjadi guru di daerah seperti itu perlu adanya
keikhlasan dan penuh sukacita, dan kesiapan mental dari guru tersebut.
4. Keterbatasan Ruang Kelas
Di daerah yang muridnya sangat sedikit, tidak memerlukan ruang kelas
lebih banyak. Tetapi, di daerah lain meskipun sudah mempunyai ruang kelas
sesuai dengan jumlah tingkatan kelas, masih belum cukup karena jumlah
rombongan belajar lebih besar.
Nah untuk mengatasi masalah tersebut, maka perlu menggabungkan dua
atau lebih kelas yang diasuh atau dibimbing oleh seorang guru. Dengan demikian
PKR diperlukan.
5. Kehadiran Guru
Ketidakhadiran guru, bukan saja di alami oleh sekolah di daerah terpencil,
di kota besar pun juga mengalaminya. Seperti di Jakarta, musibah banjir dapat
menghambat kehadiran guru untuk melaksanakan tugasnya. Guru yang tidak kena
musibah harus mengajar kelas yang tidak ada gurunya. Belum lagi alasan lain
misalnya sakit, cuti, atau ada kegiatan berkaitan meningkatkan professional dan
kualifikasi guru.
8

C. Karakteristik PKR
Karakteristik adalah ciri-ciri objektif dari PKR yang secara keseluruhan
melukiskan suatu keunikan. Ciri-ciri tersebut dapat dilihat dari unsur guru, siswa,
mata pelajaran, interaksi edukatif, dan lingkungan belajar.
1. Unsur Guru
Dalam PKR seorang guru lebih banyak dituntut secara mandiri mengelola
keseluruhan kegiatan pembelajaran. Guru bertanggung jawab mengelola kelas
secara mandiri karena memang disekolah itu tidak ada guru lain seperti dalam
“SD guru tunggal” atau “one-teacher school” atau “SD Kecil”. Keadaan itu bisa
juga terjadi di SD biasa yang jumlah gurunya lebih kecil daripada jumlah
rombongan belajar.
2. Unsur Siswa
PKR diterapkan dalam menangani secara edukatif aneka ragam kemampuan
siswa dalam satu rombongan belajar atau siswa dari dua rombongan belajar atau
lebih. Misalkan pada kelas III dan kelas IV, aneka ragam kemampuan siswa
dalam satu rombongan belajar mungkin terjadi karena adanya perbedaan usia.
3. Mata Pelajaran
PKR digunakan dalam menangani satu mata pelajaran dengan beberapa
topik yang berbeda, misalnya dalam pelajaran IPS dengan topik lingkungan
provinsi di Jawa dan di luar Jawa. Selain itu PKR juga digunakan dalam
menangani dua mata pelajaran atau lebih yang secara teoritik berdekatan,
misalnya IPS dengan PPKN, atau Matematika dengan IPA. Atau mungkin pula
karena konsep dari dua mata pelajaran itu saling berkaitan.
Penerapan PKR dalam satu mata pelajaran dengan tuntutan kemampuan
atau topik yang berbeda dikenal dengan “multi levels teaching” atau
“pembelajaran neka aras” (neka = beragam, aras = tingkat)
4. Interaksi Edukatif
Yang dimaksud dengan interaksi edukatif adalah hubungan timbal balik
antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa lainnya dalam konteks atau suasana
pencapaian tujuan pembelajaran baik sebagai “dampak langsung proses
pembelajaran” atau “instructional effect”, maupun sebagai “dampak pengiring”
9

pembelajaran atau “nurturant effects” (Joyce dan Weil: 2986). Takaran


keberhasilan interaksi edukatif adalah perubahan perilaku (behavioral changes).
Contohnya perubahan tau dari tidak tahu, mampu melakukan sesuatu dari
sebelumnya tidak mampu. Perubahan perilaku bisa terjadi bila ada kesengajaan
dari guru artinya guru mau dan mampu mempengaruhi siswa, dan siswa memiliki
kesiapan (readiness) untuk menerima pengaruh dan berubah kearah yang lebih
positif. Selain itu juga dapat terbentuk berbagai keterampilan sosial seperti
berkomunikasi, berorganisasi, membuat keputusan atau kesepakatan sebagai
dampak dari interaksi tersebut. Dengan demikian siswa akan nampak semakin
matang secara personal dan sosial.
Bentuk upaya guru dalam mempengaruhi siswa dapat berupa menjelaskan,
bertanya, memberi penguatan, melatih, menilai, dan memberikan balikan, melatih
keteranpilan serta menjadikan diri guru sebagai figure teladan.
Di dalam penerapan PKR peran guru lebih banyak sebagi pengarah atau
“director of learning” dan sebgai pemberi kemudahan belajar atau “facilitator of
learning”. Peran tersebut seyogyanya dilakukan dengan menggunakan pola
komunikasi yang bervariasi, misalnya alur guru-siswa-guru, guru-siswa-siswa-
guru, atau mungkin juga siswa-guru-siswa, atau siswa-siswa-guru. Pola
komunikasi seperti itu oleh Schraman (1976) disebut “multiple-step flows of
communication” (alur komunikasi berjenjang jamak). Semua itu dilakukan agar
para siswa dapat mencapai tujuan belajar secara optimal melalui interaksi yang
beraneka ragam.
5. Lingkungan Belajar
Termasuk ke dalam lingkungan belajar ini adalah ruang dan fasilitas belajar
seperti meja, kursi dan papan tulis serta alat bantu belajar; sumber belajar juga
mencakup buku pelajaran yang ada di dalam sekolah. Selain itu lingkungan
belajar juga mencakup lingkungan sekitar (alam, sosial atau masyarakat, budaya
dan spiritual). PKR menuntut pendayagunaan lingkungan belajar secara optimal,
sesuai dengan karakteristik siswa yang dilayani dan tujuan pedagogis guru dalam
upaya mendidik dalam arti luas.
10

PKR dapat diterapkan di dalam satu ruangan tanpa atau dengan penyekat
atau partisi; atau lebih dari satu ruangan yang memiliki pintu penghubung antar
ruangan. Bila dilaksanakan dalam ruangan yang berbeda sebaiknya tidak lebih
dari tiga ruangan. Yang sangat ideal adalah dalam satu ruangan atau dua ruangan
yang memiliki pintu penghubung langsung.
Fasilitas meja, kursi, atau bangku yang paling ideal adalah yang mudah
diatur/ditata sesuai keperluan. Papan tulis sebaiknya tersedia lebih dari satu buah
dalam satu ruangan dan ditempatkan pada setiap sisi (depan, samping, belakang)
dalam ruangan itu. Atau bisa juga hanya tersedia satu papan tulis yang cukup
lebar (berlipat dua atau tiga) yang ditempatkan di sisi depan dalam ruangan itu.
Guna menopang pencapaian tujuan belajar secara optimal, PKR
memerlukan dukungan sumber belajar yang memadai baik dari segi jenis maupun
jumlahnya. Malahan akan sangat baik bila dalam ruangan itu tersedia sudut
perpustakaan mini dan alat bantu belajar tepat guna. Selain itu sumber belajar
yang tersedia di lingkungan sekitar termasuk lingkungan alam, kehidupan
masyarakat, kebudayaan, dan keragaman perlu dimanfaatkan secara optimal.
Kesemua unsur tersebut di atas menuntut pengelolaan secara menyeluruh
sesuai dengan kerangka PKR.
D. Tujuan, Fungsi Dan Manfaat PKR
Deklarasi education of all, atau pendidikan untuk semua orang telah
dicetuskan oleh para ahli pendidikan, tokoh masyarakat, politisi dan pemerintah
tahun 1990. Pada saat itu pemerintah telah mencanangkan wajib belajar Sembilan
tahun. Setiap anak Indonesia, meskipun berada di daerah yang sulit, kecil dan
terpencil harus menyelesaikan pendidikan di SD dan kemudian melanjutkan ke
SMP. Tetapi bagaimana dengan guru dan bangunan ruang belajar? Apakah
pemerintah melengkapi semuanya itu terlebih dahulu, baru kemudian
mencanangkan wajib belajar Sembilan tahun? Rupanya PKR dapat menjawab
keterbatasan yang kita hadapi. PKR juga dapat dilaksanakan oleh guru yang
memahaminya.
Dengan demikian, tujuan, fungsi, dan manfaat PKR dapat kita kaji dari
aspek berikut:
11

1. Kuantiti dan Ekutiti


Dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, PKR memungkinkan kita
untuk memenuhi asas kuantiti (jumlah) dan ekutiti (pemerataan). Dengan jumlah
guru yang kita miliki saat ini, kita dapat memberikan pelayanan pendidikan dan
pengajaran yang lebih luas dan mencakup jumlah murid yang lebih besar
jumlahnya, disamping itu kita mampu memberikan layanan yang lebih merata.
2. Ekonomis
PKR memungkinkan pemerintah dan masyarakat dapat mengurangi biaya
pendidikan. Betapa tidak, dengan seorang guru atau beberapa guru saja proses
pembelajaran dapat berlangsung. Demikian juga dengan satu ruang atau beberapa
ruang kelas, proses pembelajaran tetap dapat berlangsung. Jadi secara ekonomis
biaya pendidikan yang ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat akan lebih
kecil. Oleh karena itu, dengan jumlah dana pendidikan yang sama, perluasan
pelayanan pendidikan dapat diberikan hingga ke daerah yang sulit, kecil, dan
terpencil sekalipun.
3. Pedagogis
Sudah seringkali bahwa pendidikan kita dikritik sebagai sistem yang belum
mampu menghasilkan lulusan atau tenaga kerja yang mandiri. Lulusan kita dinilai
kurang kreatif, bahkan cenderung pasif dan mudah menyerah. Pengalaman
sejumlah Negara yang mempraktikkan PKR menunjukkan bahwa strategi ini
mampu meningkatkan kemandirian murid. Guru akan berusaha agar murid aktif
dan mandiri.
4. Keamanan
Dengan pendekatan PKR, pemerintah dapat mendirikan SD di lokasi yang
mudah dijangkau oleh anak. Dengan demikian, kekhawatiran orangtua terhadap
keselamatan anaknya berkurang. Mengunjungi SD yang jauh dapat menyebabkan
anak terlambat masuk sekolah, meningkatnya pengulangan kelas atau putus
sekolah. Bahkan mungkin saja terjadi kecelakaan pada saat murid pergi atau
pulang sekolah.
Sedangkan seperti yang diidentifikasikan UNESCO (1988) PKR memiliki
sejumlah manfaat atau keuntungan antara lain:
12

1. Guru yang sama mengajar siswa yang sama setiap tahun. Karena itu ia akan
memahami siswa sebagai individu lebih baik dan memberikan perlakuan
yang tepat.
2. Siswa kelas yang lebih tinggi dapat membantu adik kelasnya yang pada
gilirannya akan memperkuat dirinya dalam belajar.
3. Penilaian guru terhadap siswa akan lebih cermat dan utuh dan tidak hanya
berdasarkan ujian singkat.
4. Terbuka peluang yang lebih leluasa untuk pembinaan saling pengertian dan
kerja sama antar siswa dari berbagai usia/kelas.
5. Setiap siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan belajarnya.
6. Lebih efisien daripada sistem pembelajaran mata pelajaran atau guru kelas.
7. Dapat mengatasi kekurangan guru atau ketidakhadiran guru tanpa
mengurangi intensitas pembelajaran.
E. Prinsip-Prinsip Yang Mendasari PKR
Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR), merupakan salah satu bentuk
pembelajaran yang perlu dikuasai oleh para guru SD. Sebagai salah satu bentuk
pembelajaran, PKR mengikuti prinsip-prinsip pembelajaran secara umum,
sebagaimana halnya bentuk-bentuk pembelajaran yang lain.
Pembelajaran mengandung makna yang berbeda dari kegiatan belajar
mengajar. Pada kegiatan belajar mengajar, mengandung makna ada guru yang
memungkinkan terjadinya belajar. Sedangkan pada pembelajaran, kegiatan belajar
dapat terjadi dengan atau tanpa guru. Artinya, murid dapat belajar dalam berbagai
situasi tanpa tergantung pada guru. Misalnya, murid dapat belajar dari buku,
berdiskusi dengan teman, atau mengamati sesuatu. Cobalah anda cari lagi contoh
peristiwa lain yang memungkinkan murid dapat belajar tanpa kehadiran guru.
Tetapi ingat bahwa pada pembelajaran guru juga dapat berperan sangat penting,
misalnya pada awal kegiatan ketika kegiatan sedang berlangsung, atau pada akhir
kegiatan.
Sebagai salah satu bentuk pembelajaran, PKR mengikuti prinsip-prinsip
pembalajaran secara umum. Misalnya prinsip perbedaan kemampuan individual
murid yang harus diperhatikan guru, membangkitkan motivasi belajar murid,
13

belajar hanya terjadi jika murid aktif, sehingga guru harus berusaha mengaktikan
murid. Di samping prinsip prinsip pembelajaran secara umum, PKR mempunyai
prinsip khusus sebagai berikut.
1. Keserampakan kegiatan belajar mengajar
Dalam PKR, guru menghadapi dua kelas atau lebih pada waktu yang sama.
Oleh karena itu, prinsip utama PKR adalah kegiatan belajar mengajar terjadi
secara bersamaan atau serempak. Kegiatan terjadi secara serempak ini harus tentu
bermutu dan bermakna, artinya, kegiatan tersebut mempunyai tujuan yang sesuai
dengan tuntunan kurikulum atau kebutuhan murid dan dikelola dengan benar.
Dengan demikian, jika ada kegiatan yang di kerjakan murid hanya untuk mengisi
kekosongan saja, maka bukan PKR yang diharapkan.
2. Kadar Waktu Keaktifan Akademik (WKA) tinggi
Selama PKR berlangsung, murid aktif menghayati pengalaman belajar yng
bermakna. PKR tidak memberi toleransi pada banyaknya WKA yang hilang
karena guru tidak terampil mengelola kelas. Misalnya, waktu tunggu yang lama,
pembentukan kelompok yang lamban, atau pindah kelas yang memakan waktu.
Makin banyak waktu yang terbuang, maka makin rendah kadar WKA. Namun
perlu diingat, bahwa WKA tinggi tidak selalu berkadar tinggi. Kualitas
pengalaman belajar yang dihayati murid sangat menentukan WKA. Kualitas dan
lamanya kegiatan berlangsung menentukan tinggi rendahnya kadar WKA.
3. Kontak Psikologis guru dan murid yang berkelanjutan
Dalam PKR, guru harus selalu berusaha dengan berbagai cara agar semua
murid merasa mendapat perhatian dari guru secara terus menerus. Agar mampu
melakukan hal ini, guru harus mengusai berbagai teknik. Menghadapi dua kelas
atau lebih pada saat yang bersamaan dan kemudian mampu menyakinkan murid
bahwa guru selalu berada bersama mereka, bukan pekerjaan yang mudah. Guru
harus mampu melakukan tindakan instruksional dan tindakan mengelolaan yang
tepat. Tindakan instriksional adalah tindakan yang langsung berkaitan dengan
penyampaian isi kurikulum, seperti menjelaskan, memberi tugas, atau mengajukan
pertanyaan. Tindakan pengelolaan adalah tindakan yang berkaitan dengan
penciptaan dan pengembalian kondisi kelas yang optimal. Misalnya, menunjukan
14

sikap tanggap dan peka, mengatur tempat duduk, memberi pentunjuk yang jelas
atau menegur murid.
4. Pemanfaat sumber secara effisien
Sumber dapat berupa peralatan atau sarana, orang dan waktu. Agar terjadi
WKA yang tinggi, semua jenis sumber harus dimanfaatkan secara effisien.
Lingkungan, barang bekas, dan segala perlatan yang ada disekolahan dapat
dimanfaatkan oleh guru PKR. Demikian dengan orang dan waktu murid yang
pandai dapat dimanfaatkan sebagai tutor. Waktu haru dikelola dengan cermat
sehingga mengahasilkan WKA yang berkadar tinggi.
Di samping ke empat prinsip yang telah disebutkan, masih ada satu prinsip
lagi yang perlu dikuasi guru PKR, yaitu membiasakan murid untuk mandiri.
Apabila guru mampu menerapkan keempat prinsip diatas, maka murid akan
terbiasa mandiri. Kemampuan murid untuk belajar mandiri akan memungkinkan
guru PKR mengelola pembelajaran secara lebih baik sehingga kadar WKA
menjadi semakin tinggi.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perangkapan kelas masih banyak dijumpai di Indonesia, khususnya akibat
kekurangan guru. Namun demikian, perangkapan kelas bukan saja dialami oleh
Negara yang sedang berkembang saja. Di Negara majupun, seperti di Amerika
Serikat, Australia, Inggris dsb. Jadi pembelajaran kelas rangkap (PKR), dianggap
suatu hal yang wajar saja. Ada sejumlah alasan, selain kekurangan guru, mengapa
PKR terjadi antara lain karena faktor geografis, demografis, dan terbatasnya ruang
kelas.
Disamping itu, ada sejumlah alasan lain, yaitu alasan yang lebih
memusatkan pada keuntungan dari pada kerugiannya. Antara lain, jika dilihat dari
aspek pedagogis, PKR lebih mendorong kemandirian murid. Dari aspek
ekonomis, PKR lebih efisien. Dengan PKR pemerintah dapat mendirikan sekolah-
sekolah kecil dimana-mana, sehingga setiap anak Indonesia berkesempatan untuk
lulus dari SD.
Sebagai salah satu bentuk pembelajaran, PKR mengikuti prinsip-prinsip
pembelajaran secara umum. Namun secara khusus PKR mempunyai prinsip-
prinsip yang harus dikuasai oleh guru PKR. Prinsip itu adalah: 1) Keserempakan
kegiatan belajar-mengajar, 2) Kadar tinggi waktu keaktifan akademik (WKA), 3)
Kontak psikologi guru dan murid yang berkelanjutan, 4) Pemanfaatan sumber
secara efisien, dan 5) Kebiasaan untuk mandiri.
B. Saran
Setelah kita membahas pembelajaran kelas rangkap, kita sebagai calon guru
diharapkan memahami konsep dan dapat melaksanakan pembelajaran kelas
rangkap sesuai dengan kondisi tertentu yang menuntut guru melaksanakan
pembelajaran kelas rangkap. Dengan diadakannya pembelajaran kelas rangkap
proses pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dengan kekurangan yang ada.

15
DAFTAR PUSTAKA

Susilowati, dkk. 2009. Bahan Ajar Cetak Pembelajaran Kelas Rangkap 2 Sks.
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Winaputra, Udin S. 1998. Pendekatan Pembelajaran Kelas Rangkap. Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Winaputra, Udin S. 1997. Materi Pokok Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta:
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan.

16