Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN CITRA TUBUH

DI SUSUN OLEH :

NAMA : SANTOSO

NIM : 62019040321

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS
TAHUN 2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Citra tubuh adalah sikap individu yang disadari atau tidak disadari terhadap
tubuhnya termasuk persepsi serta perasaan masa lalu dan sekarang tentang ukuran,
fungsi, penampilan dan potensi. Citra tubuh merupakan sikap individu terhadap
tubuhnya, baik secara sadar maupun tidak sadar, meliputi performance, potensi tubuh,
fungsi tubuh serta persepsi dan perasaan tentang ukuran tubuh dan bentuk tubuh
(Sunaryo, 2014). Pandangan realistis terhadap diri, menerima dan menyukai bagian
tubuh akan memberi rasa aman, terhindar dari rasa cemas dan menigkatkan harga diri.
Persepsi dan pengalaman individu terhadap tubuhnya dapat mengubah citra tubuh
secara dinamis.

Citra tubuh dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan


fisik.Perubahan perkembangan yang normal seperti pertumbuhan dan penuaan
mempunyai efek penampakan yang lebih besar pada tubuh dibandingkan dengan aspek
lainnya darikonsep diri. Citra tubuh anak usia sekolah berbeda dengan citra tubuh
seorang bayi. Salah satu perbedaan yang mencolok adalah kemampuan untuk berjalan.
Perubahan initergantung pada kematangan fisik. Perubahan hormonal terjadi selama
selama masa remaja dan pada tahun akhir kehidupan juga mempengaruhi citra tubuh
(misalnya menopause selama masa dewasa tengah). Penuaan mencakup penurunan
ketajaman penglihatan, pendengaran, dan mobilitas; perubahan ini dapat
mempengaruhi citra tubuh.

Sikap dan nilai kultural dan sosial juga mempengaruhi citra tubuh. Mudah,
cantik,dan utuh adalah hal-hal yang ditekankan dalam masyarakat Amerika, fakta yang
selaluditanyakan dalam program televisi, film bioskop dan periklanan, dalam kultur
timur, penuaan dipandang sangat positif. Karena orang dengan usia tua dihormati, kultur
barat(terutama di Amerika Serikat) telah dibiasakan untuk takut dan ketakutan terhadap
proses penuaan yang normal. Misalnya, monopouse dalam kultur yang lain dipandang
sebagai waktu dimanan wanita mencapai kebiasaan dan kebijaksanaan akhir-akhir ini
dalamkultur barat, monopouse adalah waktu ketika wanita kurang disenangi secara
seksual. Namun demikian, hal ini bukan lagi menjadi keyakinan yang umum, dan wanita
monopouse dan posmenopeuse mempertahankan rasa tentang diri mereka dan
ketertarikan mereka sendiri bahkan lebih kuat.
Citra tubuh bergantung hanya sebagian pada realitas tubuh. Seseorang pada
umumnya tidak mengadaptasi cepat terhadap perubahan dalam fisik tubuh. Perubahan
fisik mungkin tidak dimasukkan ke dalam citra tubuh ideal seseorang. Seiring, misalnya
saja, seseorang yang telah mengalami penurunan berat badan tidak menganggap diri
mereka kurus.

Lansia sering mengatakan bahwa mereka tidak berbeda tetapi ketika mereka
melihat diri mereka dalam cermin, mereka terkejut dengan kulit yang keriput dan rambut
memutih. Sering orang yang dulunya merasa bahwa mereka tetap dengan
berat badan sebelumnya sampai diingatkan oleh pakaian yang semuanya menjadi
kekecilan/ketika mereka bercermin. Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi
tentang tubuh yang diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi,
keterbatasan, makna dan objek yang sering kontak dengan tubuh.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan yang diinginkan penulis yaitu diperolehnya pengalaman nyata dalam
memberikan Asuhan Keperawatan Jiwa pada Ny. R dengan Gangguan citra tubuh di
Ruang Seruni RSUD Kayen

2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan Asuhan Keperawatan selama 3x24 jam maka diharapkan penulis
dapat :
1. Melaksanakan pengkajian jiwa pada klien dengan Gangguan Citra Tubuh
2. Membuat analisa data keperawatan jiwa pada klien dengan Gangguan Citra
Tubuh
3. Menentukan diagnosa keperawatan jiwa pada klien dengan Gangguan Citra
Tubuh
4. Merencanakan tindakan keperawatan jiwa pada klien dengan Gangguan Citra
Tubuh
5. Mengevaluasi tindakan keperawatan jiwa pada klien dengan Gangguan Citra
Tubuh
6. Mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat serta dapat mencapai solusinya
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Citra tubuh adalah sikap, persepsi, keyakinan dan pengetahuan individu secara
sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya yaitu ukuran, bentuk, struktur, fungsi,
keterbatasan, makna dan obyek yang kontak secara terus menerus ( anting, make up,
kontak lensa, pakaian, kursi roda) dengan tubuh. Pandangan ini terus berubah oleh
pengalaman dan persepsi baru. Gambaran tubuh yang diterima secara realistis akan
meningkatkan keyakinan diri sehingga dapat mantap dalam menjalani kehidupan.
Citra tubuh membentuk persepsi seseorang tentang tubuh, baik secara internal
maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan sikap yang ditujukan pada
tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang karakteristik dan
kemampuan fisik oleh persepsi dan pandangan orang lain. Citra tubuh dipengaruhi oleh
pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik. Perubahan perkembangan yang normal
seperti pertumbuhan dan penuaan mempunyai efek penampakan yang lebih besar pada
tubuh dibandingkan dengan aspek lainnya dari konsep diri. Perry & Potter (2010)
Gangguan citra tubuh adalah perubahan persepsi tentang tubuh yang
diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan
objek yang sering kontak dengan tubuh.

B. ETIOLOGI
1. Faktor Predisposisi
Adanya riwayat :
a. Biologis :
Penyakit genetik dalam keluarga, Pertumbuhan dan perkembangan masa bayi, anak
dan remaja, Anoreksia, bulimia, atau berat badan kurang atau berlebih dari berat
badan ideal, perubahan fisiologi pada kehamilan dan penuaan, pembedahan elektif
dan operasi, trauma, penyakit atau gangguan organ dan fungsi tubuh lain ; Stroke,
Kusta, Asthma dan lain-lain, pengobatan atau kemoterapi, penyalahgunaan obat
atau zat ; coccaine, Amphetamine, Halusinogen dan lain-lain.
b. Psikologis :
Gangguan kemampuan verbal, konflik dengan nilai masyarakat, pengalaman masa
lalu yang tidak menyenangkan, ideal diri tidak realistis.
c. Sosial budaya :
Pendidikan masih rendah, masalah dalam pekerjaan, nilai budaya bertentangan
dengan nilai individu, pengalaman sosial yang tidak menyenangkan, kegagalan
peran sosial.
2. Faktor Presipitasi
§ Trauma
§ Penyakit, kelainan hormonal
§ Operasi atau pembedahahan
§ Perubahan masa pertumbuhan dan perkembangan ; maturasi
§ Perubahan fisiologis tubuh ; kehamilan, penuaan.
§ Prosedur medis dan keperawatan ; efek pengobatan ; radioterapi, kemoterapi.

C. MANIFESTASI KLINIS

1. Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah

2. Tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi/akan terjadi

3. Menolak penjelasan perubahan tubuh

4. Persepsi negatif pada tubuh

5. Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang

6. Mengungkapkan keputusasaan

7. Mengungkapkan ketakutan

8. Citra yang mengalami distorsi, melihat diri sebagai gemuk, meskipun pada keadaan
berat badan normal atau sangat kurus

9. Penolakan bahwa adanya masalah dengan berat badan yang rendah

10. Kesulitan menerima penguatan positif

11. Kegagalan untuk mengambil tanggung jawab menurut diri sendiri. Pengobatan diri

12. Tidak berpartisipasi pada terapi

13. Perilaku merusak diri sendiri, muntah yang dibuat sendiri; penyalahgunaan obat-obat
pencahar dan diuretic, penolakan untuk makan

14. Kontak mata kurang

15. Alam perasaan yang tertekan dan pikiran-pikiran yang mencela diri sendiri setelah
episode dari pesta dan memicu perut

16. Perenungan yang mendalam tentang penampilan diri dan bagaimana orang-orang lain
melihat diri mereka.
D. PROSES TERJADINYA MASALAH
Konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang
membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya
dengan orang lain. Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari
sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang
terdekat, dan dengan realitas dunia. Kosep diri terdiri atas komponen : Citra tubuh (Body
image), Ideal diri (Self ideal), Harga diri (Self esteem), Identitas diri (Personal identity)
dan Penampilan peran (role performance)

E. POHON MASALAH
Gangguan isolasi sosial

Gangguan citra tubuh

Perubahan bentuk tubuh (Keliat, 2011)

F. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian Keperawatan

1. Identitas Pasien : nama, umur, alamat dll.


2. Alasan masuk

3. Faktor Predispdsisi dan Presipitasi

4. Pengkajian fisik

5. Psikososial

a. Genogram

b. Konsep Diri : Gambaran diri atau citra tubuh, Identitas Diri, Peran Diri,
Ideal Diri, Harga Diri

c. Hubungan Sosial

d. Spiritual : Nilai, Keyakinan dan Ibadah


6. Status Mental

a. Penampilan

b. Pembicaraan

c. Aktivitas Motorik : Hipomotorik, Hipermotorik, TIK, Agitasi, Grimaseren, Tremor


atau Kompulsif

d. Alam Perasaan

e. Afek

 Dari mana datangnya afek di dapatkan?

 Jenis Afek : Appropriate atau inappropriate

f. Interaksi selama wawancara

g. Persepsi

h. Proses berpikir : Sirkumtansial, Tangensial, Kehilangan asosiasi, Flight of Ideas,


Blocking, Reeming, Perseverasi

i. Isi Pikir (dapat di ketahui dari?) : Obsesi, Phobia, Ide terkait, Depeersonalisasi,
Waham ( agama, somatik, kebesaran, curiga, nihilistic, hipokondria, magik
mistik ) atau Waham yang bizar (ada berapa?)

j. Tingkat kesadaran dan Orientasi

 Kesadaran Pasien (bingung, sedasi, atau stupor)

 0rientasi terhadap waktu, tempat, orang

k. Memori ( Gangguan daya ingat jangka panjang, Gangguan daya ingat jangka
pendek, Gangguan daya ingat saat ini, Konfabulasi )

l. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung (mudah dialihkan, tidak mampu


berkomunikasi, atau tidak mampu berhitung )

m. Kemampuan Penilaian (gangguan kemampuan penilaian ringan, gangguan


penilaian hermaka)
n. Daya Tilik Diri

7. Masalah Psikososial da Lingkungan

8. Pengetahuan

9. Aspek Medik

 Diagnosa Medis

 Program terapi obat yang diberikan

G. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

INTERVENSI GENERALIS

Tindakan Keperawatan pada Individu

a. Tujuan

1) Pasien dapat mengidentifikasi citra tubuhnya.

2) Paien dapat meningkatkan penerimaan terhadap citra tubuhnya

3) Pasien dapat mengidentifikasi potensi (aspek positif) dirinya.

4) Pasien dapat mengetahui cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.

5) Pasien dapat melakukan cara-cara untuk meningkatkan citra tubuh.

6) Pasien dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa terganggu.

b. Tindakan Keperawatan

1) Diskusikan persepsi pasien tentang citra tubuhnya ; dulu dan saat ini, perasaan
tentang citra tubuhnya dan harapan terhadap citra tubuhnya saat ini.

2) Motivasi pasien untuk melihat bagian yang hilang secara bertahap, bantu pasien
menyentuh bagian tersebut.

3) Diskusikan potensi bagian tubuh yang lain.

4) Bantu pasien untuk meningkatkan fungsi bagian tubuh yang terganggu.


5) Ajarkan pasien meningkatkan citra tubuh dengan cara :

a) Gunakan protesa, wig, kosmetik atau yang lainnya sesegera mungkin, gunakan
pakaian yang baru.

b) Motivasi pasien untuk melakukan aktifitas yang mengarah pada pembentukan tubuh
yang ideal

6) Lakukan interaksi secara bertahap dengan cara :

a) Susun jadwal kegiatan sehari-hari.

b) Dorong melakukan aktifitas sehari-hari dan terlibat dalam aktifitas keluarga dan
sosial.

c) Dorong untuk mengunjungi teman atau orang lain yang berarti/mempunyai peran
penting baginya.

d) Beri pujian terhadap keberhasilan pasien melakukan interaksi.

Tindakan Keperawatan untuk Keluarga

a. Tujuan :

1) Keluarga dapat mengenal masalah gangguan citra tubuh.

2) Keluarga mengetahui cara mengatasi masalah gangguan citra tubuh.

3) Keluarga mampu merawat pasien gangguan citra tubuh.

4) Keluarga mampu mengevaluasi kemampuan pasien dan memberikan pujian atas


keberhasilannya.

b. Tindakan Keperawatan :

1) Jelaskan dengan keluarga tentang gangguan citra tubuh yang terjadi pada pasien.

2) Jelaskan kepada keluarga cara mengatasi masalah gangguan citra tubuh.

3) Ajarkan kepada keluarga cara merawat pasien :

a) Menyediakan fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pasien di rumah.

b) Memfasilitasi interaksi di rumah.

c) Melaksanakan kegiatan di rumah dan sosial.


d) Memberikan pujian atas kegiatan yang telah dilakukan pasien.

4) Bersama keluarga susun tindakan yang akan dilakukan keluarga dalam gangguan
citra tubuh.

5) Beri pujian yang realistis terhadap keberhasilan keluarga.

H. DAFTAR PUSTAKA

Keliat, B.A. (2011). Manajemen Keperawatan Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa: CMHN.
Jakarta: EGC

Keliat, Farida Kusumawat., 2010, Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta : Salemba Medika.

Potter & Perry. 2010. Fundamental Keperawatan. Edisi 7. Jakarta : Salemba Medika

Sunaryo, (2014). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Stuart, G. W., Sundeen, JS., 1998, Keperawatan jiwa (Terjemahan), alih bahasa: Achir Yani
edisi III. Jakarta : EGC