Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

“Masalah Dualisme”

Mata kuliah : Ekonomi Pembangunan

Dosen : Loecita Sandiar

Disusun Oleh :

KELOMPOK 6

Nama : Novita Sari 201614500670


Denis 201514570025
Rohadi 201614500660
Bima Cikal 201614500721
Nanda Maulana 201614500750

Kelas : S7E

Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial


Universitas Indraprasta PGRI
2019-2020
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, Wr. Wb

Alhamdulilah kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan
rahmat, taufik, dan hidayah nya kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah
Ekonomi Pembangunan tentang Masalah Dualisme.

Sholawat dan salam kami curahkan kepada nabi besar Muhammad SAW, karena
beliaulah satu-satunya nabi yang mampu mengubah dunia dari zaman kegelapan
menuju zaman terang benderang yakni agama islam.

Kiranya makalah ini masih sangat jauh dari kata kesempurnaan oleh karena itu
kami menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun demi memperbaiki isi
dari makalah ini. Kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan
menambah wawasan khususnya bagi penulis dan pembaca serta ridho dari Allah
SWT.

Wassalamualaikum, Wr. Wb

Bekasi, Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i

DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................................ 1


B. Rumusan Masalah ....................................................................................... 2
C. Tujuan Masalah ............................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Dualisme ........................................................................................ 3


B. Macam- Macam Dualisme ........................................................................... 4
a. Dualisme Sosial....................................................................................... 4
b. Dualisme Ekologi .................................................................................... 5
c. Dualisme Teknologi ................................................................................ 6
d. Dualisme Finansial .................................................................................. 6
e. Dualisme Regional .................................................................................. 7
C. Pengaruh Dualisme dalam Pembangunan Perekonomian Indonesia ........... 8
D. Kasus Dualisme di Negara Berkembang “Dualisme Ekonomi
Keterkaitannya Terhadap Globalisasi Pertanian dan Konflik Sumber
daya Alam Yang Muncul di Indonesia ...................................................... 11
a. Globalisasi Pertanian ............................................................................. 11
b. Konflik Sumber Daya Alam di Riau sepanjang tahun 2008 ................. 13

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................................ 15
B. Saran .......................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 17

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi.


Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim
bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik. Gagasan tentang dualisme jiwa
dan raga berasal setidaknya sejak zaman Plato dan Aristoteles dan berhubungan
dengan spekulasi tantang eksistensi jiwa yang terkait dengan kecerdasan dan
kebijakan. Plato dan Aristoteles berpendapat, dengan alasan berbeda, bahwa
"kecerdasan" seseorang (bagian dari pikiran atau jiwa) tidak bisa diidentifikasi
atau dijelaskan dengan fisik.

Versi dari dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh René
Descartes (1641), yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik.
Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas pikiran dengan
kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan.
Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam
bentuknya yang ada sekarang. Dualisme bertentangan dengan berbagai jenis
monisme, termasuk fisikalisme dan fenomenalisme. Substansi dualisme
bertentangan dengan semua jenis materialisme, tetapi dualisme properti dapat
dianggap sejenis materilasme emergent sehingga akan hanya bertentangan dengan
materialisme non-emergent. Selain itu, Dualisme juga merupakan suatu keadaan
di mana “sang superior” hidup berdampingan dengan “sang inferior” namun tidak
memiliki hubungan yang erat, tidak akan mati dengan sendirinya oleh karena
alasan waktu, bahkan jurang pemisah antara “sang superior” dan “sang inferior”
makin terbuka lebar seiring perkembangan zaman. Dualisme dapat dipandang dari
berbagai kasanah, seperti sosial, teknologi, geografi (kawasan), dan ekonomi.
Dalam hal ini yang akan dibahas adalah dari sudut pandang ekonomi.

Teori dualisme pertama kalinya dikemukakan oleh seorang ekonom


Belanda, J.H. Boeke. Teorinya berasal dari suatu fenomena di mana konsep

1
ekonomi Barat yang dibawa dan diterapkan oleh para penjajah ternyata tidak
mampu untuk mensejahterakan rakyat jajahannya (dalam hal ini rakyat
Indonesia). Dalam artian mengalami kegagalan.

Negara eks jajahan (sekarang bisa disebut negara sedang berkembang)


memiliki pola dan sistem sosial yang berbeda dengan negara Barat. Pada awalnya
pola dan sistem sosial Barat memiliki daya penetrasi yang cukup kuat untuk
masuk ke dalam sistem sosial negara jajahannya. Keduanya hidup berdampingan
antara sistem sosial liberal Barat dengan sistem sosial lokal negara jajahan (dalam
hal ini Indonesia). Tetapi memang pada dasarnya adalah berbeda, tidak mungkin
untuk disama- samakan Penetrasi yang dilakukan ternyata tidak (bisa dibaca:
kurang) bermakna dan menyokong satu dengan lainnya.

Sang superior dan inferior yang dimaksud dalam dualisme ekonomi


Indonesia adalah industri dan pertanian. Industri diagung-agungkan oleh
kebanyakan pihak, dipandang sebagai penggerak utama perekonomian bangsa,
sementara sektor pertanian (kerakyatan), sang soko guru ekonomi, hanya
dipandang sebelah mata atau mungkin tidak dipandang sama sekali.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari dualisme dan dualisme pembangunan?
2. Adakah jenis-jenis dari dualisme tersebut?
3. Bagaimana pengaruh dualisme dalam pembangunan ekonomi di Indonesia?
4. Bagaimana Kasus Dualisme di Negara Berkembang ?

C. Tujuan
1. Memberikan penjelasan mengenai dualisme dalam perekonomian.
2. Memberikan jenis jenis dualisme yang ada dalam sistem perekonomian.
3. Menjelaskan pengaruh dualisme dalam pembangunan ekonomi di Indonesia.
4. Mengetahui kasus dualisme di negara berkembang

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dualisme

Dualisme merupakan suatu konsep yang sering dibicarakan dalam


ekonomi pembangunan, terutama jika kita membicarakan tentang kondisi sosial-
ekonomi NSB. Konsep ini menunjukan adanya perbedaan antara bangsa-bangsa
kaya dan miskin, dan perbedaan antara berbagai golongan masyarakat yang
semakin meningkat. Pada dasarnya, konsep dualisme mempunyai empat
karakteristik pokok, yaitu :

1. Dua keadaan yang berbeda dimana satu keadaan bersifat “superior” dan
keadaan yang lainnya bersfat “inferior” yang bisa hidup berdampingan pada
ruang dan waktu yang sama.
2. Kenyataan hidup berdampingannya dua keadaan yang berbeda tersebut bersifat
kronis dan bukan transisional.
3. Derajat superioritas atau inferioritas itu tidak menunjukkan kecenderungan
yang menurun, bahkan terus meningkat.
4. Keterkaitan antara unsur superior dan unsur inferior tersebut menunjukkan
bahwa keberadaan unsur superior tersebut hanya berpengaruh kecil sekali atau
bahkan tidak berpengaruh sama sekali dalam mengangkat unsur inferior.
Bahkan kenyataannya, unsur yang superior tersebut sering kali justru
menyebabkan timbulnya kondisi keterbelakangan (under development).

Setelah mengetahui konsep konsep dari dualisme, berikut ini adalah


beberapa definisi dari para ahli mengenai Dualisme :

1. J.H Boeke (1953)


Dualisme disini berarti dalam waktu yang sama didalam masyarakat
terdapat dua gaya sosial yang jelas berbeda satu sama lain, dan masing-
masing berkembang secara penuh serta saling mempengaruhi.

3
2. Bachirawi Sanusi (2004)
Dualisme merupakan himpunan masyarakat yang berbeda yang
memungkingkan pihak yang termasuk superior dan inferior hidup
berdampingan disuatu tempat yang sama.

3. Drs. Irawan M.B.A (2002)


Dualisme Ekonomi yaitu kegiatan ekonomi dan keadaan ekonomi serta
keadaan yang lain dalam suatu masa tertentu, atau dalam suatu sektor
ekonomi tertentu yang memiliki sifat tidak seragam.

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa dualisme adalah dua keadaan yang
berbeda dimana satu keadaan bersifat superior dan keadaan lainnya bersifat
inferior yang hidup berdampingan pada ruang dan waktu yang sama. Dengan
adanya dua keadaan yang berbeda ini tentunya akan memiliki pengaruh tersendiri
bagi suatu negara yang secara tidak langsung menganut sistem dualisme ekonomi
ini.

B. Macam- Macam Dualisme


Setelah mengetahui konsep dualisme, maka dualisme sendiri dapat dibagi
menjadi beberapa jenis. Hal ini didasari pada dalam aspek apa dualisme tersebut
berkembang. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai macam-macam
dualisme.
a. Dualisme Sosial
Tahun 1910, seorang ekonom Belanda, J.H Boeke menyatakan bahwa
pemikiran ekonomi Barat tidak dapat diterapkan dalam memahami
permasalahan perekonomian negara-negara jajahan (tropis) tanpa suatu
“modifikasi” teori. Jika ada pembagian secara tajam, mendalam dan luas yang
membedakan masyarakat menjadi dua kelompok, maka banyak masalah sosial
dan ekonomi yang polanya sangat berbeda dengan teori ekonomi Barat
sehingga pada akhirnya teori tersebut akan kehilangan hubungannya dengan
realitas dan bahkan kehilangan nilainya. Boeke menganggap bahwa prokondisi
dari dualismenya adalah hidup berdampingannya dua sistem sosial yang

4
berinteraksi hanya secara marginal melalui hubugan yang sangat terbatas
antara pasar produk dan pasar tenaga kerja.

Prinsip pokok tesis Boeke adalah pembedaan antara tujuan kegiatan


ekonomi di Barat dan di timur secara mendasar. Ia mengatakan bahwa kegiatan
ekonomi di Barat berdasarkan pada rangsangan kebutuhan ekonomi, sedangkan
Indonesia disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan sosial. Suatu masyarakat yang
memiliki dua sistem sosial atau lebih disebut masyarakat dualistik atau
majemuk. Dalam masyarakat dualistik, ada dua sistem sosial yang hidup secara
berdampingan dimana yang satu tidak dapat sepenuhnya menguasai yang
lainnya, demikian sebaliknya.

Keadaan ini disebabkan oleh adanya sistem sosial yang lebih modern
terutama berasal dari negara-negara Barat yang kemudian berkembang di
negara lain sebagai akibat dari adanya penjajahan dan perdagangan
internasional sejak abad yang lalu.

b. Dualisme Ekologi
Menurut Clifford Geertz (1963), dualisme ditandai perbedaan-perbedaan
dalam sistem ekologis. Hal ini membentuk pola-pola sosial dan ekonomi
tertentu yang menyatu didalamnya dan membentuk suatu keseimbangan
internal. Geertz menjelaskan konsepnya tentang dualisme ekologis ini dengan
menggunakan kasus Indonesia. Ia menjelaskan adanya perbedaan antara
“Indonesia Dalam” dan “Indonesia Luar”. “Indonesia Dalam”, dalam hal ini
Jawa, merupakan sistem ekologis padat karya yang ditandai oleh pertanian
padi, tebu, dan tanaman lainnya yang membutuhkan iklim tropis dan semi
tropis serta membutuhkan banyak air. Sementara “Indonesia Luar” ditandai
oleh pertanian yang padat modal, seperti : produk tambang, karet dan kelapa
sawit.
Bachirawi Sanusi (2004), Dualisme merupakan himpunan masyarakat
yang berbeda yang memungkinkan pihak yang termasuk superior dan yang
inferior hidup berdampingan disuatu tempat yang sama.

5
c. Dualisme Teknologi
Higgins, merupakan salah satu pakar ekonomi yang menolak gagasan
Boeke mengenai dualisme dalam sistem sosial. Menurut Higgins, awal mula
dualisme berasal dari perbedaan teknologi antara sektor modern dan sektor
tradisional. Menurut Higgins, teknologi impor yang digunakan dalam sektor
modern bersifat hemat tenaga kerja (labour saving) sehingga modal lebih
banyak digunakan. Keadaan ini berbanding terbalik dengan keadaan sektor
tradisional yang ditandai oleh penggunaan metode produksi yang padat tenaga
kerja. Kurangnya pembentukan modal pada sektor tradisional menyebabkan
perkembangan sektor ini sangat terbatas.
Dualisme teknologi adalah suatu keadaan dimana didalam suatu kegiatan
ekonomi tertentu digunakan teknik produksi yang berbeda dengan kegiatan
ekonomi lainnya sehingga menyebabkan perbedaan tingkat produktivitas yang
sangat besar, dalam hal ini teknologi modern sangat berperan penting.
Teknologi modern yang dimaksud diatas berkisar pada sektor industri
pertambangan, industri transportasi dan sebagainya. Sedangkan kegiatan
ekonomi yang tingkat teknologinya masih rendah yaitu : pertanian, industri
rumah tangga, organisasi produksi tradisional dan lain lain.

d. Dualisme Finansial
Myint (1967) meneruska studi Higgint mengenai proses terjadinya
dualisme. Dalam analisis Myint, beliau mengemukakan mengenai dualisme
finansial. Hal ini pun merujuk pada pengertian bahwa pasar uang dalam negara
jajahan (NSB) dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu pasar uang yang
terorganisir dengan baik (organized money market) dan pasar uang yang tidak
terorganisir (unorganized money market).
Pasar uang yang terorganisir dengan baik terdiri dari bank-bank komersial
dan lembaga-lembaga keuangan non-bank. Lembaga ini terdapat di pusat-pusat
bisnis dan kota-kota besar, serta memiliki tujuan untuk menyediakan pinjaman
kepada perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan tanaman ekspor
dan pertambangan. Namun setelah NSB mencapai kemerdekaan, pemerintah

6
mengadakan usaha yang sifatnya mendorong lembaga-lembaga keuangan
modern untuk memberikan pinjaman kepada sektor ekonomi lainnya, terutama
sektor industri dan pertanian rakyat.
Sedangkan dalam keadaan sebaliknya, tidak ada lembaga keuangan formal
seperti bank atau lembaga keuangan non-bank. Contohnya seperti petani kaya
atau rentenir. Ciri penting dari pinjaman melalui lembaga keuangan informal
ini yaitu tingkat biaya yang sangat tinggi. Namun, karena lembaga informal ini
merupakan satu satunya penyalur dana, para petani menyukainya karena
prosedur peminjaman dananya yang tidak terlalu rumit.

e. Dualisme Regional
Dualisme regional adalah ketidakseimbangan tingkat pembangunan antar
berbagai daerah dalam satu negara. Konsep dualisme regional ini tidak hanya
terjadi di NSB saja. Perbedaannya, ketidakseimbangan yang terjadi pada
negara maju tidaklah separah yang terjadi di NSB.
Dualisme regional ini memusatkan perhatiannya pada masalah
kesenjangan yang terjadi pada kesejahteraan antar daerah. Misalnya, di NSB
ada beberapa daerah yang berkembang sangat pesat sehingga keadaan ekonomi
dan sosialnya sudah hampir menyamai negara maju, sedangkan daerah lainnya
mengalami perkembangan yang sebaliknya atau bahkan mengalami
kemunduran.
Dualisme regional yang semakin buruk dapat menimbulkan masalah-
masalah sosial dan politik yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi di
NSB. Berikut ini merupakan jenis dari dualisme regional di NSB :
· Dualisme antara daerah perkotaan dan pedesaan.
· Dualisme antara pusat negara, pusat industri dan perdagangan dengan
daerah lain dalam suatu negara.
Dualisme ini merupakan akibat dari investasi yang tidak seimbang antara
daerah perkotaan dan pedesaan. Ketidakseimbangan ini akhirnya menyebabkan
kesenjangan antara perkotaan dan pedesaan semakin besar.

7
C. Pengaruh Dualisme dalam Pembangunan Perekonomian Indonesia
Dualisme terkait sekali dengan adanya dua kekuatan berbeda yang hidup
berdampingan dalam waktu yang sama. Dalam uraian diatas telah dijelaskan
mengenai beberapa jenis dualisme yang berkembang dalam NSB. Mulai dari
sistem sosial, ekologis, teknologi, finansial sampai regional, semuanya di
pengaruhi oleh sistem dualisme ini.
Akibat adanya dua unsur yang berbeda, tidak dapat dipungkiri bahwa
dualisme ini memberikan efek yang negatif dalam perekonomian yang
perkembangannya masih belum begitu tinggi. Seperti halnya pada negara yang
sedang berkembang. Sebagian besar kegiatan-kegiatan ekonomi pada negara
berkembang masih dilaksanakan dengan menggunakan teknik-teknik yang
sederhana dan tradisional. Konsep tradisional ini tentunya akan membawa dua
dampak yang mendasar dalam sistem perekonomian serta sistem sosial yang ada
pada masyarakat. Pertama, dengan sistem yang masih tradisional produktivitas
yang dihasilkan akan rendah. Kedua, terbatasnya usaha yang menuju ke arah
pembaharuan atau perubahan. Adanya sikap takut akan pembaharuan, akan
mengakibatkan produktivitas yang rendah tidak akan mengalami perubahan dari
masa ke masa. Hal ini akan membawa dampak yang kurang baik terhadap
mekanisme pasar, atau yang biasa kita sebut dengan ketidak sempurnaan pasar.
Dalam pasar yang sempurna, faktor-faktor produksi memiliki mobilitas
yang tinggi dan dapat saling menggantikan satu sama lain. Hal ini tidak terjadi di
negara yang memiliki ketidaksempurnaan pasar. Adanya sektor tradisional dan
sektor modern menyebabkan adanya perbedaan tingkat upah yang diterima oleh
setiap individu. Penguasaan teknologi menjadi dasar dalam menghitung upah
setiap orang dan pendidikan serta keterampilan yang dimiliki oleh seseorang
dalam bekerja akan menjadi penentu upah bagi masing-masing individu.

Selain itu, ketidaksempurnaan pasar sering kali disebabkan karena


kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai keadaan pasar. Para pekerja tidak
menyadari tentang adanya kesempatan kerja yang lebih baik di sektor atau di
daerah lain. Para petani tidak mengetahui adanya cara untuk meningkatkan

8
produksi dan para pengusaha tidak menyadari kemungkinan untuk
mengembangkan pasar dalam negeri maupun luar negeri. Adanya kuasa monopoli
dalam perdagangan di sektor tradisional merupakan salah satu contoh
ketidaksempurnaan pasar di negara miskin.

Dalam suatu pasar yang sempurna, para pelaku ekonomi dianggap


rasional. Artinya, setiap orang akan berusaha mencapai tingkat kepuasan
maksimum. Pengamatan yang dilakukan di NSB menunjukkan hasil yang
sebaliknya, yaitu masyarakat tidak berusaha untuk mencapai tujuan tersebut dan
tidak responsif pada rangsangan baik yang terjadi dalam pasar. Jadi, dapat diambil
kesimpulan bahwa sikap masyarakat terhadap perkembangan pasar merupakan
salah satu faktor yang menimbulkan ketidaksempurnaan pasar di NSB.

Pengaruh ketidaksempurnaan pasar terhadap tingkat produksi dalam suatu


masyarakat dapat ditunjukkan dengan menggunakan kurva kemungkinan produksi
(produstion possibillities curve), yaitu seperti pada gambar 1.1

Gambar 1.1

Kurva AB adalah kurva kemungkinan produksi negara yang tingkat


pembangunannya relatif rendah, sedangkan kurva PQ menggambarkan kurva
kemungkinan produksi suatu negara yang sudah maju. Kurva kemungkinan
produksi ini menunjukkan kemampuan maksimum suatu negara untuk

9
menghasilkan barang industri, barang pertanian atau kombinasi dari golongan
barang tersebut. Apabila gabungan barang industri dan barang pertanian
ditunjukkan dalam oleh salah satu titik pada kurva tersebut, maka keadaan itu
berarti bahwa sumber daya di negara tersebut digunakan secara penuh (full
employment). Negara yang lebih maju kemampuan memproduksinya lebih besar
daripada negara yang lebih miskin. Oleh karenanya kurva kemungkinan
produksinya (PQ) adalah lebih jauh dari titik O jika dibandingkan dengan kurva
kemungkinan produksi dari negara yang lebih miskin (AB).

Walaupun kemampuan negara yang relatif miskin dalam memproduksi


barang pertanian dan barang industri lebih terbatas, negara yang seperti itu sering
kali tidak mampu mencapai batas produksi maksimalnya. Salah satu sebabnya
yang penting adalah karena adanya ketidaksempurnaan pasar. Pada umumnya
tingkat produksi yang dicapai dalam negara yang relatif miskin adalah pada titik
dibawah kurva kemungkinan produksi AB, misalnya pada titik M. Apabila tingkat
produksi seperti yang ditunjukkan oleh titik M, maka keadaan tersebut
menunjukka bahwa walaupun tidak dilakukan perbaikan dalam teknologi, akan
tetapi apabila dilakukan perbaikan dalam bidang institusional dan organisasi
produksi, jumlah produksi dapat diperbesar lagi. Berarti tingkat produksi yang
baru akan ditunjukkan oleh titik-titik yang terletak lebih dekat dari kurva AB atau
pada kurva itu. Keadaan yang baru ini misalnya adalah seperti yang ditunjukkan
oleh titik N1 atau N2 yang berarti bahwa tingkat produksi nasional telah
bertambah tinggi. Titik N1 meunjukkan bahwa tingkat produksi barang pertanian
menjadi lebih tinggi, sedangkan titik N1 menggambarkan bahwa pertambahan
produksi yang terjadi di sektor industri.

Negara miskin, selain kemampuannya dalam memproduksi produk


pertanian dan produk industri yang masih relatif terbatas, juga seringkali tidak
mampu mencapai batas produksi yang maksimal. Salah satu penyebabnya adalah
karena adanya ketidaksempurnaan pasar. Di samping adanya beberapa pengaruh
negatif dari adanya dualisme sosial terhadap pembangunan, selanjutnya sering
dinyatakan pula bahwa adanya dualisme dalam tingkat teknologi yang digunakan

10
dapat menimbulkan dua keadaan yang mungkin mempengaruhi lajunya tingkat
pembangunan ekonomi.

1. Pertama, dualisme teknologi terlahir sebagai akibat dari perusahaan modal


asing atas sektor modern, sebagian besar dari keuntungan yang diperoleh dari
modal asing akan dibawah ke luar negeri.
2. Kedua, dualisme teknologiakan membawa tiga dampak negatif, yaitu:
membatasi kemampuan sektor modern dalam menciptakan kesempatan kerja,
membatasi kemampuan sektor pertanian untuk berkembang, memperburuk
masalah pengangguran.

Jika hambatan hambatan-hambatan yang ditimbulkannya terhadap


perkembangan kesempatan kerja dan perkembangan sektor pertanian, dan
terdapatnya kemungkinan untuk mempercepat perkembangan produksi
diposisikan sederajat, kemudian perbandingan efek positif dan negatif yang
ditimbulkan, maka dualisme teknolog itidaklah salah dan tidak memperkukuh
kemiskinan yang ada di NSB (negara sedang berkembang). Tanpa adanya sektor
modern, NSB mungkin akan mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dari pada
yang telah dicapainya pada masa lalu.

D. Kasus Dualisme di Negara Berkembang “Dualisme Ekonomi Keterkaitannya


Terhadap Globalisasi Pertanian dan Konflik Sumber daya Alam Yang Muncul di
Indonesia”

a. Globalisasi Pertanian
Globalisasi secara teoritis penuh dengan tuntutan atas negara-negara yang
ingin (dipaksa harus) terlibat, seperti mengendurkan bea masuk,
mengendurkan proteksi, mengurangi subsidi, memangkas regulasi ekspor-
impor, perburuhan, investasi, dan harga, serta melakukan privatisasi atas
perusahaan milik negara. Kondisi tersebut tidak akan banyak membawa
produk-produk lokal ke pasar internasional. Sekalipun perusahaan -
perusahaan TNCs (Trans Nasional Cooperations) dibebani tanggungjawab

11
sosial, namun fenomenanya tidak akan jauh berbeda dengan pola kemitraan
atau contract farming yang pada hakekatnya bermodus eksploitasi. Dalam hal
ini Indonesia yang tergolong sebagai negara agraris, masih diliputi oleh
konflik ini namun keterkaitannya terhadap globalisasi pertanian yang marak
terjadi.
Genderang globalisasi pertanian di Indonesia sesungguhnya telah dimulai
sejak pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan hongitochten, yaitu
cara perdagangan monopoli yang disertai dengan penghancuran kebun-
kebun/hutan-hutan rempah penduduk yang berani menyaingi monopoli
perdagangan tersebut (Satari, 1999). Pada tahun1830 globalisasi semakin
kentara dengan diterapkannya kebijakan tanampaksa(cultur stelsel).
Tanah sebagai sumberdaya alam yang penting dikuasai oleh Pemerintah
Kerajaan Belanda yang di desa diwakili Kepala Desa dan dipinjamkan kepada
petani, dan petani harus membayarnya. Pada tahun 1870 Pemerintah Kerajaan
Belanda memberlakukan Undang-Undang Agraria (Agrarische) sebagai
pelumas masuknya modal swasta Eropa sebagai tonggak pertanian modern
(estate). Rakyat pedesaan yang semula merupakan petani mandiri berubah
status menjadi buruh perkebunan, dan berakhir di awal abad ke 19 (VOC
bangkrut). Globalisasi pertanian di Indonesia memuncak pada era 1970-
an,ketika program Revolusi Hijau (Green Revolusion) intens diintroduksikan.
Berbagai input luar produk dari perusahaan-perusahaan TNCs dipaksakan
kepada petani untuk diterapkan. Puncaknya tercapai tahun 1985, yaitu
swasembada beras. Setelah itu intensitas dan eskalasi pasar input luar
semakin menggila seiring dengan dikembangkannya konsepsi agri bisnis. Di
penghujung abad 20, kebijakan ekonomi makro Indonesia semakin jelas
tepolarisasi pada pertumbuhan. Implikasinya, alokasi sumberdaya untuk
pembangunan pertanian tergeser oleh sektor manufaktur sebagai sektor
prioritas. Dengan demikian, pembangunan yang selayaknya “agriculture-led”
menjadi di dominasi oleh pembangunan yang bersifat
“manufacturingindustries-led”.Meningkatnya respon negatif dari berbagai
kalangan atas dampak negatif program Revolusi Hijau tidak lantas membuat

12
TNCs terhenti. Melalui sosialisasi pada berbagai ruang publik, TNCs pun
dapat melangkah dengan mulus lewat pendekatan Agribisnis. Lewat
pendekatan inilah senyatanya TNCs dapat dengan mudah mengintegrasikan
pasar nasional kedalam pasar internasional yang dikuasai dan dikontrolnya.
Melalui pendekatan Agribisnis dominasi TNCs diperhalus dengan
menghadirkan keragaman istilah yang sepertinya berbau pemerataan,seperti
Contrac Farming, Kemitraan (PIR, TRI), Rice Estate, CorporateFarming, dan
sebagainya. Dengan demikian, perbudakan dan pemarginalan petani menjadi
tidak kentara. Secara sosial praktis, TNCs pun menjadi baking para petani
berdasi dalam segala hal. Ini merupakan praktik efisiensi yang perlahan
namun pasti akan menyingkirkan para petani kecil (fenomenanya dapat kita
saksikan pada usaha tani sayuran diDataran Tinggi, poultryshop, dsb).

b. Konflik Sumber Daya Alam di Riau sepanjang tahun 2008


Berdasarkan catatan Badan Pertanahan Nasional (BPN), sedikitnya ada
7.491 konflik agraria yang saat ini sedang ditangani BPN dan Kepolisian
Republik Indonesia. Tingginya konflik ini disebabkan oleh adanya
ketimpangan penguasaan sumber daya alam antara masyarakat yang
menggantungkan hidup dari sumber ekonomi berbasis sumber daya alam
(tanah, hutan, perkebunan, jasa lingkungan dll) dengan penguasaan oleh
sektor bisnis, khususnya sektor industri skala besar perkebunan, kehutanan
dan pertambangan, dan penguasaan oleh negara yang masih menegasikan
adanya hak-hak masyarakat adat/lokal (tenurial, tradisional, ulayat).Untuk
konteks di Provinsi Riau, Konflik-konflik tersebut terjadi didominasi oleh
maraknya penguasaan sumber daya alam oleh perkebunan besar kelapa sawit
dan Hutan Tanaman Industri untuk bahanbaku industri bubur dan kertas (pulp
dan paper), disamping untuk kepentingan perlindungan kawasan hutan
konservasi dan lindung. Sepanjang tahun 2008, Scale Up mencatat sedikitnya
ada 96 konflik sumber daya alam, dengan luas lahan konflik 200.586,10
hektar. Wuju dkonflik di lapangan bukan hanya terjadi antara 2
pihak,melainkan bisa lebih, bahkan pemerintah seringkali juga sebagai pihak

13
yang langsung terlibat, baik sebagai pemicu maupun dalam posisi membela
salah satu pihak ataupun dengan alasan penegakan hukum positif, seperti
dalam kasus penertiban masyarakat kawasan konservasi.

14
BAB III

PENUTUP

a. Kesimpulan
Dualisme adalah dua keadaan yang berbeda dimana satu keadaan
bersifat superior dan keadaan lainnya bersifat inferior yang hidup
berdampingan pada ruang dan waktu yang sama.
Dualisme sendiri terdiri dari berbagai macam aspek, seperti :
Dualisme Sosial, Dualisme Ekologis, Dualisme Teknologi, Dualisme
Finansial, Dualisme Regional
Tiga permasalahan pokok yang dihadapi oleh negara sedang
berkembangadalah sebagai berikut: berkembangnya ketidakmerataan
pendapatan,kemiskinan, gap atau jurang perbedaan yang semakin lebar
antara negara maju dengan negara sedang berkembang. Berdasarkan teori
J.H. Boeke tentangdualisme ekonomi di negara berkembang dimana
bergantung pada anugerahalami suatu negara terhadap sumber daya untuk
pertumbuhan ekonomi dan pembangunan karena dalam ekonomi
berkembang, modal alami mungkin hanya sumber modal yang tersedia
langsung dari alam. Adapun dikarenakan Indonesia negara agraris maka
kasus dualismeekonomi didominasi atas globalisasi pertanian yang telah
dimulai sejakpemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan
hongitochten, yaitu caraperdagangan monopoli yang disertai dengan
penghancuran kebun/hutan rempahpenduduk yang berani menyaingi
monopoli perdagangan tersebut disingkirkansehingga menimbulkan
konflik karena ketimpangan penguasaan sumber dayaalam. Oleh karena
itu untuk meminimalisir dampak negative dari globalisasi dankonflik
pertanian yang terjadi diperlukan upaya pengembangan agribisnis yang
lekat dengan peningkatan pemberdayaan (empowering) masyarakat
agribisnisterutama skala mikro dan kecil dalam suatu kebijakan yang
“berpihak”.

15
b. Saran
Dualisme ekonomi saat ini menjadi hak oleh semua Negara di
seluruh dunia yang sedang berkembang dalam suatu masyarakat. Dengan
adanya dualisme mengakibatkan ketidakmampuan sebagai sumber daya
yang ada di NYSB tidak digunakan secara efesien. Jadi saya menyarankan
bahwa sumber daya yang ada di Indonesia kita harus manfaatkan dengan
baik, yaitu dengan adanya dualisme ekonomi ini kita lakukan
pengembangan sumber daya manusia yang ada dan kita harus manfaatkan
dengan baik.

16
DAFTAR PUSTAKA

N.Mangkiw,Makroekonomi,(NewYork:WORTHPUBLISHER,2007),
diterjemahkanPenerbitErlangga
M.L Jhingan, Ekonomi Pembangunan danPerencanaan, (Jakrata: PT RajaGrafindo
Persada,2012)
Dumairy. Perekonomian Pembangunan. Jakarta:Erlangga. 1996
Arsyad, Lincolin, Ekonomi Pembangunan. Bulaksumur : Gunadarma, 1993
Sadono Sukirno, Ekonomi Pembangunan. Kencana, Jakarta : 2006
Lincolin, arsyad, 2010, ekonomi pembangunan : edisi 5, yogyajarta, UUP ATIM
YKPN
Dumairy. Perekonomian pembangunan. Jakarta:Erlangga. 1996, hlm 48
Sadono Sukirno, Ekonomi Pembangunan. Kencana, Jakarta : 2006 hlm 12
M.L Jhingan, Ekonomi Pembangunan danPerencanaan, (Jakrata: PT Raja Grafindo
Persada,2012), hal.370
Lincolin, arsyad, 2010, ekonomi pembangunan : edisi 5, yogyajarta, UUP ATIM
YKPN.Hlm 34
N.Mangkiw,Makroekonomi,(New York:WORTH PUBLISHER,2007),
diterjemahkanPenerbitErlangga hlm.35
Arsyad, Lincolin, Ekonomi Pembangunan. Bulaksumur : Gunadarma, 1993 hlm 32

17