Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

SENGKETA PAJAK

Dibimbing Oleh Ibu Priandhita Sukowidyanti Asmoro, S.E, MSA, Ak

Disusun Oleh:

Kelompok 3

Azhar Ansori 125030400111006

Ryno Meiga Nurpratama 125030400111043

Siti Aminah 125030400111046

Witri 125030400111050

Isnawati 125030400111054

Rahmat Arif budiman 125030407111007

Ganesha Al Hakim Kuncoro 125030407111024

Tapi Omas Anisa 125030401111005

PROGRAM STUDI PERPAJAKAN

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia kepada
kami sehingga kami senantiasa dapat menyelesaikan makalah Laboratorium Perpajakan III
tepat pada waktunya.
Makalah ini kami susun guna memenuhi tugas mata kuliah Laboratorium Perpajakan
III yang diberikan oleh Ibu Priandhita Sukowidyanti Asmoro S.E, MSA, Ak selaku dosen
pengampu mata kuliah Laboratorium Perpajakan III.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Priandhita Sukowidyanti Asmoro
S.E, MSA, Ak yang telah memberikan pengajaran kepada kami, serta kepada teman-teman
yang membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Makalah ini disajikan terutama kepada mahasiswa yang mengambil mata kuliah
Laboratorium Perpajakan III, baik yang ada di luar maupun di dalam lingkup Universitas
Brawijaya. Makalah ini juga dapat digunakan sebagai referensi tambahan bagi kalangan
pelajar, mahasiswa, mapun praktisi pajak.
Namun, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami
mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan makalah
ini.

Malang, 9 Mei 2015

Penyusun

Page 2 of 20
DAFTAR ISI

Kata pengantar............................................................................................................................2
Daftar Isi.....................................................................................................................................3
PENDAHULUAN.....................................................................................................................4
A. DASAR HUKUM..........................................................................................................4
B. PENGADILAN PAJAK................................................................................................4
C. GUGATAN PAJAK......................................................................................................5
D. JANGKA WAKTU UNTUK MENGAJUKAN GUGATAN.......................................9
E. BANDING.....................................................................................................................9
F. PUTUSAN BANDING SETELAH SELESAIANYA
LELANG......................................................................................................................11
G. PENINJAUAN KEMBALI.........................................................................................12
CONTOH KASUS..................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA..............................................................................................................20

Page 3 of 20
PENDAHULUAN
Sengketa pajak adalah adalah sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara
Wajib Pajak atau penanggung Pajak dengan pejabat yang berwenang sebagai akibat
dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan Banding atau Gugatan kepada Pengadilan
Pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan, termasuk Gugatan atas
pelaksanaan penagihan berdasarkan Undang-undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.

A. DASAR HUKUM
a. Pasal 1 angka 5 UU No. 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak

b. Pasal 31 ayat [3] UU 14/2002 jo. Pasal 23 ayat [2] , Pasal 27 ayat [1] Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

c. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 9/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pengajuan


dan Penyelesaian Keberatan

B. PENGADILAN PAJAK
Pengertian

Pengadilan Pajak adalah badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman


bagi Wajib Pajak atau penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap Sengketa Pajak.

Pengadilan Pajak berdasarkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2002 adalah


kelanjutan dari Badan Penyelesaian Sengketa Pajak sebagaimana dimaksud dalam Undang
Nomor 17 tahun 1997.

Kedudukan

a. Pengadilan pajak berkedudukan di ibukota Negara.

b. Sidang Pengadilan Pajak dilakukan di tempat kedudukannya

c. Apabila dipandang perlu dapat dilakukan di tempat lain yang ditetapkan oleh Ketua.

Kekuasaan Pengadilan Pajak

a. Pengadilan Pajak merupakan Pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam


memeriksa dan memutus Sengketa Pajak oleh karenanya putusan Pengadilan Pajak
Page 4 of 20
tidak dapat diajukan Gugatan ke Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara atau
Badan Peradilan lain, kecuali putusan berupa “tidak dapat diterima” yang menyangkut
kewenangan/kompetensi

b. Pengadilan Pajak mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan memutus


Sengketa Pajak

c. Pengadilan Pajak dalam hal Banding hanya memeriksa dan memutus sengketa atas
keputusan keberatan kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

d. Pengadilan Pajak dalam hal Gugatan memeriksa dan memutus sengketa atas
pelaksanaan penagihan Pajak atas Keputusan pembetulan atau, Keputusan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun
1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 dan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

e. Pengadilan Pajak mengawasi kuasa hukum yang memberikan bantuan hukum kepada
pihak-pihak yang bersengketa dalam sidang-sidang Pengadilan Pajak.

f. Pengadilan Pajak dapat memanggil atau meminta data atau keterangan yang berkaitan
dengan Sengketa Pajak dari pihak ketiga sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Susunan Pengadilan Pajak

a. Pengadilan Pajak terdiri dari Pimpinan, Hakim Anggota, Sekretaris dan Panitera

b. Pimpinan Pengadilan Pajak terdiri seorang Ketua dan paling banyak 5(lima) orang
Wakil Ketua

C. GUGATAN PAJAK
Definisi Gugatan
Berdasarkan Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No.14 Tahun 2002 Tentang Pengadilan
Pajak definisi gugatan adalah sebagai berikut :
“Gugatan adalah upaya hukum yang dapat dilakukan oleh Wajib Pajak atau
penanggung Pajak terhadap pelaksanaan penagihan Pajak atau terhadap keputusan yang

Page 5 of 20
dapat diajukan Gugatan berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan yang
berlaku”

Ruang Lingkup Pengajuan Gugatan


Sebagai dasar hukum pengajuan gugatan adalah Pasal 23 ayat (2) UU No. 28 Tahun
2007 Tentang KUP yang berbunyi sebagai berikut :

“Pasal 23 ayat (2) Gugatan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak terhadap:

a. pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau


Pengumuman Lelang;

b. keputusan pencegahan dalam rangka penagihan pajak;

c. keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan keputusan perpajakan, selain yang


ditetapkan dalam Pasal 25 ayat (1) dan Pasal 26; atau

d. penerbitan surat ketetapan pajak atau Surat Keputusan Keberatan yang dalam
penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan hanya dapat diajukan kepada
badan peradilan pajak.”

Dari ketentuan pasal 23 ayat (2) tersebut langsung dapat kita ketahui bahwa lingkup
masalah perpajakan yang dapat diajukan gugatan adalah lebih luas/banyak bila dibandingkan
dengan pengajuan banding. Banding hanya mengakomodir permasalahan dari Surat
Keputusan Keberatan, sedangkan gugatan dapat meliputi gugatan terhadap berbagai
keputusan dibidang penagihan pajak, berbagai keputusan dibidang keberatan pajak,
pengurangan pajak, pembatalan pajak serta keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan
keputusan perpajakan.

Khusus untuk pengajuan gugatan atas penerbitan Surat Ketetapan Pajak dan penerbitan
Surat Ketetapan Keberatan terdapat Peraturan Pemerintah yang mengatur lebih detail yaitu
Pasal 36 ayat (2) huruf g dan huruf h Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007 tentang
Tata Cara Pelaksanaan Hak Dan Kewajiban Perpajakan Berdasarkan Undang-Undang Nomor
6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan Sebagaimana Telah
Beberapa Kali Diubah Terakhir Dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007
selengkapnya sebagai berikut :

Page 6 of 20
”Pasal 36 ayat (2)”

a. Pengajuan gugatan terhadap penerbitan surat ketetapan pajak berdasarkan


pemeriksaan yang dimulai setelah tanggal 31 Desember 2007 yang dalam
penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan;atau

b. Pengajuan gugatan terhadap penerbitan Surat Keputusan Keberatan yang dalam


penerbitannya tidak sesuai dengan prosedur atau tata cara yang telah diatur dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, untuk pengajuan keberatan
yang diterima setelah tanggal 31 Desember 2007,

berlaku ketentuan berdasarkan Undang-Undang

Berdasarkan ketentuan Pasal 36 ayat (2) ini SKP berdasarkan hasil pemeriksaan yang
tidak sesuai prosedur yang dapat digugat adalah atas SKP hasil pemeriksaan yang dimulai
setelah tanggal 31 Desember 2007 tanpa memperhatikan tahun pajak yang diperiksa, artinya
bila pemeriksaan telah dimulai 1 Januari 2008 (dimulainya pemeriksaan sederhana lapangan
adalah terhitung sejak Surat Pemberitahuan Pemeriksaan diterima oleh Wajib Pajak)
walaupun tahun pajak yang diperiksa tahun 2007 ke bawah apabila prosedur pemeriksaan
dilanggar maka atas SKP hasil pemeriksaan tersebut dapat diajukan gugatan ke Pengadilan
Pajak. Namun apabila jenis prosedur yang dilanggar dalam pemeriksaan adalah pemeriksa
tidak terlebih dahulu memberikan kesempatan pada Wajib Pajak untuk melakukan
pembahasan akhir-Closing Conference atau tidak terlebih dahulu mengirimkan SPHP, maka
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan pembatalan berdasarkan kuasa Pasal 36 ayat (1)
huruf d UU No. 28 Tahun 2007 Tentang KUP (mengenai hal ini lihat artikel berjudul :
Permohonan Pembatalan SKP Dari Hasil Pemeriksaan Tanpa Surat Pemberitahuan Hasil
Pemeriksaan Atau Pembahasan Akhir berdasarkan Pasal 36 ayat (1) Huruf d UU No. 28
Tahun 2007 Tentang KUP).
Sama halnya dengan SKP hasil pemeriksaan, atas Surat Keputusan Keberatan yang
dapat diajukan gugatan ke pengadilan pajak adalah Surat Keputusan Keberatan yang
pengajuan keberatannya diajukan setelah tanggal 31 Desember 2007, dengan demikian atas
Surat Keputusan Keberatan yang pengajuan keberatannya sebelum 31 Desember 2007 hanya
dapat diajukan banding ke pengadilan pajak.

Page 7 of 20
Ruang lingkup kewenangan Pengadilan Pajak atas pengajuan gugatan adalah
sebagaimana dinyatakan dalam Pasal Pasal 31 ayat (3) UU No.14 Tahun 2002 tentang
Pengadilan Pajak sebagai berikut :
“Pengadilan Pajak dalam hal Gugatan memeriksa dan memutus sengketa atas
pelaksanaan penagihan Pajak atau Keputusan pembetulan atau Keputusan lainnya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000 dan peraturan
perundang-undangan perpajakan yang berlaku”.

Perbedaan Antara Pengajuan Gugatan Dengan Pengajuan Banding


Perbedaan antara pengajuan gugatan dengan pengajuan banding yang prinsipil adalah
terletak pada objek yang diperselisihkan yaitu pada proses banding objek yang disengketakan
adalah materi perpajakan, sedangkan pada proses gugatan objek yang dipermasalahkan
adalah prosedur dan ketentuan formal/tatacara dalam melaksanakan keputusan yang berkaitan
dengan pelaksanaan perpajakan, sebagai contoh penerbitan Surat Keputusan Keberatan yang
dilakukan tanpa terlebih dahulu memberikan Surat Pemberitahuan Untuk Hadir,
pengumuman lelang yang tidak sesuai prosedur, surat ketetapan pajak yang tidak berdasarkan
Nota Penghitungan, pemeriksaan terhadap Wajib Pajak yang tidak menyampaikan SPT
Tahunan sampai batas waktu yang ditentukan yang dilakukan tanpa terlebih dahulu
memberikan surat teguran ke Wajib Pajak, dll.

Persyaratan Formal Pengajuan Permohonan Gugatan


Angka 6 huruf a dan huruf b dari Surat Direktur Jenderal Pajak Nomor : S-
4042/PJ.07/2007 tanggal 18 September 2007 Tentang Tertib Administrasi Yang Berkaitan
Dengan Penanganan Sidang Banding Dan Gugatan Di Pengadilan Pajak menyatakan
pemenuhan ketentuan formal surat permohonan banding Wajib Pajak yaitu mengenai hal-hal
sebagai berikut :
a. Surat gugatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia;
b. Terhadap pelaksanaan penagihan pajak, gugatan diajukan dalam jangka waktu 14
(empat belas) hari sejak tanggal pelaksanaan penagihan. Penentuan jangka waktu
tersebut agar benar-benar diperhatikan;

Page 8 of 20
c. Terhadap keputusan selain gugatan terhadap pelaksanaan penagihan pajak adalah
30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima keputusan yang digugat. Penentuan
jangka waktu tersebut agar benar-benar diperhatikan;
d. Surat gugatan harus ditandatangani dan apabila surat gugatan ditandatangani bukan
oleh Wajib Pajak harus dilampiri dengan surat kuasa khusus sebagaimana diatur
dalam Pasal 32 Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000.
e. Bahwa yang diajukan gugatan adalah merupakan objek gugatan yang dapat
diajukan gugatan sesuai Pasal 23 ayat (1) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang Nomor 16 Tahun 2000.

D. JANGKA WAKTU UNTUK MENGAJUKAN GUGATAN


Berdasarkan Pasal 40 ayat (3) UU 14 tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak jangka
waktu pengajuan gugatan adalah 30 hari sejak tanggal diterima keputusan.

E. BANDING
Proses banding merupakan upaya hukum yang dapat diambil untuk memutiskan
sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara wajib pajak atau penanggung pajak
dengan Direktorat Jendral Pajak sebagai akibat dikeluarkannya Surat Keputusan Keberatan.

Proses banding di Pengadilan Pajak berfokus kepada pembahasan materi perpajakan


yang disegketakan dan tidak terlalu memperhatikan pemenuhan prosedur dalam penerbitan
Surat Keputusan Keberatan.

Dasar hukum

Undang undang No. 28 Tahun 2007 tentang KUP

a. Pasal 1 angka 6 UU Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2002 Tentang Pengadilan


Pajak

“definisi banding dalam undang undang tersebut adalah “upaya hukum yang dapat
dilakukan oleh Wajib Pajak atau penanggung Pajak terhadap suatu keputusan yang
dapat diajukan Banding,berdasarkan peraturan perundang undangan perpajakan yang
berlaku”

Page 9 of 20
b. Lebih jauh Pasal 31 ayat (2) UU Pengadilan Pajak menjelaskan lingkup sengketa
yang dapat diajukan banding yaitu,” Pengadilan Pajak dalam hal banding hanya
memeriksa dan memutus sengketa atas keputusan keberatan, kecuali ditentukan lain
oleh peraturan perundang undangan yang berlaku”

c. Pasal 27 Undang undang No. 28 Tahun 2007 tentang KUP, mengandung point penting
dalam tindakan banding sebagai berikut :

1. Atas putusan keberatan dapat diajukan banding ke pengadilan pajak

2. Diajukan paling lama 3 bulan sejak Surat Ketetapan Keberatan diterima dilampiri
copy SK tersebut

3. Pajak terutang saat pengajuan banding belum merupakan utang pajak dan
tertangguh sampai dengan 1 bulan sejak putusan banding

4. Apabila banding ditolak atau dikabulkan sebagian , WP dikenai sanksi 100% dari
pajak kurang bayar setelah dikurangi sebagian pajak yang telah dibayar sebelum
pengajuan banding.

Ketentuan Formal Pengajuan Banding

Angka 4 huruf a dan huruf b dari Surat Direktur Jenderal Pajak Nomor S –
4042/Pj.07/2007 tanggal 18 September 2007 Tentang Tertib Administrasi Yang Berkaitan
Dengan Penanganan Sidang Banding Dan Gugatan Di Pengadilan Pajak menyatakan
pemenuhan ketentuan formal surat permohonan banding Wajib Pajak yaitu mengenai hal-hal
sebagai berikut :

1.Surat permohonan banding diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia;


2.Dalam surat permohonan banding Wajib Pajak mengemukakan alasan yang jelas;
3.Surat banding diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal keputusan
diterima.
4.Dilampiri surat keputusan yang diajukan banding;
5.Terhadap 1 (satu) keputusan diajukan 1 (satu) surat banding;
6.Dalam hal banding diajukan terhadap besarnya jumlah pajak yang terutang, banding
hanya dapat diajukan apabila jumlah yang terutang dimaksud telah dibayar sebesar
50% (lima puluh persen);

Page 10 of 20
7.Apabila surat permohonan banding ditandatangani bukan oleh Wajib Pajak harus
dilampiri dengan surat kuasa khusus sebagaimana diatur dalam Pasal 32 Undang-
undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang- undang Nomor 16 Tahun 2000.
8.Materi yang diajukan banding juga merupakan materi yang diajukan keberatan.
F. PUTUSAN BANDING SETELAH SELESAINYA LELANG
Banding Padasaat Keluar Surat Pengumuman Pelelangan
Wajib Pajak atau Penanggung Pajak dapat mengajukan gugatan kepada PP terhadap :
Pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan, atau Pengumuman Lelang;

Jangka Waktu Pengajuan Gugatan,

diajukan paling lambat 14 hari sejak pelaksanaan Surat Paksa, Surat Perintah Melaksanakan
Penyitaan atau Pengumuman Lelang;

Apabila setelah pelaksanaan lelang wajib pajak memperoleh keputusan kebveratan atau
putusan banding yang mengakibatkan utang pajak menjadi kurang atau nihil sehingga
menimbulkan kelebihan pembayaran pajak maka wajib pajak tidak dapat meminta atau tidak
berhak menuntyut pengembalian barang yang telah dilelang, kelebihan pembayaran pajak
tersebut dikembalikan dalam bentuk uang.
Putusan Banding
Putusan Banding adalah surat terbanding kepada Pengadilan Pajak yang berisi jawaban
atas alasan banding yang diajukan oleh pemohon banding.Putusan Banding merupakan
putusan akhir dan mempunyai kekuatan hukum tetap, serta bukan Keputusan Tata Usaha
Negara Dalam sejarah banding, jika dibuatkan prosentase Putusan Banding, maka sebagian
besar Putusan Banding berpihak ke Wajib Pajak.
Apabila pengajuan keberatan atau permohonan banding diterima sebagian atau
seluruhnya maka kelebihan pembayaran dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga
sebesar 2% sebulan, untuk selama-lamanya 24 bulan.

G. PENINJAUAN KEMBALI
Page 11 of 20
Peninjauan Kembali
Apabila pihak yang bersangkutan tidak/belum puas dengan putusan Pengadilan Pajak,
maka pihak yang bersengketa dapat mengajukan Peninjauan Kembali kepada Mahkamah
Agung melalui Pengadilan Pajak.
a. Permohonan peninjauan kembali (PK) hanya dapat diajukan 1 (satu) kali kepada
Mahkamah Agung (MA) melalui Pengadilan Pajak.
b. Permohonan peninjauan kembali (PK) tidak menangguhkan atau menghentikan
pelaksanaan putusan Pengadilan Pajak.
c. Permohonan peninjauan kembali (PK) dapat dicabut sebelum diputus, dan dalam hal
sudah dicabut permohonan peninjauan kembali tersebut tidak dapat diajukan lagi.

Alasan-alasan mengajukan peninjauan kembali (PK)


a. Apabila putusan Pengadilan Pajak didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu
muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada
bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu;
b. Apabila terdapat bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan, yang
apabila diketahui pada tahap persidangan di pengadilan Pajak akan menghasilkan
putusan yang berbeda;
c. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak, dituntut atau lebih dari pada yang
dituntut, kecuali yang diputus berupa mengabulkan sebagian atau seluruhnya atau
menambah Pajak yang harus dibayar;
d. Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan
sebab-sebabnya; atau
e. Apabila terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan
peraturan perundangan yang berlaku.

Jangka Waktu Peninjauan Kembali (PK)


a. Pengajuan peninjauan kembali (PK) berdasarkan alasan-alasan sebagaimana
dimaksud huruf a, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan
terhitung sejak diketahuinya kebohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan Hakim
pengadilan pidana memperoleh kekuatan hukum tetap.
b. Pengajuan peninjauan kembali (PK) berdasarkan alasan-alasan sebagaimana
dimaksud huruf b, dilakukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan terhitung sejak

Page 12 of 20
ditemukan surat-surat bukti yang hari dan tanggal ditemukannya harus dinyatakan
dibawah sumpah dan disahkan oleh pejabat yang berwenang.
c. Pengajuan permohonan peninjauan kembali (PK) berdasarlan alasan huruf c, d dan e
dilakukan dalam jangka waktutu paling lambat 3 (tiga) bulan sejak putusan dikirim.

Syarat Formal Pengajuan Peninjauan Kembali


a. Diajukan kepada Mahkamah Agung, melalui:
- Pengadilan Pajak
- Pengadilan Tata Usaha Negara,
yaitu dalam hal di tempat tinggal atau tempat kedudukan permohonan peninjauan
kembali tidak terdapat Pengadilan Pajak, maka permohonan dapat diajukan kepada
Pengadilan Tata Usaha Negara tempat tinggal atau tempat kedudukan pemohon.
- Pengadilan Negeri,
yaitu dalam hal di tempat tinggal atau tempat kedudukan pemohon peninjauan
kembali tidak terdapat Pengadilan Tata Usaha Negara, permohonan dapat diajukan
kepada Pengadilan Negeri tempat tinggal atau tempat kedudukan pemohon

b. Diajukan secara tertulis oleh Pemohon, Ahli Waris, atau kuasa hukum yang ditunjuk
secara khusus untuk itu dengan menyebutkan alasan-alasan dan dilampiri bukti-bukti.
- Pemohon, yaitu para pihak yang berperkara
- Ahli waris, dalam hal para pihak yang berperkara telah meninggal dunia
- Kuasa hukum,
Dasar hukum :
- Pasal 68 ayat (1) UU No. 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Undang-undang
No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung jo Pasal 3 Per MA No. 03 Tahun
2002 tanggal 23 Oktober 2002.
- Pasal 123 Het Herziene Indonesish Reglement (HIR)
- SE MA No. 6 Tahun 1994 tentang Surat Kuasa Khusus

c. Membayar panjar biaya perkara (sebesar Rp2.500.000,00)


Dasar Hukum :
- Pasal 4 ayat (1) Per MA No. 03 Tahun 2002 tanggal 23 Oktober 2002

Page 13 of 20
- Pasal 2 ayat (1) huruf b Per MA No. 02 Tahun 2009 tanggal 12 Agustus 2009
Tentang Biaya Proses Penyelesaian Perkara dan Pengelolaannya Pada Mahkamah
Agung dan Badan Peradilan Yang Berada di Bawahnya

d. Jangka waktu pengajuan tergantung pada alasan diajukannya PK sesuai Pasal 91 UU


Pengadilan Pajak.

Prosedur Peninjauan Kembali Dalam Sengketa Pajak


Berdasarkan pasl 77 ayat 3 UU No. 14 /2002 dinyatakan bahwa pihak-pihak yang
bersengketa dapat mengajukan peninjauan kembali atas putusan Pengadilan Pajak kepada
Mahkamah Agung.
Permohonan Peninjauan Kembali hanya dapat diajukan 1 ( satu ) kali kepada
Mahkamah Agung melalui Pengadilan Pajak.(Pasal 92 UU No. 14 /2002) :
a. Pengajuan permohonan Peninjauan Kembali berdasarkan alasan- alasan suatu
kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus
atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu,
maka dalam jangka waktu paling lambat 3 ( tiga ) bulan terhitung sejak diketahuinya
kebohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan Hakim Pengadilan Pidana
memperoleh kekuatan hukum tetap.
b. Pengajuan permohonan Peninjauan Kembali berdasarkan alasan-alasan terdapat
bukti tertulis baru yang penting dan bersifat menentukan, yang apabila diketahui pada
tahap persidangan di Pengadilan Pajak akan menghasilkan putusan yang berbeda,
maka dalam jangka waktu paling lambat 3 ( tiga ) bulan terhitung sejak ditemukan
surat-surat bukti yang hari dan tanggal ditemukannya harus dinyatakan di bawah
sumpah dan disahkan oleh pejabat yang berwenang.
c. Pengajuan permohonan Peninjauan Kembali berdasarkan alasan-alasan
dikabulkannya suatu hal yang tidak dituntut atau lebih dari pada yang dituntut kecuali
yang diputus berdasarkan pasal 80 ayat (1) berupa : mengabulkan sebagian atau
seluruhnya dan menambahkan pajak yang harus dibayar.

Terdapat dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya dan


terdapat suatu putusan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-

Page 14 of 20
undangan yang berlaku. Maka tenggang waktu pengajuan Penjauan Kembali-nya dilakukan
dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga ) bulan sejak putusan dikirim.(Pasal 93) :
a. Mahkamah Agung memeriksa dan memutus permohonan Peninjauan Kembali
dengan ketentuan :
- Dalam jangka waktu 6 ( enam ) bulan sejak permohonan peninauan kembali diterima
oleh Mahkamah Agung telah mengambil putusan melalui pemeriksaan acara biasa
- Dalam jangka waktu 6 ( enam ) bulan sejak permohonan Peninjauan Kembali
diterima oleh Mahkamah Agung telah mengambil putusan, dalam hal Pengadilan
Pajak mengambil putusan memelalui acara cepat ;
b. Putusan atas permohonan Peninjauan Kembali sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) harus diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum ;

Sebagai pedoman dalam prosedur penerimaan permohonan Peninjauan Kembali di


Mahkamah Agung dapat berpedoman pada buku kerja Mahkamah Agung dengan
penyesuaian-penyesuaian sesuai UU No. 14/2002.
Tentang prosedur penerimaan Peninjauan Kembali oleh Mahkamah Agung Republik
Indonesia telah diberikan petunjuk pelaksanaannya sebagaimana disebutkan dalam buku
Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan Buku II sebagai berikut :
a. Dalam waktu 180 hari sejak putusan berkekuatan hukum tepat atau sejak ditemukan
adanya bukti–bukti baru, Panitera menerima permohonan Peninjauan Kembali yang
diajukan para pihak ;
b. Permohonan Peninjauan Kembali yang dapat diterima, apabila panjar yang
ditentukan dalam SKUM di meja telah dibayar lunas ;
c. Apabila biaya Peninjauan Kembali telah dibayar lunas, maka Panitera PTUN wajib
membuat akta Peninjauan Kembali ;
d. Selambat-lambatnya dalam waktu 14 ( empat belas ) hari Panitera wajib
memberitahukan tentang permohonan Peninjauan Kembali kepada pihak lawannya
dengan memberikan atau mengirimkan salinan permohonan Peninjauan Kembali
beserta alasan-alasan kepada pihak lawan ;
e. Jawaban dan tanggapan atas alasan Peninjauan Kembali selambat-lambatnya 30
( tiga puluh ) hari sejak alasan Peninjauan Kembali tersebut diterima, harus sudah
diterima di Kepaniteraan untuk disampaikan kepada pihak lawan ;

Page 15 of 20
f. Jawaban atau tanggapan atas Peninjauan Kembali yang diterima di Kepaniteraan
PTUN harus dibubuhi hari dan tanggal penerimaan yang dinyatakan di atas surat
jawaban tersebut ;
g. Dalam waktu 30 ( tiga puluh ) hari setelah menerima jawaban tersebut berkas
Peninjauan Kembali berupa berkas A dan B dikirim ke Mahkamah Agung ;
h. Dalam menentukan panjar beaya Peninjauan Kembali diperhitungkan :
- Menetapkan beaya peninjauan kembali yang ditentukan Mahkamah Agung ;
- Biaya pengiriman uang melalui bank ;
1. Ongkos kirim berkas ;
2. Beaya pemberitahuan berupa :
 Pemberitahuan pernyataan PENINJAUAN KEMBALI dan alasan
PENINJAUAN KEMBALI ;
 Pemberitahuan atas jawaban PENINJAUAN KEMBALI ;
 Pemberitahuan penyampaian salinan putusan kepada pemohon
PENINJAUAN KEMBALI ;
 Pemberitahuan bunyi putusan PENINJAUAN KEMBALI kepada
termohon PENINJAUAN KEMBALI
i. Foto copy relas pemberitahuan bunyi putusan Mahkamah Agung agar supaya dikirim
ke Mahkamah Agung

Hal-hal lain yang perlu diketahui


a. Putusan atas permohonan peninjauan kembali sebagaimana dimaksud harus
diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.
b. Hukum acara berlaku pada pemeriksaan PK adalah hukum acara Peninjauan Kembali
sebagaimana dimaksud dalam UU No. 14/1985 tentang Mahkamah Agung, kecuali
yang diatur secara khusus dalam UU No. 14/2002 tentang Pengadilan Pajak.
c. Dasar Hukum : Pasal 89-93 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang
Pengadilan Pajak.

Page 16 of 20
CONTOH KASUS

Premi Asuransi yang Ditanggung Oleh Pemberi Kerja Merupakan Objek PPh Pasal 21

Nomor Putusan : Put-339/BPSP/M.VI/10/1999

Tanggal Putusan : 16 Nopember 1999

Jenis Pajak : PPh Pasal 21

Tahun Pajak : 1991

Kronologi :

 Wajib Pajak adalah suatu Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang diperiksa oleh Karikpa
berwenang untuk tahun pajak 1991;
 SKP PPh Pasal 21 tahun pajak 1991 diterbitkan tanggal 21 Januari 1993, yang
menetapkan kurang bayar;
 Wajib Pajak mengajukan keberatan tetapi ditolak melalui keputusan tanggal 25 Pebruari
1994;
 Banding diajukan ke MPP melalui surat tertanggal 24 Mei 1994 dan diterima oleh MPP
pada tanggal yang sama, tetapi baru diputus oleh BPSP pada tanggal 16 Nopember 1999.
Dasar Hukum Materi Banding :

 UU Nomor 6 Tahun 1983 (UU KUP),


 UU Nomor 7 Tahun 1983 (UU PPh).
Materi Sengketa :

Sengketa bermula dari koreksi positif objek PPh Pasal 21 tahun pajak 1991, berupa
tunjangan pajak serta social charges dan home-office over-head, yang merupakan unsur biaya
gaji yang dilaporkan di SPT PPh Pasal 25/Pasal 29 (SPT Tahunan PPh Badan). Wajib Pajak
hanya menyetujui koreksi objek PPh Pasal 21 berupa tunjangan pajak, sedangkan atas koreksi
lainnya diajukan keberatan sampai banding ke MPP, karena menurut Wajib Pajak koreksi
lainnya tersebut termasuk dalam pengertian natura/kenikmatan.

1. Premi Asuransi Karyawan yang Ditanggung Oleh Pemberi Kerja Termasuk Objek
PPh Pasal 21
Dari hasil pemeriksaan, Fiskus melakukan koreksi positif objek PPh Pasal 21 atas
pengeluaran-pengeluaran yang dilaporkan sebagai unsur biaya gaji di SPT PPh Pasal 25/Pasal

Page 17 of 20
29 (SPT Tahunan PPh Badan), meliputi : honor local support staff, fee/subcontract expense,
dan salary cost. Pengeluaran tersebut berupa pembayaran honor dan tunjangan pajak kepada
karyawan, yang semestinya menambah penghasilan karyawan dan wajib dipotong PPh Pasal
21-nya, tetapi Wajib Pajak belum melakukannya.

Koreksi objek PPh Pasal 21 juga dilakukan atas pengeluaran berupa social charges dan
home-office over-head yang merupakan premi asuransi karyawan yang ditanggung oleh
pemberi kerja. Koreksi Fiskus berdasar pada asas deductibility-taxability yang dianut UU PPh
yang berlaku di Indonesia, dan sesuai pula dengan Pasal 4 ayat (3) huruf c dan huruf d, serta
Pasal 9 ayat (1) huruf c dan huruf d UU Nomor 7 Tahun 1983 (UU PPh).

Fiskus menolak keberatan Wajib Pajak dengan mengacu pada alasan dan ketentuan
yang mendasari koreksi. Pembayaran honor dan tunjangan pajak sudah jelas merupakan
objek PPh Pasal 21. Sementara premi asuransi karyawan yang ditanggung oleh pemberi kerja,
Fiskus menjelaskan, bahwa berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-19/PJ.23/1984
tanggal 28 Mei 1984, iuran asuransi kecelakaan kerja yang ditanggung oleh perusahaan
merupakan penghasilan bagi karyawan. Dengan demikian, pengeluaran berupa social
charges dan home-office over-head juga merupakan objek PPh Pasal 21, meskipun tidak
dibayarkan kepada pegawai melainkan dibayarkan langsung kepada perusahaan asuransi.

2. Wajib Pajak Menyatakan Koreksi Fiskus Dilakukan Atas Natura/Kenikmatan


Pada prinsipnya Wajib Pajak dapat menyetujui jika tunjangan pajak dimasukkan
sebagai unsur pendapatan karyawan yang dikenakan PPh Pasal 21. Namun menurut
pihaknya, social charges dan home-office over-head seharusnya bukan merupakan unsur
pendapatan karyawan, karena termasuk natura/kenikmatan.

Wajib Pajak menjelaskan, bahwa social charges dan home-office over-head meliputi
asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi dwiguna, dan asuransi bea-siswa yang tidak
dibayarkan kepada karyawan, melainkan langsung kepada perusahaan asuransi, sehingga
merupakan natura/kenikmatan. Sesuai dengan UU Nomor 7 Tahun 1983 (UU PPh),
natura/kenikmatan bukan merupakan penghasilan bagi karyawan tetapi juga bukan
merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari laba perusahaan dalam menghitung PPh
Badan.

Pertimbangan dan Putusan Majelis :

Page 18 of 20
Majelis sudah mengirimkan Surat Uraian Banding yang dibuat Fiskus, mengenai
koreksi positif objek PPh Pasal 21. Tetapi sampai dengan saat dilakukannya persidangan,
Wajib Pajak tidak memberikan tanggapan atau bantahan. Oleh karena itu, Majelis hanya
melakukan penelitian terhadap data-data yang ada dalam berkas banding, berupa Kertas Kerja
Pemeriksaan (KKP) serta keterangan yang disampaikan Fiskus, dan penjelasan Wajib Pajak
tersebut di dalam Surat Permohonan Bandingnya.

1. Honor Local Support Staff, Fee/Subcontract Expense, dan Salary Cost :


Dari hasil penelitian Majelis diketahui, bahwa honor local support staff, fee/subcontract
expense, dan salary cost merupakan honor dan tunjangan pajak yang dibayarkan kepada
karyawan, yang dilaporkan Wajib Pajak sebagai unsur biaya gaji di SPT PPh Pasal 25/Pasal
29 (SPT Tahunan PPh Badan). Dalam surat bandingnya Wajib Pajak menyatakan dapat
menerima koreksi objek PPh Pasal 21 atas tunjangan pajak, dan tidak memberikan data atau
bukti yang mendukung alasan banding. Majelis berkesimpulan, koreksi positif honor local
support staff, fee/subcontract expense, dan salary cost yang dibuat Fiskus sudah benar dan
tetap dipertahankan.
2. Social Charges Dan Home-Office Over-Head :
Dari hasil penelitian Majelis diketahui, bahwa social charges dan home-office over-head
merupakan biaya asuransi kecelakaan kerja, asuransi kematian, serta biaya kesehatan, yang
menurut Wajib Pajak tidak dibayarkan kepada karyawan tetapi dibayarkan langsung kepada
perusahaan asuransi. Mengacu pada keterangan Fiskus, berdasarkan Pasal 4 ayat (3) huruf c
dan huruf d jo. Pasal 9 ayat (1) huruf c dan huruf d UU Nomor 7 Tahun 1983 (UU PPh), serta
Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-19/PJ.23/1984 tanggal 28 Mei 1984, maka biaya
asuransi dan kesehatan yang tidak dibayarkan kepada karyawan tetapi dibayarkan kepada
perusahaan asuransi dapat dibebankan sebagai biaya tetapi merupakan penghasilan bagi
karyawan. Majelis berpendapat, biaya asuransi dan kesehatan merupakan penghasilan bagi
karyawan dan termasuk objek PPh Pasal 21, sehingga terdapat cukup alasan untuk
mempertahankan koreksi Fiskus.

Berdasarkan pendapat dan kesimpulan tersebut, Majelis memutuskan untuk menolak


permohonan banding.

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak


Page 19 of 20
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 9/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pengajuan dan
Penyelesaian Keberatan

http://www.ortax.com

http://www.pajakonline.com

Page 20 of 20