Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH


INDUSTRI
SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2019/2020

MODUL : Filtrasi
PEMBIMBING : Keryanti S.T, M.T

Praktikum : 19 November 2019


A.
Penyerahan Laporan : 25 November 2019
Penyerahan Revisi : 3 Desember 2019

Oleh :
Kelompok : IV
Nama : 1. Insani Mardliyyah 171411014
2. Iqbal Muhammad Fariz 171411015
3. Kamil Haikal Fauzi 171411016
4. Kautsar Yudha Pratama 171411017

Kelas : 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kegunaan air dalam proses industri sangat banyak sekali, selain sebagai air
baku pada industri air minum dan pemutar turbin pada pembangkit tenaga listrik,
juga sebagai alat bantu utama dalam kerja pada proses-proses industri. Selain itu
juga air digunakan sebagai sarana pembersihan (cleaning) baik itu pembersihan area
atau alat-alat produksi yang tidak memerlukan air dengan perlakuan khusus atau
cleaning dengan menggunakan air dengan kualitas dan prasyarat tertentu yang
membutuhkan sterilisasi dan ketelitian yang tinggi. Air juga berperan sebagai media
yang berguna dan murah untuk mengalirkan panas ke suatu proses yaitu dalam
bentuk steam.
Dalam memenuhi kebutuhan produksi suatu industri yang semakin bertambah
dan berkembang pesat diperlukan suatu sistem yang dapat menunjang kebutuhan
produksi tersebut. Salah satu proses yang biasanya dilakukan dalam suatu industri
yaitu proses pemurnian atau pemisahan dalam pengolahan untuk menghasilkan
suatu produk. Pengolahan air dengan pemurnian atau pemisahan tersebut dapat
dilakukan secara fisika, kimia dan biologi, ketiga proses tersebut saling
berkesinambungan untuk memperoleh kualitas air yang memenuhi standar. Pada
praktikum ini dilakukan proses pengolahan air bersih secara fisika, yaitu proses
filtrasi.

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum filtrasi ini adalah menentukan efisiensi penurunan
kekeruhan pada proses filtrasi.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian Filtrasi
Filtrasi adalah proses pemisahan solid-liquid dengan cara melewatkan liquid
melalui media berpori atau bahan-bahan berpori untuk menyisihkan atau
menghilangkan sebanyak-banyaknya butiran-butiran halus zat padat tersuspensi
dari liquid. Dalam proses filtrasi partikel padatan yang tersuspensi dalam cairan
dapat dipisahkan dnegan menggunakan medium berposri yang dapat menahan
partikel tersebut dan dapat dilewati oleh filtrat yang jernih. (Geankoplis, 1993)

2.2. Media Filter


Media filter dapat tersusun dari pasir silika alami, anthrasit, atau pasir garnet.
Media ini umumnya memiliki variasi dalam ukuran, bentuk dan komposisi kimia.
Pemilihan media filter yang akan digunakan dilakukan dengan analisa ayakan
(sieve analysis).
Berdasarkan jenis dan jumlah media yang digunakan dalam penyaringan,
media filter dikelompokkan menjadi :
1. Single media
Single media merupakan media filter yang hanya terdiri dari satu jenis
media saja, seperti pasir silika, atau dolomit saja. Sistem ini penyaringan
terjadi pada lapisan paling atas sehingga dianggap kurang efektif karena
sering dilakukan pencucian.
2. Dual media
Dual media menggunakan dua media dalam media filternya.
Misalnya, digunakan pasir silika dan athrasit. Filter dual media yang
sering digunakan merupakan gabungan dari filter dengan media pasir
kwarsa pada lapisan bawah dan anthrasit pada lapisan atas.
3. Multi media
Multi media merupakan media filter yang memiliki beberapa media
didalamnya. Untuk contohnya, digunakan pasir silika, anthrasit, dan
garnet atau dolomit. Fungsinya adalah untuk memfungsikan seluruh
lapisan filter agar berperan sebagai penyaring.

Jenis-jenis media filter yang biasa digunakan, diantaranya :


1. Pasir silika
Pasir silika dalam media filter sangat berguna untuk menyaring lumpur,
tanah dan partikel lainnya dalam air. Biasanya difungsikan sebagai pre-filter
untuk diproses dengan filter berikutnya.
2. Karbon aktif
Karbon aktif dalam media filter berperan dalam menghilangkan klorin
bebas dan senyawa organik yang menyebabkan bau, rasa, dan warna dalam air.
Karbon aktif juga berfungsi untuk menyerap apa saja yang dilaluinya, karena
merupakan material yang memiliki pori-pori sangat banyak.
3. Batu kerikil
Dalam media filter batu kerikil berfungsi seperti saringan teh atau kopi
yang menyaring kotoran-kotoran dengan ukuran agak besar yang tampak oleh
mata.
4. Pasir mangan
Pasir mangan efektif dalam mengurangi zat besi dan mangan dalam air.
Dalam air zat ini ditandai dengan perubahan warna air menjadi kemerah-
merahan bila diendapkan dan air akan berbau besi.
5. Pasir aktif
Pasri aktif dalam media filter digunaka untuk menyaring partikel dalam
air. Biasa dipakai sebagai pengganti pasir silika ada pre-filter.
6. Pasir zeolit
Pasir zeolit dalam media filter berfungsi untuk meningkatkan kadar
oksigen dalam ai, sebagai penukar kation, pelunak air, jura penyaring molekul.
7. Katridge filter
Katridge filter memiliki kemampuan untuk menyaring partikel dalam air
sesuai mesh filter, 0,1 micro; 0,5 micron; dan seterusnya.
2.3. Tipe Filtrasi Air Limbah

Berdasarkan pada kapasitas produksi air yang terolah, filter pasir dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu filter pasir cepat dan filter pasir lambat.

2.3.1 Filter Pasir Cepat


Filter pasir cepat atau rapid sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan filtrasi
cepat, berkisar 4-21 m/jam. Filter ini selalu didahului dengan proses koagulasi – flokulasi
dan pengendapan untuk memisahkan padatan tersuspensi. Jika kekeruhan pada influen
filter pasir cepat berkisar 5-10 NTU maka efisiensi penurunan kekeruhannya dapat
mencapai 90-98%.
2. 3. 2 Filter Pasir Lambat
Filter pasir lambat atau slow sand filter adalah filter yang mempunyai kecepatan
filtrasi lambat, yaitu sekitar 0,1-0,4 m/jam. Kecepatan yang lebih lambat ini disebabkan
ukuran media pasir lebih kecil (effective size = 0,15-0,35 mm). Filter pasir lambat
merupakan sistem filtrasi yang pertama kali digunakan untuk pengolahan air, dimana
sistem ini dikembangkan sejak taun 1800 SM. Prasedimentasi dilakukan pada air baku
mendahului proses filtrasi.
Filter pasir lambat cukup efektif digunakan untuk menghilangkan kandungan bahan
organik dan organisme patogen pada air baku yang mempunyai kekeruhan relatif rendah.
Filter pasir lambat banyak digunakan untuk pengolahan air dengan kekeruhan air baku di
bawah 50 NTU. Efisiensi filter pasir lambat tergantung pada distribusi ukuran partikel
pasir, ratio luas permukaan filter terhadap kedalaman kecepatan filtrasi.

2.4. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Filtrasi


Dalam proses filtrasi terjadi reaksi kimia dan fisika, sehingga banyak faktor–
faktor yang saling berkaitan yang akan mempengaruhi pula kualitas air hasil
filtrasi, efisiensinya, dan sebagainya. Faktor–faktor tersebut adalah debit filtrasi,
kedalaman media, ukuran dan material, konsentrasi kekeruhan, tinggi muka air,
kehilangan tekanan, dan temperatur.
1) Debit Filtrasi
Debit yang terlalu besar akan menyebabkan tidak berfungsinya filter secara
efisien. Sehingga proses filtrasi tidak dapat terjadi dengan sempurna, akibat
adanya aliran air yang terlalu cepat dalam melewati rongga diantara butiran media
pasir. Hal ini menyebabkan berkurangnya waktu kontak antara permukaan butiran
media penyaring dengan air yang akan disaring. Kecepatan aliran yang terlalu
tinggi saat melewati rongga antar butiran menyebabkan partikel–partikel yang
terlalu halus yang tersaring akan lolos.
2) Konsentrasi Kekeruhan
Konsentrasi kekeruhan sangat mempengaruhi efisiensi dari filtrasi. Konsentrasi
kekeruhan air baku yang sangat tinggi akan menyebabkan tersumbatnya lubang
pori dari media atau akan terjadi clogging. Sehingga dalam melakukan filtrasi
sering dibatasi seberapa besar konsentrasi kekeruhan dari air baku (konsentrasi air
influen) yang boleh masuk. Jika konsentrasi kekeruhan yang terlalu tinggi, harus
dilakukan pengolahan terlebih dahulu, seperti misalnya dilakukan proses
koagulasi – flokulasi dan sedimentasi.
3) Temperatur
Adanya perubahan suhu atau temperatur dari air yang akan difiltrasi,
menyebabkan massa jenis (density), viskositas absolut, dan viskositas kinematis
dari air akan mengalami perubahan. Selain itu juga akan mempengaruhi daya tarik
menarik diantara partikel halus penyebab kekeruhan, sehingga terjadi perbedaan
dalam ukuran besar partikel yang akan disaring. Akibat ini juga akan
mempengaruhi daya adsorpsi. Akibat dari keduanya ini, akan mempengaruhi
terhadap efisiensi daya saring filter.
Menurut Griswidia (2008) yang dikutip dari jurnal Penentuan Setting Level
Optimal Media Penjernih Air Terhadap Tingkat Kekeruhan dan Kandungan Fe
dengan Metode Full Factorial 22 dan Principal Component Analysis oleh
Sudarmono (2010), temperatur berpengaruh terhadap kekentalan, aktifitas biologi,
dan reaksi kimia.
• Pengaruh Temperatur terhadap Kekentalan
Jika temperatur air semakin tinggi, maka kekentalan air akan semakin rendah
sehingga gaya gesek air akan lebih cepat melalui celah tersebut dengan demikian
akan memperpendek waktu filtrasi.
• Temperatur terhadap Aktifitas Biologi
Temperatur air dapat mempengaruhi kecepatan metabolism bakteri dalam air,
apabila temperatur mencapai optimum untuk perkembangbiakan bakteri, maka
bakteri akan bertambah dengan cepat.
• Pengaruh Temperatur terhadap Reaksi Kimia
Apabila temperatur semakin tinggi, maka reaksi kimia akan semakin cepat,
sebaliknya apabila temperatur semakin rendah maka reaksi kimia akan semakin
lambat. Temperatur yang baik yaitu antara 20-300C, temperatur akan
mempengaruhi kecepatan reaksi-reaksi kimia.
4) Kedalaman media, ukuran, dan material
Pemilihan media dan ukuran merupakan keputusan penting dalam perencanaan
bangunan filter. Tebal tipisnya media akan menentukan lamanya pengaliran dan
daya saring. Media yang terlalu tebal biasanya mempunyai daya saring yang
sangat tinggi, tetapi membutuhkan waktu pengaliran yang lama. Lagipula ditinjau
dari segi biaya, media yang terlalu tebal tidaklah menguntungkan dari segi
ekonomis. Sebaliknya media yang terlalu tipis selain memiliki waktu pengaliran
yang pendek, kemungkinan juga memiliki daya saring yang rendah. Demikian
pula dengan ukuran besar kecilnya diameter butiran media filtrasi berpengaruh
pada porositas, laju filtrasi, dan juga kemampuan daya saring, baik itu
komposisisnya, proporsinya, maupun bentuk susunan dari diameter butiran media.
Keadaan media yang terlalu kasar atau terlalu halus akan menimbulkan variasi
dalam ukuran rongga antar butir. Ukuran pori sendiri menentukan besarnya tingkat
porositas dan kemampuan menyaring partikel halus yang terdapat dalam air baku.
Lubang pori yang terlalu besar akan meningkatkan rate dari filtrasi dan juga akan
menyebabkan lolosnya partikel halus yang akan disaring. Sebaliknya lubang pori
yang terlalu halus akan meningkatkan kemampuan menyaring partikel dan juga
dapat menyebabkan clogging (penyumbatan lubang pori oleh partikel halus yang
tertahan) terlalu cepat.
5) Tinggi Muka Air Di Atas Media dan Kehilangan Tekanan
Keadaan tinggi muka air di atas media berpengaruh terhadap besarnya debit
atau laju filtrasi dalam media. Tersedianya muka air yang cukup tinggi diatas
media akan meningkatkan daya tekan air untuk masuk kedalam pori. Dengan
muka air yang tinggi akan meningkatkan laju filtrasi (bila filter dalam keadaan
bersih). Muka air diatas media akan naik bila lubang pori tersumbat (terjadi
clogging) terjadi pada saat filter kotor. Untuk melewati lubang pori, dibutuhkan
aliran yang memiliki tekanan yang cukup. Besarnya tekanan air yang ada diatas
media dengan yang ada didasar media akan berbeda di saat proses filtrasi
berlangsung. Perbedaan inilah yang sering disebut dengan kehilangan tekanan
(headloss). Kehilangan tekanan akan meningkat atau bertambah besar pada saat
filter semakin kotor atau telah dioperasikan selama beberapa waktu. Friksi akan
semakin besar bila kehilangan tekanan bertambah besar, hal ini dapat diakibatkan
karena semakin kecilnya lubang pori (tersumbat) sehingga terjadi clogging.
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
Berikut ini adalah alat-alat yang dibutuhkan saat proses filtrasi air limbah
:
1. Rangkaian alat filtrasi
2. Turbidity meter
3. pH meter
4. TDS meter
5. Gelas kimia
6. Gelas ukur
7. Ember
3.1.2. Bahan
Adapun bahan-bahan yang diperlukan saat proses filtrasi adalah sebagai
berikut:
1. Air 25 Liter
2. Tepung terigu 12,5 gram
3.2. Skema Alat

Umpan masuk Aliran bypass


Debit=0,9774 L/menit

Tangki
Umpan
Kolom
(25L)
Filtrasi
19,76L

Aliran untuk
kalibasi influen
Aliran efluen
3.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang dilakukan dalam proses filtrasi meliputi tahapan berikut :

Melakukan kalibrasi laju


alir

Mengisi bak filtrasi


dengan campuran air 25 L
dan tepung terigu 12,5
gram

Mengukur TDS,
kekeruhan, dan pH pada
influent

Menjalankan filtrasi

Mengukur TDS,
kekeruhan, pH, dan
volume selama 4 menit
sekali pada effluent
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Data pengamatan


 Berat tepung terigu : 12,5 gram
 Debit air : 0,9774 L/menit
 Volume kolom filtrasi : 19,76 L
 Kekeruhan awal : 50,64 NTU
 pH awal :7
 TDS awal : 329,8 ppm
 Waktu tinggal : 20,217 menit

Tabel 4.1 Data Pengamtan TDS, Kekeruhan, pH, dan Volume terhadap Waktu
Waktu TDS Kekeruhan Volume
pH
(menit) (ppm) (NTU) (L)
0 329,8 50,64 7 -
4 313,4 16,42 6,86 -
8 317,7 7,33 6,85 5,88
12 319,7 8,59 7,05 3,16
16 318,3 8,78 6,9 3,5
20 318,8 8,98 6,99 3,12
24 319,4 8,64 7,07 2,7
28 319,8 8,4 6,68 1,52
32 316 10,07 6,87 0,98

Tabel 4.2 Data Pengamtan Penurunan Effisiensi Kekeruhan


Waktu Kekeruhan Effisiensi
(menit) (NTU) (%)
0 50,64 -
4 16,42 67,57
8 7,33 85,52
12 8,59 83,04
16 8,78 82,66
20 8,98 82,27
24 8,64 82,94
28 8,4 83,41
32 10,07 80,11
Grafik Kekeruhan vs Waktu
60

50
Kekeruhan (NTU)
40

30

20

10

0
0 4 8 12 16 20 24 28 32
Waktu (menit)

Gambar 4.1 Grafik Kekeruhan (NTU) terhadap Waktu (menit)

4.2. Pembahasan
4.2.1. Pembahasan oleh Insani Mardliyyah (171411014)
Filtrasi pada pengolahan air limbah ditujukan untuk menjernihkan air
limbah dengan cara melewatkan air limbah ke dalam media filter, dengan
diharapkan air yang keluar dari media filter memiliki kekeruhan yang lebih
sedikit dibandingkan air yang masuk ke dalam media filter.
Pada praktikum filtrasi kali ini menggunakan media filter berupa pasir
silika, ijuk, dan kerikil. Pasir silika yang berada di lapisan paling atas akan
menyaring padatan yang berukuran besar. Pada lapisan kedua ada ijuk
yang akan menyaring padatan yang bersifat mikro, misalnya mikroba-
mikroba yang terdapat pada air limbah tersebut. Lapisan ketiga terdapat
kerikil yang berfungsi untuk menjernihkan air limbah. Air limbah yang
dipakai berupa air dengan tepung terigu 0,5 gram/L. Volume air baku atau
air limbah yang dibutuhkan adalah sebanyak 25 L. prinsip filtrasi disini
menggunakan prinsip gravitasi. Dimana air limbah akan dialirkan melalui
media filter dari lapisan atas sampai ke lapisan bawah dan keluar sebagai
efluent.
Dari kalibrasi yang dilakukan, didapat debit aliran air sebesar 0,9774
L/menit. Dimana debit aliran air umpan dengan efluent diatur supaya
memiliki angka yang sama atau tidak jauh berbeda. Hal ini dikarenakan
supaya tidak terjadinya overflow pada aliran efluent. Dari praktikum yang
dilakukan dilakukan pengukuran TDS, kekeruhan, pH, dan juga volume
dari efluent. Dengan interval 4 menit kekeruhan yang dihasilkan cenderung
menurun. Hal ini menunjukkan media filter yang digunakan masih cukup
baik dalam menyaring air limbah. Hanya saja seperti pada menit ke-4
kekeruhan mengalami kenaikan yang cukup terlihat, hal ini dapat
disebabkan karena pengukuran kekeruhan yang hanya dilakukan sekali
sehingga ada ketidak tepatan dalam pengukuran. TDS yang dihasilkan tiap
interval juga menunjukkan penurunan, hanya saja tidak signifikan
dikarenakan kemungkinan hanya dengan filtrasi saja tidak cukup untuk
mengurangi padatan terlarut yang terdapat pada air limbah. Volume efluent
yang dihasilkan semakin berkurang, hal ini menandakan semakin
berkurangnya juga influent yanng disaring. Nilai kekeruhan paling rendah
ada pada menit ke-8 dengan nilai kekeruhan 7,33 NTU dan efisiensi
sebesar 85,52%. Nilai rata-rata dari kekeruhan yang dihasilkan tiap
interval sebesar 9,65 NTU dan nilai rata-rata efisiensi sebesar 80,94%.
Jika dibandingkan dengan kelompok sebelumnya yang memiliki nilai
debit aliran sebesar 1,092 L/menit memiliki efisiensi63,68% yang mana
lebih rendah dibandingkan dengan debit aliran sebesar 0,9774 L/menit. Hal
ini disebabkan karena semakin rendah laju alir maka akan semakin baik
kualitas dari penyaringan yang dihasilkan.
Berdasarkan persyaratan baku mutu air bersih pada peraturan menteri
kesehatan Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 kadar maksimum yang
diperbolehkan dari parameter kekeruhan sebesar 25 NTU. Artinya hasil
dari praktikum filtrasi ini sudah memenuhi persyaratan baku mutu. Untuk
pH pada baku mutu yang terdapat dalam peraturan menteri kesehatan
tersebut pH yang ditentukan untuk batas maksimum ada direntang 6,5-8,5
yang artinya hasil filtrasi ini sudah memenuhi baku mutu. Sementara batas
maksimum yang ditentukan oleh baku mutu air bersih adalah 1500 mg/L,
sehingga hasil filtrasi dari praktikum yang dilakukan sudah memenuhi
baku mutu air bersih.

4.2.2. Pembahasan oleh Iqbal Muhamad Fariz (171411015)


Air limbah sebelum dibuang ke badan air dapat dilakukan dengan
berbagai macam metode pengolahan salah satu yang sering digunakan
yaitu filtrasi,. Prinsipnya yaitu dengan melewatkan air linbah ke dalam
media filter dan hasil yang keluar berupa air yang sudah lebih jernih atau
baik daripada sebelum dilewatkan pada media filter.
Media filter yang dapat dan biasa digunakan pada proses filtrasi yaitu
silica, zeolite, karbon aktif, gravel, ijuk, pasir dan kerikil. Pada praktikum
filtrasi yang dilakukan di lab digunakan media filter pasir, ijuk dan kerikil.
Media filter yang digunakan memiliki fungsi tersendiri yaitu untuk media
filter pasir digunakan untuk mengurangi kandungan lumpur, tanah partikel
kecil dan sedimen pada air serta merupakan pre-filter atau proses awal
pada filtrasi. Funsi dari media filter ijuk pada alat filtrasi yang digunakan
yaitu sebagai media penahan pasir halus agar tidak lolos ke lapisan
bawahnya lalu terakhir media filter kerikil yaitu sebagai celah agar air
dapat mengalir melalui lubang bawah dengan lancar.
Sebelum dilakukan praktikum perlua penyesuaian atau penyamaan
antara debit influen dan efluen agar tidak terjadi kekurangan maupun
kelebihan umpan yang masuk. Pada praktikum filtrasi yang dilakukan
digunakan metode pasir lambat dan hanya dibutuhkan gaya gravitasi
untuk melewatkan air limbah ke media filter serta debit efluen yang keluar
cenderung kecil tetapi dapat menjernihkan air dengan baik yaitu dapat
menurunkan nilai TDS dan juga NTU atau kekeruhan.
Berdasaran tabel 4.1 penurunan TDS tidak terlalu besar dari 329,8
dapat diturunkan hingga 313,4 ppm, tetapi nilai NTU didapatkan
penurunan yang cukup besar yaitu dari 50,64 dapat diturunkan hingga
7,33. Efisiensi penurunan kekeruhan dapat dilihat pada tabel 4.2 yaitu nilai
yang didapatkan paling kecil yaitu 67,57% pada menit ke 4 dan paling
tinggi pada menit ke 8 yaitu 85,52% untuk pengukuran setiap 4 menit
sebanyak 8 kali. Nilai efisiensi pada menit ke 4 yang berbeda dengan yang
lainnya dapat disebabkan karena pengukuran NTU hanya dilakukan sekali
yang seharusnya berulang kali minimal dua kali, lalu penurunan TDS yang
tidak begitu besar dapat disebabkan karena masih banyaknya padatan
terlarut pada air, maka perlu dilakukan penggunaan media filter yang
cocok pada air limbah yang ada, contohnya untuk pengilangan racun, bau
tidak sedap dapat digunakan media filter karbon aktif atau digunakan
ukuran media filter yang lebih kecil sehingga dapat menahan padatan
terlarut atau dapat dilakukan aerasi untuk menurunkan besi yang terlarut
dalam air limbah. Maka dari itu, penggunaan media filter harus
disesuaikan dengan kebutuhan sehingga air limbah yang akan dibuang
sesuai dengan baku mutu yang telah ditentukan. Lalu pada proses filtrasi
yang telah dilakukan tidak terlalu memengaruhi penurunan ataupun
kenaikan pH yaitu selama proses pH yang diukur setiap 4 menit sebanyak
8 kali diketahui nilainya berada pada rentang 6,68-7,07.
Debit aliran juga dapat berpengaruh terhadap efisiensi semakin kecil
debit aliran maka efisiensi penurunan akan semakin besar karena kualitas
air hasil filtrasi semakin baik. Hal tersebut dapat dilihat dari debit aliran
yang didapatkan kelompok sebelumnya yaitu 1,092 L/menit
menghasilkan efisiensi penurunan sebesar 63,68% sedangakan debit
aliran yang didapatkan pada praktikum kali ini yaitu 0,9774 L/menit
menghasilkan efisiensi penurunan sebesar 80,94%.
Berdasarkan peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik
Indonesia terkait dengan baku mutu air limbah tidaknya diatur batas
maksimum TDS dan NTU yang diperbolehkan tetapi untuk pH diatur
semua industri harus 6-9 sehingga pada proses filtrasi ini pH memenuhi
kriteria baku mutu air limbah. Dan berdasarkan peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990
terkait dengan kualitas air bersih nilai atau kadar maksimum TDS dan
NTU yang diperbolehkan yaitu masing-masing 25 NTU dan 1500 mg/L
serta untuk pH yaitu 6,5-8,5, maka dari itu air limbah hasil proses filtrasi
telah memenuhi baku mutu air bersih yang telah ditentukan atau diatur
oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

4.2.3. Pembahasan oleh Kamil Haikal Fauzi (171411016)


Proses filtrasi dilakukan dengan air umpan berupa larutan tepung
dengan konsentrasi 0,5 g/L. Debit efluen yang didapat dari hasil kalibrasi
senilai 0,9774 L/menit dan debit influen disesuaikan agar sama dengan debit
enfluen. Volume kolom filtrasi senilai 19,76 L dengan media filter yang
digunakan yaitu pasir silica, kerikil dan ijuk. Pasir silica berfungsi untuk
menyaring lumpur, tanah dan ditempatkan pada bagian paling atas sebagai
prefilter. Kerikil berfungsi menyaring kotoran-kotoran dengan ukuran agak
besar yang tampak oleh mata. Ijuk berfungsi untuk menyaring padatan
tersuspensi dalam air. Pada filtrasi ini dapat menyaring padatan terendapkan
dan tersuspensi. Waktu tinggal larutan di dalam kolom filtrasi hingga keluar
yaitu selama 20,217 menit.
Dalam proses filtrasi, parameter-parameter yang diamati yaitu kekeruhan,
pH, TDS, dan volume filtrat. Kekeruhan awal senilai 50,64 NTU, pH awal
senilai 7, dan TDS awal senilai 329,8 ppm. Parameter-parameter tersebut
diamati selama 32 menit setiap 4 menit. Data pengamatan dapat dilihat pada
tabel 4.1. Dalam tabel tersebut dapat diketahui bahwa nilai kekeruhan
terendah terjadi pada menit kedelapan yaitu senilai 7,33 NTU dan nilai
kekeruhan tertinggi terjadi pada menit keempat yaitu senilai 16,42 NTU.
Nilai kekeruhan yang tinggi pada menit keempat dapat disebabkan karena
debit efluen belum stabil. Rentang kekeruhan yang dicapai yaitu terjadi pada
nilai 7,33-10,07 yang dimana rentang nilai tidak terlalu besar. Begitu pula
pada parameter pH dan TDS yang memiliki rentang nilai 6,68-7,07 dan
313,4-319,8 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja kolom filtrasi cukup
stabil.
Penurunan kekeruhan terhadap waktu dapat dilhat lebih jelas pada gambar
4.1. Dari gambar 4.1 dan tabel 4.1, nilai kekeruhan dapat digunakan untuk
mengetahui efisiensi penuruhan kekeruhan setiap waktu. Efisiensi terendah
terjadi pada menit keempat dengan nilai 67,57% dan efisiensi tertinggi terjadi
pada menit kedelapan dengan nilai 85,52%. Rata-rata efisiensi penurunan
yaitu senilai 80,94%
Dibandingkan dengan hasil proses filtrasi kelompok yang lain, efisiensi
penurunan kekeruhan yang didapat yaitu senilai 63,68% dengan debit 1,092
L/menit. Hal ini dapat diketahui bahwa semakin tinggi debit maka efisiensi
penurunan kekeruhan akan menurun.
Menurut Peraturan menteri kesehatan nomor
416/MEN.KES/PER/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas
air, persyaratan kualiatas air bersih memiliki kadar kekeruhan maksimal
senilai 25 NTU, kadar TDS maksimal senilai 1500 dan pH antara 6,5-9,0.
Bila dibandingkan dengan air hasil filtrasi yang memiliki kekeruhan dengan
rentang 7,33-10,07 NTU, TDS dengan rentang 313,4-319,8 ppm, dan pH
dengan rentang 6,68-7,07 sudah sesuai dengan peraturan tersebut. Untuk
parameter kekeruhan mampu diturunkan dengan proses filtrasi hingga
memenuhi persyaratan. Sedangkan untuk TDS dan pH, tidak mengalami
penurunan yang signifikan dan pada air umpannya sudah memenuhi
persyaratan. Parameter TDS tidak terlalu mengalami penurunan dikarenakan
proses filtrasi bukan digunakan untuk menurunkan TDS. Untuk menurunkan
TDS secara optimal dapat dilakukan pengolahan dengan koagulasi-fokulasi.

4.2.4. Pembahasan oleh Kautsar Yudha Pratama (171411017)


Pada praktikum ini dilakukan pengolahan air limbah melalui metode
filtrasi dengan maksud untuk menjernihkan alir atau mengurangi nilai
kekeruhannya dengan cara mengalirkan air limbah melalui media filter.
Media filter yang digunakan adalah kerikil, ijuk, dan pasir silika. Kegunaan
dari masing masing media filter sendiri ialah kerikil berguna untuk
menyaring padatan berukuran besar, ijuk untuk menyaring padatan halus, dan
pasir silika untuk mengurangi kandungan lumpur.
Air limbah yang digunakan pada praktikum ini adalah air terigu dengan
onsentrasi 0.5 gram/L dalam 25 L yang terlebih dahulu diukur kekeruhan,
pH, dan TDS nya. Kemudian larutan terigu ini dialirkan ke bak filtrasi dengan
laju alir yang terleih dahulu dikalibrasi agar lau alir di influen sama dengan
laju alir di efluen untuk mencegah overflow. Laju alir yang didapatkan adalah
0.9774 L/menit.
Berdasarkan hasil percobaan dengan dilakukan pengamatan terhadap
kekeruhan, TDS, dan pH dengan interval 4 menit didapatkan bahwa
penurunan TDS tidak terlalu signifikan dari kondisi awal 329,8 ppm hanya
turun menjadi kisaran 318 ppm, hal ini membuktikan bahwa filtrasi tidak
dimaksudkan untuk menurunkan TDS krena TDS yang tersisa di efleun pun
masih sangat besar, dan perlu dilakukan pengolahan tambahan untuk
menurunkan TDS tersebut yaitu dengan reverse osmosis. Nilai kekeruhan
mengalami penurunan yang sangat sifgnifikan dengan efisiensi rata rata
berkisar 82%. Namun pada menit ke 4 efisiensinya hanya didapatkan
67.57%, hal ini bisa terjadi karena kesalahan dalam pengukuran yang tidak
dilakukan secara duplo sehingga nilai yang didapatkan pun tidak begitu baik.
Selain itu, nilai pH pun terlihat tidak terlalu berubah karena pada prose filtrasi
kali ini tidak pula ditujukan untuk menurnukan pH.
Dari hasil percobaan, didapatkan pula pengaruh laju alir terhadapa
efisiensi penurunan kekeruhan. Jika dibandingkan dengan kelompok
sebelumnya dengan laju alir sebesar 1.092 L/menit, efisiensinya hanya
didapatkan 63.68% sedangkan efisiensi yang praktikan dapatkan dengan laju
alir sebesar 0.9774 L/menit adalah 80.94%. Maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa semakin kecil laju alir, efisiensi penurunan kekeruhannya justru akan
semakin besar karena kontak yang terjadi antara media filter dan air limbah
pun semakin lama.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No
:416/MENKES/PER/IX/1990 tentang baku mutu air bersih, kekeruhan
maksimal yang diperbolehkan adlah 5 NTU yang berarti hasil pengolahan
limbah kali ini tidak masuk kroteria sehingga perlu dilakukan pengolahan
lanjut berupa filtrasi dengan media filter yang berbeda atau dengan Ion
Exchanger, Koagulasi-Flokulasi, mupun dengan sedimentasi. Sedangkan
nilai TDS sudah memenuhi syarat dimana seharusnya bernilai 1000 mg/L,
serta nilai Ph pun termasuk dalam kriteria aman.

BAB V
SIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum filtrasi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
efisiensi penurunan kekeruhan pada proses filtrasi yang didapatkan yaitu 80,94%.
DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis, Christie J. 1993. Transport Processes and Unit Operations 3rd edition.
Prentice Hall: New Jersey
Sudarmono. 2010.”Penentuan Setting Level Optimal Media Penjernih Air Terehadap
Tingkat Kekeruhan dan Kandungan Fe dengan Metode Full Factorial 22 dan
Principal Component Analysis”. Teknik Industri UNS: Surakarta.
Rahayu, E.S. 2015. “Jobsheet Praktikum Filtrasi Media Butiran”. Bandung: Politeknik
Negeri Bandung
LAMPIRAN
1. Menghitung volume bak filtrasi
V  pl t
V  62cm  25,5cm 12,5cm
V  19762,5cm3
V  19,76 L
2. Menghitung waktu tinggal
volumemediafiltrasi
waktutinggal 
debit
19,76 L
waktutinggal 
0,9774 L / menit
waktutinggal  20,217menit
3. Menghitung effisiensi kekeruhan
TurbidityA wal  TurbidityAkhir
effisiensi  100%
TurbidityAwal
50,64  10,07
effisiensi  100%
50,64
effisiensi  80,11%

DOKUMENTASI

Gambar rangkaian alat filtrasi

Gambar bak filtrasi beserta media filtrasi di dalamnya.

Anda mungkin juga menyukai