Anda di halaman 1dari 39

TUGAS FITOTERAPI

FITOTERAPI PADA SISTEM REPRODUKSI

Oleh:
Ni Kadek Dwi Fitri Sumandari (161200031)
Ni Ketut Indah Cahaya Dewi (161200032)
Ni Komang Intan Prima Asri (161200033)
Ni Komang Sinta Dewi (161200035)
Gede Dharma Santosa (161200042)
I Kadek Angga Mardana (161200051)

Kelas A1B Farmasi Klinis

PROGRAM STUDI FARMASI KLINIS


UNIVERSITAS BALI INTERNASIONAL
DENPASAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kesehatan reproduksi menurut World Health Organization (WHO) adalah
kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh dan bukan hanya tidak adanya
penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem
reproduksi dan fungsi-fungsinya serta proses-prosesnya (Harahap, 2003).
Pada era globalisasi dan modernisasi ini telah terjadi perubahan dan kemajuan
disegala aspek dalam menghadapi perkembangan lingkungan, kesehatan dan
kebersihan, dimana masyarakat dituntut untuk selalu menjaga kebersihan fisik
dan organ atau alat tubuh. Salah satu organ tubuh yang penting serta sensitif dan
memerlukan perawatan khusus adalah alat reproduksi. Pengetahuan dan
perawatan yang baik merupakan faktor penentu dalam memelihara kesehatan
reproduksi. Apabila alat reproduksi tidak dijaga kebersihannya maka akan
menyebabkan infeksi, yang pada akhirnya dapat menimbulkan penyakit (Harahap,
2003).
Pada diri seorang wanita di masa reproduksi biasanya mengalami beberapa
gejala psikologik yang negatif atau gejala fisik. Sifat gejalanya bervariasi dan
cenderung memburuk ketika saat-saat menjelang dan selama terjadinya proses
perdarahan haid pada tubuhnya. Keadaan ini tidak selalu terjadi pada setiap siklus
haidnya dan intensitasnyapun tidak sama. Beberapa wanita ada juga yang
mengalami gejala perasaan dan fisiknya berat, salah satunya adalah menyebabkan
terjadinya keputihan (Hendrik, 2006).
Keputihan merupakan gejala yang sering dialami oleh sebagian besar wanita.
Gangguan ini merupakan masalah kedua sesudah gangguan haid. Keputihan
seringkali tidak ditangani dengan serius oleh para remaja. Padahal keputihan bisa
jadi indikasi adanya penyakit. Hampir semua permpuan pernah mengalami
keputihan. Pada umumnya, orang menganggap keputihan pada wanita sebagai hal
yang normal. Pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena ada berbagai sebab
yang mengakibatkan keputihan. Keputihan yang normal memang merupakan hal
yang wajar. Namun, keputihan yang tidak normal dapat menjadi petunjuk adanya
penyakit yang harus diobati (Kasdu, 2008).
Di Indonesia sendiri jumlah wanita yang mengalami keputihan ini sangat
besar, yaitu sebanyak 70% wanita Indonesia pernah mengalami keputihan, hal ini
berkaitan erat dengan kondisi cuaca lembab yang mempermudah wanita
Indonesia mengalami keputihan, dimana cuaca lembab mempermudah
berkembangnya infeksi jamur (Depkes, 2004).
Penyakit kelamin sudah lama dikenal dan beberapa diantaranya sangat
popular diindonesia. Selain keputihan adapun penyakit kelainan pada reproduksi
yakni sifilis, kanker serviks, HIV dan gonorrhea. Semakin majunya ilmu
pengetahuan, seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat, banyak
ditemukan penyakit-penyakit baru, sehingga intilah tersebut tidak sesuai lagi dan
diubah menjadi sexual transmited disease (STD) atau penyakit menular seksual
(Fahmi dkk, 2014).
Pengetahuan mengenai pemanfaatan berbagai jenis tanaman yang berkhasiat
sebagai obat untuk menjaga kesehatan atau bahkan untuk mengobati penyakit ini
merupakan warisan nenek moyang kita yang sejak jaman dahulu telah banyak
dimanfaatkan jauh sebelum pengobatan medis modern. Dari berbagai varietas
tanaman obat tersebut, banyak yang digunakan secara turun temurun dan
khasiatnya diyakini secara empiris, namun banyak juga yang telah diuji baik
secara pre klinis maupun klinis, dan telah disebarkan secara luas sebagai obat
fitofarmaka atau jamu.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, adapun rumusan masalah dalam makalah ini
yaitu sebagai berikut:
1. Apa definisi dari sistem reproduksi?
2. Bagaimana struktur dan komponen sistem reproduksi manusia?
3. Apa saja kelainan dan penyakit pada sistem reproduksi manusia?
4. Bagaimana terapi pengobatan fitoterapi pada keputihan?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi dari sistem reproduksi manusia.
2. Untuk mengetahui struktur dan komponen sistem reproduksi manusia.
3. Untuk mengetahui kelainan dan penyakit pada sistem reproduksi manusia.
4. Untuk mengetahui terapi pengobatan fitoterapi pada keputihan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Sistem Reproduksi


Sistem reproduksi merupakan sistem yang berperan dalam menghasilkan
gamet fungsional pada tubuh. System reproduksi terdiri dari organ seks primer
atau gonad (testis pada pria dan ovarium pada wanita), yang menseksesikan
hormone dan mengasilkan gamet (sperma badan telur). Selain itu, juga ada organ
seks sekunder berupa kelenjar dan saluran-saluran (Pack, 2007)

2.2 Struktur dan Komponen sistem Reproduksi


Struktur dan komponen system reproduksi dibagi menjadi 2 yaitu sebagai
berikut:
2.2.1 Struktur Dan Komponen Organ Reproduksi Pria
Menurut (Nurhayati, 2014) organ reproduksi pria terbagi menjadi dua
yaitu: alat reproduksi luar dan alat reproduksi dalam.
1. Alat reproduksi luar terdiri dari penis dan skrotum:
a. Penis
Penis merupakan alat kopulasi (persetubuhan) pada pria.
Kopulasi adalah hubungan kelamin antara pria dan wanita yang
bertujuan untuk memindahkan semen ke saluran kelamin wanita.
Didalam penis terdapat uretra, yaitu saluran akhir dari saluran
kelamin yang dikelilingi oleh jaringan erektil berongga. Jaringan
erektil tersebut memiliki banyak rongga dan mengandung banyak
pembuluh darah. Apabila ada emosi seksual, rongga ini akan terisi
penuh oleh darah. Hal ini akan menyebabkan penis tegang dan
membesar yang disebut ereksi. Hanya dalam keadaan ereksilah
penis seorang pria dapat berfungsi untuk kopulasi (Nurhayati,
2014).

b. Skrotum
Skrotum merupakan kantung kulit yang mengandung lebih
banyak pigmen, ditumbuhi rambut-rambut kasar, dan banyak
mengandung kelenjar. Di dalam skrotum terdapat testis. Skrotum
menggantung di bagian luar tubuh antara kaki. Posisi ini
membantu melindungi testis dari kerusakan secara fisik dan sangat
berperan penting untuk menjaganya pada suhu 2-3ºC lebih rendah
dari suhu tubuh yang cocok untuk perkembangan sperma
(Nurhayati, 2014).

Gambar 2.1 Organ Reproduksi Pria


2. Alat Reproduksi Dalam
Alat reproduksi dalam terdiri atas testis, saluran kelamin, dan
kelenjar kelamin. Saluran kelamin dibagi lagi menjadi epidermis, vas
deferens, saluran ejakulasi, dan uretra. Sedangkan kelenjar kelamin
terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar
bulbouretra (Nurhayati, 2014) .
a. Testis
Testis disebut juga gonad pada pria. Wujudnya berbentuk oval,
berjumlah sepasang, diameter sekitar 5 cm, ditutupi oleh skrotum,
dan tersusun atas pembuluh-pembuluh halus yang disebut tubulus
seminiferus. Didalam testis terdapat tubulus seminiferus
(pembuluh-pembuluh halus) dan sel-sel leydig. Tubulus
seminiferus berfungsi pada proses pembentukan sel sperma
(Spermatogenesis), sedangkan sel-sel leydig berfungsi untuk
menghasilkan hormon testosteron. Jadi, testis berfungsi sebagai
alat untuk memproduksi selsel sperma dan juga memproduksi
hormon testosteron (Nurhayati, 2014).
b. Saluran kelamin:
 Epididimis, merupakan saluran berkelok-kelok yang keluar
dari testis. Fungsinya yaitu sebagai tempat penyimpanan
sperma untuk sementara waktu, pematangan sperma, dan untuk
bergeraknya sperma menuju vas deferens (Nurhayati ,2014)
 Vas deferens, merupakan saluran lurus yang keluar dari
epididimis. Berfungsi untuk mengangkut sperma dari
epididimis menuju ke vesikula seminalis (Nurhayati, 2014).
 Saluran ejakulasi, merupakan saluran pendek yang
menghubungkan vesikula seminalis (kantung semen) dengan
uretra. Saluran ini mampu menyemprotkan sperma sehingga
masuk ke dalam ureter dan mengalirkannya keluar (Nurhayati,
2014).
 Uretra, merupakan saluran akhir dari saluran kelamin yang
terdapat di dalam penis. Uretra sebagai alat pengeluaran karena
berfungsi untuk membuang urin keluar dari tubuh. Sedangkan
uretra sebagai saluran kelamin karena berfungsi sebagai
saluran semen dari kantung semen (Nurhayati, 2014).
2.2.2 Struktur dan komponen organ reproduksi wanita
Wanita memiliki organ reproduksi yang memiliki struktur khas yang
disiapkan untuk perkembangan janin. Alat reproduksi pada wanita dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu alat kelamin luar dan alat kelamin
dalam (Nurhayati, 2014).
1. Alat Reproduksi Luar Alat reproduksi luar terdiri dari vulva dan
labium (bibir):
a. Vulva
Vulva merupakan alat reproduksi paling luar yang berupa celah.
Celah ini dibatasi oleh sepasang labium (bibir), yaitu labium kiri
dan labium kanan. Di sebelah dalam vulva terdapat tonjolan kecil
yang disebut klitoris. Ke dalam vulva bermuara dua saluran, yaitu
uretra (saluran urin) dan vagina (saluran vagina) Labium (bibir)
Labium (bibir) merupakan pembatas vulva. Labium berjumlah
sepasang. Di sebelah luarnya terdapat sepasang labium mayor
(bibir besar) dan di sebelah dalamnya terdapat sepasang labium
minor (bibir kecil)

Gambar 2.2 organ reproduksi wanita


2. Alat Reproduksi Dalam
Alat reproduksi dalam terdiri dari ovarium dan saluran kelamin:
a. Ovarium Ovarium terdapat dalam rongga badan di daerah
pinggang, yaitu di sebelah kanan dan kiri. Dalam ovarium terdapat
kelenjar endokrin dan jaringan tubuh yang membuat sel telur
(ovum) yang disebut folikel. Sel folikel akan memproduksi sel
telur pada ovarium wanita. Peristiwa pelepasan sel telur (ovum)
dari ovarium setelah folikel masak disebut ovulasi. Pada saat
folikel telur tumbuh, ovarium menghasilkan hormon estrogen, dan
setelah ovulasi menghasilkan hormon progesteron (Nurhayati,
2014).
b. Saluran kelamin
Saluran kelamin terdiri dari saluran telur tuba falopi, rahim
(uterus) dan vagina:
 Saluran telur (tuba fallopi)
Saluran telur berjumlah sepasang, yaitu saluran telur kanan dan
saluran telur kiri. Bagian pangkal saluran telur berbentuk
corong, disebut infundibulum tuba. Pada infundibulum tuba
terdapat jumbai-jumbai yang berperan penting untuk
menangkap sel-sel telur yang dilepaskan oleh folikel didalam
ovarium (Nurhayati, 2014) dan berfungsi sebagai tempat
fertilisasi. Sedangkan menurut (Campbell, 2008) oviduk atau
tuba fallopi, membentang dari uterus ke arah masing-masing
ovarium. Dimesi saluran ini berbeda-beda dari ujung ke ujung,
dengan diamter bagian dalam di dekat bukaan oviduk yang
mirip corong.
 Rahim (uterus)
Rahim merupakan rongga tempat pertumbuhan embrio dimana
kedua tuba fallopi bertemu. Rahim manusia merupakan tipe
simpleks, yaitu mempunyai sebuah ruangan, berbentuk seperti
buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Fungsinya
sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin (Nurhayati,
2014) Sedangkan menurut (Campbell, 2008) uterus adalah
organ yang tebal dan berotot, yang dapat mengembang selama
masa kehamilan untuk mengakomodasi fetus seberat 4 kg.
 Vagina
Vagina merupakan saluran akhir dari saluran kelamin wanita
yang terdapat di dalam vulva. Vagina berfungsi sebagai jalan
lahir, sebagai sarana dalam hubungan seksual dan sebagai
saluran untuk mengalirkan darah dan lendir saat menstruasi
(Nurhayati, 2014) Sedangkan menurut (Campbell, 2008)vagina
adalah ruang berotot namun elastis yang merupakan tempat
untuk penyisipan penis dan penampungan sperma selama
kopulasi

2.3 Kelainan dan Penyakit Pada Sistem Reproduksi Manusia


Menurut (Nurhayati, 2014) kelainan dan penyakit pada system reproduksi
manusia terdiri dari:
1. Gonorrhoea
Gonorrhoea adalah penyakit infeksi akut yang menyerang selaput lendir
dari uretra yang disebabkan oleh bakteri Neissheria gonorrhoea. Pada laki-
laki, gejalanya berupa sakit bila buang air kecil dan keluar nanah berwarna
hijau dari uretra (Daili et al, 2011).
2. Kanker Serviks
Kanker ini banyak ditemukan pada wanita yang berumur 40-45 tahun,
sering menimbulkan kematian bila baru ditemukan setelah fase lanjut.

3. HIV
HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini
menyerang sistem kekebalan tubuh dan melemahkan kemampuan tubuh untuk
melawan infeksi dan penyakit.

4. Sifilis
Sifilis merupakan penyakit yang disebabkan oleh spirokaeta Treponema
pallidum, merupakan penyakit kronik dan bersifat sistemik, selama perjalanan
penyakit dapat menyerang seluruh organ tubuh, ada masa laten tanpa
manifestasi lesi di tubuh, dan dapat ditularkan kepada bayi di dalam
kandungan. Periode inkubasi sifilis biasanya 3 minggu. Fase sifilis primer
ditandai dengan munculnya tukak baik tunggal maupun multipel. Lesi awal
biasanya berupa papul yang mengalami erosi, teraba keras dan terdapat
indurasi. Permukaan dapat tertutup krusta dan terjadi ulserasi. Bagian yang
mengelilingi lesi meninggi dan keras.

5. Keputihan
Keputihan merupakan cairan yang keluar dari vagina. Dalam keadaan
biasa, cairan ini tidak sampai keluar namun belum tentu bersifat patologis
(berbahaya). Pengertian lain adalah setiap cairan yang keluar dari vagina
selain darah dapat berupa sekret, transudasi atau eksudat dari organ atau lesi
dari saluran genital. Cairan normal vagina yang berlebih (Mansjoer et al,
2001).

2.4 Patofisiologi
1. Gonore
Neisseria gonorrhoeae dapat ditularkan melalui kontak seksual atau
melalui penularan vertikal pada saat melahirkan. Bakteri ini terutama
mengenai epitel kolumnar dan epitel kuboidal manusia. Patogenesis gonore
terbagi menjadi 5 tahap sebagai berikut:
Fase 1 adalah bakteri Neisseria gonorrhoeae menginfeksi permukaan selaput
lendir dapat ditemukan di uretra, endoserviks dan anus.
Fase 2 adalah bakteri ke microvillus sel epitel kolumnar untuk kolonisasi
selama infeksi, bakteri dibantu oleh fimbriae, pili. Fimbriae terutama terdiri
dari protein pilin oligomer yang digunakan untuk melekatkan bakteri ke sel-
sel dari permukaan selaput lendir. Protein membran luar PII Oppacity
associated protein (OPA) kemudian membantu bakteri mengikat dan
menyerang sel inang.
Fase 3 adalah masuknya bakteri ke dalam sel kolumnar dengan proses yang
disebut endositosis di mana bakteri yang ditelan oleh membran sel kolumnar,
membentuk vakuola.
Fase 4 adalah vakuola ini kemudian dibawa ke membran basal sel inang,
dimana bakteri berkembang biak setelah dibebaskan ke dalam jaringan
subepitel dengan proses eksositosis. Peptidoglikan dan bakteri LOS (Lipo
Oligo Sakharida) dilepaskan selama infeksi. Gonococcus dapat memiliki dan
mengubah banyak jenis antigen dari Neisseria LOS. LOS merangsang tumor
necrosis factor, atau TNF, yang akan mengakibatkan kerusakan sel.
Fase 5 reaksi inflamasi yang dihasilkan menyebabkan infiltrasi neutrofil.
Selaput lendir hancur mengakibatkan akumulasi Neisseria gonorrhoeae dan
neutrofil pada jaringan ikat subepitel. Respon imun host memicu Neisseria
gonorrhoeae untuk menghasilkan protease IgA ekstraseluler yang
menyebabkan hilangnya aktivitas antibodi dan mempromosikan virulensi
(Hakim L, 2001).

2. Kanker Serviks
Virus HPV menginfeksi membrane basalis pada daerah metaplasia dan
zona transformasi serviks. Serelah menginfeksi sel epitel serviks sebagai
upaya berkembang biak, virus ini akan meninggalkan sekuensi genomnya
pada sel inang. Genom HPV berupa episomal (bentuk lingkaran dan tidak
terintegrasi dengan DNA inang) dijumpai pada CIN dan berintegrasi dengan
DNA inang pada kanker invasive. Pada percobaan invitro HPV terbukti
mampu mengubah sel menjadi immortal (Aziz et al, 2006).
Tipe HPV paling berisiko adalah tipe 16 dan 18 yang mempunyai
peranan yang penting melalui sekuensi gen E 6 dan E7 dengan mengode
pembentukan protein-protein penting dalam replikasi virus. Onkoprotein dari
E6 akan mengikat dan menjadikan gen penekan tumor (p53) menjadi tidak
aktif, sedangkan onkoprotein E7 akan berikatan dan menjadikan produk gen
retinoblastoma (pRb) menjadi tidak aktif. P53 dan pRb adalah protein
penekan tumor yang berperan menghambat kelangsungan siklus sel. Dengan
tidak aktifnya p53 dan pRb, sel yang telah bermutasi akibat infeksi HPV dapat
meneruskan siklus sel tanpa harus memperbaiki kelainan DNA nya. Ikatan E 6
dan E7 serta adanya mutasi DNA merupakan dasar utama terjadinya kanker
(Aziz et al, 2006)
3. Sifilis
Treponema palidum masuk melalui selaput lendir yang utuh, atau kulit
yang mengalami abrasi, menuju kelenjar limfe, kemudian masuk ke dalam
pembuluh darah, dan diedarkan ke seluruh tubuh. Setelah beredar beberapa
jam, infeksi menjadi sistemik walaupun tanda-tanda klinis dan serolois belum
jelas. Kisaran satu minggu setelah terinfeksi Treponema palidum, ditempat
masuk timbul lesi primer berupa ulkus. Ulkus akan muncul selama satu
hingga lima minggu.
4. HIV
Virus HIV masuk ke dalam tubuh manusia melalui perantara darah, dan
sekret vagina. Human Immunodeficiency Virus (HIV) tergolong retrovirus
yang mempunyai materi genetik RNA yang mampu menginfeksi limfosit CD4
(Cluster Differential Four), dengan melakukan perubahan sesuai dengan DNA
inangnya (Price & Wilson, 2006; Pasek, dkk., 2008; Wijaya, 2010). Virus HIV
cenderung menyerang jenis sel tertentu, yaitu sel-sel yang mempunyai antigen
CD4 terutama limfosit T4 yang memegang peranan penting dalam mengatur
dan mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Virus juga dapat menginfeksi
sel monosit makrofag, sel Langerhans pada kulit, sel dendrit folikuler pada
kelenjar limfe, makrofag pada alveoli paru, sel retina, sel serviks uteri dan sel-
sel mikroglia otak. Virus yang masuk kedalam limfosit T4 selanjutnya
mengadakan replikasi sehingga menjadi banyak dan akhirnya menghancurkan
sel limfosit itu sendiri (Price & Wilson, 2006; Departemen Kesehatan RI,
2003).
Kejadian awal yang timbul setelah infeksi HIV disebut sindrom retroviral
akut atau Acute Retroviral Syndrome. Sindrom ini diikuti oleh penurunan
jumlah CD4 dan peningkatan kadar RNA HIV dalam plasma. CD4 secara
perlahan akan menurun dalam beberapa tahun dengan laju penurunan CD4
yang lebih cepat pada 1,5 – 2,5 tahun sebelum pasien jatuh dalam keadaan
AIDS. Viral load (jumlah virus HIV dalam darah) akan cepat meningkat pada
awal infeksi dan pada fase akhir penyakit akan ditemukan jumlah CD4 <
200/mm3 kemudian diikuti timbulnya infeksi oportunistik, berat badan turun
secara cepat dan muncul komplikasi neurulogis. Pada pasien tanpa
pengobatan ARV, rata-rata kemampuan bertahan setelah CD4 turun <
200/mm3 adalah 3,7 tahun (Pinsky & Douglas, 2009; Corwin, 2008).
5. Keputihan
Keputihan terjadi apabila suatu ketidakseimbangan suasana flora vagina
yang disebabkan oleh bebarapa faktor maka terjadinya penurunan fungsi basil
doderlein dengan berkurangnya jumlah glikogen karena fungsi proteksi basil
Doderlein berkurang maka terjadi aktivitas dari mikroorganisme patologis
yang selama ini ditekan oleh flora normal vagina. Progresifitas
mikroorganisme patologis secara klinis akan memberikan suatu reaksi
inflamasi didaerah vagina. System imun tubuh akan bekerja membantu fungsi
dari basil Doderlein sehingga terjadi pengeluaran leukosit PMN maka
terjadilah flour albus (Sianturi, 1996).
Meskipun banyak variasi warna, konsistensi dan jumlah sekret vagina bias
dikatakan suatu yang normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan
penderita sebagai suatu infeksi, khususnya disebabkan oleh jamur. Beberapa
perempuan mempunyai sekret vagina yang banyak. Dalam kondisi normal,
cairan yang keluar dari vaginamengandung sekret vagina, sel-sel vagina yang
terlepas dan mukus serviks, yang akan bervariasu karena umur, siklus
menstruasi, kehamilan, penggunaan pil KB. Lingkungan vagina yang normal
ditandai dengan adanya suatu hubungan yang dinamis antara Lactobacillus
acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen, glikogen PH, vagina dan
hasil metabolit lain. Lactobacillus acidophilus menghasilkan endogen
peroksida yang toksik terhadap bakteri patogen. Karena aksi dari estrogen
pada epitel vagina, produksi glikogen, Lactobacillus (Doderlein) dan produksi
asam laktat yang menghasilkan PH vagina yang rendah sampai 3,8-4,5 dan
pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain (Wiknjosastro,
2005).

2.5 Etiologi
1. Gonore
Penyakit gonore disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, kuman
diplokokus gram negatif, dengan sisi cekung berdekatan sehingga seperti
bentuk ginjal. Ukuran diameter dari kuman ini adalah 0,6-1,0 µm serta tidak
bergerak, tidak membentuk spora, dan berada di dalam dan/ luar sel lekosit
polimorfonuklear (PMN) dan fastidius. Selain itu, kuman ini tidak dapat
bertahan lama untuk hidup di udara bebas, cepat mati dalam keadaan kering,
tidak tahan suhu diatas 39ºC. Pada suhu 35-37ºC, pH 7,2-7,6 dapat tumbuh
secara optimal serta membutuhkan CO2 dengan konsentrasi 2-10%. Kuman
ini terdiri dari 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili pada
permukaannya, kecil dan bersifat virulen, sedangkan tipe 3 dan 4 tidak
mempunyai pili, lebih besar, tidak berpigmen dan tidak virulen.14 Fungsi dari
pili adalah untuk membantu proses penempelan kuman dengan permukaan
mukosa atau menyebabkan resistensi terhadap pengobatan gonore. Membran
luar dari kuman ini tersusun atas protein, fosfolipid, dan lipooligosakarida
(LOS) (Hakim L, 2001).

2. Kanker serviks
Peristiwa kanker serviks diawali dengan sel serviks normal yang terinfeksi
oleh HPV (Human papillomavirus). Infeksi HPV umumnya terjadi setelah
wanita melakukan hubungan seksual. Sebagaian infeksi HPV bersifat hilang
timbul, sehingga tidak terdeteksi dalam kurun waktu kurang lebuh dua tahun
pasca infeksi. Hanya sebagaian kecil saja dari infeksi tersebut yang menetap
dalam jangka lama, sehingga menimbulkan kerusakan lapisan lender menjadi
prakanker (Sinta et al, 2010).
Human papillomavirus, sampai saat ini telah diketahui memiliki lebih dari
100 tipe, dimana sebagaian besar diantaranya tidak berbahaya dan akan
lenyap dengan sendirinya. Dari 100 tipe HPV tersebut, hanya 30 diantaranya
yang beresiko kanker serviks. Adapun tipe yang beresiko adalah HPV 16, 18,
31, dan 45 yang sering ditemukan pada kanker maupun lesi prakanker serviks,
yaitu menimbulkan kerusakan sel lender luar menuju keganasan. Sementara
tipe yang beresiko sedang yaitu HPV tipe 33, 35, 39, 51, 56, 58, 59 dan 68,
dan yang beresiko rendah adalah HPV tipe 6, 11, 26, 42, 43, 44, 53, 54, 55
dan 56. Dari tipe-tipe ini, HPV tipe 16, dan 18 meupakan penyebab tersering
kanker serviks yang terjadi diseluruh dunia. HPV tipe 16 mendominasikan
infeksi (50-60%) pada penderita kanker serviks disusul denga tipe 18 (10-
15%) (Sinta et al, 2010).

3. Sifilis
Penyebab sifilis adalah bakteri dari famili Spirochaetaceae, ordo
Spirochaetales dan Genus Treponema spesiesTreponema pallidum. Pada
Tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman yaitu
Treponema pallidum. Treponema berupa spiral halus, panjang 5-15 mikron
dan diameter 0,009-0,5 mikron, setiap lekukan gelombang berjarak 1 mikron
dan rata-rata setiap bakteriterdiri dari 8- 14 gelombang dan bergerak secara
aktif, karena spiralnya sangat halus maka hanya dapat dilihat pada mikroskop
lapangan gelap dengan menggunakan teknik immunofluoresensi. Kuman ini
bersifat anaerob dan diantaranya bersifat patogen pada manusia (CDC, 2010).

4. HIV
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) disebabkan oleh virus
yang disebut HIV. Virus ini ditemukan oleh Montagnier, seorang ilmuwan
Perancis (Institute Pasteur, Paris 1983), yang mengisolasi virus dari seorang
penderita dengan gejala limfadenopati, sehingga pada waktu itu dinamakan
Limphadenopathy Associated Virus (LAV). Gallo (National Institute of
Health, USA 1984) menemukan virus HTL-III (Human T Lymphotropic
Virus) yang juga adalah penyebab AIDS. Pada penelitian lebih lanjut
dibuktikan bahwa kedua virus ini sama, sehingga berdasarkan hasil pertemuan
International Committee on Taxonomy of Viruses (1986) WHO memberi
nama resmi HIV. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan virus lain yang dapat
pula menyebabkan AIDS, disebut HIV-2, dan berbeda dengan HIV-1 secara
genetik maupun antigenik. HIV-2 dianggap kurang patogen dibandingkan
dengan HIV-1. Untuk memudahkan virus itu
disebut sebagai HIV (Daili, 2009).

5. Keputihan
Penyebab terjadinya keputihan dapat disebabkan kondisi nonpatologis dan
kondisi patologis. Penyebab nonpatologis terjadi pada saat menjelang
menstruasi atau setelah menstruasi, rangsangan seksual, saat wanita hamil,
stress baik fisik maupun psikologis sedangkan penyebab patologis terjadi
karena infeksi jamur, infeksi bakteri, infeksi parasite jenis protozoa dan
infeksi gonorhoe (Manuaba, 2010).

2.6 Gejala dan Tanda


1. Gonore
Irianto (2014) menjelaskan bahwa gejala infeksi gonore mungkin muncul
1-14 hari setelah terpapar, meskipun ada kemungkinan untuk terinfeksi gonore
tetapi tidak memiliki gejala. Pada wanita, muncul cairan vagina yang banyak
dengan warna kuning atau kehijauan dengan bau yang menyengat. Pada pria,
muncul cairan putih atau kuning (nanah) keluar dari penis. Pada umumnya
penderita juga akan mengalami sensasi terbakar atau nyeri saat buang air kecil
dan cairan yang keluar dari penis.

2. Kanker serviks
Kanker serviks dini dan pra kanker biasanya tidak memiliki gejala. Gejala
yang seringkali tidak dirasakan sampai dengan kanker menjadi invasive.
Gejala yang paling umum antara lain:
a. Perdarahan vagina abnormal, seperti perdarahan setelah beruhubungan
seks, perdarahan setelah monopaose, perdarahan dan bercak antara
periode dan memiliki (menstruasi) periode yang lebih panjang atau lebih
berat dari biasanya.
b. Nyeri selama berhubungan seks.
c. Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna coklat
mengandung darah atau hitam serta berbau busuk (Abidin, 2007).
d. Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:
- Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan.
- Nyeri panggul, punggung atau tungkai.

3. Sifilis
Masa inkubasi berlangsung antara 9 - 90 hari, kemudian diikuti timbulnya
gejala klinis yang terdiri dari 3 stadium. :
a. Stadium Primer
Kelainan pertama yang timbul atau lesi primer terjadi pada organ genital
berupa ulkus yang keras. Sesudah itu akan terjadi limfangitis, diikuti
pengerasan kalenjar limfe regional yang tidak terasa nyeri.
b. Stadium sekunder
Pada stadium sekunder terjadi gejala-gejala klinis sebagai berikut:
kelainan berupa makula, papula dan pustula, yang juga terjadi pada
telapak tangan dan kaki. Tanpa pengobatan kelainan kulit akan hilang
dengan sendirinya, tetapi akan muncul 2 -3 tahun kemudian. Juga akan
terjadi depigmentasi kulit.
c. Stadium tersier Pada stadium tiga timbul gumma pada berbagai organ.
Selain itu terjadi aortitis yang menimbulkan aneurisma dan insufiensi
aortik
4. HIV
Menurut KPA (2007) gejala klinis terdiri dari 2 gejala yaitu gejala mayor
(umum terjadi) dan gejala minor (tidak umum terjadi):
a. Gejala mayor:
 Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
 Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
 Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
 Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
 Demensia/ HIV ensefalopati
b. Gejala minor:
 Batuk menetap lebih dari 1 bulan
 Dermatitis generalisata
 Adanya herpes zoster multisegmental dan herpes zoster berulang
 Kandidias orofaringeal
 Herpes simpleks kronis progresif

5. Keputihan
Infeksi vagina adalah sesuatu yang sering kali muncul dan sebagian besar
perempuan pernah mengalami dan akan memberikan beberapa gejala yakni
sebagai berikut: (Manuaba, 2010)
a. Keputihan yang disertai rasa gatal, ruam kulit dan nyeri
b. Sekret vagina yang bertambah banyak
c. Rasa panas pada saat buang air kecil
d. Sekret vagina berwarna putih dan menggumpal
e. Berwarna putih keabu-abuan atau kuning dengan bau yang menusuk.

2.7 Diagnosis
1. Gonore
Diagnosis gonore dapat ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Diagnostik laboratorium yang digunakan
antara lain:
a. Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis yang digunakan adalah dengan pengecatan
gram. Pengambilan sampel dari swab endoservik pada wanita. Hasil
positif akan tampak
b. Kultur
Untuk identifikasi dilakukan pembiakan dengan menggunakan media
selektif yang diperkaya yaitu Media Thayer Martin yang mengandung
vankomisin, dan nistatin yang dapat menekan pertumbuhan bakteri Gram
positif, Gram negatif dan jamur, dimana tampak koloni berwarna putih
keabuan, mengkilat dan cembung. Kultur diinkubasi pada suhu 350C –
370C dan atmosfer yang mengandung CO2 5%. Pemeriksaan kultur
dengan bahan dari uretra pria, sensitivitasnya lebih tinggi 94%- 98%
daripada duh endoserviks 85 % - 95%, sedangkan spesifisitasnya sama
yaitu 99%.

2. Kanker Serviks
Diagnosis untuk menegakkan kanker serviks antara lain:
a. Sitologi
Pemeriksaan sitologi dikenal dengan pemeriksaan pap smear. Sitologi
bermanfaat untuk mendeteksi sel-sel serviks yang tidak menunjukkan
adanya gejala, dengan tingkat ketelitiannya mencapai 90% (Sjamsuddin,
2001).
b. Kolposkopi
Kolposkopi merupakan pemeriksaan serviks dengan menggunakan alat
kolposkopi yaitu alat yang disamakan dengan mikroskop bertenaga rendah
pembesaran antara 6-40 kali dan terdapat sumber cahaya didalamnya.
Kolposkopi dapat meningkatkan ketepatan sitologi menjadi 95%. Alat ini
pertama kali diperkenalkan di Jerman pada tahun 1925 oleh Hans
Hinselmann untuk memperbesar gambaran permukaan porsio sehingga
pembuluh darah lebih jelas dilihat. Pada alat ini juga dilengkapi dengan
filter hijau untuk memberikan kontras yang baik pada pembuluh darah dan
jaringan. Pemeriksaan kolposkopi dilakukan untuk konfirmasi apabila
hasil test pap smear abnormal dan juga sebagai penuntun biopsi pada lesi
serviks yang dicurigai (Suwiyoga, 2007).
c. Biopsi
Menurut Syamsuddin (2001) biopsi dilakukan di daerah yang abnormal
jika sambungan skuamosa-kolumnar (SSK) yang terlihat seluruhnya
dengan menggunakan kolposkopi. Biopsi harus dilakukan dengan tepat
dan alat biopsi harus tajam dan harus diawetkan dalam larutan formalin
10% sehingga tidak merusak epitel.
d. Konisasi
Konisasi serviks adalah pengeluaran sebagian jaringan serviks sehingga
bagian yang dikeluarkan berbentuk kerucut. Konisasi dilakukan apabila:
(Kodim dkk, 2004)
 Proses dicurigai berada di endoserviks.
 Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi.
 Ada kesenjangan antara hasil sitologik dengan histopatologik.

3. Sifilis
Diagnosis sifilis dibuat berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik serta
pemeriksaan laboratorium. Anamnesis yang penting pada pasien adalah
partner seksual penderita serta riwayat penyakit sebelumnya. Sifilis primer
didiagnosis berdasarkan gejala klinis ditemukannya satu atau lebih chancre.
Sifilis sekunder ditandai dengan ditemukannya lesi mukokutaneus yang
terlokalisir atau difus dengan limfadenopati, serta masih dapat ditemukan
chancre. Diagnosis sifilis laten berdasarkan tes serologis karena biasanya
tanpa gejala klinis. Diagnosis sifilistersier berdasarkan gejala klinis yang
paling sering adalah ditemukan guma (Kingston et al, 2015).
Diagnosis laboratorium sifilis telah dilaporkan dapat menghemat biaya
dalam diagnosis sifilis. Gold standar untuk diagnosis sifilis adalah kultur
secara invivo dengan menginokulasikan sampel pada testis kelinci. Prosedur
ini butuh biaya besar dan waktu yang lama sampai beberapa bulan, sehingga
kultur hanya dipakai dalam hal penelitian saja. Meskipun Treponema pallidum
tidak dapat di kultur secara invitro, ada banyak tes untuk mendiagnosis sifilis
secara langsung dan tidak langsung (Ratnam, 2005).

4. HIV
Diagnosis pada infeksi HIV dilakukan dengan dua metode yaitu metode
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium
meliputi uji imunologi dan uji virologi.
a) Diagnosis klinik
Sejak tahun 1980 WHO telah berhasil mendefinisikan kasus klinik
dan sistem stadium klinik untuk infeksi HIV. WHO telah
mengeluarkan batasan kasus infeksi HIV untuk tujuan pengawasan
dan merubah klasifikasi stadium klinik yang berhubungan dengan
infeksi HIV pada dewasa dan anak. Pedoman ini meliputi kriteria
diagnosa klinik yang patut diduga pada penyakit berat HIV untuk
mempertimbangkan memulai terapi antiretroviral lebih cepat (Read,
2007)
b) Diagnosis Laboratorium
Metode pemeriksaan laboratorium dasar untuk diagnosis infeksi HIV
dibagi dalam dua kelompok yaitu: (Read, 2007)
1. Uji Imunologi
Uji imunologi untuk menemukan respon antibody terhadap HIV-1
dan digunakan sebagai test skrining, meliputi enzyme
immunoassays atau enzyme linked immunosorbent assay
(ELISAs) sebaik tes serologi cepat (rapid test). Uji Western blot
atau indirect immunofluorescence assay (IFA) digunakan untuk
memperkuat hasil reaktif dari test krining.
2. Uji Virologi
Tes virologi untuk diagnosis infeksi HIV-1 meliputi kultur virus,
tes amplifikasi asam nukleat / nucleic acid amplification test
(NAATs) , test untuk menemukan asam nukleat HIV-1 seperti
DNA arau RNA HIV-1 dan test untuk komponen virus (seperti uji
untuk protein kapsid virus (antigen p24).

5. Keputihan
Penyebab keputihan dapat didiagnosis dengan memperhatikan umur,
keluhan yang timbul, sifat-sifat dari tubuh vagina, hubungan dengan
menstruasi, ovulasi, kehamilan, kelainan setempat, dan ditunjang dengan
pemeriksaan laboratorium sederhana (Dalimartha, 2002).
Pada pemeriksaan langsung di sekitar alat kelamin luar, bisa terlihat bibir
kemaluan, muara kandung kencing, anus, dan lipat paha. Perhatikan apakah
tampak bercak kemerahan yang terasa gatal, perhatikan juga adanya luka
lecet, tonjolan-tonjolan kutil berbentuk jengger ayam, gelembung-gelembung
kecil berisi cairan yang dasarnya kemerahan, dan cairan keputihan yang bisa
ditentukan jumlahnya (sedikit atau banyak), konsistensi (encer, agak kental.
kental), warna (putih, putih kekuningan, kuning kehijauan), sifat
(bergumpal,berbuih), dan baunya (tidak berbau, bau amis, asam, apak, busuk
(Dalimartha, 2002).
Untuk pemeriksaan laboratorium, diperlukan pengambilan cairan
keputihan.Cairan keputihan yang ada lalu dihapuskan pada gelas objek.Bisa
langsung diperiksa di bawah mikroskop, atau setelah diberi warna baru
diperiksa di bawah mikroskop. Dari pemeriksaan tersebut, bila penyebabnya
infeksi akan terlihat apakah penyebabnya bakteri, jamur, atau protozoa. Bila
diperlukan, cairan keputihan bisa dibiakkan (Dalimartha, 2002).
Dari pemeriksaan darah juga bisa diketahui apakah penderita terinfeksi
oleh penyakit kelamin seperti melalui pemeriksaan Venereal Desease
Research of Laboratory (VDRL) dan Trephonema Pallidum Hemaglutination
Test (TPHA) (Dalimartha, 2002). Pemeriksaan dalam dilakukan pada
perempuan yang telah menikah dengan menggunakan alat untuk melebarkan
saluran vagina yang disebut spekulum.Dengan alat ini bisa dilihat saluran
vagina dan leher rahim (serviks), apakah ada peradangan (kemerahan), erosi,
atau bercak putih.Juga bisa terlihat bila ada benda asing yang tertinggal di
saluran vagina, tumor, papiloma ataupun kecurigaan adanya kanker serviks
(Dalimartha, 2002).
Pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan melakukan biopsy atau
pengambilan sel-sel yang lepas dengan cara mengeroknya pada selaput lendir
leher rahim. Pengerokan menggunakan spatel khusus untuk pemeriksaan Pap-
Smear (Dalimartha, 2002)

2.8 Terapi Pengobatan


1. Gonore
Pengobatan Gonore dipersulit oleh kemampuan N. gonorrhoeae untuk
mengembangkan resistensi terhadap antimikroba. Sefiksim 400 mg telah
banyak digunakan sebagai dosis tunggal pengobatan oral untuk gonore,
namun beberapa laporan pengobatan terbaru menunjukkan kegagalan sefiksim
400 mg sebagai pengobatan dosis tunggal. Oleh sebab itu pedoman
pengobatan terbaru yang diberikan oleh CDC merekomendasikan Ceftriaxon
250 mg intramuskular dosis tunggal dan Azitromisin 1gr oral dosis tunggal
untuk pengobatan infeksi gonore. Cefixime hanyalah sebuah alternatif pilihan
jika pemberian injeksi intramuskular tidak mungkin atau ditolak oleh pasien
(CDC, 2015; Bignell & Unemo, 2012).

2. Kanker Serviks
Terapi pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepala lokasi dan
ukuran tumor, stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana
penderita untuk hamil lagi.
a. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling
luar), seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau
bedah ataupun melalui LEEP. Dengan pengobatan tersebut, penderita
masih bias memiliki anak. Karena kanker bias kembali kambuh,
dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan ulang dan pap smear setiap 3
bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6 bulan. Jika
penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk
menjalani histerektomi. Pada kanker invasive, dilakukan histerektomi dan
pengangkatan struktur disekitarnya (prodesur ini disebut histerektomi
radikal) serta kelenjar getah bening. Pada wanita muda, ovarium (indung
telur) yang normal dan masih berfungsi tidak diangkat.
b. Terapi penyinaran
Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasive
yang masih terbatas pada daerah panggul. Pada radioterapi digunakan
sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan menghentikan
pertumbuhannya. Ada 2 macam radioterapi, yaitu:
 Radiasi eksternal: sinar berasal dari sebuah mesin besar. Penderita
tidak perlu dirawat dirumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan
sebanyak 5 harrri/minggu selama 5-6 minggu.
 Radiasi internal: zat radioaktif terdapat didalam sebuah kapsul
dimasukkan langsung ke dalam serviks. Kapsul ini dibiarkan selama 1-
3 hari dan selama itu penderita dirawat dirumah sakit. Pengobatan ini
bias diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.
c. Kemoterapi
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk
menjalani kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk
membunuh sel-sel kanker. Obat anti kanker bias diberikan melalui sunikan
intravena. Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode
pengobatan diselingi dengan lperiode pemulihan, lalu dilakukan
pengobatan, diselingi dengan pemulihan, begitu seterusnya.
d. Terapi biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki system
kekebalam tubuh dalam melawan penyakit. Terapi biologis dilakukan pada
kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh lainnya. Obat yang sering
digunakan adalah interferon, yang bias direkomendasikan dengan
kemoterapi.

3. Sifilis
Penatalaksanaan yang dapat diberikan berupa terapi. Terapi yang dapat
digunakan yaitu berdasarkan pedoman nasional penanganan infeksi menular
seksual 2011 (Kementrian Kesehatan RI. 2011).
a. Benzatin - benzilpenisilin 2,4 juta IU, dosis tunggal, injeksi intramuscular,
atau
b. Penisilin - prokain injesi IM 600.000 U/hari selama 10 hari
Setelah diketahui penyebabnya yaitu T.pallidum, obat yang dapat diberikan
yaitu Benzatin - benzilpenisilin dan Penisilin - prokain dimana pada stadium
dini dosis tunggal dan stadium lanjut dosis dapat ditingkatkan sebanyak tiga
kali.

4. HIV
Terapi pengobatan HIV/AIDS menggunakan kombinasi tiga obat yang
dikenal dengan terapi obat antiretroviral atau ARV.Terapi ini harus dipakai
terus menerus agar tetap efektif. Obat antiretroveral (ARV) menghambat
proses pembuatan HIV dalam sel CD4, dengan demikian mengurangi jumlah
virus yang tersedia untuk menularkan sel CD4 baru. Akibatnya sistem
kekebalan tubuh dilindungi dari kerusakan dan mulai pulih kembali, seperti
ditunjukkan oleh peningkatan dalam jumlah sel CD4 (Green, 2003). Manfaat
yang diperoleh dengan memakai ART, antara lain:
a. Menghambat perjalanan penyakit HIV
b. Meningkatkan jumlah sel CD4
c. Mengurangi jumlah virus dalam darah
d. Merasa lebih baik (Green, 2003).
Pengobatan untuk HIV sampai saat ini masih dengan obat terapi obat
antiretroviral atau ARV.Obat antiretroviral atau ARV fungsinya bukan untuk
menyembuhkan akan tetapi untuk menekan virus HIV agar tidak dapat
menggandakan diri. Dengan demikian mengurangi jumlah virus yang tersedia
untuk menularkan sel CD4 baru.

5. Keputihan
Keputihan merupakan gejala dari suatu penyakit yang penanganannya
harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah terjadinya komplikasi yang
lebih serius dan menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab lain seperti
kanker servik yang juga memberikan gejala keputihan berupa sekret encer,
berwarna merah muda, coklat mengandung darah, atau hitam yang disertai
bau busuk.
Pengobatan untuk keputihan tergantung pada penyebab dari gejala infeksi
yang terjadi seperti jamur, bakteri, atau parasit. Obat untuk mengatasi
keputihan biasanya adalah:
a. Trichomoniasis: Metrodinazole
b. Candidiasis: Nyasitin (pemberian oral maupun lokal)
c. Bakterial vaginosis: Metrodinazole, Amphisilin, dan pemakaian betadine
gel (Dalimartha, 2002).

2.9 Epidemiologi
Penelitian secara epidemiologi, fluor albus patologis dapat menyerang wanita
mulai dari usia muda, usia reproduksi sehat maupun usia tua dan tidak mengenal
tingkat pendidikan, ekonomi dan sosial budaya, meskipun kasus ini lebih banyak
dijumpai pada wanita dengan tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah.
Fluor albus patologis sering disebabkan oleh infeksi, salah satunya bakteri
vaginosis (BV) adalah penyebab tersering (40-50% kasus terinfeksi vagina),
vulvovaginal candidiasis (VC) disebabkan oleh jamur candida species, 80-90%
oleh candida albicans, trichomoniasis (TM) disebabkan oleh trichomoniasis
vaginalis, angka kejadiannya sekitar 5-20% dari kasus infeksi vagina (Haryadi,
2011).
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Deskripsi Penyakit Keputihan


Keputihan atau Fluor albus merupakan suatu gejala gangguan alat
kelamin yang dialami oleh wanita, berupa keluarnya cairan putih kekuningan
atau putih kelabu dari vagina. Secara normal, wanita dapat mengalami keputihan.
Namun perlu diwaspadai bahwa keputihan juga dapat terjadi karenainfeksi yang
disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur (Tjitraresmi, 2010). Keputihan dapat
dialami oleh setiap wanita. Keputihan yang keluar berupa cairan putih ini
biasanya berbau tidak sedap dan menimbulkan rasa gatal di sekitar vagina.
Keputihan sering dikaitkan dengan kadar keasaman daerah sekitar vagina,
karena keputihan bisa terjadi akibat pH vagina tidak seimbang. Penyebab utama
keputihan adalah jamur Candida albicans. Jamur ini mudah tumbuh pada media
saboroud membentuk koloni dengan sifat-sifat yang khas yakni menonjol pada
permukaan medium, koloni halus, licin dan berwarna kekuningan. Candida
albicans dapat tumbuh pada tubuh manusia sebagai saprofit atau parasit di dalam
pencernaan, pernapasan atau vagina orang sehat. Pada keadaan tertentu sifat
jamur ini dapat berubah menjadi pathogen menyebabkan keputihan (Ganda,
2010).

3.2. Deskripsi Tanaman


3.2.1. Tanaman Sirih
3.2.1.1 Taksonomi Tanaman Sirih
Klasifikasi Tanaman Sirih menurut Tjirosoepomo (1993)
adalah sebagai berikut.
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Devisi : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Piperales
Familia : Piperaceae
Genus : Piper
Species : Piper bettle L.

Gambar 3.1 Tanaman Sirih

3.2.1.2 Morfologi Tanaman Sirih


Sirih termasuk dalam family piperaceae, merupakan jenis
tumbuhan merambat dan bersandar pada batang pohon lain, yang tingginya
5-15 meter. Sirih memiliki daun tunggal letaknya berseling dengan bentuk
bervariasi mulai dari bundar telur atau bundar telur lonjong, pangkal
berbentuk jantung atau agak bundar berlekuk sedikit, ujung daun runcing,
pinggir daun rata agak menggulung ke bawah, panjang 5-18 cm, lebar 3-12
cm. Batang sirih berwarna cokelat kehijauan, berbentuk bulat, berkerut,
dan beruas yang merupakan tempat keluarnya akar. Morfologi daun sirih
berbentuk jantung, berujung runcing, tumbuh berselang-seling, bertangkai,
teksturnya agak kasar jika diraba, dan mengeluarkan bau khas aromatis jika
diremas.Panjang daun 6-17,5 cm dan lebar 3,5-10 cm (Koensoemardiyah,
2010).
Sirih memiliki bunga majemuk yang berbentuk bulir dan merunduk.
Bunga sirih dilindungi oleh daun pelindung yang berbentuk bulat panjang
dengan diameter 1 mm. Buah terletak tersembunyi atau buni, berbentuk
bulat, berdaging dan berwarna kuning kehijauan hingga hijau keabu-abuan.
Tanaman sirih memiliki akar tunggang yang bentuknya bulat dan berwarna
cokelat kekuningan (Koensoemardiyah, 2010). Daun berwarna hijau,
permukaan atas rata, licin agak mengkilat, tulang daun agak
tenggelampermukaan bawah agak kasar, kusam, tulang daunmenonjol, bau
aromatiknya khasdanrasanya pedas. Batang tanaman berbentuk bulat dan
lunak berwarna hijau agak kecoklatan dan permukaan kulitnya kasar serta
berkerut-kerut (Inayatullah, 2012).
Menurut Hutapea (2000), senyawa metabolit sekunder yang
dihasilkan oleh tanaman sirih berupa saponin, flavonoid, polifenol dan
minyak atsiri triterpenoid, minyak atsiri (yang terdiri atas khavikol,
chavibetol, karvakrol, eugenol, monoterpena, estragol), seskuiterpen, gula
dan pati. Kandungan minyak atsiri yang terdapat pada daun sirih juga
berkhasiat sebagai insektisida alami.

3.2.2. Daun Gelinggang


3.2.2.1. Taksonomi Tanaman Gelinggang

Gambar 3.2 Tanaman Gelinggang


Klasifikasi Tanaman Sirih menurut Syamsuhidayat (1991)
adalah sebagai berikut.
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Class : Dicotyledonae
Ordo : Rosales
Familia : Leguminosae
Genus : Cassia
Species : Casia alata L.
3.2.2.2. Morfologi Tanaman Gelinggang
Daun ketepeng cina (Cassia alata. L) atau Gelinggang berbentuk
jorong sampai bulat telur sungsang, merupakan daun majemuk menyirip
genap yang berpasang-pasangan sebanyak 5 –12 baris, mempunyai anak
daunyang kaku dengan panjang 5 –15 cm, lebar 2,5 –9 cm, ujung daunnya
tumpul dengan pangkal daun runcing serta tepi daun rata. Pertulangan
daunnya menyirip dengan tangkai anak daun yang pendek denganpanjang ±
2 cm dan berwarna hijau, daun ketepang tidak berbau danrasanya kelat.
Buah ketepeng cina (Cassia alata L.) berupa polong-polongan yang gepeng
panjang persegi empat denganpanjang ± 18 cm dan lebar ± 2,5 cm berwarna
hitam.
Di samping itu, buah Ketepeng cina juga mempunyai sayap pada
kedua sisinya dengan panjang 10 –20 mm dan lebar 12 –15 mm. Jika buah
tersebut masak, maka pada kedua sisinya akan membuka atau pecah
sehingga biji yang terdapat di dalam polong akan terlempar keluar. Biji
yangdimiliki ketepeng cina (Cassia alata. L) berbentuk segitiga lancip
danberbentuk pipih yang berjumlah 50 –70 biji pada setiap
polongnya(Hujjatusnaini, 2008). Ketepeng Cina (Cassia alata L.) banyak
dimanfaatkan secara tradisional, antara lain adalah sebagai antiparasit,
laksan, kurap, kudis, panu, eksem, malaria, sembelit, radang kulit bertukak,
sifilis, herpes, influenza dan bronchitis (Kusmardi, 2007).
Kandungan kimia dari daun ketepeng cina (Cassia alata L.) adalah
alkaloida, saponin, flavanoida, tanin dan antrakinon (Kusmardi et al., 2007).
Selain itu, Gelinggang juga mengandung senyawa lain seperti steroid,
terpenoid, dan karbohidrat (Timothy, 2012), ditambah dengan kandungan
Rein aloe-emodina, Rein aloe-emodina-diantron dan Asam Krisofanat.
3.3. Kandungan dan Mekanisme Kerja
3.3.1. Daun Sirih
Menurut beberapa ahli kandungan yang terdapat pada daun sirih
memiliki aktivitas yang berbeda yaitu sebagai berikut:
1. Fenil propane merupakan kandungan yang paling berpengaruh sebagai
senyawa antifungi dalam daun sirih (senyawa Fenolik). Senyawa
tersebut dapat menyebabkan denaturasi protein yaitu kerusakan struktur
tersier protein penyusun dinding sel jamur, sehingga akan
mengakibatkan kelemahan fungsi protein dinding sel (Nurul, 2010).
2. Klavikol merupakan senyawa turunan dari fenol yang memiliki daya
aktivitas anti bakteri lima kali lipat dari fenol biasa (Ditha, 2013).
Dimana senyawa kavikol mampu menghmabat pertumbuhan bakteri
melalui peningkatan permeabilitas membrane bakteri. Senyawa fenol yg
berinteraksi dengan dinding sel jamur dapat mengakibatkan terrjadinya
denaturasi protein dengan meningkatkan permeabilitas sel jamur,
akibatnya terjadi kebocoran pada dinding sel yang menyebabkan
terhambatnya pertumbuhan mikroorganisme yang lama kelmaan akan
mengakibatkan kematian pada sel jamur tersebut (Pangesti RD et al,
2017).
3. Flavonoid akan mengganggu pembentukan pseudohifa selama proses
perkembangan, membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan
terlarut dengan dinding sel sehingga menyebabkan terjadinya denaturasi
protein dinding sel yang akhirnya akan menyebabkan kerapuhan dinding
sel.
4. Tannin bekerja dengan cara merubah morfologi sel, menghambat
petumbuhan dan memproduksi zat yang dapat memecahkan sel jamur.
Mekanisme kerja antijamur menurut Madigan et al (2012) adalah
menghambat sintesis dinding sel, merusak fungsi membran, menghambat
sistesis asam nukleat dan menghambat sistesis protein sel jamur sehingga
sel tersebut rusak atau mengalami lisis.
3.3.2. Daun Gelinggang
Menurut Zhang et al (2006) di dalam daun gelinggang terkandung
senyawa flavonloid dan saponin yang memiliki efek biologis sebagai
antifungi
1. Flavonoid bekerja dengan cara denaturasi protein sehingga
meningkatkan permeabilitas membran sel. Denaturasi protein
menyebabkan gangguan dalam pembentukan sel sehingga mengubah
komposisi komponen protein. Senyawa fenol yang terdapat pada
flavonoid dapat mendenaturasi protein sel dan mengerutkan dinding sel
sehingga menyebaban lisisnya dinding sel jamur (Wahyuningtyas,
2008).
2. Saponin merupakan golongan metabolit yang dapat menghambat atau
membunuh C. albicans dengan cara menurunkan tegangan permukaan
membran sterol dari dinding sel C. albicans, sehingga permeabilitasnya
meningkat. Permeabilitas yang meningkat mengakibatkan airan
intraseluler yang lebih pekat tertarik keluar sel sehingga nutrisi, zat-zat
metabolisme, enzim, protein dalam sel keluar dan jamur mengalami
kematian (Hardiningtyas, 2009).

3.4. Cara Pengolahan


3.4.1 Daun Sirih
Hasil penelitian Sulistyowati (2016), pemberian daun sirih berupa rebusan
daun sirih dari 10 lembar direbus dengan 250 cc air dan ditunggu sampai
mendidih sampai tersisa 100cc air rebusan daun sirih untuk satu kali cebok dan
diberikan 3 kali dalam sehari efektif dalam mengatasi keputihan (Flour Albus).
Penelitian lain yang dilakukan oleh Zubeir et al (2010), menunjukan bahwa
penggunaan ekstrak daun sirih hingga satu minggu dapat mengurangi keluhan
keputihan dengan mengurangi jumlah lendir tanpa mempengaruhi flora normal,
sehingga reaktif aman untuk mengurangi keputihan.
3.4.2 Daun Gelinggang
Untuk cara penggunaan daun Ketepeng cina (Cassia alata L.) secara
tradisional adalah dengan cara direbus yang kemudian airnya diminum juga
dapat dengan cara digerus yang kemudian ditambahkan sedikit air lalu
digosokan pada daerah permukaan kulit yang sakit (Noor Hujjatusnaini, 2007).

3.5. Hasil Penelitian


3.4.1. Daun Sirih
Berikut merupakan beberapa hasil penelitian terhadap efek pemberian
air rebusan sirih untuk pengobatan keputihan:
1. Berdasarkan penelitian Diani et al (2014) yang berjudul “Aktivitas
Antimikroba Kombinasi Rebusan Daun Sirih Hijau (Piper betle) Dan
Daun Sirih Merah (Piper crocatum) Terhadap Candida albicans”
menunjukkan hasil, dimana daun sirih merah dan daun sirih hijau
memiliki aktivitas antimikroba yang tinggi, hal tersebut terlihat dari
tidak adanya pertumbuhan koloni setelah perlaku.
2. Berdasarkan penelitian Misrawati (2015) yang berjudul “Efektifitas
Rebusan Daun Sirih, Temulawak dan Kunyit terhadap Keputihan pada
Perempuan di Daerah Pesisir Sungai Siak” menunjukkan hasil, dimana
adanya perbedaan secara bermakna terhadap perubahan nilai keputihan
pada kelompok eksperimen setelah diberikan rebusan daun sirih,
temulawak dan kunyit dan kelompok control yang tidak diberikan
rebusan daun sirih, temulawak dan kunyit dengan nilai p (0,000) <α
(0,05). Hasil penelitian ini merekomendasikan rebusan daun sirih,
temulawak dan kunyit untuk dijadikan salah satu bentuk terapi alternatif
dalam mengurangi keputihan.
3. Berdasarkan penelitian Dwi Nur et al (2019) yang berjudul “Efektifitas
Air Rebusan Daun Sirih Hijau dalam Mengatasi Keputihan Kelas XI
SMA Muhammadiyah 1 Gombong” menunjukkan hasil p value sebesar
0,000 (p<0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak
diberikan air rebusan daun sirih hijau didapatkan hasil p value 1,000( >
0,005) hasil ini menunjukan Ha ditolak dan Hₒ diterima yang berati
bahwa tidak ada pengaruh yang sighnifikan. Sesuai hasil tersebut maka
air rebusan daun sirih hijau ada pengaruh untuk mengatasi keputihan.
4. Berdasarkan penelitian Zuraidah (2015) yang berjudul “Pengujian
Ekstrak Daun Sirih (Piper sp.) yang digunakan oleh Para Wanita di
Gampong Dayah Bubue, Pidie dalam Mengatasi Kandidiasis Akibat
Cendawan Candida Albicans” menunjukkan hasil bahwa setiap
perlakuan memberi pengaruh yang sangat nyata dalam menghambat
pertumbuhan jamur Candida albicans. Dengan demikian terbukti bahwa
ekstrak daun sirih (Piper sp.) mempengaruhi pertumbuhan jamur
Candida albicans. Persentase tertinggi sebanyak 30% terkena kandidiasis
pada ibu muda berusia 16-25 tahun, sedangkan persentase terendah pada
ibu-ibu berusia 46-55 tahun.
3.4.2. Daun Gelinggang
Berikut merupakan beberapa hasil penelitian terhadap efek
pemberian ekstrak daun Gelinggang untuk pengobatan keputihan:
1. Berdasarkan penelitian Yustini et al (2018) yang berjudul “Uji Potensi
Antijamur Candida Albicans Ekstrak Daun Gelinggang (Cassia Alata
L.) di Bandingkan dengan Sediaan Daun Sirih yang Beredar di Pasaran
Secara In Vitro” menunjukkan hasil pada kelompok perlakuan ekstrak
metanol daun C. alata dan sediaan daun sirih (SDS) 1 dan 2
menunjukkan pengaruh yangtidak berbeda nyata dengan nilai (asymp.
Sig. = 0,245) pada SDS 1 dan (asymp. Sig. = 0,882) pada SDS 2 dalam
menghambat pertumbuhan jamur C. albicans, sehingga dapat dikatakan
perlakuan ekstrak metanol daun gelinggang memiliki efektifitas yang
hampir sama dengan 2 kelompok perlakuan sediaan daun sirih yang
beredar di pasaran dan dapat menjadi alternatif terbaru dalam terapi
infeksi C. albicans.
2. Berdasarkan penelitian Nasyruddin et al (2018) yang berjudul “Uji
Efektifitas Ekstrak Etanol Pada Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.)
terhadap Mikroba Penyebab sariawan (Stomatitis Aphtosa)”
menunjukkan hasil Dari pengujian yang telah dilakukan terlihat bahwa
flavonoida yang terdapat dalam ekstrak etanol daun ketepeng cina
(Cassia alata L.) mampu untuk menghambat pertumbuhan bakteri
penyebab sariawan, yang ditandai dengan penurunan jumlah koloni.
Semakain tinggi konsentrasi ekstrak, maka jumlah koloni bakteri
penyebab sariawan semakin berkurang.
BAB IV
SIMPULAN

4.1 Simpulan
1. Sistem reproduksi merupakan sistem yang berperan dalam menghasilkan
gamet fungsional pada tubuh.
2. Struktur dan komponen sistem reproduksi baik pada pria maupun wanita
terbagi menjadi dua, yaitu alat reproduksi luar dan alat reproduksi dalam.
3. Kelainan dan penyakit pada sistem reproduksi manusia diantaranya adalah
gonore, Kanker serviks, HIV, Sifilis dan Keputihan.
4. Pengobatan secara fitoterapi pada keputihan yaitu dapat dengan menggunakan
air rebusan daun sirih (Piper bettle) sebagai sarana pembersihan vagina atau
mengoleskan ekstrak ketepeng cina (Cassia alata L.) pada daerah permukaan
kulit yang sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Aziz, MF., Andrijono, Saifuddin AB, editors., 2006. Buku Acuan Nasional Onkologi
Ginekologi. Edisi Kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

Bignell C. & Unemo M. 2012. European guideline on the diagnosis and treatment of
gonorrhoea in adults. Int J STD AIDS [internet]. [Cited 2017 Oct 1]; 24 (85):
vailable from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2 4400344 DOI:
10.1177/0956462412472837

Campbell, N. A. & J. B. Reece. (2008). Biologi, Edisi Kedelapan Jilid 3. Terjemahan:


Damaring Tyas Wulandari. Jakarta: Erlangga

Centers for Disease Control and Prevention. 2015. Sexually transmitted disease
Treatment guidelines [internet]. USA: CDC; June 2015 [updated 2016 July
27; cited 2017 Jan 27]. Available from
https://www.cdc.gov/std/tg2015/gonorrh ea.htm

Daili S, Indriatmi W, Zubier F., 2009. Infeksi Menular Seksual. Penerbit FKUI,
Jakarta.

Daili, S. F., Makes, W. I. B., & Zubier, F. 2011. Infeksi Menular Seksual. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI.

Dalimartha, S., 2002, Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Kanker, Penebar


Swadaya: Jakarta.

Depkes RI. 2003. Manajemen Puskesmas. Jakarta: Depkes RI

Ditha. 2013. Efektivitas Anti Bakteri Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper btle L) 35 %
terhadap Bakteri Enterococcus faecalis [Skripsi]. Makasar: UNHAS.

Ganda, Husada S. 2000. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: FKU.


Hakim L. 2001. Epidemiologi Penyakit Menular Seksual. Dalam: Daili SF, Makes
WIB, Zubier F, Judanarso J, editor. Penyakit Menular Seksual.Edisi Kedua.
Jakarta: Fakultas Kedokeran Universitas Indonesia.

Hardiningtyas,S.D. 2009. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Karang Lunak Sarcophyton


sp. Yang Difragmentasi dan Tidak Difragmentasi di Perairan Pulau Pramuka,
Kepulauan Seribu [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Hutapea, J. R., 2000, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, Edisi I, 19-20, Bhakti
Husada, Jakarta.

Inayatullah, S., 2012. Efek Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper bettle Linn) Terhadap
Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus. Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah.

Irianto Koes. 2014. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: Alfabet.

Kasdu, D (2008). Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta: Puspa Swara, Anggoru
IKAPI.

Kingston M, French P, Higgins S et al. UK national guidelines on the management of


Syphilis 2015. Intional Journal of STD and AIDS OnlineFirst, published on
December 31, 2015 as doi: 10.1177/0956462415624059

Koensoemardiyah. 2010. A to Z Minyak Atsiri: untuk Industri Makanan,


Kosmetikdan Aromaterapi. Yogyakarta: C.V. Andi. Hal. 16-17.

KPA. 2007. Strategi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2007-2010. Draft Final
040107. Jakarta: Kemenkes
Kusmardi, Kumala S, dan Triana E.E, 2007, Efek Imunomodulator Ekstrak Daun
Ketepeng Cina (Cassia alata L.) terhadap Aktivitas dan Kapasitas Fagositosis
Makrofag, Makara Kesehatan, 11 (2): 50-53.

Manuaba. 2010. Ilmu kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC.

Pack, Philip E. 2007. Anatomi dan Fisiologi. New York: Pakar Raya Karyana Pustaka

Pangesti RD, Cahyono E, Kusumo E. Indonesian Journal of Chemical Science


Perbandingan Daya Antibakteri Ekstrak dan Minyak Piper betle L. terhadap
Bakteri Streptococcus mutans. 2017;6(3).

Pinsky, L., & Douglas, P.H., 2009, the Columbia University Handbook on HIV and
AIDS, Columbia University: Columbia.

Price, A. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Proses-Proses Penyakit, Edisi IV.


Jakarta: EGC.

Ratnam S. The laboratory diagnosis of syphilis. Can J Infect Dis Med Microbiol,
Canadian STI Best Practice Laboratory Guidelines. 2005

Sinta, NS. 2010. Kanker Servikss dan Infeksi Human Pappilomavirus (HPV). Jakarta:
Javamedia Network
Sulistiyowati, & Amalia, A. 2016. Perbedaan Efektifitas Penggunaan Daun Sirih
Dan Bawang Putih. 38-44. Vol. 08, No. 03.

Syamsuddin, A. (2001). Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Rosda Karya Remaja

Suwiyoga, K. Januari 2007. Kanker Serviks: Penyakit Keganasan Fatal yang dapat di
Cegah. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Volume 31. Nomor 1.
Syamsuhidayat SS, Hutapea JR. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Jakarta:
Badan Peneliti dan Pengembangan Kesehatan.

Switaning E,. Nurul Fajari, dan Moch. Afiq Dwi A. 2010. Ekstraksi Minyak Atsiri
dari Limbah Kulit Jeruk Manis di Desa Gadingkulo Kecamata Dau Kabupaten
Malang Sebagai Campuran Minyak Goreng untuk Penambahan Aroma Jeruk.
Universitas Negeri Malang. Malang.

Timothy,S.Y., Lamu,F.W., Rhoda,A.S., Adiati,R.G., Maspalma,I.D., Askira,M., 2012.


Antimicrobial Activity of Senna alata and Phyllanthus amarus. International
Research Journal of Pharmacy.

Tjitraresmi, A. Kusuma, S, A, F. Rusmiati, D. 2010. Formulasi dan Evaluasi Sabun


Cair Antikeputihan dengan Ekstrak Etanol Kubis sebagai Zat Aktif. Bandung:
Penelitian DIPA Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran.

Tjitrosoepomo. 1993. Taksonomi tanah (Spermathopyta). Yogyakarta: UGM Press.

Wahyuningtyas, E. 2008. Pengaruh Ekstrak Graptophyllum pictum terhadap


Pertumbuhan Candida albicans pada Plat Gigi Tiruan Resin Akrilik.
Indonesian Journal of Dentistry.
Wiknjosastro H. 2005. Ilmu Kandungan. 3rd ed. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

Zubier, et al. 2010. Efiksasi Ekstrak Sirih Merah Dalam Mengurangi Gejala
Keputihan Fisilogis. Depok: Universitas Indonesia.