Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN STUDI KEBANTNAN

KERAJAAN BANTEN DAN PENINGGALANNYA

Disusun oleh:

Nama :Ahmad Rizal Syamsuddin


;(3336180042)
:Dosen :Abdurohim

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
BANTEN - CILEGON
2019
LAPORAN STUDI KEBANTNAN

ARSITEKTUR BENTENG SPELWIJK

Disusun oleh:

Nama :MAULANA ADI FIRMANSYAH


;(3336180079)
:Dosen :Abdurohim

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
BANTEN - CILEGON
2019
LAPORAN STUDI KEBANTNAN

BENTENG SUROSOWAN

Disusun oleh:

Nama :Juan Kaarlos Sihombing


;(3336180005)
:Dosen :Abdurohim

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
BANTEN - CILEGON
2019
Kerajaan Banten
Perkembangan Awal Kerajaan Banten Semula Banten menjadi daerah
kekuasaan KerajaanPajajaran.Rajanya (Samiam) mengadakan hubungandengan
Portugis di Malaka untuk membendungmeluasnya kekuasaan Demak.
Namunmelalui, Faletehan, Demak berhasil mendudukiBanten, Sunda Kelapa, dan
Cirebon.v Pada tahun 1552 M, Faletehan menyerahkanpemerintahan Banten
kepada putranya,Hasanuddin. Dibawah pemerintahan Sultan Hasanuddin
(1552-1570M), Banten cepat berkembang menjadi besar.Wilayahnyameluas
sampai ke Lampung, Bengkulu, dan Palembang.vPada awalnya kawasan Banten
juga dikenal denganBanten Girang merupakan bagian dari kerajaan
sunda.Kedatangan pasukan Kerajaan Demak di bawah pimpinanMaulana
Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untukperluasan wilayah juga sekaligus
penyebaran dakwahIslam. Kemudian dipicu oleh adanya kerjasama
Sunda-Portugal dalam bidang ekonomi dan politik, hal inidianggap dapat
membahayakan kedudukan KerajaanDemak selepas kekalahan mereka mengusir
Portugal dariMelaka tahun 1513..

Selain mulai membangun benteng pertahanan diBanten, Maulana Hasanuddin


juga melanjutkanperluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada diLampung.Ia
berperan dalam penyebaran Islam dikawasan tersebut, selain itu ia juga
telahmelakukan kontak dagang dengan rajaMalangkabu (Minangkabau,
KerajaanInderapura), Sultan Munawar Syah dandianugerahi keris oleh raja
tersebut.v Seiring dengan kemunduran Demak terutamasetelah meninggalnya
Trenggana,Banten yangsebelumnya vazal dari Kerajaan Demak, mulaimelepaskan
diri dan menjadi kerajaan yangmandiri.

Peninggalan kerajaan Banten


Di Banten Lama dan sekitarnya kini masih terdapat beberapa peninggalan
kepurbakalaan yang berasal dari zaman kerajaan Islam Banten (abad XVI –
XVIII)
Peninggalan tersebut ada yang masih utuh namun banyak yang tinggal
reruntuhannya saja bahkan tidak sedikit yang berupa fragmen-fragmen kecil.
Peninggalan berupa artefak –artefak kecil yang dikumpulkan dalam penelitian dan
penggalian kepurbakalaan kini telah disimpan di Museum Situs Kepurbakalaan
yang terletak di halaman depan bekas Keraton Surosowan.
Peninggalan kepurbakalaan tersebut adalah :

Komplek Keraton Surosowan

Selain istana Keraton Kaibon, Kerajaan Banten di masa silam juga


meninggalkan bangunan istana lainnya, yaitu istana Keraton Surosawan. Istana ini
adalah tempat tinggal dari Sultan Banten dan menjadi kantor pusat
kepemerintahan. Nasib istana Keraton Surosawan juga sama dengan Keraton
Banten, hancur luluh. Saat ini tinggal kepingan-kepingan reruntuhannya saja yang
dapat kita lihat bersama bangunan kolam pemandiaan para putri.

Komplek Mesjid Agung


Masjid Agung Banten adalah salah satu bangunan peninggalan Kerajaan
Banten yang hingga kini masih berdiri kokoh. Masjid ini terletak di Desa Banten
Lama, 10 km utara Kota Serang. Dibangun pada tahun 1652 tepat di masa
pemerintahan Sultan Maulana Hasanudin, putera pertama Sunan Gunung Jati,
masjid ini memiliki beberapa keunikan corak. Keunikan corak masjid Agung
Banten di antaranya menaranya berbentuk mirip mercusuar, atapnya menyerupai
atap dari pagoda khas gaya arsitektur China, ada serambi di kiri kanan bangunan,
serta kompleks pemakaman sultan Banten beserta keluarganya di sekitar
kompleks masjid.

Vihara Avalokitesvara
Meski Kesultanan Banten berazaskan atas Islam, toleransi dari penduduk dan
pemimpinnya dalam beragama terbilang sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan
adanya peninggalan sejarah yang berupa bangunan Vihara, tempat ibadah umat
Budha. Vihara peninggalan Kerajaan Banten tersebut bernama Avalokitesvara.
Hingga kini, kita masih dapat melihatnya. Yang unik, di dinding vihara ini kita
juga dapat melihat relief kisah legenda siluman ular putih yang melegenda itu.

Istana Keraton Kaibon Banten


Peninggalan Kerajaan Banten selanjutnya adalah bangunan istana Kaibon.
Istana ini dulunya adalah tempat tinggal ibunda Sultan Syaifudin, yakni Bunda
Ratu Aisyah. Akan tetapi, saat ini bangunan istana tersebut sudah hancur dan
hanya dapat dilihat reruntuhannya saja. Pada saat kerajaan Banten bentrok dengan
pemerintah kolonial Belanda pada 1832, Daendels –Gubernur Hindia Belanda,
meruntuhkan bangunan bersejarah ini.
Benteng Spelwijk
Benteng Speelwijk Sebagai poros utama maritim nusantara di masa silam,
kerajaan Banten juga meninggalkan bangunan berupa benteng dan mercusuar.
Benteng dengan tembok setinggi 3 meter ini bernama Benteng Speelwijk.
Dibangun tahun 1585, benteng peninggalan Kerajaan Banten ini berfungsi selain
sebagai pertahanan kerajaan dari serangan laut juga berfungsi untuk mengawasi
aktifitas pelayaran di sekitar Selat Sunda. Di dalam benteng ini terdapat beberapa
meriam kuni dan sebuah terowongan yang menghubungkan antara benteng dan
keraton Surosowan.

Danau Tasikardi
Di sekirar istana Kaibon, kita juga dapat menemukan sebuah danau buatan.
Danau tersebut bernama Tasikardi. Danau ini dibuat saat masa pemerintahan
Sultan Maulana Yusuf, yakni antara tahun 1570 sd 1580. Dahulunya, dasar danau
seluas 5 hektar ini dilapisi dengan ubin dan batu bata. Kendati begitu, sekarang
luas danau tersebut telah menyusut dan lapisan batu bata di dasarnya telah
tertimbuh tanah sedimen yang terbawa arus sungai. Danau Tasikardi pada masa
silam berfungsi sebagai sumber utama pasokan air bagi keluarga kerajaan yang
tinggal di istana Kaibon serta sebagai saluran irigasi untuk persawahan di sekitar
Banten.

Meriam Ki Amuk
Di dalam bangunan benteng Speelwijk terdapat beberapa senjata berupa
meriam. Di antara meriam-meriam tersebut yang terbesar dan terunik dinamai
meriam Ki Amuk. Dinamakan demikian karena meriam ini terbilang memiliki
daya ledak tinggi dan tembakan yang jauh. Konon, meriam ini merupakan hasil
rampasan dari pemerintah Kolonial Belanda saat masa peperangan.
Peninggalan Lainnya Selain peninggalan-peninggalan di atas, Kerajaan Banten
juga memiliki beberapa peninggalan lainnya yang berupa aksesoris. Di antaranya
adalah mahkota binokasih, keris panunggul naga, dan keris naga sasra.
Keberaadaan benda-benda bersejarah tersebut hingga kini masih terawat rapi di
Museum Kota Banten.