Anda di halaman 1dari 13

A.

INTEGRASI ANTAR STAKEHOLDER DIDALAM PENGEMBANGAN


PARIWISATA DI DESA BATURITI
Peran desa di Bali dalam kaitannya dengan pengembangan pariwisata kini telah
menjadi tujuan alternatif maupun penyedia hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas
pariwisata seperti penyedia aktiivitas wisata, akomodasi maupun daya tarik wisata yang
mengakibatkan pembangunan kepariwisataan desa di Bali merupakan hal krusial yang harus
dilakukan (Merta dkk, 2018). Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) yang
dilaksanakan oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia dan peraturan daerah provinsi
bali No. 10 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Provinsi
Bali 2015-2029 merupakan dasar dari Pengembangan desa untuk tujuan wisata di bali dan juga
termasuk Desa Baturiti yang ada di Kec. Kerambitan Kab. Tabanan.

Dalam pengembangan Desa Baturiti untuk kepentingan pariwisata, memerlukan peran


berbagai stakeholder dalam pelaksanaan kegiataan mulai dari tahap perencanaan,
implementasi, pengawasan hingga pada tahap menikmati manfaat dari pariwisata tersebut.
Pengembangan desa wisata harus memasukan unsur partisipasi masyarakat lokal sebagai
stakeholder karna masyarakat lokal yang paling mengerti dan paham dengan wilayah serta
potensi apa saja yang tersedia untuk pengembangan pariwisata yang ada didalamnya. Namun,
hanya peran serta dari masyarakat lokal saja tidaklah cukup dalam pengembangan dan
pengelolaan kepariwisataan di desa, dikarenakan kemampuan SDM yang juga terbatas ketika
memulai pengembangan. Oleh karna hal tersebut, dibutuhkan kerjasama terutama dukungan
dari pemerintah sebagai regulator yang regulator yang mempersiapkan semua perangkat aturan
yang memudahkan Desa Baturiti berkembang, serta perannya sebagai fasilitator yang
menyediakan berbagai sarana prasarana yang dibutuhkan. Peran stakeholder lain juga sangat
dibutuhkan, seperti para pelaku usaha dalam ikut mempromosikan keberadaan Desa Baturiti,
para akademisi maupun perguruan tinggi yang dibutuhkan dukungannya berupa hasil riset
maupun dalam bentuk pengabdian masyarakat, serta pers sebagai media yang
mengkomunikasikan kehidupan warga desa ke publik.

Pengertian stakeholder yang diterangkan dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary


(2005), stakeholder memiliki pengertian sebagai berikut:

“A person or a company that is involve in a particular


organization, project, system, etc., especially because they have
invested money in it”
Stakeholder merupakan seseorang atau bisa juga perusahaan yang terlibat dalam suatu
organisasi, proyek ataupun sistem akibat uang yang mereka investasikan dalam organisasi,
proyek maupun sistem tersebut. Istilah stakeholder digunakan banyak untuk mengartikan para
pihak yang memiliki kepentingan dengan usaha pengembangan pariwisata disuatu lokasi
maupun kawasan. Morrison (2013) mengemukakan bahwa stakeholder merupakan.

“Any Group or Individual that can affect, or is affected by


the achievement of corporation purposes”
Definisi diatas memperjelas kedudukan kuat dari posisi stakeholder dalam
pengembangan pariwisata bahwa stakeholder mampu mempengaruhi keberhasilan
pencapaian tujuan perusahaan, sekaligus memperoleh pengaruh dari pencapaian tujuan
tersebut. Salah satu strategi yang dicanangkan pemerintah dalam pengembangan pariwisata
adalah melalui penggunaan kolaborasi Model Pentahelix antar stakeholder. Model Pentahelix
dituangkan ke dalam Peraturan Menteri (Permen) Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14
Tahun 2016 Tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan bahwa untuk menciptakan
orkestrasi dan memastikan kualitas aktivitas, fasilitas, pelayanan, dan untuk menciptakan
pengalaman dan nilai manfaat kepariwisataan agar memberikan keuntungan dan manfaat pada
masyarakat dan lingkungan, maka diperlukan pendorong sistem kepariwisataan melalui
optimasi peran bussiness, government, community, academic, and media (BGCAM).

Sebagai langkah awal pengembangan Desa Baturiti untuk tujuan wisata, Model
Pentahelix tersebut merupakan standar modal awal yang harus terpenuhi untuk diikut sertakan
dalam tahap pengembangan pertama sebelum stakeholder lainnya masuk dan berkolaborasi.
Merta, dkk (2018) melakukan penelitian tentang uraian peran strategis dari para stakeholder
pentahelix dalam pengembangan desa wisata di empat kabupaten di Bali dengan penyebaran
desa wisata yang paling banyak. Hasil dari penelitian tersebut merupakan dasar pedoman
sekaligus menjadi modal awal untuk diterapkan dalam pengembangan pariwisata di Desa
Baturiti pada tahap awal. Peran masing-masing stakeholder didalam Model Pentahelix untuk
tujuan Pengembangan Pariwisata di Desa Baturiti adalah sebagai berikut :

1. Pemerintah Sebagai Regulator, Fasilitator dan Eksekutor


Pengembangan pariwisata memerlukan arahan yang jelas agar sesuai harapan.
Arahan tersebut bisa bersumber dari kebijakan maupun peraturan, serta penegakannya
yang harus disiapkan dan dilaksanakan oleh pemerintah. Terkait pengembangan desa
baturiti untuk tujuan wisata, pemerintah kabupaten maupun pemerintah propinsi
merupakan key player atau pemain kunci yang berhak menetapkan apakah desa
baturiti akan menjadi desa wisata ataupun pariwisata pedesaan. Dalam penetapan
tersebut, pemerintah memiliki peran untuk berkolaborasi bersama akademisi untuk
melakukan analisa potensi pengembangan pariwisata di Desa Baturiti. Analisa potensi
dilakukan agar pentapan Desa Baturiti untuk kepentingan pariwisata dilakukan
berdasarkan hasil kajian potensi secara komprehensif, tidak dilakukan secara sporadis.
Hal tersebut sangat krusial, agar jangan sampai terjadi penetapan desa wisata
bersebelahan dengan daya tarik dan aktivitas wisata yang sama. Jika ini dibiarkan
terjadi, maka dengan sendirinya desa-desa wisata yang ada tidak akan memiliki ciri
khas masing-masing, padahal ciri khas sangat dibutuhkan untuk menjadi pembeda
antara satu desa wisata dengan lainnya oleh karenanya pemerintah diharapkan untuk
mengembangkan desa wisata agar benar-benar sesuai dengan potensi desa tersebut.
Selain itu, pemerintah memiliki peran dalam penyiapan perencanaan yang matang
mengenai desa wisata, yang mampu mengintegrasikan rencana kerja masyarakat di
desa wisata dengan produk perencanaan pembangunan (Rencana Pembangunan) di
tingkatan yang lebih tinggi. Salah satu kendala bagi pengembangan pariwisata
berbasis masyarakat seperti halnya desa wisata adalah bahwa seringkali masyarakat
desa yang dikembangkan tersebut tidak memiliki kemampuan/kompetensi untuk
melakukan hal tersebut. Karena itu, pendampingan sangat diperlukan untuk
meningkatkan kompetensi masyarakat dalam mengelola desanya setelah
dikembangkan sebagai desa wisata. Pemerintah dalam hal ini dinaspariwisata
kabupaten atau propinsi diharapkan mampu melaksanakan hal-hal sebagai berikut: 1).
memonitor perkembangan desa wisata yang telah ditetapkan pemerintah, 2).
melakukan analisis terhadap perkembangan desa wisata tersebut, sehingga mampu
mengetahui kebutuhan sarana prasarana wisata maupun peningkatan kapasitas
masyarakatnya, dan 3). menyiapkan pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat yang
sesuai kebutuhan. Kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat terkait desa
wisata dapat dikoordinir oleh pemerintah dengan bekerjasama dengan pihak-pihak
terkait, baik dari unsur OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait maupun dengan
pihak lainnya, seperti dengan lembaga pendidikan di bidang kepariwisataan dan
pelaku industri pariwisata seperti jasa akomodasi dan biro perjalanan
2. Masyarakat, komponen penting dalam pengembangan desa wisata di Bali
Sebagai objek sekaligus subjek dalam pengembangan desa wisata, masyarakat
diharapkan kritis dalam keinginannya untuk mengembangkan diri dan lingkungannya
sebagai desa wisata. Masyarakat harus bisa mengetahui potensi desanya, sehingga
mampu menyuarakan keinginannya serta berpartisipasi aktif dalam pengembangan
desanya menjadi desa wisata. Terkait pengembangan desa wisata di Bali, diharapkan
masyarakat tetap mengedepankan keunikan budaya Bali yang bernafaskan Agama
Hindu sebagai konsep pengembangan. Konsep konsep seperti misalnya Tri Hita
Karana,Tri Sakti dan Tri Pramana diharapkan dapat dijadikan acuan dalam
pengembanga desa wisata. Nilai nilai yang diajarkan dalam Tri Hita Karana misalnya
dapat diinterpretasikan untuk kemudian diterapkan dalam pengembangan desa wisata,
sehingga keseimbangan yang diharapkan terjadi antar manusia (warga desa,
pengunjung), antara manusia dengan lingkungan dan antara manusia dengan Tuhan
dapat terwujud. Implementasi nilai-nilai Tri Hita Karana ini juga dirasa akan mampu
membawa pengembangan desa wisata di Bali mencapai keberlanjutan, dimana secara
ekonomi, sosial-budaya dan lingkungan akan berdampakk positif bagi desa wisata
tersebut. Ketika desa dikembangkan menjadi desa wisata, maka keseluruhan
komponen desa tersebut diharapkan terlibat. Karena itu, masyarakat terlebih dahulu
perlu memantapkan komitmen, sehingga kesamaan persepsi dapat dicapai dan proses
pengembangan tidak akan terkendala oleh ketidakkompakan masyarakat di kemudian
hari. Hal ini akan dapat dicapai jika masyarakat desa di Bali yang ingin
mengembangkan desa wisata juga dapat tetap berpegang teguh terhadap nilai-nilai
yang menjadi kearifan lokal serta falsafah hidup orang Bali, yaitu ‘menyama-braya”
(konsep persaudaraan), maupun selalu bermusyawarah untuk membicarakan
masalahmasalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama (paras-paros, saguluk-
sagilik, salunglung subhayantaka).
3. Pengusaha sebagai fasilitator
Peran pengusaha yang diharapkan dalam pengembangan desa wisata adalah
dalam hal peningkatan kapasitas masyarakat sesuai bidangnya. Pengusaha di bidang
akomodasi dan perjalanan misalnya dapat memberikan pelatihan bekerjasama dengan
pemerintah terkait pengelolaan homestay. Pengusaha agen perjalanan wisata dapat
memberikan masukan kepada desa wisata megenai preferensi pengunjung desa wisata,
sehingga masyarakat di desa wisata dapat menyiapkan produk yang mampu memenuhi
kebutuhan pengnjungnya. Pengusaha usaha makanan dan minuman dapat memberikan
pelatihan menyiapkan makanan serta cara penyajiannya dan yang lainya.
4. Akademisi sebagai pendamping yang kritis dan obyektif
Pemikiran kristis akademisi diharapkan mampu melihat pengembangan desa
wisata di Bali secara obyektif. Melalui berbagai penelitian dan pengabdian masyarakat
yang dilakukan, akademisi diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai
permasalahan yang dihadapi pengembangan desa wisata, sambil terus secara aktif
mencari pemecahan (solusi) terhadap permasalahan tersebut. Akademisi juga
diharapkan selalu berbagi kisah sukses pengembangan desa wisata untuk memberikan
inspirasi bagi mahasiswa, masyarakat, maupun stakeholder lainnya dalam
mengembangkan desa wisata. Dalam bidang pengajaran, akademisi terutama dari
sekolah-sekolah pariwisata diharapkan mampu menyiapkan kurikulum untuk
mendukunng pengembangan desa wisata, ataupun mengintegrasikan desa wisata ke
dalam kurikulum perkuliahannya.
5. Kontrol dan “viralisasi” oleh Pers
Dalam pengembangan Desa Baturiti untuk tujuan pariwisata, pers diharapkan
mampu melaksanakan fungsi kontrol yang akan menyuarakan berbagai permasalahan
yang terjadi dalam pengembangan desa, serta juga kisah sukses pengembangan desa
wisata. Pers secara on-line maupun off-linejuga diharapkan mampu menyebarluaskan
keberadaan aktivitas atau kegiatan di pariwisata Desa Baturiti untuk memberikan efek
viral bagi keberadaan desa tersebut. Dengan tersebarluaskannya keberadaan desa
wisata tersebut, diharapkan tumbuh keinginan pengunjung untuk mengunjungi Desa
Baturiti dan menggunakan jasa pariwisata maupun produk pariwisata yang tersedia.

Deskripsi fungsi, aliran, dan keterkaitan masing-masing stakeholder dalam


Pengembangan parawisata di Desa Baturiti adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Hubungan Integrasi antar Stakeholder Pentahelix untuk


Pengembangan pariwisata di Desa Baturiti ( Keterangan : 1. Kebijakan, 2.
Penunjang dan Manfaat Ekonomi, 3. Pajak dan Sasaran kebijakan, 4.
Partisipasi dan Kenyamanan, 5. Saran kebijakan)
Dari Gambaran identifikasi diatas, pengembangan pariwisata di Desa baturiti lebih
tepat dilaksanakan secara lintas sektor dan mendorong keterlibatan masyarakat yang lebih
tinggi.

B. FAKTA DESKRIPSI EVALUASI DIRI (SWOT ANALYSIS)


Desa Baturiti memiliki potensi untuk diberdayakan yang nantinya dapat
dikembangkan menjadi Desa Wisata berbasis budaya dan agrowisata persawahan, sehingga
kelak akan dapat menjadi objek kunjungan wisatawan yang ingin mengetahui sejarah puri di
bali dan menikmati pemandangan sawah yang dikemas dalam produk wisata. Disamping itu
di Desa Baturiti juga terdapat dan tersebar aktivitas tracking yang dapat menjadi atraksi yang
melengkapi kawasan wisata ini nantinya. Namun untuk mengemas suatu kawasan, komoditi,
kegiatan pertanian, dan budaya menjadi suatu produk wisata, maka perlu dilakukan suatu
kajian ilmiah, menyangkut analisis potensi seperti inventarisasi objek dan atraksi, analisis
internal (faktor-faktor kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (faktor-faktor peluang dan
ancaman), selanjutnya dapat dirumuskan strategi dan program pengembangan kawasan desa
wisata berbasis budaya dan agrowisata.
pendekatan tipologi digunakan untuk menganalisa kekuatan dan kelemahan Desa
Baturiti dalam pengembangannya untuk tujuan pariwisata, kriterianya adalah: atraksi wisata,
jarak tempuh, besaran desa, sistem kepercayaan dan kemasyarakatan, serta ketersediaan
infrastruktur. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu:
1. Metode deskriptif kualitatif yaitu memberikan ulasan atau interpretasi terhadap
data dan informasi yang diperoleh, sehingga menjadi lebih bermakna dari pada
sekedar penyajian dalam bentuk angka-angka. Metode ini digunakan terhadap
hasil analisis pendekatan tipologi terhadap potensi dan hasil analisis internal-
eksternak serta hasil analisis SWOT.
2. Analisis Situasi Internal-Eksternal: mengidentifikasi situasi internal berupa
faktor-faktor kekuatan dan kelemahan dan faktor-faktor eksternal berupa peluang
dan ancaman. Identifikasi ini merupakan basis informasi untuk analisis matrik
SWOT, dengan langkahlangkah sebagai berikut:
a. Membuat daftar kekuatan internal pariwisata kawasan Desa Baturiti.
b. Membuat daftar kelemahan internal kawasan Desa Baturiti.
c. Membuat daftar peluang eksternal kawasan Desa baturiti.
d. Membuat daftar ancaman eksternal kawasan Desa Baturiti.
3. Analisis Matrik SWOT:Mengacu pendapat Rangkuti (2000), langkah-langkah
dalam merumuskan strategi pengembangan kawasan desa wisata berbasis
agrowisata melaui matriks SWOT:
a. Letakkan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan pada kolom 2 dan 3, faktor-
faktor peluang dan ancaman masing-masing pada baris 2 dan 3 pada matriks
SWOT

Gambar 2. Matriks SWOT (Diadaptasi dari Rangkuti, 2000)

b. Rumusan strategi SO (Strength – Opportunity) yang merupakan kombinasi


faktor-faktor kekuatan-peluang yang diletakkan dalam sel strategi SO
c. Rumusan strategi WO (Weakness – Opportuniy) yang merupakan kombinasi
faktorfaktor kelemahan-peluang yang diletakkan dalam sel strategi WO
d. Rumusan strategi ST (Strength – Threat) yang merupakan kombinasi faktor-
faktor kekuatan-ancaman yang diletakkan dalam sel strategi ST.
e. Rumusan strategi WT (Weakness – Threat) yang merupakan kombinasi
faktor-faktor kelemahan-ancaman yang diletakkan dalam sel strategi WT.

Berdasarkan hasil pengkajian dan observasi lapangan, dapat diidentifikasi 19 faktor


yang menjadi kekuatan dan 10 faktor yang menjadi kelemahan, 4 faktor yang menjadi peluang
dan 5 faktor yang menjadi ancaman dalam pengembangan pariwisata di Desa Baturiti. Faktor-
faktor tersebut dapat disajikan pada Tabel 1.
Tabel 2
Faktor-Faktor Internal dan Eksternal Pengembangan Pariwisata di Desa Baturiti,
Kec. Kerambitan, Kab. Tabanan
NO Faktor Internal NO Faktor Eksternal
Kekuatan / Strength (S) Peluang / Opportunity (O)
1 Sumber daya alam dan pemandangan Desa 1 Penggunaan teknologi informasi / internet
Baturiti sangat indah dan sejuk dalam memasarkan pariwisata minat
khusus yang ada di Kawasan wisata
2 Lahan subur dan iklim cocok pengenbangan 2 Adanya trend wisatawan memilih paket
padi dan beraneka rangam kebun wisata alternatif agrowisata dan ekowisata
3 Keunikan sawah yang berundak-undak 3 Adanya sejumlah kunjungan wisatawan
(terasering) domestik dan mancanegara
4 Sumber daya alam dan pemandangan Desa 4 Adanya trend masyarakat gemar pancing
Baturiti sangat lestari memancing
5 Keamanan dan kenyamanan Desa Baturiti
terjaga
6 Adanya atraksi wisata lintas alam jalan kaki
(tracking) dan lintas alam bersepeda
(ecocycling)
7 Infrastruktur jalan hotmix menghubungkan
DTW Desa Baturiti dengan DTW Jatiluwih
atau DTW spritual di Tanah Lot
8 Ketersediaan masyarakat dan tokoh-tokoh
masyarakat mendukung pengenbangan
Desa Wisata berbasis agrowisata
9 Tersedia fasilitas Vila dan restoran di
kawasan Desa Baturiti
10 Tersedianya guide lokal/penunjuk jalan
traking
11 Adanya atraksi wisata puri anyar
kerambitan
12 Adanya atraksi wisata puri agung
kerambitan
13 Adanya atraksi wisata royal puri wedding
14 Adanya atraksi wisata puri dinner
15 Adanya atraksi wisata gamelan tektekan,
tabuh okokan, parade obor dan kendang
mebarung
16 Adanya atraksi pemandangan dari subak
buluh yang menjadi jalur tracking dan
ecocycling
17 Adanya atraksi pemandangan Tukad Yeh
Ho dan Lembah Cinta
17 Masyarakat beragama hindu menyuguhkan
atraksi even keagamaan
18 Budaya subak cara pengolahan lahan
tradisional, penanaman, panen dan
upacara di desa baturiti
19 Budaya makanan dan minuman khas Jaje
Bendu, Babi Hitam dan Sayur Gonda
NO Kelemahan / Weaknesses (W) NO Ancaman / Threat (T)
1 Sumber Daya Manusia di Desa Baturiti yang 1 Jarak Desa Baturiti dengan sentra
masih kurang untuk pariwisata (SDM) pariwisata Kuta, Sanur dan Nusa Dua
2 Agrowisata alam Desa Baturiti belum 2 Persaingan dengan daerah lain dalam
berkembang dikenal dan terkenal pengembangan desa wisata
3 Sarana dan prasaran fasilitas umum belum 3 Kurangnya peran serta stakeholder
memadai (pemerintah, Perguruan Tinggi, pihak
swasta) dalam pembinaan kepariwisataan
bagi masyarakat Desa Baturiti.
4 Agrowisata buatan dengan sistem zoning 4 Tersebarnya isu-isu sensitif tentang Bali,
belum ada seperti meningkatnya kriminalitas, isu
epidemik penyakit tertentu
5 Promosi agrowisata masing kurang 5 Perencanaan kawasan belum menjadi
acuan pengembangan Desa wisata
6 Manajemen dan tata kelola DTW masih
kurang
7 Pengalaman yang penuh kenangan dan
indah masih kurang pencitraan
8 Penataan lingkungan masih kurang
9 Pengkemasan paket wisata masih kurang
10 Tata kelola keuangan masih kurang
informatif

Berdasarkan kombinasi faktor: kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, dengan


menggunakan metode interpretatif dapat dirumuskan strategi pengembangan Desa berbasis
agrowisata Desa Baturiti adalah sebagai berikut:
1. Strategi SO
a. Strategi SO1 : Pengembangan DTW Budaya dan Agrowisata berbasis
pertanian dapat dirumuskan program, yaitu:
 Memberdayakan pelaku budaya dan seniman yang ada di Desa Baturiti
seperti Para penari dan Seniman Musik Traditional
 Mengemas Produk Budaya seperti royal wedding dan Puri dinner dalam
paket wisata DTW Desa Baturiti
 Memberdayakan kelompok petani lahan basah dan kering
 Mengemas atraksi budidaya tanaman padi menjadi DTW agrowisata
 Membangun agrowisata buatan dengan sistem zonasi terintegrasi
 Mengkombinasikan agrowiwata Desa Baturiti dengan DTW lain yang
searah menjadi satu paket wisata
b. Strategi SO2 : Pengembangan DTW Budaya dan Agrowisata yang memberikan
pengalaman yang penuh kenangan dan indah, dapat dirumuskan program,
yaitu:
 Mengembangkan atraksi wisata lintas alam jalan kaki
 Mengembangkan atraksi wisata lintas alam bersepeda (ecocycling)
 Mengembangkan atraksi wisata sekeliling dan mengunjungi Puri anyar
dan Puri Agung Kerambitan
c. Strategi SO3 : Menciptakan dan pengembangan kerjasama dengan stakeholder,
dapat dirumuskan program, yaitu:
 Meningkatkan dan mengembangkan kerjasana dengan biro-biro
perjalanan, VW tour Desa Wisata, pemandu wisata, Perguruan Tinggi dan
lembaga lainnya
 Meningkatkan peran Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan sebagai
Pembina pariwisata daerah
 Meningkatkan dan mengembangkan contact person dengan berbagai
pihak terkait
 Mengadakan event-event tertentu
2. Strategi WO
a. Strategi WO1 : Peningkatan kuantitas dan kualitas SDM pariwisata di Desa
Baturiti secara berkelanjutan, dapat dirumuskan program, yaitu:
 Pelatihan/kursus singkat bagi anak-anak muda, kelompok sadar wisata
dan aparat Desa Baturiti tentang aspek kepariwisataan (Bahasa Asing,
tatakrama memandu wisatawan, kebudayaan, sadar wisata, dan lain-
lain).
 Pelatihan ketrampilan pembuatan makanan dan mimuman khas
kuliner.
b. Strategi WO2 : Peningkatan promosi melalui penggunaan kemajuan teknologi
informasi berbasis website, dapat dirumuskan program, yaitu:
 Memperkenalkan konsep Desa Wisata berbasis agrowisata dan sistem
pola tanam pertanian
 Peningkatan promosi kepada biro-biro perjalanan, VW tour Desa
Wisata dan lembaga lainnya
 Peningkatan promosi melalui pemandu wisata freelance sehingga
terwujud optional tour
 Peningkatan promosi melalui jejaring sosial yang terintegrasi dengan
aspek visual (gambar atau foto)
 Peningkatan promosi melalui Website yang diupdate secara
berkesinambungan.
3. Strategi ST
a. Strategi ST1 : Peningkatkan keamanan dan pencitraan rasa aman dan nyaman
bagi wisata, dapat dirumuskan program, yaitu:
 Penyuluhan kepada masyarakat lokal dan sekitar Desa Baturiti untuk
memberikan konsep kepada masyarakat tentang konsep pemberdayaan
kualitas pelayanan dan pemahaman tentang Desa wisata berbasis
budaya dan agrowisata.
 Meningkatkan kewaspadan desa adat untuk dapat menjaga keamanan
dan pencitraan rasa aman dan nyaman bagi wisatwan selama
berkunjung ke objek-objek wisata Desa Baturiti.
 Menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan untuk menghindari
timbulnya isu-isu negatif tentang kesehatan lingkungan diperlukan
perhatian dan tindakan nyata dalam kebersihan dan kelstarian
lingkungan.
4. Strategi WT
a. Strategi WT1 : Peningkatan Sarana dan Prasarana Pendukung, dapat
dirumuskan program:
 Penataan jalan-jalan setapak atas atraksi-atraksi yang diunggulkan
 Penataan fasilitas rest area jalur-jalur trekking
 Penataan fsilitas umum untuk meningkatkan keamanan dan
kenyamanan serta cinderamata
b. Strategi WT2 : Pelatihan manajemen pengelolaan kawasan wisata: Pariwisata
yang telah terwujud tidaklah cukup dengan penataan objek-objek wisata, tetapi
perlu dibentuk manajemen pengelolaan agar pariwisata dapat berkelanjutan.
Terbentuk manajemen pengelolaan pariwisata tidak berhenti sampai disini,
harus dilanjutkan dengan penyiapan sumber daya manusia yang kompeten.
Untuk menyiapan sumber daya manusia yang kompeten di Desa baturiti dapat
dilakukan dengan berbagai kegiatan pelatihan manajemen pengelolaan
kawasan wisata diantaranya pelatihan manajemen LPD, manajemen BUMDes,
dan manajemen kelompok sadar wisata.

Mewujudkan Desa Wisata berbasis budaya dan agrowisata Desa Baturiti, Kecamatan
Kerambitan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, memang masih menempuh jalan panjang.
Oleh karena itu, semua pihak pemerintah Kabupaten Tabanan dan Provinsi Bali, Perguruan
Tinggi, Biro perjalanan secara bersama-sama berusaha mempercepat realisasi program-
program yang telah dirumuskan dalam pengkajian ini berdasarkan urutan prioritas menjadi
suatu program nyata/proyek.
DAFTAR ISI

McIntosh, Colin. Turnbull, Joanna. 2005. Oxford Advanced Learner’s Dictionary.


Oxford University Press.

Mertha, I Wayan. Wiarti, Luh Yusni. Suasapha, Anom Herry. Stakeholders: Peran Dan
Kendala Pelibatannya Dalam Pengembangan Desa Wisata Di Bali. Jurnal
Kepariwisataan Volume 17 Nomor 2 September 2018 ISSN: 1412-5498 / E-ISSN:
2581-1053

Morrison, Alastair M. 2013. Marketing And Managing Tourism Destinations. London & New
York : Routledge

Peraturan Menteri (Permen) Pariwisata Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2016

Rangkuti, Freddy. 2000. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. Cetakan
ke6.Jakarta.PT SUN