Anda di halaman 1dari 8

MISLUKTE UITLOKKING PADA TINDAK PIDANA

PERDAGANGAN ORANG1)
Oleh. Paul SinlaEloE2)

Setiap orang akan dipidana, jika berusaha


menggerakkan orang lain supaya melakukan
Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dan
tindak pidana itu tidak terjadi. Itulah substansi
dari Pasal 9 UU No. 21 Tahun 2007, tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan
Orang/UUPTPPO. Bagi setiap orang yang
melanggar amanat Pasal 9 UUPTPPO ini, akan
dikenai sanksi berupa pidana penjara paling
singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam)
tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp.40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp.240.000.000,00 (dua ratus
empat puluh juta rupiah).

Ada 5 (lima) unsur yang terkandung dalam rumusan delik dari Pasal 9 UUPTPPO,
yakni: Pertama, setiap orang yang adalah unsur pelaku. Dalam Pasal 1 angka 4
UUPTPPO, istilah „setiap orang‟ diartikan sebagai „orang perseorangan‟ dan/atau
korporasi. Orang perseorangan pada konteks setiap orang ini, dalam ilmu hukum
pidana dimaknai sebagai orang individu (naturlijk persoon), baik itu yang berwarga
negara Indonesia maupun asing. Sedangkan, korporasi berdasarkan Pasal 1 angka 3
UUPTPPO, diartikan sebagai kumpulan orang dan/atau kekayaan yang terorganisasi
baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum.

Kedua, unsur kesengajaan. Unsur kesengajaan merupakan unsur subyektif dari


pelaku yang menghendaki terjadinya TPPO dan mengetahui/menginsafi akibat yang
akan terjadi dari tindak pidana yang dilakukan. Unsur kesengajaan ini termanifestasi
dalam kata „berusaha‟ yang terdapat di awal frasa „menggerakkan orang lain‟. Unsur
kesengajaan disini harus dipahami secara luas yang meliputi kesengajaan sebagai
maksud, kesengajaan sebagai kepastian dan kesengajaan sebagai kemungkinan.

Ketiga, unsur perbuatan yang dipahami sebagai setiap tindakan aktif dan/atau pasif
yang dilakukan secara sadar maupun tidak, dalam hal ini menggerakkan orang lain;
Keempat, supaya orang lain tersebut melakukan tindak pidana/TPPO yang
merupakan unsur tujuan yang nantinya akan tercapai dan atau terwujud sebagai
akibat dari tindakan/perbuatan pelaku; Kelima, unsur keadaan. Unsur keadaan disini

1).Tulisan ini merupakan hasil editing (Pengoreksian dan Penyempurnaan) dari makalah berjudul:
“Mislukte Uitlokking Dalam Tindak Pidana Perdagangan Orang”, yang pernah dipresentasikan dalam
diskusi terbatas, dengan Thema: “Memahami Substansi Undang-Undang Pemberantasan Tindak
Pidana Perdagangan Orang”, yang dilaksanakan oleh Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan
Advokasi Rakyat (PIAR-NTT), di Hotel GreeNia, Kota Kupang, pada tanggal 29 Mei 2017.
2) Aktivis PIAR NTT

Page 1 of 8
dimaknai sebagai unsur syarat tambahan untuk dapat dipidana, dalam hal ini
keadaan tertentu yang timbul setelah perbuatan yang menentukan untuk dapat
dipidananya perbuatan (Leden Marpaung, 2005:75). Dalam konteks Pasal 9
UUPTPPO, unsur keadaan ini bisa ditemukan pada kalimat, „dan tindak pidana/TPPO
itu tidak terjadi”.

Jika ditinjau dari aspek legal drafting, Pasal 9 UUPTPPO ini merupakan rumusan delik
yang pengertian normanya samar (vaagennorm) dan hanya memiliki kejelasan
pengaturan tentang sanksi. Kekaburan pada rumusan delik Pasal 9 UUPTPPO ini
diperparah dengan bagian penjelasannya yang hanya tertulis frasa „cukup jelas‟.
Padahal, bagian penjelasan pasal demi pasal dari UUPTPPO merupakan sarana untuk
memperjelas norma dalam batang tubuh. Malahan, fungsi dari bagian penjelasan
pasal demi pasal adalah sebagai tafsir resmi atas norma tertentu yang terdapat
dalam batang tubuh dari UUPTPPO.

Agar tidak disebut sebagai norma yang samar (vaagennorm), idealnya dalam bagian
penjelasan dari Pasal 9 UUPTPPO, harus diuraikan secara tegas dan jelas tentang
siapa itu pelaku penggerak, apa yang dimaksud dengan menggerakkan beserta
batasannya, faktor-faktor apa saja yang menyebabkan penggerakkan/penganjuran
tidak berhasil padahal sudah digerakkan oleh pelaku penggerak. Selain itu, apakah
faktor-faktor dimaksud disebabkan oleh pelaku penggerak atau kehendak sendiri
dari orang yang digerakkan atau hal lain diluar dari orang yang digerakkan.

Mengingat bahwa konstruksi hukum dari Pasal 9 UUPTPPO masih terdapat


kekaburan dalam hal norma, sedangkan pada bagian penjelasannya hanya tertulis
frasa „cukup jelas‟, maka interpretasi hukum atas materi muatan dalam rangka
implementasi Pasal 9 UUPTPPO adalah sesuatu yang penting. Penafsiran hukum
yang dipergunakan dalam tulisan ini adalah penafsiran yang oleh Sudikno
Mertokusumo dan A. Pitlo (1993:17-18) disebut sebagai metode penafsiran
komparatif, yaitu mengkaji dan membandingkan rumusan norma dan aturan
mengenai mislukte uitlokking, baik yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHPidana) maupun UUPTPPO untuk menemukan hukum
(rechtsvinding) sehubungan dengan makna/substansi, batasan dan prinsip-prinsip
yang dapat memperjelas tentang mislukte uitlokking dalam konteks TPPO.

Penggerakkan dan Penggerak Versi KUHPidana


1. Penggerakkan Menurut KUHPidana
Dalam KUHPidana diatur dengan tegas bahwa akan dipidana sebagai pelaku
tindak pidana, mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan
menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau
penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan,
sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan (Pasal 55 ayat
(1) Ke-2 KUHPidana). Selanjutnya dalam Pasal 55 ayat (2) KUHPidana
diamanatkan bahwa: “Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja
dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya”.

Page 2 of 8
Pasal 55 ayat (1) Ke-2 KUHPidana ini, pada intinya mengatur tentang „uitlokken‟
atau „uitlokking‟ yang dalam hukum pidana dipahami sebagai penggerakkan atau
pembujukan atau penganjuran terhadap orang lain untuk melakukan suatu
tindak pidana dengan daya maupun upaya tertentu. Menurut P. A. F. Lamintang
(1990:610-611), Pasal 55 ayat (1) Ke-2 KUHPidana telah membatasi ruang
lingkup pengertian dari istilah „menganjurkan‟, yaitu dengan cara memberikan
atau menjanjikan sesuatu, menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan
kekerasan, ancaman atau penyesatan, memberi kesempatan, sarana dan
keterangan.

Ilmu hukum pidana mengklaster penggerakkan atau pembujukan atau


pengajuran, ke dalam 4 (empat) jenis, yakni: Pertama, penggerakkan yang
berhasil (geslaagde uitlokking). Contoh: A membujuk B untuk melakukan TPPO
dan B melakukan TPPO sesuai bujukan A. Kedua, penggerakkan yang hanya
sampai pada taraf percobaan (uitlokking bij poging). Contoh: A membujuk B
melakukan TPPO, ternyata Ketika TPPO yang dilakukan oleh B belum sempurna
terjadi atau belum semua unsur delik TPPO terpenuhi, B sudah di tangkap oleh
pihak Kepolisian dan TPPO tidak terjadi. Artinya, B sudah tergerak/terbujuk untuk
melakukan TPPO, hanya saja delik yang dilakukan menjadi percobaan melakukan
TPPO.

Ketiga, penggerakkan tanpa akibat (zonder gevolg gevleven uitlokking). Contoh:


(1). A membujuk B untuk melakukan TPPO, namun ketika melakukan permulaan
persiapan B bertemu dengan C yang menjelaskan dampak buruk dari TPPO
sehingga timbul kesadaran yang membuat B tidak jadi melakukan TPPO (2). A
menggerakkan B untuk melakukan TPPO, ternyata B melakukan tindakan pidana
penyelundupan manusia dan tidak melakukan TPPO sebagaimana apa yang
dibujuk oleh A. Keempat, penggerakkan yang gagal (mislukte uitlokking).
Contoh: A membujuk B untuk melakukan TPPO, ternyata B tidak tergerak atau
terbujuk untuk melakukan TPPO.

2. Penggerak Menurut KUHPidana


Dalam berbagai literatur tentang hukum pidana, terdapat beberapa istilah yang
dipergunakan untuk menyebut pelaku penggerak (uitlokker), yaitu: penggerak,
pembujuk dan penganjur. Ilmu hukum pidana memahami pelaku penggerak
tindak pidana, sebagai orang yang „menggerakkan‟ atau „menganjurkan‟ atau
„membujuk‟ orang lain dengan daya maupun upaya tertentu untuk melakukan
suatu tindak pidana.

Ada 5 (lima) syarat dalam ajaran tentang uitlokking yang menentukan pelaku
penggerak (uitlokker) maupun orang yang digerakkan (uitgelokte) dapat
dipidana, yakni: Pertama, kesengajaan pelaku penggerak (uitlokker) ditujukan
agar suatu tindakan tertentu dilakukan oleh orang yang digerakkan (uitgelokte);
Kedua, pelaku penggerak (uitlokker) dalam menggerakkan orang yang
digerakkan (uitgelokte) harus menggunakan daya maupun upaya tertentu yang
bersifat limitatif karena sudah dibatasi oleh Pasal 55 ayat (1) Ke-2 KUHPidana;

Page 3 of 8
Ketiga, putusan kehendak dari orang yang digerakkan (uitgelokte) untuk
melakukan kejahatan dalam kapasitas sebagai pelaku materil (pleger),
ditimbulkan oleh pelaku penggerak (uitlokker) berdasarkan hal-hal bersifat
causalitas, baik langsung maupun tidak langsung; Keempat, orang yang
digerakkan (uitgelokte) harus telah melakukan tindak pidana dalam kapasitas
sebagai pelaku materil/pleger sesuai dengan apa yang digerakkan/dibujuk oleh
pelaku penggerak (uitlokker), atau minimal pelaku materil (pleger) telah
melakukan percobaan untuk tindak pidana tersebut. Kelima, orang yang
digerakkan (uitgelokte) harus diminta pertanggungjawabannya dan dapat
dipidana karena pelaku materil (pleger) adalah orang yang langsung melakukan
tindak pidana.

Sesuai ajaran tentang penggerakkan atau uitlokking, syarat-syarat dipidananya


pelaku penggerak (uitlokker) dan pelaku materil/pleger dapat digambarkan atau
dipetakan, sebagai berikut: Pertama, syarat 1 dan 2 adalah syarat yang harus
ada pada pelaku penggerak (uitlokker); Kedua, syarat 3, 4 dan 5 merupakan
syarat yang melekat pada orang yang digerakkan (uitgelokte) atau pelaku
materil/pleger untuk melakukan suatu tindak pidana.

Ajaran tentang penggerakkan (uitlokking/uitlokken) ini, memiliki kemiripan


dengan ajaran menyuruh melakukan (doenplegen) yang diatur dalam Pasal 55
ayat (1) Ke-1 KUHPidana. Karena, dalam uitlokking maupun doenplegen terdapat
usaha untuk menggerakkan orang lain sebagai pelaku materil (pleger) oleh
doenpleger maupun uitlokker. Perbedaannya adalah dalam ajaran uitlokking,
pelaku materil (pleger) harus diminta pertanggungjawabannya dan dapat
dipidana, karena pelaku materil (pleger) tidak merupakan manus ministra.
Sedangkan pada ajaran menyuruh melakukan (doenplegen), pelaku materil
(pleger) tidak dapat diminta pertanggungjawabannya karena pelaku materil
(pleger) merupakan manus ministra atau hanya merupakan orang yang disuruh
oleh manus domina untuk melakukan suatu tindak pidana.

Pebedaan lain antara uitlokking dan doenplegen adalah ketika pelaku penggerak
(uitlokker) menggerakkan pelaku materil (pleger), maka daya maupun upaya
tertentu yang dipergunakan harus bersifat limitatif sebagaimana yang sudah
dibatasi oleh Pasal 55 ayat (1) Ke-2 KUHPidana. Sedangkan pada ajaran
menyuruh melakukan (doenplegen), orang yang menyuruh melakukan
(doenpleger) dapat menggunakan daya maupun upaya secara bebas untuk
menggerakkan pelaku materil (pleger), karena daya maupun upaya dalam ajaran
doenplegen tidak dibatasi oleh undang-undang atau tidak bersifat limitatif.

Daya upaya dari pelaku penggerak (uitlokker) yang sudah ditentukan secara
limitatif dalam Pasal 55 ayat (1) Ke-2 KUHPidana ini, dapat dijadikan juga
sebagai pembedaan antara ajaran uitlokking dengan konsep penghasutan yang
diatur dalam Pasal 160 KUHPidana. Karena dalam penghasutan, orang yang
menghasut harus melakukannya di tempat umum dengan kata-kata (lisan
dan/atau tertulis) berisi hasutan ditujukan kepada orang lain yang ada di situ
(Satochid Kartanegara, Tanpa Tahun:527).

Page 4 of 8
Menurut Paul SinlaEloE (2017:47-50) ajaran tentang penggerakkan (uitlokking)
memiliki kesamaan dengan ajaran pembantuan (medeplichtigeheid) dalam
konteks sebelum suatu kejahatan dilakukan, karena dapat melalui cara memberi
kesempatan, sarana atau keterangan. Perbedaannya hanya terdapat pada unsur
niat atau kehendak. Pada ajaran tentang pembantuan (medeplichtigeheid),
kehendak jahat pelaku materil (pleger) sudah ada sejak semula atau tidak
ditimbulkan oleh pelaku pembantu (medeplichtige). Sedangkan dalam
penganjuran atau penggerakkan (uitlokking), kehendak melakukan kejahatan
yang ada pada pelaku materil (pleger) ditimbulkan oleh pelaku penggerak
(uitlokker).

Penggerakkan yang Gagal Versi KUHPidana


Pengaturan tentang penggerakkan atau pembujukan atau penganjuran yang gagal
atau mislukte uitlokking pada KUHPidana terdapat dalam Pasal 163 bis. Berdasarkan
sejarah, Pasal 163 bis ini baru dimasukan dalam KUHPidana pada tahun 1925, dan
dimuat/diundangkan dalam Lembaran Negara, Tahun 1925, Nomor 197 (Satochid
Kartanegara, Tanpa Tahun:530), untuk menghentikan multitafsir dari para praktisi
dan ahli hukum pidana (pada masa itu) atas problemtika hukum terkait
implementasi Pasal 55 ayat (1) Ke-2 KUHPidana, yakni: apakah terhadap percobaan
untuk membujuk atau menggerakkan atau penganjuran yang gagal dapat dipidana?

Rumusan delik dari Pasal 163 bis KUHPidana adalah: “Barang siapa dengan
menggunakan salah satu sarana tersebut dalam Pasal 55 ayat (1) Ke-2 KUHPidana
berusaha menggerakkan orang lain supaya melakukan kejahatan, dan kejahatan itu
atau percobaan untuk itu dapat dipidana tidak terjadi, diancam dengan pidana
penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,-
(empat ribu lima ratus rupiah), akan tetapi tidak boleh sekali-kali dijatuhkan
hukuman yang lebih berat daripada yang dapat dijatuhkan lantaran percobaan
melakukan kejahatan itu atau jika percobaan itu tidak boleh dihukum, lantaran
kejahatan itu sendiri” (Pasal 163 bis ayat (1) KUHPidana). Selanjutnya pada Pasal
163 bis ayat (2) KUHPidana, ditegaskan bahwa: “Aturan ini tidak berlaku, jika tidak
mengakibatkan kejahatan atau percobaan kejahatan disebabkan karena
kehendaknya sendiri”.

Pasal 163 bis KUHPidana ini didesain oleh para perumus sebagai delik tersendiri
(delictum suigeneris/zelfstanding delict ), karena terjadinya delik hanya satu
perbuatan saja tanpa ada kelanjutan dari perbuatan tersebut dan tidak ada
perbuatan lain lagi, selain perbuatan dimaksud (Satochid Kartanegara, Tanpa
Tahun:527). Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat konstruksi hukum dari Pasal 163
bis KUHPidana yang mengancam pidana terhadap penggerakkan yang gagal atau
mislukte uitlokking dan juga yang tidak menimbulkan akibat.

Dengan rumusan delik yang menitikberatkan pada perbuatan, maka Pasal 163 bis
KUHPidana harus dipahami sebagai delik formil. Jadi, jika pelaku penggerak
(uitlokker) dengan salah satu sarana yang tersebut dalam Pasal 55 ayat (1) Ke-2
KUHPidana, berusaha menggerakkan orang lain untuk melakukan kejahatan, maka
pelaku penggerak (uitlokker) sudah dapat dipidana meskipun orang yang dibujuk itu

Page 5 of 8
belum juga melakukan suatu tindak pidana atau percobaan melakukan tindak pidana
(poging) yang dapat dihukum.

Terkait dengan pertanggungjawaban pidana, pelaku penggerak (uitlokker) hanya


bertanggungjawab pada tindakan dan akibat-akibat dari perbuatan yang
digerakkannya, selebihnya merupakan tanggung jawab yang orang
digerakan/dibujuk. Selain itu, hukuman atas pelaku penggerak (uitlokker) tidak
boleh dikenakan hukuman yang lebih berat dari pada yang dapat dijatuhkan
lantaran percobaan melakukan kejahatan itu atau jika percobaan itu tidak dapat
dihukum, lantaran kejahatan itu sendiri (Pasal 163 bis ayat (1) KUHPidana).

R. Soesilo (1995:140) berpendapat bahwa sesuai Pasal 163 bis ayat (2) KUHPidana,
pelaku penggerak (uitlokker) tidak dapat dihukum, apabila orang yang
dibujuk/digerkkan (uitgelokte) untuk melakukan suatu tindak pidana ataupun
percobaan melakukan tindak pidana (poging) yang dapat dihukum, tidak jadi
melakukan apa yang dibujuk oleh pelaku penggerak (uitlokker) karena hal-hal yang
terletak dalam kemauan dari pelaku penggerak/uitlokker, misalnya pelaku penggerak
(uitlokker) menarik kembali bujukannya, menghalang-halangi dan sebagainya.

Aturan tentang penggerakkan atau pembujukan atau penganjuran yang gagal atau
mislukte uitlokking yang terdapat dalam 163 bis KUHPidana ini, menurut kebanyakan
pakar (diantaranya Pompe, Jonkers, Hazewinkel-Suringa), dapat juga diterapkan
dalam ajaran „menyuruh lakukan/doenplegen yang gagal‟, asalkan saja sarana yang
dipakai oleh orang yang menyuruh melakukan (doenpleger) termasuk salah satu
sarana untuk penggerakkan (uitlokking) yang disyaratkan dalam Pasal 55 ayat (1)
Ke-2 KUHPidana. Argumen ini berpijak pada kalimat yang digunakan dalam Pasal
163 bis ayat (1) KUHPidana, yakni: „mencoba/berusaha menggerakkan orang lain
untuk‟ atau dalam rumusan kalimat aslinya yang terdapat dalam Wetboek van
Strafrecht (KUHPidana Belanda) tertulis, trachten te bewegen yang maknanya lebih
luas dari uitlokken/uitlokking.

Mislukte Uitlokking Versi Pasal 9 UUPTPPO


Hadirnya pengaturan tentang penggerakkan atau pembujukan atau penganjuran
yang gagal atau mislukte uitlokking sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 9
UUPTPPO, menunjukan suatu kemajuan berpikir dari perumus UUPTPPO dalam hal
pemberantasan TPPO. Pasal 9 UUPTPPO telah didesain oleh perumus dengan
batasan, karakter dan prinsip tersendiri, sebagai bentuk perpaduan yang harmonis
antara Pasal 55 ayat (1) Ke-2 KUHPidana, Pasal 55 Ayat (2) KUHPidana dan Pasal
163 bis KUHPidana. Artinya, ketiga pasal dalam KUHPidana ini harus dipedomani
ketika Pasal 9 UUPTPPO akan diimplementasikan.

Walaupun demikian, ada beberapa esensi dari rumusan delik yang terdapat dalam
Pasal 9 UUPTPPO yang tidak termasuk dalam kategori Pasal 55 ayat (1) Ke-2
KUHPidana maupun Pasal 55 Ayat (2) KUHPidana, karena pasal-pasal ini hanya
dimaksudkan untuk mengatur tentang penggerakkan atau pembujukan atau
penganjuran atau uitlokking/uitlokken. Pasal 55 ayat (1) Ke-2 KUHPidana dan Pasal
55 Ayat (2) KUHPidana tidak mengatur tentang penggerakkan yang gagal atau
mislukte uitlokking, sebagaimana substansi dari Pasal 9 UUPTPPO

Page 6 of 8
Sebagai aturan yang khusus, Pasal 9 UUPTPPO memiliki keterkaitan dengan Pasal 55
ayat (1) Ke-2 KUHPidana dan Pasal 55 Ayat (2) KUHPidana hanya dalam hal
pemaknaan tentang pelaku penggerak atau uitlokker, beserta prinsip pemberian
sanksi kepadanya dan menjadi pembatasan ruang lingkup dari istilah
„menggerakkan‟. Akan tetapi, Pasal 9 UUPTPPO tidak dapat dipergunakan untuk
menjerat pelaku yang melakukan penggerakkan atau pembujukan atau penganjuran
(uitlokker) dalam konteks uitlokking/uitlokken.

Substansi dari Pasal 9 UUPTPPO pada prinsipnya hampir sama dengan apa yang
diatur dalam Pasal 163 bis KUHPidana, yang mengancamkan pidana kepada orang
yang menggerakkan atau membujuk atau menganjurkan orang lain supaya
melakukan tindak pidana, dan tindak pidana itu tidak terjadi atau mislukte uitlokking.
Selain itu, kesamaan antara Pasal 9 UUPTPPO dengan Pasal 163 bis KUHPidana
adalah keduanya sama-sama merupakan delik formil, yakni delik yang dianggap
telah sempurna terjadi jika unsur perbuatan yang dilarang telah dilakukan, namun
pelakunya baru dapat dipidana dengan Pasal 9 UUPTPPO dan Pasal 163 bis
KUHPidana ketika unsur keadaan dalam hal ini, „tindak pidana/TPPO itu tidak terjadi‟.

Perbedaan utama antara Pasal 9 UUPTPPO dan Pasal 163 bis KUHPidana adalah,
penggerakkan atau pembujukan atau penganjuran yang gagal atau mislukte
uitlokking dalam Pasal 9 UUPTPPO ruang lingkupnya hanya terkait dengan TPPO,
sedangkan ruang lingkup dari Pasal 163 bis KUHPidana adalah lebih luas, tapi tidak
termasuk TPPO. Selain itu, pada Pasal 163 bis KUHPidana masih diatur juga tentang
penggerakkan yang hanya sampai pada taraf percobaan (uitlokking bij poging) yang
prinsip-prinsip penerapannya terdapat dalam Pasal 53 KUHPidana, sedangkan
percobaan melakukan TPPO dalam UUPTPPO terdapat pada Pasal 10 UUPTPPO serta
Pasal 23 UUPTPPO dan bukannya diatur dalam Pasal 9 UUPTPPO.

Perbedaan lainnya antara Pasal 9 UUPTPPO dan Pasal 163 bis KUHPidana, yakni
dalam hal pengaturan tentang sanksi. Pasal 9 UUPTPPO dikonstruksi dengan stelsel
komulatif yang mempergunakan model sanksi pidana penjara minimal-maksimal dan
denda minimal-maksimal. Sanksi dengan stelsel komulatif ini merupakan
penggabungan 2 (dua) pidana pokok, dalam hal ini pidana penjara dan pidana
denda, yang ciri khasnya adalah adanya kata „dan‟ pada rumusan kalimat tentang
sanksi.

Pada Pasal 163 bis KUHPidana, sanksi dirumuskan dengan stelsel alternatif dan kata
„atau‟ merupakan ciri utamanya. Sanksi dengan stelsel alternatif yang terdapat
dalam Pasal 163 bis KUHPidana ini, menggunakan model sanksi pidana maksimal
baik itu dalam penjara maupun denda. Dalam Pasal 163 bis KUHPidana diatur bahwa
model sanksi pidana maksimal dalam stelsel alternatif ini, tidak boleh sekali-kali
dijatuhkan hukuman yang lebih berat daripada yang dapat dijatuhkan lantaran
percobaan melakukan kejahatan itu atau jika percobaan itu tidak boleh dihukum,
lantaran kejahatan itu sendiri.

Page 7 of 8
Pengaturan tentang sanksi antara Pasal 9 UUPTPPO dan Pasal 163 bis KUHPidana,
berbeda juga dalam hal besaran denda dan dalam lamanya hukuman penjara. Pada
Pasal 9 UUPTPPO diatur bahwa setiap orang yang melanggar amanat Pasal 9
UUPTPPO ini, akan dikenai sanksi berupa pidana penjara paling singkat 1 (satu)
tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp.40.000.000,00 (empat puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.240.000.000,00
(dua ratus empat puluh juta rupiah). Sedangkan, sanksi dalam Pasal 163 bis
KUHPidana adalah pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda
sebanyak-banyaknya Rp.4.500,- (empat ribu lima ratus rupiah).

DAFTAR BACAAN

A. BUKU
1. Leden Marpaung, Asas, Teori, Praktek Hukum Pidana, Penerbit Sinar Grafika,
Jakarta, 2005.
2. P. A. F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Penerbit Sinar Baru,
Bandung, 1990.
3. Paul SinlaEloE, Tindak Pidana Perdagangan Orang, Penerbit Setara Press, Malang,
2017.
4. R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-
Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Penerbit Politeia, Bogor, 1995.
5. Satochid Kartanegara, Hukum Pidana Bagian Ke Satu, diperbanyak oleh Balai Lektur
Mahasisiwa, Jakarta, Tanpa Tahun.
6. Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Penerbit
PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993.

B. PRODUK HUKUM
1. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana/Wetboek van Strafrecht.
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007, Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Page 8 of 8