Anda di halaman 1dari 12

DAFTAR ISI

I. TUJUAN PRAKTIKUM .......................................................................................... 2


II. TEORI DASAR ..................................................................................................... 2
A. LANDASAN TEORI .............................................................................................. 2
B. URAIAN BAHAN .................................................................................................. 2
III. ALAT DAN BAHAN ............................................................................................ 7
IV. METODE ............................................................................................................... 7
A. STERILISASI ALAT. ............................................................................................ 7
B. FORMULA LENGKAP ......................................................................................... 8
C. PERHITUNGAN TONISITAS............................................................................... 8
D. PERHITUNGAN BAHAN. .................................................................................... 9
E. PENIMBANGAN BAHAN .................................................................................... 9
F. PROSEDUR PEMBUATAN. ................................................................................. 9
V. PEMBAHASAN ...................................................................................................... 10
VI. DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 11
VII. LAMPIRAN – LAMPIRAN............................................................................... 12

1
I. TUJUAN PRAKTIKUM
Untuk mengetahui cara pembuatan injeksi Asc.Ac-Inj dan metode
sterilisasi yang sesuai.

II. TEORI DASAR


A. LANDASAN TEORI
Sediaan parenteral adalah sediaan obat steril, dapat berupa
larutan atau suspensi yang dikemas sedemikian rupa sehingga cocok
untuk diberikan dalam bentuk injeksi hypodermis dengan pembawa
atau zat pensuspensi yang cocok. Injeksi adalah sediaan steril berupa
larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau
disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan
dengan cara merobek jaringan kedalam kulit atau melalui kulit atau
selaput lendir. (Ansel,1989)

B. URAIAN BAHAN
1. BAHAN BERKHASIAT
a. Asam askorbat / Vitamin C
Pemerian : Hablur atau serbuk putih atau agak
kuning oleh pengaruh cahaya, lambat
laun warna menjadi gelap. Dalam
keadaan kering stabil di udara, dalam
larutan cepat teroksidasi
(FI ed. IV, hal 39)

Kelarutan : mudah larut dalam air, agak sukar


larut dalam ethanol, tidak larut dalam
kloroform, eter, dan benzene (FI ed.
IV, hal 39)

2
Titik lebur : ± 190 °C (FI ed. IV, hal 39)

b. Dosis
Dosis lazim :-
Dosis maksimum :-
Perhitungan dosis :-
c. Daftar obat
Daftar obat keras : Sediaan injeksi (UUF, Hal 550)
d. Sediaan obat
Pemerian : Larutan bening
Stabilitas :
OTT : terhadap garam-garam besi, bahan
pengoksidasi, dan garam dari logam
berat terutama tembaga (Reynolds,
hal.1653)
pH :6
Ditambahkan NaOH / HCl sebagai
penstabil pH
Pengawet :-
Antioksidan : Natrium Metabisulfit 0,5 %
Stabilisator :-
2. ZAT TAMBAHAN
Nama Zat Tambahan : Disodium EdtatauNa-EDTA
Pemerian : Cairan jerni, tidak berwarna atau
kuning, bau mirip aromaniak.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam kloroform
dan eter, sedikit larut dalam etanol
( 95%) larut dalam 11 bagian air.
OTT : Agen Oksidasi kuat, basa kuat, dan
ion logan polivalen seperti
tembaga, nikeldan, tembagaalloy.
Asam edetat dan disodiumedetat
dihidrat kehilangan air dari kristal
saat dipanasi pada temperature 120

3
o
C. larutan encer asam adetat atau
garam edetat dapat disterilisasi
dengan autoclave, dan dapat
disimpan pada wadah bebas basa.
Penyimpanan : Dapat disimpan pada wadah
tertutup rapat. Pada yang sejuk dan
juga kering.
Penggunaan : chelating agent 0,005-0,1%

Nama zat : Natrium Metabisulfit


Pemerian : Tidak berwarna, berbentuk kristal
prisma atau serbuk kristal berwarna
putih hingga putih kecoklatan yang
berbau sulfur dioksidasi dan asam,
serta berasa asin. (Handbook Of
pharmaceutical Expient Ed.6,
Hal.654)
Kelarutan : mudah larut dalam air (1: 1,9 pada
suhu 20 oC dan 1 : 1,2 pada suhu
100 oC) dan dalam gliserin. Sukar
larut dalam ethanol (Handbook of
pharmaceutical Expient Ed.6,
Hal.654)
pH : 3,5 – 5,0 (5% w/v dalam larutan 20
o
C (Handbook of pharmaceutical
Expient Ed.6, Hal.654)
Titik leleh : 801 oC ( 1738 K)
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : sumber ion klorid dan ion natrium
(FI III, Hal 403-403)
OTT : Larutan Natrium besifat korosif
dengan besi membentuk endapan

4
bila bereaksi dengan perak garam
merkuri agen oksidasi kuat asam
sodium klorid, kelarutan pengawet
nipagin menurun dalam larutan
sodium klorida.
Stabilitas : Larutan sodium klorida stabil
tetapi dapat menyebebkan
perpecahan partikel kaca dari tipe
tertentu wadah kaca. Larutan cair
ini dapat disterilkan dengan cara
autoklaf filtrasi.
Nama Zat Tambahan : Natrii Chloridum
Rumus Molekul : NaCl
Pemerian : Hablur heksa Hendral tidak
berwarna atau serbuk hablur putih,
tidak berwarna, rasa asin.
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam
2,7 bagian air mendidih dan salam
lebih kurang 10 bagian gliserol,
sukar larut dalam etanol (95%)
Titik Leleh : 801 oC
Titik didih : 1465 oC (1738 K)
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.
Khasiat : sumber ion chlorid dan ion
natrium. (FI III, Hal.403-404)
OTT : Kelarutan natrium bersifat korosif
dengan besi membentuk endapan
bila bereaksi dengan perak garam
merkuri agen oksidasi kuat asam
sodium klorid, kelarutan pengawet
nipagin menurun dalam larutan
chloride.

5
Stabilitas : Larutan sodium klorida stabil
tetapi dapat menyebabkan
perpecahan partikel kaca dari tipe
tertentu wadah kac. Larutan cair ini
dapat disterilkan dengan autoklaf
filtrasi.
Nama zat Tambahan : asam chloride (HCl) 0,1N
Fungsi : penambahan suasana asam
Pemerian : cairan tidak berwarna, tidak berbau
OTT : bereaksi asam kuat terhadap
larutan lakmus.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat (FI III,
Hal.53-54)
 Dosis
Dosis Lazim : oral atau I.V 100-300 mg sehari
selama 1 bulan atau sampai
penyembuhan penuh.
 Daftar obat

Obat Keras : sediaan injeksi (UUF, Hal.550)

 Sediaan Obat
Pemerian : Larutan bening
Stabilitas : asam askorba secara bertahap
menjadi gelap lewat paparan
terhadap cahaya, namun sedikit
perubahan warna tidak
berpengaruh pada efek terapinya.
Asam askorbat teroksidasi dengan
cepat pada udara atau suasana
basa.
OTT : Terhadap garam-garam besi, bahan
pengoksidasidan garam dan garam

6
dari logam berat terutama tembaga
(Reynolds, Hal.1653)
Ph :6
Pengawet : -
Antioksidan : Natrium Metabisukfit 0,5%
Stabilisator : -

III. ALAT DAN BAHAN


Dalam percobaan ini alat dan bahan yang digunakan adalah injeksi vial
ukuran 5 ml untuk kemasan obat, beaker glass untuk mencampurkan dan
melarutkan zat, corong dan kertas saring untuk penyaringan larutan, kaca arloji
untuk menimbang zat, batang pengaduk untuk mengaduk zat, Bunsen / spirtus
untuk pembakaran dan untuk proses aseptic saat bahan di campurkan, dan
autoklaf untuk proses sterilisasi.

Sedangkan bahan yang digunakan adalah asam askorbat sebagai zat


aktifnya, sebagai bahan dapar isotonisnya adalah Natrium metabisulfit, Natrii
Chloridum, NaOH 0,1N/HCL 0,1N.

Pada pembuatan vitamin C, tidak di lakukan sterilisasi pada masing-


masing bahan, karena sifat dari vitamin C mudah teroksidasi dengan adanya
panas, sehingga di lakukan sterilisasi C (Depkes, RI 1974).

IV. METODE
A. STERILISASI ALAT.
ALAT STERILISASI WAKTU
Vial 10 ml Oven 170 ̊C 30’
Beaker glass Oven 170oC 30’
Corong dan kertas saring Autoclave 121oC 15’
Kaca arloji Api langsung 20’
Spatel logam Api langsung 20’

7
Batang pengaduk Api langsung 20’
Tutup Vial(karet) Autoclaf 115-116oC 30’
Mortir & stamper Api langsung 20’
Syringe Autoklaf 121̊C 15’
Cawan penguap Api langsung 20’

B. FORMULA LENGKAP
Asam askorbat 10%

Na EDTA 0,1%

Natrium metabisulfite 0,5%

Natrii Chloridum -

NaOH 0,1N ad pH stabilitas

Aqua pro injection ad 5 ml

C. PERHITUNGAN TONISITAS
1. KELENGKAPAN
Zat ∆tb C
Asam Askorbat 0.139 10
Na. EDTA 0.132 0,1
Na Metabisulfi 0,386 0,5

2. PERHITUNGAN TONISITAS

0,52 − △𝑡𝑏 . 𝐶
W = 0,576

0,52 − (0,139.10) +(0,132.0,1)+(0,386.0,5)


=
0,576

0,52 −( 1,39+0,0132+0,193)
= 0,576

8
0,52 − 15962
=
0,576

−1,0762
= 0,576

= -1,868 %

Karena hasilnya minus, jadi tidak perlu ditambahkan


garam. Karena, hipertonis dan aman dalam darah.

D. PERHITUNGAN BAHAN.
SATUAN DASAR VOLUME PRODUKSI
BAHAN
5 ml 20ml
10 10
Asam askorbat 𝑥 5 𝑚𝑙 = 0,5 𝑔𝑟𝑎𝑚 … 𝑥 20 𝑚𝑙 = 2 𝑔𝑟𝑎𝑚 …
100 100
0,1 0,1
Na. EDTA 𝑥 5 𝑚𝑙 = 0,005 𝑔𝑟𝑎𝑚 … 𝑥 20 𝑚𝑙 = 0,02 𝑔𝑟𝑎𝑚 …
100 100
Natrii 0,5 0,5
𝑥 5 𝑚𝑙 = 0,0025 𝑔𝑟𝑎𝑚 … 𝑥 20 𝑚𝑙 = 0,1 𝑔𝑟𝑎𝑚 …
metabisulfite 100 100

NaCl - -

E. PENIMBANGAN BAHAN
SATUAN DASAR VOLUME PRODUKSI
BAHAN
5 ml 20 ml
Asam askorbat 0,5 𝑔𝑟𝑎𝑚 2 𝑔𝑟𝑎𝑚
Na. EDTA 0,005 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,02 𝑔𝑟𝑎𝑚
Natrii metabisulfite 0,0025 𝑔𝑟𝑎𝑚 0,1 𝑔𝑟𝑎𝑚
NaCl - -

F. PROSEDUR PEMBUATAN.
No PENGOLAHAN
1 Dilarutkan asam askorbat dalam sebagian aqua pro injection.
2 Dilarutkan Na. EDTA dalam sebagian aqua pro injection

9
3 Dilarutkan Natrii metabisulfite dalam sebagian aqua pro injection
4 Dilarutkan NaCl dalam sebagian aqua pro injection.
5 Keempat campuran tersebut dicampur.
6 Ditambah a.p.i ad ± 20 ml, kemudian cek pH awal = 3 dan pH akhir = 6
7 Ditambah NaOH 0,1N sebanyak 20ml
8 Larutkan ditmbahkan a.p.i ad 20ml
9 Larutan disaring dengan membrane filter dan filtrate pertama dibuang
10 Larutan kemudian diisikan kedalam 3 ampul 1,1 ml
11 Ampul di semprot dengan uap air, dialiri gas inert lalu ditutup

V. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini yaitu membuat Injeksi Vitamin C yang
bertujuan Mengetahui cara pembuatan sediaan vial yang isotonis.
Zat berkhasiat yang akan digunakana adalah Asam Askorbat.
Mengetahui cara sterilisasi dengan penyaring bakteri steril, mengetahui
khasiat dan penggunaan injeksi ampul dengan komposisi Asam Askorbat.
Injeksi merupakan sediaan steril berupa larutan emulsi atau suspensi
atau serbuk yang dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum
digunakan, yang disuntikan dengan cara merobek jaringan kedalam kulit
atau melalui kulit atau selaput lendir. Injeksi diracik dengan melarutkan,
mengemulsikan atau mensuspensikan sejumlah obat kedalam wadah dosis
tunggal atau wadah dosis ganda.

Hasil dari uji Sifat Fisik sediaan Injeksi Vitamin C berwarna bening
dan tidak berbau. Dari literatur seharusnya Injeksi Vitamin C memiliki
warna bening dan tidak berbau. Berdasarkan hasil dari Uji Sifat Fisik
sediaan Injeksi Vitamin C yang dibuat disimpulkan memenuhi persyaratan
Uji Sifat Fisik.
Uji pH bertujuan untuk mengetahui pH Injeksi Vitamin C yang
dibuat dengan menggunakan pH meter.Hasildariuji pH Injeksi Vitamin C
memiliki pH 6 Berdasarkan hasil dari uji pH sediaan yang dibuat
disimpulkan memenuhi persyaratan karena memilki pH 6.

10
Pertama menimbang asam askorbat, Na EDTA, dan natrium
metabisulfit. Kemudian, larutkan asam askorbat dalam sebagian
a.p.i dalam beaker glass hingga larut , lalu larutkan juga Na EDTA dalam
sebagian aqua pro injeksi hingga larut, larutkan kembali Na metabisulfit
dalam sebagia aqua pro injeksi dan NaCl dalam sebagian aqua pro injeksi,
kemudian keempat larutan tersebut dicampurkan hingga larut dengan
menambakan a.p.i ad 10 ml, cek pH awal = 2 karena pH minimal 6 maka
tambahkan HCl 0,1N/NaOH 0,1 sebanyak 10 tetes, dan setelah penambahan
tersebut cek pH kembali dan disebut sebagai pH akhir nya yaitu 5 ,setelah
itu larutan ditambah a.p.i ad 10 ml.

Kemuadian selanjutnya larutan disaring dengan menggunakan


bakteri filtrate / membrane filter dan filtrate yang pertama dibuang ,
kemudian larutan disisihkan ke dalam ampul @ 5,3 ml , lalu lakukan
pembakaran pada ampul untuk menutup ampul dan setelah itu lakukan uji
kebocoran pada ampul dengan menggunakan koran atau kertas perkamen,
kemudian dimasukan ke dalam autoklaf selama kurang lebih 15 menit pada
suhu 121 ˚C. Maka dari hasil yang diperoleh tidak terdapat ampul yang
bocor. Jumlah sediaan yang di hasilkan sebanyak 1 ampul.

VI. DAFTAR PUSTAKA


Anonim.1995.Farmakope Indonesia.Edisi keempat.Jakarta:Departemen
Kesehaan RI

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III . DepKes RI. Jakarta
Modul Praktikum Teknologi Sediaan Steril.Yenni Puspita Tanjung,
M.Farm., Apt.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi
keempat. Jakarta : UI-Press.

11
VII. LAMPIRAN – LAMPIRAN

12