Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK DENGAN DEMENSIA

Mata Kuliah : Keperawatan Gerontik

Disusun Oleh :
Kelompok 8
Adinda Safitri Pujahati (1603003)
Aldila Aprillia Tiofani (1603005)
Astrid Wulandari (1603013)
Hendri Dwi Kurniawan (1603033)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat kronis atau
progresif dimana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi, termasuk
memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar,kemampuan, bahasa,
dan penilaian kesadaran tidak terganggu.Gangguan fungsikognitif yang biasanya
disertai, kadang-kadang didahului, oleh kemerosotandalam pengendalian emosi,
perilaku sosial, atau motivasi. Sindrom terjadi pada penyakit Alzheimer, di penyakit
serebrovaskular dan dalam kondisi lain terutama atau sekunder yang mempengaruhi
otak (Durand dan Barlow, 2006).
Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru sajaterjadi, tetapi
bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan, penurunan emosi atau
perubahan kepribadian lainnya. Terjadi perubahan ringandalam pola berbicara,
penderita menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan kata-kata yang
tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-katayang tepat.Ketidakmampuan
mengartikan tanda-tanda bisa menimbulkankesulitan dalam mengemudikan
kendaraan.Pada akhirnya penderita tidak dapatmenjalankan fungsi sosialnya.
Demensia banyak menyerang mereka yang telah memasuki usia lanjut.Bahkan,
penurunan fungsi kognitif ini bisa dialami pada usia kurang dari 50tahun. Sebagian
besar orang mengira bahwa demensia adalah penyakit yanghanya diderita oleh para
Lansia, kenyataannya demensia dapat diderita oleh siapasaja dari semua tingkat usia
dan jenis kelamin (Harvey, R. J. et al. 2003). Untuk mengurangi risiko, otak perlu
dilatih sejak dini disertai penerapan gaya hidupsehat. (Harvey, R. J., Robinson, M. S.
& Rossor, M. N, 2003).
Kondisi ini tentu saja menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan masalah
demensia.Betapa besar beban yang harus ditanggung oleh negara atau keluarga jika
masalah demensia tidak disikapi secara tepat dan serius, sehubungan dengan dampak
yang ditimbulkannya. Mengingat bahwa masalah demensia merupakan masalah masa
depan yang mau tidak mau akan dihadapi orang Indonesia dan memerlukan
pendekatan holistik karena umumnya lanjut usia (lansia) mengalami gangguan
berbagai fungsi organ dan mental, maka masalah demensia memerlukan penanganan
lintas profesi yang melibatkan: Internist, Neurologist, Psikiater, Spesialist Gizi,
Spesialis Rehabilitasi Medis dan Psikolog Klinis.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu menjelaskan asuhan keperawatan pada pasien dengan
demensia.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu menjelaskan:
a. Pengertian demensia
b. Etiologi demensia
c. Klasifikasi demensia
d. Patofisiologi demensia
e. Pemeriksaan Penunjang demensia
f. Penatalaksanaan demensia
g. Komplikasi demensia
h. Konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan demensia.

C. Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi dan wawasan kepada pembaca
mengenai penyakit demensia pada lansia. Bagi kelompok lansia makalah ini dapat
digunakan sebagai masukan untuk memperhatikan gaya hidup mereka yang
merupakan faktor resiko terjadinya demensia
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Dimensia
Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang
secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, pikiran, penilaian dan kemampuan
untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian
(Medicastore.com ). Demensia dapat diartikan sebagai gangguan kognitif dan memori
yang dapat mempengaruhi aktifitas sehari-hari. Penderita demensia seringkali
menunjukkan beberapa gangguan dan perubahan pada tingkah laku harian (behavioral
symptom) yang mengganggu (disruptive) ataupun tidak menganggu (non-disruptive)
(Volicer, L., Hurley, A.C., Mahoney, E. 1998). Grayson (2004) menyebutkan bahwa
demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang
disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan
kepribadian dan tingkah laku (Kusumawati, 2007).

B. Etiologi

Ada berbagai macam penyakit yang menyebabkan demensia. Dalam banyak hal,
mengapa orang menderita penyakit-penyakit ini tidak diketahui. Beberapa bentuk
demensia yang paling umum adalah:
a. Demensia pada Penyakit Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum,
berjumlah kira-kira dua-pertiga dari semua kasus. Penyakit ini menyebabkan
penurunan kemampuan kognitif secara berangsur-angsur, sering bermula dengan
kehilangan daya ingat. Pada penyakit ini terjadi deposit protein abnormal yang
menyebabkan kerusakan sel otak dan penurunan jumlah neuron hippokampus
yang mengatur fungsi daya ingat dan mental. Kadar neurotransmiter juga
ditemukan lebih rendah dari normal.
Gejala yang ditemukan pada penyakit Alzheimer adalah 4A yaitu:
1) Amnesia : Ketidakmampuan untuk belajar dan mengingat kembali informasi
baru yang didapat sebelumnya.
2) Agnosia : Gagal mengenali atau mengidentifikasi objek walaupun fungsi
sensorisnya masih baik.
3) Aphasia : Gangguan berbahasa yaitu gangguan dalam mengerti dan
mengutarakan kata – kata yang akan diucapkan.
4) Apraxia : Ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas motorik walaupun
fungsi motorik masih baik (contohnya mampu memegang gagang pintu tapi
tak tahu apa yang harus dilakukannya).
b. Demensia Vaskuler merupakan penyebab kedua demensia yang terjadi pada
hampir 40% kasus. Demensia ini berhubungan dengan penyakit serebro dan
kardiovaskuler seperti hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, diabetes, dll.
Biasanya terdapat riwayat TIA sebelumnya dengan perubahan kesadaran.
Demensia ini terjadi pada umur 50-60 tahun tetapi lebih sering pada umur 60-70
tahun. Gambaran klinis dapat berupa gangguan fungsi kognitif, gangguan daya
ingat, defisit intelektual, adanya tanda gangguan neurologis fokal, aphasia,
disarthria, disphagia, sakit kepala, pusing, kelemahan, perubahan kepribadian,
tetapi daya tilik diri dan daya nilai masih baik.
c. Penyakit Lewy body (Lewy body disease) ditandai oleh adanya Lewy body di
dalam otak. Lewy body adalah gumpalangumpalan protein alpha-synuclein yang
abnormal yang berkembang di dalam sel-sel syaraf. Abnormalitas ini terdapat di
tempat-tempat tertentu di otak, yang menyebabkan perubahan-perubahan dalam
bergerak, berpikir dan berkelakuan. Orang yang menderita penyakit Lewy body
dapat merasakan sangat naik-turunnya perhatian dan pemikiran. Mereka dapat
berlaku hampir normal dan kemudian menjadi sangat kebingungan dalam waktu
yang pendek saja. Halusinasi visual (melihat hal-hal yang tidak ada) juga
merupakan gejala yang umum.
d. Demensia Frontotemporalmenyangkut kerusakan yang berangsur-angsur pada
bagian depan (frontal) dan/atau temporal dari lobus (cuping) otak. Gejala-
gejalanya sering muncul ketika orang berusia 50-an, 60-an dan kadang-kadang
lebih awal dari itu.

C. Klasifikasi
1. Menurut Kerusakan Struktur Otak
a) Tipe Alzheimer
Alzheimer adalah kondisi dimana sel saraf pada otak mengalami kematian
sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana
mestinya (Grayson, C. 2004). Penderita Alzheimer mengalami gangguan
memori, kemampuan membuat keputusan dan juga penurunan proses berpikir.
Sekitar 50-60% penderita demensia disebabkan karena penyakit Alzheimer.
Demensia ini ditandai dengan gejala :
2) Penurunan fungsi kognitif dengan onset bertahap dan progresif,
3) Daya ingat terganggu, ditemukan adanya : afasia, apraksia, agnosia,
gangguan fungsi eksekutif,
4) Tidak mampu mempelajari / mengingat informasi baru,
5) Perubahan kepribadian (depresi, obsesitive, kecurigaan),
6) Kehilangan inisiatif.

Penyakit Alzheimer dibagi atas 3 stadium berdasarkan beratnya deteorisasi


intelektual :

a. Stadium I (amnesia)
- Berlangsung 2-4 tahun
- Amnesia menonjol
- Perubahan emosi ringan
- Memori jangka panjang baik
- Keluarga biasanya tidak terganggu
b. Stadium II (Bingung)
- Berlangsung 2 – 10 tahun
- Episode psikotik
- Agresif
- Salah mengenali keluarga
c. Stadium III (Akhir)
- Setelah 6 - 12 tahun
- Memori dan intelektual lebih terganggu
- Membisu dan gangguan berjalan
- Inkontinensia urin
b) Demensia Vascular
Demensia tipe vascular disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak dan
setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya
demensia. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat
gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi dapat diduga sebagai
demensia vaskular.
Tanda-tanda neurologis fokal seperti :
1) Peningkatan reflek tendon dalam
2) Kelainan gaya berjalan
3) Kelemahan anggota gerak
2. Menurut Umur:
a. Demensia senilis ( usia >65tahun)
Merupakan demensia yang muncul setelah umur 65 tahun.Biasanya terjadi
akibat perubahan dan degenerasi jaringan otak yang diikuti dengan adanya
gambaran deteriorasi mental.
b. Demensia prasenilis (usia <65tahun)
Merupakan demensia yang dapat terjadi pada golongan umur lebih muda
(onset dini) yaitu umur 40-50 tahun dan dapat disebabkan oleh berbagai
kondisi medis yang dapat mempengaruhi fungsi jaringan otak (penyakit
degeneratif pada sistem saraf pusat, penyebab intra kranial, penyebab
vaskular, gangguan metabolik dan endokrin, gangguan nutrisi, penyebab
trauma, infeksi dan kondisi lain yang berhubungan, penyebab toksik
(keracunan), anoksia).
3. Menurut perjalanan penyakit :
a. Reversibel (mengalami perbaikan)
Merupakan demensia dengan faktor penyebab yang dapat diobati. Yang
termasuk faktor penyebab yang dapat bersifat reversibel adalah
keadaan/penyakit yang muncul dari proses inflamasi (ensefalopati SLE, sifilis),
atau dari proses keracunan (intoksikasi alkohol, bahan kimia lainnya),
gangguan metabolik dan nutrisi (hipo atau hipertiroid, defisiensi vitamin B1,
B12, dll).
b. Ireversibel (Normal pressure hydrocephalus, subdural hematoma, vitamin B,
Defisiensi, Hipotiroidisma, intoxikasi Pb)
Merupakan demensia dengan faktor penyebab yang tidak dapat diobati dan
bersifat kronik progresif.Beberapa penyakit dasar yang dapat menimbulkan
demensia ini adalah penyakit Alzheimer, Parkinson, Huntington, Pick,
Creutzfelt-Jakob, serta vaskular.
4. Menurut sifat klinis:
a. Demensia proprius
b. Pseudo-demensia
D. Patofisiologi
Hal yang menarik dari gejala penderita demensia (usia >65 tahun) adalah
adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas
sehari-hari. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol
pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses
penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri,
mereka sulit untuk mengingat dan sering lupa jika meletakkan suatu barang. Mereka
sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan bahwa itu adalah hal yang
biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang
terdekat yang tinggal bersama mereka, mereka merasa khawatir terhadap penurunan
daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin
lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya
sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua
mereka.
Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada
Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti
ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah
kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja lansia menjadi sangat ketakutan bahkan
sampai berhalusinasi. Disinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke
rumah sakit dimana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan.
Seringkali demensia luput dari pemeriksaan dan tidak terkaji oleh tim kesehatan.
Tidak semua tenaga kesehatan memiliki kemampuan untuk dapat mengkaji ddan
mengenali gejala demensia.
Faktor Psikososial
Derajat keparahan dan perjalanan penyakit demensia dapat dipengaruhi oleh
faktor psikososial. Semakin tinggi intelegensia dan pendidikan pasien sebelum sakit
maka semakin tinggi juga kemampuan untuk mengkompensasi deficit intelektual.
Pasien dengan awitan demensia yang cepat (rapid onset) menggunakan pertahanan
diri yang lebih sedikit daripada pasien yang mengalami awitan yang bertahap.
Kecemasan dan depresi dapat memperkuat dan memperburuk gejala. Pseudodemensia
dapat terjadi pada individu yang mengalami depresi dan mengeluhkan gangguan
memori, akan tetapi pada kenyataannya ia mengalami gangguan depresi. Ketika
depresinya berhasil ditanggulangi, maka defek kognitifnya akan menghilang.

E. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium Rutin
Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan begitu diagnosis klinis demensia
ditegakkan untuk membantu pencarian etiologi demensia khususnya pada
demensia reversible, walaupun 50% penyandang demensia adalah demensia
Alzheimer dengan hasil laboratorium normal, pemeriksaan laboratorium rutin
sebaiknya dilakukan. Pemeriksaan laboratorium yang rutin dikerjakan antara lain:
pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, elektrolit serum, kalsium darah, ureum,
fungsi hati, hormone tiroid, kadar asam folat
b. Imaging
Computed Tomography (CT) scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) telah
menjadi pemeriksaan rutin dalam pemeriksaan demensia walaupun hasilnya masih
dipertanyakan.
c. Pemeriksaan EEG
Electroencephalogram (EEG) tidak memberikan gambaran spesifik dan pada
sebagian besar EEG adalah normal.Pada Alzheimer stadium lanjut dapat memberi
gambaran perlambatan difus dan kompleks periodik.
d. Pemeriksaan Cairan Otak
Pungsi lumbal diindikasikan bila klinis dijumpai awitan demensia akut,
penyandang dengan imunosupresan, dijumpai rangsangan meningen dan panas,
demensia presentasi atipikal, hidrosefalus normotensif, tes sifilis (+), penyengatan
meningeal pada CT scan.
e. Pemeriksaan Genetika
Apolipoprotein E (APOE) adalah suatu protein pengangkut lipid polimorfik yang
memiliki 3 allel yaitu epsilon 2, epsilon 3, dan epsilon 4. setiap allel mengkode
bentuk APOE yang berbeda. Meningkatnya frekuensi epsilon 4 diantara
penyandang demensia Alzheimer tipe awitan lambat atau tipe sporadik
menyebabkan pemakaian genotif APOE epsilon 4 sebagai penanda semakin
meningkat.
f. Pemeriksaan neuropsikologis
Pemeriksaan neuropsikologis meliputi pemeriksaan status mental, aktivitas sehari-
hari / fungsional dan aspek kognitif lainnya. (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003)
Pemeriksaan neuropsikologis penting untuk sebagai penambahan pemeriksaan
demensia, terutama pemeriksaan untuk fungsi kognitif, minimal yang mencakup
atensi, memori, bahasa, konstruksi visuospatial, kalkulasi dan problem solving.
Pemeriksaan neuropsikologi sangat berguna terutama pada kasus yang sangat
ringan untuk membedakan proses ketuaan atau proses depresi. Sebaiknya syarat
pemeriksaan neuropsikologis memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Mampu menyaring secara cepat suatu populasi
2) Mampu mengukur progresifitas penyakit yang telah diindentifikaskan
demensia.
Sebagai suatu esesmen awal pemeriksaan Status Mental Mini (MMSE) adalah test
yang paling banyak dipakai. (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003 ;Boustani,2003
;Houx,2002 ;Kliegel dkk,2004) tetapi sensitif untuk mendeteksi gangguan memori
ringan. (Tang-Wei,2003)
g. Pemeriksaan status mental MMSE Folstein adalah test yang paling sering dipakai
saat ini, penilaian dengan nilai maksimal 30 cukup baik dalam mendeteksi
gangguan kognisi, menetapkan data dasar dan memantau penurunan kognisi
dalam kurun waktu tertentu. Nilai di bawah 27 dianggap abnormal dan
mengindikasikan gangguan kognisi yang signifikan pada penderita berpendidikan
tinggi.(Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003).
Penyandang dengan pendidikan yang rendah dengan nilai MMSE paling rendah
24 masih dianggap normal, namun nilai yang rendah ini mengidentifikasikan
resiko untuk demensia. (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003). Pada penelitian
Crum R.M 1993 didapatkan median skor MMSE adalah 29 untuk usia 18-24
tahun, median skor 25 untuk yang > 80 tahun, dan median skor 29 untuk yang
lama pendidikannya >9 tahun, 26 untuk yang berpendidikan 5-8 tahun dan 22
untuk yang berpendidikan 0-4 tahun.Clinical Dementia Rating (CDR) merupakan
suatu pemeriksaan umum pada demensia dan sering digunakan dan ini juga
merupakan suatu metode yang dapat menilai derajat demensia ke dalam beberapa
tingkatan. (Burns,2002). Penilaian fungsi kognitif pada CDR berdasarkan 6
kategori antara lain gangguan memori, orientasi, pengambilan keputusan, aktivitas
sosial/masyarakat, pekerjaan rumah dan hobi, perawatan diri.Nilai yang dapat
pada pemeriksaan ini adalah merupakan suatu derajat penilaian fungsi kognitif
yaitu; Nilai 0, untuk orang normal tanpa gangguan kognitif. Nilai 0,5, untuk
Quenstionable dementia. Nilai 1, menggambarkan derajat demensia ringan, Nilai
2, menggambarkan suatu derajat demensia sedang dan nilai 3, menggambarkan
suatu derajat demensia yang berat. (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003,
Golomb,2001)

F. Penatalaksanaan
a. Farmakoterapi
Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan.
1) Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan antikoliesterase
seperti Donepezil, Rivastigmine, Galantamine, Memantine
2) Dementia vaskuler membutuhkan obat-obatan anti platelet seperti Aspirin,
Ticlopidine, Clopidogrel untuk melancarkan aliran darah ke otak sehingga
memperbaiki gangguan kognitif.
3) Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi
perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan mengobati
tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan dengan stroke.
4) Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat anti-depresi
seperti Sertraline dan Citalopram.
5) Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang bisa
menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakanobat anti-psikotik
(misalnya Haloperidol, Quetiapine dan Risperidone). Tetapi obat ini kurang
efektif dan menimbulkan efek samping yang serius. Obat anti-psikotik efektif
diberikan kepada penderita yang mengalami halusinasi atau paranoid.
b. Dukungan atau Peran Keluarga
1) Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita tetap
memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam dinding
dengan angka-angka yang besar atau radio juga bisa membantu penderita tetap
memiliki orientasi.
2) Menyembunyikan kunci mobil dan memasang detektor pada pintu bisa
membantu mencegah terjadinya kecelekaan pada penderita yang senang
berjalan-jalan.
3) Menjalani kegiatan mandi, makan, tidur dan aktivitas lainnya secara rutin, bisa
memberikan rasa keteraturan kepada penderita.
4) Memarahi atau menghukum penderita tidak akan membantu, bahkan akan
memperburuk keadaan.
5) Meminta bantuan organisasi yang memberikan pelayanan sosial dan
perawatan, akan sangat membantu.

c. Terapi Simtomatik
Pada penderita penyakit demensia dapat diberikan terapi simtomatik, meliputi :
1) Diet
2) Latihan fisik yang sesuai
3) Terapi rekreasional dan aktifitas
4) Penanganan terhadap masalah-masalah

G. Komplikasi Dimensia
a. Peningkatan risiko infeksi di seluruh bagian tubuh :
1) Ulkus Dekubitus
2) Infeksi saluran kencing
3) Pneumonia
b. Thromboemboli, infark miokardium.
c. Kejang
d. Kontraktur sendi
e. Kehilangan kemampuan untuk merawat diri
f. Malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan kurang dan kesulitan menggunakan
peralatan
g. Kehilangan kemampuan berinteraksi
h. Harapan hidup berkurang
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. IDENTITAS
Identitas Pasien
Nama : Ny. A
Usia :70 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status Pernikahan : menikah
Agama : Islam
Alamat : Jl. E
Dx. Medis : Dimensia
2. KELUHAN UTAMA
Saat ini Ny. A tidak mau merawat diri dan sering lupa untuk makan serta
mudah lelah. Ny. A keluar rumah dan tidak kembali ke kamar. Selain itu, Ny. A
juga sering salah dan lupa meletakkan barang-barang
3. RIWAYAT KESEHATAN
A. Riwayat Kesehatan Sekarang
Saat ini Ny. A tidak mau merawat diri dan sering lupa untuk makan serta
mudah lelah. Ny. A sering bangun pada malam hari untuk ke kamar mandi saat
bangun kadang-kadang Ny. A keluar rumah dan tidak kembali ke kamar. Tn. A
merasa khawatir Ny. A akan tersesat di luar rumah. Selain itu, Ny. A juga
sering salah dan lupa meletakkan barang-barang dan penampilan Ny. A terlihat
kusut dan berantakan.
B. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien sebelumnya tidak memiliki riwayat terkena penyakit Dimensia
C. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak terkaji
D. Genogram

Keterangan:
: Laki-laki

: Pasien

: Menikah

4. POLA PENGKAJIAN FUNGSIONAL


A. Pola Persepsi-Managemen Kesehatan
Kien mengatakan sehat itu penting
B. Pola Nurtisi –Metabolik
Klien makan 3 kali dalam sehari dengan porsi setengah piring,

C. Pola Eliminasi
Klien mengatakan BAB sehari 1 kali di waktu pagi hari sesudah bangun tidur.

D. Pola Latihan-Aktivitas
Penilaian Aktifitas
INDEKS KATZ
NO Macam ADL SKORE
0 1 2 3 4
1 Makan 
2 Kontinen ( BAB/BAK ) 
3 Berpindah 
4 Mandi 
5 Ke kamar kecil 
6 Berpakaian 
Keterangan :
0 : Mandiri
1 : Dengan alat bantu
2 : Dibantu orang lain
3 : Dibantu orang lain dan alat
4 : Semua dengan bantuan
Tahapan aktivitas diatas kemudian disebut dengan Indeks Katz secara beru-
rutan, sebagai berikut :
a. Indeks Katz A : mandiri untuk aktivitas 6
b. Indeks Katz B : mandiri untuk aktivitas 5
c. Indeks Katz C : mandiri, kecuali bathing dan 1 fungsi lain
d. Indeks Katz D : mandiri, kecuali bathing, dreesing dan fungsi lain
e. Indeks Katz E : mandiri, kecuali bathing, dreesing, toileting, dan 1 fungsi lain
f. Indeks Katz F : mandiri, kecuali bathing, dreesing, toileting, transfer-ring, dan
1 fungsi 1 fungsi lain
g. Indeks Katz G : tergantung pada orang lain untuk 6 aktivitas

E. Pola Kognitif Perseptual


Pengkajian Fungsi Kongnitif
N ITEM PERTANYAAN BENA SALA
O R H
1 Jam berapa sekarang ? 
Jawaban : 14.00
2 Tahun berapa sekarang ? 
Jawaban : 2019
3 Kapan bapak/ibu lahri ? 
Jawaban : tahun 49
4 Berapa umur bapak/ibu sekarang ? 
Jawaban : 70 tahun
5 Di mana alamat bapak/ibu sekarang ? 
Jawaban : Jl. E
6 Berapa jumalah anggota keluarga yang tinggal 
bersama bapak/ibu sekarang?
Jawaban : 4
7 Tahun berapa hari kemerdekaan indonesia ? 
Jawaban : 1945
8 Siapa nama Presiden RI sekarang? 
Jawaban : pak jokowi
9 Coba hitung terbalik dari angka 20 ke 1? 
Jawaban:20,19,18,17,16,15,14,13,12,11,10,9,8,7,6,5,
4,3,2,1
JUMLAH BENAR 6
Keterangan :
Salah 0-3 : Fungsi intelektual utuh
Salah 4-5 : Fungsi intelektual kerusakan ringan
Salah 6-8 : Fungsi intelektual kerusakan sedang
Salah 9-10 : Fungsi intelektual kerusakan berat

F. Pola Istirahat-Tidur
Klien mengatakan sulit tidur pada siang dan malam hari.
G. Pola Konsep Diri-persepsi Diri
Klien mengatakan sering main ke tetangga rumah untuk mengobrol bersama
lansia yang lain.
H. Pola Peran dan Hubungan
Klien bersosialisasi dengan baik sama keluarga dan tetangga rumahnya
I. Pola Reproduksi/Seksual
Klien sudah menapouse
J. Pola Pertahanan Diri (Coping-Toleransi Stres )
1. Apakah anda sebenarnya puas dengan kehidupan anda ? Ya TIDAK
2. Apakah anda telah meninggalkan banyak kegiatan dan minat atau kesenangan
anda? YA Tidak
3. Apakah anda merasa kehidupan anda kosong? YA Tidak
4. Apakah anda sering merasa bosan? YA Tidak
5. Apakah anda mempunyai semangat yang baik setiap saat? Ya TIDAK
6. Apakah anda takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada
anda? YA Tidak
7. Apakah anda merasa bahagia untuk sebagian besar hidup anda? Ya TIDAK
8. Apakah anda sering merasa tidak berdaya YA Tidak
9. Apakah anda lebih senang tinggal dirumah daripada keluar dan mengerjakan
sesuatu yang baru? YA Tidak
10. Apakah anda merasa mempunyai banyak masalah dengan daya ingat anda
dibanding kebanyakan orang? YA Tidak
11. Apakah anda pikir bahwa hidup anda sekarang ini menyenangkan? Ya TIDAK
12. Apakah anda merasa tidak berharga seperti perasaan anda saat ini? YA Tidak
13. Apakah anda merasa anda penuh semangat? Ya TIDAK
14. Apakah anda merasa bahwa keadaan anda tidak ada harapan YA Tidak
15. Apakah anda pikir bahwa orang lain lebih baik keadaannya daripada
anda? YA Tidak

Keterangan :
Skor: Hitung jumlah jawaban yang bercetak tebal dan huruf besar Setiap jawaban
bercetak tebal dan berhuruf besar mempunyai nilai 1

Skor 5 – 9 : Depresi Ringan sampai sedang


Skor 10 – 15 : Depresi Berat
Skor 0 – 5 : Normal

K. Pola Keyakinan Dan Nilai


Klien mengatakan beragama islam

PEMERIKSAAN FISIK
A. Tanda – Tanda Vital
NO TANGGAL TANDA – TANDA VITAL
TD NADI RR SUHU
1 Senin/18 Maret 2019/08.00 WIB 130/90 66x/mnt 14x/mnt 36,6°C
mmhg
2 Selasa/19 Maret 2019/08.15 WIB 120/80 68x/mnt 16x/mnt 36,8°C
mmhg
3 Selasa/19 Maret 2019/10.15 WIB 120/80 64x/mnt 15x/mnt 36,0°C

B. Pemeriksaan Head To Toe


1. Kepala
- Bentuk : mesochepal.
- Rambut : bersih.
2. Mata
konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik , pupil anisokor
3. Hidung
konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik , pupil anisokor
4. Mulut dan tenggorokan
mulut tampak merot ke kanan, bicara pelo, mukosa bibir kering,tidak ada
stomatitis.
5. Telinga
bersih, simetris.
6. Leher
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
7. Dada
 Thorak :
Inspeksi : pengembangan paru simetris, tidak ada lesi, tidak ada jejas.
Palpasi : fokalfremitus tidak terkaji, expansi paru kanan kiri seimbang
Perkusi : terdengarbunyisonor.
Auskultasi : bunyinapasvesikuler
 Jantung :
Inspeksi : ictus cordis tidak nampak.
Palpasi : teraba ictus cordis di ICS 5 sinistra
Perkusi :bunyijantungpekak pada ICS ke II linea parasternalis
dextra,ICS II linea parasternalis sinistra, ICS IV linea medio
klafikularis sinistra, ICS V sinistra mid axilaris sinistra
Auskultasi : tidak ada bunyi jantung tambahan, terdapat bunnyi jantung 1
dan 2, tidak ada bunnyi murmur jantung

8. Abdomen :
Inspeksi : warna coklat, tidak ada lesi, bentuk abdomen cekung.
Auskultasi : bisingusus 18 x/menit
Palpasi : tidak ada nyeritekan di kuadran 1-4, tidak ada pembesaran
organ
Perkusi : tympani

9. Genetalia
Bersih, tidak ada keluhan
10. Integmumen
Kulit terlihat keriput
11. Ekstermitas
 Pemeriksaan kekuatan otot
B. Analisa data
Data Problem Etiologi

Data Subjektif : Ketidakseimbangan Tidak mampu

 Ny. A sering lupa nutrisi kurang dari memasukkan makanan

untuk makan kebutuhan tubuh karena faktor psikologi

Data Objektif :

Data Subjektif : Gangguan proses berfikir Kehilangan memori

 Ny. A sering lupa degenerasi neuron

untuk makan ireversible

 Ny. A sering salah

dan lupa

meletakkan

barang-barang

 Saat bangun

kadang-kadang Ny.

A keluar rumah

dan tidak kembali

ke kamar

Data Objektif :

C. Diagnosa keperawatan
1) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan tidak mampu memasukkan makanan karena faktor psikologi
2) Gangguan proses berfikir berhubungan dengan kehilangan memori
degenerasi neuron irreversible
D. Intervensi Keperawatan
No. Tujuan Dan Kriteria
Hari/Tanggal/Jam Intervensi Keperawatan
Dx Hasil

Senin/18 Maret Tujuan : 1. Kolaborasi dengan

2019/08.00 WIB Setelah dilakukan ahli gizi

tindakan keperawatan 2. Pastikan dietnya

selama 3x24 jam meliputi makanan

diharapkan kebutuhan yang mengandung

nutrisinya terpenuhi. tinggi serat untuk

Kriteria Hasil : mencegah konstipasi

 Klien mengalami 3. Dokumentasi tentang


1
kenaikan berat masukan, keluaran,

badan 0,9 kg setiap dan jumlah kalori

3 minggu 4. Timbang berat badan

 Tidak ada tanda- setiap 3 hari sekali

tanda malnutrisi 5. Temani klien makan

 Peningkatan energi dan berikan suplemen

dan berpartisipasi vitamin dan mineral

dalam aktivitas

Selasa/19 Maret Tujuan : 1. Kaji derajat gangguan

2016/08.15 WIB Setelah dilakukan kognitif, orientasi

tindakan keperawatan orang, tempat dan


2
selama 3x24 jam waktu

diharapkan ada 2. Pertahankan

perubahan dalam proses lingkungan yang


berfikir. menyenagkan dan

Kriteria Hasil : tenang

 Klien mampu 3. Tatap wajah klien

mengenali ketika berbicara

perubahan dalam 4. Lakukan

proses berfikir dan penghitungan angka

faktor penyebab serta pengenalan

 Klien mampu anggota keluarga

memperlihatkan kepada klien

penurunan tingkah

laku yang tidak

diiinginkan

E. Implementasi Keperawatan

Hari/Tanggal/Jam No. Dx Catatan Keperawatan Tandatangan

Senin/19 Maret 1 1. Berkolaborasi dengan

2019/08.00 WIB ahli gizi

2. Memastikan dietnya

meliputi makanan yang

mengandung tinggi serat

untuk mencegah

konstipasi

3. Menimbang berat badan

setiap 3 kali sehari

Selasa/19 Maret 2 1. Mengkaji derajat


2019/08.15 WIB gangguan kognitif,

orientasi orang, tempat

dan waktu

2. Mempertahankan

lingkungan yang

menyenagkan dan

tenang

3. Menatap wajah klien

ketika berbicara

4. Melakukan

penghitungan angka

serta pengenalan

anggota keluarga kepada

klien

F. Evaluasi Keperawatan

Hari/Tanggal No. Dx Catatan Perkembangan Tandatangan

Senin/18 Maret S :-

2019/08.15 WIB O : Berat badan klien

bertambah 2 kg
1
A : Masalah teratasi

sebagian

P : Intervensi dilanjutkan

Selasa/19 Maret S :
2
2019/08.15 WIB  Klien mengatakan
telah mengenal 2 orang

keluarga

 Klien mengenal daerah

tempat tinggalnya

O : Klien tampak senang

dan tidak tampak bingung

A : Masalah teratasi

sebagian

P : Intervensi dilanjutkan
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Otak adalah organ vital yang terdiri dari 100-200 milyar sel aktif yang
salingberhubungan dan bertanggung jawab atas fungsi mental dan intelektual
kita.Otak terdiri dari sel-sel otak yang disebut neuron (Leonard, 1998).
Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat kronis atau
progresif dimana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi, termasuk
memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar, kemampuan, bahasa,
dan penilaian kesadaran tidak terganggu. Komplikasi demensia yaitu Thromboemboli,
infark miokardium, Kejang, Kontraktur sendi, Kehilangan kemampuan untuk
merawat diri, Malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan kurang dan kesulitan
menggunakan peralatan, Kehilangan kemampuan berinteraksi, dan Harapan hidup
berkurang.
DAFTAR PUSTAKA
Boedhi-Darmojo, (2009), Geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Edisi 4. Jakarta : FKUI.
Stanley, Mickey. 2006. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC
http://hanifsakala.blogspot.co.id/2013/03/asuhan-keperawatan-gerontik-pada-lansia.html
Diakses pada tanggal 20 Maret 2017
http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2014/01/aporan-pendahuluan-demensia.html
Diakses pada tanggal 20 Maret 2017
http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-gerontik-pada-lansia-dengan-demensia/
Diakses pada tanggal 20 Maret 2017
https://www.academia.edu/11691943/LAPORAN_PENDAHULUAN_PADA_PASIEN_DE
NGAN_DEMENSIA_askep_2003
Diakses pada tanggal 20 Maret 2017
https://www.fightdementia.org.au/files/helpsheets/Helpsheet-AboutDementia01-
WhatIsDementia_indonesian.pdf
Diakses pada tanggal 20 Maret 2017
https://wisuda.unud.ac.id/pdf/1390361019-3-BAB%20II.pdf
Diakses pada tanggal 20 Maret 2017