Anda di halaman 1dari 2

Imunisasi Pasif : kekebalan yang didapat dari pemindahan antibody dari suatu individu ke individu

lainnya

•Imunisasi Pasif Alami= Terjadi pada bayi dalam kandungan, Antibody ibu masuk ke dalam tubuh
bayi melalui plasenta dan ASI pertama

•Imunisasi Pasif Buatan= Kekebalan yang diperoleh dengan memasukkan antibody /serum yang
telah kebal penyakit yang dilakukan melalui suntikan

Imunisasi Aktif : Diperoleh karena tubuh secara aktif membuat antibody sendiri

*Imunisasi Aktif Alami = Kekebalan yang diperoleh seseorang setelah sembuh dari sakit tertentu

*Imunisasi Aktif Buatan = Imunisasi merupakan pemberian mikroorganisme yang telah mati atau
dilemahkan ke dalam tubuh manusia supaya tubuh membentuk antibody

Cth imun nonSpesifik Fisik: kulit, selaput lendir, batuk, bersin

Larutan: asam lambung, cairan vagina, saliva, air mata

Sel: monosit, basofil, neutrofil, eosinofil, makrofag

Sel T (T limfosit) membentuk sistem imunitas terhadap infeksi bakteri, virus, jamur, sel kanker, serta
timbulnya alergi. Sel T ini mengalami pematangan di glandula timus dan bekerja secara fagositosis.
Namun T limfosit tidak menghasilkan antibodi. T limfosit secara langsung dapat menyerang sel
penghasil antigen. Sel T kadang ikut membantu produksi antibodi oleh sel B.

Sel B (B limfosit) membentuk sistem imunitas humoral, yaitu imunitas dengan cara membentuk
antibodi yang berada di darah dan limfa. Sel B berfungsi secara spesifik mengenali antigen asing
serta berperan membentuk kekebalan terhadap infeksi bakteri, seperti Streptococcus,
Meningococcus, virus campak, dan Poliomeilitis. Antibodi ini kemudian melekat pada antigen dan
melumpuhkannya. Sel B ini juga mampu membentuk sel pengingat (memory cell). Sel ini berfungsi
untuk membentuk kekebalan tubuh dalam jangka panjang.

MCH:Jadi respons sel T diawasi secara genetik sehingga dapat dimengerti bahwa akan terdapat
potensi variasi respons imun. Secara klinis terlihat juga bahwa penyakit tertentu terdapat lebih
sering pada HLA tertentu, seperti spondilitis ankilosing terdapat pada individu dengan HLA-B27.

Non MCH:Secara klinis kita melihat adanya defisiensi imun yang berkaitan dengan gen tertentu,
misalnya agamaglobulinemia tipe Bruton yang terangkai dengan kromosom X yang hanya terdapat
pada anak laki-laki.

Misalnya vaksin polio oral akan menimbulkan imunitas lokal di samping sistemik, sedangkan vaksin
polio parenteral akan memberikan imunitas sistemik saja

Dosis yang terlalu tinggi akan menghambat respons imun yang diharapkan, sedangkan dosis terlalu
rendah tidak merangsang sel imunokompeten. Dosis yang tepat dapat diketahui dari hasil uji coba,
karena itu dosis vaksin harus sesuai dengan dosis yang direkomendasikan
Sebagaimana telah kita ketahui, respons imun sekunder menyebabkan sel efektor aktif lebih cepat,
lebih tinggi produksinya, dan afinitasnya lebih tinggi. Di samping frekuensi, jarak pemberian pun
akan mempengaruhi respons imun yang terjadi. Bila vaksin berikutnya diberikan pada saat kadar
antibodi spesifik masih tinggi, maka antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibodi spesifik
tersebut sehingga tidak sempat merangsang sel imunokompeten, bahkan dapat terjadi apa yang
dinamakan reaksi Arthus yaitu bengkak kemerahan di daerah suntikan antigen akibat pembentukan
kompleks antigen-antibodi lokal sehingga terjadi peradangan lokal. Oleh sebab itu, pemberian ulang
(booster) sebaiknya mengikuti apa yang dianjurkan sesuai dengan hasil uji coba

Ajuvan adalah zat yang secara nonspesifik dapat meningkatkan respons imun terhadap antigen.
Ajuvan akan meningkatkan respons imun dengan cara mempertahankan antigen pada tempat
suntikan, dan mengaktivasi sel APC untuk memproses antigen secara efektif dan memproduksi
interleukin yang akan mengaktifkan sel imunokompeten lainnya.