Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FITOKIMIA

Tugas 3. Identifikasi Senyawa Golongan Flavonoida (Ekstrak Psidium guajava)

FARMASI - E

KELOMPOK 5
ANGGOTA KELOMPOK :

1. Alifa Mutiara F. (201610410311073)


2. Farras Divie R. (201610410311155)
3. Rida Magfira Rohma (201610410311202)
4. Nisa’ur Rosidah (201610410311221)

Dosen Pembimbing :
Drs. Herra Studiawan, M.Si., Apt.
Siti Rofida M.Farm., Apt.
Amaliyah Dina Anggraeni, M.Farm., Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr wb
Alhamduillah banyak nikmat yang Allah berikan tetapi sedikit sekali yang
kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah swt, Tuhan semesta alam atas segala
berkat dan rahmat serta hidayahNya yang tiada terkira besarnya sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan akhir praktikum Fitokimia yang berjudul Identifikasi
Senyawa Golongan Flavonoida (Ekstrak Psidium guajava).

Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai


pihak karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
pihak-pihak yang membantu penulis menyelesaikan makalah ini. Dari sanalah
semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan sedikit
kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi. Meskipun penulis
berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan namun selalu
ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap
agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Wassalamu’alaikum wr wb
Malang, 18 Mei 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
PENDAHULUAN .................................................................................................. 3
BAB II ..................................................................................................................... 4
TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 4
2.1. Tinjauan Tanaman .................................................................................... 4
2.2. Golongan Senyawa ................................................................................... 6
2. 3 Cara melakukan identifikasi Golongan Senyawa ..................................... 9
2.4. KLT ........................................................................................................ 10
BAB III ................................................................................................................. 13
PROSEDUR KERJA ............................................................................................ 13
3. 1 Preparasi sampel ..................................................................................... 13
3. 2 Reaksi Warna ......................................................................................... 13
3. 3 Kromatografi Lapis Tipis KLT .............................................................. 13
BAB IV ................................................................................................................. 15
BAGAN ALIR ...................................................................................................... 15
4.1. Preparasi Sampel ........................................................................................ 15
4.2. Uji Bate-Smith dan Metcalf ....................................................................... 15
4.3. Uji Wilstater ............................................................................................... 16
4.4. Kromatografi Lapis Tipis ....................................................................... 16
BAB V................................................................................................................... 17
SKEMA KERJA ................................................................................................... 17
BAB VI ................................................................................................................. 19
HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................. 19
BAB VII ................................................................................................................ 24
PENUTUP ............................................................................................................. 24
LAMPIRAN .......................................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Judul
Identifikasi Senyawa Golongan Flavonoida (Ekstrak Psidium guajava)

1.2.Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan
flavonoida dalam tanaman.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Tinjauan Tanaman

 Klasifikasi Tanaman
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Myrtales
Suku : Myrtaceae
Marga : Psidium
Jenis : Psidium guajava L.
Nama umum : Jambu biji
Nama daerah : Glima breueh (Aceh); Glimeu beru (Gayo); Galiman
(Batak) Masiambu (Nias); Jambu biji (Melayu); Jambu klutuk (Sunda);
Jambu klutuk (Jawa Tengah); Jambu biji (Madura); Sotong (Bali); Libu
(Dayak); Gayomas (Manado); Dambu (Gorontalo); Hiabuto (Buol) Jambu
(Bare) Jambu paratugala (Makasar) Jambu paratukala (Bugis); Guawa
(Ende); Gothawas (Sika); Kejawas (Timor); Kejabos (Roti); Koyawase
(Seram); Lutu hatu (Ambon); Gewaya (Halmahera); Guwaya (Ternate)
(BPOM RI, 2008).
 Deskripsi
Habitus berupa perdu setinggi 5-10 m. Batang berkayu berbentuk bulat. Kulit
batang licin dan mengelupas. Batang bercabang dan berwarna coklat kehijauan.
Daun berupa daun tunggal berbentuk bulat telur dengan pertulangan menyirip.
Ujung daun tumpul dan pangkalnya membulat. Tepi daun rata. Daun tumbuh
saling berhadapan. Panjang daun 6-14 cm dan lebarnya 3-6 cm. Daun berwarna
hijau kekuningan atau hijau. Bunga tunggal, bertangkai dan berada di ketiak
daun. Kelopak bunga berbentuk corong dengan panjang 7-10 mm. Mahkota

4
berbentuk bulat telur dengan panjang 1,5 cm. Benang sari berbentuk pipih dan
berwarna putih. Putik berbentuk bulat kecil, berwarna putih atau putih
kekuningan. Buah buni, berbentuk bulat telur, berwarna putih kekuningan.
Bijinya keras, kecil, berwarna kuning kecoklatan. Akarnya merupakan akar
tunggang yang berwarna kuning kecoklatan (BPOM RI, 2008)
 Manfaat Psidium guajava
Tanaman jambu biji putih atau psidium guajava L. termasuk familia Myrtaceae.
Jambu biji memiliki beberapa kelebihan, antara lain buahnya dapat dimakan
sebagai buah segar, dapat diolah menjadi berbagai bentuk makanan dan
minuman. Selain itu, buah jambu biji bermanfaat untuk pengobatan (terapi)
beermacam-macam penyakit, seperti memperlancar pencernaan, menurunkan
kolesterol, antioksidan, menghilangkan rasa lelah dan lesu, demam berdarah, dan
sariawan. Selain buahnya, bagian tanaman jambu biji seperti daun, kulit akar
maupun akarnya dapat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit disentri,
keputihan, sariawan, kurap, diare, radang, lambung, gusi bengkak, dan
peradangan mulut, serta kulit terbakar sinar matahari (Cahyono, 2010).
 Kandungan kimia dan manfaat
Tanin pada tanaman jambu biji dapat ditemukan pada bagian buah, daun dan
kulit batang, sedangkan pada bunganya tidak banyak mengandung tanin. Daun
tanaman jambu biji selain mengandung tanin, juga mengandung zat lainseperti
asam ursolat, asam lat, asam guajaverin, minyak atsiri dan vitamin (Thomas,
1989). Daun-daun jambu biji memiliki kandungan zat-zat penyamak (psiditanin)
sekitar 9%, minyak atsiri berwarna kehijauan yang mengandung eganol sekitar
0,4%, damar 3%, minyak lemak 6%, dan garam-garam mineral (Kartasapoetra,
2004).
Bagian tanaman yang sering digunakan sebagai obat adalah daunnya,
karena daunnya diketahui mengandung senyawa tanin 9-12%, minyak atsiri,
minyak lemak dan asam malat (Depkes, 1989). Kandungan kimia pada daun
jambu biji (Psidium guajava L.) menurut Taiz dan Zeiger (2002) yaitu terpen,
fenolik, dan senyawa mengandung nitrogen terutama alkaloid. Kandungan kimia
tersebut merupakan bagian dari sistem pertahanan diri yang berperan sebagai
pelindung dari serangan infeksi mikroba patogen dan mencegaah pemakanan

5
oleh herbivora. Hasil fitokimia dalam ekstrak daun jambu biji putih adalah
senyawa flavonoid, tanin, triterpenoid, saponin, steroid, dan alkaloid (Arya, et
al., 2012).
Selain daunnya, buah jambu batu terutama dari jenis berwarna merah sering
digunakan untuk mengobati penyakit demam berdarah. Sedangkan senyawa
kimia yang terkandung didalam buah jambu adalah benzaldehid, D-ribosa,
Larabinosa, D-ramnosa, D-glukosa, Dgalaktosa, D-fruktosa dan sukrosa
Quersetin adalah senyawa golongan flavonoid jenis flavonol dan flavon,
senyawa ini banyak terdapat pada tanaman famili myrtaceae dan solanacea.
Telah dikenal sejumlah glikosida flavonol yaitu turunan dari quersetin ,
diantaranya adalah quersetin –3-Lrhamonoside atau quersitrin yang digunakan
untuk pewarna tekstil, quersetin–3-rutinoside yang biasa disebut rutin dan
quersetin 3 glukoside atau isoquersitrin yang berkhasiat diantaranya untuk
mengobati kerapuhan pembuluh kapiler pada manusia. Senyawa rutin terdapat
dalam tanaman tembakau dari famili Solanaceae dan Eucalyptus macrorynh dari
familia Myrtaceae (Harborne, 1987).

2.2.Golongan Senyawa
Senyawa-senyawa flavonoid adalah senyawa-senyawa polifenol yang
mempunyai 15 atom karbon, terdiri dari dua cincin benzena yang dihubungkan
menjadi satu oleh rantai linier yang terdiri dari tiga atom karbon. Senyawa-
senyawa flavonoid adalah senyawa 1,3 diaril propana, senyawa isoflavonoid
adalah senyawa 1,2 diaril propana, sedangkan senyawa-senyawa neoflavonoid
adalah 1,1 diaril propana. Istilah flavonoid diberikan pada suatu golongan besar
senyawa yang berasal dari kelompok senyawa yang paling umum, yaitu senyawa
flavon: suatu jembatan oksigen terdapat diantara cincin A dalam kedudukan orto,
dan atom karbon benzil yang terletak disebelah cincin B. Senyawa heterosiklik
ini, pada tingkat oksidasi yang berbeda terdapat dalam kebanyakan tumbuhan.
Flavon adalah bentuk yang mempunyai cincin C dengan tingkat oksidasi paling
rendah dan dianggap sebagai struktur induk dalam nomenklatur kelompok-
kelompok senyawa ini ( Mannito, 1981).
Senyawa flavonoid sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan
termasuk daun, akar, kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji. Kebanyakan

6
flavonoid ini berada di dalam tumbuh-tumbuhan, kecuali alga. Namun ada juga
flavonoid yang terdapat pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang-
berang dan sekresi lebah. Dalam sayap kupu-kupu dengan anggapan bahwa
flavonoid berasal dari tumbuh-tumbuhan yang menjaddi makanan hewan
tersebut dan tidak dibiosintesis di dalam tubuh mereka. Penyebaran jenis
flavonoid pada golongan tumbuhan yang tersebar yaitu angiospermae, klorofita,
fungi, briofita (Markham, 1988).
Klasifikasi Flavonoid
Menurut Robinson (1995), flavonoid dapat dikelompokkan berdasarkan
keragaman pada rantai C3 yaitu :
1. Flavonol
Flavonol paling sering terdapat sebagai glikosida, biasanya 3-glikosida ,
dan aglikon flavonol yang umum yaitu kamferol, kuersetin, dan mirisetin
yang berkhasiat sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Flavonol lain
yang terdapat di alam bebas kebanyakan merupakan variasi struktur
sederhana dari flavonol. Larutan flavonol dalam suasana basa dioksidasi
oleh udara tetapi tidak begitu cepat sehingga penggunaan basa pada
pengerjaannya masih dapat dilakukan.
2. Flavon
Flavon berbeda dengan flavonol dimana pada flavon tidak terdapat gugus
3-hidroksi. Hal ini mempunyai serapan UV-nya, gerakan kromatografi,
serta reaksi warnanya. Flavon terdapat juga sebagai glikosidanya lebih
sedikit dari pada jenis glikosida pada flavonol. Flavon yang paling umum
dijumpai adalah apigenin dan luteolin. Luteolin merupakan zat warna
yang pertama kali di pakai di Eropa. Jenis yang paling umum adalah 7-
glukosidaa dan terdapat juga flavon yang terikat pada gula melalui ikatan
karbon-karbon. Contohnya luteolin 8-C-glukosida. Flavon dianggap
sebagai induk dalam nomenklatur kelompok senyawa flavonoid.
3. Isoflavon
Isoflavon merupakan isomer flavon, tetapi jumlahnya sangat sedikit dan
sebagai fitoaleksin yaitu senyawa pelindung yang terbentuk dalam
tumbuhan sebagai pertahanan terhadap serangan penyakit. Isoflavon

7
sukar dicirikan karena reaksinya tidak khas dengan pereaksi warna
manapun. Beberapa isoflavon (misalnya daidzein) memberikan warna
biru muda cemerlang dengan sinar UV bila diuapi amonia, tetapi
kebanyakan yang lain tampak sebagai bercak lembayung yang pudar
dengan amonia berubah menjadi coklat.
4. Flavanon
Flavanon terdistribusi luas di alam. Flavanon terdapat di dalam kayu,
daun dan bunga . flavanon glikosida merupakan konstituen utama dari
tanaman genus prenus dan buah jeruk, dua glikosida yang paling lazim
adalah neringenin dan hesperitin, terdapat dalam buah anggur dan jeruk.
5. Flavanonol
Senyawa ini berkhasiat sebagai antioksidan dan hanya terdapat sedikit
sekali jika dibandingkan dengan flavonoid lain. Sebagian besar senyawa
ini diabaikan karena konsentrasinya rendah dan tidak berwarna.
6. Katekin
Katekin terdapat pada seluruh dunia tumbuhan, terutama pada tumbuhan
berkayu. Senyawa ini mudah diperoleh dalam jumlah besar dari ekstrak
kental Uncaria gambir dan daun teh kering yang mengandung kira-kira
30% senyawa ini. Katekin berkhasiat sebagai antioksidan.
7. Leukoantosianidin
Leukoantosianidin merupakan senyawa tan warna, terutama terdapat
pada tumbuhan berkayu. Senyawa ini jarang terdapat sebagai glikosida,
contohnya melaksidin, apiferol.
8. Antosianin
Antosianin merupakan pewarna yang paling penting dan paling tersebar
luas dalam tumbuhan. Pigmen yang berwarna kuat dan larut dalam air ini
adalah penyebab hampir semua warna merah jambu, merah marak, ungu,
dan biru dalam daun, bunga, dan buah pada tumbuhan tinggi. Secara
kimia semua antosianin merupakan turunan suatu struktur aromatik
tunggal yaitu sianidin, dan semuanya terbentuk dari pigmen sianidin ini
dengan penambahan atau pengurangan gugus hidroksil atau dengan
metilasi atau glikosilasi.

8
9. Khalkon
Khalkon adalah pigmen fenol kuning yang berwarna coklat kuat dengan
sinar UV bila di kromatografi kertas. Aglikon flavon dapat dibedakan
menjadi glikosidanya, karena hanya pigmen dalam bentuk glikosida yang
dapat bergerak pada kromatografi kertas dalam pengembang air
(Harborne, 1996).
10. Auron
Auron berupa pigmen kuning emas yang terdapat dalam bunga tertentu
dan briofita. Dalam larutan basa senyawa ini berwarna merah ros dan
tampak pada kromatografi kertas berupa bercak kuning, dengan sinar
ultraviolet warna kunig kuat berubah menjadi merah jingga bila diberi
uap amonia (Robinson, 1995).

2. 3 Cara melakukan identifikasi Golongan Senyawa


Identifikasi senyawa golongan flavonoida

Pengujian fitokimia terdiri dari beberapa uji meliputi uji flavonoid,


uji saponin, uji steroid, uji terpenoid, dan uji alkaloid (Markham, 1988).
Cara identifikasi : dilakukan dengan menggunakan reagen atau
pereaksi Willstater, Smith-Matcalfe dan NaOH 10% karena dapat
menghasilkan terjadinya perubahan warna yang menunujukan bahwa ekstrak
tersebut positif mengandung senyawa yang termasuk dalam golongan
flavonoid. Pada uji willstater akan terjadi perubahan warna dari coklat muda
menjadi kuning muda. Pada uji smith-Matcalfe akan terjadi perubahan warna
dari Coklat muda menjadi kuning muda dan pada uji dengan pereaksi NaOH
10% akan terjadi perubahan warna dari Coklat muda menjadi kuning muda.
flavonoid yang ditambahkan dengan pereaksi Willstater, Smith-Matcalfe dan
NaOH 10% kan berubah warna, hal ini dikarenakan flavonoid termasuk dari
senyawa fenol. Bila fenol direaksikan dengan basa akan terbentuk warna yang
disebabkan terjadinya sistem konjugasi dari gugus aromatik.
Uji Flavonoid :
a. Uji Wilstatter

9
Sebanyak 1 ml ekstrak dimasukkan kedalam tabung reaksi. Lalu
ditambahkan dengan serbuk magnesium dan 2-4 tetes HCl pekat.
Kemudian campuran dikocok. Terbentuknya warna jingga
menunjukkan adanya flavonoid golongan flavonol dan flavanon.
b. Uji Bate-Smith
Sebanyak 1 ml ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Lalu
ditambahkan dengan HCl pekat beberapa tetes. Kemudian campuran
dipanaskan selama 15 menit di atas penangas. Terbentuknya warna
merah menunjukkan adanya flavonoid golongan antosianidin.
c. Uji NaOH 10%
Sebanyak 1 ml ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu
ditambahkan dengan larutan NaOH 10% beberapa tetes. Terjadinya
perubahan warna menunjukkan adanya flavonoid karena tergolong
senyawa fenol (Markham, 1988)

2.4. KLT
Kromatografi Lapis Tipis ialah metode pemisahan fisikokimia yang terdiri
atas bahan berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga berupa pelat
gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah, berupa
larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita. Setelah pelat atau lapisan diletakkan
di dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase
gerak), pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan).
Selanjutnya, senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan (dideteksi) (Stahl,
1985).

Kromatografi Lapis Tipis digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa


yang sifatnya hidrofob seperti lipida-lipida dan hidrokarbon. Sebagai fase diam
digunakan senyawa yang tak bereaksi seperti silika gel atau alumina. Silika gel
biasa diberi pengikat yang dimaksudkan untuk memberikan kekuatan pada
lapisan dan menambah adesi pada gelas penyokong. Pengikat yang biasa
digunakan adalah kalsium sulfat (Sastrohamidjojo, 2002). Metode dalam KLT
dapat dihitung nilai Retention factor (Rf) dengan persamaan :

10
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑠𝑒𝑛𝑦𝑎𝑤𝑎
𝑅𝑓 = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

Tetapi pada gugus-gugus yang besar dari senyawa-senyawa yang


susunannya mirip, sering kali harga Rf berdekatan satu sama lainnya
(Sastrohamidjojo, 2002).
Menurut Markham, Kromatografi Lapis Tipis terutama berguna untuk
tujuan berikut:
1. Mencari pelarut untuk kromatografi kolom
2. Analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom
3. Identifikasi flavonoid secara ko-kromatografi.
4. Isolasi flavonoid murni skala kecil
5. Penyerap dan pengembang yang digunakan umumnya sama dengan
penyerap dan pengembang pada kromatografi kolom dan kromatografi
kertas (Markham, 1988).

Jarak pengembangan senyawa pada kromatogram besarnya dinyatakan dengan


angka Rf atau hRf.

Faktor yang mempengaruhi harga Rf :


1. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.
2. Sifat dan penyerap, derajat aktivitasnya.
3. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap.
4. Pelarut fase gerak.
5. Derajat kejenuhan dan uap dalam bejana pengembangan yang digunakan.
6. Teknik percobaan.
7. Jumlah campuran yang digunakan.
8. Suhu.
9. Kesetimbangan.

Angka Rf berjangka antara nol koma nol dan hanya ditentukan dua desimal.
hRf adalah angka Rf dikalikan factor 100 (h),menghasilkan nilai berjangka nol
sampai 100, tetapi karena angka Rf mempunyai fungsi sejumlah faktor, angka ini

11
dianggap sebagai petunjuk saja, harga hRf lah yang dicantumkan untuk
menunjukan letak suatu senyawa pada kromatogram (Stahl, 1985).

12
BAB III
PROSEDUR KERJA

3. 1 Preparasi sampel
1. 0,3 gram ekstrak dikocok dengan 3 ml n-heksana berkali-kali dalam
tabung reaksi sampai ekstrak n-heksana tidak berwarna.
2. Residu dilarutkan dalam 20 ml etanol dan dibagi menjadi 4 bagian,
masing-masing disebut sebagai larutan IIIA, IIIB, IIIC dan IIID.

3. 2 Reaksi Warna
1. Uji Bate-Smith dan Metcalf
a. Larutan IIIA dipakai sebagai blanko, Larutan IIIB ditambahkan 0,5
ml HCl pekat dan diamati perubahan warna yang terjadi, kemudian
dipanaskan di atas penangas air dan diamati lagi perubahan warna
yang terjadi.
b. Bila perlahan-lahan menjadi warna merah terang atau ungu
menunjukkan adanya senyawa leukoantosianin (dibandingkan
dengan blanko).
2. Uji Wilstater
a. Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIC ditambah 0,5ml HCL pekat
dan sedikit serbuk magnesium.
b. Diamati perubahan warna yang terjadi, diencerkan dengan 2mL air
suling melewati dinding tabung, kemudian ditambahkan 1 mL
butanol secara perlahan-lahan melewati dinding tabung.
c. Diamati warna yang terjadi di setiap lapisan. Perubahan warna
jingga menunjukkan adanya flavon, merah pucat menunjukkan
adanya flavonol, merah tua menunjukkan adanya flavanon.

3. 3 Kromatografi Lapis Tipis KLT


1. Larutan IIID dan fase n-heksan (3.2.a.1) ditotolkan pada fase diam.
2. Uji kromatografi lapis tipis ini menggunakan :
a) Fase diam : Lapisan tipis selulosa (diganti Kiesel Gel 254)
b) Fase gerak : Kloroform : aseton : asam formiat ( 6:6:1 gtt )

13
c) Penampak noda:
- Pereaksi sitrat borat atau
- Uap amonia
- Asam sulfat 10%
3. Adanya flavonoid ditunjukkan dengan timbulnya noda berwarna
kuning intensif.
4. Noda kuning yang ditimbulkan oleh uap ammonia akan hilang secara
perlahan ketika amonianya menguap meninggalkan noda.
5. Sedangkan noda kuning yang ditimbulkan oleh pereaksi sitrat-borat
sifatnya permanen.

14
BAB IV
BAGAN ALIR

4.1. Preparasi Sampel


0,3 gram ekstrak + 3 ml N-Heksana

Kocok sampai tidak berwarna

Residu dilarutkan dalam 20 ml etanol

dibagi menjadi 4 bagian (IIIA, IIIB, IIIC, dan IIID)

4.2. Uji Bate-Smith dan Metcalf


Larutan IIIA sebagai blanko

Larutan IIIB + 0,5 ml HCl pekat

amati perubahan warna

panaskan diatas penangas air

amati perubahan warna

positif apabila warna merah terang atau ungu yang


menunjukkan adanya senyawa leukoantosianin

15
4.3. Uji Wilstater

Larutan IIIC + 0,5 ml HCl pekat dan 4 potong magnesium

amati perubahan warna

diencerkan dengan 2 ml air suling melewati dinding tabung

+ 1 ml Butanol secara perlahan-lahan melewati dinding tabung.


Amati perubahan warna yang terjadi di setiap lapisan

perubahan warna jingga = flavon, warna merah pucat = flavonol,


warna merah tua = flavanon

4.4. Kromatografi Lapis Tipis

larutan IIID dan fase n-heksan (3.2.a.1) ditotolkan pada fase diam

fase diam : lapisan tipis selulosa (diganti kiesel gel 254)

fase gerak= Kloroform:Aseton:Asam formiat (6:6:1gtt)

Penampak noda : Pereaksi sitrat borat, atau Uap ammonia, atau Asam sulfat
10%

Adanya flavonoid ditunjukkan dengan terjadinya warna kuning intensif

noda kuning yang ditimbulkan uap ammonia akan hilang perlahan, sedangkan
noda kuning yang ditimbulkan pereaksi sitrat-borat sifatnya permanen

16
BAB V
SKEMA KERJA

a. Preparasi sampel

Masukkan n-heksan
Tambahkan 3ml n-
heksan berkali – kali
dalam tabung reaksi
hingga ekstrak n-
heksan tidak berwarna.

Masukkan ekstrak 0,3 g

IIIA IIIB IIIC IIID

Diambil residu,
dilarutkan dalam
20 ml etanol

Dibagi menjadi 4 bagian

b. Reaksi Warna
1. Uji Bate-Smith dan Metcalf

+ 0,5 ml HCl pekat, amati


perubahan warna yang
terjadi

Larutan IIIA (Blanko) Larutan IIIB

positif apabila berubah menjadi


Dipanaskan dipenangas air,
warna merah terang atau ungu
amati perubahan warna
yang menunjukkan adanya
yang terjadi
senyawa leukoantosianin

17
2. Uji Wilstater

+ 0,5 ml HCl Amati perubahan


pekat & 4 warna yang terjadi
potong
magnesium

Larutan IIIC

+ 1 ml
butanol
Amati perubahan scr + 2 ml air suling,
warna yang terjadi perlahan melewati dinding
di setiap lapisan melewati tabung
dinding
tabung

perubahan warna jingga = flavon, warna merah pucat = flavonol, warna merah tua = flavanon

c. KLT (Kromatografi Lapis Tipis)

Cek di panjang gelombang 254 nm & 365 nm

Larutan IIID & fase n-


heksan (3.2.a.1)
ditotolkan pada plat KLT

Adanya flavonoid ditunjukkan dengan terjadinya Dieluasi dalam chamber


warna kuning intensif

noda kuning yang ditimbulkan uap ammonia akan


hilang perlahan, sedangkan noda kuning yang
ditimbulkan pereaksi sitrat-borat sifatnya permanen Cek di UV 365 nm & 254 nm
18

BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Reaksi

A. Reaksi Warna
 Uji Bate-Smith dan Metcalf
Identifikasi Warna yang
Identifikasi Kesimpulan
Warna Muncul
Leukoantosianin Merah terang Merah Positif mengandung
atau ungu Leukoantosianin

 Uji Wilstater
Identifikasi Ciri Pengamatan Kesimpulan
Flavon Timbul warna Timbul Positif mengandung
jingga pada lapisan Flavon
lapisan berwarna
jingga

B. Kromatografi Lapis Tipis

 Fasa Etanol

Noda Ke- Nilai Rf


UV 254 UV 365 Visual
1 - - 0,15
2 - 0,23 -
3 - 0,31 0,31
4 0,73 0,73 -
5 - - 0,84
6 0,89 - 0,89
7 - 0,91 -

19
Nilai Rf Warna Noda
UV 254 UV 365 Visual
0,15 - - Kuning
0,23 - Pendar Kuning -
0,31 - Pendar Kuning Kuning
0,73 Pendar Merah Pendar Merah -
0,84 - - Kuning
0,89 Pendar Kuning - Kuning
0,91 - Pendar Kuning -

 Fasa N-Heksan

Noda Ke- Nilai Rf


UV 254 UV 365 Visual
1 0,91 0,91 0,91

Nilai Rf Warna Noda


UV 254 UV 365 Visual
0,91 Pendar Merah Pendar Merah Kuning
Kehijauan

Perhitungan Rf

 Fasa Etanol

1,2 𝑐𝑚
𝑅𝑓1 = = 0,15 𝑐𝑚
8 𝑐𝑚

1,8 𝑐𝑚
𝑅𝑓 2 = = 0,23 𝑐𝑚
8 𝑐𝑚
2,5 𝑐𝑚
𝑅𝑓 3 = = 0,31 𝑐𝑚
8 𝑐𝑚

20
5,8 𝑐𝑚
𝑅𝑓 4 = = 0,73 𝑐𝑚
8 𝑐𝑚

6,7 𝑐𝑚
𝑅𝑓5 = = 0,84 𝑐𝑚
8 𝑐𝑚

7,1 𝑐𝑚
𝑅𝑓 6 = = 0,89 𝑐𝑚
8 𝑐𝑚

7,2 𝑐𝑚
𝑅𝑓 7 = = 0,91 𝑐𝑚
8 𝑐𝑚

 Fasa N-Heksan

7,2 𝑐𝑚
𝑅𝑓 1 = = 0,91 𝑐𝑚
8 𝑐𝑚

21
Pembahasan

Praktikum kali ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa flavonoida dalam


tanaman Psidium guajava dengan menggunakan 2 metode yaitu metode
pewarnaan dan metode uji KLT. Pada uji pewarnaan terdapat dua pengujian yaitu
uji Bate-Smith dan Metcalf.
Sebelum dilakukan pengujian, dilakukan proses ekstraksi pada ekstrak daun
jambu biji dengan dicuci n-heksana berkali-kali sampai filtrat bening. Proses ini
bertujuan untuk menarik senyawa nonpolar seperti klorofil, lipid, protein pada
ekstrak sehingga tidak mengganggu pengamatan senyawa flavonoid. Pemilihan
pelarut n-heksan karena pelarut polar akan melarutkan senyawa polar, begitu juga
dengan pelarut non polar yang akan melarutkan senyawa yang non polar. Tetapan
dielektrik merupakan ukuran kepolaran suatu pelarut. Pelarut yang memiliki
konstanta dielektrik yang besar akan lebih melarutkan senyawa polar sebaliknya
pelarut yang konstanta dielektriknya yang kecil akan melarutkan senyawa non-
polar (cotton, 2007). Kemudian residu hasil pencucian pertama ditambahkan
etanol yang bertujuan untuk menarik senyawa polar dan semipolar
Uji yang selanjutnya yaitu uji warna, yang pertama yaitu uji Bate-Smith dan
metcalf. Pada uji ini larutan ditambah dengan 0,5 HCL pekat untuk menghidrolisis
dan memutus ikatan glikosida. Hidrolisis ini untuk menghidrolisis atosianin
menjadi aglikon atosianin. Tetapi tidak ada perubahan warna yang terjadi
kemudian larutan dipanaskan dipenangas air untuk mempercepat terjadinya
hidrolisis. Terjadi perubahan menjadi warna merah hal ini menunjukan bahwa
larutan ini mengandung leukoantosianin.
Uji warna yang kedua yaitu uji wilstater, larutan ditambah dengan HCL pekat
dan magnesium. Penambahan HCL pekat dalam uji flavonoi pada metode wilstater
dimaksudkan untuk menghidrolisis flavonoid menjadi aglikonnya yaitu dengan
menghidrolisis O-glikosil. Glikosil akan tergantikan oleh H+ dari asam karena
sifatnya yang elektrofilik. Reduksi dengan Mg dan HCL pekat ini menghasilkan
senyawa kompleks yang berwarna merah atau jingga pada flavonol, flavanon,
flavanol dan xanton (Mariana, 2013). Hal ini memperkuat hasil praktikum
kelompok kamiyang menghasilkan lapisan berwarna jingga yang diduga adanya

22
reaksi antara flavonoid dengan logam HCL dan Mg (Septyaningsih, 2010) yang
menunjukkan adanya senyawa flavon.
Pada uji kromatografi lapis tipis, noda warna yang tampak setelah dilakukan
eluasi adalah warna kuning pada Rf 0,15; 0,31; 0,84; 0,89 sehingga dapat
dikatakan bahwa pada tanaman tersebut ,engandung senyawa golonga quersetin
karena menurut pustaka, ekstrak daun jambi (Psidium guajava) mengandung
flavonoid terutama turunan dari quercetin yang ermasuk golongan flavon dalam
flavonoid. Nilai Rf yang dihasilkan juga sama dengan literatur yang menyatakan
kuarsetin standar memiliki nilai Rf sebesar 0,8 (Fajar, 2011).
Pada pengamatan UV 365 nm juga didapatkan noda berwarna pendar kuning
pada Rf 0,23; 0,31; 0,73; 0,91 yang ,enunjukkan adanya senyawa flavonoid. Hal
ini sesuai dengan literatur yang menyatakan totolan berubah warna menjadi
kuning-orange, biru-hijau pada UV 365 nm apabila mengandung golongan
senyawa flavnoid (Wagner and Bladt, 1996).
Pada UV 254 nm juga didapatkan warna pendar kuning pada Rf 0l 89 sebelum
plat KLT direaksikan dengan penampak noda. Namun, setelah diberi reagen warna
pendar kuning tidak terlihat. Hal ini terjadi karena pada panjang gelombang 254
nm semua flavonoid menunjukkan pemadaman tampak biru tua pada lempeng
KLT yang berfluoresensi kuning.
Selain warna kuning dan pendar kuning ditemukan warna merah pada Rf 0,73
pada fase etanol dan Rf 0,91 pada fase n-heksan. Hal ini terjadi karena pelarut yang
digunakan tidak hanya mengekstraksi senyawa flavonoid melainkan juga
mengekstraksi klorofil yang ada di dalam tumbuhan.

23
BAB VII
PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa:

1. Untuk mengidentifikasi flavonoida pada ekstrak Psidium guajava dapat


digunakan 2 pengujian yaitu uji warna dan uji KLT
2. Pada uji warna Bate-Smith menunjukan hasil bahwa Psidium guajava Positif
mengandung Leukoantosianin dan pada uji warna Wilstater menunjukan hasil
bahwa Psidium guajava Positif mengandung Flavon
3. Pada uji KLT Psidium guajava positif mengandung flavonoid yang ditandai
dengan noda berwarna kuning

24
LAMPIRAN

a. Uji warna Bate Smith dan b. uji warna


Metcalf Wilstater

Blanko

KLT
Sebelum doberi penampak

noda UV 254 UV 365


visual

25
Setelah diberi pebampak
noda UV 254 nm UV 365 nm

Visual

26
DAFTAR PUSTAKA

Arya, V., Thakur, N., and Kashyap, C.P., 2012, Preliminary Phytochemical
Analysis of the Extracts of Psidium Leaves, Journal of Pharmacognosy
and Phyto chemistry, 1 (1) : 2278-4136
Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, 2008, Taksonomi Koleksi Tanaman Obat
Kebun Tanaman Obat Citeureup. Jakarta: Direktorat Obat Asli Indonesia.
Cahyono B. 2010. Sukses Budidaya Jambu Biji di Pekarangan dan Perkebunan.
Yogyakarta (ID): Lily Publisher.
Harborne, J. B., 1987, Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan, Edisi kedua, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan
Iwang Soedir. Bandung : ITB Press.
Kartasapoetra, G. 2004. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Penerbit Rineka
Cipta, Jakarta.
Mannito, P. 1981. Biosynthesis of Natural Product , Sames, P.G. (trans), Ilis. New
York : Horwood Limited.
Markham, K.R., 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoid, diterjemahkan oleh
Kosasih Padmawinata. Bandung : Penerbit ITB.
Robinson, T., 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, Edisi VI,
diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata. Bandung : ITB Press.
Sastrohamidjojo, H. 2002. Kromatografi. Liberty. Yogyakarta. Hlm 35-36.
Stahl, E., 1985, Analisis Obat Secara kromatografi dan Mikroskopi,
diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro,3-17, ITB,
Bandung.
Taiz, Lincoln dan Eduardo Zeiger. 2002. Plant Physiology Third Edition.
Massachusetts: Sinauer Associates, Inc., Publisher.

27