Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN 1

MANAJEMEN PEMELIHARAAN AYAM PETELUR


DI PT. ROSA POULTRY FARM SLEMAN YOGYAKARTA

INDAH ANNISA PUTRI BARUS

RAHMAH DWI SARASWATI

SWASASI SOFI MAKARIM

NURAISYAH

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN TERNAK


SEKOLAH VOKASI
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Manajemen Pemeliharaan Ayam Petelur di PT. Rosa


Poultry Farm Yogyakarta
Nama / NIM : Indah Annisa Putri Barus J3I117006
Rahmah Dwi Saraswati J3I817167
Swasasi Sofi Makarim J3I117100
Nuraisyah J3I117018
Program Keahlian : Teknologi dan Manajemen Ternak

Diketahui oleh, Disetujui oleh,

Yuni Resti, SPt, MSi Gilang Ayuningtyas, SPt, MSi


Ketua Program Studi Pembimbing
PRAKATA

Puji dan syukur penyusun ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas berkat rahmat dan hidayah-Nya, penyusun dapat menyelesaikan pembuatan
Proposal Praktik Kerja Lapangan yang berjudul “Manajemen Pemeliharaan Ayam
Petelur di PT. Rosa Poultry Farm, Sleman, Yogyakarta”.
Proposal ini merupakan salah satu syarat untuk melaksanakan Kegiatan
Praktik Kerja Lapangan yang akan diselenggarakan oleh Program Keahlian
Teknologi dan Manajemen Ternak, Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Koordinator Program Keahlian
dan dosen pembimbing yang memberikan pengarahan kepada kami dalam
menyelesaikan proposal perencanaan Praktik Kerja Lapangan. Penyusun
mengucapkan terima kasih kepada pimpinan PT. Rosa Poultry Farm telah
memberikan izin untuk pelaksanaan PKL 1 ini.
Semoga kami dapat menambah pengetahuan, ketrampilan dan menerapkan
ilmu yang kami dapatkan selama melaksankan PKL 1. Sekian kami ucapkan
terima kasih.

Bogor, 23 Juni 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

PRAKATA i
DAFTAR ISI ii
1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Tujuan 1
2 TINJAUAN PUSTAKA 2
2.1 Ayam Petelur 2
2.2 Manajemen Kandang 2
2.3 Fase Fisiologi Ayam Petelur 3
2.4 Manajemen Kesehatan 4
2.5 Manajemem Pakan dan Minum 4
2.6 Tatalaksana Pemeliharaan 5
3 METODELOGI 7
3.1 Waktu dan Tempat 7
3.2 Metode Pelaksanaan 7
3.3 Metode Pengamatan dan Pengumpulan Data 7
3.2.1 Sarana Produksi 7
3.2.2 Pemeliharaan Ayam Petelur 7
3.2.3 Pemasaran 7
3.2.4 Penanganan Limbah dan Sanitasi 8
3.2.5 Hasil Pemeliharaan Ayam Petelur Periode Layer 8
4 RENCANA KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN 9
TATA TERTIB 9
DAFTAR PUSTAKA 10
LAMPIRAN 11

ii
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Ayam petelur merupakan salah satu ternak unggas yang cukup potensial di
Indonesia. Ayam petelur dibudidayakan khusus untuk menghasilkan telur secara
komersial. Saat ini terdapat 2 kelompok ayam petelur yaitu tipe ayam medium dan
tipe ringan. Tipe medium umumnya bertelur dengan kerabang coklat sedangkan
tipe ringan bertelur dengan kerabang putih (Nort dan Bell, 1990).
Usaha sekror peternakan ayam petelur merupakan bidang usaha yang
memberikan peranan sangat besar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani
dan berbagai keperluan industri. Protein yang terdapat dalam telur memiliki fungsi
yang penting dalam kehidupan sehari-hari manusia karena mengandung berbagai
asam amino yang diperlukan untuk kebutuhan pertumbuhan dan kecerdasan
manusia.
Ayam petelur yang sering dikenal adalah strain ayam yang mampu bertelur
sebanyak 300 butir lebih per tahunnya. Ayam-ayam itu pada dasarnya ayam ras
yang merupakan ayam hasil perkawinan silang (silang dalam maupun silang luar)
antara berbagai bangsa ayam hutan. Ayam hutan merah (Galus-galus bankiva),
ayam hutan ceton (Galus lafayetti), ayam hutan abu-abu (Galus soneratti), dan
ayam hutan hijau (Galus varius, Galus javanicus), (Zainal Abidin, 2003).
Untuk memenuhi kebutuhan telur tersebut maka diperlukan peningkatan
jumlah produksi telur dari peternakan ayam pertahunya. Manajemen pemeliharaan
yang baik merupakan salah satu upaya untul meningkatkan produksi ayam petelur.
PT. Rosa Poultry Farm merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam
budidaya ayam petelur di Indonesia. Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan
bertujuan untuk mengetahui manajemen pemeliharaan ayam petelur yang berada
di PT. Rosa Poultry Farm.

1.2 Tujuan
Tujuan praktik kerja lapangan ini adalah sebagai tempat mahasiswa belajar
dan berlatih untuk menambah wawasan dan menerapkan ilmu yang sudah
dipelajari di kampus dengan ilmu di lapangan serta bertambahnya keterampilan
dan pengalaman kerja dibidang peternakan khususnya manajemen pemeriharaan
ayam petelur di PT. Rosa Poultry Farm.

1
2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ayam Petelur


Tipe ayam petelur ada dua, yaitu tipe ringan dan tipe sedang. Ayam tipe
medium di kembangkan untuk produksi telur dan di ambil dagingnya sehingga
ayam ini memiliki bobot lebih berat dari pada ayam tipe ringan (Rasyaf, 1994).
Tipe medium umumnya bertelur dengan kerabang coklat sedangkan tipe ringan
bertelur degan kerabang putih (North dan Bell, 1990).

Strain ayam petelur ras yang dikembangkan di Indonesia antara lain Isa
brown, Hysex Brown dan Hyline Lohman (Rahayu dkk., 2011). Ayam petelur ras
dengan strain Lohmann Brown cepat dalam mencapai dewasa kelamin yaitu pana
umur 18 minggu, sehingga 50% produksi dapat dicapai pada umur 140-150 hari
(Dirgahayu dkk., 2016). Ayam petelur memiliki ciri-ciri antara lain bersifat
mudah terkejut, tidak memiliki sifat mengeram, bentuk tubuh ramping, cupig
berwarna putih, Produksi telur tinggi antaa 300 butir/ekor/tahun dan efesien dalam
mengubah pakan menjadi telur (Suprijatna dkk., 2005).

2.2 Manajemen Kandang


Secara makro kandang berfungsi sebagai tempat tinggal ternak agar
terhindar dari pengaruh cuaca buruk (hujan, panas, dan dingin), hewan buas dan
pencurian. Secara makro kandang berfungsi sebagai tempat untuk menyediakan
lingkungan yang nyaman agar terhindar dari stress sehingga kesehatan ternak
dapat terjaga dan produksi dapat maksimal (Suprijatno dan Atmomarsono, 2005).

Prinsip dasar pembuatan kandang ayam petelur yang harus diperhatikan


untuk menghadapi beberapa perubahan lingkungan di lapangan. Beberapa prinsip
dasar tersebut antara lain sirkulasi udara di peternakan, kandang cukup sinar
matahari pagi dan jangan sampai terkena sinar matahari sepanjang masa.
Permukaan lahan peternakan, sebaiknya kandang di bangun dengan sistim terbuka
agar hembusan angim memberikan kesegaran dalam kandang (Rasyaf, 1994).

Kandang sebaiknya dibuat dengan sistem dinding terbuka agar hembusan


angin dapat masuk dengan leluasa karena hembusan angina yang cukup akan
mengurangi udara panas dalam kandang (Priyatno, 2004). Kandang pemeliharaan
menggunakan sistem batteray, yaitu kandang berbentuk sangkar yang disusun
berderet, setiap ruangan kandang hanya dapat menampung satu-dua ekor ayam
(Priyatno, 1994)

2
2.3 Fase Fisiologi Ayam Petelur
Fase starter merupakan fase pemeliharaan ayam dari umur 1 hari (DOC)
sampai umur 6-8 minggu (Kartasudjana dan Suprijatna, 2010). Pemeliharaan
fase starter perlu memperhatikan persiapan pemeliharaan, pemilihan anak
ayam, perkandangan meliputi kandang, brooder, suhu, kelembaban, kepadatan
kandang dan liter. Pencegahan penyakit perlu diperhatikan agar mendapatkan
pertumbuhan ayam yang baik dengan tingkat kematian yang rendah. Pilihlah
anak ayam yang tidak cacat, mata jernih, paruh tidak bengkok, dan berbulu
bersih (Jahya, 2004). Fase starter merupakan fase penting untuk keberlanjutan
pada fase-fase berikutnya, sebab penanganan yang salah pada fase ini akan
berdampak pada fase grower dan layer.
Fase grower dimulai saat ayam berumur 6-14 minggudan 14-20 minggu
(Kartasudjana dan Suprijatna, 2010). Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pemeliharaan ayam fase grower meliputi perkandangan,
pakan, pemotongan paruh, dan pencegahan penyakit. Sifat pertumbuhan ayam
fase grower cenderung meningkat lalu menurun. Ayam fase grower harus
dijaga pemberian pakannya, sebab pakan yang tidak dibatasi akan
menyebabkan ayam terlalu gemuk yang berdampak pada penurunan produksi
telur. Kontrol berat badan dapat dilakukan pada fase grower, bertujuan agar
mengetahui apakah bobot badan sesuai dengan standar atau tidak. Pengamatan
pada ayam juga perlu dilakukan agar mengetahui ayam dalam kondisi sehat
atau sakit (Jahya, 2004).
Fase layer, yaitu fase ayam yang sudah mulai berproduksi. Ayam
dikatakan sudah masuk fase produksi apabila dalam kandang yang berisi ayam
dengan umur yang sama tersebut produksinya telah mencapai 5%
(Kartasudjana dan Suprijatna, 2010). Tanda ayam petelur sedang produksi
dapat dilihat dari jengger yang relatif membesar dan berwarna merah, mata
yang bersinar, kloaka membersar, dan jarak ujung tulang pubis selebar 2-3 jari
tangan atau lebih. Salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam
pemeliharaan fase layer adalah program pencahayaan, sebab dapat
mempengaruhi produksi telur. Kandang untuk ayam dalam fase layer biasanya
berupa kandang baterai yaitu memudahkan dalam hal pengawasan dan
pencegahan penyakit, memudahkan proses seleksi, culling ayam yang tidak
produktif, serta kotoran yang dihasilkan langsung terkumpul dibawah kandang
(Suprijatna dkk, 2008).

3
2.4 Manajemen Kesehatan
Penyakit yang sering menyerang ayam secara umum dapat dikelompokkan
menjadi beberapa macam yaitu di sebabkan karena stress (cekaman),
defisiensi zat makanan, parasit penyakit karena protozoa, penyakit karena
bakteri, penyakit karena virus dan penyakit karena cendawan (Suprijatno dan
Atmomarsono 2005).
Penyebab penyakit biasanya berkaitan dengan stres (cekaman). Stres
disebabkan karena beberapa faktor dari lingkungan dan dari manajemen
pemeliharaan yang kurang baik. Diantara faktor penyebab stres yaitu
kedinginan, ventilasi yang buruk, populasi yang tinggi, tidak cukup pakan dan
minum dan pengobatan yang berlebihan. Apabila faktor tersebut bisa di
minimalisir maka kemungkinan stres sangat kecil (Akoso 1993). Penyakit
infeksius ada yang kontagius maupun non kontagius.
Penyakit kontagius adalah penyakit yang langsung di transmisi dari
individu atau flock kepada individu atau flock lain. Penyakit infeksius adalah
penyakit yang disebabkan oleh organisme hidup. Sebagian besar penyakit
infeksi unggas adalah kontagius, seperti penyakit karena virus, bakteri, riketsia
dan fungi. Sementara beberapa penyakit infeksi tidak kontagius seperti
aspergilosis ( Hadi S dan Setiawan 2002).

2.5 Manajemem Pakan dan Minum


Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
produktivitas ayam petelur. Pakan merupakan campuran dari beberapa bahan
pakan, baik yang sudah lengkap maupun yang masih akan dilengkapi, yang
disusun secara khusus dan mengandung zat gizi yang mencukupi kebutuhan
ternak untuk dapat dipergunakan sesuai dengan jenis ternaknya. Bahan pakan
yang digunakan untuk pembuatan pakan terdiri atas bahan pakan sumber
energi, protein, lemak, mineral, dan bahan pakan alternatif (Suci dan
Hermana, 2012). Ransum untuk ayam petelur disusun sesuai dengan
kebutuhan ayam, bentuk fisik ransum yang biasa diberikan pada ayam petelur
berupa mash, crumble dan pellet. Penyusunan ransum dapat dilakukan dengan
beberapa metode, yaitu metode bujur sangkar, metode coba-coba dan metode
komputer (Setyono dkk., 2013).
Berdasarkan jumlah kebutuhan zat-zat makanan harian dikategorikan
menjadi 3 bagian yaitun kebutuhan penggunaan tinggi (high demand uses),
kebutuhan untuk moulting sebagai kebutuhan penggunaan rendah (low
demand uses), dan pada pertumbuhan penggemukan dikelompokkan sebagai
kebutuhan penggunaan intermediet (Suprijatna, 2005). Pemberian pakan
tergantung dari fase yang dialami ayam yang terdiri dari fase starter, grower
dan layer, karena beda fase maka jumlah pakan yang diberikan juga berbeda.
Salele et al.,(2014) menyatakan bahwa pada ayam petelur ringan
mengkonsumsi pakan dengan jumlah yang sangat sedikit yaitu sekitar 80-100

4
gram/ekor/hari dengan pemberian minum secara ad libitum. Kondisi
lingkungan dengan suhu yang tinggi dapat mempengaruhi konsumsi pakan,
semakin bertambah suhu lingkungan akan menurunkan performa ayam,
sehingga dapat mempengaruhi konsumsi pakan, konsumsi air, bobot badan,
produksi telur, konversi pakan dan bobot telur. Pengaruh tersebut bisa
disebabkan oleh manajemen pakan terutama oleh imbangan energi dan protein
dalam ransum (Daghir, 2005)
Pemberian pakan sebaiknya dilakukan dua kali sehari agar lebih efisien
(Kartasudjana dan Suprijatna, 2010). Penyimpanan pakan perlu dilakukan
untuk menghindari kerusakan yang dapat disebabkan karena kerusakan fisik,
kimiawi,dan biologis. Pakan perlu dikemas untuk memudahkan distribusi
pakan. Palet merupakan alas yang terbuat dari kayu agar pakan tidak langsung
menempel pada lantai (Suci dan Hermana, 2012).

2.6 Tatalaksana Pemeliharaan


Tatalaksana pemeliharaan erat kaitannya dengan produktivitas pada ayam
petelur. Menurut (Sudarmono 2003) dalam manajemen pemeliharaan ayam ras
petelur ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu, ayam petelur harus
sehat dan tidak cacat fisiknya, pertumbuhan dan perkembangan normal, ayam
petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya, berasal dari bibit
(breeding) yang baik.
Tatalaksana pemeliharaan ayam petelur teerbagi atas berbagai fase yaitu,
fase starter, grower, dan layer. Pada pemeliharaan masa awal (starter) terdapat
schedule managemen yang harus dilaksanakan diantaranya penangan sebelum dan
sesudah unggas datang (Mufida 2012).
Fase pertumbuhan (grower) pada jenis ayam petelur yaitu antara umur 6 –
14 minggu dan antara umur 14 – 20 minggu. Namun demikian pada umur 14 – 20
minggu pertumbuhannya sudah menurun dan sering disebut dengan fase 10 fase
perkembangan (developer). Sehubungan dengan hal ini maka pemindahan dari
kandang starter ke kandang fase pertumbuhan yaitu antara umur 6 – 8 minggu
(Kartasujana dan Suprijatna 2005).
Pemeliharaan masa produksi diawali pada saat ayam telah mencapai umur
18 minggu dimana ayam sudah mencapai fase kedewasaan. Kedewasaan ayam ini
ditandai dengan suatu perubahan fisik dan perilaku yang sangat mencolok.
Perubahan fisik yang nyata, terutama terjadi pada penampilan jengger dan pial
yang nampak lebih besar, tebal dan berwarna merah, serta tubuh yang semakin
berisi diselimuti bulu yang lengkap berwarna mengkilap. Adapun perubahan
perilaku yang nyata ialah ayam mulai suka berkotek dan apabila didekati tidak
menghindar, akan tetapi justru mendekat kepada peternak, mereka semakin jinak
(Zulfikar 2009). Perubahan fisik dan perilaku semacam itu merupakan akibat atau
pengaruh dari perkembangan organ reproduksi yang semakin masak. Pada saat itu
ayam mulai berproduksi. Awal produksi sebanyak 5% ini dicapai pada saat ayam

5
umur 20-21 minggu, dan selanjutnya akan mengalami peningkatan terus sampai
puncak produksi dalam kurun waktu kurang lebih 2 bulan. Kemudian, sedikit
demi sedikit produksi mulai menurun. Selama masa produksi, tuntutan hidup
ayam berupa nutrisi, khususnya protein meningkat lebih tinggi dari pada masa
remaja. Tuntutan hidup ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan perawatan
tubuh dan berproduksi. Jika tuntutan hidup ini tidak terpenuhi, maka ayam jenis
unggul tidak akan dapat menampilkan keunggulanya. Selama masa produksi yang
berlangsung minimal 52 minggu ini, peternak harus dapat memanfaatkan peluang
tersebut, menyesuaikan dengan tuntutan hidup mereka, antara lain dengan
memberikan ransum layer dengan kandungan nutrisi yang baik (Gallu 2007).

6
3 METODELOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Praktik Kerja Lapangan dilakukan di PT. Rosa Farm Yogyakarta mulai 1
Juli 2019 sampai 18 Agustus 2019.

3.2 Metode Pelaksanaan


Metode dalam Praktik Kerja Lapangan yaitu dengan melakukan
pemeliharaan ayam petelur periode layer dan melakukan pengumpulan data.

3.3 Metode Pengamatan dan Pengumpulan Data


Metode dalam Praktik Kerja Lapangan yaitu dengan melakukan
pengumpulan data dengan cara berdiskusi, mencatat segala informasi yang ada
selama Praktik Kerja Lapangan dilakukan.
Data yang perlu diamati dengan langsung turun ke lapangan mengikuti
kegiatan yang sudah ditetapkan oleh PT. Rosa Poultry Farm Yogyakarta. Data
yang harus diamati diantaranya adalah sarana produksi, pemeliharaan ayam
petelur periode layer, pemasaran, penanganan limbah dan sanitasi.

3.2.1 Sarana Produksi


Pengumpulan data terkait sarana pemeliharaan yang ada di PT. Rosa
Poultry Farm Yogyakarta seperti, sistem perkandangan, jumlah ayam yang
dibudidaya, sumber air, sumber listrik, peralatan yang digunakan, gudang
penyimpanan pakan, tempat penampungan/pengolahan limbah, dan kendaraan
oprasional yang digunakan.

3.2.2 Pemeliharaan Ayam Petelur

3.2.3 Pemasaran
Mengetahui manajemen pemasaran yang diterapkan seperi sasaran
konsumen, jenis dan jumlah produk yang dihasilkan, rantai tataniaga dan harga
produk. Manajemen Pemasaran adalah proses penganalisaan, perencanaan,
pelaksanan dan pengawasan untuk mengukur kemajuan pencapaian pada usaha
peternakan. Sistem pemasaran dalam usaha peternakan menjadi suatu hal yang
sangat penting, karena sistem pemasaran yang baik. Akan mendapatkan hasil dari
peluang usaha yang menjanjikan.

7
3.2.4 Penanganan Limbah dan Sanitasi
Mengetahui tata cara penanganan limbah yang diterapkan pada perusahaan
peternakan. Penangan limbah adalah rangkaian konsep pengolahan dari hasil
produk sampingan menjadi sumber energi terbaru yang dapat dimanfaatkan.
Sehingga limbah yang dihasilkan tidak menyebarkan polusi yang mencemari
lingkungan.

3.2.5 Hasil Pemeliharaan Ayam Petelur Periode Layer

 FCR
𝑃𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖
𝐹𝐶𝑅 =
𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝐵𝐵)

𝑃𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑛𝑠𝑢𝑚𝑠𝑖
𝐹𝐶𝑅 =
𝑃𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑏𝑎𝑑𝑎𝑛 (𝑃𝐵𝐵)

 Han Day
Jumlah Telur
% HD = × 100%
Jumlah Ayam Pada Saat Itu
 Han House
Jumlah Telur
% HH = Jumlah Ayam Pertama Datang × 100%
 Konsumsi Pakan (gram) = Pakan yang diberikan – Sisa Pakan

 Penambahan Bobot Badan (PBB) (gram)= Bobot Badan


Akhir – Bobot .
Badan Akhir
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑎𝑦𝑎𝑚 𝑥 100%
 Keseragaman (%) = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑝𝑢𝑙𝑎𝑠𝑖
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐴𝑦𝑎𝑚 𝐴𝑓𝑘𝑖𝑟
 Deplesi (%) = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐴𝑦𝑎𝑚 𝐴𝑤𝑎𝑙 𝑥 100%

 Mortalitas
Jumlah ayam mati = Jumlah ayam masuk – Jumlah ayam tersisa
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑦𝑎𝑚 𝑚𝑎𝑡𝑖
% 𝑀𝑜𝑟𝑡𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 = × 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑦𝑎𝑚 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘
 Analisa ekonomi sederhana :
 Income over feed cost (IOFC)
𝐼𝑂𝐹𝐶 = 𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 − 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛

Ket :
Pendapatan = Jumlah ayam panen x BB x Harga Jual
Pengeluaran = biaya pakan
 Titik Impas (BEP)

8
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖
𝐵𝐸𝑃𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 =
𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 − 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖


𝐵𝐸𝑃ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖

4 RENCANA KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN


Rencana kegiatan praktik kerja lapangan yang dilakukan adalah
sebagai berikut :
1. Membantu pelaksanaan kegiatan pada perusahaan atau instansi yang
ditempati di dalam mengelola usahanya di bawah pembimbing
lapangan perusahaan.
2. Melakukan pemeliharaan ayam Petelur Periode Layer
3. Menganalisis dan menjabarkan kegiatan yang ada dengan teori yang
pernah didapatkan.
4. Mengumpulkan dan menyusun bahan atau data untuk pembuatan
laporan.
5. Membuat jurnal harian yang di tanda tangani pembimbing lapangan.

TATA TERTIB
1. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan aturan perusahaan di tempat PKL.
2. Melaksanakan kegiatan sesuai dengan yang ditugaskan.
3. Tidak melakukan kegiatan yang tidak diperbolehkan.
4. Melaksanakan kegiatan sesuai jam kerja yang sudah ditentukan.
5. Melaksanakan kegiatan khusus yang harus diselesaikan meskipun di luar
jam kerja.
6. Meminta izin apabila akan keluar dari lokasi PKL dan melapor kembali
apabila sudah kembali.
7. Tidak mengambil dan merusak barang.
8. Membawa perlengkapan pribadi.
9. Berpakaian sopan sesuai dengan ketentuan perusahaan.
10. Tidak menuntut upah atau imbalan apapun kepada pihak perusahaan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Rasyaf. 1994. Beternak Ayam Petelur .Jakarta. (ID) : Penebar Swadaya .

Suprijatna, E.,dkk. 2005. Ilmu Dasar TernakUnggas. Jakarta.(ID) : Penebar Swadaya.

Priyatno. 2004.Membuat Kandang Ayam. Jakarta. (ID): Penebar Swadaya.

Kartasujana R. Suprijatna E. 2005. Manajemen Ternak Unggas. Jakarta


(ID):Penebar Swadaya.

Abidin, Z, 2003. Meningkatkan Produktivitas Ayam Ras Petelur. Cetakan ke-1.


Agromedia Pustaka, Jakarta.
Sudarmono, A. S., 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Petelur. Yogyakarta (ID)
: Kanisius.
Gallu. 2007. Budidaya Peternakan. [internet]. [diunduh 2017 Jun 22]. Tersedia
pada :http://warintek.bantulkab.go.id.

Mufida, L.N.2012.nurlailatulmufida/2012/04/14/layer-ayam-petelur-tugas-ilmu-
peternakan-umum/.(Diakses. 4 Maret 2013).
Suci, D.M. dan Hermana, W. 2012. Pakan Ayam. Cetakan ke-1. Jakarta. Penebar
Swadaya.
Zulfikar. 2009. Penggunaan dan Pelaksanaan Vaksin yang Benar. Dinas Pertanian
dan Peternakan Kabupaten Pidie Jaya. Aceh.
Sudarmono, A. S., 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Petelur. Yogyakarta (ID)
: Kanisius.
Suprijatno dan Atmomarsono, 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Akoso, 1993.Manual Kesehatan Unggas.Yogyakarta. (ID) : Kanisius.

10
LAMPIRAN
1. Konsumsi Pakan
Hari, tanggal Pemberian (g) Sisa (g) Konsumsi (g)

2. Produksi Ayam Petelur Periode Layer

11
No Jumlah Telur
Ayam Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu
001

3. Pemberian Vaksin
Jenis Vaksin Kandungan Aplikasi Digunakan hari ke-

4. Mortalitas

12