Anda di halaman 1dari 29

PEDOMAN

MANAJEMEN LINEN DAN LAUNDRY


DI RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN

DI SUSUN OLEH:
KOMITE PENCEGAHAN & PENGENDALIAN INFEKSI
RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN

Alamat : Jl. Letjend. S. Parman No 88 Banjarmasin Kode Pos 70115


Telp : (0511) 3354896-3350332-3350335
Website : rs_islambjm@yahoo.com

i
VISI MISI MOTTO DAN TUJUAN
RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN

VISI
Rumah Sakit Islam Banjarmasin sebagai Rumah Sakit yang profesional bermutu dan
menjadi pilihan serta kebanggaan masyarakat

MISI
Rumah Sakit Islam Banjarmasin didirikan untuk pelayanan kesehatan membantu pasien
untuk memperoleh kesehatan jasmani dan rohani juga sebagai media dakwah islamiyah

MOTTO
Cepat dalam pelayanan, Islami dalam pengabdian, Nyaman bagi pelanggan, Tepat dalam
tindakan, Aman dan bermutu

TUJUAN
Meningkatkan derajat Kesehatan Masyarakat tanpa membedakan Suku, Agama, Ras,
Aliran serta membentuk mental spiritual yang lslami

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


VISI MISI MOTO DAN TUJUAN ........................................................................... ii
DAFTAR ISI......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................ 1
A. LATAR BELAKANG................................................................................................ 1
B. TUJUAN PEDOMAN ............................................................................................. 1
C. RUANG LINGKUP PELAYANAN ............................................................................ 1
D. BATASAN OPERASIONAL ..................................................................................... 1
E. LANDASAN HUKUM ............................................................................................ 2
BAB II STANDAR KETENAGAAN .......................................................................... 3
A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia ....................................................................... 3
B. Distribusi Ketenagaan ......................................................................................... 3
C. Pengaturan Jaga .................................................................................................. 5
BAB III STANDAR FASILITAS ................................................................................ 6
A. DENAH RUANG .................................................................................................... 6
B. STANDAR FASILITAS ........................................................................................... 8
BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN ................................................................... 9
A. PERENCANAAN LINEN ......................................................................................... 9
B. PENGUMPULAN DAN PENERIMAAN LINEN KOTOR ............................................ 10
C. PEMILAHAN DAN PENIMBANGAN LINEN KOTOR ............................................... 10
D. POSES PENCUCIAN .............................................................................................. 10
E. PEMERASANPENGERINGAN ................................................................................ 11
F. SORTIR NODA ...................................................................................................... 11
G. PENYETRIKAAN .................................................................................................... 11
H. PELIPATANPENYIMPANAN ................................................................................. 11
I. PENDISTRIBUSIAN .............................................................................................. 12
J. PENCATATAN DAN PELAPORAN......................................................................... 12
BAB V LOGISTIK ................................................................................................. 14
BAB VI KESELAMATAN PASIEN ........................................................................... 15
A. PETUGAS ............................................................................................................. 15
B. PERALATAN ......................................................................................................... 16
C. RUANGAN/ LINGKUNGAN ................................................................................... 16

iii
BAB VII KESELAMATAN KERJA ............................................................................ 17
BAB VIII PENGENDALIAN MUTU ......................................................................... 22
BAB IX PENUTUP................................................................................................ 24
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 25

iv
BAB I
PENDAHULUAN
Pelayanan linen pada hakekatnya adalah tindakan penunjang medik yang
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan bertanggung jawab untuk membantu unit-unit
lain di rumah sakit yang membutuhkan linen yang siap pakai. Demi menjaga citra rumah
sakit, instalasi pencucian linen harus menciptakan ketersediaan linen sesuai filosofi rumah
sakit dan harapan customer rumah sakit.

A. LATAR BELAKANG
Semua ruangan dirumah sakit memerlukan dan menggunakan linen, maka
diperlukan pengelolaan linen yang komperehensif. Alur pengelolaan linen cukup
panjang sehingga membutuhkan pengelolaan khusus dimulai dari perencanaan,
penanganan linen bersih, penanganan linen kotor atau pencucian, hingga
pemusnahan. Secara khusus penanganan linen kotor sangat penting guna
mengurangi resiko infeksi nosokomial, proses penanganan tersebut mencakup
pengumpulan, pensortiran, pencucian, penyimpanan hingga distribusi ke ruangan-
ruangan di rumah sakit.

B. TUJUAN PEDOMAN
1. Sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan linen di rumah sakit.
2. Sebagai pedoman kerja untuk mendapatkan linen yang bersih, kering, rapi, utuh
dan siap pakai.
3. Sebagai panduan dalam meminimalisasi kemungkinan terjadinya infeksi silang.
4. Untuk menjamin tenagakesehatan, pengunjung dan lingkungan dari terpapar
bahaya potensial.
5. Untuk menjamin ketersediaan linen di setiap unit di rumah sakit.

C. RUANG LINGKUP PELAYANAN


Perlakuan terhadap linen berdasarkan Permenkes No. 1204/Menkes/SK/X/2004
tentang persyaratan kesehatan lingkungan rumah sakit adalah : pengumpulan,
penerimaan, pencucian, distribusi dan pengangkutan.

D. BATASAN OPERASIONAL
1. Pengumpulan linen : memilah antara linen infeksius dan non infeksius dimulai
dari sumber dan memasukkan linen ke dalam kantong linen sesuai dengan
jenisnya, menghitung dan mencatat linen di ruangan.

1
2. Penerimaan linen : mencatat linen yang di terima dan telah terpilah antara
infeksius dan non infeksius, memilah berdasarkan tingkat kekotorannya.
3. Pencucian linen : menimbang berat linen, membersihkan linen dari kotoran,
mencuci linen berdasarkan tingkat kekotorannya.
4. Pengeringan linen.
5. Penyetrikaan linen.
6. Penyimpanan linen : memisah linen sesuai jenisnya, menempatkan linen baru di
lemari bagian bawah, selalu menutup pintu lemari.
7. Distribusi berdasarkan form pesanan linen dari ruangan, kemudianpetugas
distribusi menyerahkan linen bersih kepada petugas ruangan sesuai form
penyerahan linen.
8. Pengangkutan linen : menggunakan troli bersih yang berbeda dengan troli linen
kotor, waktu pengangkutan linen bersih dan kotor tidak boleh dilakukan
bersamaan.

E. LANDASAN HUKUM
1. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 1204 tahun 2004 tentang persyaratan
kesehatan lingkungan rumah sakit.
2. Pedoman Manajemen linen di Rumah sakit Penerbit Dirjen Pelayanan Medik
Depkes RI tahun 2004.
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 129 Tahun 2008 tentang standar
pelayanan minimal rumah sakit.

2
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Penanggung jawab pengelolaan linen di rumah sakit adalah penunjang
medik, namun pada umumnya diserahkan pada bagian rumah tangga atau bagian
pencucian dan sterilisasi. Kewenangan, pengaturan dan struktur organisasi unit
pengelolaan linen diserahkan sepenuhnya kepadaDirektur rumah sakit,
disesuaikan dengan kondisi di rumah sakit masing-masing (Pedoman Manajemen
Linen Depkes RI, 2004).

B. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Kekhususan pengelolaan linen banyak melibatkan tenaga kesehatan dengan
bermacam-macam klasifikasi, terdiri dari : ahli manajemen, teknisi, perawat,
tukang cuci, penjahit, tukang setrika, ahli sanitasi, serta ahli K3.

Nama Jabatan Definisi Persyaratan


Penanggung jawab Seseorang Berijazah min. D3
yangmelakukan peran manajemen, D3
dan fungsi manajemen perhotelan
pengelolaan linen mulai
dari perencanaan,
pengadaan, proses
pencucian linen,
pemusnahan, kontrol dan
pemeliharaan fasilitas
Tenaga Perawat Perawat laundry adalah Beijazah D3 keperawatan
seseorang yang atau SPK dengan latihan
melakukan peran dan khusus PPI dan patient
fungsi pengendalian safety
infeksi Nosokomial akibat
linen dan juga
keselamatan pasien.
Tenaga kesehatan  Ahli sanitasi laundry  Berjazah min. D3
adalah seseorang yang Kesehatan Lingkungan

3
melakukan peran dan  Berijazah min. D3
fungsi penyehatan Hiperkes
linen
 Ahli K3 laundry adalah
seseorang yang
melakukan tugas dan
fungsi K3 tempat
pencucian linen.
Tenaga teknisi Teknisi laundry adalah Berijazah min. STM
seseorang yang dengan latihan kusus
melakukan peran dan
fungsi perawatan dan
pemeliharaan sarana fisik,
prasarana dan peralatan
laundry.
Tenaga non  Tukang  Berijazah min. SMP
medis/pekarya cuci/laundryman dengan latihan
adalah seseorang khusus
yang diberi
kewenangan
dantanggung jawab
melaksanakan
aktivitas fungsional
pengelolaan linen
mulai dari
pengumpulan sampai
pengangkutan.  Berijazah min. SMK
 Tukang jahit adalah Tata busana atau
seseorang yang diberi SMU bersertifikat
kewenangan dan kursus menjahit
tanggung jawab
untuk melihat segala
jenis linen baru
laundry maupun
linen yang

4
bisadiperbaiki
Kondisi ketenagaan di  Penanggung jawab  Seorang sanitarian
RSIB linen  Dirangkap oleh
 Ahli sanitasi laundry penanggung jawab
 Teknisi laundry linen
 Tukang  Dalam koordinasi
cuci/laundryman IPSRS
 Tukang jahit
Kekurangan  Ahli manajemen  Lulusan D3
ketenagaan  Tenaga perawat mnaajemen
 Tenaga QC  Lulusan Akper
atau SPK
 Lulusan D1
perhotelan

C. PENGATURAN JAGA
Kondisi pengaturan jaga di laundry RSIB baik itu penanggung jawab linen
yang merangkap sebagai ahli sanitasi RS, ahli K3 RS, teknisi dari IPS RS, dan tukang
jahit masih mengikuti jam dinas manajerial dan struktural yaitu hanya pagi
hari.Sedangkan tenaga cucian yang bersifat fungsional bekerja 7 jam.

5
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANG
Kebutuhan ruang, fungsi dan luasan ruang serta kebutuhan fasilitas
instalasi pencucian linen (laundry) sesuai pedoman teknis fasilitas rumah sakit
kelas C, sebagai berikut :
No. Nama Ruangan Fungsi Ruang Luas Kebutuhan
Ruang Fasilitas
1 Ruang Ruang para petugas 3-5 m2 per Meja, kursi,
administrasi dan melaksanakan petugas lemari arsip,
pencatatan administrasi, (min.9 m2) telepon,
keuangan dan safety box
personalia
2 Ruang laundry Ruang tempat 9-12 m2 Meja, kursi,
kepala kepala laundry lemari arsip,
bekerja dan telepon,
melakukan kegiatan safety box
perencanaan dan
manajemen
3 Ruang Ruang tempat Min. 12 Meja, kursi,
penerimaan dan penerimaan linen m2 rak kontainer
sortir kotor dari unit-unit
di RS kemudian
disortir
4 Ruang Ruang tempat Min. 20 Bak
perendaman melaksanakan m2 pembilasan
linen dekontaminasi linen, awal, bak
meliputi urutan perendaman
kegiatan pembilasan dan bak
awal, pembilasan
perendamandan akhir, kran,
pembilasan akhir sink
5 Ruang cuci dan Ruang tempat min. 16 Mesin cuci
pengeringan linen mencuci dan m2 dan pengering

6
mengeringkan linen linen
6. Ruang setrika dan Ruang tempat Min. 30 Setrika, meja
lipat linen penyetrikaan dan m2 setrika,
melipat linen handpress
7 Ruang perbaikan Ruang tempat Min. 8 m2 Mesin jahit,
linen memperbaiki/menja jarum, benang
hit linen setelah dan
dicuci dan keringkan perlengkapan
perbaikan
linen lainnya

No. Nama Ruangan Fungsi Ruang Luas Ruang Kebutuhan


Fasilitas
8 Ruang Ruang tempat Min. 20 m2 Rak/ lemari
penyimpanan penyimpanan linen
linen bersih setelah
dicuci, setrika dan
dilipat
9 Ruang Ruang tempat Min. 6 m2 Kran, selang,
dekontaminasi melaksanakan alat
troli dekontaminasi dan pengering
pengeringan linen
10 Ruang Ruang tempat Min. 8 m2
penyimpanan troli penyimpanan troli
bersih setelah
didekontaminasi
dan dikeringkan
11 Gudang bahan Tempat menyimpan Min. 8 m2 Lemari
kimia bahan-bahan kimia
seperti detergen dll
12 KM / WC petugas KM dan WC Pria/wanita Kloset,
luas 2-3 m2 wastafel, bak
air

7
B. STANDAR FASILITAS
1. Sarana Fisik
Sarana fisik instalasi pencucian terdiri beberapa ruang antara lain :
a. Ruang penerimaan linen : meja penerima, timbangan duduk, ruangtroli
linen kotor
b. Ruang pemisahan linen : meja sortir, fan atau exhaust fan,
pencahayaan 200-500 lux
c. Ruang pencucian dan pengeringan linen : mesin cuci, mesin pengering,
bak pencuci (bak perendam non infeksius, bak infeksius dengan
desinfektan, bak untuk pembilas), instalasi air bersih dengan drainase
nya.
d. Ruang penyetrikaaan linen : flatwork ironers, pressing ironer, alat
setrika biasa, fan dan exhaust fan, pencahayaan 200- 500 lux
e. Ruang penyimpanan linen : lemari dan rak menyimpan linen, meja
administrasi, fan/exhaust fan, pencahayaan 200 – 500 lux, suhu 22 –
27oC, Kelembaban 45-75%.
f. Ruang distribusi linen : meja panjang untuk pencahayaan linen bersih,
fan, pencahayaan 100-200 lux.

2. Prasarana
a. Prasarana listrik
Tenaga listrik yang digunakan di laundry terbagi dua bagian(line) :
instalasi penerangan dan instalasi tenaga. Kabel listrik menggunakan
kabel jenis NYY dan menggunakan tuas kontak atau kotak kontak
dengan system plug dengan kemampuan 25 amper. Grounding harus
dilakukan, terutama untuk peralatan yang menggunakan daya besar.
b. Prasarana air
Instalasi laundry memerlukan sedikitnya 40% dari kebutuhan air
dirumah sakit atau diperkirakan 200 liter/tempat tidur/hari. Kebutuhan
air untuk proses pencucian dengan kualitas air bersih sesuai standar
air. Reservoir dan pompa perlu disiapkan untuk menjaga tekanan air 2
kg/cm2.

3. Peralatan
a. Mesin cuci
b. Mesin penyetrika

8
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

Secara sederhana alur kegiatan pada instalasi pencucian linen sebagai berikut :

Troli LINEN

Penerimaan &

Dekontamin Pencucian Pengeringan Penyetrika


a

Pelipatan

Penyimpanan

R. Dekontaminasi R. Penyimpanan Troli Distribusi LINEN

Sterliasias Tanpa

A. PERENCANAAN LINEN
Tiap bagian di rumah sakit mempunyai spesifikasi pekerjaan jumlah kebutuhan
yang besar, frekuensi cuci yang tinggi, keterbatasan persediaan, penggunaan yang
majemuk dan image yang ingin dicapai. Untuk itu dalam perencanaannya
diperlukan standar linen, antara lain :
1. Standar produk
2. Standar desain
3. Standar material
4. Standar ukuran
5. Standar jumlah
6. Standar penggunaan

9
B. PENGUMPULAN DAN PENERIMAAN LINEN KOTOR
1. Linen kotor dimasukkan ke dalam kantong linen sesuai jenisnya
2. Linen kotor diterima yang berasal dari ruangan dicatat berat timbangan sesuai
loading mesin sedangkan jumlah satuan berasal dari form pesanan linen
komputerisasi dari ruangan.
3. Memilah antara linen infeksius dan non infeksius dimulai dari sumber dan
mencatat linen kedalam kantong linen sesuai jenisnya, menghitung dan
mencatat linen di ruangan.

C. PEMILAHAN DAN PENIMBANGAN LINEN KOTOR


1. Lakukan presortir untuk memisahkan linen kotoryang terkena noda dan linen
yang memerlukan perbaikan, tempatkan terpisah untuk penanganan secara
khusus.
2. Lakukan pemilahan berdasarkan beberapa kriteria :
a. Linen infeksius
b. Linen pasien tidak terinfeksi polos
c. Linen pasien tidak terinfeksi motif
d. Linen keluarga dan linen petugas
e. Linen operasi dari OK
3. Pensortiran untuk linen infeksius sangat tidak dianjurkan, penggunaan kantung
plastik sejak dari ruangan adalah salah satu upaya menghindari sortir.
4. Lakukan penimbangan sesuai dengan kriteria dan kapasitas mesin cuci untuk
menghitung kebutuhan bahan-bahan kimia dalam tahapan proses pencucian.

D. PROSES PENCUCIAN
Pencucian bertujuan untuk menghasilkan linen yang bersih, awet dan bebas dari
mikroorganisme patogen. Proses pencucian harus memperhatikan kaidah washing
symbole. Hasil, biaya dan efisiensi pencucian merupakaan keseimbangan antara
faktor-faktor :
1. Gaya mekanik (mechanical action)
2. Energi kimia (chemical)
3. Energi panas (temperature)
4. Waktu (time)
Disamping itu, ada faktor lain yang ikut menentukan yaitu :
5. Prosedur

10
Prosedur adalah aplikasi 4 faktor diatas dengan tata cara operasi laundry yang
baik (seperti collection, sorting, loading, dll)
6. Kondisi air
Air merupakan media utama dalam proses pencucian yang berfungsi
melarutkan kotoran, meneruskan gaya mekanik – kimia dan temperatur, serta
menghancurkan kotoran, tingkat kesadahan air dan kandungan nya akan
mempengaruhi hasil cucian.
7. Jenis pengotor
Pengotor (soil) terdiri dari campuran berbagai macam zat yang berbeda fisika
dan kimianya. Indikator pengotor adalah warna, bau, rasa, mikroorganisme.
8. Jenis linen
Pada umumnya, linen dirumah sakit dibuat dari katun dan kombinasi katun
dan polyesterakan meresap ke pori-pori linen.

E. PEMERASAN
Pemerasan adalah proses pengurangan kadar air setelah tahap pencucian selesai,
pemerasan dilakukan dengan mesin cuci yang juga memiliki fungsi pemerasan
(washer – extractor). Proses pemerasan dilakukan dengan mesin pada putaran
tinggi +/- 5-8 menit.

F. PENGERINGAN
Pengeringan dilakukan dengan penjemuran alami sinar matahari maupun dengan
mesin pengering, proses pengeringan terjadi karena pemanasan atau penguapan
air yang terdapat pada bahan tekstil. Pada proses ini, jika mikroorganisme belum
mati atau terjadi kontaminasi ulang diharapkan dapat mati.

G. SORTIR NODA
Sortir noda merupakan proses yang paling utama dalam laundry, kontrol skala
noda dilakukan dengan memanfaatkan panca indra secara fisik. Pengontrolan bau,
rasa, dan skala noda menjadi satu bagian kegiatan pengontrolan kebersihan linen
yang tidak terpisahkan.

H. PENYETRIKAAN
Penyetrikaan dilakukan dengan mesin setrika besar dan setrika manual, bertujuan
untuk membuat panmpilan linen menjadi lebih rapi tanpa mengubah bentuk
aslinya. Proses setrika memperhatikan kaidah washing symbole.

11
I. PELIPATAN
Melipat linen mempunyai tujuan selain kerapian juga mudah digunakan pada saat
penggantian linen. Proses pelipatan sekaligus juga melakukan pemantauan antara
linen yang masih baik dan sudah rusak agar tidak dipakai lagi.

J. PENYIMPANAN
Penyimpanan bertujuan melindungi linen dari kontaminasi ulang, mengkondisikan
linen 1- 3 jam, juga mengontrol posisi linen tetap stabil. Linen memerlukan
“istirahat” untuk mengurangi pemakaian yang berlebihan.

K. PENDISTRIBUSIAN
Pendistribusian merupakan aspek administrasi yang penting yaitu pencatatan
linen keluar, merupakan sistem FIFO yaitu mengeluarkan terlebih dahulu 0,5 par
linen yang mengendap di penyimpanan sedangkan yang selesai dicuci disiapkan
untuk yang berikutnya. Setiap linen yang dikeluarkan dicatat sesuai identitas yang
tertera disetiap linen, dengan pencatatan tersebut dapat diketahui berapa kali
linen dicuci dan linen mana saja yang mengendap tidak digunakan.

L. PENCATATAN DAN PELAPORAN


1. Dokumen
Dokumen yang dibutuhkan pada penatalaksanaan linen mulai dari ruangan
hingga didistribusikan terdiri dari :
a. Dokumen pengiriman linen kotor dari ruangan dan pesan linen bersih
b. Dokumen pengiriman linen infeksius
c. Dokumen pengiriman linen kotor/ infeksius dari OK
d. Dokumen penyerahan/pendistribusian linen bersih dari laundry
e. Dokumen penimbangan linen kotor yang akan dicuci
f. Dokumen afkiran linen (penghapusan linen rusak)
g. Dokumen anfra linen (permintaan linen baru)
h. Dokumen outsourching dan penerimaan cuci luar.

2. Monitoring
Monitoring adalah upaya untuk mengamati pelayanan dan cakupan program
pelayanan seawal mungkin, monitoring pelayanan linen di rumah sakit
hendaknya dilakukan secara teratur yang meliputi aspek-aspek :
a. Sarana, prasarana dan peralatan

12
b. Standart pelayanan linen, SOP, kebijakan-kebijakan
c. Quality control linen meliputi pengamatan fisik, perabaan, penandaan usia
linen
d. Kelayakan pakai dan sisi infeksi melalui swab linen.

3. Evaluasi
Pada tahap proses akhir pencucian, pengeringan dan sebagainya, harus selalu
dievaluasi, juga evaluasi secara keseluruhan dalam rangka kinerja dari
pengelolaan linen dirumah sakit. Hasil evaluasi diserahkan kepada penanggung
jawab dan pengelola pelayanan linen di rumah sakit sebagai bahan laporan
dan pertimbangan dalam pembuatan perencanaan sesuai tujuan evaluasi.
Materi yang dievaluasi antara lain :
a. Kuantitas dan kualitas linen
Jumlah linen yang beredar di ruangan, linen yang diam di ruangan tidak
mengindahkan prinsip FIFO, linen yang hendak diturunkan kelasnya perlu
dimonitoring ke ruangan-ruangan dengan frekuensi minimal 3 (tiga) bulan
sekali. Kualitas linen dimonitoring pada setiap perputaran pencucian.
b. Bahan kimia
Untuk menjaga kualitas selalu dilakukanmonitoring setiap kali bahan kimia
akan digunakan, berupa monitoring fisik dan karakteristik warna, butiran,
bau yang khas, serta pH dari bahan kimia.
c. Baku mutu air bersih
Monitoring persyaratandasar air bersih (Permenkes 416) dan persyaratan
khusus kandungan besi dan garam-garanm dilakukan minimal 6 bulan
sekali.
d. Baku mutu limbah cair
Frekuensi pemeriksaan limbah cair Laundry rumah sakit berupa polutan :
phospat, senyawa aktif biru metilen dan sulfida dilakukan setiap 3 bulan
sekali.

13
BAB V
LOGISTIK

A. PERENCANAAN LINEN
Perencanaan kebutuhan linen dituangkan dalam RAB linen tahunan, dan dihitung
berdasarkan par-stok linen yang dipakai diruangan (2 par), disimpan di
laundrysebagai pengganti afkir (1/2 par), dan disimpan dilogistik sebagai cadangan
baru (1/2 par).

B. PENERIMAAN LINEN KOTOR


Form pesanan linen ruangan dan IBS.

C. PEMILAHAN DAN PENIMBANGAN LINEN KOTOR


Form pencatatan berat linen sebelum dimasukkan dalam mesin cuci.

D. PROSES PENCUCIAN
Pencucian menggunakan bahan-bahan kimia seperti alkali, detergen, emulsifier,
bleach, sour, dan softener sesuai berat linen yang dicuci.

E. PEMERASAN DAN PENGERINGAN


Jika proses pengeringan dilakukan menggunakan mesin, maka diperlukan LPG.

F. SORTIR NODA
Buku laporan quality control linen.

G. PENYETRIKAAN
Pelembut dan pelicin linen.

H. PELIPATAN DAN PENYIMPANAN


Rak penyimpanan linen dari plastik kemasan linen.

I. PENDISTRIBUSIAN
Kertas untuk mencetak form penyerahan laundry.

J. PENCATATAN DAN PELAPORAN


Dokumen pencatatan dan pelaporan.

14
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Upaya pengendalian infeksi nosokomial bukan hanya tanggung jawab pimpinan


rumah sakit atau dokter/perawat saja tetapi tanggung jawab bersama dan
melibatkan semua unsur/profesi yang ada dirumah sakit. Pencegahan penularan
kuman dan prosedur pencegahan infeksi nosokomial merupakan indikator
keselamatan pasien dan terkait secara langsung, keterkaitan tersebut digambarkan
sebagai berikut :

Linen 1. Pengolahan
infeksi
2. Pengolahan non
infeksi

Desinfeksi Baju petugas yang


dan Sterilisasi steril

KESELAMATAN
Pencegahan penularankuman
PASIEN

Alat –alat rumah sakit yang dipakai pasien (alat kesehatan, linen danlainnya)
bisa menjadi sumber infeksi apabila kurang bersih, tidak layakpakai, penyimpanan
kurang baik, dipakai berulang-ulang, atau lewat batas waktu pemakaian. Untuk
mencegah/mengurangi terjadinya nosokomial, perludiperhatikan :
A. PETUGAS
1. Bekerja sesuai dengan SOP untuk pelayanan linen
2. Memperhatikan aseptik dan anti septik
3. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan
4. Bila sakit segeraberobat

15
B. PERALATAN
1. Perhatikan kebersihan alat-alat laundry, termasuk troli untuk transportasi
linen
2. Penyimpanan linen yang benar dan perhatikan batas waktu penyimpanan (fifo)
3. Linen yang rusak segera diganti (afkir)

C. RUANGAN/LINGKUNGAN
1. Tersedianya air yang mengalir untuk cuci tangan
2. Penerangan yang cukup
3. Ventilasi udara baik
4. Perhatikan kebersihan dan kelembaban ruangan
5. Pembersihan secara berkala
6. Lantai kering dan bersih

16
BAB VII
KESELAMATAN KERJA
Semua pekerja di rumah sakit dalam melaksanakan tugasnya selalu berhubungan
dengan bahaya potensial yang bila di tanggulangi dengan baik dan benar dapat
menimbulkan dampak negatif terhadap keselamatan dan kesehatannya, yang pada
akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Khususnya petugas laundry, menerima
ancaman kerja potensial dari lingkungan bila keselamatan kerja tidak diperhatikan dengan
tepat. Potensi bahaya pada instalasi pencucian linen :
1. Bahaya Mikrobiologi
Petugas laundry yang menangani linen kotor senantiasa kontak dengan bahan dan
menghirup udara yang tercemar kuman pathogen seperti bakteri, virus, ricketsia,
parasit dan jamur.
a. Mycobacterium tuberculosis
Mikroorganisme ini menular melalui percikan atau dahak penderita,
pencegahannya:
 Meningkatkan pemahaman petugas terhadap penyakit TBC dan penularannya
 Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang baik
 Melakukan tindakan dekontaminasi dan desinfeksi alat dan lingkungan kerja
 Menggunakan APD dan melaksanakan tugas pekerjaan sesuai SOP
b. Virus Hepatitis B
Penularan dapat melalui darah dan cairan tubuh lainnya, pencegahannya :
 Meningkatkan pemahaman petugas terhadap penyakit hepatitis B dan
penularannya
 Memberikan vaksinasi pada petugas
 Melakukan tindakan dekontaminasi dan desinfeksi
 Menggunakan APD dan melaksanakn tugas pekerjaan sesuai SOP
c. Virus HIV (Human Immunodeficiency Virus)
Penularannya melalui darah, jaringan, sekreta, ekskreta tubuh yang mengandung
virus dan kontak langsung dengan kulit yang terluka. Pencegahannya :
 Linen terkontaminasi ditempatkan dalam kantong plastik berisi desinfektan,
berlapis ganda, tahan tusukan, kedap air, berwarna khusus dan diberi label
Bahan Menular/AIDS.
 Menggunakan APD dan melaksakan tugas pekerjaan sesuai SOP.

17
2. Bahaya Bahan Kimia
a. Debu
Debu dapat berasal dari linen itu sendiri (cotton dust), NAB debu di instalasi
pencucian linen adalah 0,2 mg/m3. Udara yang mengandung debu masuk ke dalam
paru-paru dan mengakibatkan pneumoconiosis yang disebabkan oleh serat
linen/kapas atau disebut bissinosis. Gejala bissinosis hampir sama dengan asma atau
Monday Fever, karena gejala terjadi pada hari pertama kerja setelah libur, sering
gejala hilang pada hari kedua dan bila pemaparan berlanjut maka gejala makin
berat. Pengendaliannya :
 Mengisolasi sumber debu
 Memakai APD sesuai SOP
 Ventilasi yang baik dan memasang alat local exhauster.
b. Bahan Kimia
Sebagian besar bahaya instalasi pencucian diakibatkan oleh zat kimia seperti
detergen, desinfektan, zat pencerah maupun pemutih, pengharum, dll. Tingkat
resiko yang diakibatkan tergantung dari besar, luas, dan lama pemajanan. Informasi
di bahan kimia berupa kegunaan, komposisi, sifat, bahaya kesehatan, dan
pertolongan pertama dapat dibaca pada label kemasan dari produsen.

3. Bahaya Fisika
a. Bising
Suara bising berasal dari operasional mesin-mesin laundry. Pajanan bising yang
terjadi pada intensitas relatif rendah (85dB atau lebih) dalam waktu yang lama
membuat efek kumulatif yang bertingkat dan menyebabkan gangguan pendengaran
berupa Noise Induce Hearing Loss (NIHL). NAB intensitas bising adalah 85 dB dengan
waktu kerja maksimum 8 jam/hari. Pengendaliannya :
 Mengurangi intensitas bising di sumber
 Mengurangi transmisi bising, dengan cara : menjauhkan sumber pekerja,
mengurangi pantulan bising secara akustik pada dinding, langit-langit dan lantai,
menutup sumber bising dengan barrier
 Mengurangi penerimaan bising pada pekerja, dengan cara : menggunakan APD
telinga, ruang isolasi untuk istirahat, rotasi shift pekerja, jadwal kerja sesuai
NAB.
b. Cahaya
 Pencahayaan berhubungan langsung dengan keselamatan petugas, peningkatan
pencermatan, kesehatan yang lebih baik, dan suasana yang nyaman.

18
 Petugas yang terpajan gangguan pencahayaan akan mengalami kelelahan mata
dan kelainan berupa : konjungtivis, ketajaman penglihatan terganggu, daya
akomodasi terganggu, sakit kepala.
 Pencegahannya dengan pencahayaan yang cukup sesuai standar (minimal 200
Lux).
c. Listrik
 Pada umumnya yang terjadi pada petugas adalah kejutan listrik microshok
dimana listrik mengalir ke badan petugas melalui sistem peralatan yang tidak
baik.
 Kecelakaan tersengat listrik mengakibatkan luka bakar dan kaku pada otot di
tempat yang tersengat listrik.
 Pengendaliannya dengan pengukuran jaringan listrik, pemasangan pengaman,
tanda bahaya dan indikator, penempatan petugas sesuai keahlian, pergiliran shift
kerja, serta memakai sepatu/sandal isolasi.
d. Panas
 Panas dirasakan bila suhu udara diatas suhu nyaman (diatas 28oC) dan
kelembaban (diatas 70%), panas yang terjadi di instalasi laundry adalah panas
lembab.
 Efek panas terhadap kesehatan berupa :
- Pingsan karena panas (heat syncope)
- Terasa panas dan tidak nyaman kerena dehidrasi, gejala pusing dan mual
karena tekanan darah turun (heat stress).
- Spasme otot yang disebabkan cairan dengan elektrolit rendah masuk kedalam
otot akibatbanyak cairan tubuh keluarmemlaui keringat (heat cramps).
- Suhu tubuh dapat mencapai 40,5oC akibat kegagalan bekerja SSP dalam
mengatur pengeluaran keringat (heat stroke).
 Pengendaliannya : isolasi sumber panas, ventilasi diatas sumber panas, kipas
angin untuk petugas, memasang alat pendingin, menyediakan air minum yang
cukup, jauhkan dari petugas berpenyakit kardiovaskuler, mengatur waktu
istirahat dan suhu ruangan.
e. Getaran
 Mesin-mesin laundry yang bergetar dapat memajani petugas melalui transmisi,
baik getaran yang mengenai seluruh tubuh maupun getaran setempat yang
merambat melalui tangan atau lengan operator.
 Efek getaran terhadap kesehatan berupa : kesemutan jari tangan waktu bekerja
yang menjalar melalui sistem peredaran darah, gangguan pada sendi jari tangan

19
(osteoarticular), menurunnya sensitivitas dan gangguan kemampuan
membedakan (atrofi), berpengaruh buruk pada susunan saraf pusat.
 Pengendaliannya : memasang bantalan anti vibrasi di sumber dan memelihara
mesin dengan baik, mengatur jadwal kerja sesuai TLV (Treshold Limit Value),
petugas menggunakan sarung tangan untuk menghangatkan tangan dan
perlindungan terhadap gangguan vascular.
4. Ergonomi
Posisi tubuh yang salah atau tidak alamiah apalagi sikap paksa dapat menimbulkan
kesulitan dalam melaksanakan kerja, mengurangi ketelitian, mudah lelah sehingga
kerja menjadi kurang efisien. Pekerjaan yang tidak ergonomis mengakibatkan
penyakit terkait alat gerak yaitu persendian, jaringan otot, saraf atau pembuluh
darah (low back pain). Pengendaliannya :
 Mengangkat beban berat
Tubuh kita mampu mengangkat beban seberat badan sendiri, lebih dari itu besar
kemungkinan terjadi bahaya. Bila berat badan yang akan diangkat melebihi
setengah dari berat badan si pengangkat, maka beban harus dibagi dua.
 Posisi duduk : tinggi alas duduk sebaiknya dapat disetel 38-48 cm, kursi harus
stabil dan tidak bergerak, kursi harus memungkinkan petugas cukup untuk
bergerak bebas.
 Posisi berdiri : berdiri tidak lebih dari 6 jam.

5. Bahaya Psikososial
Faktor psikososial juga memerlukan perhatian, antara lain stress karena tuntutan
pekerjaan, dukungan dan kendala. Pengendaliannya : menjaga kebugaran jasmani
dari pekerja dan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan dalam bekerja misalnya
makan siang bersama, rekreasi, dll.

6. Keselamatan dan Kecelakaan Kerja


Beberapa bahaya potensial terjadinya kecelakaan kerja diinstalasi pencucian antara
lain :
a. Kebakaran
Bahan-bahan yang mudah terbakar misalnya bahan yang ada di mesin cuci,
dimana terdapat 3 unsur chemical (sebagai zat asam), linen (sebagai bahan yang
mudah terbakar), dan suhu air (sebagai panas). Penanggulangannya :
 Sistem penyimpanan bahan mudah terbakar yang baik

20
 Pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran secara terus-
menerus
 Jalan untuk menyelamatkan diri, harus memiliki sekurang-kurangnya 2 jalan
penyelamat diri pada 2 arah yang bertentangan
 Perlengkapan pemadam dan penanggulangan kebakaran
 Alat-alat pemadam kebakaran yang terpasang tetap di tempat maupun yang
dapat bergerak atau dibawa
b. Terpeleset/terjatuh
Terpeleset/terjatuh pada lantai yang sama dapat mengakibatkan cedera yang
berat seperti fraktura, dislokasi, salah urat, memar otak. Penanggulangannya :
 Hindari memakai sepatu dengan hak tinggi, sol yang rusak atau memakai tali
sepatu yang longgar.
 Konstruksi lantai harus rata dan sedapat mungkin dibuat dari bahan yang
tidak licin.
 Lantai harus dibersihkan dari kotoran-kotoran seperti pasir, debu, minyak
yang memudahkan terpeleset.
 Lantai yang cacat, banyak lubang atau permukaannya miring harus segera
diperbaiki.

21
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
Untuk meningkatkan mutu pelayanan linen dirumah sakit, maka diperlukan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) yang merupakan spesifikasi teknis tentang tolak ukur pelayanan
minimum rumah sakit yang berhak diperoleh setiap negara.

1. Tidak adanya linen yang hilang


Indikator Tidak adanya linen yang hilang
Dimensi mutu Efisiensi dan efektifitas
Tujuan Tergambarnya pengendalian dan mutu
pelayanan laundry
Definisi operasional Tidak adanya linen yang hilang adalah
ketepatan/kesesuaian penghitungan linen (stok
akhir) dengan daftar linen ruangan sebelumnya
(stok awal).
Frekuensi pengumpulan data 6 bulan
Periode analisis 6 bulan
Numerator Jumlah linen yang dihitung dalam 1 hari
sampling dalam 1 bulan
Denominator Jumlah linen yang seharusnya ada pada hari
sampling
Sumber data Survey
Standar 100%
Penanggung jawab Kepala unit laundry

2. Ketepatan waktu penyediaan linen untuk ruangrawat inap


Indikator Ketepatan waktu penyediaan linen untuk ruang
rawat inap
Dimensi mutu Efisiensi dan efektifitas
Tujuan Tergambarnya pengendalian dan mutu
pelayanan laundry
Definisi operasional Ketepatan waktu penyediaan linen adalah
ketepatan penyediaan linen bersih sesuai
dengan jadwal waktu distribusi linen
Frekuensi dan pengumpulan 1 bulan

22
data
Periode analisis 1 bulan
Numerator Jumlah hari dalam 1 bulan dengan penyediaan
linen tepat waktu
Denominator Jumlah hari dalam 1 bulan
Sumber data Survey
Standar 100%
Penanggung jawab Kepala unit laundry

3. Ketepatan jumlah permintaan linen


Indikator Ketepatan jumlah permintaan linen

Dimensi mutu Efisiensi dan efektifitas

Tujuan Tergambarnya pengendalian dan mutu


pelayanan laundry
Definisi operasioanal Ketepatan jumlah permintaan linen adalah
ketepatan jumlah distribusi linen bersih sesuai
dengan form pesanan linen dari ruangan
Frekuensi pengumpulan data 1 bulan
Periode analisis 1 bulan
Numerator Jumlah hari dalam 1 bulan dengan penyediaan
linen tepat
Denominator Jumlah hari dalam 1 bulan
Indikator Ketepatan jumlah permintaan linen
Sumber data Survey
Standar 100%
Penanggung jawab Kepala unit laundry

23
BAB IX
PENUTUP
Pedoman linen disusun untuk meningkatkan mutu pelayanan linen dirumah sakit.
Dalam pedoman ini disajikan tentang manajemen linen di Rumah Sakit Islam Banjarmasin,
sarana, prasarana dan peralatan pencucian, infeksi nosokomial sebagai aspek
keselamatan pasien, kesehatan dan keselamatan kerja, tata laksana pelayanan linen yang
diawali dengan perencanaan sampai monitoring dan evaluasi, serta pengendalian mutu
linen.
Kami menyadari masih banyak yang perlu disempurnakan, oleh sebab itu berbagai
kritik dan saran sangat kami harapkan untuk kesempurnaan pedoman ini.

24
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI, 2004. Pedoman Manajemen Linen di Rumah Sakit. Direktorat
Jenderal Pelayanan Medik. Jakarta

Departemen Kesehatan RI, 2009. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di


Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya. Cetakan kedua. Jakarta

Kementerian Kesehatan RI , 2010. Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Rumah Sakit
Kelas B. Sekretariat Jenderal Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan.
Jakarta

Sabarguba, Rubaya, 2011. Seri Kesehatan Lingkungan Rumah sakit 1. Penerbit Salemba
Medika. Jakarta

25