Anda di halaman 1dari 20

REPRODUKSI DAN PEMULIABIAKAN TERNAK

“ PERBANDINGAN KAREKTERISTIK FENOTIPE DAN GROWTH


HORMONE ANTARA AYAM KAMPUNG DAN AYAM BANGKOK ”

Dosen Pengampu :
Dr. Ir. Depison, MP.

Disusun Oleh
LUSI AMIDIA P2E119004

MAGISTER ILMU PETERNAKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.. Latar Belakang

Indonesia memiliki ayam lokal yang berpotensi tinggi untuk dikembangkan


produktivitasnya. Menurut Nataamijaya (2010), Indonesia memiliki kurang lebih 32
rumpun ayam lokal yang populasinya tersebar merata, dan masing-masing jenis
memiliki keunggulan tersendiri. Ayam Kampung, dan ayam Bangkok dimasukkan ke
dalam rumpun ayam lokal Indonesia. Ayam Bangkok adalah hasil persilangan antara
ayam Melayu dengan ayam lokal di daerah Ayutthaya, Bangkok Utara, yang ternyata
berhasil dikembangkan sebagai bibit unggul, baik sebagai ayam petelur dan pedaging.
Ayam Bangkok memiliki ayam tipe malayoid, perkawinan yang dilakukan tetap
mempertahankan keasliannya (Roberts 2008). Ayam bangkok memiliki sifat yang
cenderung agresif sehingga cocok dijadikan ayam tipe aduan. Postur tubuh yang tegak,
ringan, dan perototan yang kuat memberikan nilai tambah untuk bertarung. Hal ini
berbeda dengan ayam kampung yang juga merupakan salah satu genetik ternak asli
Indonesia yang dimanfaatkan sebagai ayam pedaging atau penghasil telur. Ayam
Kampung merupakan salah satu sumber protein hewani yang penting di Indonesia
terutama umat muslim (Nishida et al., 1980).
Keunggulan ayam kampung adalah memiliki ketahanan yang lebih tinggi
terhadap penyakit dibanding ayam ras, sedangkan kelemahannya adalah
produktivitasnya yang lebih rendah dibanding ayam ras (Rasyaf, 2011). Hal ini sesuai
dengan pernyataan (Darwati, 2001) bahwa ayam kampung memiliki pertumbuhan
lambat untuk mencapai bobot potong dibandingkan ayam ras pedaging. Oleh karena
itu, perlu dilakukan perbaikan mutu genetik ayam kampung untuk meningkatkan
efesiensi budidaya ayam kampung dengan melakukan seleksi. Seleksi dilakukan
dengan cara pengamatan fenotipe.
Karakterisasi fenotipe terbagi menjadi 2 yaitu kualitatif dan kuantitatif, sifat
kualitatif meliputi warna bulu, pola bulu, corak bulu, bentuk jengger, lobs telinga,
warna iris mata, dan warna ceker. Sifat kualitatif dipengaruhi oleh 1 atau lebih gen dan
sedikit dipengaruhi oleh lingkungan sehingga menghasilkan variasi genetik. Sifat
kuantitatif berdasarkan pengamatan ukuran permukaan tubuh. Pengamatan sifat
kuantitatif dilakukan untuk melihat adanya perbedaan ukuran tubuh antar individu
sehingga dapat mengindikasikan keragaman antar individu. Hal ini sesuai dengan
pernyataan (Kumnirdpetch, 2002) sifat kualitatif adalah sifat yang dapat dideskripsikan
dimana individu-individu dapat diklasifikasikan ke dalam satu, dua kelompok atau
lebih dan pengelompokan itu berbeda jelas satu sama lain, sedangkan sifat kuantitatif
adalah sifat yang dapat diukur, yang dipengaruhi oleh banyak pasangan gen dan sangat
dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Karakterisasi fenotipik diperlukan dalam
mengidentifikasi dan mendokumentasikan keragaman jenis makhluk hidup
berdasarkan atribut yang diamati. Hal ini sesuai pernyataan Noor (2008) karakterisasi
fenotipik juga bertujuan untuk melihat keragaman antara sifat kualitatif dan kuantitatif
yang ada di Indonesia, keragaman dapat dipengaruhi oleh seleksi alam, mutasi,
perkawinan keluarga, migrasi, arus genetik secara acak, reproduksi seksual, dan
rekombinasi.
Salah satu metode lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu genetik
ternak dengan seleksi berbasis gen spesifik yang berpengaruh pada sifat pertumbuhan.
Growth Hormone Secretagogue Receptor (GHSR), terlibat dalam banyak fungsi
fisiologis, termasuk sekresi hormone pertumbuhan hipofisis, asupan makanan dan
pengeluaran energi (Fang et al. 2010). Gen GHSR adalah gen yang berperan penting
sebagai resptor utama dalam proses sekresi GH atau yang sering disebut dengan growth
hormone (Masayasu 2005). Gen GHSR terdiri dari 2 exon dan 1 intron (Niarami et al.,
2014). Pada studi lain Gen GHSR terbukti mempengaruhi sifat perlemakan daging
pada ayam Xinghua. GHSR juga berkaitan dengan tingkat obesitas pada manusia dan
tikus. GHSR berinteraksi dengan GHRL dalam proses bioaktivasi melalui jalur
neuroendokrin (Lei et.al., 2007). Menurut Nie et al. (2009) Gen GHSR juga terlibat
dalam sekresi GH, food intake, dan homeostatis energi. Faktor genetik juga menjadi
salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya pertumbuhan ayam kampung. Genetik
ayam kampung sangat beragam yang diekspresikan sebagai keragaman sifat kualitatif
dan kuantitatif. Adapun langkah untuk mengetahui keragaman sifat-sifat genetik
tersebut, diawali dengan identifikasi secara individual kemudian dicari frekuensi dari
sifat-sifat genetik tersebut. Berdasarkan penjelasan tersebut maka penulis melakukan
“perbandingan karakteristik fenotipe dan gh antara ayam kampung dan ayam
bangkok”.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apakah ada perbedaan keragaman fenotipe antara ayam kampung dan ayam
bangkok.
2. Apakah ada perbedaan growth hormone antara ayam kampung dan ayam
bangkok.

1.3. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :


1. Mengetahui perbedaan karakteristik fenotipe antara ayam kampung dan ayam
bangkok.
2. Mengetahui perbedaan growth hormone antara ayam kampung dan ayam
bangkok.

1.4. Manfaat

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah dapat dijadikan sebagai
informasi untuk peningkatan produktivitas ternak melalui perbaikan mutu genetik
dimasa akan datang, baik bagi para peneliti, pengambil kebijakan, pemuliabiakan,
maupun masyarakat.
BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN

2.1. Karekteristik Fenotipe

Di negara berkembang, usaha ternak ayam lokal berperan penting dalam


meningkatkan pendapatan masyarakat karena usaha tersebut melibatkan sebagian besar
penduduk miskin (Sonaiya 2007). Pengembangan ayam secara umum harus disertai
dengan perbaikan manajemen pemeliharaan dan peningkatan mutu genetik.
Peningkatan mutu genetik ayam baik sebagai penghasil daging atau penghasil telur
serta hewan piaraan perlu dilakukan agar diperoleh ayam-ayam yang unggul. Untuk
mewujudkan hal tersebut dibutuhkan manejemen pemeliharaan yang meliputi:
pengelolaan kandang, kualitas pakan dan cara pemberiannya, pencegahan dan
pemberantasan penyakit, progam seleksi (pemilihan bibit unggul), dan pengendalian
sistem perkawinan secara alami maupun inseminasi buatan.
Menurut Anonim (2012) sistem pemeliharaan ternak yang digunakan
masyarakat bervariasi, salah satu sistem pemeliharaan yaitu semi intensif. Hal ini
menyebabkan keragaman fenotipe maupun genotipe karena tidak dilakukan pengaturan
pemeliharaan, untuk seleksi perkawinan (Sartika et.al, 2006). Studi keragaman fenotipe
dapat dilakukan untuk mengetahui keragaman genetik ayam. Penelitian-penelitian
dasar mengenai keragaman dan karakteristik morfologi perlu dilakukan agar diperoleh
data yang valid sehingga kebijakan pemuliaan dapat dilakukan.

2.2. Sifat Kualitatif

Secara teoritis berbagai aktivitas manusia yang dapat menyebabkan terjadinya


penurunan populasi satwa liar maupun ternak lokal. Ayam merupakan salah satu
sumber daya lokal yang potensial dalam menunjang pendapatan masyarakat lokal.
Ayam mempunyai variasi fenotipe yang cukup besar didaerah yang berbeda di
Indonesia. Adapun fenotipe pada ternak dapat dibedakan atau dikelompokkan, seperti
warna bulu, warna shank dan bentuk jengger pada ayam disebut sebagai sifat kualitatif.
Sifat kuantitatif merupakan sifat yang dapat diukur seperti bobot badan, ukuran-ukuran
tubuh, produksi daging dan telur. Ekspresi sifat kualitatif ditentukan oleh satu gen
tunggal sampai dua pasang gen. Perbedaan sifat ini hampir seluruhnya ditentukan oleh
perbedaan genetik, sedangkan perbedaan lingkungan memberikan pengaruh yang kecil
bahkan tidak ada, sehingga variasi sifat kualitatif juga merupakan variasi genetik
(Warwick et.al., 1995). Sifat kualitatif sering dipertimbangkan dalam program
pemuliaan, karena sifat-sifat ini dapat dijadikan merek dagang tertentu atau dapat juga
dijadikan ciri dari breed tertentu. Sifat kualitatif dipengaruhi oleh satu atau 9 beberapa
pasang gen (Warwick at al. 1995 ; Noor 1996). Ciri-ciri kegenetikaan luar dapat
dijadikan patokan untuk menentukan suatu bangsa ayam. Ciri-ciri ini ditentukan oleh
gen-gen yang terdapat pada kromosom autosom maupun kromosom kelamin. Hutt
(1949), Jull (1951), Lasley (1978) dan Buntaran (1984) menyatakan bahwa ayam yang
sekarang banyak dipelihara orang mempunyai 78 buah kromosom yang terdiri atas 38
pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom kelamin (jantan ZZ dan betina
ZW). Beberapa sifat kualitatif penting yang merupakan ciri-ciri 10 khas yang dipakai
sebagai patokan untuk penentuan suatu bangsa ayam diantaranya adalah warna bulu,
warna kerabang, warna cakar (shank) dan bentuk jengger yang tidak dipengaruhi oleh
lingkungan. Selanjutnya kemurnian suatu bangsa ayam dapat ditentukan dari
keseragaman dalam ciri-ciri kegenetikaan luar tersebut.

2.2.1. Warna Bulu


Ayam kampung mempunyai warna bulu yang bervariasi, ada yang hitam (E-),
pola warna bulu tipe liar (e+ ), pola warna bulu kolumbian. Warna bulu tipe bulu liar
pada jantan dan bulu hitam pada betina hal ini disebabkan karena ayam Kampung
masih mempunyai jarak genetik yang dekat dengan ayam hutan merah Sumatera
(Gallus gallus gallus), dimana ciri-ciri warna bulunya yang khas untuk jantan adalah
tipe liar dan untuk betina coklat bergaris hitam. Hal ini sesuai dengan pendapat Nishida
et al. (1980) dan Mansjoer (1985) menyatakan bahwa ayam Kampung yang terdapat di
Indonesia mempunyai jarak genetik yang lebih dekat terhadap ayam hutan merah
Sumatera (Gallus gallus gallus) dan ayam hutan merah Jawa (Gallus gallus javanicus)
dibandingkan dengan jarak genetiknya dengan ayam hutan hijau (Gallus varius).
Bila dibandingkan dengan hasil penelitian Pratama (2006) maka penelitian ini
tidak terlalu berbeda yaitu warna bulu ayam Kampung banyak ditemui adalah warna
bulu tipe bulu liar yaitu 54.37 % untuk yang jantan dan warna bulu hitam yaitu 52.73
% untuk yang betina. Sementara itu Mulyono dan Pangestu (1996) menyatakan ayam
Kampung mempunyai bulu Columbian, kerlip, bulu emas, hitam dan tipe bulu liar.
Siswandi (1996) melaporkan bahwa warna dasar bulu ayam Kampung jantan adalah
hitam, sedangkan pada bulu bagian leher dan punggung berwarna keemasan. Hal ini
sesuai pernyataan North dan Bell (1990) gen pola bulu keperakan (S-) dan pola bulu
keemasan (ss) merupakan gen terkait kelamin. Pada ayam terdapat warna dan pola
warna bulu. Pola warna bulu adalah hasil interaksi genetik serta adanya pengaruh dari
hormon kelamin jantan dan betina. Sifat-sifat kualitatif seperti warna bulu sangat
bervariasi, ada yang berwarna hitam (EE, Ee+, Ee), warna bulu tipe liar (e+e+, e+e),
tipe columbian (ee), bulu putih (I-cc) serta warna lurik (B-, Bb) masih bercampur baur.
Bulu sayap dan ekor berwarna hitam diselingi satu atau dua lembar bulu berwarna
putih. Dimana warna bulu ayam jantan yang banyak ditemukan adalah hitam dan
sangat jarang yang berwarna polos. Sedangkan ayam Kampung betina umumnya
berwarna hitam berbintik putih atau bintik coklat.
Pada betina gen terkaitnya bersifat homozigot, sedangkan 11 pada jantan bisa
bersifat homozigot atau heterozigot. Hutt (1949) menyatakan bahwa ayam yang
berbulu hitam polos selain memiliki warna hitam (E) juga mempunyai gen warna (C)
yang mengatur penampilan warna bulu. Warna bulu keemasan (ss) bersifat resesif
terhadap warna hitam dan warna perak (S-). Warna bulu putih yang terdapat pada
leghorn bersifat dominan terhadap bulu berwarna, warna putih tersebut disebabkan
oleh adanya gen penghambat (I) terhadap pigmen hitam. Warna buluh putih pada
unggas ada juga yang disebabkan oleh tidak adanya pigmentasi pada bulu dan memang
tidak memiliki gen warna (C). Ayam tersebut adalah ayam Albino dan sifat gen bulu
putih ini bersifat resesif terhadap gen bulu berwarna. Gen warna bulu keemasan (ss)
dan perak (S-) terpaut pada kromosom kelamin, demikian pula pola bulu lurik. (ee),
bulu putih (I- atau cc) serta corak bulu lurik (B-).
Demikian pula warna kulit ada yang putih/kuning (Id), hitam/abu-abu atau
kehijauan (idid). Mansjoer et al. (1989) mengemukakan bahwa pada ayam Kampung
yang dipelihara di pedesaan, frekuensi gen warna bulu hitam sebesar 0,20, warna bulu
tipe liar 0,43, tipe columbian 0,35, warna kulit putih/kuning sebesar 0,34 dan bentuk
jengger tunggal sebesar 0,37. Warna kulit kuning merupakan turunan dari tetuanya
yaitu ayam kampung berleher gundul (Lestari et al., 2013). Warna kulit kuning
disebabkan kelebihan zat besi (Fe) penyusun Hemoglobin (Hb) yang diturunkan pada
anaknya (Purniawati, 2014). Terdapatnya zat besi (Fe) dalam jumlah berlebihan akan
disimpan dalam bentuk feritin pada hati. Feritin menyebabkan warna kuning pada
seluruh tubuh.
Ayam bangkok adalah sifat kualitatif berdasarkan pedoman FAO (1986).
Penentuan karakteristik kualitatif sebagai berikut: Warna bulu dapat dibedakan
menjadi 2 jenis yaitu warna putih dan berwarna. Warna bulu putih jika permukaan bulu
ayam berwarna putih seluruhnya. Dikatakan berwarna jika ditemukan warna lain selain
warna putih; Pola warna bulu dibedakan menjadi warna hitam, liar, dan kolumbian.
Pola hitam ditentukan jika bulu ayam berwarna hitam polos yang merata pada tubuh
ayam. Pola warna liar ditentukan apabila warna hitam ada pada bagian dada dan
ventral. Pola warna kolumbian ditentukan apabila ada pembatas warna pada leher,
sayap, dan ekor pada umumnya berwarna cokelat sebagai pembatas. Warna colombian
dipengaruhi oleh faktor pendistribusian dan penghambat distribusi eumelanin. Faktor
pendistribusi eumelanin adalah lokus E (Hutt, 1949). Warna bulu putih/serawah pada
ayam aduan disebabkan oleh genotipe (I-) (Rusdin, 2007). Penggolongan warna bulu
ini dipengaruhi oleh macam-macam pigmen diantaranya pigmen melanoblast yang
dibentuk saat awal embrio sekitar 8 jam inkubasi (Tedi, 2001). Warna bulu putih pada
ayam yang membawa gen I (inhibitor) kadang-kadang resesif terhadap warna bulu lain
sedangkan warna bulu ayam yang membawa gen i (gen pembawa sifat warna) tidak
selalu hitam tergantung ukuran dan pengaturan granula pigmen (Hutt, 1949). Warna
bulu merah keemasan/cendana disebabkan genotipe (ss) dan adanya pigmen
pheomelanin (Tedi, 2001). Warna bulu hitam/ijo slem dipengaruhi oleh pigmen
melanin dan disebabkan oleh variasi genotip EE, Ee+, Ee (Tantu, 2007). Menurut
Kusuma (2002) bahwa warna hitam polos disebabkan gen E (hitam polos) dan
diekspresikan pada penampilan warna bulu hitam diseluruh bagian tubuh. Warna bulu
liar/brumbun dipengaruhi oleh gen (e+-) (Rusdin, 2007). Warna liar pada lapisan bulu
utama dinamakan kerlip bulu yang terdiri dari kerlip perak (silver) dan dilambangkan
dengan gen S. Emas (gold) dan dilambangkan dengan gen s. Kerlip bulu ditemukan
pada ayam, baik yang berbulu hitam polos maupun yang berbulu putih, namun kurang
terlihat pada ayam yang memiliki gen autosomal merah atau yang memiliki bulu
dengan kombinasi warna yang keragamannya sangat kompleks. Gen pembawa sifat
kerlip bulu ini terdapat pada kromosom kelamin (Hutt, 1949). Warna bulu lurik/buik
pada ayam aduan disebabkan oleh fenotipe warna bulu lurik/barret (Br, Bb) (Rusdin,
2007). Warna bulu ini termasuk kedalam individu ayam dengan warna bulu hitam dan
variasiputih yang diduga adanya pengaruh dari turunan warna bulu ayam hutam abu-
abu yang memiliki warna dasar tubuh hitam dengan bintik berwarna merah dan bulu
leher warna hitam putih.

2.2.2. Warna Shank


Warna shank pada ayam kampung ditemukan dua jenis yaitu warna kuning dan
putih Budiwati (1982) dan Lestari (1998). Menurut Ensminger (1992), beberapa warna
cakar berbeda ditemukan pada ayam dari kombinasi pigmen yang berbeda di lapisan
atas dan bawah kulit. Warna cakar kuning dipengaruhi oleh adanya pigmen karotenoid
pada epidermis dan tidak adanya pigmen melanin. Warna shank kuning atau putih
ditentukan apabila ditemukan shank berwarna kuning atau putih pada kaki ayam,
sedangkan warna shank hitam atau abu-abu ditentukan apabila ditemukan shank
berwarna hitam atau abu-abu pada ayam. Warna cakar hitam dipengaruhi oleh adanya
pigmen melanin pada epidermis. Bila kedua pigmen tersebut tidak ada maka cakar
berwarna putih. 12 Karakteristik warna cakar kuning atau putih (id) disebabkan oleh
kurangnya kandungan melanin pada jaringan kulit (dermis). Kandungan melanin dalam
lapisan kulit (dermis) dikontrol oleh gen resesif terkait kelamin (id) dalam keadaan
homozigot atau heterozigot. Warna cakar hitam Id (inhibitor dari melanin dermis)
bersifat dominan tidak lengkap terhadap id. Pada ayam yang memiliki warna kulit putih
dan mengandung gen resesif (idid), warna cakarnya biru gelap dan pada ayam berwarna
kulit kuning memiliki warna cakar hijau tua atau abu-abu (Somes 1988; Hutt 1949).
Bangsa ayam yang banyak memiliki warna shank hitam yaitu ayam Inggris
dengan ciri-ciri warna kulit gelap, cuping telinga merah dan shank berwarna hitam
(Yuwanta, 2008). Menurut Rusdin (2007) bahwa warna shank ayam disebabkan
beberapa pigmen tertentu yang terdapat pada dermis dan epidermis. Karakteristik
warna shank kuning disebabkan karena adanya pengaruh lemak atau pigmen pada
lapisan epidermis. Menurut Tarigan (2010) bahwa warna shank kuning disebabkan
karena adanya pengaruh pigmen lipokrom pada lapisan epidermis. Karakteristik warna
shank putih disebabkan karena tidak adanya pengaruh pigmen pada lapisan dermis
maupun epidermis. Warna shank putih pada ayam aduan digolongkan kedalam fenotip
warna cakar berwarna putih/kuning (IdId) (Rusdin, 2007). Warna shank dibedakan
menjadi warna kuning atau putih dan hitam atau abu-abu.

2.2.3. Bentuk Jengger


Bentuk jengger ada yang tunggal (pprr), ros (ppR-), walnut (P-R-) atau bentuk
kacang polong/Pea (P-rr). Hal ini sesuai dengan pendapat Afriani et al., (2003) bahwa
bentuk jengger ayam kampung terdiri atas bentuk pea 29%, single 21%, walnut 12%
dan rose 38%. Pratama (2006) maka hasil penelitian ini tidak berbeda jauh, bahwa
bentuk jengger ayam Kampung yang dominan pada ayam Kampung jantan adalah
tunggal (60,4 %) dan pada betina bentuk pea (68,81 %). Hal ini sesuai dengan ciri khas
ayam hutan merah (Gallus gallus) yang merupakan moyang sebagian ayam piara yang
ada sekarang yang mempunyai bentuk jengger tunggal. Menurut Tarigan (2010) ciri
khas ayam hutan merah (Gallus gallus) yang merupakan moyang sebagian ayam piara
yang ada sekarang mempunyai bentuk jengger tunggal. Perbedaan bentuk jengger
disebabkan karena terjadi perkawinan silang antara berbagai macam jenis ayam
kampung, sehingga berinteraksi atau saling mempengaruhi antara gen-gen yang
dimiliki (Mulyono et al., 2009), Bentuk jengger tunggal disebabkan karena adanya
pengaruh genotipe heterzigot resesif rrpp ,sehingga mudah terpengaruh dan berubah
bentuk/tipe. Menurut Suryo (2012), ayam berjengger walnut merupakan hasil
persilangan ayam berjengger mawar (Rp) dengan ayam berjengger pea (rP). Ayam
berjengger mawar merupakan hasil persilangan dari bentuk pea (rP) dengan bentuk
jengger tunggal (rp).
Pada Ayam Bangkok bentuk jengger dibedakan menjadi bentuk jengger kapri
dan tunggal. Bentuk jengger kapri ditentukan apabila ditemukan bentuk jengger berpial
3 pada ayam, sedangkan bentuk jengger tunggal ditentukan apabila ditemukan bentuk
jengger berpilah satu atau tunggal pada ayam. Bentuk jengger pea dan walnut
didapatkan karena pada ayam aduan jengger kebanyakan dipotong untuk
memperlihatkan keindahan tampilan dari ayam aduan. Semakin tinggi ukuran jengger
yang terdapat pada ayam maka semakin banyak hormon reproduksi yang tersimpan
(Subekti dan Arlina, 2011), hal inilah yang menjadikan para penghobi adu ayam dari
jenis ayam kampung lokal jantan memotong jengger yang berukuran panjang untuk
mencegah semakin banyak hormon reproduksi karena ayam aduan tidak dilakukan
seleksi atau dikawinkan selama masih digunakan sebagai ayam aduan.

2.2.4. Warna cuping


Warna cuping dibedakan menjadi merah, putih, dan perpaduan antara merah
dan putih dengan warna dominan merah. Menurut Rusdin (2007) bangsa-bangsa ayam
Mediteranean bercuping telinga putih. Sedikitnya ayam kampung yang bercuping
telinga putih karena nenek moyang ayam Mediteranean sudah punah dan sekarang
menjadi ayam kelas Asia (Tarigan, 2010). Menurut Crawford (1990), bahwa sebagian
besar breed ayam mempunyai cuping telinga berwarna merah, tetapi breed dari kelas
mediteranean (Leghorn, Minorca, dan Spanish) mempunyai cuping berwarna putih.
Warna iris mata dibedakan menjadi warna oranye, warna cokelat, dan kuning.
Penampilan atau produksi individu dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan
Hardjosubroto (1994).

2.3. Sifat Kuantitatif

Sifat-sifat produksi dan reproduksi (produktivitas) atau sifat yang dapat diukur
seperti bobot badan, ukuran ukuran tubuh, produksi daging dan telur disebut sebagai
sifat kuantitatif. Berdasarkan ukuran tubuhnya, Sifat kuantitatif merupakan sifat yang
dapat diukur seperti bobot badan, ukuran-ukuran tubuh, produksi daging dan telur.
Ekspresi sifat ini ditentukan oleh banyak pasangan gen (poligen) dan dipengaruhi oleh
faktor lingkungan (Warwick et.al., 1995). Keragaman sifat-sifat kuantitatif dapat
menggambarkan keragaman sifat-sifat produksi. Mansjoer (1985) menyatakan bahwa
koefisien keragaman performans ayam dapat dijadikan patokan untuk memperbaiki
mutu genetik/seleksi lebih lanjut. Ukuran-ukuran tubuh (morfometrik tubuh) yang
penting untuk diamati dan dijadikan penentu karakteristik jenis ayam antara lain adalah
bobot badan, panjang bagian-bagian kaki, panjang sayap, panjang paruh dan tinggi
jengger (Mansjoer et.al., 1989). Keragaman ukuran tubuh ayam kampung disebabkan
oleh keragaman lingkungan dan genotipe. Menurut Tantu (2007) bahwa keragaman
bobot badan ayam kampung jantan dapat dijadikan dasar untuk perbaikan mutu genetik
melalui program seleksi. Lebih lanjut Mansjoer et al., (1996) mengemukakan bahwa
untuk ayam Kampung jantan dewasa, rataan bobot badan sebesar 2,24 kg, panjang
tulang paha/femur 10,93 cm, panjang tulang betis/tibia 16,29 cm, panjang tulang cakar
tarsometatarsus 11,67 cm dan tinggi jengger 3,47 cm dengan koefisien keragaman
untuk bobot badan, panjang tulang paha, panjang tulang betis, panjang tulang cakar
dan tinggi jengger berturut-turut sebesar 16,96, 9,61; 9,27, 10,28 dan 48,13%. Jarak
ideal ukuran tulang pubis pada ayam kampung yaitu sekitar dua jari orang dewasa yang
artinya jika dibuat dalam satuan ukuran mm sekitar 30,00 mm (Yuwanta, 2004).
Tingkat perbedaan bagian tubuh yang tidak berbeda nyata dikarenakan
pengaruh lingkungan yang tidak berpengaruh terhadap perubahan genetik ayam.
Sistem pemeliharan dan pemberian pakan yang tidak jauh berbeda. Menurut Noor
(2008), perbedaan yang dapat diamati pada ternak disebabkan oleh faktor genetik dan
faktor lingkungan. Keragaman sifat-sifat kualitatif dapat menggambarkan keragaman
sifat-sifat produksinya, seperti halnya dikemukakan Mansjoer (1985) bahwa koefisien
keragaman performans ayam Kampung yang dipelihara secara tradisional untuk bobot
badan dapat mencapai 21,9–24,8%, produksi telur 26%, bobot telur 17,6, dan daya tetas
23,3%. Koefisien keragaman tersebut dapat dijadikan patokan untuk memperbaiki
mutu genetik/seleksi lebih lanjut. Morfologi ayam Bangkok umumnya lebih besar dan
kekar daripada ayam ras petelur pada umumnya, sehingga selain dimanfaatkan sebagai
ayam aduan, ayam ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pertumbuhan hasil
persilangan dengan ayam ras petelur yang mampu menghasilkan telur diatas 300 butir
setiap tahunnya.

2.2. Growth Hormone

Ayam lokal memiliki keunggulan dibandingkan ayam ras pedaging yaitu


mampu beradaptasi pada lingkungan tropis (Zein dan Sulandari 2012), namun memiliki
kelemahan yaitu laju pertumbuhan yang lambat (Nataamijaya 2010). Salah satu cara
untuk meningkatkan laju pertumbuhan ayam lokal yaitu melalui seleksi terhadap sifat
pertumbuhan. Perkembangan teknologi molekuler dapat dimanfaatkan sebagai salah
satu metode seleksi berbasis MAS (Marker Assissted Selection) yang terbukti dapat
meningkatkan respon seleksi pada keturunan (Sartika et.al., 2004). MAS dapat
diperoleh melalui identifikasi gen-gen utama yang mengontrol sifat pertumbuhan pada
ayam seperti gen IGF2 (Insuline-like Growth Factor 2) dan GHR (Growth Hormone
Receptor). Gen GHSR pada ayam adalah reseptor ghrelin (GHRL), adapun gen GHSR
adalah hormon peptida yang diproduksi oleh proventriculus ayam, yang merangsang
pelepasan hormon pertumbuhan (GH) dan asupan makanan (El-Magd et al. 2016). Gen
GHSR dapat mempengaruhi pertumbuhan dan bobot karkas ayam karena gen tersebut
mempunyai peranan penting dalam proses respon biologis, seperti perkembangan sel,
proliferasi, diferensiasi, konsumsi pakan, dan keseimbangan energi (Tschop et al.
2000). Adapun pertumbuhan dan perkembangan unggas atau ayam dipengaruhi oleh
faktor intrinsik yaitu faktor genetik, faktor nutrisi, dan faktor lingkungan yang saling
bekerja sama dengan faktor fisiologi lainnya. Sebagian hormon dalam tubuh
berpengaruh dalam mengekspresikan pertumbuhan, hormon terbagi menjadi hormon
utama dan hormon esensial. Hormon utama merupakan hormon yang memiliki peran
penting dalam petumbuhan dan dibutuhkan dalam jumlah yang banyak, hormon
tersebut antara lain adalah Growth Hormone (GH), Thyroxine (T4)/Triitodothronine
(T3), Somatomedine dan Steroide (Androgen, Estrogen dan Glucocorticoids). Hormon
esensial yaitu hormon yang dibutuhkan namun tidak dalam jumlah yang banyak,
hormon tersebut antara lain adalah insulin, prolaktin, metabolit vitamin D, dan faktor
pertumbuhan spesifik seperti faktor pertumbuhan epidermal, EGF, Faktor
pertumbuhan saraf, NGF (Scanes, 1984).
Salah satu hormon yang berpengaruh dalam mengekspresikan pertumbuhan
adalah hormon ghrelin. Hormon ghrelin merupakan hormon yang disekresikan di
lambung dan berperan dalam meregulasi nafsu makan. Menurut penelitian Kojima
et.al. (2004) yang menemukan bahwa ghrelin bekerja pada Growth Hormone Releasing
Hormon (GHRH) yang merangsang pelepasan Growth Hormone (GH) dari kelenjar
hipotalamus dan kelenjar hipofisis anterior. Growth Hormone diproduksi oleh
somatotopik yang terletak di kelenjar pituitari anterior. Pada semua jenis burung dan
mamalia, GH merupakan protein yang tersusun atas rantai tunggal residu asam amino
(sekitar 90 asam amino) dan struktur 2 disulfida. GH berhubungan dengan sekresi
granula ke aliran darah yang dipengaruhi oleh growth hormone releasing faktor.
Terdapat 2 faktor yang mempengaruhi sekresi hormon yaitu Growth Hormon
Releasing Faktor (GRF) dan Thyrotropin Releasing Hormone (TRF) (Scanes, 1984).
Gen IGF2 terletak pada kromosom 5 terdiri dari 4 exon dan 3 intron dengan
ukuran 1 936 pb dan mengkode 226 asam amino (Ensembl nomor akses:
00000006555). Keragaman gen IGF2 diketahui berasosiasi positif dengan bobot badan
dan bobot karkas umur 17 minggu pada ayam beijing you (Tang et.al,. 2010) serta
konsentrasi plasma IGF2 pada ayam black penedesenca (Amills et al. 2003). IGF2
berfungsi sebagai promotor pertumbuhan melalui proliferasi sel dan amplifier
fisiologis dari sekresi glucose mediated insulin (Zhou et al. 1995). Beberapa penelitian
membuktikan bahwa konsentrasi plasma IGF2 dalam darah ayam tidak dipengaruhi
oleh status nutrisi (Kita et.al, 1996; McMurty et.al., 1998).
Gen GHR terletak pada kromosom Z terdiri dari 10 exon dan 9 intron dengan
ukuran 2 468 pb dan mengkode 608 asam amino (Ensembl nomor akses:
00000014855). Keragaman gen GHR diketahui berasosiasi positif dengan bobot tetas,
bobot umur 35-63 hari dan tebal lemak subkutan pada ayam xinghua persilangan
(Ouyang et.al., 2008). Gen GHR pada ayam memiliki keunikan karena adanya bagian
exon 3 yang hilang menyebabkan perbedaan panjang mRNA yaitu 5.5, 4.3, 3.2 and 0.8
kb (Tanaka et al. 1995; Mao et.al., 1997). GHR memiliki fungsi sebagai reseptor GH,
terlibat dalam regulasi pertumbuhan setelah kelahiran serta reservoir GH dalam plasma
darah sehingga dapat menjadi modulator atau inhibitor bagi kerja GH (Isaksson et.al.,
1985). Sutau populasi memiliki keragaman genetik yang tinggi jika memiliki nilai
heterozigositas lebih dari 0.5 (Allendorf dan Luikart 2007). Secara keseluruhan,
keragaman gen IGF2 pada semua populasi lebih tinggi dibandingkan keragaman gen
GHR. Dalam bidang pemuliaan ternak, keragaman gen berguna untuk menentukan
sistem pemuliaan yang akan dilakukan yaitu seleksi atau persilangan (Noor 2010).
BAB III
KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari penulisan makalah ini adalah sifat fenotipik kualitatif

ayam memiliki keragaman (varabilitas) yang hampir sama. Sifat fenotipik kuantitatif

panjang sayap panjang tibia, dan panjang femur tidak berbeda, ukuran jengger berbeda

berdasarkan pengukuran pada penelitian yang pernah dilakukan. Sedangkan secara

keseluruhan gen GHSR mempengaruhi bobot potong dan pertambahan bobot harian

pada ayam berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan.

3.2. Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang perbandingan sifat fenotipik


ayam bangkok untuk mengetahui potensi ayam bangkok untuk dijadikan rumpun ayam
asli Indonesia dan keragaman gen pertumbuhan dengan sifat pertumbuhan pada ayam
lokal perlu dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih besar. Penelitian pengaruh
lingkungan terhadap genetik perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat keaktifan gen
pertumbuhan pada ayam kampung dan ayam bangkok yang dipelihara di lingkungan
tropis.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Cara Pemeliharaan Ayam Kampung Sistem Slowfood. Surabaya.


Afriani, T., D. Ahmat, dan Afrianto. 2003. Karakteristik Genetik Eksternal Ayam
Bangkok. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang.
Darwati S, Martojo H. 2001. Pertumbuhan persilangan pelung x kampung pada
pemeliharaan intensif. Med Pet. 24:8-11.
El-Magd MA, Ayman A, Saleh, Tamer M, Abdel-Hamid, Rasha M, Saleh, Mohammed
AA. 2016. Is really endogenous ghrelin a hunger signal in chickens? Association
of GHSR SNPs with increase appetite, growth traits, expression and serum level
of GHRL, and GH. Gen Comp Endocr. 237 131–139
Ensminger ME. 1992.Poultry Science. Ed ke-3. Illinois (US): Interstate Publishers, Inc.
Food and Agriculture Organization of The United Nations. 1986. Animal Genetic
Resources Data Banks: Descriptor Lists for Poultry.Animal Production and
Health Paper. Rome (IT): FAO.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Gramedia,
Jakarta.
Hutt, F.B. 1949. Genetics of the fowl. McGraw-Hill Book Company, Inc. New York,
Toronto, London.
Isaksson OGP, Eden S, Jansson JO. 1985. Mode of action of pituitary growth on target
cells. Ann Rev of Physiol. 47:483-499.
Jull MA. 1951. Poultry Husbandry. Ed ke-3. New York (US): Mc Graww- Hill Book
Company, Inc.
Kita K, Tomas FM, Owens PC, Knowles SE, Forbes BE, Upton Z, Hughes R, Ballard
FJ. 1996. Influence of nutrition on hepatic IGF-I mRNA levels and plasma
concentration of IGF-I and IGF-II in meat-type chickens. J Endocrinol. 149:181-
190.
Kojima M, Hosoda H, dan Kangawa K, 2004. Ghrelin, a novel growthhormone-
releasing and appetitestimulating peptide from stomach. Best Practice &
Research Clinical Endocrinology and Metabolism. 18:517-530.
Kumnirdpetch, V. 2002. State of thai animal genetic resources. Paper. Presented at 7th
World Congress of Genetic Applied Livestock Production. August 19-23, 2002
Monpelier, France.
Lei M, Luo C, Peng X, Fang M, Nie Q, Zhang D, Yang G, and Zhang X. 2007.
Polymorphism of growth-correlated genes associated with fatness and muscle
fiber traits in chickens. Poultry Sci. 86:835–842.
Lestari, S. Prasetyo dan N. K. D. Haryani. 2013. Mengangkat Potensi Genetik dan
Produktivitas Ayam Kampung yang Memiliki Gen NA di Pulau Lombok.
Laporan Penelitian. Fakultas Peternakan, Universitas Mataram. Mataram.
Mansjoer, S.S. 1985. Pengkajian sifat-sifat produksi ayam kampung serta
persilangannya dengan ayam rhode island red. Disertasi. Program Pasca Sarjana
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Mansjoer, I., Mansjoer, S.S., Sayuthi, D. 1989. Studi banding sifat-sifat biologis ayam
Kampung, ayam Pelung dan ayam Bangkok. Laporan Penelitian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor
Mansjoer, SS. 2003. Potensi Ayam Buras di Indonesia. Prosiding Semiloka Pengkajian
Pengembangan Produksi Bibit Ayarn Buras dan Itik, Cisarua, Bogor, 11 - 12
Desember 2003.
Masayasu K, Kenji K. 2005. Ghrelin : Structure and function. American Psycological
Society. Vol. 85. No. 2.
Nataamijaya AG. 2010. Pengembangan potensi ayam lokal untuk menunjang
peningkatan kesejahteraan petani. J Litbang Pertan. 29:131-138.
Niarami MD, Masoudi AA, Torshizi RV. 2014. Association of single nucleotide
polymorphism of Ghsr and Tgfb2 genes with growth and body composition traits
in sire and dam lines of a broiler chicken. Anim. Biotech. 25 : 13-22.
Nie Q, Fang M, Xie L, Peng X, Xu H, Luo C, Zhang C, Zhang X. 2009. Molecular
characterization of the ghrelin and ghrelin receptor genes and effects on fat
deposition in chicken and duck. JBB. 1-12.
Nishida, T., K. Nozawa, K. Kondo, S.S. Mansjoer and H. Martojo. 1980.
Morphological and genetical studies on the Indonesian native fowl. The Origin
and Phylogeny of Indonesian Native Livestock. The Research Group of
Overseas Scientific Survey. Hal : 47-70. Noor R.R. 1995. Genetika Ternak.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Noor, R. 2000. Genetika Ternak. Penebar Swadaya, Jakarta.
Noor RR. 2008. Genetika Teranak. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
North, M.O. and D. E. Bell. 1990. Commercial Chicken Production Manual 4th ed.
Van Nostrand Reinhold. 245-248.
Ouyang JH, Xie L, Nie Q, Luo C, Liang Y, Zeng H, Zhang X. 2008. Single nucleotide
polymorphism (SNP) at the GHR gene and its associations with chicken growth
and fat deposition traits. British Poultry Sci. 49:87-95.
Purniawati, 2014. Hasil Persialngan Pejantan Lobar dengan Induk Lombok Timur,
Lombok Tengah, Lombok Barat, Kota Mataram. Skripsi. Fakultas Peternakan
Universitas Mataram.
Rasyaf. M. 2011. Beternak Ayam Kampung. Penebar Swadaya : Jakarta.
Roberts V. 2008. British Poultry Standards. West Sussex (UK): John Wiley and Sons.
Rusdin, M. 2007. Analisis Fenotipe, Genotipe dan Suara Ayam Pelung di Kabupaten
Cianjur. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sartika T, Iskandar S, Prasetyo LH, Takahashi H, Mitsuru M. 2004. Kekerabatan
genetik ayam kampung, pelung, sentul dan kedu hitam dengan menggunakan
penanda DNA mikrosatelit: I. Grup pemetaan pada makro kromosom. JITV.
9:81-86.
Sartika T, Sulandari S, Zein MSA, Paryanti S. 2006. Karakter Fenotipee Genetic
Eksternal Ayam Lokal Indonesia. Laporan Akhir Penelitian Kompetitif Riset
Karakterisasi molekuler–LIPI. 16 hlm.
Scanes, C.G and S. J. Bowen. 1984. The Role Of Growth Hormones In The Domestic
Fowl. Department of Animal Sciences. Rutgere University. P : 42-54.
Sonaiya, E.B. 2007. Family poultry, food security and the impact of HPAI. J. World’s
Poult. Sci. 63: 132-138.
Subekti, K., dan Arlina, F. 2011. Karakteristik Genetik Eksternal Ayam Kampung di
Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan. Ilmu-ilmu Peternakan. XIV
(2). 75-76.
Tanaka M, Hayashida Y, Wakita M, Hoshino S, Nakashima K. 1995. Expression of
aberrantly spliced growth hormone receptor mRNA in the sex-linked dwarf
chicken Gifu 20. Growth Regulat. 5:218-223.
Tang S, Sun D, Ou J, Zhang Y, Xu G, Zhang Y. 2010. Evaluation of the IGFs (IGF1
and IGF2) genes as candidates for growth, body measurement, carcass, and
reproduction traits in beijing you and silkie chickens. Animal Biotech. 21:2.
Tantu RY. 2007. Fenotipe dan Genotipe Ayam Hutan Merah (Gallus gallus) dan Ayam
Kampung (Gallus domesticus) di Watutela dan Ngatabaru Sulawesi Tengah.
Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Tarigan, R, T. 2010. Karakteristik Sifat Kualitatif dan Sifat Kuantitatif Ayam Walik di
Sumedang dan Bogor. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi Dan Teknologi
Peternakan, IPB.
Tschop M, Smiley DL, Heiman ML. 2000. Ghrelin induces adiposity in rodents. Nature
407 : 908–913.

Warwick, E.J., J.M. Astuti dan W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak, Cet.5.
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Yuwanta Tri. 2004. Dasar Ternak Unggas. Penerbit ; Kanisius. Yogyakarta.
Zein MSA, Sulandari S. 2012. Keragaman genetik dan distribusi haplogrup ayam
kampung dengan menggunakan hipervariabel-I daerah kontrol DNA
mitokondria. JITV. 17:120-131.
Zhou M, Ma Z, Sly WS. 1995. Cloning and expression of the cDNA of chicken cation
independent mannose-6-phosphate receptor. Proc Natl Acad Sci. 92:9762-9766.