Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN

PENGUKURAN INTENSITAS CAHAYA DI RUANG 9 GEDUNG B


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Analisis Kesehatan Lingkungan

Dosen Pembimbing: Dr. dr. Taufik Ashar, M.K.M.

1. Rudolfo Putra : 161000269


2. Pandu Wiranata : 161000284
3. Ricky Johanes Sinaga : 161000273
4. Fitra Nugraha : 161000302
5. Philip Polin Tampubolon : 161000306
6. Muhammad Naufal Fadhillah : 161000288
7. Joshua Louisendrike T : 161000390
8. M. Ari Cahyadi : 161000317

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
MEDAN
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kenyamanan termal merupakan salah satu syarat bagi pengguna/pemakai ruangan supaya
dapat beraktifitas dengan baik sehingga dapat lebih produktif. Sebuah studi lama menyebutkan
bahwa ada pengaruh dari kualitas termal suatu ruangan kelas dengan prestasi belajar Mahasiswa
(Pepler & Warner, 1968). Beberapa studi belakangan ini juga menunjukkan adanya hubungan
positif antara kualitas ruangan (termasuk di dalamnya kondisi termal) dengan prestasi
Mahasiswa.
Guna mengukur kenyamanan termal yang dirasakan pengguna, maka menurut standar ini
dilakukan survei dengan yaitu ruangan yang memiliki kelembaban cukup, tingkat kebisingan
yang tidak melebihi ambang batas normal, pencahayaan yang sesuai, serta suhu yang optimal
berpengaruh terhadap kenyamanan seseorang dalam ruangan tersebut. Sehingga diperlukan
parameter lingkungan fisik untuk mengukur kualitas lingkungan dalam ruangan agar tidak
mengganggu aktifitas serta tidak menurunkan produktifitas mahasiswa. Selain demi kenyamanan
dalam proses belajar, dengan mengetahui kondisi yang terjadi di dalam ruangan dapat membantu
mahasiswa untuk lebih hidup sehat dibandingkan dengan berada dalam kondisi kelas yang tidak
mendukung proses belajar. Dengan keselarasan antara suasana dan fasilitas yang mendukung,
maka akan terciptalah generasi yang lebih baik dikemudian hari. Maka dari itu, kami mencoba
untuk meneliti salah satu ruangan kelas di Fakultas Kesehatan Masyarakat-Universitas Sumatera
Utara.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah ruangan 9 di FKM USU telah memenuhi standarisasi sehingga dapat digunakan
menjadi tempat perkuliahan?

1.3 Tujuan Penelitian


Untuk mengetahui apakah kondisi ruangan 9 di FKM USU telah memenuhi standar bagi
kesehatan para mahasiswa/i sebagai tempat perkuliahan.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

1. Luas ruangan Ruang 9


Panjang = 11 m
Lebar = 10 m
Luas lantai Ruang 9 = 10 x 11 = 110 m2
2. Pengukuran intensitas cahaya menggunakan aplikasi smartphone “ Luxmeter”
di 8 titik dengan jarak antar titik masing masing 3 m
3. Hasil penelitian intensitas cahaya di Ruang 9

Lebar Ruangan = 10 M
Panjang ruangan Titik 1= 241 Lux Titik 2= 151 Lux Titik 3= 91 Lux
= Titik 4= 151 Lux Titik 5= 119 Lux Titik 6= 55 Lux
11 M Titik 7= 241 Lux Titik 8= 119 Lux

4. Berdasarkan data yang kami peroleh, maka rata rata intensitas cahaya di Ruang 9 adalah 146
Lux
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Intensitas cahaya di ruangan 9 gedung B FKM USU sudah sesuai dengan standar yang
terdapat dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1405/MENKES/SK/XI/2002 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran
dan Industri Menteri Kesehatan Republik Indonesia, yaitu minimal 100 lux.

B. Saran

 Bagi pengukur konsentrasi, ketelitian dan kesungguhan dalam mengukur perlu ditingkatkan
agar hasil lebih akurat.
 Sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara berkala terhadap alat penerangan yang ada seperti
membersihkan debu atau kotoran pada bola lampu atau bola lampu yang sudah lama
sehingga mengurangi intensitas penerangan segera diperbaiki atau diganti.