Anda di halaman 1dari 29

KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER

“PERAN RUMAH POTONG HEWAN DALAM KESMAVET”

Dosen Pengampu :
Dr. Drh. FAHMIDA, MP

Disusun Oleh
LUSI AMIDIA P2E119004
FAISAL RIZA P2E119010

MAGISTER ILMU PETERNAKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
emlimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah Mata kuliah Kesehatan Masyarakat Veteriner dengan
judul Peran Rumah Potong Hewan Dalam Kesmavet.
Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
terdapat kekurangan baik dari susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari
pembaca agar dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata penulis berharap semoga makalah ilmiah tentang Peran Rumah
Potong Hewan Dalam Kesmavet ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.
Jambi, September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................ ii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN........................................................................... 1

1.1. Latar Belakang............................................................................ 1


1.2. Rumusan Masalah ...................................................................... 1
1.3. Tujuan ........................................................................................ 2
1.4. Manfaat ...................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 3
2.1. Rumah Potong Hewan................................................................ 3
2.2. Daging Asuh................................................................................ 5
BAB III. PEMBAHASAN .......................................................................... 8
3.1. Definisi Rumah Potong Hewan.................................................. 8
3.2. Prosedur Pemotongan Hewan .................................................... 9
3.3. Definisi Asuh.............................................................................. 10
3.4. Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare).................................... 15
BAB. IV. KESIMPULAN ........................................................................... 23
4.1. Kesimpulan ................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 24
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penduduk di Indonesia mulai sadar akan kebutuhan gizi dalam makanan


yang dikonsumsi, terutama gizi yang berasal dari hewani atau daging. Daging
merupakan salah satu pangan asal hewan yang mengandung zat gizi yang sangat
baik untuk kesehatan dan pertumbuhan manusia, serta sangat baik sebagai media
pertumbuhan mikroorganisme. Adapun rantai pasok daging sapi (beef supply
chain) global menjadi salah satu komponen yang strategis di dalam pemenuhan
pangan dan sistem logistik daging sapi nasional. Adanya kasus penyiksaan
terhadap sapi yang akan dipotong, disamping melanggar UU, tidak manusiawi,
juga bertentangan dengan nilai agama. Oleh karena itu peran pemerintah yang
harus serius mengontrol kualitas RPH agar memenuhi standar higienis, aman,
kesmawet, dan animal welfare. Kesehatan Masyarakat Veteriner (Kesmavet), RPH
dan kesejahteraan hewan (animal welfare) sudah diatur di UU 6/1967 tentang
Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, UU 18/2009 tentang
Peternakan dan Kesehatan Hewan, dan Peraturan Mentan 13/2010 tentang
Persyaratan RPH Hewan Ruminansia dan Unit Penangan Daging (Meat Cutting
Plant). Di pasal 66 UU 18/ 2009, misalnya, disebutkan bahwa pemotongan hewan
yang dagingnya diedarkan harus dilakukan di RPH dan mengikuti cara
penyembelihan yang memenuhi kaidah kesmavet dan animal welfare.
Dengan adanya rancangan Undang-Undang dan Kebijakan Pembangunan
Peternakan akan berfungsi sebagai dasar hukum bagi penyelenggaraan
pembangunan peternakan dan kesehatan hewan sehingga pembangunan
peternakan khususnya dalam bidang pemotongan hewan bisa menjamin
kesejahteraan bagi hewan ternak dan produk daging yang dihasilkan dari proses
pemotongan terbukti ASUH. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk
mengkaji materi yang berkaitan dengan peran rumah potong hewan dalam
kesmavet .
1.2. Rumusan Masalah

1.1. Bagamaimana peran rumah potong hewan dalam kesmavet ?


1.2. Apa definisi dari produk daging ASUH ?

1.3. Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah untuk mengetahui peran rumah
potong hewan dalam kesmavet dan produk daging yang ASUH.

1.4 Manfaat

Adapun manfaat dari makalah ini ialah sebagai sumber informasi bagi
pembaca mengenai peran rumah potong hewan dalam kesmavet, serta diharapkan
dapat meningkatkan pembangunan peternakan khususnya dalam bidang
pemotongan hewan bisa menjamin kesejahteraan bagi hewan ternak dan produk
daging yang dihasilkan dari proses pemotongan terbukti ASUH (Aman, Sehat,
Umum, dan Halal).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Rumah Potong Hewan

Rumah potong hewan adalah suatu bangunan atau kompleks bangunan


dengan desain tertentu yang digunakan sebgai tempat memotong hewan selain
unggas bagi konsumsi masyarakat luas. Usaha pemotongan hewan adalah
kegiatan – kegiatan yang dilakukan oleh perorangan atau badan hukum yang
melaksanakan pemotongan hewan selain unggas dirumah pemotongan hewan
milik sendiri atau milik pihak lain atau menjual jasa pemotongan hewan (Manual
kesmavet, 1993).
Fungsi dari RPH yaitu untuk mendukung peningkatan permintaan akan
daging hasil olahannya serta tetap menjamin kesehatan masyarakat dari produk
ternak maka, RPH memegang peranan penting sebagai sarana atau piranti yang
diperukan unuk meningkatkan pelayanan masyarakat daam usaha penyediaan
daging aman (safe), sehat (sound), utuh (wholesomeness), halal (grinds) dan
berdaya saing tinggi.
Pemotongan dan pembunuhan hewan harus dilakukan dengan sebaik-
baiknya sehingga hewan bebas dari rasa sakit, rasa takut dan tertekan,
penganiayaan dan penyalagunaan dan perlakuan terhadap hewan harus dihindari
dari penyiksaan. Produk peternakan asal hewan mempunyai sifat mudah rusak dan
dapat bertindak sebagai sumber penularan penyakit dari hewan ke manusia. Untuk
itu dalam merancang tata ruang RPH perlu diperhatikan untuk menghasilkan
daging yang sehat dan tidak membahayakan manusia bila dikonsumsi sehingga
harus memenuhi persyaratan kesehatan veteriner (Koswara, 1988).
Perancangan bangun RPH berkualitas sebaiknya sesuai dengan standar
yang telah ditentukan dan sebaiknya sesuai dengan Instalasi Standar Internasional
dan menjamin produk sehat dan halal. RPH dengan standar internasional biasanya
dilengkapi dengan peralatan moderen dan canggih, rapi bersih dan sistematis,
menunjang perkembangan ruangan dan modular sistem. Produk sehat dan halal
dapat dijamin dengan RPH yang memiliki sarana untuk pemeriksaan kesehatan
hewan potong, memiliki sarana menjaga kebersihan, dan mematuhi kode etik dan
tata cara pemotongan hewan secara tepat. Selain itu juga harus bersahabat dengan
alam, yaitu lokasi sebaiknya di luar kota dan jauh dari pemukiman dan memiliki
saluran pembuangan dan pengolahan limbah yang sesuai (Lestari, 1993).
Penyembelihan hewan potong di Indonesia harus menggunakan metode
secara Islam (Manual Kesmavet, 1993). Hewan yang disembelih harus memenuhi
syarat dan rukun yang telah ditentukan menurut syariah.`Penyembelihan
dilaksanakan dengan memotong mari’(kerongkongan), hulqum (jalan pernapasan)
dan dua urat darah pada leher (Nuhriawangsa, 1999). Hewan yang telah pingsan
diangkat pada bagian kaki belakang dan digantung. Pisau pemotongan diletakkan
45 derajat pada bagian brisket (Smith et al., 1978), dilakukan penyembelihan oleh
modin dan dilakukan bleeding, yaitu menusukan pisau pada leher kearah jantung
(Soeparno, 1992). Posisi ternak yang menggantung menyebabkan darah keluar
dengan sempurna (Blakely dan Bade, 1992).
Keputusan Menteri Pertanian Nomor13/Permentan/OT.140/1/2010 tentang
persyaratan rumah potong hewan ruminansia dan penanganan daging (meat
cuttingplant) telah menetapkan persaratan teknis RPH. RPH merupakan unit
pelayanan masyarakat dalam penyediaan daging yang aman, sehat, utuh dan halal
serta berfungsi sebagai sarana untuk melaksanakan:
1. Pemotongan hewan secara benar (sesuai dengan
persyaratan kesehatan masyarakat veteriner, kesejahteraan hewan dan
syariah agama).
2. Tempat melaksanakan pemeriksaan hewan sebelum
dipotong (ante-mortem inspection), pemeriksaan karkas dan jeroan
(post-morteminspection) untuk mencegah penularan penyakit
zoonosis ke manusia.
3. Tempat pemantuansurvailens penyakit hewan dan
zoonosis yang ditemukan pada pemeriksaan ante-mortem dan post-
mortem guna pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan
penyakit hewan menular dan zoonosis daerah asal hewan.
Selain itu, RPH harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:
a. Berlokasi yang tidak menimbulkan gangguan atau
pencemaran lingkungan serta mudah dicapai oleh kendaraan.
b. Komplek RPH harus dipagar yang berfungsi untuk
memudahkan penjagaan keamanaan.
c. Memiliki ruangan yang digunakan sebagai tempat
penyembelihan, dinding dan lantai kedap air, ventillasi yang cukup.
d. Mempunyai perlengkapan yang memadai.
e. Pekerja berpengalaman dalam bidang kesehatan masyarakat veteriner
f. Bangunan utama RPH, kandang dan tempat penyimpanan alat-alat
untuk penyimpanan babi harus terpisah dengan alat dan tempat
pemotongan sapi, kerbau, dan kambing.

2.2. Daging ASUH

Daging adalah kumpulan sejumlah otot yang berasal dari ternak yang
sudah disembelih dan otot tersebut sudah mengalami perubahan biokimia dan
biofisik sehingga otot yang semasa hidup ternak merupakan energi mekanis
berubah menjadi energy kimiawi yang dikenal sebagai pangan hewani (Abustam,
2009). Syamsir (2010) yang menyatakan bahwa daging adalah semua jaringan
hewan dan produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang dapat
dikonsumsi sebagai makanan.
Menurut Matnur (2004), daging yang dikonsumsi berfungsi sebagai: (1)
pokok hidup, membentuk sel-sel di dalam tubuh/pertumbuhan dan mengganti sel-
sel yang rusak; (2) reproduksi (perkembangbiakan); dan (3) aktifitas. Jenis daging
yang umum dikonsumsi adalah daging sapi, kambing, domba, babi, ayam, bebek
atau itik, ikan; sementara daging dari beberapa jenis hewan lainnya dikonsumsi
oleh kalangan terbatas (Syamsir 2010).
Good Slaughtering Practises (GSP) berfungsi meminimalkan kontaminasi
mulai dari pra pemotongan, penanganan ternak dikandang, memandikan ternak,
proses stunning, penyembelihan, skinning, eviserasi, splitting, final trim,
pencucian karkas sampai dihasilkan produk akhir (Harris et.al, 2003).
Menurut Swatland (1984), beberapa persyaratan untuk memperoleh
hasil pemotongan ternak yang baik yaitu:
(1) Ternak tidak diperlakukan secara kasar;
(2) Ternak tidak mengalami stress;
(3) Penyembelihan dan pengeluaran darah harus secepat dan
sesempurna mungkin;
(4) Kerusukan karkas harus minimal;
(5) Cara pemotongan harus higienis;
(6) ekonomis; dan
(7) aman bagi para pekerja abatoar.
Menurut Suparno (2005), terdapat dua teknik pemotongan ternak yaitu
teknik pemotongan secara langsung dan secara tidak langsung. Pemotongan
ternak secara langsung dilakukan setelah ternak dinyatakan sehat dan dapat
disembelih pada bagian leher dengan memutuskan arteri carotis, vena jugularis,
dan esophagus. Pemotongan ternak secara tidak langsung dengan perlakuan
pemingsanan terlebih dahulu yang bertujuan untuk memudahkan penyembelihan
ternak agar ternak tidak stress, sehingga kulit dan karkas lebih baik.
Menurut Panduan Umum Sistem Jaminan Halal LPPOM-MUI (2008),
SJH didefinisikan sebagai suatu sistem manajemen yang disusun, diterapkan,
dan dipelihara oleh perusahaan pemegang sertifikat halal untuk menjaga agar
proses produksi halal sesuai dengan ketentuan LPPOM-MUI. Sistem ini
dibuat untuk memperoleh dan sekaligus menjamin bahwa produk-produk
tersebut halal, disusun sebagai bagian integral dari kebijakan perusahaan,
bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. SJH merupakan sebuah sistem
pada suatu rangkaian produksi yang senantiasa dijiwai dan didasari pada
konsep-konsep syariat dan etika usaha sebagai input utama dalam penerapan
nya. Sistem Jaminan Halal (SJH) ini merupakan sistem yang disiapkan dan
dilaksanakan untuk perusahaan pemegang sertifikat halal yang bertujuan
untuk menjamin proses produksi dan produk yang dihasilkan adalah halal
sesuai dengan aturan yang digariskan oleh MUI.
Menurut LPPOM-MUI (2012), bahwa ketentuan yang harus dipenuhi
dalam pemotongan ternak halal antara lain penyembelih beragama Islam,
berakal dan berbadan sehat, alat yang digunakan harus tajam, serta menyebut
nama Allah saat menyembelih.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Definisi Rumah Potong Hewan

Dilihat dari mata rantai penyediaan daging di Indonesia, maka salah satu
tahapan terpenting adalah penyembelihan hewan di RPH. Rumah pemotongan
hewan (RPH) adalah kompleks bangunan dengan disain dan konstruksi khusus
yang memenuhi persyaratatn teknis dan higiene tertentu, yang digunakan sebagai
tempat memotong hewan potong bagi konsumsi masyarakat. Peraturan
perundangan yang berkaitan persyaratan RPH di Indonesia telah diatur dalam
Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 555/Kpts/TN.240/9/1986 tentang
Syarat-Syarat Rumah Pemotongan Hewan dan Usaha Pemotongan. Selain diatur
dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 555/Kpts/TN.240/9/1986, RPH
juga diatur dalam Rancangan Undang-Undang Peternakan dan kesehatan Hewan
Tahun 2009 Bab I Pasal 1 ayat 15 dan Bab VI Pasal 62. Isi pasal-pasal tersebut
antara lain:
1. UU Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2009 Bab I
Pasal 1 ayat 15. Perusahaan peternakan adalah orang perorangan atau
korporasi, baik yang berbentuk badan hukum maupun yang bukan badan
hukum, yang didirikan dan berkedudukan alm wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia yang mengelola usaha peternakan dengan kriteria dan
skala tertentu.
2. UU Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2009 Bab VI
Pasal 62.
a. Pemerintah daerah kabupaten/kota wajib memiliki
rumah potong hewan yang memenuhi persyaratan teknis.
b. Rumah potong hewan yang sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat diusahakan oleh setiap orang setelah memiliki
izin usaha dari bupati/walikota.
c. Usaha rumah potong hewan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) harus dilakukan dibawah pengawasan dokter hewan
berwenang di bidang pengawasan kesehatan masyarakat veteriner.
RPH, di samping sebagai sarana produksi daging juga berfungsi sebagai
instansi pelayanan masyarakat yaitu untuk menghasilkan komoditas daging yang
sehat, aman dan halal (sah). Umumnya RPH merupakan instansi Pemerintah.
Namun perusahaan swasta diizinkan mengoperasikan RPH khusus untuk
kepentingan perusahaannya, asalkan memenuhi persyaratan teknis yang
diperlukan dan sesuai dengan peraturan Pemerintah yang berlaku. Pembangunan
RPH harus memenuhi ketentuan atau standar lokasi, bangunan, sarana dan
fasilitas teknis, sanitasi dan higiene, serta ketentuan lain yang berlaku. Sanitasi
dan higiene menjadi persyaratan vital dalam bangunan, pengelolaan dan operasi
RPH. Beberapa persyaratan RPH secara umum adalah merupakan tempat atau
bangunan khusus untuk pemotongan hewan yang dilengkapi dengan atap, lantai
dan dinding, memiliki tempat atau kandang untuk menampung hewan untuk
diistirahatkan dan dilakukan pemeriksaan ante mortem sebelum pemotongan.
Syarat penting lainnya memiliki persediaan air bersih yang cukup, cahaya
yang cukup, meja atau alat penggantung daging agar daging tidak bersentuhan
dengan lantai. Untuk menampung limbah hasil pemotongan diperlukan saluran
pembuangan yang cukup baik, sehingga lantai tidak digenangi air buangan atau
airbekas cucian. Acuan tentang Rumah Pemotongan Hewan (RPH) dan tatacara
pemotongan yang baik dan halal di Indonesia sampai saat ini adalah Standar
Nasional Indonesia (SNI) 01-6159-1999 tentang Rumah Pemotongan Hewan
berisi beberapa persyaratan yang berkaitan dengan RPH termasuk persyaratan
lokasi, sarana, bangunan dan tata letak sehingga keberadaan RPH tidak
menimbulkan ganguan berupa polusi udara dan limbah buangan yang dihasilkan
tidak mengganggu masyarakat.

3.2. Prosedur Pemotongan Hewan

Daging (segar) mengandung enzim-enzim yang dapat mengurai serta


memecah beberapa komponen gizi (protein, lemak) yang akhirnya dapat
menyebabkan pembusukan daging. Oleh sebab itu, daging dikategorikan sebagai
pangan yang mudah rusak (perishable food). Salah satu tahap yang sangat
menentukan kualitas dan keamanan daging dalam mata rantai penyediaan daging
adalah tahap di rumah pemotongan hewan (RPH). Di RPH ini hewan disembelih
dan terjadi perubahan (konversi) dari otot (hewan hidup) ke daging, serta dapat
terjadi pencemaran mikroorganisme terhadap daging, terutama pada tahap
eviserasi (pengeluaran jeroan). RPH yang merupakan unit pelayanan masyarakat
dalam penyediaan daging yang aman, sehat, utuh, dan halal, serta berfungsi
sebagai sarana untuk melaksanakan (Permentan No. 13. 2010) :
a. Pemotongan hewan secara benar (sesuai dengan
persyaratan kesehatan masyarakat veteriner, kesejahteraan hewan dan
syariah agama)
b. Pemeriksaan kesehatan hewan sebelum dipotong yang
dimulai tahap (ante-mortem inspection) dan pemeriksaan karkas,
pemeriksaan jeroan dan (post-mortem inspection) untuk mencegah
penularan penyakit zoonotik ke manusia.
c. Pemantauan dan surveilans penyakit hewan zoonosis yang
ditemukan pada pemeriksaan ante-mortem dan pemeriksaan post-
mortem guna pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan penyakit
hewan menular dan zoonosis di daerah asal hewan.

3.3. Definisi ASUH

Penanganan hewan dan daging di RPH yang kurang baik dan tidak
higienis akan berdampak terhadap kehalalan, mutu dan keamanan daging yang
dihasilkan dan akan berdampak pada kesehatan masyarakat. Di dalam Undang-
Undang Peternakan dan kesehatan Hewan Bab I Pasal 1 ayat 38 disebutkan bahwa
Kesehatan masyarakat veteriner adalah segala urusan yang berhubungan dengan
hewan produk hewan yang secara langsung atau tidak langsung memengaruhi
kesehatan manusia. Oleh sebab itu, penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan
pangan di RPH sangatlah penting, atau dapat dikatakan pula sebagai penerapan
sistem produk safety pada RPH.
Aspek yang perlu diperhatikan dalam sistem tersebut adalah higiene,
sanitasi, kehalalan, dan kesejahteraan hewan. Sembelih atau pemnyembelihan
hewan adalah suatu aktifitas, pekerjaan atau kegiatan menghilangkan nyawa
hewan atau binatang dengan memakai alat bantu atau benda yang tajam ke arah
urat leher saluran pernafasan dan pencernaan. Agar binatang yang disembelih
halal dan boleh dimakan, penyembelihan hewan harus sesuai dengan aturan
agama islam. Jika binatang yang mau disembelih masuk ke lubang yang sulit
dijangkau maka diperbolehkan melukai bagian mana saja asalkan mematikan
binatang tersebut sedangkan yang dimaksud dengan Prosedur Standar Operasi
Pemotongan Sapi adalah alur proses untuk memproduksi daging sapi yang Aman,
Sehat, Umum dan dan Halal (ASUH) baik menggunakan alat dan mesin
peternakan yang modern ataupun yang tradisional seperti yang tercantum dalam
Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2009 Bab I Pasal 1 ayat
40 dan Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan Bab IV Bagian ketiga
Pasal 24 ayat (1) yaitu:
1. Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2009 Bab I
Pasal 1 ayat 40. Alat dan mesin peternakan adalah semua peralatan yang
digunakan berkaitan dengan kegiatan peternakan dan kesehatan hewan,
baik yang dioperasikan dengan motor penggerak maupun tanpa motor
penggerak.
2. Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan Bab IV Bagian
ketiga Pasal 24 ayat (1)
(1). Pemerintah menetapkan jenis dan standar alat dan mesin peternakan
yang peredarannya perlu diawasi.
Alat-alat benda tajam dan tumpul yang tidak diperbolehkan untuk
penyembelihan/pemotongan hewan : gigi, kuku, tulang, listrik/disetrum, benda
tumpul untuk memukul, panahan/busur dana anak panah, boomerang, sumpit,
gada, palu, martil, dan lain-lain. Pada proses pemotongan ternak di Indonesia
harus benar-benar memperhatikan hukum-hukum agama Islam, karena ada
kewajiban menjaga ketentraman batin masyarakat. Pada pelaksanaannya ada 2
cara yang digunakan di Indonesia, yaitu :
a). Tanpa “Pemingsanan” Cara ini banyak dilakukan di Rumah-rumah
Potong tradisional. Penyembelihan dengan cara ini ternak direbahkan secara paksa
dengan menggunakkan tali temali yang diikatkan pada kaki-kaki ternak yang
dihubungkan dengan ring-ring besi yang tertanam pada lantai rumah potong,
dengan menarik tali-tali ini ternak akan rebah. Pada penyembelihan dengan sistem
ini diperlukan waktu kurang lebih 3 menit untuk mengikat dan merobohkan
ternak. Pada saat ternak roboh akan menimbulkan rasa sakit karena ternak masih
dalam keadaan sadar.
b). Dengan pemingsanan di rumah potong hewan yang besar dan modern,
sebelum ternak dipotong terlebih dahulu dilakukan “pemingsanan”, maksudnya
agar ternak tidak menderita dan aman bagi yang memotong. Pemotongan
dilakukan pada ternak dalam keadaan posisi rebah, kepalanya diarahkan ke arah
kiblat dan dengan menyebut nama Allah, ternak tersebut dipotong dengan
menggunakan pisau yang tajam. Pemotongan dilakukan pada leher bagian bawah,
sehingga tenggorokan, vena yugularis dan arteri carotis terpotong.
Menurut Ressang (1962) hewan yang dipotong baru dianggap mati bila
pergerakan-pergerakan anggota tubuhnya dan lain-lain bagian berhenti. Oleh
karena itu setelah ternak tidak bergerak lagi leher dipotong dan kepala dipi-sahkan
dari badan pada sendi occipitoatlantis. Pada pemotongan tradisional, pemotongan
dilakukan pada ternak yang masih sadar dan dengan cara seperti ini tidak selalu
efektif untuk menimbulkan kematian dengan cepat, karena kematian baru terjadi
setelah 3-4 menit. Dalam waktu tersebut merupakan penderitaan bagi ternak, dan
tidak jarang ditemukan kasus bahwa dalam waktu tersebut ternak berontak dan
bangkit setelah disembelih. Oleh karena itu pengikatan harus benar-benar baik dan
kuat. Cara penyembelihan seperti ini dianggap kurang berperikemanusiaan. Waktu
yang diperlukan secara keseluruhan lebih lama dibandingkan dengan cara
pemotongan yang menggunakan pemingsanan.
Adanya perbedaan dalam cara penyembelihan tersebut, pihak australia
menuduh Indonesia melakukan tindak kekerasan terhadap hewan yang akan
dipotong padahal Indonesia mempunyai standar dan cara yang sudah ditetapkan
menurut Islam dan Undang-Undang. Syarat Sah Penyembelihan hewan :
1. Hewan tidak haram dimakan (anjing, hyena, kucing, babi,
dan lain sebagainya) Binatang masih hidup atau bukan bangkai.
2. Disembelih secara islam dan menyebut nama Allah SWT
3. Penyembelihan sengaja dilakukan secara sadar.
Masyarakat harus benar-benar mendapat daging yang aman, sehat utuh
dan halal untuk dimakan. Aman yang dimaksudkan disini adalah daging benar-
benar bebas dari bibit penyakit, campuran bahan kimia berbahaya dan lain
sebagainya. Sehat yang dimaksudkan adalah daging benar-benar memiliki
kandungan gizi tinggi yang berguna bagi kesehatan maupun pertumbuhan. Utuh
berarti daging benar-benar tidak tercampur atau dicampur dengan daging hewan
lain. Sedangkan halal berarti hewan dan daging dipotong dan ditangani sesuai
dengan syariat Islam. Kondisi Aman dan Sehat, dapat dilakukan dengan cara
memeriksa kesehatan sapi pada :
• Awal Proses pemotongan (ante mortem), untuk memeriksa penyakit-
penyakit yang menular.
• Akhir proses pemotongan (post mortem),yaitu pemeriksaan kesehatan
daging untuk mengetahui kandungan bakteri/bakteri/ parasit dan kelainan
patologis yang membahayakan kesehatan atau yang menyebabkan daging
sapi tidak layak lagi untuk dikonsumsi.
Agar memenuhi persyaratan ASUH, proses pemotongan sapi harus
dilakukan melalui prosedur dan tahap-tahap proses yang baku (standar). Standar
dan prosedur operasi (S.O.P) pemotongan sapi yang telah ditetapkan oleh
pemerintah adalah sebagai berikut :
a. Mengistirahatkan sapi (rekondisi) yang akan dipotong
minimal + 8 jam.
b. Pemeriksaan sebelum proses penyembelihan (ante mortem)
oleh petugas yang berkepentingan.
c. Sapi dimasukan ke ruang pemotongan yang telah
memenuhi persyaratan higienis dan sanitasi.
d. Sesuai standar Halal, sapi direbahkan mengarah kiblat.
e. Sapi dibersihkan dari segala kotoran yang melekat di
badannya.
f. Dilakukan proses pemotongan.
g. Didiamkan beberapa saaat hingga darah betul-betul tiris/
habis, kemudian daging dimatangkan (aging), dengan cara
menyimpannya pada suhu kamar (27 – 300C) selama 24 – 48 jam atau
pada suhu pendinginan (10 -150C) selama 5–7 hari. Hal ini dilakukan
karena setelah proses pemotongan, karkas (daging)nya akan mengalami
rigor mortis, yaitu pengerasan dan peng-kakuan daging akibat terjadinya
kekejangan (kontraksi) urat daging. Daging demikian jika dimasak akan
menghasilkan hidangan daging yang keras dimakan. Penyimpanan
karkas, di samping untuk pematangan daging juga bertujuan untuk
persediaan bahan mentah (stock) dan untuk menunggu angkutan atau
pemasaran.
h. Proses pemisahan kepala dari badan.
i. Proses pengulitan.
j. Pemeriksaan kesehatan daging.
k. Pemisahan daging, organ dalam, jeroan di ruang yang
sudah ditentukan
l. Pemeriksaan post mortem oleh petugas keur master, jika
produk daging dinyatakan sehat dengan stempel khusus, boleh
dipasarkan dan didistribusikan.
Adanya aturan pemerintah yang tercantum didalam Undang-Undang dan
prosedur pemotongan hewan yang benar diharapkan semua RPH ataupun
perusahaan peternakan skala kecil bisa mengetahui dan menerapkan bagaimana
cara memotong hewan yang benar sehingga terjamin kesejahteraan bagi
masyarakat dan hewan. Upaya ini merupakan komitmen pemerintah dalam
menindaklanjuti semua peraturan perundangan yang terkait dengan aspek
kesehatan, agama dan kesejahteraan hewan yang telah sesuai dengan ketentuan
badan kesehatan hewan dunia (OIE), dimana Indonesia adalah anggotanya.
Saat ini beberapa RPH di Indonesia telah memiliki sertifikasi mutu yang
dilakukan oleh pihak ketiga yang independen. Namun sertifikasi mutu belum
mencakup prinsip kesejahteraan hewan secara keseluruhan di setiap rantai
pasokannya (supply chain). Berdasarkan kondisi tersebut dan guna menjamin
ketersediaan pasokan daging sapi dan keterjangkauan harga, terdapat beberapa
solusi yang diputuskan oleh Pemerintah Indonesia saat ini, yang terbagi menjadi
tiga solusi.
Solusi pertama, yaitu solusi jangka pendek, mengembangkan pedoman
kesejahteraan hewan dengan mengacu pada standar dan ketentuan yang berlaku di
Indonesia, termasuk untuk peraturan dalam hal kebersihan, sanitasi, maupun
jaminan halal; menyusun daftar RPH yang sudah menerapkan prinsip
kesejahteraan hewan dan peraturan yang lain maupun daftar RPH yang harus
ditingkatkan pengelolaannya.
Kemudian mengevaluasi RPH yang memenuhi syarat berdasarkan
penilaian auditor independen internasional; membuka impor secara bertahap yang
ditujukan kepada RPH yang telah siap menerapkan prinsip kesejahteraan hewan,
dan bagi yang belum memenuhi syarat masih mempunyai waktu setidaknya enam
bulan untuk memenuhi persyaratan impor khususnya sertifikasi dari RPH yang
memenuhi standar; segera menerbitkan Peraturan Menteri (Menteri Perdagangan
dan Menteri Pertanian) tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Hewan dan Produk
sesuai dengan amanah UU no 18 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan;
menerbitkan peraturan (dari) tentang ekspor dan impor hewan dan produk hewan.
Solusi kedua, yaitu solusi jangka menengah evaluasi atas cetak
biru/blueprint program dan rencana aksi Program Swasembada Daging
dikoordinasikan Kemenko Perekonomian dengan penanggung jawab utama
adalah Kementan; rencana Aksi Program Swasembada Daging yang disepakati
agar dapat selesai dalam satu sampai tiga bulan ke depan sehingga kepastian
langkah Pemerintah dan Daerah dalam alokasi APBN/APBD 2012-1014, dan
memberi arah yang jelas bagi stakeholder lain.
Solusi ketiga, solusi jangka panjang, melengkapi regulasi yang sudah ada
dengan petunjuk teknis pelaksanaan; merevisi SNI tentang RPH karena sudah
lebih dari lima tahun; menyusun SNI tentang Pedoman Kesejahteraan Hewan di
RPH dan seluruh rantai pasok; memperkuat inspeksi dan surveillance; melakukan
kerja sama internasional dalam meningkatkan capacity building dan infrastruktur
supply chain kesejahteraan hewan.

3.4. Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare)

Kata ‘sejahtera’ dalam kesejateraan hewan (animal welfare) berarti kualitas


hidup yang meliputi berbagai elemen yang berbeda-beda seperti kesehatan,
kebahagiaan dan panjang umur yang untuk masing-masing orang mempunyai
tingkatan yang berbeda dalam memberikannya (Tannenbaum, 1991).
Menurut laporan Brambell Committee, setiap hewan direkomendasikan
memiliki cukup kebebasan untuk dapat bergerak, menyarankan bahwa setiap
hewan harus memiliki kebebasan untuk bergerak yang cukup tanpa adanya
kesusahan untuk berbalik, berputar, merawat dirinya, bangun, berbaring,
meregangkan tubuh ataupun anggota badannya. Berbagai upaya telah diusahakan
untuk mendefinisikan istilah welfare (Albright, 2007). Definisi lain memberikan
gambaran bahwa animal welfare adalah sebuah perhatian untuk penderitaan
hewan dan kepuasan hewan (Gregory, 2005). Sedangkan ilmu animal
welfare adalah ilmu tentang penderitaan hewan dan kepuasan hewan.
Kesejahteraan memiliki banyak aspek yang berbeda dan tidak ada ungkapan
sederhana, permasalahannya sangat banyak dan beragam.
Animal welfare mengacu pada kualitas hidup hewan, kondisi hewan dan
parawatan/perlakuan terhadap hewan (Dallas, 2006). Menurut Undang Undang
No. 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan
Hewan definisi kesejahteraan hewan ialah usaha manusia memelihara hewan,
yang meliputi pemeliharaan lestari hidupnya hewan dengan pemeliharaan dan
perlindungan yang wajar.
Upaya yang dapat dipertimbangkan untuk mewujudkan kesejahteraan hewan
ada dua macam, yaitu mengusahakan hewan hidup sealami mungkin atau
membiarkan hewan hidup dengan perjalanan fungsi biologisnya. Setiap hewan
yang dipelihara manusia setidaknya diusahakan terbebas dari penderitaan yang
tidak perlu (Damron, 2003). Menurut (Dallas, 2006) kesejahteraan hewan (animal
welfare) dapat diukur dengan indikator Lima Kebebasan (five freedoms), yaitu :
a. Bebas dari Rasa Haus dan Lapar (Freedom from
Hunger and Thirst)
Untuk mencegah hewan dari rasa lapar dan haus, makanan yang layak,
bergizi dan juga akses langsung terhadap air bersih perlu disediakan. Dengan
menyediakan tempat makanan dan minuman yang memadai akan dapat
mengurangi terjadinya penindasan dan kompetisi diantara mereka.
Makanan dan minuman merupakan kebutuhan pertama dalam hidup.
Kebebasan dari rasa haus dan lapar ini ditempatkan di urutan pertama karena ini
sangat mendasar, primitif dan tidak dapat ditolerir. Lapar adalah saat-saat hewan
terstimulasi untuk makan. Hewan memerlukan akses yang mudah terhadap
makanan dan minuman untuk menjaga kesehatan dan kebugaran (Le Magnen,
2005).
b. Bebas dari Rasa Tidak Nyaman (Freedoms from
Discomfort)
Ketidaknyamanan disebabkan oleh keadaan lingkungan yang tidak sesuai
pada hewan. Bebas dari rasa tidak nyaman dapat diwujudkan dengan
menyediakan tempat yang sesuai seperti penyediaan kandang/tempat berlindung
yang nyaman (ventilasi memadai, suhu dan kelembaban yang cukup, adanya
lantai, tempat tidur dan sebagainya). Hewan akan merasa nyaman pada
lingkungan yang tepat, termasuk perkandangan dan area beristirahat yang
nyaman.
c. Bebas dari Rasa Sakit, Luka dan Penyakit (Freedom
from Pain, Injury and Disease)
Secara sangat sederhana, sehat pada hewan secara individu dapat
didefinisikan negatif sebagai ‘tidak adanya symptom penyakit’. Penyakit yang
sering timbul di peternakan adalah penyakit produksi. Penyakit ini adalah
penyakit akibat kekeliruan manajemen ternak atau akibat sistem yang
diberlakukan di peternakan. Penyakit produksi meliputi malnutrisi, trauma dan
infeksi yang diderita hewan selama hewan dipelihara oleh manusia. Kebebasan ini
dapat diwujudkan dengan pencegahan diagnosa yang tepat dan perawatan.
d. Bebas Mengekpresikan Perilaku Normal (Freedom
to Express Normal Behavior)
Hewan mempunyai kebiasaan atau perilaku yang khas untuk masing-masing
ternak. Dalam perawatan manusia, hewan mungkin memiliki lebih sedikit
kesempatan untuk mengekspresikan perilaku normalnya. Pada kondisi ekstrim,
hal yang mungkin terjadi justru hewan menunjukkan perilaku menyimpang.
Penyediaan ruang yang cukup, fasilitas yang benar dan teman bagi hewan dari
sejenisnya akan membantu hewan mendapat kebebasan menunjukkan perilaku
normalnya (Phillips 2002).
e. Bebas dari Rasa Takut dan Stres (Freedom from
Fear or Distress)
Menurut Moberg (2000) stress berpengaruh terhadap kesejahteraan hewan
tergantung besar kecilnya kerugian biologis akibat stress tersebut. Stres tidak
hanya merupakan keadaan saat hewan harus beradaptasi melebihi kemampuannya,
tetapi juga pada saat hewan mempunyai respons yang lemah bahkan terhadap
rangsangan ‘normal’ sehari-hari (Duncan dan Fraser, 1997).
Takut merupakan emosi primer yang dimiliki hewan yang mengatur respon
mereka terhadap lingkungan fisik dan sosialnya. Rasa takut kini dianggap sebagai
stresor yang merusak hewan (Jones, 2006). Rasa takut yang berkepanjangan tentu
akan berimbas buruk bagi kesejahteraan hewan. Oleh karena itu, perilaku peternak
sangat berperan dalam membangun sikap hewan terhadap peternak. (Cheeke,
2004) menitikberatkan pada tehnik manajemen hewan yang mengurangi atau
menghilangkan stres sebagi komponen penting dari animal welfare.
Kelima poin di atas merupakan daftar kontrol status kesejahteraan hewan
secara umum saja. Penjabaran kesejahteraan hewan ke dalam lima aspek
kebebasan tidaklah mutlak terpisah dan berdiri sendiri-sendiri. Aspek yang satu
mungkin berpengaruh pada aspek lainnya sehingga sulit untuk dibedakan. Bahkan
satu problem dapat merupakan cakupan beberapa poin di atas. Susunan yang
berurutan pun tidak mutlak mencerminkan prioritas.

3.4.1. Kesejahteraan Hewan di RPH


Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare) adalah usaha manusia untuk
memelihara hewan meliputi kelestarian hidupnya disertai dengan perlindungan
yang wajar. Pada prinsipnya kesejahteraan hewan adalah tanggung jawab manusia
selaku pemilik atau pengelola hewan utuk memastikan hewan memenuhi 5 azas
kesejah teraan hewan :
1. Bebas dari rasa lapar dan haus
2. Bebas dari rasa tidak nyaman
3. Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit
4. Bebas dari rasa takut dan tertekan
5. Bebas untuk melakukan perilaku alaminya
Dalam pemotongan hewan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) penting
untuk memperhatikan dan melaksanakan kesejahteraan hewan, karena
berhubungan dengan kualitas daging yang dihasilkan dan dapat atau tidak
dinyatakan sebagai daging yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).
Pemotongan secara wajar dan sesuai dengan syariat Agama Islam sudah
memenuhi kesejahteraan hewan.
Sampai saat ini masih banyak ditemukan praktek menyimpang dalam
pemotongan hewan di RPH-RPH dengan tujuan meningkatkan keuntungan
dengan cara yang tidak sehat. Beberapa tindakan menyimpang yang melanggar
kesejahteraan hewan antara lain :
 Transportasi hewan secara tidak baik
 Menganiaya dan menyakiti hewan serta
membiarkan hewan kelaparan
 Mencabut kuku, taring atau memotong ekor dan
telinga demi alasan penampilan
 Melakukan kastrasi pada hewan dengan tujuan
percepatan penggemukan
 Penglonggongan (pemberian minum berlebih secara
paksa) pada ternak sebelum dipotong dengan tujuan menaikkan
berat badan
 Menyembelih ternak dengan pisau yang kurang
tajam sehingga proses penyembelihan berlangsung lebih lama
 Memotong kepala dan kaki atau menguliti ternak
sebelum benar-benar mati demi memudahkan penyembelihan atau
menghemat waktu
 Memburu hewan untuk diambil hanya bagian tubuh
tertentunya seperti gading, taring, tanduk dan kulit.
Karena hewan merupakan makhluk hidup, maka mereka dapat juga
merasakan lapar, haus, tidak nyaman, ketakutan, rasa sakit dan ingin bebas
melakukan perilaku alaminya. Karena itu perlu diperhatikan kesejahteraan hewan
terutama di Rumah Pemotongan Hewan. Hal-hal mengenai kesrawan di RPH
yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Penerimaan Hewan
a. Hewan yang baru datang diturunkan dari alat angkut
dengan hati-hatidan tidak secara kasar
b. Diadakan pemeriksaan dokuen kesehatan hewan/Surat
Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH)
c. Hewan diistirahatkan pada kandang penampungan yang
layak terlebih dahulu selama minimal 12 jam sebelum dipotong
d. Pada saat diistirahatkan hewan dapat dipuasakan, namun
masih tetap diberi minum yang mencukupi
e. Saat diistirahatkan hewan diperiksa antemortem oleh dokter
hewan atau petugas paramedik dibawah pengawasan dokter hewan
f. Selama masa pengistirahatan hewan diperlakukan secara
wajar
 Persiapan Penyembelihan
a. Sebelum hewan dipotong seluruh peralatan dan ruang
pemotongan harus sudah siap dan bersih
b. Sebelum hewan masuk ruang pemotongan harus
dibersihkan dahulu dengan air agar dalam proses selanjutnya kotoran
tidak mencemari karkas/daging
c. Sebelum hewan dipotong hewan harus ditimbang
d. Dalam memasukkan hewan ke dalam ruang pemotongan
melalui gang way harus dengan cara wajar, tidak secara kasar dan
menimbulkan hewan kesakitan dan stress
 Penyembelihan
a. Pemotongan hewan dapat dilakukan dengan melakukan
pemingsanan terlebih dahulu atau tidak
b. Apabila hewan dipingsankan terlebih dahulu cara
pemingsanannya harus mengikuti fatwa MUI tentang tata cara
pemingsanan yang diperbolehkan
c. Jika hewan tidak dipingsankan terlebih dahulu, tata cara
merobohkan hewan harus sesedikit mungkin menyebabkan hewan
kesakitan/stress
d. Penyembelihan harus menggunakan pisau yang tajam dan
dilakukan secepat mungkin dan tepat memotong tenggorokan,
kerongkongan, pembuluh nadi leher dan pembuluh balik besar pada
leher.
e. Proses selanjutnya, yaitu pengulitan, pelepasan kepala,
pengeluaran jeroan dan pemotongan karkas dilakukan setelah hewan
benar-benar mati
f. Pemastian kematian hewan dapat dilihat dari hilangnya
refleks palpebra/kelopak mata
Dengan melaksanakan kesejahteraan hewan di RPH maka daging/karkas
yang diperoleh dapat dinyatakan ASUH, dan masyarakat dapat mengonsumsi
dengan perasaan tenteram karena sudah dijamin oleh RPH yang mengeluarkan
daging tersebut. Penerapan kesrawan pada hewan ternak yang akan dipotong akan
meningkatkan kualitas daging yang dihasilkan, tidak menyebabkan kecacatan
pada karkas maupun hasil sampingannya seperti kulit, jeroan dan sebagainya,
tidak menurunkan nilai gizi serta tidak membahayakan kesehatan konsumen.

3.4.2. UU Kesrawan
Dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan (Keswan) pada Pasal 66 ayat 1 dinyatakan bahwa untuk
kepentingan kesejahteraan hewan dilakukan tindakan yang berkaitan dengan
penangkapan dan penanganan; penempatan dan pengandangan; pemeliharaan dan
perawatan; pengangkutan; pemotongan dan pembunuhan; serta perlakuan dan
pengayoman yang wajar terhadap hewan sedangkan ayat 2 menyatakan
Ketentuan mengenai Kesejahteraan Hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan secara manusia yang meliputi :
1. Penangkapan dan penanganan satwa dari habitatnya harus sesuai dengan
ketentuan peraturan perundangan-undangan di bidang konservasi;
2. Penempatan dan pengandangan dilkukan dengan sebaik-baiknya sehingga
memungkinkan hewan dapat mengekspresikan perilaku alaminya;
3. Pemeliharaan, pengamanan, perawatan, dan pengayoman hewan dilakukan
dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas dari rasa lapar dan haus, rasa
sakit, penganiayaan dan penyalahgunaan, serta rasa takut dan tertekan;
4. Pengangkutan hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga hewan bebas
dari rasa takut dan tertekan serta bebas dari penganiayaan;
5. Penggunaan dan pemamfaatan hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya
sehingga hewan bebas dari penganiayaan dan penyalahgunaan;
6.Pemotongan dan pembunuhan hewan dilakukan dengan sebaik-baiknya
sehingga hewan bebas dari rasa sakit, rasa takut dan tertekan, penganiayaan,
dan penyalahgunaan; dan
7.Perlakuan terhadap hewan harus dihindari dari tindakan penganiyaan dan
penyalahgunaan.
Penerapan KESRAWAN (hewan produksi) dalam penyediaan daging
(ideal) mulai dari peternakan sampai penyembelihan. Penerapan Kesrawan harus
ditegakkan di RPH dan RPU dengan memperlakukan hewan yang akan
disembelih dengan penuh rasa kasih sayang yang menjadi amal yang sangat
dianjurkan. Makna penerapan KESRAWAN dalam penyediaan daging :
1. Sesuai dengan konsep “Halalan dan Thoyyiban”.
2. Menghasilkan daging yang berkualitas baik, aman dan layak
konsumsi.
3. Memenuhi perlakuan hewan secara ikhsan.
Adapun salah satu kegiatan di RPH dan RPU yang perlu diantisipasi
berkaitan dengan penerapan Kesrawan adalah kegiatan mulai dari hewan masuk
ke RPH/RPU sampai dengan penyembelihan hewan untuk menghasilkan daging.

BAB IV
KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan
Peningkatan mutu dan keamanan produk olahan hasil ternak diupayakan
dengan penanganan hewan dan daging di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang
dilakukan dengan baik karna apabila penanganan hewan dan daging di RPH
kurang baik dan tidak higienis akan berdampak terhadap kehalalan, mutu dan
keamanan daging ASUH dan akan berdampak pada kesehatan masyarakat. Serta
perlunya penerapan Produc safety pada RPH (termasuk halal dan kesejahteraan
hewan ) yang mencakup dari penerimaan hewan sampai distribusi daging.

4.2. Saran

Dalam pemotongan hewan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) penting


untuk memperhatikan dan melaksanakan kesejahteraan hewan, karena
berhubungan dengan kualitas daging yang dihasilkan dan dapat atau tidak
dinyatakan sebagai daging yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).

DAFTAR PUSTAKA
Abustam. 2009. Karekteristik Kualitas Daging. www. kualitas- daging.html. di
akses pada tanggal 15 September 2019.

Albright JL. 2007. Animal Welfare Issues, A Critical Analysis.


http://www.nal.usda.gov/awic/pubs 97 issues. di akses pada tanggal 14
September 2019.

Badan Standardisasi Nasional. 1999. SNI No. 01-6159-1999 Tentang Rumah


Potong Hewan. Jakarta: BSN.

Blakely, J. and D. H. Bade, 1992. The Science of Animal Husbandry.


Penterjemah: B. Srigandono. Cet. ke-2. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.

Cheeke, PR. 2004. Contemporary Issues in Animal Agriculture. New Jersey :


Pearson Education, Inc.

Dallas S. 2006. Animal Biology and Care. Edisi kedua. Oxford:Blackwell


Science.

Damron WS. 2003. Introduction to Animal Science. New Jersey:


pearson Education. Hlm: 739-757.

Duncan IJH, Fraser D. 1997. Understanding Animal welfare. Di dalam:


Appleby MC, Hughes BO. Animal welfare. Wallingford: CABI. Hlm:
19-32.

Gregory NG. 2005. Animal Welfare and Meat Sciance. Wallingford:


CABI Publishing.

Harris KB, Jeff WS. 2003. Best Practices for Beef Slaughter. National
Cattlemen’s Beef Assocation: Depertemen of Animal Science, Texas
A&M University.
Jones RB. 2006. Fear and Distress. Di dalam: Appleby MC, Hughes BO.
Animal Welfare. Wallingford: CABI. Hlm: 75-87.

Koswara, O., 1988. Persyaratan Rumah Pemotongan Hewan dan Veterinary


Hygine Untuk Eksport Produk-produk Peternakan. Makalah Seminar
Ternak Potong, Jakarta.

Lestari, P.T.B.A., 1993. Rancang Bangun Rumah Potong Hewan di Indonesia. P.


T. Bina Aneka Lestari, Jakarta.

Lembaga Pengkajian Obat-Obatan dan Kosmetik-Majelis Ulama Indonesia. 2008.


Pedoman pemenuhan kriteria sistem jaminan halal di rumah potong
hewan. Jakarta: LPPOM-MUI.

Lembaga Pengkajian Obat-Obatan dan Kosmetik-Majelis Ulama Indonesia. 2012.


Pedoman pemenuhan kriteria sistem jaminan halal di rumah potong
hewan. Jakarta: LPPOM-MUI.

Magnen, L. 2005. The State of Animal. www.legalitas.org [12 september


2019 ]

Manual Kesmavet, 1993. Pedoman Pembinaan Kesmavet. Direktorat Bina


Kesehatan Hewan Direktorat Jendral Peternakan, Departemen Pertanian,
Jakarta.

Matnur, H. R. Ilmu dan Teknologi Daging (diktat). Fakutas Peternakan.


Universitas Mataram.

Menteri Pertanian.Surat Keputusan Nomor13/Permentan/OT.140/1/2010 tentang


Persyaratan rumah potong hewan ruminansia dan Penanganan daging
(meat cuttingplant)

Moberg, GP. 2000. Biological Response to Stress : Implication for


Anmal Welfare. Wallungford Oxon : CAB International. Hlm: 1-21.
Phillips, CJC. 2002. Animal Behavior and Welfare. Oxford : Blackwell
Science.

Nuhriawangsa, A. M. P., 1999. Pengantar Ilmu Ternak dalam Pandangan Islam:


Suatu Tinjauan tentang Fiqih Ternak. Program Studi Produksi Ternak,
Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Ressang, A. 1962. Ilmu Kesehatan Daging (Meat Hygeine). Edisi Pertama.


Fakultas Kedokteran Hewan. IPB. Bogor.

Smith, G. C., G. T. King dan Z. L. Carpenter, 1978. Laboratory Manual for Meat
Science. 2nd ed. American Press, Boston, Massachusetts.

Soeparno, 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan ke-1. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta.

Suparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging Cetakan ke Empat. Gadjah Mada,
Yogyakarta

Swatland, H. J., 1984. Structure and Development of Meat Animals. Prentice-Hall


Inc., Englewood Cliffs, New Jersey.

Syamsir, E. 2010. Mengenal Marinasi. http://ilmupangan. Blogspot.com. di akses


pada tanggal 13 September 2019.

Tannenbaum, J. 1991. Ethics and animal Welfare : The Inextricable


Connection J of Am Vet Med Aso.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan


(Keswan)