Anda di halaman 1dari 17

AKHLAK KEPADA SESAMA

MAKALAH

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Nilai Mata Kuliah Ilmu Akhlak

Disusun oleh:

Lestari Handayani (1177010050)

Sahira Nabila J ( 1177010068)

Tadzkirotuddini A.W (1177010078)

Yuli Siti hindanah ( 1177010083)

Zasi Qurrota Ayun (177010084)

Endang Rahayu (1187010023)

Fattaliyati Nisa ( 1187010028)

JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

TAHUN AKADEMIK 2019/2020


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan
nikmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kelompok mata kuliah
Pengetahuan Lingkungan. Shalawat dan salam mudah-mudahan senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad SAW, serta kepada keluarganya, para sahabatnya serta sampai kepada kita.

Salah satu bukti dari rasa syukur kepada Allah SWT adalah mengucapkan terimakasih
kepada insan yang telah memberikan sekecil apapun bantuan dan bimbingan dalam hidup kita
Maha besar Allah yang telah memperkenankan kami dengan insan-insan terbaik-Nya untuk
membuat kami dapat menyelesaikan tugas kelompok ini. Beserta rasa syukur kepada Allah
SWT,Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu-persatu yang memberikan banyak bantuan
baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian tugas kelompok ini, semoga
Allah SWT membalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Aamiin...

Bandung, Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 2


DAFTAR ISI................................................................................................................................... 3
BAB I .............................................................................................................................................. 4
PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 4
1.1 LATAR BELAKANG...................................................................................................... 4
1.2 RUMUSAN MASALAH ................................................................................................. 4
1.3 TUJUAN PENELITIAN .................................................................................................. 4
BAB II............................................................................................................................................ 5
PEMBAHASAN ............................................................................................................................. 5
2.1 TAKAFULUL IJTIMA’ .................................................................................................. 5
2.2 UKHUWAH ..................................................................................................................... 7
2.2.1 Definisi ...................................................................................................................... 7
2.2.2 Macam-macam ukhuwah .......................................................................................... 7
2.2.3 Manfaat ukhuwah...................................................................................................... 8
2.3 TAAWUN ........................................................................................................................ 8
2.3.1 Definisi ........................................................................................................................... 8
2.3.2 Manfaat Ta’awun .................................................................................................... 12
2.4 TASAMUH .................................................................................................................... 13
2.4.1 Definisi ......................................................................................................................... 13
2.4.2 Manfaat Tasamuh.................................................................................................... 15
BAB III ......................................................................................................................................... 16
PENUTUP..................................................................................................................................... 16
3.1 KESIMPULAN .............................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa Maksud dari Takafulul Ijtima’?
2. Apa Definisi dan Manfaat Ukhuwah?
3. Apa Definisi dan Manfaat Taawun?
4. Apa Definisi dan Pentingnya Tasamuh?

1.3 TUJUAN PENELITIAN


1. Untuk mengetahui Maksud dari Takafulul Ijtima’
2. Untuk mengetahui Definisi dan Manfaat Ukhuwah
3. Untuk mengetahuai Definisi dan Manfaat Taawun
4. Untuk mengetahui Definisi dan Pentingnya Tasamuh
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 TAKAFULUL IJTIMA’

Pertama, bahwa beberapa subtansi kata takaful menunjukkan makna “Dalam bahasa
arab,jaminan sosial adalah terjemahan dari “at-takaful al-ijtima`i “. Adapun kata at-
takaful diambil dari kata kerja “kafala” yang secara etimologi bisa menunjukan arti
berlipat ganda, pengawas atau penanggung.

Sedangkan menurut terminologi fukaha, at-takaful al-ijtima`i (jaminan sosial) adalah


:solidaritas dan sikap saling tolong menolong diantara komunitas masyarakat, baik
individu maupun kolektif, pejabat ataupun rakyat untuk mengambil langkah-langkah
positif dengan motivasi perasaan (emosional) Islami, supaya masing-masing dapat
mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis.

Poin dalam definisi jaminan sosial (Tafakul Ijma’):


Pengharusan” dan “tanggung jawab”; karena kata takaful merupakan bentuk
interaktif dari kata kafala. Dikatakan, takkafaltu bisy syai-i, artinya: aku mengharuskan
diriku kepadanya, dan aku akan menghilangkan darinya keterlantaran dan kelenyapan.
Dan kafil adalah orang yang menjamin manusia untuk menjadi keluarganya dan
kewajiban manafkahinya. Juga berarti orang yang menangani urusan anak yatim yang
diusulnya, dan anak yatim itu menjadi orang yang dijamin.[4]

Sedangkan kata ijtima’i adalah penisbatan kepada ijtima’ yang artinya,


“masyarakat”. Maksudnya, perkumpulan sekelompok manusia yang dipadukan oleh suatu
tujuan, dan yang dimaksudkan di sini adalah kelompok muslim.

Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan, bahwa jaminan sosial itu berarti, “tangung
jawab penjaminan yang harus dilaksanakan oleh masyarakat muslim terhadapa individu-
individunya yang membutuhkan dengan cara menutupi kebutuhan mereka, dan berusaha
merealisasikan kebutuhan mereka, memperhatian mereka, dan menghindarkan keburukan
dari mereka.
ُ ‫شدُّ بَ ْع‬
ً ‫ضهُ بَ ْع‬
‫ضا‬ ِ َ‫ْال ُمؤْ ِم ُن ِل ْل ُمؤْ ِم ِن َك ْالبُ ْني‬
ُ َ‫ان ي‬

“Orang Mukmin bagi orang Mukmin yang lain adalah seperti bangunan yang sebagainya
menguatkan sebagian yang lain.”

Dan sabdanya,

َ ‫ َمث َ ُل ْال َج‬،‫ط ِف ِه ْم‬


ُ ُ‫س ِد ِإذَا ا ْشت َ َكى ِم ْنه‬
َ ‫عض ٌْو تَدَا‬
‫عى‬ ُ ‫َمث َ ُل ْال ُمؤْ ِمنِينَ فِي ت ََو ِاد ِه ْم َوت ََرا ُح ِم ِه ْم َوت َ َعا‬
‫س َه ِر َو ْال ُح َّمى‬ َ ‫سائِ ُر ْال َج‬
َّ ‫س ِد ِبال‬ َ ُ‫لَه‬

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan saling kasih sayang
mereka adalah seperti tubuh, jika salah satu anggota tubuhnya mengadu, maka seluruh
anggota tubuh akan meresponnya berjaga dan demam.”

Urgensi Jaminan Sosial

Takaful memiliki urgensi besar di dalam Islam. Di antara dalil yang paling jelas tentang
hal tersebut adalah sebagai berikut:

1. Perintah takaful yang disejajarkan dengan mentauhidkan Allah Ta’ala Firman-Nya,


‫َو ال ْ َم س َ ا ِك ي ِن‬ ‫َو ا عْ ب ُ د ُوا َّللاَّ َ َو ََل ت ُشْ ِر ك ُ وا ب ِ هِ ش َ ي ْ ئ ً ا ۖ َو ب ِ ال ْ َو ا لِ د َ ي ْ ِن إ ِ ْح س َ ا ن ً ا َو ب ِ ِذ ي ال ْ ق ُ ْر ب َ ٰى َو ال ْ ي َ ت َا َم ٰى‬
‫َت‬ْ ‫َو َم ا َم ل َ ك‬ ‫اح ب ِ ب ِ ال ْ َج ن ْ ب ِ َو ا ب ْ ِن ال س َّ ب ِ ي ِل‬ ِ َّ‫ج ن ُ ب ِ َو ال ص‬ ُ ْ ‫ار ال‬ ِ ‫ار ِذ ي ال ْ ق ُ ْر ب َ ٰى َو ال ْ َج‬ ِ ‫ج‬ َ ْ ‫َو ال‬
ۗ ْ‫أ َي ْ َم ا ن ُ ك ُ م‬

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.


dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat,
ibnu sabil dan hamba sahayamu. (an-Nisa’ : 36)

2. Takaful disejajarkan dengan iman dan takwa dalam ada dan ketiadaan Allah
berfirman dalam mensifati orang-orang yang bertakwa,
‫ق لِ ل س َّ ا ئ ِ ِل َو الْ َم ْح ُر و ِم‬
ٌّ ‫َو ف ِ ي أ َ ْم َو ا لِ ِه ْم َح‬

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang
miskin yang tidak mendapat bagian. (Adz-Dzariyyat : 19)
3. Dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa
melaksanakan kewajiban takaful merupakan sebab terpenting masuk bahwa surga,
dan mengabaikan hak orang-orang yang membutuhkan merupakan sebab terbesar
masuk neraka; diantaranya adalah firman Allah,
)44( َ‫ط ِع ُم ْال ِم ْسكِين‬
ْ ُ‫) َولَ ْم نَكُ ن‬43( َ‫ص ِلين‬
َ ‫) قَالُوا لَ ْم نَكُ ِمنَ ْال ُم‬42(‫سقَ َر‬
َ ‫سلَ َك ُك ْم فِي‬
َ ‫َما‬

"Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" Mereka menjawab:


"Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, Dan kami tidak
(pula) memberi makan orang miskin, (al-Muddaststir : 42-44)

Secara garis besar, takafulul ijtima’i ini antara lain meliputi: solidaritas, kepedulian,
dan pengorbanan untuk kepentingan sosial (masyarakat). Munculnya konsep takafulul
ijtima’i ini karena dalam pandangan Islam pada dasarnya setiap individu yang ada
dalam masyarakat merupakan satu kesatuan umat yang utuh yang harus terjaga hak
dan kewajibannya secara seimbang.

2.2 UKHUWAH
2.2.1 Definisi
Kata ukhuwah berasal dari bahasa arab yang kata dasarnya adalah akh
yang berarti saudara, sehingga kata ukhuwah berarti persaudaraan.

2.2.2 Macam-macam ukhuwah


1. Ukhuwah Islamiyah

Pengertian ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang


dikaruniakan Allaah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang
menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling
percaya terhadap saudara seakidah.

2. Ukhuwah Insaniyah (Basyariyah)

Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah merupakan bentuk persaudaraan yang berlaku


pada semua manusia secara universal tanpa membedakan ras, agama, suku dan
aspek-aspek kekhususan lainnya.
Persaudaraan yang di ikat oleh jiwa kemanusiaan, maksudnya kita sebagai
manusia harus dapat memposisikan atau memandang orang lain dengan penuh
rasa kasih sayang, selalu melihat kebaikannya bukan kejelekannya.

3. Ukhuwah Wathoniyah

Ukhuwah Wathoniyah merupakan bentuk persaudaraan yang diikat oleh jiwa


nasionalisme tanpa membedakan agama, suku, warna kulit, adat istiadat dan
budaya dan aspek-aspek yang lainnya.

Mengingat pentingnya menjalin hubungan kebangsaan dilandasrkan pada


Sabda Rosulullah yakni “Hubbui wathon minal iman” yang artinya Cinta sesama
saudara setanah air termasuk sebagian dari iman.

2.2.3 Manfaat ukhuwah


Adapun manfaat yang dapat kita ambil dari ukhuwah Islamiyah yakni :

- Timbul sikap tolong menolong.


- Tumbuh rasa saling memahami
- Menimbulkan rasa tenggang rasa dantidak menzhalimi satu sama lain.
- Terciptanya solidaritas yang kuat antara sesame muslim
- Terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa
- Terciptanya kerukunan hidup antara sesama warga masyarakat

2.3 TAAWUN
2.3.1 Definisi
Taawun berasal dari bahasa Arab yang artinya berbuat baik, tolong menolong.
Menurut istilah taawun adalah suatu perkerjaan atau perbuatan yang didasari pada hati
nurani dan semata – mata mencari Ridhs Allah SWT. Ta’awun bisa dilakukan oleh siapa
saja tanpa ada aturan persyaratan, baik yang masih kecil, muda, maupun tua dalam
mengerjakan kebaikan. Ta’awun juga dapat diartikan sebagai sikap kebersamaan dan rasa
saling memiliki dan salig membutuhkan antara satu dengan yang lainnya, sehingga dapat
mewujudkan pergaulan yang harmonis.
Dalam kehidupan di dunia, manusia tidak dapat hidup sendiri, karena manusia
adalah makhluk yang lemah, tak mampu mencukupi kebutuhan hidup sendiri tanpa
bantuan dari orang lain. Agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia perlu
ta’awun atau saling tolong-menolong, kerjasama dan bantu membantu dalam berbagi hal.
Dengan demikian terjalinlah hubungan yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Islam menganjurkan setiap orang Islam agar menjadikan ta’awun sebagai ciri dan
sifat dalam muamalah sesama mereka. Pada hakikatnya naluri hidup bertaa‟wun telah
dimiliki setiap manusia sejak masih usia anak-anak. Sungguhpun demikian, sikap ini
perlu mendapatkan bimbingan secara terus-menerus dari orang dewasa.
Islam mengajarkan kepada umatnya agar mau bekerja sama, ta’awun dengan
sesamanya atas dasar kekeluargaan. Allah swt, berfirman dalam surat al-Maidah ayat 2:

ِ ‫اْلثْ ِم َو ْالعُد َْو‬


‫ان‬ ِ ْ ‫ب ۚ َوت َ َع َاونُوا َعلَى ْال ِب ِر َوالت َّ ْق َو ٰى ۖ َو ََل تَ َع َاونُوا َعلَى‬
ِ ‫شدِيد ُ ْال ِعقَا‬
َ َ‫َّللا‬ َّ ‫َواتَّقُوا‬
َّ ‫َّللاَ ۖ ِإ َّن‬

Artinya :”dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan (Q.S. al Maidah/ 5 : 2).”

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa Islam menganjurkan untuk menolong
sesama terutama yang mengarah pada suatu hal yang positif dan baik yang dalam ayat
diatas disebut dengan al - birr yang berarti kebajikan, dan mengecam bentuk pertolongan
apapun yang mengarah pada suatu hal negatif yang menyangkut masalah dosa,
permusuhan, serta perkara yang dilarang oleh agama yang dalam ayat diatas disebut
dengan al – itsmu.
Kata al – birr dan kata attaqwa mempunyai makna yang sangat erat kaitannya,
karena masing - masing menjadi bagian dari yang lainnya. Kata al – birr berarti kebaikan,
kebaikan dalam hal ini adalah kebaikan secara menyeluruh, mencakup segala macam dan
ragam yang dianjurkan oleh agama, seperti memberi sedekah, dan lain sebagainya.
Lawan dari kata al – birr adalah al - itsm yang berarti dosa, yang maknanya adalah satu
ungkapan yang mencakup segala bentuk kejelekan dan aib yang menjadi sebab seorang
hamba menjadi tercela bila melakukannya, seperti halnya mencuri.
Ulama mengatakan bahwa penggabungan kata al – birr dan at – taqwa dalam satu tempat
seperti ayat diatas mengandung pengertian yang berbeda, al – birr bermakna semua hal
yang dicintai Allah dan di ridhoi - Nya, baik berupa ucapan maupun perbuatan, lahir dan
batin. Sementara attaqwa mengarah pada tindakan menjauhi segala yang diharamkan
kata al – itsm dan al - ‘udwan memiliki hubungan yang erat, karena masing -
masing kata mengandung pengertian kata lainnya. Setiap dosa (al - itsm) merupakan
bentuk dari al -udwan (kelaliman) terhadap ketentuan Allah yang berupa larangan atau
perintah. Dan setiap melakukan tindakan ‘udwan pelakunya berdosa. Namun jika disebut
bersamaan, masing -masing kata al - itsm dan al - ‘udwan memiliki pengertian yang
berbeda dari yang lainnya. Al - itsm (dosa) berkaitan dengan perbuatan yang hukumnya
haram, seperti minum khamer (minuman keras), zina, dsb. Kata al - ‘udwan lebih
mengarah pada suatu perbuatan yang berupa kelaliman seperti mengajak bermusuhan.
Ayat diatas mengandung isi anjuran untuk saling tolong menolong terhadap
sesama, namun yang perlu digaris bawahi adalah tolong menolong dalam hal kebaikan
dan taqwa, seperti memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan. Memberi sedekah
kepada orang yang membutuhkan itu merupakan salah satu bentuk dari perilaku
menolong yaitu donation, dan dalam Islam pun menganjurkan pula hal tersebut. namun
kita tidak diperbolehkan membantu seseorang yang dapat berimbas pada hal yang
merugikan orang lain, seperti mencuri. Islam hanya menganjurkan untuk menolong orang
lain yang mengarah pada kebaikan, dan sebaliknya Islam sangat tidak menganjurkan
untuk menolong pada hal yangdapat merugikan orang lain. Meskipun diri kita sendiri
yang dirugikan tapi tetap harus membalas dengan kebaikan, karena segala sesuatu yang
kita lakukan akan mendapat balasannya, seperti dalam firman Allah pada surat Ar –
rahman ayat 60:
‫ان َجزَ ا ُء ه َْل‬
ِ ‫س‬ ِ ْ ‫سا ُن ِإ ََّل‬
َ ْ‫اْلح‬ ِْ
َ ْ‫اْلح‬

Artinya : “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” ( Ar – Rahman : 60 )

Manusia ditakdirkan Allah sebagai makhluk social yang membutuhkan hubungan


dan interaksi sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk social, manusia juga
memerlukan bantuan dan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya, baik kebutuhan material maupun spiritual. Dengan kerjasama dan tolong
menolong tersebut diharapkan manusia bisa hidup rukun dan damai dengan sesamanya.
Sesuai dengan hadits nabi:
Artinya: “Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dariberbagai
kesulitan - kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan - kesulitannya di
Hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitann niscaya akan
Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang
muslim Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba -
Nya selama hamba - Nya menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk
mendapatkan ilmu, akan Allah mudahkan baginya jalan ke syurga. Suatu kaum yang
berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitabkitab Allah dan mempelajarinya di
antara mereka, niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan
kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi malaikat serta Allah sebut - sebut mereka
kepada makhluk disisi - Nya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan
dipercepat oleh nasabnya. (Muttafaq alaih).”
(Hadits ke tiga puluh enam dalam Arba’in Nawawi)
Anjuran untuk menolong orang lain terkandung dalam isi hadist diatas, dan
balasan untuk setiap perbuatan baik yang dilakukan juga telah dijanjikan, yaitu siapa
yang membantu seorang muslim dalam menyelesaikan kesulitannya, maka akan dia
dapatkan pada hari kiamat sebagai tabungannya yang akan memudahkan kesulitannya di
hari yang sangat sulit tersebut, dan Allah memberikan balasan yang sesuai dengan apa
yang telah dilakukan oleh hambaNya.
Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan umat Islam dapat berhubungan dengan
siapa saja tanpa batasan ras, bangsa, dan agama, selain itu dalam bersikap ta’awun juga
tidak memandang status dan derajat juga tidak membedakan gender.Seperti yang
tercantum dalam surat at - taubah ayat 71 yang artinya:

ُ ‫وف يَأْ ُم ُرونَ ۚ بَ ْعض أ َ ْو ِليَا ُء بَ ْع‬


َ‫ض ُه ْم َو ْال ُمؤْ ِمنَاتُ َو ْال ُمؤْ ِمنُون‬ ِ ‫ص ََلة َ َويُ ِقي ُمونَ ْال ُم ْنك َِر َع ِن َويَ ْن َه ْونَ ِب ْال َم ْع ُر‬
َّ ‫ال‬
َ‫الزكَاة َ َويُؤْ تُون‬ َّ ُ‫سو َله‬
َّ َ‫َّللاَ َوي ُِطيعُون‬ ُ ‫س َي ْر َح ُم ُه ُم أُو ٰ َلئِكَ ۚ َو َر‬ َّ ۗ ‫َّللاَ ِإ َّن‬
َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫َح ِكيم َع ِزيز‬
Artinya :”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka
(adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan)
yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan
mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( At – Taubah : 71 )

Ayat diatas menjelaskan bahwa dalam tolong menolong itu berlaku bagi siapa
saja tanpa melihat adanya perbedaan jenis kelamin. Perilaku menolong berlaku bagi laki -
laki yang dalam ayat diatas disebut dengan al – mukmin maupun perempuan (al -
mukminat). Sebagian kaum mukminin, baik laki - laki maupun perempuan adalah
penolong bagi sebagian yang lain. Mereka saling menyongkong karena kesamaan agama
dan keimanan kepada Allah. Mereka menyuruh yang ma’ruf (segala amal saleh yang
diperintahkan agama, seperti ibadah), mencegah yang mungkar (segala ucapan dan
perbuatan yang dilarang agama, seperti berbuat menzhalimi orang lain).

2.3.2 Manfaat Ta’awun


Adapun faedah atau manfaat dari ta’awun adalah sebagai berikut:

1. Dengan tolong-menolong, pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih


sempurna.Sehingga jika ada kekurangan, maka yang lain dapat menutupinya.
2. Dengan ta’awun dakwah akan lebih sempurna dan tersebar.
3. Ta’awun dan berpegang teguh kepada al-jama’ah adalah perkara ushul
(pokok) dalam ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan tolong-menolong, maka
telah terealisasikan salah satu pokok ajaran Islam.
4. Dengan saling menolong dan kerjasama, maka akan memperlancar
pelaksanaan perintah Allah, membantu terlaksananya amar ma’ruf dan nahi
munkar. Saling merangkul dan bergandengan tangan akan menguatkan
antarasatu dengan yang lain.
5. Ta’awun melahirkan cinta dan belas kasih antara orang yang saling
menolong dan menepis berbagai macam fitnah.
6. Ta’awun mempercepat tercapainya target pekerjaan, dengannya pula waktu
dapat dihemat. Sebab waktu amat berharga bagi kehidupan seorang muslim.
7. Ta’awun akan memudahkan pekerjaan, memperbanyak orang yang berbuat
baik, menampakkan persatuan dan saling membantu. Jika dibiasakan, maka
itu akan menjadi modal kehidupan sebuah ummat.
2.4 TASAMUH

2.4.1 Definisi
Tasamuh dalam bahasa Arab artinya toleransi. Kata toleransi sendiri juga
mempunyai banyak pemahaman. Toleransi itu sendiri berarti tenggang rasa, lapang dada,
dan bermurah hati. Jadi, arti Tasamuh adalah mempertahankan pendirian pribadi tetapi
tetap bersedia menerima pendapat orang lain. Entah itu dari segala segi kehidupan, baik
agama, kebudayaan, kondisi sosial, kebangsaan dan kemasyarakatan.
Jika dalam sebuah negara yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras,
budaya, ditambah lagi bahasa. Tentu sangatlah dibutuhkan sikap tasamuh atau toleransi
tersebut. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar dan memang harus dipegang bagi setiap
manusia.
Sikap tasamuh ini juga mengajari kita tentang toleransi antar umat beragama.
Sehingga sebagai manusia yang juga diberikan jiwa sosial, pastilah akan saling
membantu satu sama lain. Tanpa memandang suku, agama, ras, dan kebudayaannya
Karena kita juga harus tahu bahwa yang namanya perbedaan-perbedaan tersebut
harus disikapi dengan kepala dingin alias tidak mudah marah, dan berbuat seenaknya
sendiri. Hal ini untuk menghindari pertengkaran, permusuhan dan perselisihan antara
manusia satu dengan manusia yang lain.
Kejadian yang dialami nabi sendiri di kota Madinah bisa kita jadikan contoh.
Yang mana ketika itu di Madinah terdiri dari beberapa penduduk yang tidak belum
beragama Islam. Meskipun berbeda denga Nabi Muhammad SAW, penduduk tetap
menjaga sikap toleransi yang tinggi. Sehingga semua warga di tempat tersebut juga
merasakan kedamaian serta tidak ada rasa paksaan
Contoh kecil lainnya adalah ketika ada seseorang yang sedang menaiki kendaraan
bermotornya dan kemudian melewati perkampungan. Maka ia tetap menjaga suara
motornya dan tidak menggeber-gebernya. Maka secara langsung orang tersebut telah
menerapkan sikap tasamuh dalam dirinya.
Dalil-Dalil Tasamuh

Dalam beberapa keterangan di bawah ini juga dijelaskan bahwa sebagai orang yang
beriman kita harus bisa menjadi orang-orang yang senantiasa melakukan perbuatan baik
dan tidak saling membenci satu sama lain. Baik itu yang bersumber dari al-Qur’an dan
Hadits.

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-
kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah (5): 8)

Artinya:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat” (al-Hujuraat (49): 10)

Rasulullah SAW sendiri juga menjelaskan perihal tasamuh ini lewat beberapa hadits yang
diriwayatkan oleh sahabat-sahabat beliau. Diantaranya:

Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi
Muhammad SAW beliau bersabda: “Tidak sempurna iman diantara kalian semua,
sehingga orang tersebut mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri” (HR.
Bukhari )
Artinya:
Dari az-Zuhri berkata, menceritakan kepadaku Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu,
sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian saling membenci, saling
mendengki, dan saling membelakangi, dan jadilah kalian semua sebagai hamba Allah
yang saling bersaudara….. (HR. Bukhari)

2.4.2 Manfaat Tasamuh


Jika telah kita pelajari sedikit demi sedikit mengenai beberapa hal di atas tentunya
kita akan mengetahui perihal fungsi dari tasamuh itu sendiri. Fungsi dari tasamuh disini
adalah;
1. Menciptakan rasa keharmonisan antar sesama manusia baik dalam hidup
bermasyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara.
2. Menumbuhkan sikap saling menghormati dan tidak memaksa antar sesama manusia.
3. Menciptakan rasa rukun antar umat beragama satu sama lain
4. Menumbuhkan rasa cinta terhadap sesama umat manusia
5. Tetap menghargai pendapat orang lain, meski terdapat perbedaan pendapat satu sama
lain Semoga dengan sedikit keterangan yang ada di atas bisa membantu kita untuk
lebih memahami ajaran-ajaran terpuji yang ada dalam agama Islam.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
1. Abduh Gholib Ahmad Isa, Etika Pergaulan Dari A-Z, (Solo: Pustaka Arafah, 2010).
2. http://www.sumberpengertian.id>agama
3. http://almanhaj.or.id>3434-pentingnya-ukhuwwah
4.