Anda di halaman 1dari 53

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASI FISIKA

VISKOSITAS DAN RHEOLOGI

DISUSUN OLEH:
GOLONGAN II
KELOMPOK 6

NI PUTU SINTA MAHASUARI (1608551075)


IDA AYU MAS SITA SANJIWANI D. (1608551076)
PUTU WULAN PRAYASCITA (1608551077)
VALLINA RAHMADINHA (1608551078)
BENILDA MARIA CESARIO DE SENA (1608551079)
KRISTINA MEGI LIMBA (1608551080)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
PERCOBAAN 1
VISKOSITAS DAN RHEOLOGI

I. TUJUAN PRAKTIKUM
1.1 Menentukan viskositas dan rheologi dari sediaan sesuai hukum Newton dan
Non Newtonia.

II. PENDAHULUAN
Seorang farmasis memiliki tanggung jawab penuh dalam memastikan
efektivitas dan keamanan penggunaan sediaan obat baik itu sediaan padat, semi
padat dan sediaan cair. Suatu sediaan obat harus diperhatikan kestabilan dan
viskositasnya, selain itu sifat aliran suatu zat cair juga harus diperhatikan dalam
membuat suatu sediaan. Salah satu sediaan yang lebih mudah mengalami
kerusakan akibat penyimpanan yang kurang baik maupun waktu simpan yang
relatif singkat adalah sediaan cair. Oleh karena itu, diperlukan suatu formulasi
khusus dari sediaan cair sehingga diperoleh sediaan dengan tingkat penerimaan
(acceptability) yang baik oleh pasien maupun waktu penyimpanan yang relatif
lebih lama.
Sediaan cair diformulasi dengan penambahan bahan tertentu sehingga
diperoleh karakteristik yang diharapkan. Salah satu parameter yang penting dalam
penentuan kualitas sediaan cair yaitu viskositas. Viskositas merupakan resistensi
suatu zat untuk dapat mengalir. Makin besar resitensi suatu zat cair untuk
mengalir semakin besar pula viskositasnya. Oleh sebab itu, kekentalan suatu
cairan sebanding dengan besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya mengalir
pada kecepatan tertentu (Martin, 2008). Karakteristik dari viskositas ini sangat
penting dalam proses industri untuk menentukan standar dari kualitas produk. Hal
ini tentunya akan membantu konsumen dalam memilih produk yang kualitasnya
terjamin.
Rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran zat cair dan
deformasi zat padat. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Dalam bidang
farmasi, prinsip-prinsip rheologi diaplikasikan dalam pembuatan krim, suspensi,

1
emulsi, losion, pasta, penyalut tablet, dan lain-lain. Selain itu, prinsip rheologi
digunakan juga untuk karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai
penjaminan kualitas yang sama untuk setiap batch. Rheologi dari suatu zat
tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat,
bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga viskositas
telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh (Soewandhi,
2009).

III. TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Vitamin C
Vitamin C yang disebut juga dengan asam askorbat memiliki rumus molekul
C6H8O6. Berikut adalah struktur asam askorbat:

Gambar 3.1. Struktur Asam Askorbat (Depkes RI, 1995).


Asam askorbat mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari
100,5% C6H8O6. Asam askorbat memiliki bobot molekul 176,13 gram/mol.
Pemeriannya hablur atau serbuk putih atau agak kuning. Oleh pengaruh cahaya
lambat laun menjadi berwarna gelap. Dalam keadaan kering stabil diudara, dalam
larutan cepat teroksidasi. Melebur pada suhu lebih kurang 190o. Vitamin C mudah
larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform, dalam
eter dan dalam benzene. Penetapan kadar dilakukan dengan menimbang seksama
400mg, larutkan dalam campuran 100mL air bebas karbondioksida P dan 25mL
asam sulfat (10% v/v), titrasi segera dengan iodium 0,1 N menggunakan indikator
larutan kanji P. 1 mL iodium 0,1 N setara dengan 8,806 mg C6 H8O6 (Depkes RI,
1995).

2
3.2 CMC-Na (Carboxymethyl Cellulosum Natricum)
CMC-Na adalah garam natrium dari polikarboksimetil eter selulosa,
mengandung tidak kurang dari 6,5% dan tidak lebih dari 9,5% natrium (Na)
dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian CMC-Na adalah serbuk
atau granul, putih sampai krem, bersifat higroskopik. CMC-Na mudah terdispersi
dalam air membentuk larutan koloidal, tidak larut dalam etanol, dalam eter dan
dalam pelarut organik lain (Depkes RI, 1995).
3.3 Propilen Glikol
Propilen glikol (C3H8O2) merupakan cairan kental, jernih, tidak berwarna;
rasa khas; praktis tidak berbau; menyerap air pada udara lembab. Propilen glikol
memiliki BM sebesar 76,09 gram/mol dan BJ antara 1,035 dan 1,037. Propilen
glikol dapat bercampur dengan air, aseton, dan kloroform; larut dalam eter dan
dalam beberapa minyak esensial; tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak
lemak (Depkes RI, 1995).
3.4 Gliserin
Gliserin (C3H8O3) merupakan cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna;
rasa manis; hanya boleh berbau khas lemah (tajam atau tidak enak); higroskopik
dan netral terhadap lakmus. Gliserin memiliki BM sebesar 92,09 gram/mol dan
BJ tidak kurang dari 1,249. Gliserin dapat bercampur dengan air dan dengan
etanol; tidak larut dalam kloroform, eter, minyak lemak dan dalam minyak
menguap (Depkes RI, 1995).
3.5 Metil Paraben
Metil paraben (C8H8O) memilik BM sebesar 152,15 gram/mol. Pemerian
metil paraben adalah hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih; tidak
berbau atau berbau khas lemah; mempunyai sedikit rasa terbakar. Metil paraben
sukar larut dalam air, benzene dan dalam karbon tetraklorida, mudah larut dalam
etanol dan dalam eter (Depkes RI, 1995).
3.6 Viskositas
Viskositas merupakan gaya suatu ukuran gesek diantara lapisan-lapisan yang
berdekatan dari suatu cairan (Martin et al., 2008). Viskositas adalah ukuran
resistensi zat cair untuk mengalir. Makin besar resistensi suatu zat cair untuk

3
mengalir semakin besar pula viskositasnya (Ansel, 2005). Meskipun molekul-
molekul dalam larutan berada dalam pergerakan acak yang konstan, tetapi
kecepatannya pada arah tertentu bernilai nol, kecuali jika diberikan suatu gaya
yang menyebabkan suatu larutan dapat mengalir. Gaya yang cukup besar yang
diperlukan untuk dapat membuat suatu larutan mengalir pada kecepatan tertentu
berhubungan dengan viskositas suatu larutan. Aliran terjadi pada saat molekul
suatu larutan saling menyalip satu sama lain dengan kecepatan dan bidang tertentu
(Toledo, 1991).
Viskositas dapat menyebabkan beberapa hal pada sediaan-sediaan farmasi,
contohnya pada sediaan suspensi, tidak boleh terlalu kental (viskositas tinggi)
karena menyebabkan suspensi tidak bisa di kocok, hal ini dapat menyebabkan
distribusi zat aktif tidak merata pada seluruh cairan dan juga akan mengalami
kesulitan pada saat penuangan, contoh lain untuk sediaan mata, viskositas
dinaikkan untuk membantu menahan obat pada jaringan sehingga menambah
efektivitas terapinya (Ansel, 2005).
Viskositas dinyatakan dalam simbol η. Viskositas η merupakan
perbandingan antara shearing stress F’/A dan rate of shear dv/dr. Satuan
viskositas adalah poise atau dyne detik cm-2. Viskositas dipengaruhi oleh:
1. Besar dan bentuk molekul.
2. Viskositas cairan semakin berkurang dengan bertambahnya suhu tapi tak
cukup banyak dipengaruhi oleh perubahan tekanan.
3. Adanya koloid dapat memperbesar viskositas sedang adanya elektrolit akan
sedikit menurunkan viskositas dari cairan.
(Martin et al., 2008).
Pada dasarnya makin besar viskositas suatu cairan, akan makin besar pula
gaya per satuan luas (shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu
rate of shear tertentu, sehingga rate of shear harus sebanding langsung dengan
shearing stress.
Viskositas terdapat pada zat cair maupun zat gas, dan pada intinya
merupakan gaya gesekan antara lapisan-lapisan yang bersisian pada fluida saat
lapisan tersebut bergerak melewati lapisan lainnya. Pada zat cair viskositas

4
terutama disebabkan oleh antara molekul. Pada zat gas viskositas berasal dari
tumbukan antar molekul (Maulida dan Rani, 2010). Viskositas suatu larutan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Temperatur atau suhu: Koefisien viskositas akan berubah sejalan dengan
temperatur.
b. Gaya tarik antar molekul: Perbedaan kuat gaya kohesi menjadi faktor penentu
kekentalan suatu fluida.
c. Jumlah molekul terlarut: Jumlah molekul terlarut memberikan komposisi yang
lebih padat terhadap suatu fluida.
d. Tekanan: Pada saat tekanan meningkat,viskositas fluida pun akan naik
(Prijono, 1985).
3.7 Viskometer
Viskositas ditentukan dengan menggunakan alat yang dinamakan
viskometer. Viskometer dibagi menjadi dua, yaitu viskometer satu titik (misalnya,
viskometer kapiler, bola jatuh atau hoeppler, penetrometer, plate-plastometer, dll).
Sedangkan viskometer titik ganda (misalnya viskometer rotasi tipe stromer,
Brookfield, rotovisco, dll). Ada beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan
antara lain:
a. Viskometer Kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan Newton bisa ditentukan dengan mengukur waktu yang
dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika ia mengalir
karena gravitasi melalui viskometer Ostwald (Martin et al., 2008).
Viskositas zat cair dapat ditentukan dengan viskometer jenis kapiler. Prinsip
kerja viskometer jenis kapiler ini adalah dengan mengukur kecepatan alir suatu
fluida dengan volume tertentu dalam pipa kapiler. Viskometer kapiler bekerja
dengan kecepatan alir suatu larutan dalam suatu pipa tabung. Semakin kecil
kecepatan alir larutan, maka semakin besar nilai viskositas. Pipa kapiler dengan
panjang pipa L (m), jari-jari kapiler R (m), dialiri zat cair dengan volume V (liter),
tekanan P, viskositas η (Poise) dan dalam waktu t (sekon) maka diperoleh:

V t = πr4P 8ηL

5
Selain itu, pengukuran viskositas dapat dilakukan dengan viskometer Ostwold.
Viskosimeter Ostwold bekerja berdasar selang waktu yang dibutuhkan oleh
sejumlah larutan tertentu untuk mengalir melalui pipa kapiler oleh gaya yang
disebabkan oleh berat larutan itu sendiri (Jati dan Rizkiana, 2015).
b. Viskometer Hoeppler
Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi
keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat – gaya Archimides. Prinsip
kerjanya adalah menggelindingkan bola (yang terbuat dari kaca) melalui tabung
gelas yang hampir miring berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola
merupakan fungsi dari harga resiprok sampel (Martin et al., 2008).
c. Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sampel digeser dalam ruangan antara dinding luar dari bob
dan dinding dalam dari cup di mana bob masuk persis di tengah-tengah.
Kelemahan viskometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan
geseran yang tinggi di sepanjang keliling bagian tube sehingga menyebabkan
penurunan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkan bagian tengah zat
yang ditekan keluar memadat disebut aliran sumbat (Martin et al., 2008).
d. Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan di tengah-tengah papan,
kemudian dinaikkan hingga posisi di bawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh
motor dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser di dalam ruang sempit
antara papan yang diam dan kemudian kerucut yang berputar (Martin et al., 2008).
3.8. Penggolongan Sistem Cair Menurut Tipe Aliran dan Deformasinya
(Sistem Newton dan Sistem Non-Newton)
Penggolongan bahan menurut tipe aliran dan deformasi adalah sebagai
berikut:
1. Sistem Newton
Cairan yang mengikuti hukum Newton, viskositasnya tetap pada suhu dan
tekanan tertentu dan tidak tergantung pada kecepatan geser. Oleh karena itu,
viskositasnya cukup ditentukan pada satu kecepatan geser. Viskosimeter yang
dapat dipergunakan untuk keperluan itu adalah viskosimeter kapiler atau bola

6
jatuh. Apabila digambarkan antara kecepatan geser terhadap tekanan geser, maka
diperoleh grafik lurus dengan titik nol. Contoh cairan Newton adalah minyak
jarak, kloroform, gliserin, mnyak zaitun dan air (Streeter, 1996 ).

dv/dx ŋ

F/A
AAa

Gambar 3.2. Rheogram cairan Newton (Martin et al., 2008).


Menurut Newton:
F/A = dv/dx
F/A = ŋ dv/dx

ŋ= =

dan akan menghasilkan

ŋ = koefisien viskositas satuan yang sering digunakan adalah centipoise cp


(jamak: cps)
(Martin et al., 2008).
Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk
membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu. Viskositas disperse koloid
dipengaruhi oleh bentuk partikel dari fase disperse dengan viskositas rendah,
sedang system disperse yang mengandung koloid-koloid linier viskositasnya lebih
tinggi. Hubungan antara bentuk dan viskositas merupakan refleksi derajat solvasi
dari partikel (Respati, 1981).
Hampir seluruh sistem dispersi termasuk sediaan-sediaan farmasi yang
berbentuk emulsi, suspensi, dan sediaan setengah padat tidak mengikuti hukum
Newton. Viskositas cairan semacam ini bervariasi pada setiap kecepatan geser,

7
sehingga untuk mengetahui sifat alirannya dilakukan pengukuran pada beberapa
kecepatan geser. Untuk menentukan viskositanya dipergunakan viskosimeter
rotasi Stormer. (Martin et al., 2008).
2. Sistem Non-Newton
Sistem cairan non-Newton dapat ditemukan pada dispersi heterogen cairan
dan padatan seperti larutan koloid, emulsi, suspensi cair, salep, dan produk-
produk serupa. Apabila bahan-bahan non-Newton dianalisis dalam suatu
viskosimeter putar dan hasilnya diplot, maka dapat diperoleh berbagai kurva yang
menjelaskan konsistensi yang menggambarkan adanya tiga kelas aliran yakni
plastik, pseudoplastik, dan dilatan (Martin et al., 2008).
a. Aliran Plastik
Cairan yang mempunyai aliran plastik tidak akan mengalir sebelum suatu gaya
tertentu dilampaui. Gaya tersebut adalah yield value atau f.Pada tekanan di bawah
yield value, cairan tersebut berlaku sebagai bahan elastis. Sedangkan di atas harga
tersebut, alirannya mengikuti hukum Newton.

Gambar 3.3. Rheogram Aliran Plastik (Martin et al., 2008)


Kurva aliran plastik tidak melalui titik (0,0) tapi memotong sumbu shearing
stress (atau akan memotong, jika bagian lurus dari kurva tersebut
diekstrapolasikan ke sumbu) pada suatu titik tertentu yang dikenal sebagai harga
yield (Martin et al., 2008).
Persamaan yang menggambarkan aliran plastik adalah:

U
F  f 
G

8
Dimana f adalah yield value, atau intersept pada sumbu shearing stress
dalam dyne cm-2 (Martin et al., 2008). Sedangkan F adalah tekanan geser
(shearing stress) dan G adalah kecepatan geser (rate of shear).
b. Aliran Pseudoplastik
Aliran pseudoplastik diperlihatkan oleh polimer-polimer dalam larutan, yang
merupakan kebalikan dari sistem plastik, yang tersusun dari partikel-partikel yang
terflokulasi dalam suspensi (Martin et al., 2008).

Gambar 3.4. Rheogram Aliran Pseudoplastik (Martin et al., 2008).


Kurva konsistensi untuk bahan pseudoplastik mulai pada titik (0,0), atau
paling tidak mendekatinya pada rate of shear rendah. Dilihat pada kurva, tidak
terdapat yield value. Tapi karena tidak adanya bagian kurva yang linier, maka kita
tidak dapat menyatakan viskositas dari suatu bahan pseudoplastik dengan suatu
harga tunggal (Martin et al., 2008).
c. Aliran Dilatan
Viskositas cairan dilatan meningkat dengan meningginya kecepatan geser,
karena terjadi peningkatan volume antar partikel sehingga pembawa tidak lagi
mencukupi. Aliran dilatan terjadi pada suspensi yang memiliki presentase zat
padat terdispersi dengan konsentrasi tinggi. Terjadi peningkatan daya hambat
untuk mengalir (viskositas) dengan meningkatnya rate of shear. Jika stress
dihilangkan, suatu sistem dilatan akan kembali ke keadaan fluiditas aslinya
(Lachman dan Lieberman, 1994).
Zat-zat yang mempunyai sifat-sifat aliran dilatan adalah suspensi-suspensi
yang berkonsentrasi tinggi kira-kira 50% atau lebih dari partikel-partikel kecil
yang mengalami deflokulasi. Sifat dilatan dapat diterangkan sebagai berikut: pada

9
keadaan istirahat, partikel-partikel tersebut tersusun rapat dengan volume antar
partikel pada keadaan minimum. Tetapi, jumlah pembawa dalam suspensi tersebut
cukup untuk mengisi volume ini dan menyebabkan partikel-partikel bergerak dari
satu tempat ke tempat lainnya pada rate of shear rendah. Jadi, seseorang bisa
menuangkan suspensi dilatan dari satu botol karena pada kondisi ini suspensi
tersebut berbentuk cair (Martin et al., 2008).

Gambar 3.5. Rheogram Aliran Dilatan (Martin et al., 2008).


d. Aliran Tiksotropik
Tiksotropik dapat didefinisikan sebagai suatu pemulihan yang isoterm dan
lambat pada pendiaman hanya bisa diterapkan untuk shear-thinning system.
System thiksotropi biasanya mengandung partikel-partikel asimetris yang melalui
berbagai titik hubungan menyusun kerangka tiga dimensi di seluruh sampel
tersebut (Martin et al., 2008).
Pengukuran kuantitatif dari tiksotropik dapat digunakan beberapa cara.
Karakteristik yang paling nyata dari suatu sistem tiksotropik adalah putaran
histeresisnya yang dibentuk oleh kurva menaik dan menurun dari rheogram
tersebut. Luas daerah histeris ini dikemukakan sebagai suatu ukuran pemecahan
tiksotropis, luas ini dapat diukur secara planimetri atau teknik lain yang sesuai
(Martin et al., 2008).
Sering kali digunakan dua pendekatan untuk memperkirakan derajat
tiksotropi. Pertama adalah dengan menentukan pemecahan struktural terhadap
waktu pada rate of share konstan dimana dapat dihitung dengan persamaan:
B=

10
Dimana U1 dan U2 adalah viskositas plastik dari kedua kurva yang menurun
dan t adalah waktu dalam satuan detik (Martin et al., 2008).
Pendekatan kedua adalah dengan menentukan pemecahan struktural
dikarenakan meningkatnya shear rate. Dalam hal ini koefisien tiksotropis M
menyebabkan berkurangnya shearing strees per satuan naiknya shear rate yang
didapat dengan:

M=
( )

Dimana M dalam Dyne detik/ cm2, U1 dan U2 merupakan viskositas plastik


untuk dua kurva menurun yang terpisah dan mempunyai maksimum laju v1 dan
v2 (Martin et al., 2008).

Gambar 3.6. Rheogram Aliran Tiksotropik (Martin et al., 2008).


e. Aliran Rheopeksi
Rheopeksi adalah suatu gejala dimana suatu sol membentuk suatu gel lebih
cepat jika diaduk perlahan-lahan atau kalau di shear daripada jika dibiarkan
membentuk gel tersebut tanpa pengadukan. Dalam suatu sistem rheopeksi, gel
tersebut adalah bentuk keseimbangan (Martin et al., 2008). Pada aliran rheopeksi,
kurva menurun berada di sebelah kanan kurva menaik. Hal ini terjadi karena
pengocokan perlahan dan teratur akan mempercepat pemadatan suatu sistem
dilatan.

11
Gambar 3.7. Rheogram Aliran Rheopeksi (Martin et al., 2008).
f. Aliran Antitiksotropik
Antitiksotropik menyatakan kenaikan bukan pengurangan-konsistensi pada
kurva yang menurun. Kenaikkan dalam hal kekentalan atau hambatan (resistensi)
mengalir dengan bertambahnya waktu shear. Antitiksotropik tidak dikacaukan
dengan dilatan atau rheopeksi. Sedangkan menurut Samyn dan Jung sistem
antitiksotropik mengandung zat padat dalam jumlah yang sedikit dan terflokulasi
(Martin et al., 2008).
Dalam antitiksotropik keadaan keseimbangan adalah sol. Samyn dan Jung
menyatakan antitiksotropik disebabkan oleh meningkatnya frekuensi tumbukan
dari partikel-partikel terdispers, atau molekul-molekul polimer dalam suspensi.
Hal ini akan meningkatkan ikatan antarpartikel dengan bertambahnya waktu. Bila
dilakukan pengukuran dengan penambahan dan penurunan tekanan geser secara
berulang-ulang pada sistem ini akan diperoleh suatu viskositas yang terus
bertambah sampai akhirnya suatu saat akan konstan (Martin et al., 2008).

Gambar 3.8. Rheogram Aliran Antitiksotropik (Martin et al., 2008).


3.9. Rheologi
Rheologi berasal dari bahasa Yunani yaitu mengalir (rheo) dan logos (ilmu).
Istilah ini digunakan pertama kali oleh Bingham dan Crawford untuk

12
menggambarkan aliran dan deformasi dari padatan. Jadi, rheologi adalah ilmu
yang mempelajari sifat aliran zat cair atau deformasi zat padat (Martin et al.,
2008).
Prinsip dasar rheologi telah digunakan dalam penyelidikan cat, tinta,
berbagai adonan, bahan-bahan untuk pembuat jalan, kosmetik, produk hasil
peternakan serta bahan lain. Dalam bidang farmasi, disarankan penerapan dalam
formulasi dan analisis dari berbagai produk farmasi seperti emulsi, pasta,
suppositoria, dan penyalutan tablet (Martin et al., 2008).
Rheologi meliputi pencampuran dan aliran dari bahan, pemasukan ke dalam
wadah, pemindahan sebelum digunakan, apakah dicapai dengan penuangan dari
botol, pengeluaran dari tube atau pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dari suatu
produk tertentu yang dapat berkisar dalam konsistensi dari bentuk cair ke
semisolid, sampai ke padatan, dapat mempengaruhi penerimaan bagi si pasien,
stabilitas fisika, dan bahkan bioavailabilitas (Martin et al., 2008).

IV. METODE KERJA


4.1 ALAT DAN BAHAN
A. Alat
a. Viskometer Brookfield
b. Piknometer
c. Beaker Glass
d. Corong gelas
e. Tissue
B. Bahan
a. Gel vitamin C dengan konsentrasi CMC-Na 1%, 2%, dan 3%
b. Akuades
c. Propilenglikol
d. Sorbitol 70%
e. Oleum ricini

13
4.2 PROSEDUR KERJA
4.2.1 Penyiapan Bahan Sediaan Gel

Dibuat sediaan Gel dengan formula yang sama hanya divariasikan


jumlah gelling agent CMC-Na yang akan digunakan yakni 1%, 2%
dan 3%

Digunakan bahan aktif vitamin C 0.5% dengan formula:


R/ Vitamin C 0.5%
CMC-Na 1%/2%/3%
Propilen glikol 5%
Gliserin 5%
Metil paraben 0,2%
Akuades ad 100

Ditimbang CMC-Na dan ditaburi di atas air panas dalam mortir

Dibiarkan gelling agent CMC-Na hingga mengembang

Dilarutkan metil paraben dalam propilenglikol dan gliserin lalu


ditambahkan ke dalam gelling agent yang masih panas dan diaduk
hingga homogen (Campuran I)

Digerus Vitamin C dengan air hingga halus dan homogen


(Campuran II)

Dimasukkan campuran II ke dalam campuran I yang sudah dingin


secara perlahan lahan dan diaduk hingga homogen

14
Ditambahkan aquades hingga 100 gram dan diaduk hingga homogen

4.2.2 Mengukur Viskositas dengan Viskometer Bola Jatuh


Dibersihkan dan dikeringkan alat viskometer bola jatuh hingga
bagian dalamnya

Tabung diisi ulang dengan akuades hingga penuh dan dihindari


terjadi gelembung

Bola kemudian dimasukkan ke dalam tabung hingga akuades dalam


tabung tumpah

Dicek adanya gelembung dengan memutar tabung dengan dibolak-


balik secara vertikal

Dijatuhkan bola dari garis awal hingga garis akhir kemudian dicatat
waktunya

Dilakukan pengujian sebanyak 2 kali lagi

Dihitung rata-rata dan kemudian ditentukan viskositas akuades


dengan rumus

15
Dilakukan penentuan viskositas propilenglikol, sorbitol 70%, dan
oleum ricini dengan mengulangi langkah kerja yang sama

4.2.3 Penentuan Bobot Jenis Cairan Newtonian

Diambil piknometer kosong dan dalam keadaan bersih dan kering ,


dan ditimbang (W0) dengan pengulangan sebanyak 3 kali

Dimasukkan akuades ke dalam piknometer dan ditimbang (W1)


dengan pengulangan sebanyak 3 kali

Akuades dibuang dan dikeringkan, dimasukkan cairan yang akan


diukur bobot jenisnya kemudian ditimbang (W2) dengan pengulangan
sebanyak 3 kali

Bobot jenis dihitung dengan menggunakan rumus:

4.2.4 Mengukur Viskositas dengan Viskometer Brookfield

Dibersihkan alat dan disiapkan agar bersih sepenuhnya

Diatur waterpass pada alat hingga gelembung tepat berada di tengah


lingkaran

16
Dipasang spindel sesuai dengan nomor pada gantungan spindel

Dipastikan motor dalam keadaan OFF lalu dipasangkan catu daya


pada stop kontak, kemudian ditekan tombol ON pada alat

Diatur keceptan dan nomor spindel yang digunakan. Dilakukan


pengamatan pada seluruh kecepatan pada alat

Disiapkan sampel yang akan diuji, dicelupkan spindel sampai tanda


batas dan dihidupkan motor dengan menekan tombol ON

Dibiarkan spindel berputar dan diperhatikan angka yang tertera pada


alat dengan satuan viskositas (cP) hingga mencapai kestabilan, lalu
motor alat dimatikan

Dicatat viskositas (cP), kecepatan geser (rpm), tekanan geser (%), dan
nomor spindel yan digunakan sesuai yang tertera pada layar

Dilakukan pengamatan pada seluruh data kecepatan dan diamati


tekanan geser yang diperbolehkan berada pada rentang 10%-100%

Dibuat kurva antara rpm dengan usaha yang dibutuhkan untuk


memutar spindel untuk mengetahui sifat aliran

17
V. ANALISIS DATA
5.1 Hasil Pengamatan
5.1.1 Tabel Penimbangan Bobot Cairan pada Piknometer
No. Nama Berat Jenis
1. Bobot Jenis Akuades 1 gram/mL
Bobot Piknometer Kosong:
- Penimbangan I 16,1259 gram
- Penimbangan II 16,1257 gram
- Penimbangan III 16,1257 gram
Bobot rata-rata: 16,1257 gram
Bobot Piknometer+Air:
- Penimbangan I 25,3033 gram
- Penimbangan II 25,3039 gram
- Penimbangan III 25,3038 gram
Bobot rata-rata: 25,30 gram
Bobot Piknometer+Akuades:
- Penimbangan I 25,3071 gram
- Penimbangan II 25,3015 gram
- Penimbangan III 25,3015 gram
Bobot rata-rata: 25,30 gram
2. Bobot Jenis Propilenglikol 1,035 gram/mL
Bobot Piknometer Kosong:
- Penimbangan I 16,1339 gram
- Penimbangan II 16,1339 gram
- Penimbangan III 16,1338 gram
Bobot rata-rata: 16,1338 gram
Bobot Piknometer+Air:
- Penimbangan I 25,3352 gram
- Penimbangan II 25,3178 gram
- Penimbangan III 25,3142 gram

18
Bobot rata-rata: 25,3224 gram
Bobot Piknometer+Propilenglikol:
- Penimbangan I 25,6532 gram
- Penimbangan II 25,6432 gram
- Penimbangan III 25,6432 gram
Bobot rata-rata: 25,6465 gram
3. Bobot Jenis Sorbitol 70% 1,309 gram/mL
Bobot Piknometer Kosong:
- Penimbangan I 16,1257 gram
- Penimbangan II 16,1256 gram
- Penimbangan III 16,1257 gram
Bobot rata-rata: 16,1257 gram
Bobot Piknometer+Air:
- Penimbangan I 25,3554 gram
- Penimbangan II 25,3577 gram
- Penimbangan III 25,3174 gram
Bobot rata-rata: 25,3435 gram
Bobot Piknometer+Sorbitol 70%:
- Penimbangan I 28,2135 gram
- Penimbangan II 28,2133 gram
- Penimbangan III 28,1679 gram
Bobot rata-rata: 28,198 gram
4. Bobot Jenis Oleum Ricini 0,99 gram/mL
Bobot Piknometer Kosong:
- Penimbangan I 16,1372 gram
- Penimbangan II 16,1371 gram
- Penimbangan III 16,1370 gram
Bobot rata-rata: 16,1371 gram
Bobot Piknometer+Air:
- Penimbangan I 25,3339 gram

19
- Penimbangan II 25,2836 gram
- Penimbangan III 25,2734 gram
Bobot rata-rata: 25,296 gram
Bobot Piknometer+Oleum Ricini:
- Penimbangan I 25,4634 gram
- Penimbangan II 25,1173 gram
- Penimbangan III 25,0344 gram
Bobot rata-rata: 25,205 gram
Tabel 1. Penimbangan Bobot Cairan pada Piknometer
5.1.2 Tabel Pengamatan Viskositas dengan Viskometer Bola Jatuh
No. ρ bola Berat B (mPa.
No Bahan Arah Waktu
Bola (g/cm3) Bola cm3/g)
Backward 89 s 0,00851
1 Akuades 1 2,2282 Forward 4,606 g 87 s 0,00853
Backward 88 s 0,00851
Backward 33 s 0,1308
2 Propilenglikol 3 8,1438 Forward 16,042 g 33 s 0,1309
Backward 33 s 0,1308
Backward 83 s 0,1308
3 Sorbitol 70% 3 8,1438 Forward 16,042 g 82 s 0,1309
Backward 84 s 0,1308
Backward 94 s 0,650
4 Oleum Ricini 4 7,7064 Forward 14,170 g 92 s 0,650
Backward 100 s 0,650
Tabel 2. Pengamatan Viskositas dengan Viskometer Bola Jatuh

20
5.1.3 Tabel Pengamatan Viskositas dengan Viskometer Brookfield
a). Gel Vitamin C dengan CMC-Na 1% (Spindel no.2)

Speed F/A
Cp %
(rpm) (

10 0 -1,1 0
20 0 -0,9 0
30 7 0,5 210
50 16 2,0 800
60 20 3,0 1200
100 30,8 7,7 3080
60 20 3,0 1200
50 16,8 2,1 840
30 7 0,5 210
20 0 -0,9 0
10 0 -1,1 0
b). Gel Vitamin C dengan CMC-Na 2% (Spindel no.2)
Speed F/A
Cp %
(rpm) (

10 96 2,4 960
20 112 5,6 2240
30 116 8,7 3480
50 129,6 16,2 6480
60 152,0 22,8 9120
100 142,4 35,6 14240
60 132,7 19,9 7962
50 128,0 16,0 6400
30 120 9,0 3600
20 100 5,0 2000
10 80 2,0 800

21
c). Gel Vitamin C dengan CMC-Na 3% (Spindel no.6)
Speed F/A
Cp %
(rpm) (

10 14800 14,8 148000


20 9900 19,8 198000
30 8900 26,7 267000
50 6100 30,5 305000
60 5680 34,1 340800
100 4650 46,5 465000
60 5820 34,9 349200
50 6520 32,6 326000
30 9030 27,1 270900
20 10750 21,5 215000
10 14000 14,0 140000

5.2 Perhitungan
5.2.1 Perhitungan Bobot Cairan pada Piknometer
a) Perhitungan bobot rata-rata:
1. Akuades

 Bobot rata-rata piknometer kosong:


Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer ) 
3

16,1259 gram  16,1257 gram  16,1257 gram



3
 16,1257 gram
 Bobot rata-rata piknometer+air:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer air ) 
3

25,3033 gram  25,3039 gram  25,3038 gram



3

22
 25,30 gram
 Bobot rata-rata piknometer+akuades:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer  Aq) 
3

25,3017 gram  25,3015 gram  25,3015 gram



3
 25,30 gram
2. Propilenglikol
 Bobot rata-rata piknometer kosong:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer ) 
3

16,1339 gram  16,1339 gram  16,1338 gram



3
 16,1338 gram
 Bobot rata-rata piknometer+air:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer air ) 
3

25,3352 gram  25,3178 gram  25,3142 gram



3
 25,3224 gram
 Bobot rata-rata piknometer+propilenglikol:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer  PG) 
3

25,6532 gram  25,6432 gram  25,6432 gram



3
 25,6465 gram

23
3. Sorbitol 70%
 Bobot rata-rata piknometer kosong:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer ) 
3

16,1257 gram  16,1256 gram  16,1257 gram



3
 16,1257 gram
 Bobot rata-rata piknometer+air:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer air ) 
3

25,3554 gram  25,3577 gram  25,3174 gram



3
 25,3435 gram
 Bobot rata-rata piknometer+sorbitol 70%:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer  sorb) 
3

25,3017 gram  25,3015 gram  25,3015 gram



3
 25,3435 gram

4. Oleum Ricini
 Bobot rata-rata piknometer kosong:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer ) 
3

16,1372 gram  16,1371 gram  16,1370 gram



3
 16,1371 gram

24
 Bobot rata-rata piknometer+air:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer air ) 
3

25,3339 gram  25,2836 gram  25,2734 gram



3
 25,296 gram
 Bobot rata-rata piknometer+oleum ricini:
Penim. I  Penim. II  Penim. III
W(piknometer  o.ric) 
3

25,4634 gram  25,1173 gram  25,0344 gram



3
 25,205 gram
b) Perhitungan Bobot Jenis Cairan :
1. Bobot jenis Akuades
W(piknometer  akuades)  W(piknometer kosong)
 gliserin 
W(Piknometer  air)  W(piknometer kosong)

25,30 gram - 16,1275 gram


  1 gram
25,30 gram - 16,1275 gram mL

2. Bobot jenis Propilenglikol


W(piknometer  propilenglikol)  W(piknometer kosong)
 propilenglikol 
W(Piknometer  air)  W(piknometer kosong)

28,6465 gram - 16,1338 gram


  1,035 gram
25,3224 gram - 16,1338 gram mL

3. Bobot jenis Sorbitol 70%


W(piknometer  sorbitol70%)  W(piknometer kosong)
 sorbitol 70% 
W(Piknometer  air)  W(piknometer kosong)

28,198 gram - 16,1257 gram


  1,309 gram
25,3435 gram - 16,1257 gram mL

4. Bobot jenis Oleum Ricini


W(piknometer  oleumricini)  W(piknometer kosong)
 oleum ricini 
W(Piknometer  air)  W(piknometer kosong)

25
25,205 gram - 16,1371 gram
  0,99 gram
25,296 gram - 16,1371 gram mL
5.2.2 Perhitungan Viskositas dengan Viskometer Bola Jatuh
a) Viskositas Air
 Forward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  89 sec (2,2282 g 1 g
3
3 3 )  0,00851 mPa. cm 1
cm cm g
  0,9302 cPs
 Backward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  87 sec (2,2282 g 1 g
3
3 3 )  0,00853 mPa. cm 1
cm cm g
  0,9114 cPs
 Forward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  88 sec (2,2282 g 1 g
3
3 3 )  0,00851 mPa. cm 1
cm cm g
  0,9197 cPs
 Rata-rata
0,9302 cPs  0,9114 cPs  0,9197 cPs
  0,9204 cPs
3
b) Viskositas Propilenglikol
 Forward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  33 sec (8,1438 g  1,035 g
3
3 3 )  0,1308 mPa. cm 1
cm cm g
  30,68 cPs
 Backward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  33 sec (8,1438 g  1,035 g
3
3 3 )  0,1309 mPa. cm 1
cm cm g
  30,70 cPs

26
 Forward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  33 sec (8,1438 g  1,035 g
3
3 3 )  1,309 mPa. cm 1
cm cm g
  30,68 cPs
 Rata-rata
30,68 cPs  30,70 cPs  30,68 cPs
  30,69 cPs
3
c) Viskositas Sorbitol 70%
 Forward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  83 sec (8,1438 g  1,309 g
3
3 3 )  0,1308 mPa. cm 1
cm cm g
  74,20 cPs
 Backward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  82 sec (8,1438 g  1,309 g
3
3 3 )  0,1309 mPa. cm 1
cm cm g
  73,36 cPs
 Forward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  84 sec (8,1438 g  1,309 g
3
3 3 )  1,308 mPa. cm 1
cm cm g
  75,09 cPs
 Rata-rata
74,20 cPs  73,36 cPs  75,09 cPs
  74,22 cPs
3
d) Viskositas Oleum Ricini
 Forward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  94 sec (7,7064 g  0,99 g
3
3 3 )  0,650 mPa. cm 1
cm cm g
  410,37 cPs

27
 Backward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  92 sec (7,7064 g  0,99 g
3
3 3 )  0,650 mPa. cm 1
cm cm g
  401,64 cPs
 Forward
  t ( 1 -  2 ) K. F
  100 sec (7,7064 g  0,99 g
3
3 3 )  0,650 mPa. cm 1
cm cm g
  436,566 cPs
 Rata-rata
410,37 cPs  401,64 cPs  436,566 cPs
  416,192 cPs
3
5.2.3 Perhitungan Viskositas dengan Viskometer Brookfield
5.2.4 Kurva
a) Gel Vitamin C dengan CMC-Na 1% (Spindel no.2)
 Rotasi 10 rpm  Rotasi 20 rpm
Diketahui:  = 0 cP Diketahui:  = 0 cP
dv dv
= 10 rpm = 20 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
dv dx  dv dx 
F dv F dv
   
A dx A dx
F
 0  10 F
 0  20
A A
cm
=0 cm
cm =0
det ik cm
det ik

28
 Rotasi 30 rpm  Rotasi 50 rpm
Diketahui:  = 7 cP Diketahui:  = 16 cP
dv dv
= 30rpm = 50 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
dv dx  dv dx 
F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 7  30  16  50
A A
cm cm
= 210 = 800
cm cm
det ik det ik

 Rotasi 60 rpm  Rotasi 100 rpm


Diketahui:  = 20 cP Diketahui:  = 30,8 cP
dv dv
= 60 rpm = 100rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F A 
F A
dv dx  dv dx 
F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 20  60  30,8  100
A A
cm cm
= 1200 = 3080
cm cm
det ik det ik

29
 Rotasi 60 rpm  Rotasi 50 rpm
Diketahui:  = 20 cP Diketahui:  = 16,8 cP
dv dv
= 60 rpm = 50 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:

F 

F A
dv dx 
 A
dv dx 
F dv
F
 
dv  
A dx
A dx
F
F  16,8  50
 20  60 A
A
= 840 cm
cm cm
= 1200
cm det ik
det ik

 Rotasi 30 rpm  Rotasi 20 rpm

Diketahui:  = 7 cP Diketahui:  = 0 cP

dv dv
= 30 rpm = 20 rpm
dx dx
F
Ditanya:
F
=…? Ditanya: =…?
A A

Jawab: Jawab:

F A 
F A

dv dx  dv dx 
F dv
F
 
dv  
A dx A dx
F
F
 7  30  0  20
A A

cm =0 cm
= 210 cm
cm det ik
det ik

30
 Rotasi 10 rpm
Diketahui:  = 0 cP
dv
= 10 rpm
dx
F
Ditanya: =…?
A
Jawab:


F 
A
dv dx 
F dv
 
A dx
F
 0  10
A

=0 cm
cm
det ik

b) Gel Vitamin C dengan CMC-Na 2% (Spindel no.2)


 Rotasi 10 rpm  Rotasi 20 rpm
Diketahui:  = 96 cP Diketahui:  = 112 cP
dv dv
= 10 rpm = 20 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
dv dx  dv dx 
F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 96  10  112  20
A A

= 960 cm = 2240 cm
cm cm
det ik det ik

31
 Rotasi 30 rpm  Rotasi 50 rpm
Diketahui:  = 116 cP Diketahui:  = 129,6 cP
dv dv
= 30 rpm = 50 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
dv dx  dv dx 
F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 116  30  129,6  50
A A

= 3480 cm = 6480 cm
cm cm
det ik det ik

 Rotasi 60 rpm  Rotasi 100 rpm


Diketahui:  = 152,0 cP Diketahui:  = 142,4 cP
dv dv
= 60 rpm = 100 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
 dx 
dv  dx 
dv

F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 152,0  60  142,4  100
A A

= 9120 cm = 14240 cm
cm cm
det ik det ik

32
 Rotasi 60 rpm  Rotasi 50 rpm
Diketahui:  = 132,7 cP Diketahui:  = 128,0 cP
dv dv
= 60 rpm = 50 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
dv dx  dv dx 
F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 132,7  60  128,0  50
A A

= 7962 cm = 6400 cm
cm cm
det ik det ik

 Rotasi 30 rpm  Rotasi 20 rpm


Diketahui:  = 120 cP Diketahui:  = 100 cP
dv dv
= 30 rpm = 20 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
 dx 
dv  dx 
dv

F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 120  30  100  20
A A

= 3600 cm = 2000 cm
cm cm
det ik det ik

33
 Rotasi 10 rpm
Diketahui:  = 80 cP
dv
= 10 rpm
dx
F
Ditanya: =…?
A
Jawab:


F 
A
dv dx 
F dv
 
A dx
F
 80  10
A

= 800 cm
cm
det ik

c) Gel Vitamin C dengan CMS-Na 3% (Spindel no.6)


 Rotasi 10 rpm  Rotasi 20 rpm
Diketahui:  = 14800 cP Diketahui:  = 9900 cP
dv dv
= 10 rpm = 20 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
dv dx  dv dx 
F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 14800  10  9900  20
A A

= 148000 cm = 198000 cm
cm cm
det ik det ik

34
 Rotasi 30 rpm  Rotasi 50 rpm
Diketahui:  = 8900 cP Diketahui:  = 6100 cP
dv dv
= 30 rpm = 50 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
dv dx  dv dx 
F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 8900  30  6100  50
A A

= 267000 cm = 305000 cm
cm cm
det ik det ik

 Rotasi 60 rpm  Rotasi 100 rpm


Diketahui:  = 5680 cP Diketahui:  = 4650 cP
dv dv
= 60 rpm = 100 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
 dx 
dv  dx 
dv

F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 5680  60  4650  100
A A

= 340800 cm = 465000 cm
cm cm
det ik det ik

35
 Rotasi 60 rpm  Rotasi 50 rpm
Diketahui:  = 5820 cP Diketahui:  = 6520 cP
dv dv
= 60 rpm = 50 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
dv dx  dv dx 
F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 5820  60  6520  50
A A

= 349200 cm = 326000 cm
cm cm
det ik det ik

 Rotasi 30 rpm  Rotasi 20 rpm


Diketahui:  = 9030 cP Diketahui:  = 10750 cP
dv dv
= 30 rpm = 20 rpm
dx dx
F F
Ditanya: =…? Ditanya: =…?
A A
Jawab: Jawab:


F 
A 
F 
A
 dx 
dv  dx 
dv

F dv F dv
   
A dx A dx
F F
 9030  30  10750  20
A A

= 270900 cm = 215000 cm
cm cm
det ik det ik

36
 Rotasi 10 rpm
Diketahui:  = 14000 cP
dv
= 10 rpm
dx
F
Ditanya: =…?
A
Jawab:


F 
A
dv dx 
F dv
 
A dx
F
 14000  10
A

= 140000 cm
cm
det ik

37
Gel Vitamin C dengan CMC-Na 1%

Kurva Hubungan Viskositas terhadap Tekanan Geser (F/A)

Kurva HubunganViskositas terhadap


Tekanan Geser
35
30
25
Viskositas

20
15
10
5
0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500
Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Kecepatan Geser (dv/dx) terhadap Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Kecepatan Geser


terhadap Tekanan Geser
120
Kecepatan Geser (dv/dx)

100

80

60

40

20

0
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500
Tekanan Geser (F/A)

38
Gel Vitamin C dengan CMS-Na 2%

Kurva Hubungan Viskositas terhadap Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Viskositas terhadap


Tekanan Geser (F/A)
160
140
120
Viskositas

100
80
60
40
20
0
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000
Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Kecepatan Geser (dv/dx) terhadap Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Kecepatan Geser (dv/dx)


terhadap Tekanan Geser
120
Kecepatan Geser (dv/dx)

100

80

60

40

20

0
0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000
Tekanan Geser (F/A)

39
Gel Vitamin C dengan CMS-Na 3%

Kurva Hubungan Viskositas terhadap Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Viskositas terhadap


Tekanan Geser (F/A)
16000
14000
12000
Viskositas

10000
8000
6000
4000
2000
0
0 100000 200000 300000 400000 500000
Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Kecepatan Geser (dv/dx) terhadap Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Kecepatan Geser (dv/dx)


terhadap Tekanan Geser (F/A)
120
Kecepatan Geser (dv/dx)

100

80

60

40

20

0
0 100000 200000 300000 400000 500000
Tekanan Geser (F/A)

40
VI. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukan pengukuran viskositas dan rheologi
suatu cairan. Tujuan praktikum ini adalah untuk mengukur dan mengetahui
viskositas dan rheologi suatu cairan yang termasuk cairan Newton dan
menentukan jenis aliran non Newton pada sebuah sampel. Viskositas dan rheologi
merupakan dua sifat fisik penting yang umumnya digunakan untuk mengevaluasi
karakteristik suatu sediaan cair. Viskositas didefinisikan sebagai ukuran resistensi
suatu zat cair untuk mengalir. Semakin besar ukuran resistensi suatu zat cair
untuk mengalir, maka semakin besar pula viskositasnya (Martin et al., 2008).
Viskositas dapat digunakan sebagai petunjuk adanya kerusakan, penyimpangan
atau penurunan mutu pada beberapa produk, misalnya sediaan farmasi seperti
sediaan suspensi, gel, pasta dan emulsi akan sangat dipengaruhi oleh viskositas,
baik dari segi kestabilan maupun tujuan penggunaan atau pengaplikasian sediaan
tersebut (Ansel, 2005). Rheologi adalah bidang ilmu yang mempelajari perubahan
sifat-sifat fisik suatu larutan (benda cair) yang berkaitan dengan penerapan suatu
energi atau daya pada benda cair tersebut (Martin, 1993). Stabilitas fisik dan
ketersediaan hayati suatu sediaan dapat dipengaruhi oleh rheologi dari suatu
sediaan farmasi tersebut. Peranan rheologi yang sangat penting, yaitu untuk
mengetahui proses pengembangan produk, pengendalian mutu, dan scalling up
proses. Pengetahuan tentang rheologi bahan berperan dalam proses optimasi untuk
menghasilkan produk yang baik sehingga produk tersebut dapat diterima oleh
konsumen.
Sampel yang digunakan pada praktikum viskositas dan rheologi adalah
cairan Newton dan cairan non Newton. Cairan Newton merupakan cairan yang
mengikuti hukum Newton dan memiiki viskositas yang tetap pada suhu dan
tekanan tertentu serta tidak tergantung pada kecepatan geser. Pada praktikum uji
viskositas dilakukan dengan dua jenis viskometer yaitu viskometer Hoeppler dan
viskometer Brookfield. Viskometer merupakan alat yang digunakan untuk
menghitung nilai viskositas atau kekentalan suatu fluida (Ridwan, 1999).
Viskometer yang dapat digunakan untuk mengukur viskositas cairan Newton
adalah viskometer satu titik. Viskometer Hoeppler termasuk contoh dari

41
viskometer satu titik, yaitu viskometer yang hanya dapat mengukur pada satu titik
kecepatan geser, sehingga hanya dihasilkan satu rheogram. Viskometer Hoeppler
digunakan untuk mengukur cairan Newton dengan kekentalan cairan yang tidak
dipengaruhi oleh gaya yang diberikan dan tidak tergantung kepada kecepatan
gesernya. Sampel yang termasuk cairan Newton pada praktikum kali ini adalah
minyak jarak, sorbitol 70%, propilenglikol dan air. Cairan non Newton adalah
cairan yang tidak mengikuti hukum Newton dan memiliki viskositas yang
beragam pada berbagai kecepatan geser. Viskometer yang dapat digunakan untuk
mengukuran sifat aliran cairan non Newton adalah viskometer banyak titik.
Viskometer Brookfield termasuk viskometer banyak titik dapat digunakan untuk
mengukur cairan Newton maupun non Newton. Sampel yang termasuk cairan non
Newton adalah sediaan emulsi berupa gel vitamin C.
Prosedur awal yang dilakukan saat percobaan adalah penentuan bobot
jenis cairan uji. Penentuan bobot jenis dilakukan dengan menggunakan alat berupa
piknometer. Prinsip penentuan bobot jenis dengan metode piknometer adalah
membandingkan bobot jenis suatu cairan dengan bobot jenis cairan yang telah
diketahui (standar). Standar yang digunakan pada praktikum ini adalah akuades,
dimana akuades memiliki bobot jenis 1 gr/cm3 (Depkes, 1979).
Piknometer yang digunakan harus kering agar sisa cairan tidak
mempengaruhi setiap penimbangan. Ditimbang terlebih dahulu piknometer
kosong. Didapatkan bobot piknometer kosong, piknometer kemudian diisi dengan
akuades sebagai larutan standarnya. Diusahakan agar tidak terdapat titik air di
permukaan luar piknometer karena akan mempengaruhi bobotnya. Dilakukan
pengelapan dengan tissue dan tidak menyentuh bibir atas tutup karena akan terjadi
kapilaritas dari tissue sehingga akan mengurangi bobot cairan di dalamnya.
Setelah itu aquadest di keluarkan dan piknometer dibersihkan serta dikeringkan
lalu diisi dengan cairan yang akan dihitung bobot jenisnya.
Bobot jenis suatu cairan dapat ditentukan dengan menggunakan
piknometer sesuai rumus berikut.

W2  W 0
Bobot Jenis (  ) 
W1  W 0

42
gram
Dimana : W0 : bobot piknometer kosong ( ⁄ml )
gram
W1 : bobot piknometer yang berisi air suling ( ⁄ml )
gram
W2 : bobot piknometer yang berisi cairan ( ⁄ml )
Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan bobot jenis dari akuades 1
g/mL, Oleum ricini 0,99 g/mL, propilenglikol 1,035 g/mL dan Sorbitol 70% 1,309
g/mL.
Uji viskositas pada cairan Newton dilakukan dengan viskometer Hoeppler
atau viskometer bola jatuh. Prinsip dari viskometer ini adalah mengukur
kecepatan bola jatuh melalui cairan dalam tabung pada suhu tetap (Martin et al.,
2008). Prinsip pengukuran viskositas cairan uji air dengan viskometer bola jatuh
adalah mengukur kecepatan bola jatuh melalui cairan dalam tabung pada suhu
tetap, dimana waktu bagi bola tersebut untuk jatuh antara dua tanda batas diukur
dengan teliti dan diulangi beberapa kali (Martin, 1993). Bola ditimbang satu
persatu untuk mengetahui bobot masing-masing bola. Semakin besar bobot suatu
bola, maka semakin besar pula viskositasnya sehingga bola yang digunakan
adalah bola yang telah dipilih berdasarkan besar bobotnya. Pemilihan bola yang
sesuai dilakukan untuk mendapatkan hasil yang maksimal dimana bola dipilih
berdasarkan kemampuannya untuk bergerak dari titik awal (m1) menuju titik
akhir (m3) dengan waktu mendekati 300 detik. Pembandingan pun dilakukan
untuk setiap sampel uji menggunakan 2 bola dengan nomor yang berbeda. Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam pengukuran dengan menggunakan viskometer ini,
yaitu tidak boleh ada gelembung udara dalam tabung yang dapat mempengaruhi
kecepatan dari bola jatuh serta tabung yang digunakan agak dimiringkan agar bola
yang jatuh tidak terlalu cepat sehingga kecepatan bola jatuh dapat diukur dengan
baik.
Pada pengujian viskometer bola jatuh, cairan yang memiliki viskositas
yang kira-kira paling kecil di ukur terlebih dahulu agar tidak banyak partikel yang
tertinggal pada alat viskometer bola jatuh. Bola yang dianggap sesuai kemudian
dipilih sebagai bola yang akan digunakan untuk pengujian. Uji viskositas pada
sampel air menggunakan bola 1 yang memiliki konstanta sebesar 0,00851

43
mPa.cm3/g saat forward dan 0,00853 mPa.cm3/g saat backward, pada sampel
propilenglikol dan sorbitol 70% menggunakan bola 3 yang memiliki konstanta
sebesar 0,1308 mPa.cm3/g saat forward dan 0,13089 mPa.cm3/g saat backward,
dan pada Oleum ricini menggunakan bola 4 yang memiliki konstanta bola
forward dan backward sebesar 0,650 mPa.cm3/g. Viskometer Hoeppler dipasang
miring sehingga kecepatan bola jatuh akan berkurang dan pengukuran dapat
dilakukan lebih teliti. Berdasarkan data yang diperoleh, Oleum ricini memiliki
viskositas rata-rata tertinggi, yaitu sebesar 416, 192 cPs, diikuti berturut oleh
sorbitol 70% sebesar 74,22 cPs, propilenglikol sebesar 30,69 cPs, dan yang
terakhir adalah air dengan viskositas 0,9204 cPs.
Viskositas bola bergantung pada waktu tempuh bola dan jenis bola yang
digunakan. Viskositas jika ditinjau dari waktu yang diperlukan bola jatuh maka
akan berbanding lurus dengan besarnya viskositas. Semakin besar viskositas dari
larutan maka akan semakin sulit bola untuk jatuh, berbeda dengan larutan yang
mempunyai viskositas rendah maka akan semakin mudah bola untuk jatuh. Jika
jenis bola yang digunakan sama, maka semakin lama waktu tempuhnya semakin
besar pula viskositasnya. Jika bola memiliki bobot yang berbeda, semakin besar
bobot bola yang digunakan maka semakin besar pula viskositasnya. Sampel yang
menunjukkan nilai viskositas tertinggi adalah Oleum ricini yang memerlukan
waktu tempuh 95,3 detik untuk bola 4. Bola 3 lebih berat daripada bola 4, namun
waktu tempuh bola 3 untuk jatuh dalam Oleum ricini lebih dari 300 detik
sehingga digunakan bola 4. Sorbitol 70% dan propilenglikol menggunakan bola
yang sama yaitu bola 3 yang viskositasnya dapat terlihat dari waktu tempuh
sorbitol 70% yang lebih lama yaitu 83 detik daripada propilenglikol yaitu 33
detik. Sedangkan air dengan waktu tempuh 88 detik dan menggunakan bola 1
yang memiliki bobot lebih ringan daripada bola 4 dan bola 3 sehingga
viskositasnya paling rendah.
Sampel yang digunakan pada pengukuran viskositas dengan menggunakan
viskometer Brookfield adalah gel Vitamin C. Pengukuran dengan viskometer
Brookfield menggunakan bandul (spindel) pengukur kekentalan suatu cairan.
Spindel yang digunakan berbanding terbalik dengan viskositas dari sampel yang

44
digunakan. Semakin besar viskositas sampel yang digunakan maka spindel yang
dipilih adalah spindel dengan ukuran yang kecil. Jika nomor spindel yang
digunakan besar untuk mengukur viskositas suatu cairan uji maka energi yang
dibutuhkan untuk memutar spindel akan menjadi semakin besar dan dapat
mengakibatkan patahnya spindel. Spindel yang digunakan pada prakikum kali ini
adalah spindel nomor 2 (s02) pada sediaan gel vitamin C dengan konsentrasi 1%.
Spindel ini dipilih karena sampel yang digunakan adalah sampel yang mempunyai
viskositas rendah. Untuk sediaan gel vitamin C dengan konsentrasi 2%
menggunakan spindel nomor 2 (s02), dan sediaan gel vitamin C dengan
konsentrasi 3 % menggunakan spindel nomor 6 (s06). Spindel yang telah
digantung pada gantungan spindel dalam viskometer kemudian dicelupkan
kedalam larutan (sampel) sampai batas lekukan pada spindel. Hal ini dilakukan
agar pengukuran viskositas larutan (sampel) tersebut menghasilkan nilai yang
stabil dengan letak spindel yang harus berada tepat di tengah-tengah larutan.
Spindel tidak boleh menyentuh bagian bawah atau samping dari wadah yang
digunakan untuk meletakkan sampel karena hal tersebut dapat menyebabkan
kesalahan pada pengukuran nilai viskositas. Jika spindel menyentuh wadah maka
viskositas yang terbaca akan lebih besar dari yang seharusnya. Viskositas di ukur
pada beberapa kecepatan geser, yaitu 10, 12, 20, 30, 50, 60 dan 100 rpm. Semakin
tinggi nilai rpm maka nilai viskositas suatu cairan juga semakin besar. Setiap
pergantian kecepatan geser, alat viskometer Brookfield ini perlu didiamkan
terlebih dahulu selama 1-5 menit. Pendiaman ini dilakukan untuk mengembalikan
larutan ke keadaan semula yang kemungkinan masih dipengaruhi oleh putaran
spindel pada kecepatan geser yang sebelumnya.. Berdasarkan data viskositas yang
diperoleh dari kecepatan geser yang ditentukan, maka nilai shearing stress (F/A)
dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut :

F/A
 VII.
dv / dx
F / A    dv / dx

45
Dimana : η : viskositas ( cP )

F/A : tekanan geser ( cm )


cm
detik
dv/dx : kecepatan geser ( rpm )
Setelah dilakukan perhitungan shearing stress (F/A) dari masing-masing
viskositas, maka selanjutnya dibuat grafik (rheogram) hubungan antara rate of
share (dv/dx) danviskositas (η) terhadap shearing stress (F/A) untuk menentukan
sifat aliran dari sampel. Berdasarkan grafik sifat alirannya, cairan non Newton
dibagi menjadi dua, yaitu cairan yang sifat alirannya tidak dipengaruhi waktu,
yaitu aliran plastik aliran pseudoplastik, dan aliran dilatan serta cairan yang sifat
alirannya dipengaruhi waktu, yaitu aliran tiksotropik, rheopeksi, dan
antitiksotropik (Martin, 1993). Pada praktikum kali ini diperoleh rheogram
sebagai berikut:
Gel Vitamin C dengan CMC-Na 1%

Kurva Hubungan Viskositas terhadap Kurva Hubungan Kecepatan Geser


Tekanan Geser (F/A) (dv/dx) terhadap Tekanan Geser (F/A)

Kurva HubunganViskositas Kurva Hubungan Kecepatan


terhadap Tekanan Geser Geser terhadap Tekanan Geser
35 120
Kecepatan Geser (dv/dx)

30 100
25
80
Viskositas

20
60
15
40
10
5 20

0 0
0 1000 2000 3000 4000 0 1000 2000 3000 4000
Tekanan Geser (F/A) Tekanan Geser (F/A)

46
Berdasarkan grafik di atas, cairan gel termasuk jenis cairan yang memiliki
sifat aliran yang tidak dipengaruhi waktu, yaitu aliran pseudiplastik. Pada aliran
pseudiplastik, nilai viskositas berbanding lurus dengan nilai rpm, tetapi akan
menurun dengan meningkatnya kecepatan geser dan kemudian grafiknya naik
(Martinet al., 2008), seperti pada pustaka gambar sebagai berikut :

Rheogram Aliran Pseudoplastik (Martin, 2008).


Viskositas cairan pseudoplastik akan menurun dengan meningkatnya
kecepatan geser. Aliran pseudoplastik terjadi pada molekul yang berantai panjang,
seperti polimer-polimer termasuk gom, tragakan, Na-alginat, metil selulose dan
karboksi metil selulose yang merupakan kebalikan dari sistem plastik, yaitu
partikel-partikel yang terflokulasi dalam suatu suspensi (Martin, 2008).
Gel Vitamin C dengan CMC-Na 2%

Kurva Hubungan Viskositas terhadap Kurva Hubungan Kecepatan Geser


Tekanan Geser (F/A) (dv/dx) terhadap Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Viskositas Kurva Hubungan Kecepatan


terhadap Tekanan Geser (F/A) Geser (dv/dx) terhadap Tekanan
160 Geser
140 120
Kecepatan Geser (dv/dx)

120 100
Viskositas

100 80
80
60
60
40
40
20 20

0 0
0 5000 10000 15000 0 5000 10000 15000
Tekanan Geser (F/A) Tekanan Geser (F/A)

47
Gel Vitamin C dengan CMS-Na 3%
Kurva Hubungan Viskositas terhadap Kurva Hubungan Kecepatan Geser
Tekanan Geser (F/A) (dv/dx) terhadap Tekanan Geser (F/A)

Kurva Hubungan Viskositas Kurva Hubungan Kecepatan


terhadap Tekanan Geser (F/A) Geser (dv/dx) terhadap Tekanan
16000 Geser (F/A)
14000 120

Kecepatan Geser (dv/dx)


12000 100
Viskositas

10000 80
8000
60
6000
40
4000
2000 20

0 0
0 200000 400000 600000 0 200000 400000 600000
Tekanan Geser (F/A) Tekanan Geser (F/A)

VII. KESIMPULAN
7.1 Viskositas cairan Newton berturut-turut dari viskositas tertinggi ke
viskositas terendah adalah Sorbitol 70%, Propilenglikol, Oleum Ricini,
dan aquades Sifat aliran atau rheologi dari sampel vitamin C termasuk
aliran non-Newton mengikuti aliran Pseudoplastik

VIII. SARAN
Adapun saran dari praktikum kali ini, sebaiknya pada saat praktikum harus
memahami materi yang akan diujikan serta langkah-langkah yang akan dilakukan
sehingga tidak terjadi kesalahn dalam pengamatan atau praktikum.

48
DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H. C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta:


UI-Press.
Depkes R.I. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesiai, Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Jati, E. M. B. dan A. P. Rizikiana. 2015. Studi Penentuan Viskositas Darah Ayam
dengan Metode Aliran Fluida di dalam Pipa Kapiler Berbasis Hukum
Poisson. Jurnal Fisika Indonesia 19(57):43-47.
Lachman, L. dan H.A. Lieberman. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri.
Edisi Kedua. Jakarta: UI Press.
Martin A., J. Swarbrick, dan A. Cammarata. 1993. Farmasi Fisik. Jilid 2 Edisi
Ketiga. Jakarta: UI-Press.
Martin, Alfred, James Swarbrick, and Arthur Cammarata. 2008. Farmasi Fisika 2
Edisi Ketiga. Jakarta: UI Press.
Maulida, R. H. dan E. Rani. 2010. Analisis Karakteristik Pengaruh Suhu dan
Kontaminan terhadap Viskositas Oli Menggunakan Rotary Viscometer.
Jurnal Neutrino 3(1)18-31.
Prijono, Arko. 1985. Mekanika Fluida II. Jakarta:Erlangga.
Respati, H. 1981. Kimia Dasar Terapan Modern. Jakkarta: Erlangga
Ridwan. 1999. Mekanika Fluida Dasar. Jakarta: Gunadarma. Soewandhi, N
Sundani. 2009. Rheologi. Bandung: Sekolah Farmasi ITB.
Streeter, Victol L dan E. Benjamin While. 1996. Mekanika Fluida edisi ke- 2 jilid
I. Jakarta: Erlangga
Toledo, R. T. 1991. Fundamentals of Food Process Engineering, 2nd Edition.
New York: Van Nostrand Remhold.

49
LAMPIRAN JAWABAN

1. Tentukan Viskositas dan jenis rheologi dari Gel Vitamin C!


Sampel yang digunakan pada praktikum viskositas dan rheologi adalah cairan
Newton dan cairan non Newton. Cairan Newton merupakan cairan yang
mengikuti hukum Newton dan memiiki viskositas yang tetap pada suhu dan
tekanan tertentu serta tidak tergantung pada kecepatan geser. Pada praktikum
uji viskositas dilakukan dengan dua jenis viskometer yaitu viskometer
Hoeppler dan viskometer Brookfield. Viskometer merupakan alat yang
digunakan untuk menghitung nilai viskositas atau kekentalan suatu fluida
(Ridwan, 1999). Viskometer yang dapat digunakan untuk mengukur viskositas
cairan Newton adalah viskometer satu titik. Viskometer Hoeppler termasuk
contoh dari viskometer satu titik, yaitu viskometer yang hanya dapat
mengukur pada satu titik kecepatan geser, sehingga hanya dihasilkan satu
rheogram. Viskometer Hoeppler digunakan untuk mengukur cairan Newton
dengan kekentalan cairan yang tidak dipengaruhi oleh gaya yang diberikan
dan tidak tergantung kepada kecepatan gesernya. Sampel yang termasuk
cairan Newton pada praktikum kali ini adalah minyak jarak, sorbitol 70%,
propilenglikol dan air. Cairan non Newton adalah cairan yang tidak mengikuti
hukum Newton dan memiliki viskositas yang beragam pada berbagai
kecepatan geser. Viskometer yang dapat digunakan untuk mengukuran sifat
aliran cairan non Newton adalah viskometer banyak titik. Viskometer
Brookfield termasuk viskometer banyak titik dapat digunakan untuk mengukur
cairan Newton maupun non Newton. Sampel yang termasuk cairan non
Newton adalah sediaan emulsi berupa gel vitamin C.
2. Sebutkan manfaat mempelajari viskositas dan rheologi dalam bidang farmasi!
a. Manfaat mempelajari viskositas yaitu untuk memperhatikan kestabilan dan
viskositas suatu sediaan, selain itu sifat aliran suatu zat cair juga harus
diperhatikan dalam membuat suatu sediaan. Salah satu sediaan yang lebih
mudah mengalami kerusakan akibat penyimpanan yang kurang baik maupun
waktu simpan yang relatif singkat adalah sediaan cair. Oleh karena itu,
diperlukan suatu formulasi khusus dari sediaan cair sehingga diperoleh

50
sediaan dengan tingkat penerimaan (acceptability) yang baik oleh pasien
maupun waktu penyimpanan yang relatif lebih lama dan karakteristik dari
viskositas ini sangat penting dalam proses industri farmasi untuk menentukan
standar dari kualitas produk. Hal ini tentunya akan membantu konsumen
dalam memilih produk yang kualitasnya terjamin.
b. Manfaat mempelajari Rheologi dalam bidang farmasi, prinsip-prinsip rheologi
diaplikasikan dalam pembuatan krim, suspensi, emulsi, losion, pasta, penyalut
tablet, dan lain-lain. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga untuk
karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai penjaminan
kualitas yang sama untuk setiap batch. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat
mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat, bahkan
ketersediaan hayati dalam tubuh (bioavailability). Sehingga viskositas telah
terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh (Soewandhi,
2009).
3. Apakah yang dimaksud dengan sistem newton dan non-newton?
a. Sistem Newton adalah Cairan yang mengikuti hukum Newton, viskositasnya
tetap pada suhu dan tekanan tertentu dan tidak tergantung pada kecepatan
geser. Oleh karena itu, viskositasnya cukup ditentukan pada satu kecepatan
geser. Viskosimeter yang dapat dipergunakan untuk keperluan itu adalah
viskosimeter kapiler atau bola jatuh. Apabila digambarkan antara kecepatan
geser terhadap tekanan geser, maka diperoleh grafik lurus dengan titik nol.
Contoh cairan Newton adalah minyak jarak, kloroform, gliserin, mnyak zaitun
dan air (Streeter, 1996 )
b. Sistem Non-Newton adalah Sistem cairan non-Newton dapat ditemukan pada
dispersi heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi, suspensi
cair, salep, dan produk-produk serupa. Apabila bahan-bahan non-Newton
dianalisis dalam suatu viskosimeter putar dan hasilnya diplot, maka dapat
diperoleh berbagai kurva yang menjelaskan konsistensi yang menggambarkan
adanya tiga kelas aliran yakni plastik, pseudoplastik, dan dilatan (Martin et al.,
2008).

51
4. Bagaimana pengaruh jumlah Gelling Agent terhadap Viskositas dan Rheologi
sediaan?
Kualitas fisik sediaan gel dipengaruhi oleh komposisi bahan-bahan yang
digunakan. Gelling agent dan humektan merupakan bagian yang sangat
berpengaruh terhadap kualitas fisik dari sediaan gel. Gelling agent akan
membentuk jaringan struktural yang merupakan faktor yang sangat penting
dalam sistem gel (Zath and Kushla, 1996). Humektan akan menjaga kestabilan
sediaan gel dengan cara mengabsorbsi lembab dari lingkungan dan
mengurangi penguapan air dari sediaan. Selain menjaga kestabilan sediaan,
secara tidak langsung humektan juga dapat mempertahankan kelembaban kulit
sehingga kulit tidak kering (Harry, 1982). Oleh karena itu penggunaan gelling
agent dan humektan perlu diperhatikan.

DAFTAR PUSTAKA
Harry, R. G. 1982. Harry’s Cosmeticology, The Principle and Practice of Modern
Cosmetics. 6th Ed., P.306-320; P.702-705. London: Leonard Hill Book.

Zath, J. L., and Kushla, G. P., Gels, in Lieberman, H. A., Lachman, L., and
Schwatz, J. B. Pharmaceutical Dosage Form: Dysperse System Vol. 2. 2nd
Ed, P.399-417. New York: Marcell Dekker, Inc.

52