Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Tentang

MENGATASI KEJANG DEMAM PADA ANAK

DI SUSUN OLEH:
Kelompok 1

Yusti musdalifah, S.Kep


Santalia Pandainsolang, S.kep
Sriyani Masita, S.Kep
Juwi Rayfana Tiwa, S.Kep
Adelina Sumoked, S.Kep
Jesica Syalommita Lonto, S.Kep
Vechya ndede, S.kep
Wahyuni Abd Rahim, S.Kep
Deivy Tenggor, S.Kep
Lukius Barnabas Elungan, S.Kep

UNIVERSITAS SAM RATULANGI FAKULTAS KEDOKTERAN

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

MANADO 2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
MENGATASI KEJANG DEMAM PADA ANAK

Pokok Bahasan : Mengatasi Kejang Demam Pada Anak


Hari / Tanggal : Jumat/ 22 November 2019
Sasaran : Keluarga Pasien
Waktu :12.00-12.30
Tempat : Ruangan PICU Rsup Kandou

A. Latar Belakang
Anak merupakan hal yang penting artinya bagi keluarga, selain sebagai
penerus keturunan, anak pada akhirnya sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena
itu tidak satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih – lebih bila
anaknya mengalami kejang demam.

Insiden kejang demam ini dialami oleh 2% - 4% pada anak usia antara 6 bulan
hingga 5 Tahun (ME. Sumijati 2000 :72-73) dengan durasi kejang selama beberapa
menit. Namun begitu, walaupun terjadi hanya beberapa menit, bagi orang tua rasanya
sangat mencemaskan, menakutkan dan terasa berlangsung sangat lama, jauh lebih
lama dibanding yang sebenarnya.

Hasil penelitian dari 166 kasus kejang demam yang dirawat di bagian ilmu
kesehatan anak RSUP M. Djamil padang selama tahun 1995-1996, hnya 126 yang
memenuhi syarat untuk dijadikan data penelitian.
Dilihat dari insidensi kejang demam dibgian IKA RSUP Dr.M Djamil,maka
kejang demam adalah kasus rawat neurologis yang paling sering ditemukan
dibandingkan kasus rawat neurologis lainnya. Angka kejadian kejang demem 79,0%
pada tahun 1995 dan 46,7% pada tahun 1996. Jumlah keseluruhan kasus yaitu
68,48% dari kasus rawat neurologis.
Kejang demam merupakan kedaruratan medis yang memerlukan pertolongan
segera. Diagnosa secara dini serta pengelolaan yang tepat sangat diperlukan untuk
menghindari cacat yang lebih parah, yang diakibatkan bangkitan kejang yang sering.
Untuk itu tenaga perawat/paramedis dituntut untuk berperan aktif dalam mengatasi
keadaan tersebut serta mampu memberikan asuhan keperawatan kepada keluarga dan
penderita, yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara
terpadu dan berkesinambungan serta memandang klien sebagai satu kesatuan yang
utuh secara bio-psiko-sosial-spiritual.
Berdasarkan latar belakang di atas maka kami Mahasiswa Profesi Ners XI Unsrat ingin
memberikan penyuluhan kepada Keluarga Pasien Di ruangan PICU agar Ibu-ibu mengetahui apa itu
penyakit Kejang Demam dan cara mengatasi Kejang Demam tersebut.

Tujuan
1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
a. Tujuan pembuatan SAP ini supaya Kleuarga Pasien mampu Mengatasi
Kejang Demam Pada Anak
2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
a. Mampu menjelaskan pengertian kejang demam
b. Mampu menjelaskan penyebab terjadinya kejang demam
c. Mampu menjelaskan tanda dan gejala dari kejang demam
d. Mampu menjelaskan cara pencegahan terhadap kejang demam
e. Mampu menjelaskan cara mengatasi kejang demam dengan cara obat
tradisional
3. Manfaat
a. Bagi Mahasiswa
Menerapkan pendidikan dan teori sebagai wahana dalam menambah
pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang penyakit kejang
demam.
b. Bagi institusi
Penyuluhan ini dapat dijadikan sebagai sebagai bahan informasi dan
masukan serta sumbangan pemikiran bagi calon tenaga kesehatan di
Ilmu keperawatan, dalam memberikan perawatan dan pendidikan
kesehatan pada klien dengan kejang demam.
c. Bagi Audiens
Penyuluhan ini dapat menjadi informasi untuk menambah pengetahuan
audiens dengan mengetahui cara mengatasi kejang demam.
B. Pelaksanaan kegiatan
1. Topik
Mengatasi kejang demam pada anak
2. Sub Pokok Bahasan
a. Pengertian kejang demam
b. Penyebab kejang demam
c. Klasifikasi kejang demam
d. Gejala kejang demam
e. Kompliksi kejang demam
f. Upaya penanganan kejang demam dengan obat tradisional
3. Sasaran dan target
Keluarga mengikuti penyuluhan di Ruangan PICU Rsup Prof Kandou
4. Metode
a. Ceramah
b. Diskusi
c. Tanya jawab
5. Media dan alat
Leaflet
6. Waktu dan tempat
Hari / Tanggal : Jumat 22 November 2019
Jam : 12.00-12.30
Waktu Pertemuan : 30 Menit
Tempat : PICU

C. Materi (terlampir)
Kegiatan Penyuluhan
Tahap Kegiatan
Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Audiens
dan Waktu
Pendahuluan  Mengucapkan salam  Menjawab salam
( 5 menit )  Memperkenalkan diri,  Mendengarkan dan
anggota kelompok dan memperhatikan
pembimbing  Mendengarkan
 Menjelaskan topik
penyuluhan  Menyetujui kontrak
 Membuat kontrak waktu dan waktu
bahasa  Mendengarkan dan
 Menjelaskan tujuan kegiatan memperhatikan

Pelaksanaan  Menggali pengetahuan  Mengemukakan


( 20 menit ) audiens tentang pengertian pendapat
Kejang Demam.
 Memberi reinforcemen
positif pada audiens atas  Mendengarkan dan
pendapat audiens memperhatikan
 Menjelaskan materi tentang  Mendengarkan dan
Pengertian Kejang Demam. memperhatikan
 Menggali pengetahuan
audiens tentang penyebab  Mengemukakan
Kejang Demam. pendapat
 Memberi reinforcemen
positif pada audiens atas  Mendengarkan dan
pendapat audiens memperhatikan
 Menjelaskan materi  Mendengarkan dan
penyuluhan tentang : memperhatikan
Klasifikasi dan tanda dan
gejala Kejang Demam.  Mengemukakan
 Menggali pengetahuan pendapat
audiens tentang komplikasi
Kejang Demam.
 Memberi reinforcemen  Mendengarkan dan
positif pada audiens atas memperhatikan
pendapat audiens  Mendengarkan dan
 Menjelaskan materi memperhatikan
komplikasi kejang demam  Mengemukakan
pendapat
 Menggali pengetahuan
audiens tentang upaya
penanganan Kejang Demam  Mendengarkan dan
 Memberi reinforcemen memperhatikan
positif pada audiens atas
pendapat audiens  Mendengarkan dan
memperhatikan
 Menjelaskan pengobatan
kejang demam dengan Obat
Tradisional

Penutup  Memberikan kesempatan  Memberikan


( 5 menit ) pada audien untuk bertanya pertanyaan
 Memberi reinforcement pada
audiens atas pertanyaan  Mendengarkan dan
audiens memperhatikan
 Memberikan kesempatan  Mengemukakan
audiens lain untuk memberi pendapat
pendapat
 Melengkapi atau  Mendengarkan dan
memberikan penjelasan atas memperhatikan
pertanyaan audiens  Mendengarkan dan
 Mengevaluasi dan memperhatikan serta
menyimpulkan materi ikut menyimpulkan
penyuluhan yang telah
disampaikan  Menjawab salam
 Salam penutup

LAMPIRAN MATERI
A. PENGERTIAN KEJANG DEMAM
Kejang demam atau febrile convusion ialah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38’c) yang disebabkan oleh proses
ekstrakranium.(Ngastiyah, 1997: 229)

Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada
anak, terutama pada golongan anak pada umur 6 bulan sampai 4 tahun. Hampir 3%
dari yang berumur dibawah 5 tahun pernah menderita kejang demam. Pada percobaan
binatang, suhu yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya bangkitan kejang.

Kejang demam menurut Putri & Baidul (2009) adalah kejang yang terjadi pada
saat bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Tidak ada
nilai ambang batas suhu yang dapat menimbulkan terjadinya kejang demam. Selama
anak mengalami kejang demam, ia dapat kehilangan kesadaran disertai gerakan
lengan dan kaki atau justru disertai dengan kekakuan tubuhnya.

Jadi kejang demam merupakan akibat dari pembebasan istrik yang tidak
terkontrol dari sel saraf korteks serebral yang ditandai dengan serangan tiba-tiba,
terjadi gangguan kesadaran ringan, aktifitas motorik atau gangguan fenomena sensori.
(Doenges, 2000).

B. PENYEBAB KEJANG DEMAM


Penyebab dari Kejang Demam dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu :
a) Obat – obatan
Racun, alkhohol, obat yang diminum terlalu berlebihan.
b) Ketidakseimbangan kimiawi
Hiperkalemia, hipoglikemia dan asidosis.
c) Demam
Paling sering terjadi pada anak balita.
d) Patologis otak
Akibat dari cidera kepala, trauma, infeksi, peningkatan TIK.
e) Eklampsia
Hipertensi prenatal, toksemia gravidarum.
f) Idiopatik
Penyebab tidak diketahui.
C. KLASIFIKASI KEJANG DEMAM
1. Kejang Parsial
a. Kejang Persial Sederhana
Kesadaran tidak terganggu, dapat mencakup satu atau lebih hal berikut
ini :
- Tanda-tanda motorik kedutaan pada wajah, tangan atau salah satu sisi
tubuh umumnya gerakan setiap kejang sama.
- Tanda atau gejala otomik, muntah, berkeringat, muka merah, dilatasi
pupil.
- Somotosenoris atau sensori khusus, mendengar musik, merasa seakan
jatuh dari udara.
- Gejala psikis, rasa takut
b. Kejang Parsial Kompleks
- Terdapat gangguan kesadaran, walaupun pada awalnya sebagai
kejang parsial kompleks.
- Dapat mencakup otomatisme atau gerakan otomatik, mengecap-
ngecap bibir, mengunyah, gerakan mencongkel yang berulang-ulang
pada tangan dan gerakan tangan lainnya.
- Tatapan terpaku.
( Natsiyah : 2004 )
2. Kejang Umum.
a. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan
rendah dengan masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan
komplikasi prenatal berat. Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa
pergerakan tonik satu ekstremitas atau pergerakan tonik umum dengan
ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi
tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk
kejang tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan
sikap epistotonus yang disebabkan oleh rangsang meningkat karena
infeksi selaput otak atau kernikteru.
b. Kejang Klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan
pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis
kejang klonik fokal berlangsung 1 – 3 detik, terlokalisasi dengan baik,
tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase
tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat
trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati
metabolik.
c. Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan
atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Kejang
ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan
hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.
D. MANIFESTASI KLINIS/ TANDA GEALA KEJANG DEMAM
Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam,
berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, klonik,
fokal, atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti, anak
tidak memberi reaksi apapun sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak
terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti oleh
hemiparesis sementara (Hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai
beberapa hari. Kejang unilateral yang lama diikuti oleh hemiparesis yang menetap.
Bangkitan kejang yang berlangsung lama sering terjadi pada kejang demam yang
pertama.

Durasi kejang bervariasi, dapat berlangsung beberapa menit sampai lebih dari
30 menit, tergantung pada jenis kejang demam tersebut. Sedangkan frekuensinya
dapat kurang dari 4 kali dalam 1 tahun sampai lebih dari 2 kali sehari. Pada kejang
demam kompleks, frekuensi dapat sampai lebih dari 4 kali sehari dan kejangnya
berlangsung lebih dari 30 menit.

Gejalanya berupa:

– Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang tejradi secara
tiba-tiba)

– Pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada
anak-anak yang mengalami kejang demam)
– Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya
berlangsung selama 10-20 detik)

– Gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya
berlangsung selama 1-2 menit)

– Lidah atau pipinya tergigit

– Gigi atau rahangnya terkatup rapat

– Inkontinensia (mengompol)

– Gangguan pernafasan

– Apneu (henti nafas)

– Kulitnya kebiruan

Setelah mengalami kejang, biasanya:

– Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam
atau lebih

– Terjadi amnesia (tidak ingat apa yang telah terjadi)-sakit kepala

– Mengantuk

– Linglung (sementara dan sifatnya ringan

E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada anak dengan Demam Kejang, yaitu :

1. Kejang berulang
2. Epilepsi
3. Hemiparese
4. Gangguan mental dan belajar

F. UPAYA PENANGANAN KEJANG DEMAM ANAK

1. Pada saat anak demam, ukur dengan termometer, bila suhu tubuh anak
diatas 37,5 C , segera beri obat penurun panas yang mengandung
parasetamol.
2. Kompres dengan lap hangat ( jangan air dingin atau alkohol ).
3. Pindahkan benda – benda keras atau tajam yang berada dekat anak untuk
mencegah cedera bila anak sedang kejang.
4. Bila kejang disertai muntah, miringkan tubuh anak untuk menghindari
tertelannya cairan muntahnya sendiri yang bisa mengganggu pernafasan.
5. Bila kejang terjadi, dapat diberikan obat diazepam rectal yang dimasukkan
ke dubur.
6. Jangan memberi minuman ataupun makanan segera setelah berhenti
kejang, tunggu beberapa saat setelah anak benar – benar sadar untuk
menghindari anak tersedak.
7. Segera bawa anak ke dokter atau klinik untuk mendapat pertolongan lebih
lanjut. Jangan terpaku hanya pada lamanya kejang dan usahakan untuk
mencari dokter atau klinik yang terdekat dengan rumah untuk menghindari
resiko yang lebih berbahaya akibat terlambat mendapat pertolongan
pertama.

Pertolongan pertama pada kejang demam

Sikap saat menghadapi anak yang terserang kejangdemamialah :

- Tidak panik
- Lindungi anak dari kemungkinan kecelakaan dengan meletakkan anakpada
dasar yang lembut
- Tempatkan badan dan kepala anak dalam posisi miring
- Jangan menekan/menahan gerakan kejang yang sedang terjadi
- Jangan memasukkan jari atau alat-alat ke mulut anak
- Jangan memberi obat ke mulut anak
- Jangan membasahi badan anak dengan air dingin
- Catat lamanya kejang, kalau lebih dari 5 menit segera antar ke Rumah
Sakit
- Setelah kejang demam berakhir, perlu konsultasi ke dokter untuk mencari
pemicu damam dankejang serta mendapat saran dan obat untuk
pencegahan kejang demam di masa yang akan datang.

2. Pencegahan Berulang
a. Mengobati infeksi yang mendasari kejang
b. Penkes tentang :
- Tersedianya obat penurun panas yang didapat atas resep dokter
- Tersedianya obat pengukur suhu dan catatan penggunaan termometer,
cara pengukuran suhu tubuh anak, serta keterangan batas-batas suhu
normal pada anak ( 36-37ºC)
- Anak diberi obat anti piretik bila orang tua mengetahuinya pada saat
mulai demam dan jangan menunggu sampai meningkat
- Memberitahukan pada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah
mengalami kejang demam bila anak akan diimunisasi.
Mencegah Terjadinya Kejang Demam
Karena pemicu kejang demam ialah demam tinggi yang timbul mendadak,
maka bila anak menderia demam , usahakan segera menurunkan demam
dengan :

- Kompres kepala dan seka badan dengan air


- Jangan memakai baju tebal
- Jangan membalut tubuh dengan selimut tebal
- Beri obat penurun demam misalnya Parasetamol atau Ibuprofen secara
teratur sesuai saran dokter
- Minum atau beri obat dubur pencegah kejang misalnya diazepam sesuai
saran dokter

3. Obat Tradisional Demam Kejang Pada Anak


Bahan :
Daun jeruk manis yang besar 10 lembar
Pohon leng-lengan 5 pohon
Cara meramu :
Rebus kedua bahan dalam 20 gelas air hingga mendidih. Setelah itu angkat
ramuan dan saring. Campurkan air rebusan dengan air dingin secukupnya.
Aturan pakai :
Dalam keadaan hangat, gunakan air rebusan untuk diminum atau dipakai
untuk memandikan anak.

Sumber:
Depkes RI. 1989. Perawatan Bayi Dan Anak. Ed 1. Jakarta : Pusat Pendidikan
Tenaga
Kesehatan.
Hidayat, aziz alimun. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta : Salemba
Lumbantobing, SM. 1989. Penatalaksanaan Muthakhir Kejang Pada Anak. Jakarta :
FKUI
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit, ed 2. Jakarta : EGC
Sachann, M Rossa. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC
Suriadi, dkk. 2001. Askep Pada Anak. Jakarta : PT. Fajar Interpratama
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. 2000. Buku Kuliah Dua Ilmu Kesehatan
Anak. Jakarta : Percetakan Info Medika Jakarta