Anda di halaman 1dari 4

TEORI BIOLOGIS

1. Teori Radikal Bebas

Radika bebas adalah produk metabolism selulr yang merupakan bagian molekul yang sangat
reaktif. Molekul ini meliki muatan ekstraselular kut yang dapat menciptakan reaksi dengan
protein, mengubah bentuk dan sifatnya (molekul ini juga dapat bereaksi dengan lipid yang
berada dalam membrane sel), mempengaruhi permeabilitasnya, atau dapat berikatan dengan
organel sel (Christiansen dan Grzybowski, 1993). Proses metabilosme oksigen diperkirakan
menjadi sumber radikal bebas terbesar. Secara spesifik oksidasi lemak, protein, dan
karbohidrat dalam tubuh menyebabkan formasi radikal bebas. Polutan lingkungan
merupakan sumber eksternal radikal bebas. (Ebersole dan Hess, 1994). Teori ini menyatakan
bahwa penuaan disebabkan akumulasi kerusakan ireversibel akibat senyawa pengoksidasi
ini. Penelitian tentang peran radikal bebas sedang dilakukan. Sebagai hasilnya, terdapat
minat yang besar penggunaan vitamin seperti A, C, E dan niasin pada masa kini untuk
menetralkan efek radikal bebas dan memperpanjang hidup.

2. Teori Cross-Link

Teori cross-link dan jaringan ikat menyatakan bahwa molekul kolagen dan elastin,
komponen jaringn ikat, membentuk senyawa yang lama meningkatkan rigiditas sel, cross-
linkage diperkirakan akibat reaksi kimia yang menimbulkan senyawa antara molekul-
molekul yang normalnya terpisah (Ebersole dan Hess, 1994). Saat serat kolagen yang
awalnya dideposit dalam jaringan otot polos, molekul ini menjadi renggang berikatan dan
jaringan menjadi fleksibel. Seiring berjalannya waktu, bagaimanapun, sisi aktif pada
molekul lebih berikatan erat; sehingga jaringan menjadi lebih kaku (Christiansen dan
Grzybowski, 1993). Kulit menua merupakan contoh cross-linkage elastin. Contoh cross-
linkage jaringan ikat terkait usia usia meliputi penurunan kekuatan daya rentang dinding
arteri, tanggalnya gigi, dan tenton kering dan berserat (Ebersole dan Hess, 1994). Usaha
penelitian ditujukan pada faktor penyebab yang dapat menurunkan dan pengaruh cross-
linkage.

3. Teori Imunologis
Beberapa teori menyatakan bahwa penurunan atau perubahan dalam keefektifan system
imun berperan dalam penuaan. Mekanisme selular tidak tak-teratur diperkirakan
menyebabkan serangan pada jaringan tubuh melalui autoagresi atau imunodefisiensi
(penurunan imun) (Ebersole dan Hess, 1994). Tubuh kehilangan kemampuan untuk
membedakan proteinnya sendiri dengan protein asing; system imun menyerang dan
menghancurkan jaringan sendiri pada kecepatan yang meningkat secara bertahap. Dengan
bertambahnya usia, kemampuan system imun untuk menghancurkan bakteri, virus, dan
jamur melemah; bahkan system ini tidak memulai serangannya sehingga sel mutasi
terbentuk beberapa kali. Destruksi bagian jaringan yang luas dapat terjadi sebelum respons
imun dimulai. Disfungsi system imun ini diperkirakan menjadi faktor dalam perkembangan
penyakit kronis seperti kanker, diabetes, dan penyakit kardiovaskular, serta infeksi.

4. Teori Genetik Clock

Teori tersebut menyatakan bahwa menua telah terprogram secara genetik untuk species –
species tertentu. Tiap species mempunyai didalam nuklei ( inti selnya )suatu jam genetik
yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan
akan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar, jadi menurut konsep ini bila jam kita
berhenti kita akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau
penyakit akhir yang katastrofal. Konsep ini didukung kenyataan bahwa ini merupakan cara
menerangkan mengapa pada beberapa species terlihat adanya perbedaan harapan hidup yang
nyata.

5. Teori Mutasi Somatik (teori error catastrophe)

Menurut teori ini faktor lingkungan yang menyebabkan mutasi somatik . sebagai contoh
diketahui bahwa radiasi dan zat kimia dapat memperpendek umur sebaliknya
menghindarinya dapqaat mempperpanjang umur.menurut teori ini terjadinya mutasi yang
progresif pada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan
fungsi sel tersebut. Sebaai salah satu hipotesis yang berhubungan dengan mutasi sel somatik
adalah hipotesis error catastrope.
TEORI PSIKOSOSIAL

1. Teori Disengagement

Teori disengagement dari Cummings dan Henry (1961) menyatakan bahwa orang yang
menua menarik diri dari peran yang biasanya dan terikat pada aktivitas yang lebih
introspektif dan berfokus diri sendiri. Teori ini meliputi 4 konsep dasar (Maddox, 1974):

a. Individu yang menua dan masyarakat secara bersama saling menarik diri.

b. Disengagement adalah intrinsic dan tidak dapat dielakkan baik secara biologis dan
psikososial.

c. Disengegement dianggap perlu untuk keberhasilan penuaan.

d. Disengagement bermanfaat baik bagi lansia dan masyarakat.

Teori disengegament ini tetap controversial karena teori ini tidak menunjukkan apakah
masyarakat atau individu yang menua yang memulai disengagement atau faktor personalitas,
kesehatan, budaya dan faktor lain yang mempengaruhi disengagement.

2. Teori Aktivitas

Teori aktivitas tidak menyetujui teori disengagement dan menegaskan bahwa kelanjutan
aktivitas dewasa tengah penting untuk keberhasilan penuaan. Kerja klasik oleh Lemon et al.
(1972) mengusulkan bahwa orang tua yang aktif secara social lebih cenderung
menyesuaikan diri terhadap penuaan dengan baik. Penelitian setelah itu telah menunjukkan
bahwa lansia dengan keterlibatan social yang paling besar memiliki semangat dan kepuasan
hidup yang tinggi, penyesuaian serta kesehatan mental yang lebih positif daripada lansia
yang kurang terlibat secara social. Akan tetapi, beberapa pendapat mengemukakan bahwa
penuaan terlalu kompleks untuk dikarakteristikan dalam cara sederhana tersebut. Mereka
beralasan bahwa teori ini mengasumsikan lansia memiliki kebutuhan yang sama seperti
dewasa tengah. Selain itu, teori ini tidak menunjukkan dampak dampak biopsikososial atau
adanya kehilangan kemampuan untuk mutipel lansia untuk melanjutkan aktivitas. Konsus
pendapat umum bahwa banyak terdapat variable lain yang mempengaruhi respons penuaan
di mana dalam teori ini tidak dijelaskan secara adekuat.

3. Teori Kontinuitas

Teori kontinuitas atau teori perkembangan (Neugarten, 1964) menyatakan bahwa


kepribadian tetap sama dan perilaku menjadi lebih mudah diprediksi seiring penuaan.
Kepribadian dan pola perilaku yang berkembang sepanjang kehidupan menentukan derajat
keterikatan dan aktivitas pada masa lansia. Berdasarkan teori ini, kepribadian merupakan
faktor kritis dalam menentukan hubungan antara aktivitas peran sebagai teori yang
menjanjikan karena teori ini menunjukkan kompleksitas proses penuaan dan kemampuan
adaptif seseorang. Beberapa berpendapat bahwa teori ini terlalu sederhana dan tidak
mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi respons seseorang terhadap proses
penuaan.

Sumber: Potter & Perry