Anda di halaman 1dari 4

Rinaldi Dwi Yarto

04111640000028
Resume manajemen mutu
Teori Deming
Deming mendefinisikan mutu sebagai pengembangan yang terus menerus dari suatu sistem yang stabil.
Definisi itu menekankan pada dua hal berikut.

1. Semua sistem (administrasi, desain, produksi, dan penjualan) harus stabil. Hal itu memerlukan
pengukuran yang diambil dari atribut mutu di seluruh perusahaan dan dipantau setiap waktu.

2. Perbaikan yang terus menerus dari berbagai sistem untuk mengurangi penyimpangan dan lebih
memenuhi kebutuhan pelanggan.

7 asumsi manajer didunia barat:

1. Hadiah dan hukuman itu menjadi motivator yang sangat efektif untuk membangun semangat
bekerja.
2. Oprimisasi dalam bidang bidang organisasi mendukung kesuksesan secara keseluruhan.
3. Hasil diperoleh dengan menentukan tujuan awal.
4. Kualitas tidak selalu sebanding dengan kuantitas.
5. Keputusan yang rasional dapat dibuat dengan opini dan dugaan.
6. Organisasi dapat ditingkatkan dengan semangat
7. Kompetisi sangat dibutuhkan dalam hidup.

Selain 7 asumsi manajer tersebut, Deming menganjurkan bahwa semua manajer harus memiliki apa yang
disebut Sistem Pengetahuan yang sangat besar, yang terdiri dari empat bagian:

1. Apresiasi suatu sistem: memahami keseluruhan proses yang melibatkan pemasok, produsen, dan
pelanggan (atau penerima) barang dan jasa.
2. Pengetahuan variasi: kisaran dan menyebabkan variasi dalam kualitas, dan penggunaan sampling
statistik dalam pengukuran;
3. Teori pengetahuan: konsep menjelaskan pengetahuan dan batas-batas dari apa yang dapat diketahui
(lihat juga: epistemologi);
4. Pengetahuan psikologi: konsep alam manusia.
Dalam Bab 6 buku The New Economics for Industry, Government, Education karya Deming, Deming
menulis tentang “peran manajer yang memimpin karyawan” dalam usaha transformasi organisasi. Ia
mengemukakan 14 kunci sukses untuk para manajer:

1. Seorang manajer memahami dan mampu menyampaikan makna dan tujuan sebuah sistem
kepada karyawannya. Ia menjelaskan tujuan dari sistem tersebut. Ia mengajarkan mereka untuk
memahami bagaimana kerja tim akan mendukung tujuan tersebut.
2. Ia membantu karyawannya untuk melihat diri mereka sebagai komponen dari sistem, untuk
bekerjasama dengan tahap sebelumnya dan tahap selanjutnya melalui optimalisasi upaya di
semua tahap untuk mencapai tujuan.
3. Seorang manajer memahami bahwa setiap individu berbeda satu sama lain. Ia mencoba
memancing antusiasime, semangat dan kesenangan dalam bekerja. Ia mencoba untuk
mengoptimalisasi potensi dalam setiap orang, termasuk latar belakang mereka, pendidikan,
kemampuan, harapan, dan keahlian mereka. Ini bukan mengenai seleksi, tapi mengenai
pemahaman akan perbedaan yang dimiliki setiap orang dan usaha untuk menempatkan mereka
dalam posisi yang akan mendorong perkembangan.
4. Manajer adalah seorang pembelajar yang tidak kenal henti. Ia akan memberikan seminan dan
kursus-kursus untuk kemajuan pembelajaran, jika konteks dan waktunya tepat. Ia mendukung
mereka yang mengininkan studi formal lanjutan di universitas atau lembaga pendidikan.
5. Ia adalah pelatih dan penasihat; bukan penilai.
6. Ia memahami sistem yang stabil. Ia memahami interaksi antara karyawan dengan lingkungan
kerja mereka. Ia memahami bahwa performa seseorang yang dapat mempelajari suatu keahlian
akan mencapai keadaan stabil – ketika pembelajaran lebih lanjut tidak akan membawa
perbaikan performa. Seorang manajer yang membawahi orang-orang akan tahu bahwa pada
keadaan stabil ini, sangatlah mengganggu jika ia berbicara mengenai kesalahan dengan
karyawan.
7. Ia memiliki tiga sumber kekuatan utama: 1) Otoritas di kantor, 2) Pengetahuan, dan 3)
Kepribadian serta kekuatan persuasif. Manajer yang sukses tidak bergantung kepada poin 1; ia
mengembangkan poin 2 dan 3. Namun kekuatannya pada poin 1 akan memungkinkannya untuk
mengubah proses, mesin, material, metode, untuk melakukan improvement.
8. Ia akan mempelajari hasil dengan tujuan meningkatkan performanya sebagai manajer.
9. Ia akan mencoba menemukan siapapun yang ada diluar sistem yang membutuhkan bantuan
khusus. Tidak sulit menemukannya; cukup dengan kalkulasi simpel untuk menemukan
masalah dalam produksi. Bantuan khusus dapat berupa penataan ulang pekerjaan. Mungkin
juga lebih kompleks.
10. Ia menciptakan kepercayaan. Ia menciptakan lingkungan yang mendorong kebebasan dan
inovasi.
11. Ia tidak mengharapkan kesempurnaan.
12. Ia mendengarkan dan belajar untuk tidak menghakimi orang-orang yang ia dengarkan.
13. Ia akan melakukan obrolan yang santai dan informal dengan setiap orang yang ada dibawah
tanggung jawabnya. Bukan untuk menghakimi, hanya untuk mendengarkan. Tujuannya adalah
mengembangkan dan meningkatkan pemahaman akan karyawan; tujuan, harapan, dan
kekhawatiran mereka. Perbincangan ini akan terjadi secara spontan, tanpa direncanakan.
14. Ia memahami manfaat dari kerjasama dan kerugian dari kompetisi antara orang-orang yang
berada dalam satu tim.

Filosofi Deming

PDCA (Plan, Do, Check, Action) atau disebut juga Filosofi Deming, yang merupakan manajemen
perbaikan mutu secara berkesinambungan yang menekankan pada keuntungan jangka pendek. Dr.Deming
yang merupakan pelopor PDCA adalah murid dari Dr.Walter Shewhart. Mereka menghabiskan waktu untuk
melakukan penelitian mengenai konsep-konsep dan prinsip-prinsip perbaikan mutu kedalam teori
manajemen perbaikan mutu. Beliau juga mempelopori konsep SPC (Statistical Prosess Control), yang
merupakan konsep dalam perbaikan kualitas berkesinambungan. Penjabaran dari siklus PDCA (Plan, Do,
Check, Action) :

1. Planning berarti memahami apa yang ingin dicapai, memahami bagaimana melakukan suatu
pekerjaan, berfokus pada masalah, menemukan akarpermasalahan, menciptakan solusi yang
kreatif serta merencanakanimplementasi yang terstruktur.
2. Doing tidak semudah seperti yang dilihat. Didalamnya berisi pelatihan dan manajemen aktivitas.
Biasanya masalah besar dan mudah sering berubah pada saat-saat terakhir. Bila terjadi kondisi
seperti ini maka tidak dapat dilanjutkan lagi tetapi harus mulai dari awal kembali.
3. Checking berarti pengecekan terhadap hasil dan membandingkan sesuai dengan yang diinginkan.
Bila segala sesuatu menjadi buruk dan hasil baik tidak ditemukan, pada bagian ini keberanian,
kejujuran, kecerdasan sangat dibutuhkan untuk mengendalikan proses. Kata kunci ketika hasil
memburuk adalah ”kenapa”. Dengan dokumentasi proses yang baik maka kita dapat kembali pada
titik yang mana keputusan yang salah dibuat.
4. Acting berarti Menindak lanjuti atas apa yang didapatkan selama tahap pengecekan. Arti lainnya
adalah mencapai tujuan dan menstandarisasikan proses atau belajar dari pengalaman untuk
memulai lagi pada kondisi yang tepat

Filosofi Deming itu sendiri adalah ajaran-ajaran pokok William Edward Deming, salah satu mahaguru
manajemen kualitas. Yang menawarkan Theory (system) of Profound Knowledge. Yang menawarkan
semacam peta atau panduan filosofis-teoritik yang merupakan pimpinan unit bisnis untuk memahami
kompetensi apa saja yang harus dikembangkan bila ingin menjadi atau mengembangkan dan melatih
pemimpin-pemimpin bisnis yang handal. Theory of Profound Knowledge dapat dipahami dengan
mempelajari empat lensa yang berbeda satu sama lain, tetapi saling terkait dan tidak bisa dipisahkan dalam
penerapannya. Karena itu, pelatihan mengenai filosofi Deming kemudian banyak menggunakan nama Teori
Empat Lensa yang terdiri dari :

1. Berfikir system (System Thinking) untuk memimpin sistem.


2. Memahami variasi (Variation) dalam perencanaan dan pemecahan masalah.
3. Memahami Pengetahuan (Knowledge) agar bisa melakukan perbaikan.
4. Memahami Manusia (People)

Keempat lensa tersebut saling berinteraksi dan saling bergantung satu sama lain, dalam arti pemahaman
dan penerapan lensa yang satu akan menjadi lebih efektif jika dikaitkan dengan lensa yang lain