Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

DISLOKASI

DISUSUN OLEH :

HARIS ALFATAH BEDDU


NIM : 16010 019

DOSEN PENGAMPUH : INDRAWAN MANITU, M.Kep.,Ns

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES HUSADA MANDIRI POSO
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan karunia-Nya kepada kami, sehingga tugas Asuhan Keperawatan
Dislokasi terselesaikan tepat waktu.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang
Maha Esa. Selama penyusunan tugas ini banyak menemui kesulitan dikarenakan
keterbatasan referensi dan keterbatasan kami sendiri. Dengan adanya kendala dan
keterbatasan yang dimiliki maka kami berusaha semaksimal mungkin untuk
menyusun tugas ini dengan sebaik-baiknya.
Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak demi perbaikan yang lebih baik dimasa yang akan datang.

Poso, 8 Juli 2019

Haris Alfatah Bedu

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.. ................................................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii

ii
DAFTAR ISI. .............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang. .................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan ............................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Anatomi dan Fisiologi ........................................................................ 3
B. Definisi Dislokasi ............................................................................... 7
C. Etiologi ............................................................................................... 8
D. Jenis-jenis Dislokasi ........................................................................... 8
E. Manifestasi Klinis .............................................................................. 10
F. Patofisiologi ....................................................................................... 11
G. Pathway .............................................................................................. 12
H. Komplikasi ......................................................................................... 13
I. Penatalaksanaan ................................................................................. 14
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan ................................................................... 16
B. Diagnosa Keperawatan. ..................................................................... 17
C. Intervensi Keperawatan ..................................................................... 18
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan. ....................................................................................... 26
B. Saran. ................................................................................................. 27
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejadian kegawatan ortopedi (emergency orthopedics) banyak dijumpai.
Penanganan emergency orthopedics telah mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan kontribusi
yang sangat untuk menunjang penanganan emergency orthopedics. Tenaga
medis dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat
terkait dengan proses perawatan emergency orthopedics pertama kali di IGD
yang komprehensif, yang dimulai dari pengkajian yang komprehensif,
perencanaan intervensi yang tepat, implementasi tindakan, evaluasi hasil yang
ditemukan selama perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis.
Semakin banyak orang yang melakukan olahraga rekreasional dapat
mendorong dirinya sendiri diluar batas kondisi fisiknya dan terjadi lah cedera
olahraga. Cedera terhadap sistem mukoluskletal dapat bersifat akut (sprain,
strain, dislokasi, fraktur) atau sebagai akibat penggunaan berlebihan secara
bertahap (kondromalasia, tendinitis, fraktur sterss). Atlet profesional juga
rentan terhadap cedera, meskipun latihan mereka disupervisi ketat untuk
meminimalkan terjadinya cedera. Namun sering kali atlet tersebut juga dapat
mengalami cedera muskoluskletal, salah satunya adalah dislokasi.
Dislokasi atau keseleo merupakan cedera umum yang dapat menyerang
siapa saja, tetapi lebih mungkin terjadi pada individu yang terlibat dengan
olahraga, aktivitas berulang, dan kegiatan dengan resiko tinggi untuk
kecelakaan. Ketika terluka ligamen, otot atau tendon mungkin rusak, atau
terkilir yang mengacu pada ligamen yang cedera, ligamen adalah pita sedikit
elastis jaringan yang menghubungkan tulang pada sendi, menjaga tulang
ditempat sementara memungkinkan gerakan. Dalam kondisi ini, satu atau
lebih ligamen yang diregangkan atau robek. Gejalanya meliputi nyeri,
bengkak, memar, dan tidak mampu bergerak.
Skelet atau kerangka adalah rangkaian tulang yang mendukung dan
melindungi beberapa organ lunak, terutama dalam tengkorak dan panggul.

1
Kerangka juga berfungsi sebagai alat ungkit pada gerakan dan menyediakan
permukaan untuk kaitan otot-otot kerangka. Oleh karena fungsi tulang yang
sangat penting bagi tubuh kita, maka telah semestinya tulang harus di jaga
agar terhindar dari trauma atau benturan yang dapat mengakibatkan terjadinya
patah tulang atau dislokasi tulang. Kejadian dislokai yang terjadi kalau tidak
ditangani akan menjadikannya infeksi kronis yang berkepanjangan.“Once
osteomyelitis, forever” : Appley. Jangan sampai melewati Golden periode (0
s/d 6 jam) pada awalnya infestasi kuman masih melekat secara fisik, sesudah
itu akan melekat secara kimawi dan sulit dibersihkan dengan pencucian saja.
B. Rumusan Masalah
1. Menjelaskan anatomi fisiologi disloaksi ?
2. Apa yang disebut dengan dislokasi ?
3. Apa penyebab terjadinya dislokasi ?
4. Apa jenis-jenis dislokasi ?
5. Bagaimana manifestasi klinis dari dislokasi ?
6. Menjelaskan patofisiologi dislokasi ?
7. Bagaimana pathway dislokasi ?
8. Menjelaskan komplikasi dislokasi ?
9. Bagaimana penatalaksanaan dislokasi ?
10.Bagaimana askep teoritis dislokasi ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui anatomi fisio;ogi muskuloskeletal
2. Untuk mengetahui definisi dislokasi
3. Untuk mengetahui etiologi dislokasi
4. Untuk mengetahui jenis-jenis dislokasi
5. Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis dari dislokasi
6. Untuk mengetahui anatomi fisiologi disloaksi
7. Untuk mengetahui patofisiologi dan pathway dislokasi
8. Untuk mengetahui penatalaksanaan dislokasi
9. Untuk mengetahui komplikasi dislokasi
10. Untuk mengetahui askep teoritis dislokasi

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Anatomi dan Fisiologi

Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengurus


pergerakan. Komponen utama sistem meskuloskeletal adalah jaringan ikat.
Sitem ini terdiri atas tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen, dan jaringan
khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini.
Secara garis besar, tulang dibagi menjadi enam :
1. Tulang panjang : misalnya femur, tibia, fibula, ulna, dan humerus.
Didaerah ini sangat sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit
karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif dan banyak
mengandung pembuluh darah.
2. Tulang pendek : misalnya tulang-tulang karpal.
3. Tulang pipih : misalnya tulang parietal, iga, skapula dan pelvis.
4. Tulang tak beraturan : misalnya tulang vertebra.
5. Tulang sesamoid : misalnya tulang patela
6. Tulang sutura : ada di atap tengkorak.
Histologi tulang :
1. Tulang imatur : terbentuknya pada perkembangan embrional dan tidak
terlihat lagi pada usia 1 tahun. Tulang imatur mengandung jaringan
kolagen.

3
2. Tulang matur : ada dua jenis, yaitu tulang kortikal (compact bone) dan
tulang trabekular (spongiosa).
Secara histologi, perbedaan tulang matur dan imatur terutama dalam jumlah
sel, dan jaringan kolagen.

a. Fisiologi sel tulang


Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang tersusun dari tiga jenis sel :
osteoblas, osteosit, osteoklas.
1. Osteoblas, membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan
proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteoid melalui suatu
proses yang disebut osifikasi.
2. Osteosit, sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk
pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat.
3. Osteoklas, sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan
matriks tulang dapat diabsorpsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit,
osteoklas mengikis tulang. Sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang
memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral
tulang sehingga kalsium dan fosfat terlepas kedalam aliran darah.
Dalam keadaan normal, tulang mengalami pembentukan dan
absorpsi pada suatu tingkat yang konstan, kecuali pada masa
pertumbuhan kanak-kanak yang lebih banyak terjadi pembentukan dari
pada absorpsi tulang. Proses ini penting untuk fungsi normal tulang.

4
Keadaan ini membuat tulang dapat berespons terhadap tekanan yang
meningkat dan mencegah terjadi patah tulang.
Bentuk tulang dapat disesuaikan untuk menanggung kekuatan
mekanis yang semakin meningkat. Perubahan membantu
mempertahankan kekuatan tulang pada proses penuaan. Matriks organi
yang sudah tua berdegenerasi sehingga membuat tulang relatif menjadi
lemah dan rapuh. Pembentukan tulang yang baru memerlukan matriks
organik baru sehingga memberi tambahan kekuatan pada tulang.
Metabolisme tulang diatur oleh beberapa hormon. Peningkatan
kadar hormon paratiroid mempunyai efek langsung dan segera pada
mineral tulang yang menyebabkan kalsium dan fosfat diabsorpsi dan
bergerak memasuki serum. Peningkatan kadar hormon paratiroid secara
perlahan meneyebabkan peningkatan jumlah dan aktivitas osteklas
sehingga terjadi demineralisasi. Metabaolisme kalsium dan fosfat
sangat berkaitan erat. Tulang mengandung 99% dari seluruh kalsium
tubuh dan 90% dari seluruh fosfat tubuh.
Vitamin D memengaruhi deposisi dan absorpsi tulang. Vitamin D
dalam jumlah besar dapat menyebabkan absropsi tulang seperti yang
terlihat pada kadar hormon paratiroid yang tinggi. Bila tidak ada
vitamin D, hormon paratiroid tidak akan menyebabkan absorpsi tulang.
Vitamin D dalam jumlah yang sedikit membantu klasifikasi tulang,
antara lain dengan meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat oleh usus
halus.

5
b. Anatomi Sendi
Sendi adalah tempat pertemuan dua tulang atau lebih. Tulang-tulang
ini dipadukan dengan berbagai cara,misalnya dengan kapsul sendi, pita
fibrosa, ligamen, tendon, fasia, atau otot. Ada 3 tipe sendi sebagai berikut :
1. Sendi fibrosa (sinartrodial),merupakan sendi yang tidak dapat bergerak.
Sendi fibrosa tidak memiliki lapisan tulang rawan. Tulang yang satu
dengan tulang lainnya dihubungkan oleh jaringan penyambung fibrosa.
2. Sendi kartilaginosa (amfiartrodia), merupakan sendi yang dapat sedikit
bergerak. Sendi kartilaginosa adalah sendi yang ujung-ujung tulangnya
dibungkus oleh tulang rawan hialin, disokong oleh ligamen, dan hanya
dapat sedikit bergerak.
3. Sendi sinovial (diartrodial), merupakan sendi yang dapat digerakkan
dengan bebas. Sendi ini memiliki rongga sendi dan permukaan sendi
dilapisi tulang rawan hialin.
Kapsul sendi terdiri dari selaput penutup fibrosa padat, suatu
lapisan dalam yang terbentuk dari jaringan penyambung berpembuluh
darah banyak, serta sinovium yang membentuk suatu kantung yang
melapisi seluruh sendi dan membungkus tendon-tendon yang melintasi
sendi. Sinovium menghasilkan cairan yang sangat kental yang
membasahi permukaan sendi. Cairan sinovial normalnya bening , tidak
membeku, dan tidak berwarna, jumlah yang ditimbulkan dalam tiap-
tiap sendi relatif kecil (1-3ml).
Tulang rawan sendi pada orang dewasa tidak mendapat aliran
darah, limfe,atau persarafan. Oksigen dan bahan-bahan metabolisme
lain dibawa oleh cairan sendi yang membasahi tulang rawan tersebut.
Perubahan susunan kolagen dan pembentukan proteoglikan dapat
terjadi setelah cedera atau ketika usia bertambah.beberapa kolagen baru
pada tahap ini mulai membentuk kolagen tipe satu yang lebih fibrosa.
Proteoglikan dapat kehilangan sebagian kemampuan hidrofiliknya.
Perubahan ini berarti tulang rawan akan kehilangan kemampuannya
untuk menahan kerusakan bila diberi beban berat.

6
Aliran darah kesendi banyak yang menuju sinovium. Pembuluh
darah mulai masuk melalui tulang subkondral pada tingkat tepi kapsul.
Jaringan kapiler sangat tebal dibagian sinovium yang menempel
langsung pada ruang sendi. Hal ini memungkinkan bahan-bahan
didalam plasma berdifusi dengan mudah kedalam ruang sendi. Proses
peradangan dapat sangat menonjol disinovium karena didaerah tersebut
banyak mendapat aliran darah dan juga terdapat banyak sel mast dan sel
lain serta zat kimia yang secara dinamis berinteraksi untuk merangsang
dan memperkuat respon peradangan.
Jaringan yang ditemukan pada sendi dan daerah yang berdekatan
terutama adalah jaringan penyambung yang tersusun dari sel-sel dan
substansi dasar. Dua macam sel yang ditemukan pada jaringan
penyambung adalah sel-sel yang tidak dibuat dan tetap berada pada
jaringan penyambung ( seperti sel mast, sel palsma, limfosit, monosit,
dan leukosit polimorfonuklear).
Serat- serat yang terdapat pada substansi dasar adalah kolagen dan
elastin. Kolagen dapat dipecahkan oleh kerja kolagenase. Serat-serat
elastin memiliki sifat elastis, serat ini terdapat dalam ligamen, dinding
pembuluh darah besar, dan kulit. Elastin dipecahkan oleh enzim yang
disebut elastase.
B. Definisi Dislokasi
Dislokasi adalah cedera struktur ligameno di sekitar sendi, akibat gerakan
menjepit atau memutar / keadaan dimana tulang-tulang yang membentuk
sendi tidak lagi berhubungan, secara anatomis (tulang lepas dari sendi).
(Brunner & Suddarth. 2002).
Dislokasi adalah keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya,
dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang membutuhkan pertolongan
segera. (Arif Mansyur, 2000).
Dislokasi merupakan keadaan ruptura total atau parsial pada ligamen
penyangga yang mengelilingi sebuah sendi. Biasanya kondisi ini terjadi
sesudah gerakan memuntuir yang tajam (Kowalak, 2011).

7
Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi.
Dislokasi ini terdapat hanya kepada komponen tulangnya saja yang bergeser
atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari
mangkuk sendi).
C. Etiologi
1. Umur
Faktor umur sangat menentukan karena mempengaruhi kekuatan serta
kekenyalan jaringan. Misalnya pada umur 30- 40 tahun kekuatan otot
akan relative menurun. Elastisitas tendon dan ligamen menurun pada usia
30 tahun.
2. Terjatuh atau kecelakan
Dislokasi dapat terjadi apabila terjadi kecelakan atau terjatuh sehingga
lutut mengalami dislokasi.
3. Pukulan
Dislokasi lutut dapat terjadi apabila mendapat pukulan pada bagian
lututnya dan menyebabkan dislokasi.
4. Tidak melakukan pemanasan
Pada atlet olahraga sering terjadi keseleo karena kurangnya
pemanasan.
5. Benturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan
dislokasi.
6. Cedera olahraga. Pemain basket dan kiper pemain sepak bola paling
sering mengalami dislokasi pada tangan dan jari-jari karena secara tidak
sengaja menangkap bola dari pemain lain.
7. Terjatuh. Terjatuh dari tangga atau terjatuh saat berdansa diatas lantai
yang licin.
8. Kongenital : Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan.
D. Jenis-jenis Dislokasi
Jenis-jenis Dislokasi sendi yang sering ditemui dari berbagai kasus-kasus
yang ada dapat dibedakan sebagai berikut:

8
a. Dislokasi kongenital
Terjadi sejak lahir akibat kesalahan pertumbuhan
b. Dislokasi patologik
Terjadi akibat penyakit sendi dan jaringan sekitar sendi. Misalnya
tumor, infeksi, atau osteoporosis tulang. Hal ini disebabkan oleh kekuatan
tulang yang berkurang.
c. Dislokasi traumatic
Kedaruratan orteoprodi( pasokan darh, susunan saraf rusuk dan
mengalami stres berat, kematian jaringan akibat anoksia) akibat edema
(karena mengalami pengerasan) terjadi karena trauma yang kuat sehingga
dapat mengeluarkan tulang dari jaringan disekelilingnya dan merusak
struktur sendi, ligamen, syaraf, dan sistem vaskular. Kebanyakan terjadi
pada orang dewasa.
Berdasarkan tipe kliniknya dibagi sebagai berikut:
a. Dislokasi akut
Umumnya terjadi pada shoulder, elbow, dan hip serta disertai nyeri
akut dan pembengkakan disekitar sendi
b. Dislokasi berulang
Jika suatu trauma dislokasi pada sendi diikuti oleh frekuensi dislokasi
yang berlanjut dengan trauma yang minimal, maka disebut dislokasi
berulang. Umumnya terjadi pada shoulder joint. Dislokasi biasanya sering
dikaitkan dengan patah tulang yang disebabkan berpindahnya ujung tulang
yang patah oleh karena kuatnya trauma, tonus/kontraksi otot dan tarikan.
Berdasarkan tempat terjadinya
a. Dislokasi sendi rahang
Dislokasi sendi rahang dapat terjadi karena menguap/terlalu lebar
serta terkena pukulan keras ketika rahang sedang terbuka, akibatnya
penderita tidak dapat menutup mulutnya kembali
b. Dislokasi sendi bahu

9
Pergeseran kaput humerus dari sendi glenohumeral berada
dianteriordan medial glenoid (dislokasi anterior), di posteroir (dislokasi
posterior), dan bawah glenoid (dislokasi inferior).
c. Dislokasi sendi siku
Mekanisme cideranya biasanya jatuh pada tangan yang dapat
menimbulkan dislokasi sendi siku ke arah posterior dengan siku jelas
berubah bentuk dengan kerusakan sambungan tonjolan-tonjolan tulang
siku.
d. Dislokasi sendi jari
Sendi jari mudah mengalami dislokasi dan bila tidak ditolong
dengan segera sendi tersebut akan menjadi kaku kelak. Sendi jari dapat
mengalami dislokasi kearah telapak tangan / punggung tangan.
e. Dislokasi sendi metacarpophalangeal dan interphalangeal
Merupakan dislokasi yang disebabkan oleh hiperektensi-ekstensi
persendian
f. Dislokasi panggul
Bergesernya caput femur dari sendi panggul, berada diposterior
dan atas acetabulum (dislokasi posterior), dianterior
acetabulum(dislokasi anterior), dan caput femur menembus
acetabulum(dislokasi sentra)
g. Dislokasi patella
Dislokasi patella paling sering terjadi kearah lateral. Reduksi
dicapai dengan memberikan tekanan kearah medial pada sisi lateral
patella sambil mengekstensikan lutut perlahan-lahan. Apabila dislokasi
dilakukan berulang-ulang diperlukan stabilisasi secara bedah. Dislokasi
biasanya sering dikaitkan dengan patah tulang/fraktur yang disebabkan
oleh berpindahnya ujung tulang yang patah oleh karena kuatnya trauma,
tonus/kontraksi otot dan tarikan.
E. Manifestasi Klinis
1. Adanya bengkak / oedema
2. Mengalami keterbatasan gerak

10
3. Adanya spasme otot(kekauan otot)
4. Nyeri lokal (khususnya pada saat menggerakkan sendi)
5. Pembengkakan dan rasa hangat akibat inflamasi
6. Gangguan mobilitas akibat rasa nyeri
7. Perubahan warna kulit akibat ekstravasasi darah ke dalam jaringan
sekitarnya (tampak kemerahan).
8. Perubahan kontur sendi
9. Perubahan panjang ekstremitas
10. Kehilangan mobilitas normal
11. Perubahan sumbu tulang yang mengalami dislokasi
F. Patofisiologi
Penyebab terjadinya dislokasi sendi ada tiga hal yaitu karena kelainan
congenital yang mengakibatkan kekenduran pada ligamen sehingga terjadi
penurunan stabilitas sendi. Dari adanya traumatic akibat dari gerakan yang
berlebih pada sendi dan dari patologik karena adanya penyakit yang akhirnya
terjadi perubahan struktur sendi. Dari 3 hal tersebut, menyebabkan dislokasi
sendi. Dislokasi mengakibatkan timbulnya trauma jaringan dan tulang,
penyempitan pembuluh darah, perubahan panjang ekstremitas sehingga
terjadi perubahan struktur. Dan yang terakhir terjadi kekakuan pada sendi.
Dari dislokasi sendi, perlu dilakukan adanya reposisi.
Adanya tekanan eksternal yang berlebih menyebabkan suatu masalah
yang disebut dengan dislokasi yang terutama terjadi pada ligamen. Ligamen
akan mengalami kerusakan serabut dari rusaknya serabut yang ringan maupun
total ligamen akan mengalami robek dan ligamen yang robek akan kehilangan
kemampuan stabilitasnya. Hal tersebut akan membuat pembuluh darah akan
terputus dan terjadilah edema. Sendi mengalami nyeri dan gerakan sendi
terasa sangat nyeri. Derajat disabilitas dan nyeri terus meningkat selama 2
sampai 3 jam setelah cedera akibat membengkak dan pendarahan yang terjadi
maka menimbulkan masalah yang disebut dengan dislokasi.

11
G. Pathway
Etiologi

Cedera olahraga Trauma


kecelakaan

Terlepasnya kompresi jar. Tulang dari kesatuan sendi

Merusak struktur sendi, ligamen

Kompresi jaringan tulang yg terdorong ke depan

Merobek kapsul/menyebabkan tepi glenoid teravulsi

Ligamen memberikan jalan

Tlg. Berpindah dari posisi yg normal

dislokasi

radang Cedera jar.lunak ekstremitas

Ketidakmampuan Spasme otot Hambatan


mobilitas fisik
mengunyah

Ketidak seimbangan Nyeri akut


nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

12
H. Komplikasi
Komplikasi dislokasi meliputi :
a. Komplikasi dini
 Cedera saraf : saraf aksila dapat cedera. Pasien tidak dapat
mengerutkan oto deltoid dan mungkin terdapat daerah kecil yang mati
rasa pada otot tersebut.
 Cedera pembuluh darah : arteri aksilla dapat rusak
 Fraktur dislokasi
 Kerusakan arteri
Pecahnya arteri karena trauma dapat ditandai dengan tidak adanya
nadi,CRT(capillary refill time) menurun,sianosis pada bagian
distal,hematoma melebar,dan dingin pada ekstremitas yang
disebabkan oleh tindakan darurat spilinting,perubahan posisi pada
yang sakit,tindakan reduksi,dan pembedahan.
b. Sindrome kompartemen
Sindrom kompartemen merupakan komplikasi serius yang terjadi
karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam
jaringan parut. Hal ini disebabkan oleh edema atau perdarahan yang
menentukan otot, saraf dan pembuluh darah, atau karena tekanan dari
luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat.
c. Komplikasi lanjut
d. Kekakuan sendi bahu
Immobilisasi yang lama dapat mengakibatkan kekakuan sendi bahu.
Terjadinya kehilangan rotasi lateral, yang secara otomatis membatasi
abduksi.
e. Kelemahan otot.
f. Dislokasi yang berulang
Terjadi kalau labrum glenoid robek atau kapsul terlepas dari bagian
depan leher glenoid.

13
I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan keperawatan
a. Penatalaksanaan keperawatan dapat dilakukan dengan RICE.
 R: Rest = Diistirahatkan adalah pertolongan pertama yang penting
untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.
 I : Ice = Terapi dingin, gunanya mengurangi pendarahan dan
meredakan rasa nyeri.
 C: Compression = Membalut gunanya membantu mengurangi
pembengkakan jaringan dan pendarahan lebih lanjut.
 E: Elevasi = Peninggian daerah cedera gunanya mengurangi oedema
(pembengkakan) dan rasa nyeri.
b. Terapi dingin
Cara pemberian terapi dingin sebagai berikut :
1) Kompres dingin
Teknik : potongan es dimasukkan dalam kantong yang tidak
tembus air lalu kompreskan pada bagian yang cedera. Lamanya :
dua puluh – tiga puluh menit dengan interval kira-kira sepuluh
menit.
2) Massage es
Tekniknya dengan menggosok-gosokkan es yang telah
dibungkus dengan lama lima - tujuh menit, dapat diulang dengan
tenggang waktu sepuluh menit.
3) Pencelupan atau perendaman
Tekniknya yaitu memasukkan tubuh atau bagian tubuh
kedalam bak air dingin yang dicampur dengan es. Lamanya
sepuluh – dua puluh menit.
4) Semprot dingin
Tekniknya dengan menyemprotkan kloretil atau
fluorimethane ke bagian tubuh yang cedera.

14
c. Latihan ROM
Tidak dilakukan latihan pada saat terjadi nyeri hebat dan
perdarahan, latihan pelan-pelan dimulai setelah 7-10 hari tergantung
jaringan yang sakit.
Penatalaksanaan medis : Farmakologi
d. Analgetik
Analgetik biasanya digunakan untuk klien yang mengalami nyeri.
Berikut contoh obat analgetik :
1) Aspirin:
Kandungan : Asetosal 500mg ; Indikasi : nyeri otot ; Dosis dewasa
1tablet atau 3tablet perhari, anak > 5tahun setengah sampai 1tablet,
maksimum 1 ½ sampai 3tablet perhari.
2) Bimastan :
Kandungan : Asam Mefenamat 250mg perkapsul, 500mg perkaplet ;
Indikasi : nyeri persendian, nyeri otot ; Kontra indikasi : hipersensitif,
tungkak lambung, asma, dan ginjal ; efeksamping : mual muntah,
agranulositosis, aeukopenia ; Dosis: dewasa awal 500mg lalu 250mg
tiap 6jam.
3) Pemberian kodein atau obat analgetik lain (jika cedera berat).

15
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
a. Pengkajian primer
1) Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan
sekret akibat kelemahan reflek batuk.
2) Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya
pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar
ronchi /aspirasi
3) Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap
lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit
dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.
b. Pengkajian sekunder
1) Aktivitas/istirahat
a) Kehilangan fungsi pada bagian yang terkena
b) Keterbatasan mobilitas
2) Sirkulasi
a) Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
b) Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
c) Tachikardi
d) Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
e) Capilary refil melambat
f) Pucat pada bagian yang terkena
g) Masa hematoma pada sisi cedera
3) Neurosensori
a) Kesemutan
b) Kelemahan

16
c) Deformitas lokal, agulasi abnormal, pemendekan, rotasi, krepitasi
(bunyi berderit), spasme otot, terlihat kelemahan / hilang fungsi.
d) Agitasi (mungkin berhubungan dengan nyeri / anxietas
4) Kenyamanan
a) Nyeri hebat tiba-tiba pada saat cedera (mungkin terlokalisasi pada
area jaringan / kerusakan tulang, dapat berkurang deengan
imobilisasi) tak ada nyeri akibat keruisakan syaraf.
b) Spasme / kram otot (setelah immobilisasi).
5) Keamanan
a) laserasi kulit’
b) perdarahan
c) perubahan warna
d) pembengkakan local
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema, cedera pada jaringan lunak, pemasangan alat / traksi.
2. Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan fraktur terbuka :
bedah permukaan ; pemasangan kawat, perubahan sensasi, sirkulasi,
akumulasi eksresi atau sekret / immobilisasi fisik.
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera jaringan sekitar
fraktur dan kerusakan rangka neuromuskuler.
4. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan
dengan aliran darah; cedera vaskuler langsung, edema berlebih,
hipovolemik dan pembentukan trombus.
5. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer,
kerusakan kulit dan trauma jaringan.
Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan kurang informasi, salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber
informasi.

17
C. Intervensi Keperawatan
6. Nyeri (akut) berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema, cedera pada jaringan lunak, pemasangan alat / traksi.
Tujuan : Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan.
Kriteria Hasil :
1) Klien menyatakan nyeri berkurang.
2) Klien menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas
terapetik sesuai indikasi untuk situasi individual.
3) Edema berkurang / hilang.
4) Tekanan darah normal.
5) Tidak ada peningkatan nadi dan pernapasan.
Intervensi :
1) Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya, dan intensitas (skala
0 – 10). Perhatikan petunjuk verbal dan non-verbal
Rasional : Membantu dalam mengidentifikasi derajat
ketidaknyamanan dan kebutuhan untuk / keefektifan analgesic.
2) Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring,
gips, pembebat, dan traksi.
Rasional : Meminimalkan nyeri dan menvegah kesalahan posisi
tulang / tegangan jaringan yang cedera.
3) Tinggikan dan sokong ekstremitas yang terkena.
Rasional : Menurunkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan
rasa nyeri
4) Bantu pasien dalam melakukan gerakan pasif/aktif.
Rasional : Mempertahankan kekuatan / mobilisasi otot yang sakit
dan memudahkan resolusi inflamasi otot yang sakit dan
memudahkan resolusi inflamasi pada jaringan yang terkena.
5) Berikan alternatif tindakan kenyamanan (massage, perubahan
posisi).
Rasional : Meningkatkan sirkulasi umum menurunkan area tekanan
lokal dan kelelahan otot.

18
6) Dorong penggunaan teknik manajemen stress, contohnya relaksasi
progresif, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi dan sentuhan
terapeutik.
Rasional : Meningkatkan sirkulasi umum, mengurangi area tekanan
dan kelelahan. otot.
7) Lakukan kompres dingin/es selama 24-48 jam pertama dan sesuai
indikasi.
Rasional : Menurunkan udema/ pembentukan hematoma,
menurunkan sensasi nyeri.
8) Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik.
Rasional : Diberikan untuk mengurangi nyeri dan spasme otot.
7. Kerusakan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan fraktur terbuka :
bedah permukaan ; pemasangan kawat, perubahan sensasi, sirkulasi,
akumulasi eksresi atau sekret / immobilisasi fisik.
Tujuan : Kerusakan integritas jaringan dapat diatasi.
Kriteria Hasil :
1) Penyembuhan luka sesuai waktu.
2) Tidak ada laserasi, integritas kulit baik.
Intervensi :
1) Kaji kulit untuk luka terbuka, kemerahan, perdarahan, perubahan
warna.
Rasional : Memberikan informasi gangguan sirkulasi kulit dan
masalah-masalah yang mungkin disebabkan oleh penggunaan traksi,
terbentuknya edema.
2) Massage kulit dan tempat yang menonjol, pertahankan tempat tidur
yang kering dan bebas kerutan.
Rasional : Menurunkan tekanan pada area yang peka dan resiko
abrasi/kerusakan kulit.
3) Rubah posisi selang seling sesuai indikasi.
Rasional: :
Mengurangi penekanan yang terus-menerus pada posisi tertentu.

19
4) Gunakan bed matres / air matres.
Rasional : Mencegah perlukaan setiap anggota tubuh dan untuk
anggota tubuh yang kurang gerak efektif untuk mencegah penurunan
sirkulasi.
8. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan cedera jaringan sekitar
fraktur dan kerusakan rangka neuromuskuler.
Tujuan : Kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang.
Kriteria Hasil :
1) Klien akan meningkat/ mempertahankan mobilitas pada tingkat
kenyamanan yang lebih tinggi.
2) Klien mempertahankan posisi /fungsional.
3) Klien meningkatkan kekuatan /fungsi yang sakit dan mengkompensasi
bagian tubuh.
4) Klien menunjukkan teknik yang mampu melakukan aktifitas.
Intervensi :
1) Kaji derajat imobilitas yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan
perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi.
Rasional : Mengetahui persepsi diri pasien mengenai keterbatasan
fisik aktual, mendapatkan informasi dan menentukan informasi dalam
meningkatkan kemajuan kesehatan pasien.
2) Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik/rekreasi dan pertahankan
rangsang lingkungan.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi,
memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol diri dan
membantu menurunkan isolasi sosial.
3) Instruksikan dan bantu pasien dalam rentang gerak aktif/pasif pada
ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit.
Rasional : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk
meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi, mencegah
kontraktur/atrofi dan respon kalsium karena tidak digunakan.

20
4) Tempatkan dalam posisi telentang secara periodik bila mungkin, bila
traksi digunakan untuk menstabilkan fraktur tungkai bawah.
Rasional : Menurunkan resiko kontraktur fleksi panggul.
5) Bantu/dorong perawatan diri/kebersihan (contoh mandi dan
mencukur).
Rasional : Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan
kontrol pasien dalam situasi dan meningkatkan kesehatan diri
langsung.
6) Berikan/bantu dalm mobilisasi dengan kursi roda, kruk dan tongkat
sesegera mungkin. Instruksikan keamanan dalam menggunakan alat
mobilisasi.
Rasional : Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring
(contoh flebitis) dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi
fungsi organ.
7) Awasi TD dengan melakukan aktivitas dan perhatikan keluhan pusing.
Rasional : Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah
baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus.
8) Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk/napas
dalam.
Rasional : Mencegah/menurunkan insiden komplikasi
kulit/pernapasan (contoh dekubitus, atelektasis dan pneumonia).
9) Auskultasi bising usus.
Rasional : Tirah baring, pengguanaan analgetik dan perubahan dalam
kebiasaan diet dapat memperlambat peristaltik dan menghasilkan
konstipasi.
10) Dorong penigkatan masukan cairan sanpai 2000-3000 ml/hari.
Rasional : Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resiko infeksi
urinarius, pembentukan batu dan konstipasi.
11) Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan atau rehabilitasi spesialis.
Rasional : Berguna dalan membuat aktivitas individual/program
latihan.

21
9. Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan
dengan aliran darah; cedera vaskuler langsung, edema berlebih,
hipovolemik dan pembentukan trombus.
Tujuan : Disfungsi neurovaskuler perifer tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
1) Mempertahankan perfusi jaringan yang ditandai dengan terabanya
pulsasi.
2) Kulit hangat dan kering.
3) Perabaan normal.
4) Tanda vital stabil.
5) Urine output yang adekuat
Intervensi :
1) Kaji kembalinya kapiler, warna kulit dan kehangatan bagian distal dari
fraktur.
Rasional : Pulsasi perifer, kembalinya perifer, warna kulit dan rasa
dapat normal terjadi dengan adanya syndrome comfartemen syndrome
karena sirkulasi permukaan sering kali tidak sesuai.
2) Kaji status neuromuskuler, catat perubahan motorik / fungsi sensorik.
Rasional : Lemahnya rasa/kebal, meningkatnya penyebaran rasa sakit
terjadi ketika sirkulasi ke saraf tidak adekuat atau adanya trauma pada
syaraf.
3) Kaji kemampuan dorso fleksi jari-jari kaki.
Rasional : Panjang dan posisi syaraf peritoneal meningkatkan resiko
terjadinya injuri dengan adanya fraktur di kaki, edema/comfartemen
syndrome/malposisi dari peralatan traksi.
4) Monitor posisi / lokasi ring penyangga bidai.
Rasional : Peralatan traksi dapat menekan pembuluh darah/syaraf,
khususnya di aksila dapat menyebabkan iskemik dan luka permanen.
5) Monitor vital sign, pertahanan tanda-tanda pucat/cyanosis umum, kulit
dingin, perubahan mental.

22
Rasional : In adekuat volume sirkulasi akan mempengaruhi sistem
perfusi jaringan.
6) Pertahankan elevasi dari ekstremitas yang cedera jika tidak
kontraindikasidengan adanya compartemen syndrome.
Rasional : Mencegah aliran vena / mengurangi edema.
10. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer,
kerusakan kulit dan trauma jaringan.
Tujuan : Resiko infeksi tidak terjadi dan tidak menjadi actual.
Kriteria Hasil :
1) Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu.
2) Bebas drainase purulen, eritema dan demam.
3) Tidak ada tanda-tanda infeksi.
Intervensi :
1) Inspeksi kulit untuk mengetahui adanya iritasi atau robekan
kontinuitas.
Rasional : Pen atau kawat yang dipasang masuik melalui kulit dapat
memungkinkan terjadinya infeksi tulang.
2) Kaji sisi pen/kulit perhatikan keluhan peningkatan nyeri/rasa terbakar
atau adanya edema, eritema, drainase/bau tak enak.
Rasional : Dapat mengindikasi timbulnya infeksi lokal/nekrosis
jaringan dan dapat menimbulkan osteomielitis.
3) Berikan perawatan pen/kawat steril sesuai protokol dan latihan
mencuci tangan.
Rasional : Dapat mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan
infeksi.
4) Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna
kulit kecoklatan, bau drainase yang tak enak/asam.
Rasional : Tanda perkiraan infeksi gangren.
5) Kaji tonus otot, refleks tendon dalam dan kemampuan untuk
berbicara.
Rasional :

23
Kekakuan otot, spasme tonik otot rahang dan disfagia menunjukkan
terjadinya tetanus.
6) Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan oedema
lokal/eritema ektremitas cedera.
Rasional : Dapat mengindikasikan terjadinya osteomielitis.
7) Lakukan prosedur isolasi.
Rasional : Adanya drainase purulen akan memerlukan kewaspadaan
luka/linen untuk mencegah kontaminasi silang.
8) Berikan obat sesuai indikasi seperti antibiotik IV/topikal dan Tetanus
toksoid.
Rasional : Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaktik
atau dapat ditujukan pada mikroorganisme khusus.
11. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang informasi, salah interpretasi informasi, tidak
mengenal sumber informasi.
Tujuan : Pemahaman dan pengetahuan klien dan keluarga bertambah.
Kriteria Hasil :
1) Menyatakan pehaman kondisi, prognosis dan pengobatan.
2) Melakukan dengan benar prosedur yang diperlukan dan menjelaskan
alasan tindakan.
Intervensi :
1) Kaji ulang patologi, prognosis dan harapan yang akan datang.
Rasional : Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat
membuat pilihan informasi.
2) Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai instruksi dengan
terapis fisik bila diindikasikan.
Rasional : Banyak fraktur memerlukan gips, bebat atau penjepit
selama proses penyembuhan. Kerusakan lanjut dan pelambatan
penyembuhan dapat terjadi sekunder terhadap ketidaktepatan
pengguanaan alat ambulasi.

24
3) Buat daftar aktivitas dimana pasien dapat melakukannya secara
mandiri dan yang memerlukan bantuan.
Rasional : Penyusunan aktivitas sekitar kebutuhan dan yang
memerlukan bantuan.
4) Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif untuk sendi di atas dab
di bawah fraktur.
Rasional : Mencegah kekakuan sendi, kontraktur dan kelelahan otot,
meningkatkan kembalinya aktivitas sehari-hari secara dini.
5) Diskusikan pentingnya perjanjian evaluasi klinis.
Rasional : Penyembuhan fraktur memerlukan waktu tahunan untuk
sembuh lengkap dan kerja sama pasien dalam program pengobatan
membantu untuk penyatuan yang tepat dari tulang.
6) Informasikan pasien bahwa otot dapat tampak lembek dan atrofi
(massa otot kurang). Anjurkan untuk memberikan sokongan pada
sendi di atas dan di bawah bagian yang sakit dan gunakan alat bantu
mobilitas, contoh verban elastis, bebat, penahan, kruk, walker atau
tongkat.
Rasional : Kekuatan otot akan menurun dan rasa sakit yang baru dan
nyeri sementara sekunder terhadap kehilangan dukungan.

25
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengurus
pergerakan. Komponen utama sistem meskuloskeletal adalah jaringan ikat.
Sitem ini terdiri atas tulang, sendi, otot rangka, tendon, ligamen, dan jaringan
khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini. Dislokasi merupakan
keadaan ruptura total atau parsial pada ligamen penyangga yang mengelilingi
sebuah sendi. Biasanya kondisi ini terjadi sesudah gerakan memuntuir yang
tajam (Kowalak, 2011).
Ada beberapa penyebab dislokasi antara lain : Umur , terjatuh atau
kecelakan, pukulan Tidak melakukan pemanasan, benturan keras pada sendi,
cedera olahraga, terjatuh dan kongenital. Dsilokasi memiliki beberapa jenis
yaitu : dislokasi kongenital, dislokasi patologik dan dislokasi traumatic.
Berdasarkan tipe kliniknya dibagi sebagai berikut: dislokasi akut dan dislokasi
berulang. Berdasarkan tempat terjadinya dibagi menjadi : dislokasi sendi
rahang , dislokasi sendi bahu, dislokasi sendi siku, dislokasi sendi jari,
dislokasi sendi metacarpophalangeal dan interphalangeal, dislokasi panggul
dan dislokasi patella.
Beberapa manifestasi klinis pada dislokasi antara lain : adanya bengkak /
oedema, mengalami keterbatasan gerak, adanya spasme otot(kekauan otot),
nyeri lokal (khususnya pada saat menggerakkan sendi), pembengkakan dan
rasa hangat akibat inflamasi, gangguan mobilitas akibat rasa nyeri , perubahan
warna kulit akibat ekstravasasi darah ke dalam jaringan sekitarnya (tampak
kemerahan), perubahan kontur sendi, perubahan panjang ekstremitas,
kehilangan mobilitas normal dan perubahan sumbu tulang yang mengalami
dislokasi. Penyebab terjadinya dislokasi sendi ada tiga hal yaitu karena
kelainan congenital yang mengakibatkan kekenduran pada ligamen sehingga
terjadi penurunan stabilitas sendi Penatalaksanaan keperawatan
Penatalaksanaan keperawatan dapat dilakukan dengan RICE, terapi dingin,
massage es, latihan ROM dan terapi medis yaitu pemberian analgetik

26
B. Saran
Penanganan yang cepat dan tepat terhadap kasus dislokasi yang terjadi
keadaan gawat darurat akan meringankan cedera atau bahkan akan
menghindari kecatatan yang terjadi pada pasien yang mengalami dislokasi.
Oleh karena itu seorang tenaga kesehatan harus mampu dan dapat melakukan
penanganan yang baik dan benar terhadap kasus dislokasi.

27
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah,edisi 8, Jakarta : EGC, 2002
Carpenito, L.J & Moyet. (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 10.
Jakarta: EGC.
Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta.
EGC
Mansyur arif, dkk (2000). Kapita Selekta Kedokteran Edisi III jilid II. Penerbit
Buku Aesculapius Fakultas Kedokteran IV, Jakarta
NANDA NIC NOC International. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC, 2013
Arif Muttaqin. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskululoskeletal.
Jakarta : EGC, 2008
Price, Sylvia A. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi
6. Volume 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi
8 vol 3. Jakarta: EGC