Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN VERTIGO

PADA PASIEN NY. S DI RUANG ALI BIN ABI THALIB


RSI ISLAM SUNAN KUDUS

DISUSUN OLEH :
NAMA : IIN DAMAYANTI
NIM : 920173116

S1 ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
2019/2020
A. PENGERTIAN
“Vertere” suatu istilah dalam bahasa latin yang merupakan bahasa lain dari
vertigo, yang artinya memutar. Vertigo dalam kamus bahasa diterjemahkan
dengan pusing (Wahyono, 2007).
Vertigo adalah perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau
seolah-olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya
disertai dengan mual dan kehilangan keseimbangan. Vertigo bisa berlangsung
hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hari.
Penderita kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus
berlanjut meskipun penderita tidak bergerak sama sekali (Israr, 2008).
Vertigo adalah sensasi atau perasaan yang mempengaruhi orientasi ruang dan
mungkin dapat didefinisikan sebagai suatu ilusi gerakan. Keluhan ini merupakan
gejala yang sifatnya subyektif dan karenanya sulit dinilai. Walupun pengobatan
sebaiknya langsung pada penyebab yang mendasari penyebab atau kelainannya,
asal atau penyebab vertigo sering tidak diketahui ataupun tidak mungkin diobati
(CDK, 2009).

B. ETIOLOGI
Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui organ
keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam. Organ ini memiliki saraf
yang berhubungan dengan area tertentu di otak. Vetigo bisa disebabkan oleh
kelainan di dalam telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telinga dengan
otak dan di dalam otaknya sendiri. Vertigo juga bisa berhubungan dengan
kelainan penglihatan atau perubahan tekanan darah yang terjadi secara tibatiba.
Penyebab umum dari vertigo: (Israr, 2008)
1. Keadaan lingkungan
Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut).
2. Obat-obatan
Alkohol, Gentamisin
3. Kelainan sirkulasi
Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena
berkurangnya aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral
dan arteri basiler
4. Kelainan di telinga
Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga
bagian dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo),
Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri, Herpes zoster, Labirintitis
(infeksi labirin di dalam telinga), Peradangan saraf vestibuler, Penyakit
Meniere
5. Kelainan neurologis
Sklerosis multipel, Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada
labirin, persarafannya atau keduanya, Tumor otak, Tumor yang menekan
saraf vestibularis.

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Penderita vertigo akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar, baik
dirinya sendiri atau lingkungan
2. Merasakan mual yang luar biasa
3. Sering muntah sebagai akibat dari rasa mual
4. Gerakan mata yang abnormal
5. Muncul keringat dingin
6. Telinga sering terasa berdenging
7. Mengalami kesulitan bicara
8. Mengalami kesulitan berjalan karena merasakan sensasi gerakan berputar
9. Pada keadaan tertentu, penderita juga bisa mengalami gangguan penglihatan
D. PATHOFISIOLOGI
Dalam kondisi fisiologi/ normal, informasi yang tiba dipusat integrasi alat
keseimbangan tubuh yang berasal dari resptor vestibular,
visual dan propioseptik kanan dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya
sinkron dan wajar akan diproses lebih lanjut secara wajar untuk direspon. Respon
yang muncul beberapa penyesuaian dari otot-otot mata dan penggerak tubuh dalam
keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari posisi kepala dan tubuhnya
terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak ada tanda dan gejala kegawatan (alarm
reaction) dalam bentuk vertigo dan gejala dari jaringan otonomik (Lumban, 2014).
Namun jika kondisi tidak normal/ tidak fisiologis dari fungsi alat
keseimbangan tubuh dibagian tepi atau sentral maupun rangsangan gerakan yang
aneh atau berlebihan, maka proses pengolahan informasi yang wajar tidak
berlangsung dan muncul tanda-tanda kegawatan dalam bentuk vertigo dan gejala
dari jaringan otonomik. Di samping itu respon penyesuaian otot-otot menjadi tidak
adekuat sehingga muncul gerakan abnormal dari mata disebut nistagnus (Benson
dkk, 2016).

E. PATHOFLOW

Trauma cerebellum Ukuran lensa tidak sama Aliran Darah keotak Infeksi pada liang
telinga dalam (vestibuler)
menurun

VERTIGO

Gangguan SSP Terjadinya gangguan Mual muntah Asupan O2 berkurang


dan SST keseimbangan

Spasme Saraf Ketidakseimbangan nutrisi Ketidakefektifan


Nyeri sakit kurang dari kebutuhan tubuh perfusi jaringan
kepala cerebral

Kurang informasi
Nyeri Akut
tentang penyakit dan
pengobatan
Intoleransi Defisit
aktivitas Perawatan diri Defisit Pengetahuan
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan fisik :
 Pemeriksaan mata
 Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
 Pemeriksaan neurologic
 Pemeriksaan otologik
 Pemeriksaan fisik umum.
2. Pemeriksaan khusus :
 ENG
 Audiometri dan BAEP
 Psikiatrik
3. Pemeriksaan tambahan :
 Laboratorium
 Radiologik dan Imaging
 EEG, EMG, dan EKG.

G. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Vertigo posisional Benigna (VPB)
- Latihan : latihan posisional dapat membantu mempercepat remisi pada
sebagian besar penderita VPB. Latihan ini dilakukan pada pagi hari dan
merupakan kagiatan yang pertama pada hari itu. Penderita duduk
dipinggir tempat tidur, kemudian ia merebahkan dirinya pada posisinya
untuk membangkitkan vertigo posisionalnya. Setelah vertigo mereda ia
kembali keposisi duduk \semula. Gerakan ini diulang kembali sampai
vertigo melemah atau mereda. Biasanya sampai 2 atau 3 kali sehari, tiap
hari sampai tidak didapatkan lagi respon vertigo.
- Obat-obatan : obat anti vertigo seperti miklisin, betahistin atau fenergen
dapat digunakan sebagai terapi simtomatis sewaktu melakukan latihan
atau jika muncul eksaserbasi atau serangan akut. Obat ini menekan rasa
enek (nausea) dan rasa pusing. Namun ada penderita yang merasa efek
samping obat lebih buruk dari vertigonya sendiri. Jika dokter
menyakinkan pasien bahwa kelainan ini tidak berbahaya dan dapat
mereda sendiri maka dengan membatasi perubahan posisi kepala dapat
mengurangi gangguan.
2. Neurotis Vestibular
Terapi farmokologi dapat berupa terapi spesifik misalnya pemberian
anti biotika dan terapi simtomatik. Nistagmus perifer pada neurinitis
vestibuler lebih meningkat bila pandangan diarahkan menjauhi telinga yang
terkena dan nigtagmus akan berkurang jika dilakukan fiksasi visual pada
suatu tempat atau benda.
3. Penyakit Meniere
Sampai saat ini belum ditemukan obat khusus untuk penyakit meniere.
Tujuan dari terapi medik yang diberi adalah:
- Meringankan serangan vertigo: untuk meringankan vertigo dapat
dilakukan upaya : tirah baring, obat untuk sedasi, anti muntah dan anti
vertigo. Pemberian penjelasan bahwa serangan tidak membahayakan
jiwa dan akan mereda dapat lebih membuat penderita tenang atau
toleransi terhadap serangan berikutnya.
- Mengusahakan agar serangan tidak kambuh atau masa kambuh menjadi
lebih jarang. Untuk mencegah kambuh kembali, beberapa ahli ada yang
menganjurkan diet rendah garam dan diberi diuretic. Obat anti histamin
dan vasodilator mungkin pula menberikan efek tambahan yang baik.
- Terapi bedah: diindikasikan bila serangan sering terjadi, tidak dapat
diredakan oleh obat atau tindaka konservatif dan penderita menjadi
infalid tidak dapat bekerja atau kemungkinan kehilangan pekerjaannya.
4. Presbiastaksis (Disekuilibrium pada usia lanjut)
Rasa tidak setabil serta gangguan keseimbangan dapat dibantu obat supresan
vestibular dengan dosis rendah dengan tujuan meningkatkan mobilisasi.
Misalnya Dramamine, prometazin, diazepam, pada enderita ini latihan
vertibuler dan latihan gerak dapat membantu. Bila perlu beri tongkat agar
rasa percaya diri meningkat dan kemungkinan jatuh dikurangi.
5. Sindrom Vertigo Fisiologis
Misalnya mabok kendaraan dan vertigo pada ketinggian terjadi karena
terdapat ketidaksesuaian antara rangsang vestibuler dan visual yang diterima
otak. Pada penderita ini dapat diberikan obat anti vertigo.
6. Strok (pada daerah yang didarahi oleh arteria vertebrobasiler)
- TIA: Transient Ischemic Atack yaitu stroke ringan yang gejala klinisnya
pulih sempurna dalam kurun waktu 24 jam
- RIND: Reversible Ischemic Neurologi Defisit yaitu penyembuhan
sempurna terjadi lebih dari 24 jam.
Meskipun ringan kita harus waspada dan memberikan terapi atau
penanganan yang efektif sebab kemungkinan kambuh cukup besar, dan
jika kambuh bisa meninggalkan cacat.

H. PENGKAJIAN
1. Aktivitas / Istirahat
- Letih, lemah, malaise
- Keterbatasan gerak
- Ketegangan mata, kesulitan membaca
- Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.
- Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas
(kerja) atau karena perubahan cuaca.
2. Sirkulasi
- Riwayat hypertensi
- Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.
- Pucat, wajah tampak kemerahan.
3. Integritas Ego
- Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
- Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan
depresi
- Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
- Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)

4. Makanan dan cairan


- Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat,
bawang, keju, alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak,
jeruk, saus, hotdog, MSG (pada migrain).
- Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
- Penurunan berat badan
5. Neurosensoris
- Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
- Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
- Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
- Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras,
epitaksis.
- Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
- Perubahan pada pola bicara/pola piker
- Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
- Penurunan refleks tendon dalam
- Papiledema.
6. Nyeri/ kenyamanan
- Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal
migrain, ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma,
sinusitis.
- Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
- Fokus menyempit
- Fokus pada diri sendiri
- Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
- Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
7. Keamanan
- Riwayat alergi atau reaksi alergi
- Demam (sakit kepala)
- Gangguan cara berjalan,
8. Interaksi sosial
Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang
berhubungan dengan penyakit.
9. Penyuluhan / pembelajaran
- Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
- Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsi
oral/hormone, menopause.

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut berhubungan dengan spasme saraf nyeri sakit kepala
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan mual muntah
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan terjadinya gangguan
keseimbangan
J. INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Diagnosa Tujuan (NOC) Intervensi (NIC)
1 Nyeri akut Setelah dilakukan 1. Lakukan penilaian
. b/d spasme tindakan keperawatan nyeri secara
saraf nyeri selama 2x24 jam klien komprehensif
sakit kepala menunjukkan dimulai dari lokasi,
perbaikan pada karakteristik, dan
kontrol nyeri dengan penyebab
kriteria hasil : 2. Anjurkan untuk
1. Mampu istirahat atau tidur
menilai faktor yang adekuat untuk
penyebab mengurangi nyeri
2. Mampu 3. Ajari untuk
menilai gejala menggunakan
nyeri teknik non
3. Mampu farmakologi
melaporkan (seperti relaksasi,
kepuasan terapi benson,
dengaan distraksi)
tingkat nyeri 4. Kolaborasi dengan
tim medis untuk
pemberian
analgesik
2. Ketidak Setelah dilakukan 1. Monitor ttv
seimbangan tindakan keperawatan 2. Atur pola makan,
nutrisi selama 2x24 jam, yang diperlukan
kurang dari pasien dapat (menyediakan
kebutuhan menunjukkan makanan
tubuh b/d perbaikan pada status berprotein tinggi,
mual nutrisi dengan kriteria meningkatkan atau
muntah hasil : menurunkan kalori,
1. Asupan gizi menambah atau
dalam rentang mengurangi
normal vitamin, mineral,
2. Intake dan atau suplemen)
output nutrisi 3. Ajarkan pasien
seimbang tentang kebutuhan
3. Hidrasi dalam nutrisi yaitu
rentang normal membahas
pedoman diet atau
piramida makanan
4. Kolaborasi dengan
ahli diet,
banyaknya kalori
dan tipe kebutuhan
nutrisi untuk
memenuhi
kebutuhan nutrisi
dan menghitung
intake kalor harian
3. Intoleransi Setelah dilakukan 1. Monitor TTV
aktivitas b/d tindakan keperawatan 2. Anjurkan
terjadinya selama 2x24 jam, mengungkapkan
gangguan pasien menunjukkan yang ddirasakaan
keseimbang perbaikan pada tentang
an intoleransi aktivitas keterbatasan
dengan kriteria hasil : 3. Ajarkan tentang
1. Denyut nadi ambulasi
dengan 4. Kolaborasi dengan
aktivitas terapis dalam
2. Tingkat merencanakan dan
pernapasan memonitor
dengan program aktivitas
aktivitas
3. Kemudahan
dalam
melakukan
aktivitas
sehari-hari
DAFTAR PUSTAKA

Lumban Tobing. S.M .2008. Vertigo Tujuh Keliling. Jakarta : FK UI


Gloria M. Bulechk dkk. 2017. Nursing Intervensions Clasification(NIC).
Elseiver. Yogyakarta.
Setiadi. 2012. Konsep & Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori dan
Praktik. Yogyakarta : Graha Ilmu
Sue Moorhead dkk. 2017. Nursing Outcomes Clasification (NOC). Elseiver.
Yogyakarta.
Arif, M. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. Jakarta: Penerbitan
Media Aesculapius FKUI.

Anda mungkin juga menyukai