Anda di halaman 1dari 4

NAMA : TONI OKTA FIYANSAH

NIM : 061740421555
KELAS :5 KIA

A. Pengertian Asuransi
Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem,
atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa,
properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-
kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan,
kerusakan atau sakit, dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam
jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.
Menurut Ketentuan Pasal 246 KUHD, Asuransi atau Pertanggungan adalah
Perjanjian dengan mana penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan
menerima premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena kerugian,
kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang mungkin dideritanya
akibat dari suatu evenemen(peristiwa tidak pasti).
Perusahaan asuransi mempunyai perbedaan karaketeristik dengan perusahaan
nonasuransi seperti kegiatan Underwriting – akutaria, klaim, dan reasuransi –
retrosesi. Penjaminan (underwriting) adalah Proses penaksiran/penilaian dan
penggolongan derajad risiko yang terkait pada calon tertanggung, serta pembuatan
keputusan untuk menerima atau menolak risiko tersebut.Aktuaria (actuarial) adalah
Fungsi pada suatu perusahaan asuransi yang menerapkan prinsip-prinsip matematika
pada asuransi, termasuk mengkalkulasi/ memperhitungkan daftar harga premi serta
memastikan kesehatan perusahaan dari segi keuangan.Klaim adalah beban yang
menjadi kewajiban perusahaan asuransi terhadap pemegang polis sehubungan dengan
perjanjian asuransi antara perusahaan asuransi dengan konsumen (pemegang polis)
akibat terjadi peristiwa yang di asuransikan atau yang jatuh tempo.Reasuransi adalah
pihak yang menerima pertanggungan ulang dari suatu penutupan
asuransi. Retrosesi adalah Pelimpahan risiko dari perusahaan reasuransi kepada
perusahaan reasuransi lain.
B. Fungsi dan Tujuan Asuransi
1. Fungsi Utama (Primer)
 Pengalihan Resiko
 Penghimpun Dana
 Premi Seimbang
2. Tujuan Asuransi
 Memberikan jaminan perlindungan dari risiko-risiko kerugian yang diderita satu
pihak.
 Meningkatkan efisiensi, karena tidak perlu secara khusus mengadakan
pengamanan dan pengawasan untuk memberikan perlindungan yang memakan
banyak tenaga, waktu dan biaya
 Pemerataan biaya, yaitu cukup hanya dengan mengeluarkan biaya yang
jumlahnya tertentu dan tidak perlu mengganti/membayar sendiri kerugian yang
timbul yang jumlahnya tidak tentu dan tidak pasti
 Dasar bagi pihak bank untuk memberikan kredit karena bank memerlukan
jaminan perlindungan atas agunan yang diberikan oleh peminjam uang.
 Sebagai tabungan, karena jumlah yang dibayar kepada pihak asuransi akan
dikembalikan dalam jumlah yang lebih besar. Hal ini khusus berlaku untuk
asuransi jiwa
C. Prinsip Dasar Asuransi
Dalam dunia asuransi ada 6 macam prinsip dasar yang harus dipenuhi, yaitu
insurable interest, utmost good faith, proximate cause, indemnity, subrogation dan
contribution.
D. Perbedaan Asuransi Konvensional dan Asuransi Syariah
Secara garis besar, misi utama asuransi konvensional adalah misi ekonomi dan
misi social. Sedangkan dalam asuransi syariah misi yang di emban adalah misi
aqi’dan, misi ibadah, misi ekonomi dan misi pemberdayaan umat.
Dalam asuransi syariah terdapat Dewan Pengawas Syariah yang berfungsi
untuk mengawasi pelaksanaa operasional perusahaan agar terbebas dari praktik-
praktik yang bertentangan dengan prinsip syariah. Dan dalam asuransi konvensional
tidak ada dewan pengawas sehingga dalam praktiknya tidak diawasi dan
kemungkinan pelaksanaannya tidak sesuai dengan kaidah syariah

2.1.1 Pengertian Pajak


Pengertian Pajak menurut Siti Resmi dalam “Perpajakan”, yaitu1:
“Iuran rakyat kepada kas negara berdasrkan undang-undang (yang dapat
dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang
langsung dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk membayar
pengeluaran umum.”
Mardiasmo dalam bukunya “Perpajakan” mendefinisikan pajak, yaitu:2
“Iuran rakyat kepada kas negara (peralihan kekayaan dari sektor pribadi
ke sektor pemerintah) berdasarkan undang-undang (dapat dipaksakan) dengan
tidak mendapat balas jasa timbal balik yang langsung dapat ditunjuk dan yang
digunakan untuk membiayai pengeluaran umum.”
Berdasarkan pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa pajak adalah peralihan
kekayaan dari rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan
“surplus”nya digunakan untuk Public Saving yang merupakan sumber utama untuk
membiayai Public Investment. Dimana pajak sebagai suatu kewajiban yang harus diserahkan
oleh rakyat sebagaian dari kekayaannya ke kas negara yang disebabkan suatu keadaan,
kejadian, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tersebut, tetapi bukan sebagai
hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak
ada jasa timbal balik dari negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan umum.
Berdasarkan pengertian di atas kita dapat menarik kesimpulan, bahwa ada empat
unsur dalam pajak, yaitu:
1. Iuran rakyat kepada negara berdasarkan undang-undang dan peraturan yang beralaku.
2. Iuran tersebut tidak dapat dipaksakan.

1
2
3. Hasilnya untuk membiayai pengeluaran pemerintah, demi terselenggaranya tugas-tugas
pemerintah.
4. Tidak ada balas jasa secara langsung dari pemerintah.
Unsur pertama bahwa iuran wajib itu harus berdasarkan undang-undang. Hal ini
sesuai dengan yang terkandung dalam pasal 23 ayat (2) undang-undang 1945 yang
mengatakan bahwa segala pajak untuk keperluan negara diatur berdasarkan undang-undang.
Yang mempunyai wewenang untuk menarik pajak berdasarkan undang-undang yaitu
pemerintah. Hasil iuran tersebut akan digunakan untuk membiayai pengeluaran negara yang
berupa pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan, ini semua tidak lain untuk
kesejahteraan rakyat.

2.1.2 Fungsi Pajak


Berdasarkan pengertian pajak yang telah diatas, fungsi pajak tidak hanya untuk
memasukan uang sebanyak-banyaknya ke kas negara melainkan juga fungsi pengaturan dan
fungsi sosial. Fungsi-fungsi Pajak menurut Mardiasmo, adalah:
“1. Fungsi Budgeter (Fungsi Anggaran)
Adalah pajak merupakan alat atau sumber untuk memasukkan uang masyarakat
sebanyak-banyaknya ke dalam kas negara sesuai dengan peraturan umum untuk
digunakan sebagai dana pembiayaan pengeluaran negara.
2. Fungsi Regulered (Fungsi Mengatur)
Adalah pajak yang digunakan sebagai alat untuk mengatur atau mencapai tujuan-
tujuan tertentu baik di bidang moneter maupun di luar moneter.
3. Fungsi Social (Fungsi Sosial)
Adalah bagian dari fungsi budgeter dan fungsi mengatur, dimana cara pengenaan
pajak kepada masyarakat di landasi falsafah dan Undang-undang 1945 terutama
yang bersifat keadilan.”
2.13 Jenis-jenis Pajak
Terdapat berbagai macam jenis pajak, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
pengelompokkan menurut golongannya, menurut sifatnya, dan menurut lembaga
pemungutannya.
Menurut Mardiasmo ada tiga kelompok pajak, yaitu:
“1. Menurut Golongannya:
a. Pajak Langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak
dan tidak dibebankan atau dilimpahkan pada orang lain.
Contoh: Pajak Penghasilan.
b. Pajak Tidak Langsung, yaitu pajak yang akhirnya dapat dibebankan
atau dilimpahkan kepada orang lain.
Contoh: Pajak Pertambahan Nilai.
2. Menurut Sifatnya:
a.Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada
subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan Wajib Pajak.
Contoh: Pajak Penghasilan.
b. Pajak Objektif, yaitu tanpa memperhatikan keadaan dari Wajib
Pajak.
Contoh: Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
3. Menurut Lembaga Pemungutannya:
a.Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut pemerintah pusat dan digunakan untuk
membiayai anggaran rumah tangga.
Contoh: Pajak Bumi dan Bangunan.
b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut pemerintah daerah dan digunakan
untuk membiayai rumah tangga daerah yang terdiri atas:
1. Pajak Daerah Tingkat I (Propinsi)
Contoh: Pajak Kendaraan Bermotor.
2. Pajak Daerah Tingkat II (Kabupaten/Kota)
Contoh: Pajak Hotel dan Restoran, Pajak Hiburan, Pajak Reklame, dan
Pajak Penerangan Jalan.”
Sedangkan menurut Siti Resmi ada tiga kelompok pajak, yaitu:
“1. Menurut Golongannya
a. Pajak Langsung, yaitu pajak yang harus ditanggung sendiri oleh Wajib Pajak
dan tidak dapat dilimpahkan atau dibebankan kepada orang lain atau pihak
lain.
Contoh: Pajak Penghasilan dibayar/ditanggung oleh pihak-pihak
tertentu yang memperoleh penghasilan.
b. Pajak Tidak Langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan
atau dilimpahkan kepada orang lain atau pihak ketiga.
Contoh: Pajak Pertambahan Nilai.
2. Menurut Sifatnya:
a. Pajak Subjektif, adalah pajak yang pengenaannya memperhatikan pada
keadaan Wajib Pajak atau pengenaan pajak yang memperhatikan keadaan
subjeknya.
Contoh: Pajak Penghasilan didalamnya terdapat Subjek Pajak (Wajib Pajak)
Orang Pribadi.
b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang pengenaannya memperhatikan objeknya
baik berupa benda, perbuatan atau peristiwa yang mengakibatkan timbulnya
kewajiban membayar pajak, tanpa memperhatikan keadaan pribadi Subjek
Pajak (Wajib Pajak) maupun tempat tinggal.
Contoh: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah,
Pajak Bumi dan Bangunan.
3. Menurut Lembaga Pemungutannya:
a.Pajak Negara (Pusat). Contoh: Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan.
b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah baik daerah
tingkat I maupun daerah tingkat II