Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

METAFISIKA III

Di Susun Oleh :
Ikhsan Hanansyah (1615310358)

Dosen Pengampu :

Ir. Mukhlis Malik, M.Sos

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

FAKULTAS SOSIAL SAINS

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCABUDI

MEDAN

2019

1
DAFTAR ISI

Cover .............................................................................................................. i

Daftar Isi ....................................................................................................... ii

A. KENAPA KITA BERAGAMA ....................................................... 3


1. Latar Belakang Metafisika ........................................................ 4
2. Definisi Metafisika ..................................................................... 4
3. Tujuan Mempelajari Metafisika............................................... 5
B. LEADERSHIP PRINCIPLE (PRINSIP KEPEMIMPINAN) .... 7
1. Pengertian Kepemimpinan........................................................ 7
C. TASAWUF ...................................................................................... 11
1. Pengertian Tasawuf ................................................................. 11
2. Hakikat Tasawuf ...................................................................... 11
3. Sejarah/Latar Belakang Lahirnya Tasawuf .......................... 11
4. Pembagian Tasawuf ................................................................. 12
5. Tujuan Tasawuf ....................................................................... 12

2
A. KENAPA KITA BERAGAMA

Apakah Agama masih relevan dengan kehidupan masa kini ? Sebelum

pertanyaan tersebut kita jawab baiknya terlebih dahulu kita jawab pertanyaan

berikut :

 Apakah manusia dapat melepaskan diri Agama ?

 Adakah alternatif lain yang dapat menggantikan kedudukan agama ?

Dalam pandangan Islam, keberagamaan adalah fithrah (sesuatu yang melekat

pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya). Ini berarti manusia tidak dapat

melepaskan diri agama. Tuhan menciptakan demikian, karena agama merupakan

kebutuhan hidupnya. Memang manusia dapat menangguhkannya sesuai dengan

kondisinya.

Ketika terjadi konfrontasi antara ilmuwan di Eropa dengan gereja, ilmuwan

meninggalkan agama, tetapi tidak lama kemudia mereka sadar akan kebutuhan

kepada pegangan yang pasti, dan ketika itu mereka menjadikan “hati nurani”

sebagai alternatif pengganti agama.

Apakah ini dapat dipertahankan ? Ternyata “hati nurani” sangat labil, sangat

dipengaruhi oleh lingkungan dan latar belakang pendidikan seseorang. Muncul

pula filsafat eksistensialisme yang mempersilahkan manusia melakukan apa saja

yang dianggapnya baik atau menyenangkan tanpa memperdulikan dengan nilai-

nilai.

“Selama manusia masih memiliki naluri cemas dan mengharap, selama itu

pula ia beragama” (William James).

3
Murtadha Muthahari menjelaskan :

 Ilmu mempercepat anda sampai ke tujuan, agama menentukan arah yang

dituju.

 Ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungannya, agama menyesuaikan

dengan jati dirinya.

 Ilmu hiasan lahir , agama hiasan batin

 Ilmu memberikan kekuatan dan menerangi jalan,agama memberi harapan

dan dorongan bagi jiwa.

 Ilmu menjawab pertanyaan yang dimulai dengan “bagaimana”, agama

menjawab yang dimulai dengan mengapa”

 Ilmu tidak jarang mengeruhkan pikiran pemiliknya, agama menenangkan

jiwa pemeluknya yang tulus.

1. Latar Belakang Metafisika

Selama ini kita melihat banyak pemeluk agama yang mempelajari agamanya

pembahasannya hanya dengan pendekatan ilmu hukum (fiqih) dan dogma.

Akibatnya sering terlihat di masyarakat adanya perseteruan antara penganut

agama yang sama apalagi antara penganut agama yang berbeda. Agama

diturunkan Tuhan kepada ummatnya agar manusia dapat hidup dengan penuh

kedamaian.

2. Definisi Metafisika

Metafisika ialah suatu ilmu untuk mengetahui hakikat tiap-tiap sesuatu.

(Bahaudin Mudhary) Metafisika Kerohanian ialah suatu ilmu untuk mengetahui

hakikat atau intisari yang sesungguhnya dari ajaran Agama Islam. Di dalam

4
bahasa Arab disebut Ilmu Hikmah. Perkataan hikmah artinya hakikat tiap-tiap

sesuatu yaitu berikhtiar untuk mengetahui kebenarannya tiap-tiap sesuatu dengan

penyelidikan yang mendalam dan seksama. Di dalam bahasa Latin disebut sofia.

Orang yang menumpahkan perhatiannya kepada hikmah disebut orang yang cinta

hikmah yang disebut dalam bahasa Latin philosoof.

Pekerjaannya disebut philosophie dalam bahasa Arab disebut falsafah di

dalam bahasa Inggris disebut philosophy di dalam bahasa Indonesia disebut

filsafat. Manusia dalam upayanya mencari “yang ada itu” dengan dua cara, yaitu

dengan jalan fikiran dengan mengandalkan ilmu eksakta (matematika, fisika,

kimia, dsb) dan ada pula dengan memakai perasaan (hati nurani), yang pertama

itulah disebut ahli filsafat dan yang kedua disebut ahli tasauf.

Maka Metafisika Kerohanian menggabungkan keduanya yakni dengan

memakai pemikiran (logika) dan perasaan (hati nurani) atau menggabungkan

filsafat dengan tasauf.

3. Tujuan Mempelajari Metafisika

Ada beberapa poin didalam tujuan mempelajari Metafisika, yaitu sebagai

berikut:

 Agar dapat memahami hakikat dari metafisika kerohanian, sehingga dalam

menjalankan agama akan diperoleh manfaat bagi diri pribadi dan

lingkungannya.

5
 Agar dapat memiliki pola pikir yang luas dalam memahami metafisika

kerohanian sehingga akan dapat berprilaku toleran baik antara penganut

agama yang sama maupun yang berbeda.

 Agar dapat mengenal lebih dalam eksistensi Tuhan bagi manusia.

6
B. LEADERSIP PRINCIPLE (PRINSIP KEPEMIMPINAN)

Beriman Kepada Rasul/ Utusan Tuhan “Sungguh, pada diri Utusan Allah itu

terdapat suri teladan yang baik” [QS Al Ahzab (33):21]. Para Rasul,nabi sebagai

utusan Tuhan adalah orang yang luar biasa yang memiliki kepekaan, ketabahan

yang begitu tinggi dalam menyampaikan wahyu Tuhan dengan ulet tanpa

mengenal takut sehingga mereka berhasil mempengaruhi ummatnya untuk tunduk

dan patuh kepada Tuhan.

Ada anggapan keliru yang melihat bahwa pemimpin adalah kedudukan atau

posisi semata.Akibatnya banyak orang yang mengejarnya dengan menghalalkan

berbagai cara demi mencapainya. Ada yang memperolehnya dengan cara membeli

dengan uang, menjilat atasan, menyikut pesaing,atau dengan cara lainnya.

Pemimpin hasil dari cara ini seperti ini akan selalu menggunakan

kekuasaannya untuk mengarahkan, memperalat, bahkan menguasai orang lain

agar orang lain mengikutinya. Pemimpin seperti ini umumnya suka menekan.

Perhatikan mekanisme “per” daya lenting, daya dorong.

Bahkan akhirnya muncullah “Homo homini lupus” – manusia akan menjadi

pemangsa manusia lainnya (Thomas Hobbes).

1. Pengertian Kepemimpinan

“Setiap kamu adalah pemimpin dan kamu bertanggung jawab atas

kepemimpinan itu” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud).

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi aktivitas seseorang

atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu.

7
Keberhasilan seorang pemimpin tergantung kepada kemampuannya untuk

mempengaruhi itu. Begitu banyak pemimpin-pemimpin populer kaliber dunia

yang dilahirkan di muka bumi ini, tetapi pengaruhnya hanya beberapa waktu saja.

Misalnya Winston Churchill, Leonid Breznev, Jenderal Mc Arthur, Ronald

Reagen, Kaisar Hirohito atau Che Guevera. Semua hanya tinggal kenangan,

pengaruhnya boleh dikatakan hampir hilang. Tetapi pemimpin-pemimpin besar

yang diturunkan Tuhan seperti Nabi Daud, Musa, Ibrahim, Isa dan Muhammad,

pengaruhnya begitu kuat sampai saat sekarang ini. Inilah yang disebut Pemimpin

Abadi - pemimpin yang cara memimpinnya sangat sesuai dengan hati nurani.

Tangga Kepemimpinan :

 Pemimpin Tingkat 1 : Pemimpin yang Dicintai

 Pemimpin Tingkat 2 : Pemimpin yang Dipercaya

 Pemimpin Tingkat 3 : Pembimbing

 Pemimpin Tingkat 4 : Pemimpin yang Berkepribadian

 Pemimpin Tingkat 5 : Pemimpin yang Abadi

Tingkat keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh seberapa tinggi tingkat

kepemimpinannya. Tingkat kepemimpinan seseorang juga menentukan seberapa

besar dan seberapa jauh tingkat pengaruhnya.

a. Pemimpin Tingkat 1: Pemimpin yang Dicintai

“Kasihilah mereka yang ada di bumi niscaya yang di langit akan kasih

kepadamu” (HR Tirmidzi). Anda bisa mencintai orang lain tanpa memimpin

mereka, tetapi anda tidak bisa memimpin orang lain tanpa mencintai mereka.

8
Seorang pemimpin tidak bisa hanya menunjukkan prestasi kerjanya saja,

namun ia harus mencintai dan dicintai orang lain. Nabi sebagai utusan Tuhan

telah memberikan contoh bagaimana perhatiannya kepada orang yang lemah, anak

yatim, orang yang miskin dan sengsara, dengan sikap yang humanis yang begitu

memukau.

b. Pemimpin Tingkat 2 : Pemimpin yang Dipercaya

Seseorang yang memiliki integritas tinggi adalah orang yang dengan penuh

keberanian serta berusaha tanpa kenal putus asa untuk mencapai apa yang ia cita-

citakan. Cita-citanya akan mendorong dirinya untuk terus konsisten dengan

langkah-langkahnya. Akhirnya akan terlihat sebuah komitmen yang dimiliki.

Integritas adalah sebuah kejujuran. Integritas tidak pernah berbohong dan

integritas adalah kesesuaian antara kata-kata dan perbuatan.Integritas inilah yang

membuat anda dipercaya.

c. Pemimpin Tingkat 3 : Pembimbing

Pemimpin yang berhasil dapat dilihat dari kemampuannya memberikan

motivasi dan kekuatan pada orang lain. Seorang pemimpin bisa dikatakan gagal

apabila tidak berhasil memiliki penerus.Pada tangga tingkat inilah puncak

loyalitas pengikutnya akan terbentuk. Rasulullah sering memberikan nasehat,

petunjuk serta contoh kepada sahabatnya untuk membimbing mereka dalam

menjalani hidup ini dalam berbagai aspek agar memperoleh kebahagiaan.

Akhirnya segala nasehat, contoh-contoh perilaku itu dihapal dan ditulis oleh

sahabatnya, bahkan dibukukan yang sampai saat ini lebih dari 1400 tahun dapat

kita baca dan pedomani.

9
d. Pemimpin Tingkat 4 : Pemimpin yang Berkepribadian

“Pemimpin tidak akan berhasil memimpin orang lain apabila ia belum berhasil

memimpin dirinya sendiri. Pemimpin harus mampu dan berhasil mengenal secara

mendalam siapa dirinya sebenarnya. Sebelum ia memimpin keluar, ia harus

memimpin ke dalam” (Harry S Truman,presiden USA ke 33).

Pekerjaan inilah yang sebenarnya paling berat, memimpin diri sendiri

melawan hawa nafsu adalah refleksi kedisiplinan diri. Musuh yang berat

sebenarnya adalah diri sendiri, dan seorang pemimpin harus mengenali siapa

lawan dan kawan termasuk dalam dirinya sendiri.

5. Pemimpin Tingkat 5 : Pemimpin Abadi

“Dan Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang

agung. [QS Al Qalam(68):4]”. Pemimpin abadi ialah pemimpin yang kepribadian,

ajaran serta nasehatnya mengalir begitu alamiah. Pemimpin jenis ini menjunjung

tinggi harkat martabat manusia, yang cara berpikirnya dan pengaruhnya akan terus

berjalan sampai akhir zaman. (lihat Michael H.Hart “The 100” yang

diterjemahkan Seratus tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah).

Pemimpin sejati adalah seseorang yang selalu mencintai dan memberi

perhatian kepada orang lain, sehingga ia dicintai. Memiliki integritas yang kuat,

sehingga ia dipercaya oleh pengikutnya. Selalu membimbing dan mengajari

pengikutnya. Memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten.

10
C. TASAWUF

1. Pengertian Tasawuf

Ada beberapa pendapat tentang asal usul kata Tasawuf antara lain; [1] dari

kata Ash-shafa yang berarti bersih, jernih atau murni. Dari kata ini terdapat

beberapa perobahan kata seperti ; At-Tashfiah, Shufii dan Shoofii. [2] Ada pula

yang mengambil kata tasawuf dari kata Shuffah yang artinya serambi. Istilah ini

dihubungkan dengan suatu tempat di sisi masjid Nabawi yang didiami oleh

sekelompok sahabat Nabi yang fakir dan tidak memiliki tempat tinggal, yang ikut

Hijrah dengan Nabi, yang dikenal dengan “Ahlush-Shuffah”. Diantaranya adalah

:Abu Darda’,Abu Zarr dan Abu Hurairah. [3]Berasal dari Kata “Shaff“ yang

berarti barisan di dalam shalat, dimana mereka memilih shaff terdepan. [4]

Berasal dari kata ”shaufanah” sebangsa buah-buahan kecil berbulu, di mana

pakaian kaum shufi itu berbulu kasar.

2. Hakikat Tasawuf

Asal pokok dari ajaran Tasawuf itu adalah tekun beribadah, tidak terpengaruh

dari kemewahan dan kemegahan dunia (tidak diperbudak dunia) serta senantiasa

mengharap RidhaNya. Ilmu tasawuf adalah bagian dari ajaran Islam , dengan

alasan tidak terpisahkan dengan 3 pilar dalam agama Islam, yaitu:

 Rukun Islam : berkaitan dengan syariah dan fiqih.

 Rukun Iman : berkaitan dengan aqidah/ Keimanan /tauhid.

 Ihsan : berkaitan dengan teknik membersihkan diri/rohani/jiwa (tazkiyatun

nafs), erat kaitannya dengan keikhlasan, sabar, tawadhu, rendah hati,

tawakkal, dan lain-lain.

11
3. Sejarah/Latar Belakang Lahirnya Tasawuf

 Kehidupan Nabi/Rasul terdahulu.

 Kehidupan Nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi rasul

 Kehidupan Nabi Muhammad saw, setelah diangkat menjadi Rasul.

 Situasi Umat Islam pada abad ke II hijrah.

4. Pembagian Tasawuf

a. Tasawuf Falsafi, adalah tasawuf yang pendekatan yang digunakan adalah

pendekatan rasio atau akal pikiran, karena dalam tasawuf ini menggunakan

bahan-bahan kajian yang terdapat di kalangan para filosof.

b. Tasawuf Akhlaki, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlak

yang tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang

buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak terpuji) dan tajalli

(terbukanya dinding penghalang (hijab) yang membatasi manusia dengan

Tuhan, sehingga Nur Ilahi tampak jelas padanya.

c. Tasawuf Amali, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan amaliyah

nawafil(amalan sunnah yang dilaksanakan secara berkesinambungan atau

wirid). Untuk melaksanakannya di dalam dunia Islam dikenal dengan

Tarikat.

5. Tujuan Tasawuf

Tujuan Tasawuf adalah untuk terwujudnya Akhlakul Karimah dengan benar

secara lahir dan batin, sehingga dalam hidupnya merasakan terus melihat atau

dilihat oleh Allah SWT. Untuk mencapai ini perlu dilakukan :

 Tazkiyatun Nafs (pembersihan ruhani/ jiwa) melalui jenjang/tahapan.

 Mengamalkan zikrullah melalui metode Thariqatullah.

12

Anda mungkin juga menyukai