Anda di halaman 1dari 23

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2019/2020

MODUL : STIRRED TANK REACTOR (STR)


PEMBIMBING : RONY PASONANG SIHOMBING, S.T., M. Eng

Praktikum : 12 November 2019


Penyerahan Laporan : 17 November 2019

Oleh:

Nama : Jihan Azizah


NIM : 171411048
Kelas :3B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Reaktor tangki berpengaduk adalah salah satu alat penting dalam suatu
industri kimia. Tangki pengaduk terutama digunakan untuk reaksi-reaksi
kimia pada tekanan diatas tekanan atmosfer dan pada tekanan vakum, namun
tangki ini juga sering digunakan untuk proses yang lain misalnya
untuk pencampuran, pelarutan, penguapan ekstraksi dan kristalisasi.
Keberhasilan suatu proses pengolahan salah satunya bergantung pada
efektifitas dari pengadukan dan pencampuran zat cair dalam proses itu. Istilah
pengadukan dan pencampuran yang sering dikacaubalaukan itu sebenarnya
tidaklah sinonim satu dengan yang lain. Pengadukan adalah suatu operasi
kesatuan yang mempunyai sasaran untuk menghasilkan pergerakan tidak
beraturan dalam suatu cairan dengan alat mekanis. Pengadukan mengacu pada
pergerakan dalam suatu material dalam bentuk spesifik. Bagaimanapun ini
merupakan suatu distribusi secara acak antara dua atau lebih tahap cairan yang
awalnya terpisah.
Dalam proses kimia khususnya dalam zat cair atau fase cair. Pengadukan
merupakan salah satu cara di dalam proses pencampuran komponen untuk
mendapat hasil yang diinginkan. Proses pengadukan sendiri banyak digunakan
secara luas dalam proses industri. Hampir semua proses pencampuran
memerlukan pengadukan.
1.2. Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. Memahami fungsi alat reaktor tangki berpengaduk dengan sistem pemanas air
bertekanan.
2. Memahami proses perpindahan panas di dalam tangki berpengaduk berjaket,
yang tergolong kelompok proses unsteady state.
3. Menghitung perpindahan panas pada tangki dengan memberikan variasi
putaran pengaduk
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Reaktor

Reaktor adalah suatu alat yang berperan sebagai tempat terjadinya suatu
reaksi, baik itu reaksi kimia maupun reaksi nuklir dan bukan terjadi secara fisika.
Terjadinya reaksi ini membuat suatu bahan berubah ke bentuk lainnya,
perubahannya ada yang terjadi secara sendirinya atau bisa juga dengan bantuan
energy seperti panas.

Pada pembuatan reaktor kimia harus memastikan bahwa reaksi menghasilkan


efisiensi yang paling tinggi ke arah produk keluaran yang diinginkan, agar industri
yang membuat reaktor dapat meminimalisir biaya operasional untuk memproleh
produk yang maksimal. Reaktor yang umumnya terdapat di industri adalah reaktor
berpengaduk atau yang dikenal dengan CSTR (Continuous Stired Tank Reactor).

Reaktor berpengaduk mempunyai bagian utama yaitu tangki dan pengaduk.


Pada umumnya reaktor ini dilengkapi dengan saluran masuk dan keluar serta
perlengkapan lain sesuai kebutuhannya misalnya tutup, termometer, dan
pemanas. Untuk pertukaran panas, reaktor biasanya dilengkapi dengan mantel
ganda yang dilas atau disambung dengan flens atau dilengkapi dengan kumparan
yang berbentuk belahan pipa yang dilas. Untuk mencegah kerugian panas yang
tidak dikehendaki tangki dapat diisolasi.
Gambar 1. Tangki Berpengaduk

Hal penting dari tangki pengaduk, antara lain :


1. Bentuk : pada umumnya digunakan bentuk silinder dan bagian bawahnya
cekung. Hal tersebut karena fluida mempunyai sifat mudah mengalir dan
mudah mengalami gejolak atau turbulensi (gerakannya kacau) jika terkena
goncangan. Karena wadahnya silinder inilah bila terjadi goncangan
gelombang beban zat cair yang menghantam sisi melengkung akan terbagi
rata bebannya sehingga beban di dalam tetap stabil.
2. Ukuran : diameter dan tangki tinggi.
3. Kelengkapannya :
a) Ada tidaknya buffle, yang berpengaruh pada pola aliran didalam tangki.
b) Jacket atau coil pendingin/pemanas, yang berfungsi sebagai pengendali
suhu.
c) Letak lubang pemasukan dan pengeluaran untuk proses kontinu.
d) Sumur untuk menempatkan termometer atau peranti untuk pengukuran
e) Kumparan kalor, tangki dan kelengkapan lainnya pada tangki pengaduk.

Reaktor berpengaduk ini juga merupakan suatu heat exchanger. Cairan di


dalam tangki dipanaskan oleh aliran cairan didalam jaket (air panas) yang
mengelilingi tangki. Cairan di dalam diaduk terus menerus untuk mempercepat
perpindahan panas (heat transfer) juga untuk menjaga suhu cairan merata di
seluruh bagian tangki. Air yang tersirkulasi dalam jaket dipanaskan oleh aliran uap
melalui “steam jet heater”.

Steam jet heater digunakan untuk pemanasan langsung suatu cairan dengan
uap pemanas dimana uap tersebut mengembun (terkondensasi) didalam cairan.
Didalam pemanas ada nozzle pengembunan yang dilubangi supaya uap dapat
masuk ke dalam cairan. Untuk air pemanas reakor yang dilengkapi dengan jaket
atau coil pemanas dibutuhkan kapasitas pemanas atau pendingin yang
berubahubah untuk proses pemanasan, penyimpanan dan pendinginan.

2.2. Mekanisme Kerja Reaktor Berpengaduk

Reaktan diumpankan ke dalam suatu tangki berpengaduk bersama dengan


bahan baku, kemudian akan dilakukan pengadukan dengan perangkat pengaduk
dan menghasilkan produk. Pada reaktor ini pengaduk dirancang sesuai dengan
bahan yang akan diaduk, sehingga campuran teraduk dengan sempurna dan
diharapkan reaksi berlangsung secara optimal. Biasanya untuk mendapatkan
konversi yang besar maka reaktor disusun secara seri dan dilengkapi dengan
pemanas. Reaktor berpengaduk sebenarnya sama dengan rekator batch namun
yang membedakannya adalah pada reaktor ini dilengkapi dengan pengaduk.

2.3. Keuntungan dan Kerugian Reaktor Berpengaduk


Berikut ini adalah keuntungan dan kerugian reaktor berpengaduk menurut
Rizka Rachmaniar, yaitu sebagai berikut:
a. Keuntungan :
● Suhu dan komposisi campuran dalam reaktor sama
● Volume reaktor besar, maka waktu tinggal juga besar, berarti zat pereaksi
lebih lama bereaksi di reaktor.
b. Kerugian :
● Tidak efisien untuk reaksi fase gas dan reaksi yang bertekanan tinggi.
● Kecepatan perpindahan panas lebih rendah dibanding reaktor aliran pipa.
2.4. Pengaduk
Pengaduk berfungsi untuk menggerakkan bahan di dalam bejana pengaduk.
Biasanya yang berlangsung adalah gerakan turbulen (misalnya untuk
melaksanakan reaksi kimia, proses pertukaran panas, proses pelarutan). Alat
pengaduk terdiri atas sumbu pengaduk dan strip pengaduk yang dirangkai
menjadi satu kesatuan atau dapat dipisah-pisah menjadi 2-3 bagian pengaduk
yang dapat dipisah-pisahkan juga dapat dibongkar pasang didalam satu unit
tangki pengaduk.
Pencampuran di dalam tangki pengaduk terjadi karena adanya gerak rotasi dari
pengaduk dalam fluida. Gerak dari pengaduk ini memotong fluida tersebut dan
dapat menimbulkan arus eddy yang bergerak ke seluruh sistem fluida itu. Oleh
karena itu, pengaduk merupakan bagian yang paling penting dalam suatu operasi
fase cair dengan tangki berpengaduk. Pencampuran baik dapat diperoleh apabila
diperhatikan bentuk dan dimensi pengaduk yang digunakannya karena akan
mempengaruhi keefektifan proses pencampuran, serta daya yang diperlukan.
Zat cair biasanya diaduk di dalam suatu tangki atau bejana biasanya yang
berbentuk silinder dengan sumbu terpasang vertikal. Bagian atas bejana itu
mungkin terbuka saja ke udara atau dapat pula tertutup. Ukuran dan proporsi
tangki itu bermacam-macam, bergantung pada masalah pengadukan itu sendiri.
Di dalam tangki itu dipasang impeller pada ujung poros menggantung, artinya
poros itu ditumpuh dari atas. Poros itu digerakkan oleh motor, yang terkadang
dihubungkan langsung dengan poros itu, namun biasanya dihubungkan melalui
peti roda gigi untuk menurunkan kecepatannya. Tangki itu biasanya diperlengkapi
pula dengan lubang masuk dan lubang keluar, kumparan kalor, mantel, dan sumur
untuk menempatkan termometer atau peranti pengukuran suhu lainnya. Impeller
itu akan membangkitkan pola aliran dalam yang menyebabkan zat cair
bersirkulasi di dalam bejana untuk akhirnya kembali ke impeller.
Alat pengaduk dapat dibuat dari berbagai bahan yang sesuai dengan bejana
pengaduknya, misalnya dari baja, baja tahan karat, baja berlapis email, baja
berlapis karet. Suatu alat pengaduk diusahakan menghasilkan pengadukan yang
sebaik mungkin dengan pemakaian daya yang sekecil mungkin. Ini berarti seluruh
isi bejana pengaduk sedapat mungkin digerakkan secara merata, biasanya
secara turbulen.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan adalah seperangkat tangki reaktor jaket berpengaduk dan
alat ukur tachometer, thermocouple dan thermogun dengan bahan yang
digunakan adalah air dan bantuan steam (hanya meninjau perpindahan panas).

3.2. Skema Percobaan

Gambar 2. Skema Peralatan Tangki Berpengaduk di Pilot Plant


3.3. Prosedur Kerja
1) Persiapan awal

Memasukkan air ke Memastikan level


dalam reaktor air dalam reaktor
tangki berada diatas
berpengaduk impeller pengaduk

Menyalakan Mengukur volume


pengadukan cairan dalam tangki
2) Proses Utama

Menyalakan saklar Membuka valve air baku


utama (merah) dan Membuka valve air (V1) dan menutup
saklar instrumen (hitam) pendingin (kondensor) sedikit valve aliran
pada posisi ON buang (V2)

Menyalakan pompa
Membuka katup steam
sirkulasi (P1) dengan
(V4) dan mengaturnya
menekan tombol hijau
secara manual
pada panel pengendali

3) Shut down

Setelah suhu dalam


Menutup katup Membuka valve reaktor berkurang
steam (V4) aliran buang (V2) hentikan
pengadukan

Mematikan saklar
Menutup valve air Menutup kembali
instrumen (hitam)
pendingin valve aliran buang
dan saklar utama
(kondensor) dan valve air baku
(merah)

3.4. Keselamatan Kerja


1. Menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap
2. Mengenakan sarung tangan anti panas saat akan menyentuh valve steam
3. Bekerja dengan tertib sesuai SOP
4. Hati-hati dengan air panas yang dihasilkan
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Proses Pemanasan


Waktu Tin Tout T Tekanan Pompa ∆P Tekanan Agitator
(menit) Jaket Jaket Reaktor (bar) Steam (rpm)
(°C) (°C) (°C) Suction Discharge (bar)
0 22,5 26,4 27 0,2 1 0,8 0 71,1
10 34,5 33,5 29,1 1,2 2 0,8 0,9 72
20 36,2 35,22 32,4 1,3 2,2 0,9 0,9 72,9
30 36,8 35,9 33,4 1,3 2,2 0,9 0,9 71,5
40 38,8 37,6 34,1 1,4 2,3 0,9 1 71,3
50 37,8 37 35,4 1,5 2,3 0,8 1,1 71,8
60 33,5 33,3 33,8 1,5 2,5 1 1,1 71,8
Rata2 34,3 34,13 32,17 0,87 71,8
Tabel 1. Data Pengamatan pada Proses Pemanasan

Keseluruhan Nilai
W (kg/s) 48,625
M (m3/jam) 175,0536
Q (kJ/s) 1055,84
U (kJ/m2.s.°C) 200,22
Tabel 2. Nilai Dari Q, M, W, dan U keseluruhan
4.1.1. Grafik Proses Pemanasan

Grafik Suhu reaktor terhadap waktu


Operasi
310

308
Suhu reaktor (C)

306

304

302

300

298
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu Operasi (menit)

Gambar 3. Grafik Suhu reaktor terhadap waktu Operasi

Perubahan temperatur jacket masuk dan


keluar jacket terhadap waktu
45
40
35
30
Suhu (C)

25
20 T jaket masuk
15
T jaket keluar
10
5
0
0 20 40 60 80
Waktu Operasi (menit)

Gambar 4. Grafik Perubahan temperatur jacket masuk dan keluar jacket


terhadap waktu
Delta P terhadap Waktu Operasi
1.2

0.8
Delta P (bar)

0.6

0.4

0.2

0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu Operasi (menit)

Gambar 5. Grafik Delta P terhadap Waktu Operasi

Perubahan Koefisien perpindahan


panas terhadap waktu
0.16
0.14
0.12
U (kJ/m2.s.°C)

0.1
0.08
0.06
0.04
0.02
0
0 10 20 30 40 50 60 70
Waktu (menit)

Gambar 6. Grafik Koefisien perpindahan panas terhadap waktu


4.1.2. Hasil Perhitungan Laju Alir Massa dan Koefisien Perpindahan Panas pada
Waktu Tertentu

Waktu (menit) Delta P M U


(Kg/s) (kJ/m2.s.°C)
0 0,8 43,95 0
10 0,8 44,26 0,0998
20 0,9 50,34 0,1079
30 0,9 50,505 0,0298
40 0,9 50,62 0,0121
50 0,8 45,19 0,1355
60 1 56,19 0,1186
Tabel 3. Hasil perhitungan setiap waktu pada proses pemanasan

4.2. Proses Pendinginan


Waktu Tin Tout T Reaktor Tekanan Pompa Delta Agitatator
Jaket Jaket (°C) (bar) P (rpm)
(°C) (°C) Suction Discharge
0 33,5 33,3 33,8 0 0,5 0,5 71,8
10 30,8 30,5 30,6 0 0,5 0,5 71,4
20 30 29,5 29 0 0,5 0,5 71,3
30 29,8 28,9 28,8 0 0,6 0,6 72,2
40 29,5 28,9 28 0 0,6 0,6 74,9
rata-rata 30,72 30,22 30.04 0,54 72,32
Tabel 4. Data pengamatan pada proses pendinginan

Keseluruhan Nilai
W (kg/s) 29,9694
M (m3/jam) 107,8956
Q (kJ/s) 473,277
U (kJ/m2.s.°C) 123,4034
Tabel 5. Nilai Dari Q, M, W, dan U keseluruhan
4.2.1. Grafik Proses Pendinginan

Grafik Suhu reaktor terhadap waktu


Operasi
308

306
Suhu Reaktor (C)

304

302

300
0 10 20 30 40 50
Waktu Operasi (menit)

Gambar 7. Grafik Suhu reaktor terhadap waktu Operasi

Perubahan temperatur jacket masuk dan keluar


jacket terhadap waktu
34
33
32
Suhu (C)

31
30
29
28
0 10 20 30 40 50
T jaket Masuk
Waktu Operasi (menit)
T jaket Keluar

Gambar 8. Grafik Perubahan temperatur jacket masuk dan keluar jacket terhadap
waktu

Delta P terhadap Waktu Operasi


0.8

0.6
Delta P (bar)

0.4

0.2

0
0 10 20 30 40 50
Waktu Operasi (menit)

Gambar 9. Grafik Delta P terhadap Waktu Operasi


Perubahan Koefisien perpindahan panas
terhadap waktu
0.6
0.5
U (kJ/m2.s.°C)

0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Waktu (menit)

Gambar 10. Grafik Koefisien perpindahan panas terhadap waktu

4.2.2. Hasil Perhitungan Laju Alir Massa dan Koefisien Perpindahan Panas
pada Waktu Tertentu

Waktu Delta M U
P (kg/s) (kJ/m2.s.°C)
0 0,5 28,09 0
10 0,5 27,8 0,522
20 0,5 27,65 0,0487
30 0,6 33,16 0,0169
40 0,6 33,07 0,0432
Tabel 6. Perubahan alju alir massa dan Koefisien pirpindahan panas setiap
waktu pada proses pendinginan

4.3. Pembahasan
Dari percobaan yang telah dilakukan pada proses pemanasan, suhu yang
dihasilkan didalam reaktor akan semakin naik seiring berjalannya proses, terlihat
dari kurva yang dihasilkan pada Gambar 3. Dengan rata-rata pengadukan adalah
71,8 rpm, nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan (U) yang dihasilkan
sebesar 200,22 kJ/m2.°C.s. Sedangkan pada proses pendinginan dengan rata-
rata pengadukan 72,3 rpm sebesar 123,4034 kJ/m 2.°C.s. Hal ini sesuai dengan
teori dimana nilai koefisien perpindahan panas (U) pada saat pemanasan lebih
tinggi daripada saat pendinginan dikarenakan proses pemanasan menggunakan
panas dari steam.
Nilai koefisien perpindahan panas pada waktu tertentu berbeda-beda
dikarenakan kondisi proses yang unsteady sehingga mempengaruhi suhu yang
dihasilkan. Perbedaan tekanan pompa pada proses pemanasan dan pendinginan
juga mempengaruhi suhu yang diperoleh.
Dan untuk suhu fluida masuk dan keluar didalam jaket akan konstan
dikarenakan proses sirkulasi yang terus berlangsung terlihat pada Gambar 4.
BAB V

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan:


1. Kondisi unsteady diperoleh dikarenakan laju alir steam yang tidak konstan
sehingga mempengaruhi temperature fluida didalam tangki.
2. Nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan (U) untuk proses pemanasan
sebesar 200,22 kJ/m2.°C.s. Dan pada proses pendinginan sebesar 123,4034
kJ/m2.°C.s
DAFTAR PUSTAKA

Marjanto, Djoko. 2009. Evaluasi Unjuk Kinerja Reaktor Tangki Berpengaduk


Menggunakan Perunut Radioisotop. Jurnal Bahasa Indonesia, Vol 3, No.1

Meydita, Anika Dyan, dkk. 2001. Laporan Praktikum Perpindahan Panas pada Tangki
Berpengaduk (Stirred Tank Reactor).
http://www.angelfire.com/ak5/process_control/stirred.html. Diakses pada 13
November 2019 pukul 20.11 WIB

Nunulasa. 2011. Reaktor. Laporan Kuliah Kerja Mahasiswa. Riau : Universitas Riau.

http://eprints.polsri.ac.id/4100/3/FILE%203%20%28BAB%20II%29.pdf. Diakses
pada 13 November 2019 pukul 20.24 WIB

Nurisma, Annisa N. dan Kinanti, Caesaria R. 2015. Stirred Tank Reactor (Perpindahan
Panas pada Tangki Berpengaduk).
https://www.scribd.com/doc/308060244/Laporan-Stirred-Tank-Reactor. Diakses
pada 13 November 2019 pukul 20.15 WIB

Rachmaniar, Rizka. 2015 .Macam-Macam Reaktor, Natural Gas, Reforming,


Downstream Process. https://www.scribd.com/doc/308060244/Laporan-Stirred-
Tank-Reactor. Diakses pada 13 November 2019 pukul 20.20 WIB
LAMPIRAN

A. Perhitungan
⮚ Menghitung Luas Permukaan (A)
Diameter reaktor (D) = 1.14 m

Luas permukaaan (A) = 4 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷


1
2
1
= 4 𝑥 3.14 𝑥 (1.14)2

= 1.02 m2

1. Proses Pemanasan
⮚ Perhitungan W, M, dan U keseluruhan
𝛥𝑃 (𝑇+273)
⮚ M= 𝑥 𝑥 180
1 273

0.87 (32.17+273)
M= 𝑥 𝑥 180 = 175,0536 m3/jam
1 273

⮚ W = 1000 kg/m3 x 175,0536 m3/jam

= 175053.6 kg/jam : 3600 s/jam


= 48,625 kg/s
⮚ Q = W x Cp x 𝛥𝑇𝑗𝑎𝑘𝑒𝑡
= 48,625 kg/s x 4,2 kJ/kg °C x (32,17-27) °C
= 1055,84 kJ/s
𝑄 1055,84
⮚ U = = = 200,22 kJ/m2.s.°C
𝐴 .∆𝑇 1,02 𝑥 (32,17−27)

⮚ Perhitungan Koefisien Perpindahan panas tiap waktu


𝑀𝑡𝑥 𝐶𝑝 (𝑇𝑠−𝑇𝑡)
U= 𝑙𝑛
𝑡𝑥𝐴 (𝑇𝑠−𝑇)

U = koefisien perpindahan panas overall (kJ/m2.oC.s)


Mt = laju alir massa pada waktu tertentu (densitas = 1000 kg/m 3)
Cp = 4,2 kJ/kg.°C
t = menit ke-
Ts = temperatur air masuk jaket pada t tertentu (°C)
T = temperatur reaktan pada t tertentu (°C)
Tt = temperatur reaktan pada sebelum t tertentu (°C)

Contoh perhitungan U pada proses pemanasan setiap waktunya


● Menit ke-10
𝑀𝑡𝑥 𝐶𝑝 (𝑇𝑠−𝑇𝑡)
U = 𝑙𝑛
𝑡𝑥𝐴 (𝑇𝑠−𝑇)

44,26 𝑥 4,2 (34,5−27)


= 𝑙𝑛
(10𝑥60) 𝑥 1,02 (34,5−29,1)

= 0,0998 kJ/m2.oC.s

Perhitungan laju alir massa pada waktu tertentu (M)
Contoh perhitungan Laju alir massa (M) pada waktu tertentu :
Pada Menit ke-10
∆𝑃 𝑇 𝑘𝑔 1
M = 𝑥 𝑥 180 𝑥 1000 𝑥
1 𝑏𝑎𝑟 273 𝑚3 3600 𝑠

0,8 (29,1+273) 𝑘𝑔 1
= 𝑥 𝑥 180 𝑥 1000 𝑥
1 𝑏𝑎𝑟 273 𝑚3 3600 𝑠

= 44,26 kg/s

2. Proses Pendinginan
𝛥𝑃 (𝑇+273)
⮚ M= 𝑥 𝑥 180
1 273

0.54 (30.04+273)
M= 𝑥 𝑥 180 = 107,8956 m3/jam
1 273

⮚ W = 1000 kg/m3 x 107,8956 m3/jam

= 107895,6 kg/jam : 3600 s/jam


= 29,9694 kg/s
⮚ Q = W x Cp x 𝛥𝑇𝑗𝑎𝑘𝑒𝑡
= 29,9694 kg/s x 4,2 kJ/kg °C x (33.8-30,04) °C
= 473,277 kJ/s
𝑄 473,277
⮚ U = = = 123,4034 kJ/m2.s.°C
𝐴 .∆𝑇 1,02 𝑥 (33,8−30,04)

⮚ Perhitungan Koefisien Perpindahan panas tiap waktu


𝑀𝑡𝑥 𝐶𝑝 (𝑇𝑠−𝑇𝑡)
U = 𝑙𝑛
𝑡𝑥𝐴 (𝑇𝑠−𝑇)

U = koefisien perpindahan panas overall (kJ/m2.oC.s)


Mt = laju alir massa pada waktu tertentu (densitas = 1000 kg/m 3)
Cp = 4,2 kJ/kg.°C
t = menit ke-
Ts = temperatur air masuk jaket pada t tertentu (°C)
T = temperatur reaktan pada t tertentu (°C)
Tt = temperatur reaktan pada sebelum t tertentu (°C)

Contoh perhitungan U pada proses pendinginan setiap waktunya


● Menit ke-10
𝑀𝑡𝑥 𝐶𝑝 (𝑇𝑠−𝑇𝑡)
U = 𝑙𝑛
𝑡𝑥𝐴 (𝑇𝑠−𝑇)

27,8𝑥 4,2 (30,8−33,8)


= 𝑙𝑛
(10 𝑥 60) 𝑥 1,02 (30,8−30,6)

= 0,522 kJ/m2.oC.s
⮚Perhitungan laju alir massa pada waktu tertentu (M)
Contoh perhitungan Laju alir massa (M) pada waktu tertent
Pada Menit ke-10
∆𝑃 𝑇 𝑘𝑔 1
M = 𝑥 𝑥 180 𝑥 1000 𝑥
1 𝑏𝑎𝑟 273 𝑚3 3600 𝑠

0,5 (30,6+273) 𝑘𝑔 1
= 𝑥 𝑥 180 𝑥 1000 𝑥
1 𝑏𝑎𝑟 273 𝑚3 3600 𝑠

= 27,8 kg/s

B. Gambar

Gambar Keterangan

Panel pengendali pada reaktor tangki


berpengaduk (RTB)
Kondenser pada RTB yang berfungsi
untuk merubah fasa uap menjadi cair
kembali

Valve (katup) keluaran produk dari RTB

Pneumatic valve control water inlet

Aliran air pendingin (pipa orange)


menuju kondenser
Barometer untuk mengetahui tekanan
suction (kanan) dan tekanan discharge
(kiri) dari pompa

Reaktor tangki berpengaduk (RTB)


yang dilengkapi dengan jaket

Thermocouple yang berfungsi untuk


mengetahui air yang masuk dan keluar
di jaket

Pompa sentrifugal yang berfungsi


mengalirkan air ke jaket

Thermogun yang berfungsi untuk


mengetahui temperatur reaktan dalam
reaktor