Anda di halaman 1dari 53

KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN KESEHATAN MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PALANGKARAYA
RSUD dr. DORIS SYLVANUS

REFERAT

KELAINAN
DUKTUS LAKRIMALIS
Pe m b i m b i n g : d r. Yu d i k a I wa n K a h a ra p, S p. M

O l e h : Rosariala Dyta
1
8/2/19
Obstruksi duktus
LATAR nasolakrimal
BELAKANG Kongenital Didapat

Sistem drainase • primer (diakibatkan


Østenosis/atresia oleh inflamasi atau
lakrimal punctum fibrosis tanpa
Ø kanalikula penyebab yang
sekretori kongenital, diketahui)
malformasi nasal, • sekunder (disebabkan
eksretori Ø abnormalitas oleh infeksi, inflamasi,
kraniofasial. neoplasma, trauma,
atau faktor mekanik)

8/1/19 2
ANATOMI
a. sistem sekresi yang berupa
kelenjar lakrimalis
b. sistem ekskresi yang terdiri
dari
• punctum lakrimalis,
• kanalis lakrimalis,
• sakus lakrimalis,
• duktus nasolakrimalis, dan
• meatus inferior

8/1/19 3
8/1/19 4
Sistem Sekresi Air Mata

Terletak di palpebra superior

Terletak di dalam fossa


lakrimalis di segmen temporal
atas anterior dari orbita,
dipisahkan dari bagian
palpebra oleh kornu lateralis
dari muskulus levator palpebra

8/1/19 5
Sistem Ekskresi Air Mata

Setiap kali mengedip, muskulus


orbikularis okuli akan menekan
ampula à memendekkan
kanalikuli horizontal.
Dalam keadaan normal, air mata
dihasilkan sesuai dengan
kecepatan penguapannya.

8/1/19 6
Sistem Ekskresi Air Mata

Dengan menutup mata, bagian


khusus orbikularis pre-tarsal
yang mengelilingi ampula
mengencang.

Secara bersamaan, palpebra


ditarik ke arah krista lakrimalis
posterior, dan traksi fascia
mengelilingi sakus lakrimalis
berakibat memendeknya
kanalikulus dan menimbulkan
tekanan negatif pada sakus.

8/1/19 7
PARS EKSKRETORIUS
Punctum Lakrimalis
Superior / Inferior

Kanalis lakrimalis superior /
inferior→ pars vertical → pars
horisontal → kanalis komunis

Sakkus Lakrimalis

Duktus nasolakrimalis

Valvula hasner ( lipatan mukosa )

Meatus nasi inferior
2. Tear break-up time
1. Uji Schirmer (TBUT)
kuantitas air mata dari
Stabilitas air mata dg
sekresi air mata.
uji flurosein
PEMERIKSAAN
PEMBENTUKAN 3. Impression cytology
AIR MATA Densitas sel goblet

4. Rose Bengal test


Evaluasi dry eyes

8/1/19 9
1. Conjunctival
fluroscein dye PEMERIKSAAN DRAINASE
test
AIR MATA

2. Probing & Irigasi 3. Pemeriksaan radiologis dengan


kontras

4. Dacryocystography
Hanya sistem lakrimal inferior

5. Endoskopi ductus lakrimal


Untuk melihat permukaan mukosa internal
pada ductus lacrimal inferior

10
Pemeriksaan radiologis dengan kontras
pada obstruksi kelenjar lakrimal
Endoskopi ductus lakrimal Dacryocystography

8/1/19 12
OBSTRUKSI
SISTEM LAKRIMALIS INFERIOR
Penyumbatan duktus nasolakrimalis (saluran yang
mengalirkan air mata dari sakus lakrimalis ke hidung).
Duktus nasolakrimalis termasuk dalam sistem
lakrimalis sebagai komponen dari sistem ekskresi /
drainase air mata.

8/1/19 13
ETIOLOGI
Terdapat benda yang menutupi lumen duktus, seperti pengendapan
kalsium, atau koloni jamur yang mengelilingi suatu korpus alienum.

Terjadi striktur atau kongesti pada dinding duktus.

Penekanan dari luar oleh karena terjadi fraktur atau adanya tumor pada
sinus maksilaris.

Obstruksi akibat adanya deviasi septum atau polip.

8/1/19 14
PATOFISIOLOGI
Obstruksi duktus nasolakrimal primer à fibro-inflammatory process

Obstruksi duktus nasolakrimal sekunder :


a)Infeksi: bakteri, jamur, dan virus
b)Inflamasi: sarcoides dan radiasi
c)Neoplastik: squamous cell carcinoma, dan squamous cell papiloma
d)Trauma iatrogenik: Operasi sinus atau non iatrogenik seperti laserasi
kanikular
e)Mekanik: kemasukan benda asing.

8/1/19 15
PATOFISIOLOGI
Obstruksi duktus nasolakrimalis

Penumpukkan air mata, debris epitel, cairan mukus sakus lakrimalisà media
pertumbuhan baik bakteri

1. Tahap obstruksià air mata berlebihan


2. Tahap infeksià keluar cairan mucus, mukopurulen atau purulen
3. Tahap sikatrikà tidak ada regurgitasi air mata atau pus lagià kista
MANIFESTASI KLINIS
• Mata berair (tearing), yang berkisar dari sekedar mata basah
(peningkatan di cekungan air mata), (epifora),
• Penimbunan cairan mukoid atau mukopurulen, dan
• Kerak.
• Mungkin ada eritema atau maserasi kulit karena iritasi dan
gesekan yang disebabkan oleh tetes - tetes air mata dan cairan

8/1/19 17
DAKRIOSISTITIS
KONGENITAL
Pembentukan yang tidak sempurna duktus nasolakrimalis.

Gejala : adanya cairan dari punctum lakrimalis bila sakkus


ditekan.

Terapi :
1. Menekan sakkus 6 – 8 kali /hari
2. PO Antibiotik Amoxicillin/clavulanate atau cefaclor 20-40
mg/kgBB/hari dibagi dalam tiga dosis
3. Antibiotik topikal dalam bentuk tetes (moxifloxacin 0,5%
atau azithromycin 1%) atau menggunakan sulfonamid 4-5
kali sehari
DACRYOSISTITIS AKUT
Peradangan akut pada sakkus lakrimalis, paling sering
ductus nasolakrimalis dan unilateral.

• Epidemiologi
• Sering terjadi pada usia 50-60
• Morbiditas yang terjadi berhubungan dengan abses
pada sakus lakrimalis dan penyebaran infeksinya.
…….DACRYOSISTITIS AKUT

• Etiologi :
• Stafilokokus
• Pneumokokus
• Streptokokus
• Neisseria catarrkalis
• Pseudomonas

• GK :
• Epifora
• Nyeri yang hebat daerah kantung air mata
• Tanda radang pada sakus lakrimal
• Nyeri tekan di daerah sakus
• Sekret mukopurulen (+) bila kantung air
mata ditekan
DACRYOSISTITIS KRONIK
Peradangan kronik pada sakkus lakrimal krn obstruksi
duktus nasolakrimalis.

• Bersifat rekuren
• Faktor herediter, Lingkungan kurang sehat : debu,asap.
Kuman : Streptocoocus & pneumococcus

• GK: tanda radang ringan, mata sering berair, sekret


mukoid disertai nanah (+) bila ditekan daerah
pungtum lakrimal, dan kelopak mata yang melekat
DACRYOSISTITIS
TERAPI
§ Antibiotik Lokal → tetes mata
§ Antibiotik sistemik Amoxicillin dan chepalosporine
(cephalexin 500mg p.o. tiap 6 jam
§ Analgetik oral (acetaminofen atau ibuprofen), Untuk
mengatasi nyeri dan radang
§ Dacryosystorhinostomy
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Dye dissapearance test (DDT)


meneteskan zat warna fluorescein 2% pada
kedua mata, masing - masing 1 tetes.
Kemudian permukaan kedua mata dilihat
dengan slit lamp.

8/1/19 23
PEMERIKSAAN PENUNJANG
üFluorescein clearance test
• à fungsi saluran ekskresi lakrimal.
• Uji ini dilakukan dengan meneteskan zat warna fluorescein 2% pada
mata yang dicurigai mengalami obstruksi pada duktus
nasolakrimalisnya.
• Setelah itu pasien diminta berkedip beberapa kali dan pada akhir menit
ke-6 pasien diminta untuk bersin. Jika pada tissue didapati zat warna,
berarti duktus nasolakrimalis tidak mengalami obstruksi.

8/1/19 24
PEMERIKSAAN PENUNJANG

üTes Probing dan Tes Anel (Irigasi)


§ à menentukan letak obstruksi pada saluran ekskresi air
mata dengan cara memasukkan sonde ke dalam saluran
air mata.
§ Pada tes ini, punctum lakrimal dilebarkan dengan dilator,
kemudian probe dimasukkan ke dalam sackus lakrimal.
§ Jika probe yang bisa masuk panjangnya lebih dari 8 mm
berarti kanalis dalam keadaan normal, tapi jika yang
masuk kurang dari 8 mm berarti ada obstruksi.

§Bila probe ini telah berhasil masuk, maka disusul dengan


tes Anel.

8/1/19 25
PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Tes Probing dan Tes Anel


(Irigasi)
§ untuk menentukan letak obstruksi
pada saluran ekskresi air mata
dengan cara memasukkan sonde
ke dalam saluran air mata.

8/1/19 26
PEMERIKSAAN
PENUNJANG
ØTes Anel (+): Bila terasa asin di
tenggorokan, berarti salurannya
berfungsi baik.

ØBila cairan keluar lagi dari pungtum


lakrimal superior, berarti ada obstruksi di
duktus nasolakrimalis.
ØKalau cairan kembali melalui pungtum
lakrimal inferior, berarti obstruksi
terdapat di ujung nasal kanalikuli lakrimal
inferior

8/1/19 27
PEMERIKSAAN PENUNJANG

üJones Dye Test


Jones dye test juga dilakukan untuk melihat kelainan fungsi saluran
ekskresi lakrimal.

• Pada Jones Test I, mata pasien yang dicurigai mengalami obstruksi pada
duktus nasolakrimalisnya ditetesi zat warna fluorescein 2% sebanyak 1-
2 tetes.
• Kemudian kapas yang sudah ditetesi pantokain dimasukkan ke meatus
nasal inferior dan ditunggu selama 3 menit. Jika kapas yang dikeluarkan
berwarna hijau berarti tidak ada obstruksi pada duktus
nasolakrimalisnya.

8/1/19 28
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Hasil negatif bila tidak terdapat warna hijau dari hidung,


mengindikasikan obstruksi parsial atau kegagalan dari mekanisme
pompa lakrimal.
8/1/19 29
Jones Dye Test

8/2/19 30
Jones Test II
• mengindikasikan kemungkinan
letak obstrukasi parsial.
• Jika pada menit ke-5 tidak
didapatkan kapas dengan bercak
berwarna hijau maka dilakukan
irigasi dengan larutan salin pada
sakus lakrimalisnya.

8/1/19 31
Jones Test II
• Bila >2 menit atau bahkan tidak ada
zat warna hijau pada kapas sama
sekali setelah dilakukan irigasi,
mengindikasikan tidak masuknya
fluorescein ke dalam sakus
lakrimalis.
• Hal ini berarti obstruksi parsial dari
pungtum, kanalikuli atau kanalikuli
komunis, atau tidak sempurnanya
mekanisme pompa lakrimalis

8/1/19 32
PEMERIKSAAN PENUNJANG

ü Tes Radiografi
Menggunakan kontras
khusus untuk menilai
ductus nasolakrimalis
(Digital Subtraction
Dacryocystography).

8/1/19 33
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Nuclear Lacrimal
Scintigraphy
Teknik non-invasif untuk menilai efisiensi
fungsional dari sistem drainase lakrimal.
Pelacak radioaktif (sulfur koloid atau
Technitium) ditanamkan ke dalam
kantung konjungtiva dan perjalanannya
melalui sistem drainase lakrimal
divisualisasikan dengan kamera Anger
gamma.

8/1/19 34
TATALAKSANA

§ Massage daerah lakrimal menjadi pilihan pertama.


§ Massage dengan tekanan pada pangkal hidung ke arah
inferior dilakukan satu sampai dua menit tiap hari. Bila dalam
jangka waktu tiga bulan tidak menunjukkan perbaikan maka
irigasi berulang.

8/1/19 35
TATALAKSANA
§ Sumbatan nasolakrimal pada
orang dewasa pada umumnya
merupakan indikasi suatu
tindakan pembedahan yaitu
dakriositorinostomi.
§ Prosedur pembedahan yang
sering dilakukan pada
dakriosistitis adalah
dacryocystorhinostomy (DCR).

8/1/19 36
TATALAKSANA
Dakriosistorinostomi internal memiliki beberapa keuntungan jika
dibandingkan dengan dakriosistorinostomi eksternal. Adapun
keuntungannya yaitu,
(1) trauma minimal dan tidak ada luka di daerah wajah karena operasi
dilakukan tanpa insisi kulit dan eksisi tulang,
(2) lebih sedikit gangguan pada fungsi pompa lakrimal, karena operasi
merestorasi pasase air mata fisiologis tanpa membuat sistem drainase
bypass, dan
(3) lebih sederhana, mudah, dan cepat (rata-rata hanya 12,5 menit).

8/1/19 37
TATALAKSANA
kontraindikasi absolut kontraindikasi relatif
üKeganasan pada kantong air mata.
üDakriosistitis spesifik, seperti TB dan • usia yang
sifilis ekstrim (bayi
üKelainan pada hidung : atau orang tua di
üKeganasan pada hidung
üRhinitis spesifik, seperti
atas 70 tahun)
rhinoskleroma • adanya
üRhinitis atopik mucocele atau
üKelainan pada tulang hidung, seperti fistula lakrimalis
periostitis

8/1/19 38
TATALAKSANA
§ Ballon dacryocystoplasty biasa
digunakan pada anak dengan
obstruksi duktus nasolakrimalis
kongenital dan pada dewasa
dengan obstruksi duktus
nasolakrimalis parsial

8/1/19 39
KOMPLIKASI
Obstruksi pada duktus
nasolakrimalis ini dapat
menimbulkan
media
• penumpukan air mata, pertumbuhan
• debris epitel, dan yang baik
untuk Dakriosistitis
• cairan mukus sakus pertumbuhan
lakrimalis yang merupakan bakteri
media pertumbuhan yang
baik untuk pertumbuhan
bakteri
8/1/19 40
KOMPLIKASI
§ Komplikasi setelah DCR.
üperdarahan pascaoperasi,
ünyeri transien pada segmen superior
os.maxilla,
ühematoma subkutaneus periorbita,
üinfeksi
üsikatrik pascaoperasi yang tampak jelas.
8/1/19 41
PROGNOSIS
Prognosis pada kasus ini pada umumnya baik karena
angka keberhasilan pada dacryocystorhinostomy (DCR)
adalah 75 – 95 %.

8/1/19 42
Dakrioadenitis
• Radang pada kelenjar lakrimal
• Jarang ditemukan
• Dapat unilateral dan bilateral

AKUT KRONIS
Dakrioadenitis Akut
Etiologi
• Bakteri: Staphylococcus aureus, pneumococcus,
streptococcus gonococcus.
• Sering dihubungkan dengan penyakit infeksi seperti
parotitis, measles, demam scarlet, diptheria, dan
influenza.

• Gambaran Klinis
• Nyeri di daerah glandula lakrimal, umumnya
unilateral
• Edem palpebra
• Konjungtiva kemotik
• Kelopak mata dibalik: pembengkakan berwarna
merah di bawah kelopak mata atas temporal
Dakrioadenitis Akut

Diferential diagnosa :
• Intermal hordeolum
• Eyelid abscess
• Orbital selulitis

• Prognosis
Inflamasi akut pada kelenjar lakrimal umumnya
disertai dengan penyembuhan spontan 8-10 hari.
Komplikasi jarang terjadi.
Dakrioadenitis Kronis

Etiologi
• Limfoma hodgkin
• Tuberkulosis
• Mononukleosis infeksiosa
• Leukemia limfatik
• Limfosarkoma Gambaran Klinis
• Seperti keadaan akut
• Tidak ada rasa nyeri
• Edem >> bola mata
terdorong ke arah nasal
• Jarang terjadi proptosis
Dakrioadenitis Kronis

Diferential diagnosis :
• Periostitis of the upper orbital rim
• lipodermoid

Tatalaksana
Tergantung dengan kelainan atau penyakit
yang mendahuluinya.
Prognosis
Baik jika telah diketahui kelainan atau penyakit
utama.
Dakrioadenitis
Penatalaksanaan
• Kompres hangat
• Antibiotik sistemik
• Jika ada abses: Insisi
• Kasus kronik: pengobatan sesuai etiologi

Komplikasi: fistula kelenjar lakrimal


KESIMPULAN
§ Obstruksi duktus nasolakrimal à sumbatan pada saluran yang
menghubungkan dari salah satu sakus lakrimal ke bagian anterior
meatus inferior dari hidung, tempat mengalirnya air mata ke hidung.
§ Terbagi menjadi dua, yakni obstruksi duktus nasolakrimal kongenital
dan obstruksi duktus nasolakrimal didapat.
§ Pemeriksaan fisik akan ditemukan adanya aliran air mata yang lebih
banyak, massa yang menonjol pada sakus lakrimal atau area medial
kantus, atau sekret bola mata yang mukoid atau purulen.

8/1/19 49
KESIMPULAN
§ Pemeriksaan penunjang : DDT (Dye Disappearance Test), tes Jones I dan
II, diagnostic probing dracyoscintiagraphy.
§ Penatalaksanaan obstruksi pada duktus nasolakrimal : intubasi dan
pemasangan sten pada pasien yang mengalami obstruksi pada duktus
nasolakrimal parsial dan tindakan bedah dracyocystorhinostomy (DCR).
Dacryocystorhinostomy adalah suatu prosedur untuk membuat saluran
yang membuat anastomosom antara sakus lakrimal dan kavitas nasal
melalui ostium tulang.

8/1/19 50
KESIMPULAN
§ Dakrioadenitis adalah peradangan pada kelenjar lakrimal dengan
gejala edema palpebra, nyeri pada kelenjar lakrimal, dan
konjungtiva kemotik.
§ Dakrioadenitis dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur,
sarcoid dan idiopati.
§ Penatalaksanaan à sesuai dengan etiologi. Saran insisi jika
terdapat abses.

8/2/19 51
DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, Sidharta. 2008. Ilmu Penyakit Mata Edisi Ketiga. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Ellis, Harold, 2006. Clinical Anatomy, A Revision and Applied Anatomy for Clinical Students Eleventh Edition.
Massachusetts, USA: Blackwell Publishing, Inc.
3. Lang G, 2006. Ophthalmology, A Pocket Textbook Atlas. New York: Thieme; 2nd
4. Ilyas, Sidharta, 2006. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi Kedua. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
5. Mamoun, Tarek, 2009. Chronic Dacryocystitis.. http://eyescure.com/Default.aspx?ID=84.
6. Kanski J, 2007. Lacrimal Drainage System, Clinical Opthalmology. United States of America: Butterworth Heinemann
Elsiever; 5th Edition
7. Khurana AK, 2007. Comprehensive Ophthalmology. Delhi: Newage International: 4th Edition
8. Maheshwari R, 2005. Management of Congenital Nasolacrimal Duct Obstruction;
Availablefrom:http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v6/v6c105.html
9. Anonim. 2006. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag/SMF. Ilmu Penyakit Mata Ed.III. Surabaya: Rumah Sakit Umum Dokter
Soetomo.
10. Bashour, Mounir. Congenital Anomalies of the Nasolacrimal Duct. https://emedicine.medscape.com/article/1210252-
overview

8/1/19 52
TERIMA KASIH

8/1/19 53