Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keberhasilan reproduksi akan sangat mendukung peningkatan populasi sapi perah.


Namun kondisi sapi perah di usaha peternakan rakyat, hingga saat ini sering dijumpai
adanya kasus gangguan reproduksi yang ditandai dengan rendahnya fertilitas induk,
akibatnya berupa penurunan angka kebuntingan dan jumlah kelahiran pedet. Gangguan
reproduksi yang umum terjadi pada sapi diantaranya adalah retensio sekundinarium
(ari-ari tidak keluar), distokia (kesulitan melahirkan), abortus (keguguran), dan
kelahiran prematur/sebelum waktunya.

Gangguan reproduksi tersebut menyebabkan kerugian ekonomi sangat besar bagi


peternak yang berdampak terhadap penurunan pendapatan peternak; umumnya
disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah penyakit reproduksi, buruknya
sistem pemeliharaan, tingkat kegagalan kebuntingan dan masih adanya pengulangan
inseminasi, yang kemungkinan salah satu penyebabnya adalah adanya gangguan
reproduksi.

Penanganan gangguan reproduksi ditingkat pelaku usaha peternakan masih kurang,


bahkan beberapa peternak terpaksa menjual sapinya dengan harga yang murah karena
ketidaktahuan cara menangani. Perlu pemasyarakatan teknologi inovatif untuk
penanggulangan gangguan reproduksi sapi perah, khususnya pada sapi induk usaha
perbibitan rakyat dengan harapan sapi induknya produktif sehingga memacu semangat
untuk berusaha.

B. Tujuan Dan Manfaat

Tujuan pembuatan makalah ini adalah: Mengetahui berbagai gangguan atau penyakit
reproduksi pada sapi

ii
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyebab Gangguan atau Penyakit Reproduksi


Gangguan reproduksi pada sapi perah di sebabkan oleh beberapa faktor, di
antaranya:
1. Cacat anatomi saluran reproduksi.
2. Gangguan fungsional.
3. Kesalahan manajemen.
4. Infeksi organ reproduksi
B. Macam-macam Gangguan Reproduksi Ternak

Kesehatan reproduksi hewan memiliki peran penting dalam mendukung


keberhasilan peningkatan populasi. Adanya gangguan kesehatan reproduksi hewan atau
dikenal dengan istilah gangguan reproduksi ditandai dengan efisiensi reproduksi dan
produktifitas yang rendah. Dampak adanya gangguan reproduksi dapat dilihat dari
tingginya service per conception (S/C), panjangnya calving interval (CI), dan rendahnya
angka kelahiran. Dari berbagai pemeriksaan yang dilakukan di wilayah Indonesia
gangguan reproduksi pada ternak ruminansia besar seperti sapi potong, sapi perah dan
kerbau pada tahun 2015, tahun 2016 dan awal tahun 2017 sekitar 40-55% sapi dan atau
kerbau betina yang diperiksa mengalami gangguan reproduksi. Kasus gangguan
reproduksi yang terbanyak adalah hipofungsi ovarium, repeat breeding (kawin
berulang), silent heat, corpus luteum persisten, delayed puberty dan endometritis
atau metritis.

1. Hipofungsi ovaria.

Hipofungsi ovaria adalah suatu keadaan dimana ovarium kurang berfungsi yang
ditandai dengan tidak munculnya birahi (anestrus) dan umumnya sering terjadi pada
sapi setelah beranak atau sapi dara yang kondisi tubuhnya rendah atau sapi-sapi yang
kurus. Ovarium atau indung telur sapi yang mengalami hipofungsi ovaria pada
umumnya tidak berkembang, pat palpasi per rektal akan teraba licin dan pipih.
Penyebab hipofungsi ovaria karena adanya gangguan hormon, yaitu terjadi penurunan
sekresi Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) oleh hipothalamus, diikuti
menurunnya hormon kekurangan pakan baik kualitas dan kuantitas (kurus, skor kondisi

ii
tubuh kurang dari 2.5), keseimbangan nutrisi yang jelek, menderita penyakit akut dan
kronis seperti cacingan, iklim yang tidak serasi dengan kehidupan ternak seperti suhu
yang terlalu tinggi atau terlalu panas. Kejadian hipofungsi ovaria akan sembuh setelah
ada perbaikan pakan. Untuk mempercepat kesembuhan hipofungsi ovaria, selain
perbaikan pakan sebaiknya diberi vitamin yang mengadung vitamin ADE dan mineral,
ini akan mempercepat aktifitas ovaria. Pemberian GnRH dapat dilakukan jika SKT
sudah memenuhi syarat.

2. Repeat breeding.

Reapeat breeding adalah sapi yang mempunyai siklus estrus normal dan sudah
dikawinkan lebih dari tiga kali namun belum bunting. Penyebab dasarnya adalah karena
kegagalan fertilisasi dan kematian embrio dini. Repeat breeding sebetulnya bukan
merupakan suatu kasus, tapi suatu gejala dari suatu kasus. Kasus-kasus dilapangan yang
ditandai dengan adanya repeat breeding adalah endometritis subklinis, delayed
ovulation, sista korpora luteal, anovulation dan defisiensi luteal. Kemampuan dokter
hewan dilapangan utnuk menentukan kasus-kasus tersebut sangatlah penting agar terapi
yang dilakukan bisa lebih tepat. Kesalahan dalam menentukan diagnosa dengan gejala
repeat breeding dapat mengacaukan terapi yang diberikan sehingga hasilnya tidak
maksimal. Pada umumnya, dokter hewan dilapangan memberi terapi repeat breeding
dengan antiseptik (iodin povidon) atau antibiotik, dan ini hanya akan memberi hasil
kesembuhan (bunting) sekitar 20%. Kalau dikombinasi dengan hormon GnRH, tingkat
kebuntingan bisa mencapai 60%.

3. Korpus luteum persisten (CLP).

Korpus luteum persisten adalah suatu keadaan korpus luteum tetap ada
(persisten) dalam jangka waktu yang lama, disebabkan adanya gangguan terhadap
produksi dan pelepasan prostaglandin dari endometrium yang ditandai dengan anestus
(sapi tidak menunjukan birahi). Korpus luteum persisten sebetulnya merupakan suatu
gejala dari adanya gangguan pada endometrium (uterus) dan bukan merupakan kasus
gangguan reproduksi. Gangguan reproduksi yang ditandai dengan adanya CLP dapat
berupa endometritis klinis, piometra, mummifikasi, dan maserasi fetus. Terapi untuk
mengatasi adanya CLP adalah tergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan karena
maserasi fetus, penanganan yang paling baik adalah dengan operasi. Pada umumnya

ii
terapi CLP adalah dengan injeksi prostaglandin dan idealnya dikombinasi dengam
pemberian iodin povidon 1%.

4. Silent heat.

Silent heat adalah suatu keadaan sapi yang tidak menunjukkan gejala estrus
yang jelas dan jika dilakukan palpasi perrektal teraba ada aktifitas ovarium seperti
adanya korpus luteum atau folikel. Peternak tidak akan pernah mengetauhinya jika sapi
miliknya sedang dalam keadaan estrus. Seorang dokter hewan yang sudah pengalaman
akan dengan mudah menentukan silent heat, yaitu dengan melakukan pemeriksaan
secara rektal. Terapi silent heat tergantung pada hasil pemeriksaan. Jika ditemukan ada
korpus luteum, sebaiknya langsung diinjeksi prostaglandin. Pemberian mineral, vitamin
ADE dan hormon GnRH akan mempercepat kesembuhan silent heat.

5. Delayed puberty.

Keterlambatan dewasa kelamin (delayed puberty) adalah suatu keadaan sapi


belum mengalami dewasa kelamin (belum pernah estrus) walau umurnya sudah
mencapai lebih dari dua tahun, yang ditandai (palpasi perektal) tidak adanya aktifitas
ovarium. Kejadian keterlambatan dewasa kelamin dilapangan cukup tinggi dan
penyebab utamanya adalah kekurangan nutrisi. Pada daerah tertentu, faktor inbreeding
(model peternakan semi intensif dan lepas dipadangan) mungkin sangat berpengaruh.
Secara palpasi per-rektal, ciri utama dari delayed pubertas adalah ovarium belum aktif,
dan ukurannya lebih kecil. Pemberian pakan yang baik dan vitamin ADEK dapat
membantu mempercepat dewasa kelamin.

6. Endometritis.

Endometritis adalah infeksi endometrium dan merupakan peradangan uterus


yang paling ringan. Endometritis dapat merupakan lesi primer atau kondisinya
berkembang secara cepat menjadi peradangan uterus yang lebih berat. Uterus sapi
biasanya terkontaminasi dengan berbagai mikroorganisme selama masa puerperium
atau masa nifas. Bakteria disingkirkan dari lumen uterus selama minggu-minggu
pertama setelah beranak oleh proses fagositosis yang prosesnya dipacu oleh estrogen
dan dihambat oleh progesteron. Penyebab utama kejadian edometritis adalah mikroba

ii
yang masuk akibat perlakuan IB yang tidak legeartis dan perawatan post partum yang
tidak benar. Gejala yang muncul diawali keluarnya leleran yang berbau busuk dan sapi
tidak menunjukan estrus. Terapinya tergantung tingkat keparahan dan agen penyebab
infeksi

ii
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan isi dan pembahasan dari data di atas, maka kami menyimpulkan bahwa:

1. Gangguan reproduksi pada sapi potong disebabkan oleh beberapa faktor,


diantaranya adalah Hipofungsi ovaria adalah suatu keadaan dimana ovarium
kurang berfungsi, Ovarium atau indung telur sapi yang mengalami hipofungsi
ovaria pada umumnya tidak berkembang.
2. Reapeat breeding adalah sapi yang mempunyai siklus estrus normal dan sudah

dikawinkan lebih dari tiga kali namun belum bunting. Penyebab dasarnya adalah

karena kegagalan fertilisasi dan kematian embrio dini. Repeat breeding sebetulnya

bukan merupakan suatu kasus, tapi suatu gejala dari suatu kasus.

3. Korpus luteum persisten adalah suatu keadaan korpus luteum tetap ada (persisten)

dalam jangka waktu yang lama, disebabkan adanya gangguan terhadap produksi

dan pelepasan prostaglandin dari endometrium yang ditandai dengan anestus (sapi

tidak menunjukan birahi).

4. Silent heat adalah suatu keadaan sapi yang tidak menunjukkan gejala estrus yang

jelas dan jika dilakukan palpasi perrektal teraba ada aktifitas ovarium seperti

adanya korpus luteum atau folikel.

5. Delayed puberty adalah suatu keadaan sapi belum mengalami dewasa kelamin

(belum pernah estrus) walau umurnya sudah mencapai lebih dari dua tahun, yang

ditandai (palpasi perektal) tidak adanya aktifitas ovarium.

6. Endometritis adalah infeksi endometrium dan merupakan peradangan uterus yang

paling ringan. Endometritis dapat merupakan lesi primer atau kondisinya

berkembang secara cepat menjadi peradangan uterus yang lebih berat.

ii
B. Saran

Gangguan reproduksi dapat diantisipasi dengan memperhatikan beberapa faktor


diantaranya :

1. Seleksi genetik
2. Manajemen pakan yang baik sehingga mendukung kesuburan saluran reproduksi.
3. Manajemen kesehatan yang baik meliputi kesehatan sapi (program pengobatan dan
vaksinasi) , kebersihan kandang dan lingkungan (sanitasi dan desinfeksi) sehingga
dapat meminimalisasi agen patogen (bakteri, virus, jamur, protozoa) yang dapat
mengganggu kesehatan sapi.
4. Penanganan masalah reproduksi dengan prosedur yang baik dan benar sehingga
mengurangi kejadian trauma fisik yang akan menjadi faktor predisposisi gangguan
reproduksi.

ii
DAFTAR PUSTAKA

 http://niayulianty.blogspot.com/2013/11/gangguan-penyakit-reproduksi.html
 Anonim, 2004c. Kegagalan reproduksi sapi perah. http://www.duniasapi.com.
(Diakses, 27 Februari 2011).
 Anonim.2011d. Kelainan Reproduksi Sapi Perah.http://www.iasa.pusat.org.com
 Wijaya, Ibnu. 2008. Ilmu Reproduksi Ternak Mata Kuliah Peternakan. Jurusan
Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Udayana.2008.
http://one.indoskripsi.com.

ii
KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kenikmatan kepada kita semua sehingga kami dapat membuat dan menyelesaikan
sebuah makalah yang berjudul “Gangguan Reproduksi Ternak”
Selawat beriring salam tak lupa kami sanjungkan kepangkuan alam Nabi
Muhammad SAW selaku Nabi dan Rasul terakhir yang membimbing manusia,
mengajak manusia untuk menganut agama tauhid yakni Agama Islam sekaligus
menyempurnakan akhlak manusia
Ucapan terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan kepada Dosen yang telah
membimbing penulis dan teman-teman semua yang telah banyak membantu dalam
pembuatan makalah ini
Kami sangat mengharapkan kritikan dan saran serta soal-soal.yang bersifat
positif baik itu dari Dosen sendiri dan juga dari teman-teman semua, agar kedepannya
menjadi lebih baik, Amin ya rabbal alamin.

Wassalam

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................ i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.......................................................................... 1
B. Tujuan dan Manfaat .................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Penyebab Gangguan atau Penyakit Reproduksi ....................... 2
B. Macam-macam Gangguan Reproduksi Ternak ....................... 2
1. Hipofungsi ovaria. ................................................................ 2
2. Repeat breeding. .................................................................. 3
3. Korpus luteum persisten (CLP). .......................................... 3
4. Silent heat. ............................................................................ 4
5. Delayed puberty. .................................................................. 4
6. Endometritis ......................................................................... 4

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .............................................................................. 6
B. Saran ........................................................................................ 7

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 13

ii