Anda di halaman 1dari 21

PERCOBAAN 6

SISTEM RESPIRASI
Disusun oleh :
Anita Yulianti Kartini 3311171004
Neni Juantini 3311171005
Fithriyani Azhari 3311171006
Nur Ulfa Hasanah 3311171007
Reza Ramdani 3311171017
Tiara Damara Kartikasari 3311171043

Farmasi A 2017
Kelompok 2
Jam Praktikum 13.00-15.50
Asisten Pembimbing : Suci Nar Vikasari, S.Si., M.Si., Apt

LABORATORIUM FARMAKOLOGI

PROGRAM STUDI SARJANA

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI

CIMAHI

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Prinsip Percobaan


1. Berdasarkan fungsi sistem respirasi
2. Berdasarkan struktur sistem respirasi
3. Berdasarkan obat yang bekerja untuk sistem respirasi

1.2. Tujuan Percobaan


1. Mengenal organ-organ yang terlibat dalam system respirasi
2. Mengenal cara kerja sistem respirasi
3. Mengenal ciri dang fungsi masing-masing
4. Mengenal penyakit yang dapat terjadi di saluran respirasi
5. Mengenal obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit
sistem respirasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Respirasi adalah suatu proses pertukaran gas oksigen (O2) dari udara oleh
organisme hidup yang digunakan untuk serangkaian metabolisme yang akan
menghasilkan karbondioksida (CO2) yang harus dikeluarkan karena tidak
dibutuhkan oleh tubuh. Setiap makhluk hidup melakukan pernapasan untuk
memperoleh oksigen O2 yang digunakan untuk pembakaran zat makanan di
dalam sel-sel tubuh. Alat pernapasan setiap makhluk hidup tidaklah sama, pada
hewan invertebrata memilki alat pernapasan dan mekanisme pernapasan yang
berbeda dengan hewan vertebrata. (Waluyo,2010:219)

Pernapasan ialah mengambil oksigen dari udara dan mengantarkannya ke


jaringan. Oksigen itu dipakai untuk oksidasi glukosa, sehingga keluar energi
dalam ikatan fosfat (ATP). Ada makhluk yang tak membutuhkan oksigen dari
udara sebagai oksidator, disebut bernapas secara anaerobis(tanpa udara).
Sedangkan makhluk yang membutuhkan oksigen sebagai oksidator zat makanan
untuk memnghasilkan energi disebut bernapas secara aerobis (dengan udara).
Sesungguhnya kedua cara bernapas itu bisa terjadi dalam satu individ, seperti
terdapat pada hewan tinggi (Mamalia). Jika oksigen kurang atau tak ada, jaringan
dapat bernapas secara anaerobis. Reaksi kimia yang terjadi pada saat makanan itu
itu disebut reaksi Embden-Meyerhorf, dan ATP yang terjadi jauh lebih sedikit
dibandingkan dengan yang terjadi kalau bernapas secara aerobis.
(Yatim,1987:223).

Sistem Pernapasan Pada Manusia

Organ-organ pernapasan yang dimilki oleh manusia meliputi semua struktur yang
menghubungkan udara dari dan ke paru-paru. Organ tersebut antara lain :

a. Hidung

Hidung terdiri dari lubang hidung, rongga hidung dan ujung rongga hidung.
Rongga hidung banyak memiliki kapiler darah dan selalu lembab dengan adanya
lendir yang dihasilkan oleh mukosa. Di dalam hidung udara disaring dari benda-
benda asing yang tidak berupa gas agar tidak masuk ke paru-paru.

b. Faring
Faring merupakan ruang di belakang rongga hidung yang merupakan jalan
masuknya udara dari rongga hidung. Pada ruang tersebut terdapat kleb(epiglotis)
yang berfungsi mengatur pergantian perjalanan udara pernapasan dan makanan.

c. Laring

Laring / pangkal batang tenggorokan / kotak suara. Laring terdiri atas tulang
rawan yaitu jakun, epiglotis, tulang rawan penutup dan tulang rawan trikoid
(cincin stempel) yang letaknya paling bawah. Pita suara terletak di dinding laring
bagian dalam.

d. Trakea

Trakea atau batang tenggorokan merupakan pita yang tersusun atas otot polos dan
tulang rawan yang berbentuk huruf C”pada jarak yang sangat teratur. Dinding
trakea tersusun atas tiga lapisan jaringan epitel yang dapat menghasilkan lendir
yang berguna untuk menangkap dan mengembalikan benda-benda asing kehulu
saluran pernapasan sebelum masuk ke paru-paru bersama udara pernapasan.

e. Bronkus

Merupakan batang cabang tenggorokan yang jumlahnya sepasang, yang satu


menuju ke paru-paru kiri dan yang satunya menuju ke paru-paru kanan. Dinding
bronkus terdiri atas lapisan jaringan ikat, lapisan jaringan epitel, otot polos dan
cincin tulang rawan. Kedudukan bronkus yang menuju ke kiri lebih mendatar
daripada ke kanan. Hal ini merupakan salah satu sebab mengapa paru-paru kanan
lebih mudah terserang penyakit.

f. Bronkiolus

Bronkiolus merupakan cabang dari bronkus, dindingnya lebih tipis. Bronkeolus


bercabang-cabang menjadi bagian yang lebih halus.

g. Alveolus

Saluran akhir dari saluran pernapasan yang berupa gelembung-gelembung udara.


Dinding alveolus sangat tipis setebal selapis sel, lembab dan berdekatan dengan
kapiler-kapiler darah. Adanya alveolus memungkinkan terjadinya luasnya daerah
permukaan yang berperan penting dalam pertukaran gas. Pada bagian alveolus
inilah terjadi pertukaran gas-gas O2 dari udara bebas ke sel-sel darah sedangkan
pertukaran CO2 dari sel-sel tubuh ke udara bebas.

h. Paru-paru
Paru-paru terletak dalam rongga dada dibatasi oleh otot dada dan tulang rusuk,
pada bagian bawah dibatasi oleh otot diafragma yang kuat. Paru-paru merupakan
himpunan dari bronkeolus, saccus alveoris dan alveolus. Diantara selaput dan paru
- paru terdapat cairan limfa yang berfungsi untuk melindungi paru-paru pada saat
mengembang dan mengempis. Mengembang dan mengempisnya paru-paru
disebabkan karena adanya perubahan tekanan rongga dada. Paru-paru kanan
berlobus tiga dan bronkus kanan bercabang tiga. Paru-paru kiri berlobus dua dan
bronkus kiri bercabang dua serta posisinya mendatar. Paru-paru dibungkus oleh
lapisan pleura yang berfungsi menghindari gesekan saat bernafas.
(Waluyo,2010:235).

Paru berada dalam kantung jaringan pengikat yang tipis, pleura. Selaput yang
menyelaputi paru langsung disebut visceral pleura(pleura dalam), sedangkan yang
menyelaputi rongga dada sebelah ke tulang rusuk disebut parietal pleura(pleura
luar). Rongga antara kedua selaput ini berupa sebuah kantung disebut rongga
pleura, berisi cairan tubuh. Rongga dada dipisahkan dari rongga perut oleh
diafragma. Dalam rongga dada terdapat jantung dan paru bersama tenggorok,
rongkongan dan pembuluh darah. Diafragma itu selain mengandung penerusan
selaput dalam rongga tubuh juga mengandung otot lurik. Di bagian tengah terdiri
dari jaringan pengikat dan di pinggiran dan yang melekatkannyake dinding tubuh
berotot. (Yatim,1987:233).

Mekanisme pernapasan manusia

Pernapasan pada manusia dapat digolongankan menjadi 2 yaitu :

a. Pernapasan dada

Pada pernapasan dada otot yang berperan penting adalah otot antar tulang rusuk.
Otot tulang rusuk dapat dibedakan menjadi dua yaitu otot tulang rusuk luar yang
berfungsi menurunkan atau mengembalikan tulang rususk ke posisi semula. Bila
otot tulang antar rusuk luar berkontraksi maka tulang rusuk akan terangkat
sehingga volume dada bertambah besar. Bertambah besarnya akan menyebabkan
tekanan dalam rongga dada lebih kecil daripada tekanan luar rongga dada. Karena
tekanan udara kecil pada rongga dada menyebabkan aliran udara mengalir dari
luar tubuh dan masuk ke dalam tubuh, prosesini disebut proses ‘inspirasi’.
Sedangkan pada proses ekspirasi terjadi apabila kontraksi dari otot dalam, tulang
rusuk kembali ke posisi semula dan menyebabkan tekanan udara di dalam tubuh
meningkat. Sehingga udara dalam paru-paru tertekan dalam rongga dada dan
aliran udara terdorong ke luar tubuh, proses ini disebut ekspirasi’.

b. Pernapasan perut
Pada pernapasan ini otot yang berperan aktif adalah otot diafragma dan otot
dinding rongga perut. Bila otot diafragma berkontraksi, posisi diafragma akan
mendatar. Hal ini menyebabkan volume rongga dada bertambah besar sehingga
tekanan udaranya semakin kecil. Penurunan tekanan udara menyebabkan
mengembangnya paru-paru, sehingga udara mengalir masuk ke paru-paru
(inspirasi). Bila otot diafragma bereaksi dan otot dinding perut berkontraksi, isi
rongga perut akan mendesak ke diafragma sehingga diafragma cekung ke arah
rongga dada. Sehingga volume rongg dada mengecil dan tekanannya meningkat.
Meningkatnya tekanan rongga dada menyebabkan isi rongga paru-paru terdesak
ke luar dan terjadilah proses ekspresi. (Waluyo,2010:239).

Volume udara pernapasan

Secara garis besar volume udara pernapasan dapat dibedakan menjadi 6 yaitu:

a. Volume tidal (tidal volume)

Volume udara pernapasan (inspirasi) biasa, yang besarnya 500 cc atau 500 ml.

b. Volume cadangan inspirasi / udara komplementer

Volume udara yang masih dapat dimasukkan secara maksimal setelah bernafas
(inspirasi) biasa, yang besarnya 1500 cc atau 1500 ml.

c. Volume cadangan ekspirasi / udara suplementer

Volume udara yang masih dapat dikeluarkan secara maksimal setelah


mengeluarkan nafas (ekspirasi) biasa, yang besarnya 1500 cc atau 1500 ml.

d. Volume sisa / residu

Volume udara yang masih tersisa dalam paru-paru setelah mengeluarkan nafas
(ekspirasi) maksimal, yang besarnya 1000 cc atau 1000 ml.

e. Kapasitas vital(vital cavasity)

Volume udara yang dapat dikeluarkan semaksimal mungkin setelah melakukan


inspirasi semaksimal mungkin juga, yang besarnya 3500 cc atau 3500 ml.

Jadi, kapasitas vital = V tidal + V cadangan inspirasi + V cadangan ekspirasi.

f. Volume total paru-paru(total lung volume)

Volume udara yang dapat ditampung paru-paru semaksimal mungkin, yang


besarnya 4500 cc atau 4500 ml. (Waluyo,2010:241).
Volume dan kapasitas seluruh paru pada wanita kira-kira 20 sampai 25 persen
lebih kecil daripada pria dan lebih besar lagi pada orang yang atletis dan bertubuh
besar daripada orang yang bertubuh kecil.(Guyton,2007:500)

Metode sederhana untuk mempelajari ventilasi paru adalah dengan mencatat


volume udara yang masuk dan keluar paru-paru, suatu proses yang disebut
spirometer. Spirometer ini terdiri dari sebuah drum yang di balikkan di atas bak
airdan drum tersebut diimbangi oleh suatu beban. Dalam drum terdapat gas untuk
bernapas, biasanya udara atau oksigen dan sebuah pipa yang menghubungkan
mulut dengan ruang gas. Apabila seseorang bernapas dari dan ke dalam ruang ini,
drum akan naik turun dan terjadi perekaman yang sesuai di atas gulungan kertas
yang berputar. (Guyton,2007:499).

Frekuensi pernapasan

Gerakan pernapasan diatur oleh pusat pengendali di otak, sedangkan aktifitas saraf
pernapasan dirangsang oleh stimulus dari karbondioksida (CO2). Pada umumnya
manusia mampu bernapas 15 – 18 kali tiap menitnya. Cepat atau lambatnya
bernapas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Faktor umur

Semakin bertambah usia seseorang, maka semakin rendah frekuensi


pernapasannya.

b. Jenis kelamin

Laki-laki umumnya bernapas lebih pelan daripada perempuan ini dikarenakan


volume paru-paru laki-laki lebih besar daripada perempuan. Namun kadar O2
yang dibutuhkan oleh laki-laki lebih besar daripada perempuan, itu karena pada
umumnya liki-laki lebih banyak bergerak daripada perempuan.

c. Suhu tubuh

Hal ini berhubungan dengan proses metabolisme tubuh, semakin tinggi suhu
tubuhnya semakin tinggi pula frekuensi pernapasannya.

d. Posisi tubuh

Pada saat berdiri frekuensi pernapasan lebih besar, karena energi yang digunakan
untuk menopang tubuh lebih banyak. Pada posisi duduk, frekuensi pernapasan
lebih menurun, karena energi yang digunakan untuk menyangga tubuh merata
oleh tubuh.

e. Kegiatan tubuh
Orang yang banyak melakukan kegiatan frekuensi pernapasannya akan meningkat
karena akan lebih banyak memerlukan energi. Dibandingkan dengan orang yang
melakukan sedikit kegiatan, jelas frekuensi pernapasannya akan lebih rendah
karena lebih sedikit memerlukan energi. (Waluyo,2010:242).

Setelah bekerja berat seperti berlari atau olahraga, maka laju pernapasan akan
lebih cepat. Pada saat menghembuskan nafas sejumlah CO2 dilepaskan.
(Waluyo,1993:44).
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
1. Stetoskop
2. Alat pengukur / meteran
3. Stopwatch / jam
4. Spirometer

3.1.2 Bahan
1. Model / gambar anatomi paru-paru
2. Atlas / gambar sistem pernafasan
3. Buku referensi
4. Tissue

3.2 Prosedur Percobaan


3.2.1 Anatomi
1. diperhatikan gambar pada model / atlas dan dilengkapi label yang
terdapat pada gambar di modul
2. diidentifikasi trachea, lobus atas, lobus bawah, bronchus dan laring
3. digunakan text book sebagai referensi.

3.2.2 Fisiologi
A. Bunyi pernafasan
1. ditempatkan stetoskop pada beberapa posisi di punggung dan
didengarkan buyi pernafasan masing-masing
2. dihitung frekuensinya permenit dan dicatat hasilnya
B. Pengukuran kapasitas paru-paru dan volme paru-paru
1. dibersihkan mouthpiece dari spirometer dengan alkohol 70%
sebelum digunakan dan dipastikan jarum penunjuk pada angka
nol
2. diusahakan udara yang keluar hanya dari mulut, ditutup lubang
hidung jika diperlukan
3. dilakukan inhalasi normal lalu diekshalasikan secara normal ke
dalam spirometer, diulangi dan dirata-ratakan hasilnya
4. volume yang didapat adalah volume tidal (TV)
5. dilakukan inhalasi normal. Dengan perlahan diekshalasikan
secara normal ke udara bebas, kemudian diekshalasikan ke dalam
spirometer sedalam mungkin sebanyak volume udara yang
terdapat dalam paru-paru
6. diulangi sebanyak 3 kali dan dihitung rata-ratanya sebagai
volume ekspirasi cadangan (ERV)
7. dilakukan inspirasi sedalam mungkin, lalu iekshalasikan total
kedalam spirometer.
8. diulangi sebanyak 3 kali dan dihitung rata-ratanya sebagai
kapasitas total (VC)
9. dihitung volume inspirasi cadangan (IRV) dengan rumus
sebagai berikut :
IRV = VC – (TV + ERV)
10. dihitung nilai rata-rata kelompok masing-masing untuk kapasitas
paru-paru dan volume paru-paru
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Data hasil pengukuran kapasitas paru-paru dan volume paru-paru
Nama Volume pernafasan (L)
Anggota Volume Tidal (TV) Volume Ekspirasi Kapasitas Vitas Vol. Insp
Kelompok Cadangan (ERV) (VC) Cadangan
(IRV)
I II III I II III I II III
Reza 900 600 400 1000 1200 900 2600 2800 3600 1333
633 (rata-rata) 1033 (rata-rata) 3000 (rata-rata)
Tiara 500 600 500 900 800 700 2800 2400 2800 1332
533 (rata-rata) 800 (rata-rata) 2400 (rata-rata)
Neni 800 1000 800 1500 1500 2100 2000 2000 2000 566
866 (rata-rata) 1700 (rata-rata) 2000 (rata-rata)
Anita 500 800 600 900 1400 1000 2500 2500 2500 767
633 (rata-rata) 1100 (rata-rata) 2500 (rata-rata)
Ulfa 500 800 700 900 1000 800 2200 2400 2400 767
666 (rata-rata) 900 (rata-rata) 2333 (rata-rata)
Fithriyani 1800 1400 1600 600 1400 1400 2600 2500 2550 183
1600 (rata-rata) 1133 (rata-rata) 2550 (rata-rata)

4.1.2 Obat yang bekerja pada sistem respirasi

Nama Nama obat Mekanisme kerja Bentuk Cara


penyakit sediaan penggunaan
Batuk Alpara - Paracetamol sebagai analgetik Kaplet Oral
kering (Paracetamol, antipiretik 3x sehari 1
Phenibropanolamin - Phenilpropanolamin sebagai kaplet
, CTM, DMP) dekongestan
- CTM sebagai antihistamin
- DMP sebagai antitusif
Actifed Syr - Meringankan gejala yang Syrup Oral
(Tripolidin HCL menyebabkan secara
Pseudoefedrin, keseluruhan maupun
DMP) tergantung pada pelepasan
histamin
Batuk OBH (Succus - Amonium Klorida sebagai Syrup Oral
berdahak Liquirite Amonium diuretic lemah yang 3x sehari
klorida) meningkatkan sekresi dahak 15mL
- Succus Liquirite sebagai
pereda batuk
Nama Nama obat Mekanisme kerja Bentuk Cara
penyakit sediaan penggunaan
Ambroxol HCL 30 - Sebagai mokolitik yaitu Tablet Oral
mg mengencerkan lender dengan 2-3 tablet
memecah ikatan asam sehari
mukopolisakarida pada lendir
Glyceril - Sebagai ekspektorant Tablet Oral
Gualacolate 100mg membantu mengeluarkan 200-400
dahak mg/hari
WOOD’S - Bromhexine sebagai mukolitik Syrup Oral
Ekspectorant yaitu pengencer dahak 3x sehari 10
Peppermint - Guaiafenesin sebagai mL
(Bromhexin HCl, ekspetoran yang mengeluarkan
Guaiafenesin) dahak

Asma Salbutamol 4mg - Agonis reseptor B2-adrenergik Tablet Oral


untuk mengurangi serangan 3-4x sehari
asma secara tiba-tiba I tablet
Atharol Syrup - Agonis reseptor B2 untuk Syrup Oral
(salbutamol) produksi AMP yang
disebabkan terjadinya relaksasi
otot bronkus
Ventolin Inhaler - Agonis adrenoreseptor B2, Inhaler Dihirup
(salbutamol) kerja pendek bronkodilatasi
Seretide - Menghambat respon fase awal Inhaler Oral
(Salmeterol, dan akhir untuk allergen
Xinapate
Fluticasone
Propionate)
ISPA Rifampisin 600 mg - Menghambat pertumbuan Tablet Oral
bakteri dengan menghambat 8-12 mg/kg
sintesis pada tahap transkripsi BB per hari
(bakteri TBC)
Rhinitis Alpara - Paracetamol sebagai analgetik Kaplet Oral
alergi (Paracetamol, antipiretik 3x sehari 1
Phenipropanolamin - Phenipropanolamin sebagai kaplet
, Chloropheniramin dekongestan
maleat, - Chloropheniramin maleat
Dertometrophan sebagaiantihistamin
HBr) - Dextromrthropan HBr sebagai
antitusif
4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengukuran kapasitas paru-paru dan volume paru-paru

Pada praktikum kali ini, kami melakukan percobaan respirasi, dimana


pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui volume cadagan inspirasi melalui
perhitungan volume tidal, volume cadangan inspirasi dan volume kapasitas total
paru-paru.

Respirasi adalah proses pertukaran oksigen dan karbondioksida. Udara


masuk kedalam paru-paru melalui inspirasi dan di keluarkan melalui ekspirasi.
Otot yang membantu proses inspirasi adalah diafragma dan interkostal eksternal
dan internal. Selama inspirasi, kontraksi diagfragma ke arah bawah meningkatkan
volume rongga toraks, meyebabkan udara masuk kedalam paru-paru dengan
cepat. Otot interkostalis eksterna membantu inspirasi dengan cara menggerakan
tulang iga ke atas. Selama ekspirasi, diafragma mengalami relaksasi bergerak
menuju/melawan paru-paru, mengurangi volume rongga toraks dan memaksa
udara keluar dari paru-paru. Secara bersamaan interkostalis, menurunkan tulang
iga membantu ekspirasi.

Kapasitas vital paru-paru adalah volume udara maksimal yang dapatmasuk


dan keluar paru-paru selama sistem pernafasan manusia. Dimana kita bernafas
sekuat-kuatnya dan di keluarkan sebanyak-banyaknya. Volume kapasitas vital
kira-kira 4600 mL.

Volume cadangan ekspirasi ( Expiratory Reseve Volume = ERV ) adalah


jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan dengan berekspirasi sekuat-kuatnya
(maksimum) pada saat akhir ekspirasi normal, biasanya volume ini kira-kira 1100
mL. Dimana pada proses ini pada akhir pengeluaran nafas normal, udara di
dorong sekuat-kuatnya keluar paru-paru.

Volume cadangan inspirasi ( Inspiratory Reseve Volume = IRV ) adlah


volume ekstra udara yang masih dapat dihirup setelah inspirasi normal sebagai
volume udara tambahan terhadap volume tidal dan biasaya volume udara tersebut
kira-kira 3000 mL.

Volume tidal ( Tidal Volume= TV ) adalah volume udara waktu inspirasi


atau ekspirasi normal dan volume nya kira-kira 500 mL. Volume residu ( Residu
Volume = RV ) adalah volume udara yang masih tinggal di dalam paru-paru
setelah melakukan respirasi maksimum. Volume residu rata-rata adalah 1200 mL.

Pada saat praktikum setelah perhitungan volume cadangan inspirasi


dengan rumus IRV = CV- ( TV+ ERV ).
Volume cadangan inspirasi lebih besar pada laki-laki daripada perempuan,
hal ini di sebabkan karena laki-laki memiliki dada yang lebih bidang sehingga
paru-paru lebih bebas mengembang memenuhi rongga dada.

4.2.2 Obat yang bekerja pada system respirasi

a. Batuk Kering

Batuk adalah respon alami dari tubuh sebagai system pertahanan saluran
napas jika terdapat gangguan dari luar. Respom ini berfungsi membersihkan
lender atau factor penyebab iritasi atau bahan iritan (seperti debu atau asap) agar
keluar dari paru-paru. Batuk kering dikenal dengan istilah batuk nonproduktif
karena batuk ini tidak disertai dengan dahak.

Penyebab batuk : infeksi saluran pernafasan akibat virus adlah penyebab


utama pada sebagian besar pengidap. di samping itu, ada beberapa penyebab
batuk lain diantaranya :

• Penyakit jangka panjang yang kambuh, misalnya asma, penyakit paru


obstruktif kronik (PPOK), atau bronchitis kronis.

• Rhinitis alergi, misalnya alergi tehadap serbuk sari (hay fever).

• GERD. Penyakit inni menyebabkan asam lambung berkumpul pada


esophagus dan memicu batuk.

• Cairan dari hidung yang menetes ke tenggorokan.

• Merokok atau menggunakan tembakau dengan cara lain.

• Paparan debu, asap, serta senyawa kimia.

Obat yang digunkan untuk menyembuhkan batuk kering diantaranya :

1. Alpara
Zat aktif: Paracetamol, Phenibropanolamin, CTM, DMP
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Kaplet, oral 3x sehari 1 kaplet
Mekanisme kerja: Paracetamol sebagai analgetik antipiretik,
Phenilpropanolamin sebagai dekongestan, CTM sebagai antihistamin,
DMP sebagai antitusif

2. Actifed Syrup
Zat aktif: Tripolidin HCL Pseudoefedrin, DMP\
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Syrup, oral
Mekanisme kerja: Meringankan gejala yang menyebabkan secara
keseluruhan maupun tergantung pada pelepasan histamin

b. Batuk berdahak

Batuk berdahak dikenal dengan istilah batuk produktif karena batuk ini
disertai dengan meningkatnya produksi lendir atau dahak di tenggorokan.

Obat yang digunakan untuk menyembuhkan batuk berdahak diantaranya :

1. OBH
Zat aktif: Succus Liquirite Amonium klorida
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Syrup, oral 3x sehari 15mL
Mekanisme kerja: Amonium Klorida sebagai diuretic lemah yang
meningkatkan sekresi dahak, Succus Liquirite sebagai pereda batuk

2. Ambroxol HCL 30 mg
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Tablet, oral 2-3 tablet sehari
Mekanisme kerja: Sebagai mokolitik yaitu mengencerkan lender dengan
memecah ikatan asam mukopolisakarida pada lendir

3. Glyceril Gualacolate 100mg


Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Tablet , oral 200-400 mg/hari
Mekanisme kerja: Sebagai ekspektorant membantu mengeluarkan dahak

4. WOOD’S Ekspectorant Peppermint


Zat aktif: Bromhexin HCl, Guaiafenesin
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Syrup, oral 3x sehari 10 mL
Mekanisme kerja: Bromhexine sebagai mukolitik yaitu pengencer dahak,
Guaiafenesin sebagai ekspetoran yang mengeluarkan dahak

Perbedaan Mukolitik, Ekspetoran, dan Antitusif:

Mukolitik: Obat yang bekerja dengan cara mengencerkan sekret saluran


pernafasan dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan
mukopolisakarida dari sputum (Estuningtyas, 2008). Agen mukolitik
berfungsi dengan cara mengubah viskositas sputum melalui aksi kimia
langsung pada ikatan komponen mukoprotein. Agen mukolitik yang
terdapat di pasaran adalah bromheksin, ambroksol, dan asetilsistein.

Ekspetoran: Obat yang dapat merangsang pengeluaran dahak dari saluran


pernafasan (ekspektorasi). Penggunaan ekspektoran ini didasarkan
pengalaman empiris. Tidak ada data yang membuktikan efektivitas
ekspektoran dengan dosis yang umum digunakan. Mekanisme kerjanya
diduga berdasarkan stimulasi mukosa lambung dan selanjutnya secara
refleks merangsang sekresi kelenjar saluran pernafasan lewat nervus
vagus, sehingga menurunkan viskositas dan mempermudah
pengeluaran dahak. Obat yang termasuk golongan ini ialah ammonium
klorida dan gliseril guaiakoiat.

Antitusif: Obat yang menekan refleks batuk, digunakan pada gangguan saluran
nafas yang tidak produktif dan batuk akibat teriritasi. Secara umum
berdasarkan tempat kerja obat antitusif dibagi atas antitusif yang
bekerja di perifer dan antitusif yang berkerja di sentral. Antitusif yang
bekerja di sentral dibagi atas golongan narkotik dan non-narkotik.

Antitusif terdapat pada obat batuk kering, sedangkan mukolitik dan


ekspetoran terdapat pada obat batuk berdahak.

c. Asma

Asma adalah jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran
pernapasan yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas
yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas.
Patofisiologi asma : asma biasanya dimediasi oleh immunoglobulin E
(IgE) dan dipicu oleh respon alergi terhadap alergen. IgE dibentuk dalam
menanggapi paparan alergen seperti serbuk sari atau hewan bulu. Sensitisasi
terjadi pada paparan pertama yang menghasilkan antibody IgE , alergen tertentu
yang menempel pada permukaan sel mast. Setelah paparan berikutnya, alergen
menempel pada permukaan antiboi IgE, alergen tertentu hadir pada permukaan sel
mast. Menyebabkan pelepasan mediator inflamasi seperti leukotrien, histamine
dan prostaglandin sehingga menyebabkan bronkospasme dan memicu serangan
asma.
Obat yang digunakan untuk menyembuhkan asma diantaranya :
1. Salbutamol 4mg
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Tablet, oral 3-4x sehari 1 tablet
Mekanisme kerja: Agonis reseptor B2-adrenergik untuk mengurangi
serangan asma secara tiba-tiba.

2. Atharol Syrup
Zat aktif: Salbutamol
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Syrup, oral
Mekanisme kerja: Agonis reseptor B2 untuk produksi AMP yang
disebabkan terjadinya relaksasi otot bronkus .

3. Ventolin Inhaler
Zat aktif: Salbutamol
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Inhaler, dihirup
Mekanisme kerja: Agonis adrenoreseptor B2, kerja pendek bronkodilatasi

4. Seretide
Zat aktif: Salmeterol, Xinapate Fluticasone Propionate
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Inhaler, oral
Mekanisme kerja: Menghambat respon fase awal dan akhir untuk allergen
Obat-obat asma bekerja secara agonis adrenergic atau bekerja pada system
saraf simpatik khususnya pada reseptor beta2 (B2) yang menyebabkan
vasodilatasi bronkus / bronkusdilatasi.

d. ISPA
Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus
dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan
menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke atas
mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks spasmus oleh
laring. Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan epitel dan lapisan
mukosa saluran pernafasan.
Obat yang digunkan untuk menyembuhkan rhinitis alergi diantaranya :
1. Rifampsin 600 mg
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Tablet, oral 8-12 mg/kg BB per hari
Mekanisme kerja: Menghambat pertumbuhan bakteri dengan menghambat
sintesis pada tahap transkripsi (bakteri TBC)
Obat rifampisin dikhususkan untuk mengahambat pertumbuhan bakteri
TBC, seperti yang diketahui diatas bahwa penyebab penyakit ISPA yang
salahsatunya adalah TBC disebabkan oleh bakteri/virus tertentu.

e. Rhinitis alergi
Rhinitis alergi merupakan suatu kumpulan gejala kelainan hidung yang
disebabkan proses inflamasi yang diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE) akibat
paparan alergen pada mukosa hidung. Gejala rinitis alergi meliputi hidung gatal,
bersin berulang, cairan hidung yang jernih dan hidung tersumbat yang bersifat
hilang timbul atau reversibel, secara spontan atau dengan pengobatan. Rhinitis
alergi melibatkan radang selaput lendir hidung, mata, tabung eustachius, telinga
tengah, sinus, dan faring. Hidung selalu terlibat, dan organ-organ lain yang
terpengaruh pada individu tertentu. Radang selaput lendir ditandai dengan
interaksi yang kompleks dari mediator inflamasi tapi akhirnya dipicu oleh
imunoglobulin E (IgE) respon -dimediasi ke protein ekstrinsik.
Obat yang digunkan untuk menyembuhkan rhinitis alergi diantaranya :
1. Alpara
Zat aktif: Paracetamol, Phenipropanolamin, Chloropheniramin maleat,
Dertometrophan HBr
Bentuk sediaan dan cara penggunaan: Kaplet, oral 3x sehari 1 kaplet
Mekanisme kerja: Paracetamol sebagai analgetik antipiretik,
Phenipropanolamin sebagai dekongestan, Chloropheniramin maleat
sebagai antihistamin, Dextromrthropan HBr sebagai antitusif.

Dekongestan membantu mengurangi pembengkakan dan mempersempit


kembali pembuluh-pembuluh darah yang melebar. Pembuluh darah yang terdapat
dalam membran rongga hidung akan melebar ketika kontak dengan virus atau
allergen. Pembuluh darah yang melebar ini juga akan diiringi dengan produksi
cairan dan lendir. Lendir yang berlebih akan memenuhi jalan napas sehingga
mengakibatkan kesulitan bernapas. Dekongestan menyebabkan saluran udara
menjadi terbuka dan terbebas dari sumbatan lender. Sedangan antihistamin
diberikan untuk menghambat pelepasan histamine, histamine dalah antibodi yang
ketika dilepaskan cenderung membuat pembuluh darah kecil di mata, hidung, dan
kulit menjadi melebar. Akibatnya, muncul berbagai gejala seperti kulit merah dan
gatal, pilek, bersin, serta mata merah dan berair.
BAB V
KESIMPULAN
Respirasi merupakan suatu proses pertukaran gas oksigen (O2) dari udara
oleh organisme hidup yang digunakan untuk serangkaian metabolisme yang akan
menghasilkan karbondioksida (CO2) yang harus dikeluarkan karena tidak
dibutuhkan oleh tubuh. Kapasitas paru-paru setiap orang berbeda-beda, yang
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat menambah atau mengurangi
besarnya kapsitas vital paru-paru, seperti :perbedaan jenis kelamin, saat sesudah
dan sebelum melakukaan aktivitas, dan lain-lain. Ada beberapa istilah dalam
volume respirasi, yaitu: Volume Tidal (TV), Volume Ekspirasi Cadangan (ERV),
Kapasitas Vital (VC) dan Volume Inspirasi Cadangan (IRV).

Jika salah satu bagian dari organ respirasi bermasalah, secara otomatis
sistem respirasi pun akan terganggu. Banyak beberapa penyebab terjadinya
gangguan seperti yang disebabkan karna Infeksi virus (ISPA), gangguan dari
luar seperti zat atau partikel asing (Batuk), reaksi alergi yang disebabkan akibat
paparan alergen pada mukosa hidung (Rhinitis Alergi), dan kelainan penyempitan
saluran napas (Asma), dan lain-lain. Mengingat fungsinya yang vital bagi
kelangsungan dan kualitas hidup, setiap orang hendaknya menjaga kesehatan
saluran pernapasannya dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Guyton, Arthur C dan John. E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi
11. Jakarta : EGC.
Waluyo, Joko. 1993. Petunjuk Praktikum Biologi Umum. Jember : unej.
Waluyo, Joko. 2010. Biologi Umum. Jember : unej.
Yatim, Wildan. 1987. Biologi. Bandung : Tarsito.
LAMPIRAN