Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PROBLEMATIKA BK DALAM ISU-ISU

PENDIDIKAN
“PENGENGEMBANGAN PRIBADI KONSELOR”

Dosen: Masnurima Heriansyah, S. Pd, M.Pd

Disusun oleh:

Kelompok 11

Kamal (1705095020)

Felisin (1705095014)

Wa Mona (1705095016)

BK A 2017

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU

PENDIDIKAN UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami sebagaimana
mestinya. Shalawat dan salam juga tak lupa pula kami kirimkan kepada baginda
nabiullah Muhammad SAW, selaku tokoh reformasi bagi kita sekalian yang
mengajarkan kepada kebenaran khususnya bagi umat muslim yang telah
menunjukan kepada kita jalan kebenaran dan kebaikan terutama yang masih
tetap teguh pendirian sampai hari ini.

Makalah ini dibuat guna memenuhi kewajiban kami selaku mahasiswa,


dalam rangka memenuhi tugas yang telah diberikan oleh Dosen yang
bersangkutan dan merupakan prasyarat dalam memperoleh nilai pada mata kuliah
“Pengembangan Pribadi Konselor”. Makalah ini disusun berdasarkan referensi
yang ada, serta merupakan gabungan dari teman-teman, yang inti dari makalah ini
adalah membahas “Problematika BK Dalam Isu-isu Pendidikan”

Adapun makalah ini telah kami susun semaksimal mungkin dan tentunya
banyak pihak yang membantu dalam penyusunan makalah ini sehingga kami
ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu.

Akhir kata semoga makalah sederhana ini dapat dipahami oleh semua
pihak dan menambah wawasan kita. Kami mohon maaf apabila ada kata-kata
yang kurang berkenan dan kami menerima kritik dan saran dari pembaca agar
kedepannya kami dapat memperbaiki makalah ini.

Samarinda, 12 September 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... i


DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................1
A. Latar Belakang ............................................................................................. ....1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ ....2
C. Tujuan Penulisan ......................................................................................... .... 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................... 3


A. Pengertian Problematika................................................................................. 3
B. pengertian Guru Bimbingan dan Konseling ...................................................4
C. Problematika Bimbingan dan Konseling atau Guru ...........................................4
1. Faktor Internal .....................................................................................................5
2. Faktor External...................................................................................................9

BAB III PENUTUP .......................................................................................... 13


A. Kesimpulan ...................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 14

ii
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Peran guru Bk dala iplementasui kurikulum 2013 akan semakin
penting, pasalnya di tingkat SMA sederajat penjurusan di tiadakan, di
ganti dengan kelompok peminatan, tegas guru Prof Mungin Eddy
Wibowo, ketika menjadi pembicara di seminar nasional bimbingan dan
konseling di hotel Grasia semarang, sabtu (4/15).
Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta
didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa
berkembang secara optimal, dalam bibigan pribadi, sosial, belajar maupun
karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan
norma-norma yang berlaku (SK Mendikbut No. 025/D/1995)
Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik
dalam memfasilitas mencapai tingkat perkembangan yang optimal
pengembangan perilaku yang efektif, penegmbangan lingkugan
danpeningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya,
membangun interaksi dinamis anatara individu dengan lingkungan,
membelajarkan individu untuk mengembangkan, merubah dan
mempebaiki perilaku.
Namun, guru Bk yang terjadi saat ini dilapangan kebanyakan di
lingkungan pendidikan atau sekolah memandang guru BK adalah guru
yang mengatasi siswa-siswa yang sering bolos sekolah, merokok di
sekolah,melanggar aturan sekolah, menghukum siswa yang ketahuan
terlambat datang ke sekolah dan lain-lain. Sehingga di beberapa sekolah
guru BK itu kesulitan dalam mengembalikan ruh dan hakikat Bk yang
tidak bisa bekerja dengan professional.

1
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah pada makalah
ini adalah:
1. Apa itu pengertian problemmatika ?
2. Apa itu guru bimbingan dan konseling?
3. Apa saja problematika bimbingan dan konseling dalam
pendidikan?
4. Bagaimana cara mengatasi probematika bk?

C. Tujuan
1. Mengetahui apa itu pengertian problemmatika
2. Mengetahui apa itu guru bimbingan dan konseling
3. Mengetahui apa saja problematika bimbingan dan konseling dalam
pendidikan
4. Mengetahui bagaimana cara mengatasi probematika bk

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. problematika

Menurut Debdikbud pengertian problematika adalah Istilah problema atau


problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu “problematic” yang artinya
persoalan atau masalah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, problema berarti hal
yang belum dapat dipecahkan yang menimbulkan permasalahan. Sedangkan
Syukir mengatakan bahwa definisi problema/problematika adalah suatu
kesenjangan harapan dan kenyataan yang diharapkan dapat menyelesaiankan atau
dapat diperlukan atau dengan kata lain dapat mengurangi kesenjangan itu.
Selanjutnya menurut Hudojo mengemukakan bahwa pengertian masalah adalah
sebagai pernyataan kepada seseorang dimana orang tersebut tidak mempunyai
aturan/hukum tertentu yang segera dapat digunakan untuk menemukan jawaban
dari pertanyaan tersebut. Jadi dapat kita uraikan problema adalah berbagai
persoalan-persoalan atau masalah-masalah yang sulit dihadapi yang harus
dipecahkan dan diselesaikan.

Berikut ini ada penjelasan lebih detail tentang jenis masalah sederhana dan
rumit sebagai berikut:

1. Masalah sederhana memiliki ciri berskala kecil, tidak memiliki sangkut paut
dengan masalah yang lain, tidak memiliki konsekuensi yang besar, pemecahan
tidak memerlukan pemikiran yang luas dan mendalam, serta diselesaikan secara
individu. Teknik menyelesaikannya bisa dari pengalaman dan kebiasaan pada diri
seseorang.

2. Masalah rumit atau kompleks memiliki ciri berskala besar, memiliki kaitan erat
dengan masalah lainnya, berkonsekuensi besar, dan penyelesainnya memerlukan
pemikiran atau analisis yang tajam. Jangkauannya secara kelompok yang
melibatkan pimpinan dan segenap karyawan.

3
Dalam masalah rumit terdapat dua jenis masalah, yakni terstruktur dan tidak
terstruktur. Masalah terstuktur adalah masalah yang jelas penyebabnya, rutin dan
sering terjadi sehinga pemecahannya sudah bisa diprediksi. Masalah tidak
terstruktur adalah masalah yang tidak jelas penyebabnya dan konsekuensinya,
serta masalah yang sering berulang.

B. Guru bimbingan dan konseling

Guru bimbingan dan konseling adalah seorang guru yang bertugas


memberikan bantuan psikologis dan kemanusiaan secara ilmiah dan professional
sehingga seorang guru bimbingan dan konseling harus berusaha menciptakan
komunikasi yang baik dengan murid dalam menghadapi masalah dan tantangan
hidup.

Adapun pengertian konselor sekolah menurut rambu-rambu


penyelenggaraan bimbingan dan konseling dalam pendidikan formal adalah
sarjana pendidikan (S-1) bidang bimbingan dan konseling dan telah
menyelesaikan program Pendidikan Profesi Konselor (PPK), sedangkan individu
yang menerima pelayanan bimbingan dan konseling disebut konseli.

Guru pembimbing adalah orang yang mempunyai keahlian dalam


melakukan konseling. Berlatar belakang pendidikan minimal sarjana strata satu
(S1) dari jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB), Bimbingan
Konseling (BK), atau Bimbingan Penyuluhan (BP). Mempunyai organisasi profesi
bernama Asosiasi bimbingan dan onseling Indonesia (ABKIN), melalui proses
sertifikasi, asosiasi ini memberikan lisensi bagi para konselor. Khusus bagi para
guru pembimbing pendidikan bertugas dan bertanggung jawab memberikan.

C. Problematika Bimbingan dan Konseling (BK)

Istilah problema/problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu


"problematic" yang artinya persoalan atau masalah. Sedangkan dalam bahasa
Indonesia, problema berarti hal yang belum dapat dipecahkan; yang menimbulkan
permasalahan.

4
Adapun Bimbingan dan Konseling (BK) adalah proses bantuan atau
pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu
(konseli) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara
keduanya, agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan
menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri. Jadi,
problematika Bimbingan dan Konseling dapat diartikan sebagai masalah yang
dihadapi dalam proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing
kepada individu yang dibimbing.

Problematika Bimbingan Konseling yang terjadi di sekolah serta upaya


penyelesaiannya

1) Problematika Internal antara lain:

a) Guru BK belum begitu mampu mengembangkan profesionalitasnya


sebagai konselor sekolah.

b) Keterbatasan waktu dalam memberi layanan BK.

c) Kuranganya dukungan dari sistem yang ada di sekolah.

d) Konselor tidak bisa menyampaikan layanan BK layaknya sebagai seorang


konselor.

e) Konselor sering tidak bisa menjalin hubungan yang baik dengan pesrta
didik.

f) Berkerja di bawah tekanan.

a. (Guru BK belum begitu mampu mengembangkan profesionalitasnya


sebagai konselor sekolah) artinya, Masih banyakanya siswa yanng belum
bisa mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya dan belum
maksimalanya pelaksanaan BK disekolah baik dalam layanan bimbingan
maupun pada saat konseli menunjukan rendahaya kemampuan guru BK
yang ada di sekolah.

5
Upaya yang sebaiknya dilakukan: Untuk mengatasi hal tersebut dalam
upaya peningkatan profesionalitas guru BK tentunya dapat dilakukan
dengan mengikuti seminar, work shop yang menambah pengetahuan
tentang bimbingan konseling dan kegiatan lain yang berkenaan dengan
bimbingan konseling.

b. (Keterbatasan waktu dalam memberi layanan BK) artinya, Rasio 1


guru BK dengan peserta didik yang diatasi sekitar 1:150 sehingga bila
disekolah hanya ada dua guru BK berarti hanya mampu mengangani
sekitar 300 peserata didik sedangakan satu sekolahan terkadang memiliki
siswa lebih dari 600 selain itu pelaksaan BK hanya diberikan waktu pada
jam istirahat atau pada saat jam mata pelajaran bk.

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Dalam masalah ini upaya yang bisa
dilakukan untuk hal tersebut konselor bisa melakukan bimbingan
kelompok sehingga konselor bisa memabntu konseli untuk menemukan
solusi sendiri, mengambil keputusan, sehingga banyak waktu yang sangat
sedikit itu dapat dimanfaatkan dengan maksimal dan optimal.

c. (Keterbatasan informasi yang diberikan dalam memberikan layanan


BK) artinya, Kurang maksimalnya pemberian layanan bimbingan dan
konseling disekolah terutama pada saat pemberian layanan BK, terkadang
layanan BK yang diberikan oleh konselor belum bisa menjawab indikator
yang diperlukan oleh peserta didik dan kebutuhan peserta didik pada saat
itu.

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Upaya yang seharusnya dilakukan


oleh konselor agar bisa untuk mengatasi permasalahan tersebut konselor
bisa mencari referensi di buku baik perpustakaan atau di internet sehingga
layanan bimbingan pemberian informasi bisa terlaksana dengan baik dan
yang terpenting bisa menjawab indikator yang diperlukan siswa.

6
d. (Kuranganya dukungan dari sistem yang ada di sekolah) artinya, Kurang
maksimalnya guru BK atau konselor sekolah dalam berkerja disekolah
salah satunya kurang komunikasi antara guru kelas, wali kelas, kepala
sekolah dan lain-lain yang masih di dalam lingkup sekolah dari hal ini bisa
membuat konselor kurang bisa dengan segera dalam memberikan layanan
konseling dan mendapat informasi yang cepat mengenai siswa.

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Konselor bisa menjalin komunikasi


yang baik dengan pihak-pihak yang terkait yang ada di sekolah sehingga
dengan hal demikian semua sistem bisa bejalan dengan baik dan
mendukung proses BK disekolah.

e. (Konselor tidak bisa menyampaikan layanan BK layaknya sebagai


seorang konselor) artinya, Biasanya Layana BK yang diberikan oleh
konselor itu tidak ada melibatkan peserta didik dalam setiap layanannya
sehingga ketika konnselor menyampaikan layanan tidak ada bedanya
dengan orang yang menyapaikan penyuluhan saja sehingga layanan yang
diberikan tidak dapat diserap dengan baik karena bersifat satu arah (hanya
konselor yang berbicara) tanpa melibatakan peserta didik

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Dalam menyampaikan setiap layanan


BK hendaknya konselor selalu melibatkan peserta didik sebagai bagian
dari pemberian layanan artinya peserta didik dibuat aktif dalam setiap
pemberian layanan bimbingan sehingga setiap layanan yang diberikan
akan lebih bermakna karena peserta didik turut serta menjadi bagian dari
pemberian layanan, untuk bisa membuat hal ini terwujud hendaknya
seorang konselor biasa menumbukan dinamika kelompok dalam setiap
layanan yang diberikan dan untuk menumbuhkan dinamika kelompok itu
konselor harus sering berlatih.

7
f. (Konselor sering tidak bisa menjalin hubungan yang baik dengan
pesrta didik), artinya gamabaran konselor yang sangat killer membuat
siswa sering menghindar apabila bertemu dan berpapasan dengan konselor
sekolah ditamabah lagi sangat minimnya waktu tatap muka anatara

konselor dan peserta didik diman konseor hanya masuk satu kali dalam 1
minggu itu dengan waktu yang sangat minim dari hal ini yang bisa
membuat salah satu factor mengapa konselor kurang bisa mejadi mitra
atau teman bagi setiap peserta didik yang ada disekolah hal ini bisa
ditambah dengan sifat konselor yang sangat dingin terhadap dengan
harapan peserta didik menjadi segan terhadap konselor.

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Menjadi konselor harus bisa menjadi


mitra peserta didik bukannya menimbulkan jarak hal ini salah satu cara
yang bisa dilakukan: Konselor harus bersikap ramah, Konselor membuang
image killer, Mempunyai ketulusan, Penerimaan tanpa syarat terhadap
semua peserta didik, Menumbuhkan sikap empati.

Dengan konselor sekolah melakukan hal sperti diatas maka peserta


didik akan lamabat laun akan bisa mendekat dengan atau konselor akan
lebih mudah mendekat dengan peserta didik dengan ha demikian kita akan
mudah melakukan tugas kita sebagai konselor karena telah terjalin
hubungan yang baik dan pesertadidik akan lebih cenderung terbuka
dengan konselor tentang apa yang sedang dialami dan konselor bisa
dengan cepat melakukan penanganan terhadap permsalahan yang sedang
dihadapi oleh siswa dan cenderung peserta didik yang dengan suka rela
akan menemui konselor.

8
g. (Berkerja di bawah tekan), artinya Ketidak berdayaan konselor
dibanding dengan kekuasan kepala sekolah yang terkadang menganggap
BK sebagai bagian dari pengajaraan sehingga dengan keterpaksaan
konselor mengajar dalam mata pelajaran yang itu merupakaan bukan dari
bidang keahliannya dan hal ini diperkeruh dengan UU Nomor 20 tahun
2003 tentang sistem pendidikan yang semakin membunuh tugas konselor
memandirikan menjadi mengajar.

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Untuk mengatasi hal tersebut sangat


lah sulit akan tetapi salah satu cara unutk mengatasi hal tersbut konselor
harus bisa mejelaskan fungsi, tugas, peran seorang konselor sekolah
dengan harapan pihak sekolah dapat mengerti tugas konselor
sesungguhnya dan tentunya disertai sikap tegas seorang konselor dalam
sertiap kebijkakan yang dilauar fungsi, peran, tugas konselor.

2) Problematika Eksternal

a) Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah.

b) Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses


pemberian nasehat.

c) Bimbingan dan Konseling hanya untuk orang yang bermasalah


saja.

d) Layanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan oleh siapa


saja.

a. (Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah), artinya


Masih banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah adalah
sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata
tertib, disiplin, dan keamanan sekolah. Anggapan ini mengatakan
”barang siapa di antara siswa-siswa melanggar peraturan dan disiplin
sekolah harus berurusan dengan konselor”.

9
Tidak jarang pula konselor sekolah diserahi tugas mengusut
perkelahian ataupun pencurian. Konselor ditugaskan mencari siswa
yang bersalah dan diberi wewenang untuk mengambil tindakan bagi
siswa-siswa yang bersalah itu (cenderung menghukum siswa yang
bermasalah) . Konselor didorong untuk mencari bukti-bukti atau
berusaha agar siswa mengaku bahwa ia telah berbuat sesuatu yang
tidak pada tempatnya .

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Berdasarkan pandangan di atas,


adalah wajar bila siswa tidak mau datang kepada konselor karena
menganggap bahwa dengan datang kepada konselor berarti
menunjukkan aib, ia telah berbuat salah, atau predikat-predikat negatif
lainnya. Padahal sebaliknya, dari segenap anggapan yang merugikan
itu, di sekolah konselor haruslah menjadi teman dan kepercayaan
siswa. Disamping petugas-petugas lainnya di sekolah, konselor
hendaknya menjadi tempat pencurahan kepentingan siswa, apa yang
terasa di hati dan terpikirkan oleh siswa. Petugas bimbingan dan
konseling bukanlah pengawas atau polisi yang selalu mencurigai dan
akan menangkap siapa saja yang bersalah. Petugas bimbingan dan
konseling adalah kawan pengiring petunjuk jalan, pembangun
kekuatan, dan Pembina tingkah laku positif yang dikehendaki. Petugas
bimbingan dankonseling hendaknya bisa menjadi konselor pengayom
bagi siapa pun yang dating kepadanya. Dengan pandangan, sikap,
ketrampilan, dan penampilan konselor siswa atau siapapun yang
berhubungan dengan konsellor akan memperoleh suasana nyaman.

b. (Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses


pemberian nasehat), artinya Pelayanan bimbingan dan konseling
menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan
pribadi klien secara optimal.

10
Akan tetapi terkadang di sekolah konselor bukanlah orang yang benar-
benar professional sehingga pada saat proses konseling terkesan hanya
memberikan nasehat bukan memabatu konseli dalam menentukan
keputusan, solusi terhadap masalahanya dan memandirikan.

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Konselor juga harus melakukan


upaya-upaya tindak lanjut serta mensinkronisasikan upaya yang satu
dan upaya lainnya sehingga keseluruhan upaya itu menjadi suatu
rangkaian yang terpadu dan bersinambungan dan memahami teknik-
teknik konseling sehingga pada saat proses konseling tidak menjadi
memberi nasehat

c. (Bimbingan dan Konseling hanya untuk orang yang bermasalah saja),


artinya Sebagian orang berpandangan bahwa BK itu ada karena adanya
masalah, jika tidak ada maka BK tidak diperlukan, dan BK itu
diperlukan untuk membantu menyelesaikan masalah saja. Memang
tidak dipungkiri bahwa salah satu tugas utama bimbingan dan
konseling adalah untuk membantu dalam menyelesaikan masalah.
Tetapi sebenarnya juga peranan BK itu sendiri adalah melakukan
tindakan preventif agar masalah tidak timbul dan antisipasi agar ketika
masalah yang sewaktu-waktu datang tidak berkembang menjadi
masalah yang besar.

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Seharusnya konselor selalu


mengamati semua siswa baik yang memiliki masalah atau yang tidak
bermasalah untuk menghindari anggapan tersebut hendaknya konselor
selalu melaksana fungsi bimbingan preventif untuk menimimalisir
anggapan tersebut sehingga dengan demikian sebelum ada masalah BK
sudah muncul (layanan bimbingan).

11
d. (Layanan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan oleh siapa
saja), artinya Benarkah pekerjaan bimbingan konseling dapat
dilakukan oleh siapa saja? Jawabannya bisa saja “benar” dan bisa pula
“tidak”. Jawaban ”benar”, jika bimbingan dan konseling dianggap
sebagai pekerjaan yang mudah dan dapat dilakukan secara amatiran
belaka. Sedangkan jawaban ”tidak”. Hal ini didasarai pada masalah
yang talah kami kemukakan kami terkdang pada pelaksanaan
bimbingan konseling itu banyak berupa nasehat dan nasehat itu bisa
diberikan oleh siapa saja.

Upaya yang sebaiknya dilakukan: Jika bimbingan dan konseling itu


dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi
(yaitu mengikuti filosopi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu),
dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Salah satu ciri
keprofesionalan bimbingan dan konseling adalah bahwa pelayanan itu
harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan
dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan
latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi, serta pengalaman-
pengalaman tentunya bila hal itu dilaksanakan anggapan bimbingan
dapat diberikan olah siapa saja tentunnya akan berubah

12
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Problematika kendala atau permasalahan yang masi belum dapat


dipecahkan sehingga untuk mencapai suatu tujuan menjadi terhambat dan
tidakmaksimal. Problematika bimbingan dan konseling bisa di artikan sebagai
masalah yang di hadapi dalam proses bantuan atau pertolongan yang di berikan
oleh pembimbing kepada individu yang di bimbing. Problematika bimbingan
konseling yang terjadi di sekolah terdapat dua problematika yaitu problematika
internal dan external. Problematika internal iyalah guru bk belum begitu mampu
mengembangkan profesionalitasnya sebagai konselor sekolah keterbatasan waktu
dalam memberi layanan bk, kurangnya dukungan dari sistem yang ada di sekolah,
konselor tidak bisa menjalin hubungan yang baik dengan peserta didik dan
bekerja dibawah tekanan. Kemudian problematika External iyalah konselor
disekolah di anggap sebagai polisi sekolah, bimbingan dan konseling di anggap
semata-mata sebagai proses pemberian nasehat, bimbingan dan konseling hanya
untuk orang yang bermasalah saja, dan layanan bimbingan dan konseling dapat
dilakukan oleh siapa saja.

13

DAFTAR PUSTAKA
Hudoyo, Strategi Belajar Mengajar Maternatika, (Malang: 1990).

Syukir, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam (Surabaya : Al-Ikhlas, 1983)

Dewa Ketut Sukardi, Proses Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah, (Jakarta:


Rineka Cipta, 2008)
Rambu-rambu penyelenggaraan bimbingan dan konseling dalam jalur pendidikan
formal 2007

W.S. Winkel & S. Hastuti.(2007), Bimbingan dan Konseling di Institut


Pendidikan, (Jakarta, Gramedia,)

Tohirin,( 2007), Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, (Jakarta,


PT. Raja Grafindo)
C.G. Boeree, (2007), Personality Theories: Melacak Kepribadian Anda Bersama
Psikolog Dunia, (Surabaya, Alih Bahasa,)
Prayitno, (2004), Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta, PT. Rineka
Cipta,)

Desmiratiana dalam
https://www.google.com/search?q=problematika+bimbingan+ konseling&ie=utf-
8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab. Diakses pada : 11 september 2019 pukul 21.50

https://renysoleha96.blogspot.com/2017/01/problematika-bimbingan-dan-
konseling.html?m=1 Diakses pada : 11 september 2019 pukul 20.00

14