Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

DEFISIT PERAWATAN DIRI

Program Studi S1 Keperawatan

STIKES BINA SEHAT PPNI MOJOKERTO

Jalan Raya Jabon, KM 06 Mojoanyar Jatim 61363(032139023)

TAHUN 2019/2020
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi
Kesehatan jiwa bagi manusia berarti terwujudnya keharmonisan fungsi jiwa
dan sanggup menghadapi problem, merasa bahagia dan mampu diri. Orang yang sehat
jiwa mempunyai kemampuan menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain,
masyarakat dan lingkungan

Defisit Perawatan Diri adalah suatu gangguan dalam melakukan aktivitas


perawatan diri (kebersihan diri, berhias, makan, toileting). Sedangkan perawatan diri
merupakan salah satu kemampuan dasar manusia untuk memenuhi kebutuhannya
guna mempertahankan kehidupan, kesehatan, kesejahteraan sesuai dengan kondisi
kesehatannya (Ade, 2011)

Dalam pasien dengan gangguan jiwa kurangnya perawatan diri akibat adanya
perubahan proses pikir sehingga dalam kemampuan melakukan aktivitas perawatan
diri menurun. Pemeliharaan Hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan
individu, keamanan, dan kesehatan. Seperti pada orang sehat dapat memenuhi
kebutuhan personal hygiene nya sendiri. Cara perawatan diri menjadi rumit
dikarenakan kondisi fisik atau keadaan emosional pasien. Selain itu, beragam faktor
pribadi dan sosial budaya mempengaruhi praktik hygiene pasien. Karena perawatan
hygiene sering kali memerlukan kontak yang dekat dengan pasien maka perawat
menggunakan keterampilan komunikasi untuk meningkatkan hubungan terapeutik dan
belajar tentang kebutuhan emosional pasien.

B. Jenis-jenis Perawatan Diri


1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
aktivitas mandi/kebersihan diri.
2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan
memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
3. Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan
aktivitas makan.
4. Kurang perawatan diri : Toileting
Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79 ).

C. Etiologi
1. Faktor Predisposisi
a) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan
inisiatif terganggu.
b) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.
c) Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidak peduliaan dirinya dan lingkungan termasuk perawatan
diri.
d) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi
lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri
2. Faktor presipitasi
a) Body image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri
misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli
dengan kebersihan dirinya.
b) Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan
akan terjadi perubahan personal higiene.

c) Status sosial ekonomi


Personal higiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi , sikat
gigi, sampo , alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya
d) Pengetahuan
Pengetahuan personal higiene sangat penting karena pengetahuan yang baik
dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien diabetes mellitus yang
harus menjaga kebersihan kakinya.
e) Budaya
Disebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan
f) Kebiasaan
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri
seperti pengguanaan sabun, samphoo dan lain-lain.
g) Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu (sakit) kemampuan untuk merawat diri berkurang dan
perlu bantuan untuk melakukan nya.

D. Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.


1. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya
kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah :
Gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata
dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
2. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan
kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

E. Tanda dan Gejala


Menurut (Depkes, 2000)Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:
1. Fisik
a) Badan bau, pakaian kotor
b) Rambut dan kulit kotor
c) Kuku panjang dan kotor
d) Gigi kotor disertai mulut bau
e) Penampilan tidak rapi
2. Psikologis
a) Malas, tidak ada inisiatif
b) Menarik diri, isolasi diri
c) Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina
3. Sosial
a) Interaksi kurang
b) Kegiatan kurang
c) Tidak mampu berperilaku sesuai norma
d) Cara makan tidak teratur
e) BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi memerlukan
bantuan (Iskandar, 2012)

F. Mekanisme Koping
a. Regresi
b. Penyangkalan
c. Isolasi diri, menarik diri
d. Intelektualisasi

G. Rentang Respon

Adaptif Maladaptif

Pola perawatan diri Kadang perawatan diri, Tidak melakukan perawatan


Seimbang Kadang tidak Diri pada saat stress

1. Pola perawatan diri seimbang : saat pasien mendapatkan stressor dan mampu
untuk berperilaku adaptif maka pola perawatan yang dilakukan klien
seimbang, klien masih melakukan perawtan diri.
2. Kadang melakukan perawtan diri kadang tidak : saat pasien mendapatkan
stressor kadang-kadang pasien tidak memperhatikan perawatan dirinya.
3. Tidak melakukan perawatan diri : klien mengatakan dia tidak perduli dan
tidak bisa melakukan perawatan saat stress (Ade, 2011)
H. Proses Terjadinya Masalah

Defisit perawatan diri terjadi diawali dengan proses terjadinya gangguan jiwa
yang dialami oleh klien sehingga menyebabkan munculnya gangguan defisit
perawatan diri pada klien. Pada klien skizofrenia dapat mengalami defisit perawatan
diri yang signifikan. Tidak memerhatikan kebutuhan higiene dan berhias biasa terjadi
terutama selama episode psikotik. Klien dapat menjadi sangat preokupasi dengan ide-
ide waham atau halusinasi sehingga ia gagal melaksanakan aktivitas dalam kehidupan
sehari-hari (stuart dan laraia, 2005).

I. Pohon Masalah

Efek Resiko Tinggi Isolasi Sosial

Core Problem
Defisit Perawatan Diri

Causa
Intoleransi Aktivitas

Harga Diri Rendah

Koping Individu tidak efektif Koping keluarga tidak efektif

J. Penatalaksanaan
1. Farmakologi
a. Obat anti psikosis : penotizin
b. Obat anti depresi : amitripilin
c. Obat anti ansietas : diazepam, bromozepam, clobozam
d. Obat anti insomnia : phnebarbital
2. Terapi
a. Terapi keluarga berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi
masalah klien dengan memberikan perhatian :
a) Jangan memancing emosi klien
b) Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan keluarga
c) Berikan kesempatan klien mengemukakan pendapat
d) Dengarkan, bantu, dan anjurkan pasien untuk mengemukakan masalah
yang dialaminya
b. Terapi aktifitas kelompok berfokus pada dukungan dan perkembangan,
keterampilan sosial, atau aktivitas lainnya, dengan berdiskusi serta bermain
untuk mengembalikan keadaan klien karena masalah sebagian orang
merupakan perasaan dan tingkah laku orang lain. Ada 5 sesi yang harus
dilakukan :
a) Manfaat perawatan diri
b) Menjaga kebersihan diri
c) Tata cara makan dan minum
d) Tata cara eliminasi
e) Tata cara berhias
c. Terapi musik dengan musik klien bisa terhibur, rileks dan bermain untuk
mengembalikan kesadaran pasien
Penatalaksaan menurut herman (ad, 2011) adalah sebagai berikut :
a) Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri
b) Membimibing dan menolong klien merawat diri
c) Ciptakan lingkungan yang mendukung
K. Akibat
Akibat dari defisit perawatan diri menurut damiyanti,2012 sebagai berikut :
a. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan diderita seseorang karena tidak terpeliharanya
kebersihan perorangan dengan baik, gangguan 12 fisik yang sering terjadi adalah:
gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata
dan telinga dan gangguan fisik pada kuku
b. Dampak psikososial.
Masalah soaial yang berhubungan dengan personal hygjine adalah gangguan
kebutuhan aman nyaman, kebutuhan cinta mencintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian(Kliat, 2011)
Kurangnya perawtan diri pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi
akibatadanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan
aktivitas perawtan diri menurun. Defisit perawatan diri tampak dari
ketidakmampuan merawat kebersihan diri, makan secara mandiri, berhias diri
secara mandiri, dan elimiminasi/toileting (buang air besar/buang air kecil).

Untuk mengetahui apakah pasien mengalami masalah defisit perawatan diri


maka tanda dan gejala dapat diperoleh melalui observasi pada pasien yaitu :
1. Gangguan kebersihan diri, ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit
berdaki dan bau, kuku panjang dan kotor.
2. Ketidakmampuan berhias/berdandan, ditandai dengan rambut acak-acakan,
pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasien laki-laki tidak
bercukur, pada apsien wanita tidak berdandan.
3. Ketidakmampuan makan secara mandiri, ditandai dengan ketidakmampuan
mengambil makan sendiri, makan berceceran, dan makan tidak pada
tempatnya.
4. Ketidakmampuan defekasi/berkemih secara mandiri, ditandai dengan
defekasi/berkemih tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik
setelah defekasi/berkemih.

B. Faktor Psikodinamika
1. Faktor predisposisi
Kaji atau tanyakan tentang perkembangan, seperti keluarga terlalu melindungi
dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.Untuk
masalah biologis seperti penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak
mampu melakukan perawatan diri.Dan untuk kemampuan realitas turun
seperti klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidak pedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan
diri.Sedangkan untuk masalah sosial yaitu kurang dukungan dan latihan
kemampuan perawatan diri lingkungannya.Situasi lingkungan mempengaruhi
latihan kemampuan dalam perawatan diri.
2. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi,
kerusakan kognisi atau perceptual, cemas , lelah/ lemah yang dialami individu
sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.
3. Mekanisme koping
a. Regresi
b. Penyangkalan
c. Isolasi diri
d. Intelektualisasi

C. Pemeriksaan Fisik
Memeriksa tanda-tanda vital, tinggi badan, berat badan, dan tanyakan apakah ada
keluhan fisik lain yang dirasakan oleh klien.

D. Psikososial
1. Konsep diri
a) Gambaran diri
Kaji adanya perubahan fisik yang sehingga membuat individu tidak peduli
dengan kebersihan dirinya.
b) Proses pikir
- Arus pikiran
Sirkumtansial yaitu pembicaraan yang berbelit tetapi sampai dengan
tujuan pembicaraab dan perseverasi yaitu pembicaraan yang di ulang
berkali-kali. Selain sirkumtansial dan perseverasi klien dengan halusinasi
visual biasanya juga mengalami gangguan dalam bentuk blocking yaitu
jalan pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti di tengah sebuah kalimat.
Klien tidak dapat menerangkan kenapa ia berhenti
- Bentuk pikiran
Klien lebih sering diam dan larut dengan menyendiri, bersikap seperti
malas-malasan
- Isi pikiran
Klien merasa lebih senang menyendiri daripada berkumpul dengan orang
lain. Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal atau marah, klien biasanya waham curiga atau phobia
c) Praktik sosial
Kaji apakah anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka
kemungkinan akan terjadi perubahan personal higiene.
d) Status sosial ekonomi
Kaji tentang latar belakang pekerjaan keluarga dimana berhubungan
dengan personal higiene yang memerlukan alat dan bahan seperti sabun,
pasta gigi , sikat gigi, sampo , alat mandi yang semuanya memerlukan
uang untuk menyediakannya.
e) Pengetahuan
Kaji tentang pengetahuan personal higiene dimana ini sangat penting
karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan.
f) Budaya
Kaji/ tanyakan jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan atau
kebiasan atau kepercayaan keluarga dan lingkungan.
g) Kebiasaan
Kaji apakah ada kebiasaan klien yang menggunakan produk tertentu dalam
perawatan diri seperti pengguanaan sabun, samphoo dan lain-lain.
h) Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu (sakit) kaji kemampuan untuk merawat diri
berkurang dan kaji apakah perlu bantuan untuk melakukannya.

E. Status Mental
1) Penampilan
Cara berpenampilan tidak seperti biasanya, tidak rapi, bau, dan kotor.
2) Pembicaraan
Amati apakah pembicaraan klien cepat, keras, terburu-buru, gagap,
bloking, apatis, lambat, membisu, menghindar, berdiam diri, menutup,
malas, takut, malu, dll.
3) Aktivitas motoric
- Tegang, gelisah, takut, sedih, marah, dll.
- Tik : ekspresi wajah kecil yang tidak disadari
- Grimasem : ekspresi wajah yang berubah-ubah tanpa disadari klien
4) Efek dan emosi
- Labil : emosi klien yang cepat berubah-ubah
- Tidak sesuai : emosi klien yang bertentangan/bertolak belakang dengan
stimulus yang diberikan
5) Interaksi selama wawancara
- Bingung
- Bermusuhan
- Curiga
- Halusinasi
6) Persepsi / sensori
Persepsi sensori sebagai penyebabnya
7) Tingkat kesadaran
Tidak sadar, separuung, apatis, dll.
8) Memori
Gangguan daya ingat jangka menengah
9) Tingkat konsentrasi
Konsentrasi menurun, tidak mampu atau mampu.

F. Diagnosis Keperawatan
Berdasarkan data yang dapat ditetapkan diagnosis keperawatan Defisit Perawatan
Diri (kebersihan diri, makan, berdandan, defekasi / berkemih)

G. Perencanaan
Rencana Keperawatan
Klien Dengan Defisit Perawatan Diri

DX Kep Rencana tindakan Rasional


Tujuan Kriteria Tindakan
evaluasi keperawatan
Kemampu- TUM : klien Klien SP I : 1. Mengetahui
an realitas mampu mampu 1. Identifikasi permasalahan
turun melakukan menjaga masalah yang terjadi
berhubung perawatan diri kebersih perawtan pada diri klien
an dengan : hygiene. n diri diri : 2. Agar klien
Defisit secara kebersihan tahu
perawata TUK I : mandiri diri, pentingnya
n diri - Klien berdandan, kebersihan
dapat Klien makan/min diri
menye mampu um, 3. Memberitahui
butkan penegrti- BAK/BAB klien
penger an dan 2. Jelaskan bagaimana
tian tanda- pentingnya cara
dan tanda kebersihan perawatan diri
tanda- kebersih diri dan alat yang
tanda n diri 3. Jelaskan digunakannya
kebersi cara dan 4. Agar klien
han Klien alat bisa
diri dapat kebersihan melakukan
- Klien mengeta- diri kebersihan
dapat hui 4. Latih cara diri secara
menget penting- menjaga mandiri.
ahui nya kebersihan 5. Membantu
pentin kebersih- diri : mandi klien agar
gnya an diri dang anti teratur dan
kebersi pakaian, disiplin dalam
han sikat gigi, merawat
diri cuci keperawatan
- Klien rambut, diri.
dapat potong
menget kuku
ahui 5. Masukan
bagaim pada jadwal
ana kegiatan
cara untuk
menjag latihan
a mandi,
kebersi sikat gigi
han (2x sehari),
diri cuci rambut
(2x/minggu
), potong
kuku
(1x/minggu
)
TUK II : Klien SP II : 1. Untuk
mampu mengetahui
Klien dapat menggan 1. Evaluasi kemajuan
berdandan ti baju kegiatan klien dalam
secara mandiri secara kebersihan merawat diri
rutin, diri. Beri dan sebagai
menyisir pujian respon positif
rambut 2. Jelaskan terhadap
dan cara dan tindakan klien
memoto alat untuk 2. Memebritahu
ng kuku. berdandan klien
3. Latihan bagaimana
cara cara
berdandan berdandan
setelah dan alat yang
kebersihan digunakannya
diri : 3. Agar klien
sisiran, rias bisa
muka untuk berdandan
perempuan secara
; sisiran, mandiri
cukuran 4. Agar klien
untuk pria terbiasa
4. Masukan dengan
pada jadwal kegiatan yang
kegiatan telah
untuk diajarkan
kebersihan
diri dan
berdandan

10) Catatan Perkembangan


SP I :
Implementasi Evaluasi
DATA : S : Saat ditanya, klien mengatakan akan
- Klien mengatakan malas untuk menjaga kebersihan dirinya.
mandi dan berdandan, merasa lebih
nyaman dengan kondisinya yang O : - penampilan klien terlihat lebih rapi
seperti ini (tidak mau mandi) - Klien menjawab pertanyaan
- Bila diminta mandi klien marah- perawat tentang cara menjaga
marah, klien tampak rambut acak- kebersihan
acakan dan kotor, tampak malas
untuk menyisir rambut dan ganti A : Defisit perawawat diri belum teratasi
pakaian harus disuruh petugas.
P : Anjurkan klien untuk menjaga
DIAGNOSA : kebersihan dirinya
- Defisit perawatan diri

TERAPI :
1. Mengidentifikasi masalah
perawtan diri : kebersihan diri,
berdandan, makan/minum,
BAK/BAB.
2. Menjelaskan pentingnya
kebersihan diri
3. Membantu pasien mempraktekan
cara menjaga kebersihan
4. Menjelaskan cara menjaga
kebersihan
5. Menganjurkan klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian.

RTL :
1. Bantu klien cara membersihkan
dirinya
2. Ajarkan cara berdandan pada diri
klien

SP II :

Implementasi Evaluasi
DATA : S : Klien mengatakan mau mandi dan
- Mengatakan tidak mau mandi, sikat gigi
tidak mau sikat gigi. Tidak
menyisir rambut, tidak mau ganti O : - Klien tampak lebih bersih
baju, tidak mau memotong kuku - Rambut klien terlihat rapi, tidak
- Rambut klien terlihat panjang dan kotor
tampak acak-acakan, kuku klien
panjang dan kotor. A : Gangguan berdandan pada diri klien
(-)
DIAGNOSA :
Defisit perawatan diri P : - Menganjurkan klien untuk
memasukkan dalam jadwal harian
TERAPI : - Berikan reinforcement atas usaha
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan yang klien lakuakan
harian klien
2. Menjelaskan cara berdandan
3. Membantu klien memasukkan
dalam jadwal kegiatan harian

RTL :
Ajarkan klien bagaimana cara memenuhi
kebutuhan makan minum yang baik

11) Tindakan Keperawatan


a. Tindakan Keperawatan untuk Pasien
Tujuan tindakan :
a) Pasien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri
b) Pasien mampu melakukan berhias / berdandan secara baik
c) Pasien mampu melakukan makan dengan baik
d) Pasien mampu melakukan defekasi / berkemih secara mandiri

Tindakan keperawatan :

1) Melatih pasien tentang cara-cara perawatan kebersihan diri. Untuk melatih


pasien dalam menjaga kebersihan diri Anda dapat melakukan tahapan
tindakan yang meliputi :
a) Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan
b) Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri
c) Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri
d) Melatih pasien mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri
2) Melatih pasien berdandan / behias. Anda sebgai perawat dapat melatih
pasien berdandan. Untuk pasien laki-laki tentu harus dibedakan dengan
wanita. Untuk pasien laki-laki latihan meliputi :
a) Berpakaian
b) Menyisir rambut
c) Bercukur

Untuk pasien wanita latihannya meliputi :

a) Berpakaian
b) Menyisir rambut
c) Berdandan
3) Melatih pasien makan secara mandiri. Untuk melatih makan pasien anda
dapat melakukan tahapan sebagai berikut :
a) Menjelaskan cara menyiapkan makan
b) Menjelaskan cara makan yang tertib
c) Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan
d) Praktik makan sesuai dengan tahapn makan yang baik
4) Mengajarkan pasien melakukan defekasi / berkemih secara mandiri. Anda
dapat melatih pasien untuk defekasi dan berkemih mandiri sesuai tahapan
berikut :
a) Menjelaskan tentang tempat defekasi / berkemih yang sesuai
b) Menjelaskan cara membersihkan diri setelah defekasi dan berkemih
c) Menjelaskna cara membersihkan tempat defekasi dan berkemih
b. Tindakan Keperawatan pada Keluarga
Keluarga diharapkan mampu merawat anggota keluarga yang mengalami
masalah defisit perawatan diri.
Untuk memantau kemampuan pasien dalam melakukan cara perawatan diri
yang baik maka Anda harus melakukan tindakan kepada keluarga agar
keluarga dapat meneruskan melatih pasien dan mendukung agar kemampuan
pasien dalam perawatan dirinya meningkat. Tindakan yang dapat Anda
lakukan adalah:
1. Diskusikan dengan keluarga tentang masalah yang dihadapi keluarga
dalam merawat pasien.
2. Jelaskan pentingnya perawatan diri untuk mengurangi stigma.
3. Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang di
butuhkan oleh pasien untuk menjaga perawatan diri pasien.
4. Anjurkan keluarga untuk terlibat da;lam merawat diri pasien dan
membantu mengingatkan pasien dalam merawat diri (sesuai jadwal yang
telat di sepakati).
5. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan pasien
dalam merawat diri.
6. Latih keluarga tentang cara merawat pasien defisit perawatan diri.
DAFTAR PUSTAKA

Ade, H. (2011). Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Nuha Medika.

Depkes. (2000). Keperawatan Jiwa : Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa. Jakarta:
Depkes RI.

Iskandar, M. &. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.

Kliat, B. A. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas. Jakarta: EGC.