Anda di halaman 1dari 5

Sejarah Ekstraksi Lensa

Pada tahun 800 sebelum Masehi para dokter di India menggunakan cara
Couching, suatu cara operasi katarak dengan sebuah jarum tumpul melalui daerah
sekitar 4 mm di belakang limbus (sekarang dikenal dengan pars plana), berusaha untuk
mendorong lensa ke belakang atau ke bawah, dibantu seorang asisten untuk fiksasi
kepala penderita. Pada saat itu, operasi dianggap berhasil bila penderita dapat menerka
bentuk atau seseorang di depannya, yang tidak lagi dapat dilihat sebelum dilakukan
operasi.
Celcus (25 SM – 50 Masehi) pertama kali menulis tentang operasi lensa dan
mencoba menggambar lensa mata. Lensa mata diperkirakan berada di tengah bola
mata. Andreas Vesalius (1543 M), seorang anatomist Belgia masih menggambar lensa
berada di tengah bola mata. Barulah seorang anatomist dari Italia, Fabricius ab
Aquapendente (1600 M) dapat menggambarkan posisi lensa mata dengan lebih tepat.
Istilah katarak diadopsi dari bahasa Arab kedalam bahasa Latin, yang arti aslinya
adalah air terjun atau arus yang terbendung (Constantius Africanus, 1018 M).
Seorang bangsa Irak, Ammar (990 – 1020 M) mulai menggunakan cara aspirasi
untuk katarak yang lunak. Sedangkan cara aspirasi yang sebenarnya baru
diperkenalkan oleh seorang bangsa Syria pada abad ke 12 – 13.
Sebagian besar cara operasi katarak tersebut sudah tidak pernah dilakukan lagi
pada saat ini.

Jacques Daviel (1696-1762) dari Perancis menulis tentang operasi katarak


ekstra-kapsuler (ECCE) pertama kali, cara ini dianggap lebih baik dari Couching
dengan menurunnya angka kejadian endoftalmitis, tetapi masih terjadi komplikasi
uveitis khronis, katarak sekunder maupun glaucoma dengan blok pupil. Kemudian
seorang dokter mata dari Jerman, Albrecht von Graefe (1828 – 1870) menggunakan
pisau, sehingga angka kejadian infeksi dan prolaps uvea menjadi sangat menurun.
Samuel Sharp di London, 1753 M, memperkenalkan cara intra-kapsuler
(=ICCE) dalam usahanya untuk mengurangi komplikasi pada ECCE. Tetapi kesulitan
yang timbul adalah cara untuk melepaskan lensa dari tempatnya. Hal ini dapat diatasi
oleh Henry Smith, seorang kolonel yang berdomisili di India, memakai muscle-hook
untuk melepaskan lensa di bagian inferior dan mendorong lensa ke atas melalui insisi
di superior. Cara ini dikenal dengan operasi Smith-Indian dan dilakukan pada 50.000
penderita selama 25 tahun pada akhir abad 19.. Frederick Verhoeff dan Jean Baptiste
Kalt, menggunakan forsep untuk memegang kapsul lensa dan menarik lensa dengan
gerakan kiri-kanan. Stoewer dan Ignacio Barraquer (1884-1965) memperkenalkan
mangkuk penghisap yang dinamakan erysiphake untuk tujuan yang sama.
Ekstraksi katarak ekstra-kapsuler (ECCE modern) menawarkan angka kejadian
komplikasi yang lebih kecil dan memungkinkan insersi lensa intra okuler (=IOL). Hal
ini dimungkinkan oleh penemuan mikroskop operasi dan tehnik aspirasi korteks yang
lebih baik.
Pada akhirnya, Charles D. Kelman, pada tahun 1967 menemukan cara Fako-
emulsifikasi untuk menghancurkan inti lensa sehingga hanya diperlukan luka insisi
yang sangat kecil pada operasi katarak.

Anestesi untuk bedah katarak

Anestesi Umum
Penggunaan anestesi umum adalah metode yang dipilih untuk anak-anak dan remaja,
juga pasien dengan dimensia, retardasi mental, batuk yang tidak terkendali, tanda
tremor kepala, claustrophobia, gaduh-gelisah dan kecemasan. Sebagai bagian dari
evaluasi pra-operasi, diperlukan penilaian oleh dokter bedah terhadap tingkat
pendidikan dan psikologis pasien serta kondisi fisik pasien untuk menentukan metode
anestesi terbaik.
Anestesi Lokal
Retrobulbar anestesi dilakukan dengan atau tanpa anestesi regional dari nervus
kranialis VII (n. facialis), akan memberikan akinesia dan anesthesia mata yang sangat
baik. Komplikasi dari anestesi retrobulbar sangatlah jarang termasuk perdarahan
retrobulbar; perembesan globe; trauma nervus optikus; ketidaksengajaan injeksi
intravena yang berakibat aritmia jantung; dan ketidaksengajaan injeksi intradural yang
berakibat kejang, gagal nafas, dan lumpuhnya batang otak.

Peribulbar anestesi melalui single atau multiple injeksi yang menggunakan


jarum pendek, menurut teori akan menurunkan komplikasi dari perlukaan nervus
optikus dan efek samping CNS dari injeksi intradural. Walaupun risiko dari
perembesan globe belum dapat disingkirkan, metode ini kurang efektif daripada
retrobulbar anestesi untuk mendapatkan akinesia dan anesthesia. juga onset efeknya
lebih lambat.
Anestesi Topikal
Anestesi topikal erat kaitannya dengan operasi katarak insisi kecil. Anestesi topikal
dapat digunakan sebagai penyerta operasi, dengan atau tanpanya sedasi intravena.
Anestesi topikal sering dipakai sebagai tambahan perlindungan intrakameral tanpa
lidocain. Beberapa teknik termasuk penggunaan infiltrasi tambahan subkonjungtival
dengan anestesi lokal. Keuntungannya meliputi tidak adanya risiko ocular perforasi
dan mengurangi kebutuhan sedasi pada beberapa pasien. Diplopia disingkirkan karena
tidak adanya otot mata yang terlibat. Kembalinya penglihatan segera, dan pasien dapat
langsung meninggalkan ruang operasi karena tidak diperlukan bebat mata. Anestesi
topical diberikan lewat tetes topikal, tampon selulosa, atau jeli lidocaine.
Karena anestesi topikal menyebabkan anestesi tanpa akinesia, pasien harus
kooperatif. Sehingga, anestesi topikal tidak sesuai dengan pasien dengan: gangguan
pendengaran yang signifikan, gangguan bahasa, ketidakmampuan emosi untuk
bekerjasama dengan prosedur yang akan dilakukan, blepharospasme, tremor kepala
yang signifikan, nistagmus atau pembedahan yang kompleks.

Viskoelastis
1. Cohesive High Viscosity
Termasuk dalam kelompok ini adalah yang mengandung berat molekul yang tinggi
dan konsentrasi yang tinggi pula. Seperti Healon GV®, Healon5® dan
Microvisc®. Karena mempunyai viskositas yang sangat tinggi maka jenis ini
bermanfaat untuk melakukan kapsuloreksis paada katarak matur, melebarkan pupil
jika diameter pupil kurang lebar, mempertahankan bilik mata depan terutama pada
penderita hiperopia.
2. Dispersive Low Viscosity
Paling baik untuk melindungi endotel kornea karena ikatan antar molekulnya tidak
erat dan dengan viskositas yang rendah akan memudahkan penyebaran serta
berfungsi seperti lapisan pada permukaaan endotel kornea. Produknya Viscoat®,
Occucoat®, dan lain-lain.