Anda di halaman 1dari 14

ISTITHA’AH DALAM HAJI

A. PENDAHULUAN

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang Islam
yang memenuhi syarat istitaah, baik secara finansial, fisik, maupun mental, sekali seumur
hidup. Di samping itu, kesempatan untuk menunaikan ibadah haji yang semakin terbatas juga
menjadi syarat dalam menunaikan kewajiban ibadah haji.

Dr Ali Syariati dalam bukunya Makna Haji (2001) yang diterjemahkan dalam beberapa
bahasa menjelaskan, haji merupakan revolusi lahir dan batin untuk membebaskan manusia
dari belenggu tuhan-tuhan palsu, seperti uang dan kekuasaan. Haji merupakan pertunjukan
tentang penciptaan, keesaan ideologi Islam, dan ummah.

Nurcholis Madjid (1977) menilai haji adalah laku relegius atas perintah Tuhan dan tapak tilas
hamba-hamba Allah yang suci. Tanda ketundukan dan kemabruran adalah kesadaran dan
praktik untuk komitmen solidaritas sosial. Haji ibadah individu yang berimplikasi sosial.

Allah SWT berfirman,


“Mengerjakan Haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang
sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji),
maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam”. (QS. Ali Imran: 97).

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya
dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-
bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebajikan,
niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah
takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Al-Baqarah/2: 197).

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya akan datang kepadamu
dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang dating dari segenap penjuru
yang jauh.” (Al-Hajj: 27).
Melaksanakan ibadah haji dan umrah di-wajibkan hanya sekali seumur hidup bagi setiap
orang yang telah memenuhi persyaratan dibawah ini:

 Muslim.
 Baligh.
 Berakal.
 Merdeka (bukan hamba sahaya).
 Memiliki kemampuan (istitha'ah).[/ist]

Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda dalam sebuah khutbahnya"Hai sekalian manusia,
sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kamu untuk me-laksanakan haji, maka
laksanakanlah haji! Lalu seorang Sahabat berkata: 'Apakah pada setiap tahun, ya Rasulullah?'
Beliaupun diam hingga orang itu mengulangi per-tanyaannya tiga kali. Kemudian beliau
bersabda: 'Seandainya aku mengatakan: 'Ya', niscaya akan menjadi wajib dan pasti kalian
tidak akan mampu (melaksanakan-nya). Selanjutnya kata beliau: 'Biarkan aku, apa-apa yang
kubiarkan bagimu, karena sesungguhnya orang-orang sebelum-mu telah dibinasakan hanya
karena banyak-nya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap Nabi mereka. Jika aku
memerintahkan sesuatu kepadamu, maka kerjakan-lah semampumu, dan jika aku
melarangmu dari sesuatu, maka tinggalkanlah.'"
( HR. Muslim. Lihat Mukhtasar Shahih Muslim ditahqiq oleh al-Albani No. 639, dan an-
Nasa-i: 5/110, lihat pula kitab al-Wajiz hal: 230.)

B. HAJI DAN MODEL IBADAH DALAM ISLAM

Dalam tradisi fikih, model ibadah dibedakan menjadi tiga kategori.


Pertama, ibadah badaniyyah, yakni ibadah yang sepenuhnya mengandalkan aspek kekuatan
badan, seperti salat dan puasa. Untuk melakukannya, kita hanya membutuhkan kekuatan
fisik. Kita tidak perlu membayar upeti untuk melakukan keduanya.

Kedua, ibadah maliyah, yakni ibadah yang hanya dapat dilakukan dengan sarana uang,
seperti zakat. Kita tidak memerlukan kekuatan fisik untuk melakukannya. Kita hanya
membutuhkan harta (dan sebagian di antara kita yang mengerjakan haji berkali-kali pasti
memiliki aspek ini).
Ketiga, ibadah maliyah-badaniyyah, yakni model ibadah yang hanya bisa dilakukan kala kita
memiliki kekuatan fisik dan harta, seperti ibadah haji. Dalam Alquran disebutkan bahwa
untuk menunaikan haji, disyaratkan adanya istithaah (kemampuan), yakni istithaah fisik dan
harta. Tanpa adanya kesatuan antara kedua hal itu, mustahil kita dapat melaksanakannya.

Bila kita cermati tiga model ibadah di atas satu per satu, kita akan menemukan kesimpulan
bahwa dimensi ibadah model pertama sangat bersifat individualistik. Yakni lebih
menekankan hubungan antara Sang Khalik dan sang makhluk. Apalagi dalam kasus puasa.
Firman Allah ini menunjukkan betapa sangat pribadi model ibadah tersebut. Dimensi ibadah
model kedua, zakat, jelas sekali bernuansa sosial. Sebab, dengan berzakat, berarti kita turut
memikirkan dan mencoba mengentaskan kemiskinan atau minimal berbagi rasa dengan
golongan wong alit.

Sementara itu, ibadah model ketiga, sebagaimana model pertama, juga lebih bersifat
individualistik. Manfaatnya hanya dirasakan oleh pelakunya. Orang lain tidak merasakan apa
pun, kecuali nasi tumpeng, yang hakikatnya juga ditujukan hanya untuk kepentingan
keselamatannya dalam menjalankan ibadah haji.

Di antara tiga model ibadah di atas, manakah yang utama? Tentu ketiganya sama-sama
utama. Hanya, bila kita berpikir menggunakan konsep skala prioritas, kita akan mengatakan
bahwa ibadah yang berdimensi sosiallah yang paling utama. Itu tidak bisa dipungkiri.
Mengapa? Sebab, ibadah model itu, selain bernuansa horisontal, juga mengandung dimensi
vertikal. Sebab, mustahil kita melakukannya tanpa dilandasi unsur keimanan kepada Tuhan.
Sebaliknya, nuansa sosial sulit (atau bahkan tidak dapat) ditemukan pada model ibadah
vertikal, seperti salat, puasa, maupun haji. Kalaupun ada, hal itu sebatas imbas saja, tidak
terjadi secara langsung.

Dalam tradisi Ushul al-Fiqh dikatakan, al-muta’addy afdhal min al-qashir (ibadah yang
manfaatnya dirasakan orang lain itu lebih utama ketimbang ibadah yang manfaatnya hanya
dirasakan sendiri). Ibadah model ini hanya dapat kita rasakan melalui media zakat. Syukur-
syukur, idealnya, kita dapat melakukan semuanya dengan seimbang.
Karena itu, kesalehan sosial (spiritual centrifugal) sudah seharusnya kita kedepankan
ketimbang kesalehan individual (spiritual centripetal). Pertanyaannya, kenapa kita lebih
mementingkan diri sendiri (individualisme) ketimbang orang lain (altruisme). Barangkali
karena kita sudah sedemikian parah dininabobokan oleh simbol-simbol keagamaan yang
sangat literalistik. Kita tidak pernah berpikir tentang esensi simbol-simbol itu.

Selain itu, tampaknya kita lebih senang dilihat oleh masyarakat dalam konteks strata sosial.
Kita lebih bahagia dan bangga mantasarufkan harta kita untuk mengoleksi titel-titel sosial,
seperti haji, ketimbang mengoleksi kebaikan-kebaikan sosial. Padahal, dalam sejarah, Nabi
SAW hanya berhaji sekali, lainnya semata umrah. Toh, memang yang wajib hanya sekali.
Atau barangkali hal ini disebabkan minat traveling orang kaya Indonesia sedemikian tinggi
sehingga kerap kita mendengar istilah wisata spiritual. Istilah yang mengasyikkan, tapi
sebenarnya tidak lebih dari jalan-jalan semata.

C. RUKUN DAN KEWAJIBAN DALAM HAJI

Ibadah haji adalah salah satu di antara ibadah-ibadah dalam Islam. Dengan demikian dia
memiliki rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah. Dan disini kami akan
menukil secara ringkas mengenai rukun, wajib dan sunnah-sunnah haji, sebagai berikut:

1. Rukun-rukun Haji

 Ihram/niat karena Allah.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:


"Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya (dalam menjalankan agama) dengan lurus…" (QS. Al-
Bayyinah: 5)
Dan Rasulullah bersabda:

‫ت‬ ِ ‫ِإنَّ َما اْأل َ ْع َما ُل ِب‬


ِ ‫النيَّا‬
"Sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niat."

 Wuquf di 'Arafah.
Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:

ٌ‫ع َرفَة‬
َ ‫ْال َح ُّج‬
"Ibadah haji adalah wuquf di Arafah."

 Thawaf ifadhah.

Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:


"…Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)."
(QS.Al-Hajj: 29)

 Sa'i antara Shafa dan Marwah.

Karena Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam melaksanakannya dan beliau bersabda:

‫ى‬ َّ ‫علَ ْي ُك ُم ال‬


َ ‫س ْع‬ َ ‫ب‬ َّ ‫اِ ْس َع ْوا فَإ ِ َّن‬
َ َ‫َّللاَ َكت‬
"Laksanakanlah sa'i karena sesungguh-nya Allah telah mewajibkan sa'i atas kamu sekalian."
Sebagian ulama ada yang memasukkan "Mabit di Muzdalifah hingga shalat Shubuh disana"
sebagai salah satu di antara rukun haji, berdasarkan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam kepada 'Urwah bin Mudharris ath-Thai Radhiallaahu anhu :

ً ‫ف قَ ْب َل ذَ ِل َك بَ َع َرفَةَ لَ ْيالً أ َ ْو َن َه‬


‫ارا‬ َ َ‫ف َم َعنَا َحتَّى نَ ْدفَ َع َوقَ ْد َوق‬
َ َ‫صالَتَنَا َهذَا َو َوق‬
َ َ‫َم ْن شَـ ِهد‬
ُ‫ضى ت َ َفثَه‬
َ َ‫فَقَ ْد ت َ َّم َح ُّجهُ َوق‬
"Barangsiapa yang menyaksikan shalat kami ini, dan wuquf bersama kami hingga kami
bertolak )dari Muzdalifah,-Pent), sedang dia telah wuquf sebelum ini di 'Arafah di siang hari
atau di malam hari, maka telah sempurna hajinya dan hilanglah kotorannya.”

2. Kewajiban-Kewajiban Haji

 Berihram dari miqat dengan melepaskan pakaiannya dan memakai pakaian ihram,
kemudian berniat dengan mengucapkan:

ُ ‫ لَبَّي َْك اللَّ ُه َّم َح َّجةً َو‬atau ٍ‫لَبَّي َْك اللَّ ُه َّم ِبعُ ْم َرة‬
ً ‫ع ْم َرة‬

 Menginap di Mina pada malam hari-hari Tasyriq.


 Melempar Jumratul 'Aqabah pada hari Raya 'Idul 'Adhha (Tanggal 10 Dzul-hijjah)
dengan menggunakan tujuh batu kecil.
 Melempar tiga jumrah secara berurutan (Jumrah Shugra, Jumrah Wustha, dan Jumrah
'Aqabah), masing-masing dengan tujuh batu kecil, pada hari-hari Tasyriq sesudah
tergelincirnya matahari.
 Melaksanakan thawaf Wada' berdasar-kan hadits 'Abdullah Ibnu 'Abbas Radhiallaahu
anhu :

ِ ِ‫ع ِن ْال َم ْرأَةِ ْال َحائ‬


‫ض‬ َ ‫ف‬ ِ ‫ع ْه ِد ِه ْم بِ ْالبَ ْي‬
َ ‫ت ِإالَّ أَنَّهُ ُخ ِف‬ ُ َّ‫أ ُ ِم َر الن‬
ِ َ‫اس أ َ ْن َي ُك ْون‬
َ ‫آخ َر‬
"Manusia (para jama'ah haji) diperintahkan untuk menjadikan (thawaf wada') disekeliling
Ka'bah sebagai masa terakhir mereka (ketika akan meninggalkan Makkah,-Pent), hanya saja
diberi keringanan bagi wanita yang haidh (untuk tidak melaksanakan thawaf wada',-Pent).

 Mencukur rambut kepala hingga bersih atau memendekkannya, hal ini berdasarkan
firman Allah Subhannahu wa Ta'ala :
"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebena-ran
mimpinya dengan sebenarnya, (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan
memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman dengan mencukur
rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut." (QS. Al-Fat-h:
27)

Dan dari 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu , bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi
wasalam bersabda:

، َ‫ار َح ِم ْال ُم َح ِل ِقيْن‬


ْ ‫ اللَّ ُه َّم‬:‫َّللا؟ قَا َل‬
َّ ‫س ْو َل‬ ُ ‫ص ِريْنَ يَا َر‬ ِ َ‫ َو ْالـ ُمق‬:‫ قَالُ ْـوا‬، َ‫ار َح ِم ْال ُم َح ِل ِقيْن‬
ْ ‫اللَّ ُه َّم‬
‫ص ِريْنَ يَا‬ ِ َ‫ َو ْالـ ُمق‬:‫ قَالُ ْـوا‬، َ‫ار َح ِم ْال ُم َح ِل ِقيْن‬
ْ ‫ اللَّ ُه َّم‬:‫َّللا؟ قَا َل‬
َّ ‫س ْو َل‬
ُ ‫ص ِريْنَ يَا َر‬ ِ َ‫ َو ْال ُمق‬:‫قَالُ ْوا‬
ِ ‫ َو ْال ُم َق‬:‫َّللا؟ قَا َل‬
َ‫ص ِريْن‬ َّ ‫س ْو َل‬
ُ ‫َر‬
"Ya Allah, rahmatilah orang-orang yang mencukur (rambut kepala mereka,-Pent) Para
Sahabat berkata: ‘Dan orang-orang yang memendekkan juga, ya Rasulullah?’ Beliau berkata:
‘Ya Allah rahmatilah orang-orang yang mencukur’. Mereka berkata lagi: ‘ Orang-orang yang
me-mendekkan juga, ya Rasulullah?’ Beliau berkata lagi: 'Ya Allah, rahmatilah orang-orang
yang mencukur' Mereka berkata lagi: ‘ Orang-orang yang me-mendekkan juga, ya
Rasulullah?’ Beliau berkata: ‘Dan juga orang-orang yang memendekkan.”
Sebagian ulama memasukkan mabit (bemalam) di Muzdalifah sebagai salah satu di antara
kewajiban-kewajiban haji, bukan termasuk rukun haji.

D. ISTITHAAH DALAM HAJI DAN PENDAPAT ULAMA

IBADAH haji adalah kewajiban bagi umat Islam yang istitha'ah dalam perjalanan menuju
Baitullah. Istitha'ah atau berkemampuan merupakan syarat haji dan umrah, yang tidak
istitha'ah terbebas dari kewajiban haji.

Arti kemampuan dalam haji adalah sehat badan, ada kendaraan sampai ke Masjidil Haram,
baik dengan kapal terbang, mobil, binatang atau ongkos membayar kendaraan sesuai
keadaan. Juga memiliki bekal yang cukup selama perjalanan sejak pergi sampai pulang. Dan
perebekalan itu harus merupakan kelebihan dari nafkah orang-orang yang menjadi
tanggungannya sampai dia kembali dari haji. Dan jika yang haji atau umrah seorang
perempuan maka harus bersama suami atau mahramnya selama dalam bepergian untuk haji
dan umrah.

Kemampuan adalah salah satu dari syarat wajib haji, meskipun demikian jika orang lemah
melakukannyapun tetap mendapatkan jaza’ sebagaimana jika orang sakit melaksanakan
shalat dengan berdiri. Akan tetapi jika dalam pelaksanan haji menimbulkan masalah atas
mereka (manusia) dan membebaninya, maka makruh baginya karena menjadikan madharot
kepada manusia dengan melakukan sesuatu yang tidak semestinya. (Al Kafi 1/378). Maka
Allah berfirman:

.......‫س ِبيلا‬
َ ‫ع ِإلَ ْي ِه‬
َ ‫طا‬ ِ ‫اس ِح ُّج ْال َب ْي‬
َ َ‫ت َم ِن ا ْست‬ ِ َّ‫علَى الن‬
َ ِ‫وهلل‬.......
َ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang
sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran 3: 97)

Dan diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra ia berkata: Katika ayat ini turun, mereka (para
shahabat) bertanya: Wahai Rasulullah, apakah setiap tahun? Beliau dian, mereka bertanya
lagi: Wahai Rasulullah, apakah pada setiap tahun? Beliau menjawab: Tidak, jika saya katakan
ia, niscaya haji itu wajib setiap tahun, maka Allah menurunkan ayat:

‫سؤْ ُكميَاأَيُّ َها الَّذِينَ َءا َمنُوا الَت َ ْسئَلُوا َع ْن أ َ ْشيَآ‬


ُ َ ‫َء إِن ت ُ ْبدَ لَ ُك ْم ت‬

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang
jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu.” (QS. Al Maidah 5: 101) (HR.
Tirmidzi 814).

Abu Isa At Turmudzi berkata: Hadits Ali ini adalah hasan gharib dari sisi ini imam Al Hafidz
Ibnu Katsir berkata: Untuk ukuran kemampuan itu bermacam-macam, terkadang seseorang
mampu dengan sendirinya dan terkadang dengan selainnya. (Tafsir Al Qur an Al ‘Adzim
1/339)
Dan diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Ada seorang laki-laki datang kepada Nabi dan
bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang diwajibkan pada haji? Beliau bersabda: Bekal dan
hewan tunggangan (kendaraan). (HR. At Turmudzi 813). Dan dalam riwayat lain disebutkan
dari Anas ra bahwa Nabi r pernah ditanya mengenai firman Aallah Ta’ala dalam QS. Ali
Imran 3: 97, apa yang dimaksud dengan as sabil? Beliau menjawab: Bekal dan hewan
tunggangan. Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim dari Qotadah, lalu beliau berkata: Hadits
shahih dengan syarat Muslim. (Tafsir Aal Qur an Al ‘Adzim 1/339)

Abu Isa berkata: Hadits ini (HR. At Turmudzi 813) kedudukannya hasan dan diamalkan oleh
ahli ilmu; bahwa seorang laki-laki jika telah memiliki bekal dan binatang tunggangan ia
wajib menunaikan iabadah ahji. (Al Mughni 5/8/1412H/1992M)

Dan dari Ibnu Abbas mengenai kalimat “Manistathoá ilaihi sabiila”, beliau berkata: Siapa
yang memiliki dirham sungguh ia telah memiliki kemampuan. Ini adalah riwayat Waqi’ dan
Ibnu Jarir. Dan dari Ikrimah beliau berkata: as sabil adalah as sihhah (sehat). Dan pendapat
ini dipegang oleh Ibnu Zaubair, Atha’ dan Malik. Tafsi Ibnu Katsir 1/339 dan Nailul Authar
5/13.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah berkata dalam Maju’nya 10/144-345 tidak ada perselisihan
bahwa membebani orang lemah yang tidak memiliki kemampuan terhadap suatu amalan
tidak terjadi dalam syare’at, namun syare’at itu gugur terhadap seseorang selama belum
sempurna sarana ilmu dan kemampuannya. Walaupun sifat taklifnya sudah memungkinkan,
sebagaimana pena terangkat dari anak kecil sampai ia baligh, meslipun anak itu sudah
memiliki penalaran dan tamyiz, dan juga tidak diwajibkan seseorang haji kecuali ia telah
memiliki bekal dan hewan tunggangan, demikian pendapat jumhur ulama’.

Syaikhul Islam Abu Muhammad Muwaffiquddin Abdillah bin Qudamah Al Maqdisi berkata
dalam kitabnya Al Kafi hal 379. dan bekal itu adalah apa yang dibutuhkan berupa makanan
minuman dan pakaian untuk pergi dan kembali. Jika ia ada bekal untuk berangkat tanpa
kembali, maka tidak diharuskan ia melakukan haji karena pengasingannya akan berdampak
negatif, beban yang berat dan celaan terhadap keluarganya. Dan beliau mensyaratkan adanya
hewan tunggangan yang baik dengan cara membelinya atau menyewa dan alat-alat yang
menunjangnya, terdapat pula dalam kitab Nailul Authar 5/13.

Dan disebutkan dalam Fatawa Lajnah Ad Daimah 11/30: Adapun al istihto’ah untuk haji
adalah badan sehat, memiliki sarana dan prasarana yang menghantarkan ke Baitullah berupa:
pesawat atau mobil dan hewan tunggangan baik dengan menyewa, memiliki bekal yang
cukup berangkat dan kembali.

Ad Dhohhak berkata: Jika seseorang telah dewasa hendaknya ia mempekerjakan dirinya


(bekerja) untuk makan dan kesudahannya, hingga ia mampu menunaikan ibadahnya (haji).

Imam Malik juga berpendapat: Jika memungkinkan dia berjalan dan kembalinya dengan
meminta bantuan manusia, maka ia harus haji karena kemampuan ini ada pada haknya, hal itu
seperti orang yang mendapatkan zaad dan rohilah.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa ukuran kemampuan seseorang yang harus
menunaikan haji adalah:
Ø Pendapat jumhur ulama’ (Al Hasan, Mujahid, Said bin Jubair, As Syafi’ie, Ishaq, dan At
Tirmidzi): Seseorang memiliki bekal dan hewan tunggangan.
Ø Pendapat Ikrimah: Sehat
Ø Pendapat Ad Dhohhaq dan Imam Malik tersebut di atas.
Syaikhul Islam pernah ditanya tentang seorang wanita yang memiliki bekal lebih dari 1000
dirham dan ia berniat akan memberikan pakaiannya untuk anak putrinya, mana yang lebih
afdhal dari meninggalkan perkakasnya untuk anak putrinya atau ia gunakan umtuk berhaji?
Beliau menjawab: Segala puji milik Allah, ya! Ia mestinya berhaji dengan 1000 dirham ini
dan kemudian menikahkan anak putrinya dengan sisanya jika ia mau, karena haji adalah
kewajiban yang wajib atasnya bila punya kemampuan untuk kesana dan orang-orang
memiliki harta sebesar ini ia telah mampu. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taymiyah 26/12)

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin menjelaskan, tentang kemampuan dalam haji
ditegaskan dalam hadits, yaitu bila seorang mendapatkan bekal dan kendaraan. Barangkali
yang lebih umum dari iru adalah, bahwa orang yang mampu sampai ke Mekkah dengan cara
apapun maka dia wajib haji dan umrah. Jika dia mampu dengan berjalan dan membawa
bekalnya atau mendapatkan orang yang membawakan bekalnya maka dia wajib haji. Dan jika
seseorang mempunyai ongkos transportasi modern seperti kapal laut, kapal udara dan mobil,
maka dia wajib haji. Dan jika dia mendapatkan bekal dan kendaraan, tapi tidak mendapatkan
orang yang menjaga harta dan keluarganya, atau tidak mendapatkan apa yang dia nafkahkan
kepada keluarganya selama dia pergi haji maka dia tidak wajib haji karena dia tidak
mempunyai kemampuan. Demikian pula jika di jalan terdapat sesuatu yang menakutkan atau
ditakutkan seperti perampok, atau diharuskan membayar pajak mahal, atau waktunya tidak
cukup untuk sampai ke Mekkah, atau tidak mampu naik kendaraan apapun karena sakit atau
akan mendatangkan mudharat lebih berat, maka kewajiban haji gugur darinya dan dia wajib
menggantikannya kepada orang lain jika dia mempunyai kemampuan harta, dan jika tidak
maka tidak wajib haji.

Mampu, dengan apakah syarat ini terealisasi? Syarat mampu ini terealisasi jika seseorang
mempunyai harta yang cukup untuk mengerjakan haji dan umrah, termasuk di dalamnya
ongkos perjalanan dan nafkahnya selama pulang pergi, biaya muthowwif, juga mempunyai
ongkos untuk menafkahi keluarganya yang ditinggalkan selama ia berhaji.

Adapun macam-macam istitho’ah (mampu) adalah sebagai berikut:

1. Istitho’ah mubasyirah: yakni seseorang mampu untuk melakukan umrah dan haji
dengan kemampuan langsung dari dirinya sendiri, dia seorang yang sehat badan,
mampu untuk menempuh perjalanan dan mengerjakan manasik tanpa ada bahaya
ataupun kesusahan.
2. Istitho’ah ghoiru mubasyirah: yakni seseorang mempunyai harta yang dengannya ia
bisa mewakilkan orang lain untuk mengerjakan umrah atauppun haji bagi dirinya
sendiri baik ketiak dia masih hidup ataupun setelah wafat, tetapi ia tidak mampu
mengerjakannya sendiri karena usia yang sudah tua atau karena sakit, dsb.

Bukhori meriwayatkan dari Ibnu Abbas: bahwa seorang perempuan dari suku Juhainah
datang kepada Rasulullah berkata:”sesungguhnya ibuku bernadzar untuk mengerjakan haji,
tetapi ia telah wafat sebelum mengerjakan haji, sahkah jika aku berhaji untuknya?”Rasul
bersabda:”Ya, berhajilah untuknya. Bagaimana pendapatmu jika seandainya ibumu
mempunyai hutang, apakah engkau akan membayar utang tersebut?”.Ia menjawab: “iya”.
Lalu Rasul bersabda:”bayarlah hutang kepada Allah, sesungguhnya hutang kepada Allah
lebih utama untuk di bayar”.
Dan dalam shohihain, bahwa seorang perempuan dari bani Khults’am berkata kepada
Rasulullah:”sesungguhnya kewajiban haji datang ketika ayahku sudah berusia tua tidak bisa
menempuh perjalanan, bolehkah aku berhaji untuknya?”Beliau menjawab:”Ya”.

Ada beberapa catatan terkait dengan istithaáh dalam haji ini, yaitu:
1. Barang siapa yang mempunyai modal untuk berdagang, maka wajib menjualnya untuk
megerjakan haji dn umrah. Siapa yang mempunyai tanah yang dengannya cukup untuk
ongkos haji. Maka ia wajib menjualnya, inilah pendapat yang Rajih.
2. Tidak wajib menjual rumahnya juga peralatan-peralatan rumah tangga yang lain yang
merupakan kebutuhannya. Karena hal ini merupakan hal yang dibutuhkam.
3. Barang siapa yang mempunyai nafkah haji saja, dan ia ingin melakukan pernikahan dengan
nafkah tersebut, maka ada beberapa kondisi: jika ia seorang yang ingin nikah tetapi keinginan
tersebut mampu ditahannya, maka ia wajib haji. Dan lebih utama mengutamakan haji atas
pernikahan. Ia seorang yang ingin menikah, dan takut terjatuh pada perzinahan dan maksiat
maka ia wajib haji juga, tetapi dalam kondisi, nikah tidaklah menghalangi kewajiban haji.
4. Disyaratkan bagi wanita syarat-syarat yang lain: ia pergi bersama mahram, atau suaminya
atau ia pergi bersama kaum perempuan yang tsiqah dan iltizam, minimal ada dua orang
perempuan bersama. Jika tidak ada mahram yang berhaji dengannya dengan ongkos mahram
itu sendiri, maka baginya (seorang perempuan itu) wajib mengeluarkan upah untuk mahram
jika ia mampu. Syarat ini (dibolehkannya pergi dengan perempuan tsiqoh) jika haji yang
dilakukannya merupakan haji wajib, adapun jika haji sunnah atau dalam safar-safar yang
lainnya maka ia harus pergi bersama mahram ataupun suami. Ia tidak sedang dalam kondisi
iddah baik dari tholaq atau wafat selama waktu perjalanan haji.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa istitha'ah artinya mampu, karena
sehat jasmani dan rohani, aman dalam perjalanan terhindar dari gangguan, memahami
berbagai ketentuan terutama tentang manasik, mempunyai bekal yang cukup untuk perjalanan
mulai berangkat sampai kembali, meliputi transpor, peralatan, konsumsi, dan lain-lain. Bagi
kepala keluarga disyariatkan menyediakan biaya dan nafkah untuk anggota keluarga yang
ditinggalkan di rumah.

Dari segi pembiayaan, kriteria istitha'ah untuk seorang jemaah haji diperlukan menyediakan
dana lebih dari Rp 30 juta. Angka tersebut mempunyai makna iqtishadiyah (ekonomis) untuk
dua hal.

Pertama, dari segi penyediaan untuk setiap anggota jemaah, angka tersebut bisa relatif besar
atau kecil, berat atau ringan. Bagi seseorang yang gajinya besar atau pengusaha yang
penghasilannya banyak, atau orang kota yang kebetulan punya tanah luas dan dapat
menjualnya sebagian, angka Rp 30 juta tidak besar dan tidak berat. Namun bagi yang
berpenghasilan kecil baik pegawai, pedagang atau petani, uang sebesar itu sangat tinggi dan
berat untuk disediakan. Berangkatnya seseorang menunaikan ibadah haji terletak pada
kemampuan dan kemauan. Kemampuan tinggi, namun kemauan tidak ada, maka orang yang
bersangkutan tidak bisa berangkat. Begitu pula, kemauan ada namun kemampuan tidak ada,
ya, tidak bisa berangkat juga. Namun, bisa terjadi, ada kemampuan dana dari sumber lain,
seperti diangkat jadi petugas, badal haji, atau mendapat hadiah.

Kedua, dari segi penyelenggaraan haji, bila Rp 30 juta dikalikan 200.000 jemaah haji
Indonesia, maka akan tercatat Rp 6.000.000.000.000,00 (Rp 6 triliun). Jumlah itu belum
termasuk dengan biaya yang dikeluarkan oleh lingkungan, mulai dari tempat tinggal di
kampung, kabupaten, kota, bandara, dan oleh instansi tingkat lokal sampai nasional.

Hal tersebut terjadi pada seluruh negara yang terdapat umat Muslimnya. Last but not least,
sungguh sangat besar jumlah dana yang dianggarkan dan dikelola oleh Saudi Arabia untuk
mendampingi 4 juta tamu Allah SWT.

Dari dua segi tersebut, jelas bahwa untuk terselenggaranya ibadah haji diperlukan dana yang
sangat tinggi oleh para jemaah dan terjadi pengelolaan keuangan yang demikian besar serta
kompleks oleh para penyelenggara haji di berbagai lingkungan, instansi, dan negara.

Karenanya, kita dapat menarik pelajaran tentang perlunya setiap Muslim yang mampu untuk
menunaikan ibadah haji, serta berupaya secara ekonomis (iqtishadiyah). Dengan
terakumulasinya dana demikian besar, maka secara teknis diperlukan kemahiran para
pengelola disertai akhlak amanah untuk menunaikan tugas secara maksimal. Lebih jauh lagi,
kita dapat menarik pelajaran bahwa dari penyelenggaraan ibadah mahdhah tersebut, terdapat
hubungan yang erat dengan berbagai aspek kehidupan melalui mekanisme pemerintahan dan
pembangunan, termasuk dengan masalah ekonomi (iqtishadiyah).

Di sinilah letak pentingnya upaya pemberdayaan ekonomi umat dan profesionalisasi


pengelolaan haji sebagai langkah yang harus ditempuh secara simultan dalam kerangka
pelaksanaan Islam yang kaaffah.