Anda di halaman 1dari 42

UJIAN PENELUSURAN PUSTAKA (UPP)

TABLET SULFADIAZIN 500 MG

Disusun

Oleh :

GESSYOLINA MAYASARI
191FF05022

DOSEN PEMBIMBING :
Entris Sutrisno, MH.Kes., Apt

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA

BANDUNG

2019
SULFADIAZIN 500 MG TABLET

BAB I : Tinjauan Umum Senyawa Aktif dan 2Sediaan

1.1 Deskripsi Umum Senyawa Aktif  Farmakope


Sulfadiazin mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari Indonesia Edisi V
102,0% C10H10N402S, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Hal.1228

Gambar I.1 Struktur Kimia Sulfadiazine

Nama Kimia
N1-2-Pirimidinilsulfanilamida [68-35-9] (Hal. 1228)
Rumus Kimia
C10H10N402S
BM
250,28
Pemerian
Serbuk, putih sampai agak kuning; tidak berbau atau hampir tidak
berbau; stabil di udara tetapi pada pemaparan terhadap cahaya perlahan-
lahan menjadi
gelap.
Kelarutan
Praktis tidak larut dalam air; mudah larut dalam asam mineral encer,
dalam larutan kalium hidroksida, dalam larutan natrium hidroksida dan
dalam amonium hidroksida; agak sukar larut dalam etanol; sukar larut
dalam etanol clan dalam aseton; sukar larut dalam serum manusia pada
suhu 37°.
Baku Pembanding
Sulfadiazin BPFI; lakukan pengeringan pada suhu 105° selama 2 jam,
sebelum digunakan. Simpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung
cahaya.
Penetapan kadar
Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi.
Wadah dan penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik, tidak tembus cahaya.
1.2 Definisi Bentuk Sediaan Terkait  Farmakope
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa Indonesia Edisi IV
bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, dapat digolongkan Edisi ketiga, Hal 580
sebagai tablet cetak dan tablet kempa.
Tablet Sulfadiazin mengandung sulfadiazine, kadar sulfadiazin
C10H10N4O2S tidak kurang 95,0% dan tidak lebih 105,0%c dari
jumlah yang tsssertera pada etiket.
Wadah dan Penyimpanan
Dalam wadah tertutup baik, terlindung cahaya.
Waktu Hancur
Tidak lebih dari 30 menit.
1.3 Golongan Obat  Kemenkes RI No.
Tablet sulfadiazine merupakan golongan obat keras. Tanda Khusus 02396/A/SK/Vlll/86
untuk obat keras adalah lingkaran bulat berwarna merah dengan garis
tepi berwarna hitam dengan hurup K yang menyentuh garis tepi”,
1.4 Penandaan Pada Wadah, Leaflet, atau Brosur  Kemenkes RI No.
Adapun penandaannya diatur berdasarkan keputusan Menteri 02396/A/SK/VIII/86
Kesehatan RI No. 02396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus Obat
Keras daftar G (pasal 3) adalah :
1. Lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi berwarna hitam
dengan hurup K yang menyentuh garis tepi.
2. Tanda khusus untuk obat keras dimaksud dalam ayat (1) harus
diletakkan
Sedemikian rupa sehingga jelas terlihat dan mudah dikenali.
3. Ukuran lingkaran tanda khusus dimaksud dalam ayat (1) disesuaikan
dengan ukuran dan desain etiket dan bungkus luar yang bersangkutan
dengan ukuran diameter lingkaran terluar tebal garis tebal dan tebal
huruf K yang proporsional, berturut-turut minimal satu cm,satu mm
dan satu mm.
Penandaan Obat Keras

I.5 Nomor Registrasi (dengan uraian/penjelasan penomoran)  BADAN POM


GKL 1910211910A1 No. 24 Tahun
Keterangan : 2017
G Generik

K Golongan Obat keras

L Asal Obat (Lokal /Indonesia)

19 Tahun daftar obat tahun 2019 : 19

102 Nomor Urut Pabrik

119 Nomor urut obat jadi yang disetujui

10 Bentuk sediaan tablet

A Kekuatan sediaan obat yang bertama (A)

1 Kemasan (1)

No. Batch : 191019


19 Tahun produksi (2019)

10 Kode Bentuk sediaan (tablet)

12 Nomor urut pembuatan (19)


Bab II : Uraian dan Analisis Farmakologi

II.1 Nama Obat dan Sinonim  AHFS, 2011 Drug


Nama Kimia : Information
N1-2-pyrimidinylsulfanilamide Essentials
Golongan Farmakologi :
Antibakteri; sulfonamide kerja menengah
Golongan Kimia :
Golongan Sulfonamide
II.2 Bentuk Senyawa Aktif (Asam, Basa, Garam, Ester, bentuk  Farmakope
pro-drug) Indonesia Edisi IV
Bentuk senyawa aktif yang digunakan pada sediaan sulfadiazine Edisi ketiga, Hal 580
tablet 500 mg adalah sulfadiazin.
II.3 Mekanisme Kerja Obat Dalam Tubuh  Drug Information
Efek Farmakologi Handbook, 2011
Anti Bakteri (Bakteriostatik luas dan kerjanya menengah)

Mekanisme Kerja
Sulfadiazin merupakan golongan sulfonamide yang merupakan anti
bakteri (Bakteriostatik luas dan kerjanya menengah). Golongan
sulfonamide memiliki mekanisme kerja dengan cara membunuh
bakteri atau mengganggu pertumbuhan bakteri dengan meghambat
PABA (p-aminobenzoic) secara kompetitif dimana bakteri
memerlukan PABA (p-aminobenzoic) untuk membentuk asam
folat yang digunakan oleh bakteri untuk sintesis purin dan asam
nukleat.
1.
II.4 Nasib Obat Dalam Tubuh  AHFS, 2011 Drug
Absorpsi Diserap dengan baik melalui Information
saluran pencernaan, biasanya Essentials
3-7 jam untuk mencapai
konsentrasi puncak dalam
plasma.
Distribusi Didistribusikan ke sebagian
besar jaringan tubuh;
melintasi membran sel,
Melintasi plasenta dan juga
ditemukan dalam ASI.

Metabolisme Dimetabolisme dihati,


mengalami asetilasi N4
(hingga 40%)
Eksresi Diekskresikan terutama
dalam urin sebagai obat yang
tidak berubah.

Half Life
Sekitar 7-17 jam.

II.5 Indikasi dan Dasar Pemilihan Obat  AHFS, 2011 Drug


Indikasi : Information
Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri (E.Coli, Essentials
Enterobacter, Staphylococcus aureus, Yersinia pestis Chlamydia,  AHFS, 2018 Drug
trachomatis,Proteus mirabilis / P.vulgaris, Haemophilus ducreyi, Information
Neisseria meningitides) dan juga digunakan sebagai kombinasi Essentials
pengobatan untuk toksoplasmosis dan untuk mencegah
kekambuhan penderita demam rematik.

Dasar Pemilihan Obat :


Dasar pemilihan obat disesuaikan dengan keparahan infeksi,
farmakokinetik sulfadiazin, dan respons serta toleransi pasien.
II.6 Kontra Indikasi dan Alasannya  AHFS, 2011 Drug
1. Penderita yang hipersensitif terhadap sulfonamid atau Information
obat-obatan kimia lainnya (mis., Sulfonilurea, tiazid) Essentials
2. Kehamilan
pada wanita hamil (Kategori C) karena dapat meningkatkan
risiko hiperbilirubinemia neonatal dan kernicterus
3. Laktasi
pada wanita menyusui, didistribusikan ke dalam susu sehingga
dapat menyebabkan kernikterus pada bayi.
4. Penggunaan Pediatrik
Hindari penggunaan pada bayi <2 bulan (kecuali bila dianggap
perlu untuk penggunaan tambahan dengan pirimetamin untuk
pengobatan toksoplasmosis bawaan).
II.7 Dosis (sesuai indikasi) dan Perhitungan  AHFS, 2011 Drug
1. Terapi Pencegahan Kekambuhan Demam Rematik Information
 Bayi dan anak-anak ≥ 2 bulan : Essentials
Oral : BB < 27 kg  500 mg sekali sehari
BB > 27 kg  1 g sekali sehari
 Dewasa :
Oral : BB < 27 kg  500 mg sekali sehari
BB > 27 kg  1 g sekali sehari

2. Toksoplasmosis
 Bayi dan anak-anak ≥ 2 bulan :
Oral  Sulfadiazine 25-50 mg/kg hingga 1-1,5 g (4x/hari) +
Pyrimethamine 2 mg/kg (1x/hari) selama 3 hari, kemudian
berikutnya Pyrimethamine 1 mg/kg (1x/hari) + leucovorin 10 -25
mg (1x/hari)
Durasi : 6 minggu
 Dewasa :
Oral : Pyrimethamine 200 mg
Untuk BB<60 kg : Oral 1 g setiap 6 jam + Pyrimethamine 50 mg
(1x/hari).
Untuk BB ≥60 kg : Oral 1,5 g setiap 6 jam + Pyrimethamine 75
mg (1x/hari).
Tambahan : Oral  Leucovorin 10-20 mg/hari.
Durasi : Minimal 6 minggu
3. Infeksi meningitis Neisseria
 Anak-anak
Oral : Anak-anak usia 2-12 bulan  500 mg sekali sehari selama 2
hari.
Anak-anak usia 1-12 tahun  500 mg dua kali sehari selama 2 hari
 Orang dewasa
Oral : 2-4 g pada awalnya, diikuti oleh 2-4 g dibagi kedalam 3-6
jadwal konsumsi

Batas Peresepan
 Pasien Anak
Oral : Maksimal 6 g setiap hari.
 Populasi Khusus
Tidak ada rekomendasi dosis populasi khusus saat ini.
II.8 Cara Pakai  AHFS, 2011 Drug
Berikan secara oral dengan segelas penuh (250 mL) air dan Information
pertahankan asupan cairan yang memadai selama terapi untuk Essentials
meminimalkan risiko pembentukan Kristal pada urin dan
pembentukan batu ginjal.
II. 9 Efek Samping  AHFS, 2011 Drug
Efek pada saluran pencernaan (sakit perut), anoreksia, mual, Information
muntah, sakit kepala, neuritis perifer, demam, ruam, pankreatitis, Essentials
stomatitis, depresi.
II.10 Toksisitas  AHFS Drugs
Jika kelebihan dosis dapat menyebabkan kematian yang terkait Information, 2018,
dengan reaksi hipersensitivitas sulfonamide telah dilaporkan . Hal.799
Sindrom penyakit serum atau reaksi seperti penyakit serum (misal.
Demam, menggigil, kekakuan, kemerahan, nyeri sendi, erupsi
urtikaria, konjungtivitis, bronkospasme, leukopenia) dilaporkan
dengan sulfonamides. Berbagai reaksi dermatologis, termasuk
ruam, pruritus, urtikaria, eritema nodosum, eritema multiforme
(sindrom Stevens-Johnson) dilaporkan pada pasien yang menerima
sulfonamide.
II.11 Interaksi Obat  AHFS, 2011 Drug
1. Antikoagulan (warfarin, phenytoin dan thiopental) Information
Kategori : Mayor Essentials
Interaksi : Sulfadiazin dapat meningkatkan kadar warfarin,
methoteksat, phenytoin dan thiopental dalam darah.
Penatalaksanaan : Pantau Kadar Normal Trombosit (INR)

2. Antidiabetes (Sulfonilurea) Tolbutamide dan klorpropamida


Kategori : Moderate
Interaksi : Sulfadiazin dapat menyebabkan penurunan kadar
gula dalam darah
Penatalaksanaan : Gunakan dengan hati-hati

3. Metotreksat
Kategori : Moderate
Interaksi : Sulfadiazin dapat meningkatkan kadar metotreksat
dalam darah, sehingga dapat meningkatkan resiko dan
keparahan efek samping seperti muntah,diare, sariawan, bisul,
rambut rontok, masalah hati dan ginjal.
Penatalaksanaan : Gunakan dengan hati-hati
II. 12 Penggunaan Pada Kondisi Khusus
1. Ibu Hamil
pada wanita hamil (Kategori C) karena dapat meningkatkan risiko
hiperbilirubinemia neonatal dan kernicterus
2. Ibu Menyusui
pada wanita menyusui, didistribusikan ke dalam susu sehingga
dapat menyebabkan kernikterus pada bayi.
3. Pediatrik
Hindari penggunaan pada bayi <2 bulan (kecuali bila dianggap
perlu untuk penggunaan tambahan dengan pirimetamin untuk
pengobatan toksoplasmosis bawaan).
4. Geriatrik : Anjuran keamanan penggunaan tidak ada
II.13 Peringatan  AHFS, 2011 Drug
1. Penderita yang hipersensitif Information
terhadap sulfonamid atau obat-obatan terkait kimia lainnya (mis., Essentials
Sulfonilurea, tiazid
2. Reaksi Hipersensitivitas
Kematian yang terkait dengan reaksi hipersensitivitas sulfonamide
telah dilaporkan . Sindrom penyakit serum atau reaksi seperti
penyakit serum (misal. Demam, menggigil, kekakuan, kemerahan,
nyeri sendi, erupsi urtikaria, konjungtivitis, bronkospasme,
leukopenia) dilaporkan dengan sulfonamides. Berbagai reaksi
dermatologis, termasuk ruam, pruritus, urtikaria, eritema nodosum,
eritema multiforme (sindrom Stevens-Johnson), sindrom Lyell
(dapat dikaitkan dengan kerusakan kornea), sindrom Behcet,
nekrolisis epidermal toksik, dan dermatitis eksfoliatif, dilaporkan
pada pasien yang menerima sulfonamide
3. Gangguan ginjal
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi
ginjal (Sulfonamid telah dikaitkan dengan toksisitas ginjal yang
dimanifestasikan oleh kolik ginjal, nefritis, urolitiasis, nefrosis
toksik dengan anuria dan oliguria, hematuria, proteinuria,
kristaluria, pembentukan batu ginjal, dan peningkatan BUN serta
konsentrasi kreatinin serum)
4. Gangguan hati
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi
hati.
5. Gangguan ginjal
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi
ginjal (Sulfonamid telah dikaitkan dengan toksisitas ginjal yang
dimanifestasikan oleh kolik ginjal, nefritis, urolitiasis, nefrosis
toksik dengan anuria dan oliguria, hematuria, proteinuria,
kristaluria, pembentukan batu ginjal, dan peningkatan BUN serta
konsentrasi kreatinin serum)
6. Fotosensitifitas
Kejadian reaksi hipersensitivitas tampaknya meningkat dengan
meningkatnya dosis sulfonamide. Gunakan dengan hati-hati pada
pasien dengan alergi parah atau asma bronkial. Jika reaksi
hipersensitivitas terjadi selama terapi sulfonamid, segera hentikan
obat.
II.14 Cara Penyimpanan  AHFS, 2011 Drug
Wadah tertutup rapat dan ringan pada suhu 20-25˚C. Information
Essentials
II.15 Contoh Sediaan yang Beredar di Pasaran serta  AHFS, 2011 Drug
Kekuatannya : Information
1. Tablet Sulfadiazine 500 mg Essentials
II.16 Analisis Farmakologi  AHFS, 2011 Drug
1. Bentuk Zat Aktif yang digunakan : Information
Bentuk senyawa aktif yang digunakan pada sediaan sulfadiazin Essentials
tablet 500 mg adalah sulfadiazin.
2. Rasionalitas pemilihan bentuk sediaan :  Farmakope
Sediaan tablet sulfadiazine ini digunakan untuk pengobatan yang Indonesia Edisi IV
penggunaanya jangka panjang dan jangka pendek. Untuk terapi Edisi ketiga, Hal 580
pengobatan infeksi meningitis neisseria bentuk sediaan yang akan
digunakan adalah bentuk sediaan tablet.
3. Pemilihan Indikasi :
Sulfadiazin merupakan antibakteri yang memiliki kemampuan
untuk membunuh bakteri atau mengganggu pertumbuhan bakteri
dengan meghambat sintesis asam folat didalam bakteri yang
menyebab bakteri tidak dapat membentuk asam nukleat, DNA dan
RNA.
4. Pemilihan Dosis :
Sulfadiazine dengan kekuatan 500 mg pada umumnya digunakan
untuk pasien bayi & anak-anak 500 -1500 mg/hari, untuk pasien
dewasa 500 – 8000 mg/ hari.
5. Perhitungan dosis :
Infeksi meningitis Neisseria
 Anak-anak
1. Oral : Anak-anak usia 2-12 bulan  500 mg sekali sehari
selama 2 hari.
500 𝑚𝑔
 Pemakaian 1 hari : 𝑥 1 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡 = 1 tablet
500 𝑚𝑔
500 𝑚𝑔
 Pemakaian 2 hari : 𝑥 2 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡 = 2 tablet
500 𝑚𝑔

2. Oral : Anak-anak usia 1-12 tahun  500 mg dua kali sehari


selama 2 hari
500 𝑚𝑔
 Pemakaian 1 hari : 𝑥 2 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡 = 2 tablet
500 𝑚𝑔
500 𝑚𝑔
 Pemakaian 2 hari : 𝑥 4 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡 = 4 tablet
500 𝑚𝑔

 Orang dewasa
Oral : 2 - 4 g pada awalnya, diikuti oleh 2 - 4 g dibagi kedalam
3-6 jadwal konsumsi
2000 𝑚𝑔
 Minimal pemakaian 1 kali : 𝑥 1 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡 = 4 tablet
500 𝑚𝑔
4000 𝑚𝑔
 Maksimal pemakaian 1 hari : 𝑥 1 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑒𝑡 = 8 tablet
500 𝑚𝑔

6. Alasan pemilihan kekuatan sediaan :


Kekuatan sediaan : Tiap tablet mengandung Sulfadiazin 500 mg.
Pemilihan dosis 500 mg dipilih berdasarkan kesesuaian penyakit
(indikasi) yang dipilih dimana terapi pengobatan untuk indikasi
yaitu 500 mg.
7. Lain-lain :
Sulfadiazin merupakan kategori kehamilan C sehingga untuk
kehamilan perlu pertimbangan antara manfaat dan toksisitas yang
dapat ditimbulkan. Sulfadiazine untuk ibu menyusui karena dapat
terdistribusi ke ASI. (AHFS, 2011).

Kesimpulan Analisis Farmakologis


1. Kekuatan sediaan : Sulfadiazin Tablet 500 mg
2. Indikasi : Antibakteri
3. Dosis dan aturan pakai :
Infeksi meningitis Neisseria
 Anak-anak
1. Oral : Anak-anak usia 2-12 bulan  500 mg sekali sehari
selama 2 hari.
2. Anak-anak usia 1-12 tahun  500 mg dua kali sehari selama
2 hari
 Orang dewasa
Oral : 2-4 g pada awalnya, diikuti oleh 2-4 g dibagi kedalam 3-
6 jadwal konsumsi.
BAB III Analisis, Preformulasi, Formulasi, dan Usulan Formula

III. 1 Pendekatan Formulasi (Analisis Pemilihan Zat Aktif dan Eksipien)


A. Bentuk zat aktif yang digunakan dan alasannya
Bentuk senyawa aktif yang digunakan pada tablet sulfadiazine adalah sulfadiazine,
karena sesuai dengan literature. (Farmakope Indonesia Edisi IV Edisi ketiga, Hal 580).
B. Metode pembuatan yang dipilih dan alasan
Metode yang digunakan dalam pembuatan sulfadiazin yaitu metode granulasi basah dimana
sulfadiazine sukar larut dalam air, sukar larut dalam etanol dan dalam aseton. ini
menandakan zat aktif bersifat polimorfisme dan dilihat dari titik leburnya yaitu 255˚C
dimana zat aktif tahan terhadap pemanasan atau tahan terhadap suhu tinggi yang
menandakan zat cenderung lebih stabil dan kompresibilitas tinggi.
C. Eksipien yang digunakan serta alasan pemilihan eksipien dan konsetrasi yang
digunakan (harus dalam rentang dosis yang diperbolehkan di pustaka sesuai dengan
fungsinya)
1. Croscarmellose Sodium (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th ed, 2009, Hal.
206 - 208)
 Pemerian
Natrium croscarmellose merupakan bubuk putih tidak berbau, atau putih keabu-abuan.
 Kelarutan
Tidak larut dalam air, meskipun natrium croscarmellose cepat memgembang menjadi 4
- 8 kali volume aslinya saat bersentuhan dengan air. Praktis tidak larut dalam aseton,
etanol, dan toluena.
 Stabilitas
Natrium croscarmellose adalah bahan yang stabil meskipun higroskopis. Formulasi
tablet model yang dibuat dengan kompresi langsung, dengan natrium croscarmellose
sebagai disintegrasi. Natrium croscarmellose harus disimpan dalam wadah yang tertutup
rapat di tempat yang sejuk dan kering.
 Inkompatibilitas
Sodium croscarmellose tidak kompatibel dengan asam kuat atau dengan garam besi yang
larut dan beberapa logam lain seperti aluminium, merkuri, dan seng.
 Fungsi dan konsentrasi yang dibutuhkan
Disintegrasi (Penghancur) Tablet dan kapsul.
- Disintegrasi dalam kapsul : 10–25%
- Disintegrant dalam tablet : 0,5–5,05%
2. Starch, Pregelatinized (Amylum pregelificatum) (Handbook of Pharmaceutical
Excipient 6 th ed, 1994,hal 691-694)
 Pemerian
Starch Pregelatinized merupakan serbuk yang agak kasar hingga halus, yang berwarna
putih, tidak memiliki baud an tidak memiliki rasa yang khas.
 Kelarutan
Kelarutan Praktis tidak larut dalam pelarut organik. Sedikit larut hingga larut dalam air
dingin, tergantung pada tingkat pregelatinisasi. Pasta dapat disiapkan dengan
mengayak pati yang sudah pregelatinisasi ke dalam air dingin yang diaduk. Zat yang
larut dalam air dingin untuk pati yang pregelatinisasi sebagian adalah 10-20%.
 Stabilitas
Starch pregelatinized adalah bahan yang stabil namun higroskopis, yang harus
disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat yang sejuk dan kering.
 Fungsi dan konsentrasi yang dibutuhkan
formulasi tablet sebagai pengikat, pengencer, dan disintegrant :
- Tablet pengikat (granulasi basah) : 5-10 %
- Tablet disintegrant : 5-10 %
3. Cellulose Microcrystalline (Avicel) (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6th ed,
Tahun 2009, hal 252-261)
 Pemerian
Selulosa mikrokristalin adalah selulosa yang dimurnikan dan sebagian dimolimerisasi
yang terjadi sebagai serbuk kristal putih, tidak berbau dan tidak berasa, yang terdiri dari
partikel-partikel berpori. Ini tersedia secara komersial dalam berbagai ukuran partikel
dan kadar air yang memiliki sifat dan aplikasi yang berbeda
 Kelarutan
Sedikit larut dalam 5% b/v larutan natrium hidroksida; praktis tidak larut dalam air, asam
encer, dan sebagian besar pelarut organik.
 Inkompatibilitas
Selulosa mikrokristalin tidak sesuai dengan oksidator (pengoksidasi) kuat.
 Stabilitas
Selulosa mikrokristalin adalah bahan higroskopis yang stabil. Bahan curah harus
disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat yang sejuk dan kering.
 Fungsi dan konsentrasi yang dibutuhkan
Adsorben 20-90% ; diluent/ binder 20-90% ; disintegran 5-15%.
4. Talcum ( Talk ) (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6 th ed, 1994, hal.728-730)
 Pemerian
serbuk putih yang sangat halus, putih keabu-abuan, tidak berbau, dan berkilau. Mudah
menempel ke kulit dan lembut untuk disentuh dan bebas dari grittiness.

 Kelarutan
Praktis tidak larut dalam asam encer dan alkali, pelarut organik, dan air.
 Inkompatibilitas

Tidak kompatibel dengan senyawa amonium kuaterner

 Stabilitas
bahan stabil dan dapat disterilkan dengan pemanasan pada 160oC selama tidak kurang
dari 1 jam. Ini juga dapat disterilisasi dengan paparan etilena oksida atau iradiasi sinar
gamma. talk harus disimpan dalam wadah tertutup di tempat yang sejuk dan kering.
 Fungsi dan konsentrasi yang dibutuhkan
Digunakan pada sediaan oral padat sebagai lubrikan dan pengisi.

- Glidan dan lubrikan tablet : 1-10%


- Pengisi tablet dan kapsul : 5-30%
5. Magnesium Stearat (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th ed, 2009, hal. 404 -
406)
 Pemerian
Magnesium stearat adalah serbuk yang sangat halus, berwarna putih, diendapkan atau
digiling, tidak dapat dipalsukan dengan kerapatan curah rendah, memiliki bau samar
asam stearat dan rasa yang khas. Bubuk berminyak untuk disentuh dan mudah melekat
pada kulit.
 Kelarutan
Praktis tidak larut dalam etanol, etanol (95%), eter dan air; sedikit larut dalam benzena
hangat dan etanol hangat (95%).
 Inkompatibilitas
Tidak cocok dengan asam kuat, alkali, dan garam besi. Hindari pencampuran dengan
bahan pengoksidasi yang kuat. Magnesium stearat tidak dapat digunakan dalam produk
yang mengandung aspirin, beberapa vitamin, dan sebagian besar garam alkaloid.
 Stabilitas
Magnesium stearat stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup baik di tempat yang
sejuk dan kering.
 Fungsi dan konsentrasi yang dibutuhkan

Digunakan untuk kosmetik, makanan, dan formulasi obat. Biasanya digunakan sebagai
lubrikan pada pembuatan kapsul dan tablet dengan jumlah antara 0,25 – 5,0 %.
6. Sodium Starch Glycolate (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th ed, 2009, Hal.663
- 666)
 Pemerian
Serbuk putih atau hampir putih yang mengalir sangat bebas, serbuk higroskopis,
mengembang cukup besar jika kontak dengan air.
 Kelarutan
Praktis tidak larut dalam metilen klorida. Ini menandakan suspense transparan dalam air.
 Inkompatibilitas
Sodium starch glycolate tidak kompatibel dengan asam askorbat.
 Stabilitas
Sodium starch glycolate stabil meskipun sangat higroskopis, dan harus disimpan dalam
wadah tertutup rapat untuk melindunginya dari berbagai macam kelembaban dan suhu
yang dapat menyebabkan caking. Sifat fisik dari sodium starch glycolate tetap sama tidak
ada perubahan hingga 3tahun jika disimpan pada suhu dan kelembaban sedang.
 Fungsi dan konsentrasi yang dibutuhkan

Sodium starch glycolate banyak digunakan dalam formulasi kapsul dan tablet. Yaitu biasa
digunakan dengan metode kempa langsung dan granulasi basah. Pada formulasi sebagai
desintegran antara 2-8%, dengan konsentrasi optimal sebesar 2%, walaupun dalam
banyak kasus 2% adalah cukup. Disintegrasi terjadi karena penyerapan air yang cepat
pengembangan yang cepat.

7. Povidone (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th ed, 2009, Hal.581-585)


 Pemerian
Povidone ditemukan dengan warna halus, putih ke putih krem, tidak berbau atau hampir
tidak berbau, serbuk higroskopis.
 Kelarutan
Mudah larut dalam asam, kloroform, etanol 95%, keton, methanol, dan air. Praktis tidak
larut dalam eter, hidrokarbon, dan minyak mineral.
 Inkompatibilitas
Povidone kompatibel dalam berbagai macam larutan anorganik garam, resin alami dan
sintetis, dan bahan kimia lainnya. Terbentuk molekul dalam larutan dengan
sulfathiazole, natrium salisilat, asam salisilat, fenobarbital, tannin dan senyawa lainnya.
 Stabilitas
Povidone menjadi gelap pada batas tertentu yaitu pemanasan pada 508˚C, bersama
dengan penurunan kelarutan dalam air. Stabil pada siklus pendek panas sekitar 110-
1308˚C. rentan terhadap pertumbuhan jamur dan akibatnya membutuhkan penambahan
pengawet yang cocok. Povidone dapat disimpan dalam kondisi biasa tanpa mengalami
dekomposisi atau degradasi. Namun karena serbuk bersifat higroskopis, harus disimpan
dalam tertutup rapat, ditempat sejuk dan kering.
 Fungsi dan konsentrasi yang dibutuhkan
Disintegran, peningkat disolusi, suspending agent, tablet binder.
8. Sodium Benzoat (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th ed, 2009, Hal.627 - 629)
 Pemerian
Sodium benzoate merupakan bubuk granular yang berwarna putih atau kristal, sedikit
higroskopik. Tidak berbau, atau dengan sedikit aroma benzoin dan memiliki rasa manis
dan asin yang tidak menyenangkan.
 Stabilitas
Larutan berair dapat disterilkan dengan autoklaf atau filtrasi.
 Kelarutan
Pelarut Kelarutan pada suhu 20°C kecuali dinyatakan lain

Etanol 95 % 1 dalam 75
Etanol 90 % 1 dalam 50
Air 1 dalam 1,8
1 dalam 1.4 pada suhu 100°C
 Fungsi dan konsentrasi yang dibutuhkan
Pengawet antimikroba; tablet dan pelumas kapsul.
 Inkompatibilitas
Tidak cocok dengan senyawa kuaterner, gelatin, garam besi, garam kalsium, dan garam
logam berat, termasuk perak, timah, dan merkuri. Aktivitas pengawet dapat dikurangi
dengan interaksi dengan kaolin atau surfaktan nonionik.
9. Alkohol (Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th ed, 2009, Hal.17-19)
 Pemerian
Alkohol adalah cairan bening, tidak berwarna, mudah bergerak, dan mudah menguap
dengan sedikit, bau khas dan rasa terbakar.
 Kelarutan
Larut dalam kloroform, eter, gliserin, dan air (dengan kenaikan suhu dan kontraksi
volume).
 Inkompatibilitas
Dalam kondisi asam, larutan etanol dapat bereaksi kuat dengan material pengoksidasi.
Campuran dengan alkali dapat berwarna lebih gelap karena reaksi dengan jumlah residu
aldehida
 Stabilitas
Larutan etanol dapat disterilkan dengan cara autoklaf atau dengan filtrasi dan harus
disimpan dalam wadah kedap udara, ditempat dingin.
 Fungsi
Pengawet antimikroba, desinfektan, penetran kulit, pelarut.
 Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal
Etanol banyak digunakan dalam formulasi dan kosmetik. Meskipun etanol digunakan
sebagai pelarut, ia juga sebagai desinfektan, dan dalam larutan sebagai pengawet
antimikroba.
III.2 Kesimpulan Formula Utama dan Alternatif
 Kesimpulan berisi :
Sediaan yang akan dibuat : Sulfadiazine Tablet
Kekuatan sediaan : 500 mg
Bobot tiap tablet : 650 mg
Penggunaan : Untuk dewasa dan anak-anak

 Formula utama (komposisi untuk satu tablet)


Nama Bahan Konsentrasi/Tablet Fungsi
Sulfadiazine 500 mg Zat Aktif
Talkum 15% Pengisi
Sodium Starch Glycolate 3% Disintegrant
Starch Pregelatinized 7% Pengikat
Magnesium Stearat 3% Lubrikan
Alkohol Qs Pengawet antimikroba, pelarut

 Formula Alternatif (komposisi untuk satu tablet)


Nama Bahan Konsentrasi/Tablet Fungsi
Sulfadiazine 500 mg Zat Aktif
Microcrystalline Cellulose (Avicel PH 101) 7% Pengisi
Croscarmellose Sodium 2,5% Disintegrant
Povidone 3% Pengikat
Starch Pregelatinized 3% Lubrikan
Sodium Benzoat Qs Pengawet
IV. Pembuatan & Evaluasi Farmasetik Sediaan Akhir

IV. 1 Metode Pembuatan Sediaan


Metode yang digunakan dalam pembuatan sulfadiazin yaitu metode granulasi basah dimana
sulfadiazine sukar larut dalam air, sukar larut dalam etanol dan dalam aseton. ini menandakan zat
aktif bersifat polimorfisme dan dilihat dari titik leburnya yaitu 255˚C dimana zat aktif tahan
terhadap pemanasan atau tahan terhadap suhu tinggi yang menandakan zat cenderung lebih stabil
dan kompresibilitas tinggi.
IV. 2 Perhitungan dan Penimbangan Bahan
 Sediaan yang akan dibuat : Tablet Sulfadiazine
 Bahan aktif tablet : Sulfadiazine 500 mg
 Bobot tablet : 500 mg
 Formula dan perhitungan dibuat untuk 1000 tablet
1. Sulfadiazine = 10/100 x 500 mg = 5 mg
2. Talkum = 15/100 x 500 mg = 75 mg
3. Sodium Starch Glycolate = 3/100 x 500 mg = 15 mg
4. Starch Pregelatinized = 7/100 x 500 mg = 35 mg
5. Magnesium Stearat = 3/100 x 500 mg = 15 mg
6. Alkohol = Qs
Jumlah sediaan yang akan dibuat untuk produksi dan yang akan digunakan/diperlukan untuk IPC
dan evaluasi mutu sediaan akhir adalah :
No. Evaluasi Jumlah Tablet
1. Uji Keseragaman ukuran 10 Tablet
2. Uji Keseragaman bobot 20 Tablet
3. Uji Keseragaman kandungan 10 Tablet
4. Uji kekerasan tablet 10 Tablet
5. Uji Kerapuhan tablet 10 Tablet
6. Uji waktu hancur tablet 24 Tablet
7. Uji disolusi tablet 24 Tablet
- Jumlah untuk uji evaluasi : 108 tablet
- Jumlah tablet yang dibuat : 1000 tablet
- Jadi tablet yang dibuat : 1000 + 108 = 1108 tablet
Dilebihkan 10% dari jumlah yang dibuat : 1108 x 10% = 1220 tablet
Nama Bahan Skala / Perhitungan (mg) Penimbangan
Tablet (9ram/1220 tablet)
Sulfadiazine 5 mg 5 mg x 1220 tablet = 6100 mg 6,1 gram
Talkum 75 mg 75 mg x 1220 tablet = 91500 mg 91,5 gram
Sodium Starch Glycolate 15 mg 15 mg x 1220 tablet = 18300 mg 18,3 gram
Starch Pregelatinized 35 mg 35 mg x 1220 tablet = 42700 mg 42,7 gram
Magnesium Stearat 15 mg 15 mg x 1220 tablet = 18300 mg 18,3 gram
Alkohol Qs Qs Qs

IV. 3 Prosedur Pembuatan Sediaan


1. Siapkan alat yang dibutuhkan
2. Proses milling
a. Haluskan bahan yang akan digunakan
b. Timbang bahan aktif dan dan tambahan fase dalam yaitu :
Sulfadiazine 500 mg
Laktosa
Microcrystalline Cellulose (Avicel PH 101)
Sodium Starch Glycolate (Pimogel)
3. Proses mixing
a. Siapkan wadah mixing
b. Campurkan semua bahan fase dalam lalu basahi dengan etanol (jika ingin
ditambahkan pewarna, masukka pada proses ini)
1. Proses Granulasi
Serbuk yang telah melalui proses mixing ditambahkan larutan pengikat sedikit demi
sedikit sambil diaduk perlahan sampai larutan pengikat habis
Ukur kelembaban serbuk jika belum sesuai tambahkan aquadest sampai kelembaban yang
diinginkan, lakukan granulasi sampai serbuk habis.
2. Ayak dengan mesh 32 dan 24
3. Evaluasi granulasi
4. Tambahkan fase luar yaitu :
Povidone 12 gram
Magnesium Stearat 4 gram
5. Cetak tablet
6. Lakukan evaluasi terhadap tablet yang telah dicetak (penampilan, keseragaman ukuran,
keseragaman bobot, kekerasan tablet, friabilitas, uji waktu hancur tablet).
IV. 4 Pengawasan dalam Proses (IPC)

Kontrol kualitas pada pembuatan sediaan tablet dapat dilakukan selama proses pembuatan obat
(IPC= in process control), dilakukan untuk menjamin bahwa proses yang sedang berlangsung
dapat menghasilkan tablet dengan spesifikasi yang ditetapkan, jika terjadi ketidaksesuaian hasil
dapat segera diatasi. Selain itu kontrol kualitas juga dilakukan setelah produksi berlangsung (final
control), dilakukan sebagai kontrol terakhir terhadap kualitas tablet yang dihasilkan sebelum
diedarkan dipasaran, sehingga konsumen akan mendapatkan produk yang bermutu sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditetapkan.
A. Sudut diam
Sudut Diam yaitu sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel berbentuk kerucut dengan
bidang horizontal, jika sejumlah serbuk atau granul dituang kedalam alat pengukur. Besar kecilnya
sudut diam dipengaruhi oleh bentuk, ukuran partikel, dan kelembaban granul. Granul akan
mengalir dengan baik apabila mempunyai sudut diam antara 25° sampai 45°
Rumus sudut diam adalah tan α = h/r
Dimana h adalah tinggi granul, dan r adalah jari jari lingakaran, α adalah sudut istirahat (Lachman
dkk, 1994; Voight, 1995)
B. Kecepatan alir
1. Uji Sifat Alir (Lachman L., 2008)
Uji sifat alir terdapat dua metode untuk mengujinya yang perrtama dengan metode corong dan
yang kedua yaitu metode sudut istirahat. Prinsip dari metode sudut istirahat ini yaitu pengukuran
sudut yang terbentuk dari lereng tumbuhan granul yang mengalir bebas dari corong terhadap suau
bidang datar.
Alat : corong alat uji waktu alir
Waktu alir adalah waktu yang diperlukan untuk mengalir dari sejumlah granul melalui lubang
corong yang diukur adalah sejumlah zat yang mengalir dalam suatu waktu tertentu. Untuk 100 g
granul waktu alirnya tidak boleh kurang dari 10 detik.

2. Bj Nyata dan Bj Mampat


BJ Nyata
ρ = W/V

BJ Mampat
𝑊
ρ = 𝑉𝑛

Dimana :
W = Bobot granul
V = Volume granul tanpa pemampatan (Lachman dkk, 1994; Voight, 1995)
C. Kompresibilitas
a. Timbang 100 gram granul ke dalam gelas ukur dan dicatat volumenya
b. Kemudian granul dimampatkan sebanyak 500 kali ketukan dengan alat uji, catat volume uji
sebelum dimampatkan (V0)
c. Volume setelah dimampatkan dengan pengetukan 500 kali (V1)
Perhitungan :
Vo − V500
𝐼= 𝑥 100
𝑉𝑜
Keterangan :
I = Indeks kompresibilitas (%)
V0 = Volume granul sebelum dimampatkan sebanyak 500 kali ketuk (mL)
V500 = Volume granunl setelah dimampatkan sebanyak 500 kali ketuk (mL).
Persyaratan : Tidak lebih dari 20% (Lachman dkk, 1994; Voight, 1995)

IV. 5 Uji Mutu Farmasetik Sediaan Akhir (disesuaikan dengan Pustaka)


A. Uji organoleptik
Penampilan umum suatu tablet sangat penting bagi penerimaan konsumen, bagi pengontrolan
keseragaman antar bahan serta antar tablet yang satu dengan yang lainnya. Pengontrolan
penampilan umum tablet melibatkan pengukuran sejumlah perlengkapan seperti bentuk, warna,
bau, rasa dan bentuk permukaan cacat atau tidak dan harus bebas dari noda atau bintik-bintik.
B. Keseragaman Ukuran (FI Edisi III hal 6).
Dilakukan pengukuran diameter dan tebal tablet menggunakan jangka sorong. Dimana hasil dari
diameter tablet tidak boleh lebih dari 3 kali tebal tablet dan tidak boleh kurang dari 1 1/3 tebal
tablet.
C. Keseragaman Bobot (FI edisi III) dan Keseragaman sediaan (FI edisi IV)
1. Keseragaman Bobot
Keseragaman bobot ditetapkan sebagai berikut (FI ed. III):
 Ditimbang 20 tablet dan dihitung bobot rata-rata tiap tablet
 Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang menyimpang dari bobot rata-
rata lebih besar dari harga yang ditetapkan pada kolom “A” dan tidak boleh ada satu tablet pun
yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari harga dalam kolom “B”.
 Jika perlu dapat diulang dengan 10 tablet dan tidak boleh ada satu tablet pun yang bobotnya
menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan dalam kolom “A” maupun kolom
“B”.

Penyimpangan Bobot Rata – Rata (%)


Bobot Rata – Rata (mg)

A B

<25 15 % 30 %

26-150 10 % 20 %

151-300 7,5 % 15 %

>300 5% 10 %

Persyaratan :
A= Bobot rata – rata + ( 5% rata – rata) = batas atas
B = Bobot rata – rata – (10% rata – rata) = batas bawah
2. Keseragaman sediaan
Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan salah satu dari dua metode, yaitu keragaman bobot
atau keseragaman kandungan. Persyaratan keseragaman bobot dilakukan terhadap tablet yang
mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan 50% atau lebih dari bobot satuan sediaan.
Keseragaman bobot bukan merupakan indikasi yang cukup dari keseragaman kandungan jika zat
aktif merupakan bagian kecil dari tablet atau jika tablet ber salut gula.
Oleh karena itu, umumnya farmakope mensyaratkan tablet bersalut dan tablet yang mengandung
zat aktif 50 mg atau kurang dan bobot zat aktif lebih kecil dari 50% bobot sediaan, harus memenuhi
syarat uji keseragaman kandungan yang pengujiannya dilakukan pada tiap tablet. (FI ed. IV)

3. Waktu Hancur dan Disolusi (FI ed. III dan FI ed. IV)
Alat untuk menguji waktu hancur adalah Desintegration Tester. Cara kerjanya:
Memasukkan 5 tablet (menurut FI ed. III) atau 6 tablet (menurut FI ed. IV) ke dalam keranjang,
turun-naikkan keranjang secara teratur 30 kali tiap menit. Tablet dinyatakan hancur jika tidak ada
bagian tablet yang tertinggal diatas kasa, kecuali fragmen berasal dari zat penyalut. Kecuali
dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk menghancurkan kelima tablet tidak lebih dari 15
menit untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut gula dan
bersalut selaput. Jika tablet tidak memenuhi syarat ini, ulangi pengujian menggunakan tablet satu
persatu, kemudian ulangi menggunakan 5 tablet dengan cakram penuntun. Dengan pengujian ini
tablet harus memenuhi syarat diatas.

4. Disolusi
Uji ini digunakan untuk menentukan kesesuaian dengan persyaratan disolusi yang tertera dalam
masinig-masing monografi untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali dinyatakan bahwa tablet harus
dikunyah. Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul gelatin lunak kecuali bila dinyatakan
dalam masing-masing monografi.
Uji disolusi pada tablet aciclovir dilakukan dengan menggunakan peralatan disolusi standar USP
pada suhu 37 ± 0,5ºC, apparatus (keranjang) dengan medium 900 ml dan putaran 50 rpm. Media
yang digunakan awalnya 0,1 N HCl hingga 2 jam, kemudian dilanjutkan dengan dapar dengan pH
6,8. Dan akhirnya didapatkan eliqueot diperiksa dengan spektrofotometer UV pada 248 nm.
Interpretasi kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, persyaratan dipenuhi bila
jumlah zat aktif yang terlarut dari sediaan yang diuji sesuai dengan tabel penerimaan. Lanjutkan
pengujian sanpai tiga tahap kecuali bila hasil pengujian memenuhi tahap S1 atau S2. Harga Q
adalah jumlah zat aktif yang terlarut seperti yang tertera dalam masing-masing monografi (Depkes
RI, 1995).
Penerimaan Uji Disolusi
Jumlah yang
Tahap Kriteria Penerimaan
diuji

S1 6 Tiap unit sediaan tidak kurang dari Q + 5%

Rata-rata dari 12 unit (S1+S2) adalah sama dengan atau


S2 6 lebih besar dari Q dan tidak satu unit sediaan yang lebih
kecil dari Q-15%
Rata-rata dari 24 unit (S1+S2+S3) adalah sama dengan
S3 12 atau lebih besar dari 2 unit sediaan yg lebih kecil dari Q-
15% dan tidak satu unit pun yang lebih kecil dari Q-25%

5. Kekerasan Tablet (FI ed. III)


Sebanyak 20 tablet diuji kekerasannya satu persatu menggunakan alat penguji kekerasan yaitu
Stokes Monshato Hardness Tester, dengan cara tablet dimasukkan ke dalam ujung alat secara
vertical, kemudian putar sekrup pada ujung yang lain sehingga tablet tertekan. Lalu pemutaran
dihentikan sampai tablet pecah.
Bobot < 300 mg = 4-7 kg/cm3 (Newton)

Bobot 400 – 700 mg = 5-12 kg/cm3

6. Keregasan Tablet (Friability)


Friability adalah persen bobot yang hilang setelah tablet diguncang. Penentuan keregasan atau
kerapuhan tablet dilakukan terutama pada waktu tablet akan dilapis (coating). Alat yang digunakan
disebut Friability tester.
Caranya:
 Bersihkan 20 tablet dari debu, kemudian ditimbang (W1 gram)
 Masukkan tablet ke dalam alat
 Putar alat tersebut selama 4 menit (kecepatan 20 rpm)
 Keluarkan tablet, bersihkan dari debu, dan ditimbang (W2 gram)
 Kerapuhan tablet yang didapat adalah W1 - W2 / W1 x 100%
Batas kerapuhan yang diperbolehkan maksimal 1% (USP 32,2009)
IV. 6 Pengemasan Sediaan Jadi

Kemasan primer : Tablet dg kemasan blister, 10 tablet


Kemasan Sekunder : Box
V. Analisis Masalah dan Penyelesaiannya yang Berkaitan dengan Pengujian Mutu serta
Usulan Teknik Metode Analisis yang Digunakan

V.1 Gugus Fungsi, Jenis ikatan, Rangka Molekul dan Ion yang dapat
Digunakan sebagai Dasar untuk Analisis

4 5
1 7
V.1.1 Gugus Fungsi
1. Amida

2. Amina Sekunder

3. Keton

4. Eter

5. Etil Alkohol
CH2˗CH2-OH

V.1.2 Jenis Ikatan


Ikatan rangkap terkonjugasi

V.1.3 Rangka Molekul dan Ion yang dapat Digunakan sebagai Dasar
untuk Analisis

Semua bagian dari struktur bisa digunakan sebagai dasar analisis


V. 2 Data Spektrofotometri (UV, IR)

Spektrum Infra Merah. Puncak-puncak pada bilangan gelombang 1717,


1632, 1485, 1104, cm-1 (Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons, 3rd
Edition).
Gambar 5.1 Data Spektrofotometri Asiklovir (Dibbern et al,.2002
Hal. 149)
Spektrum Massa. Puncak-puncak pada m / z 151 164, 45, 43, 165, 109,
110, 108 (Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons, 3rd Edition).

Gambar 5.2 Spektrum Ultraviolet. Asam encer (0,2 M H2SO4) —255


nm: dasar — 261 nm (Clarke's Analysis of Drugs and Poisons, Third
Edition)
V.3 Stabilitas dan Kemurnian  Farmakope
1. Stabilitas Indonesia
Asiklovir menunjukkan stabilitas yang lebih besar dalam larutan Edisi V, 2014
alkalin dari pada dalam larutan asam. Hal. 173
2. Kemurnian  Clarke’s
Asiklovir mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari Analysis of
101,0%, C8H11N5O3, dihitung terhadap zat anhidrat. Drugs and
Poisons, 3rd
Edition
V.4 Metode-metode Analisis yang Diusulkan dalam Pengujian Mutu  Farmakope
Bahan Baku dan Sediaan Indonesia
Metode analis dan Asiklovir dan Tablet Asiklovir Edisi V, 2014
1. Quantitative Analysis Identification Hal. 173-176
- Colorimetric
- Fluorimetric
2. Specthrophotometric
- Infra Red
- Spektrofotometri massa
3. Chromatographic
- KLT
- KCKT
V.5 Preparasi (penyiapan) Sampel Penetapan Kadar  Farmakope
Penetapan kadar dan batas guanin Indonesia
Lakukan penetapan dengan cara Kromatografi cair kinerja tinggi seperti Edisi V, 2014
tertera pada Kromatografi. Hal. 173
Fase gerak : Buat larutan asam asetat glasial P dalam air (1 dalam 1000)
saring dan awaudarakan. Jika perlu lakukan penyesuaian menurut
Kesesuaian sistem seperti tertera pada Kromatografi.
Larutan baku guanin : Timbang saksama lebih kurang 8,75 mg guanin,
masukkan ke dalam labu tentukur 500-ml, larutkan dalam 50 ml natrium
hidroksida 0,1 N, encerkan dengan air sampai tanda.

Larutan baku : Timbang saksama lebih kurang 25 mg Asiklovir BPFI,


masukkan ke dalam labu tentukur 50-ml, larutkan dalam 5 ml natrium
hidroksida 0,1 N, encerkan dengan air sampai tanda. Pipet 10 ml larutan ini
dan 2 ml Larutan baku guanin ke dalam labu tentukur 50-ml, encerkan
dengan natrium hidroksida 0,01 N sampai tanda, campur hingga diperoleh
larutan yang mengandung asiklovir 0,1 mg per ml dan guanin 0,7 μg per
ml.

Larutan uji : Timbang saksama lebih kurang 100 mg zat, masukkan ke


dalam labu tentukur 200-ml, larutkan dalam 20 ml natrium hidroksida 0,1
N, encerkan dengan
air sampai tanda. Pipet 10 ml larutan ini ke dalam labu tentukur 50-ml,
encerkan dengan natrium hidroksida 0,01 N sampai tanda.

Sistem kromatografi Lakukan seperti tertera pada Kromatografi <931>.


Kromatograf cair kinerja tinggi dilengkapi dengan detektor 254 nm dan
kolom 4,2 mm x 30 cm berisi pengisi L1. Laju alir lebih kurang 3 ml per
menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam kromatogram
dan ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara
puncak asiklovir dan guanin tidak kurang dari 2,0; faktor ikutan untuk
puncak analit tidak lebih dari 2 dan simpangan
baku relatif pada penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%.

Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang


20 μl) Larutan baku, Larutan baku guanin dan Larutan uji ke dalam
kromatograf, ukur respons puncak. Hitung jumlah dalam μg guanin,
dengan rumus:
C adalah kadar guanin dalam μg per ml Larutan baku guanin; rU dan rS
berturut-turut adalah respons puncak guanin dalam Larutan uji dan Larutan
baku guanin: kandungan guanin tidak lebih dari 0,7%. Hitung jumlah,
dalam mg asiklovir, C8H11N5O3, dengan rumus:

C adalah kadar Asiklovir BPFI dalam mg per ml Larutan baku; rU dan rS


berturut-turut adalah respons puncak asiklovir dalam Larutan uji dan
Larutan baku.
V.6 Masalah Analisis yang Disebabkan Kadar dan Matriks dalam
Sampel
Adapun masalah yang sering terjadi yaitu terdapat pada preparasi sampel
kurang teliti, data akurasi dan presisi kurang teliti serta dipengaruhi oleh
zat tambahan atau eksipien lain yang terkandung dalam sampel.
V. 7 Usulan (secara singkat) Pengujian Mutu Bahan Baku & Sediaan  Farmakope
(metode utama & alternatif) Indonesia
 Analisa Kualitatif Edisi V, 2014
Metode Utama Hal. 173-176
- Menggunakan Spektrum Serapan Infra Merah
Spektrum inframerah zat yang didispersikan dalam kalium bromida
P menunjukkan maksimum hanya pada panjang gelombang yang
sama seperti pada Asiklovir BPFI.
Metode Alternative
- Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
Waktu retensi puncak utama pada kromatogram Larutan uji sesuai
dengan Larutan baku yang diperoleh pada Penetapan kadar.
 Analisa Kuantitatif
Metode Utama
- Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
o Fase gerak yang digunakan adalah campuran kloroform P-metanol
P-amonium hidroksida P Larutan baku yang digunakan Asiklovir
BPFI
o Caranya dengan menyuntikkan secara terpisah masing-masing
sejumlah volume sama (lebih kurang 20 μl) Larutan baku guanin dan
Larutan uji, ke dalam kromatograf, rekam kromatogram dan ukur
respons puncak utama. Waktu retensi puncak utama pada
kromatogram Larutan uji sesuai dengan waktu retensi puncak utama
pada kromatogram Larutan baku yang diperoleh pada Penetapan
kadar
Metode alternatif
- Titrasi Kolorimetri

VI. Wadah dan Informasi Obat

a. Nama Obat
Sulfadiazine 500 mg Tablet
b. Uraian Kerja Farmol
Sulfadiazin merupakan golongan sulfonamide yang merupakan anti bakteri (Bakteriostatik
luas dan kerjanya menengah). Golongan sulfonamide memiliki mekanisme kerja dengan
cara membunuh bakteri atau mengganggu pertumbuhan bakteri dengan meghambat PABA
(p-aminobenzoic) secara kompetitif dimana bakteri memerlukan PABA (p-aminobenzoic)
untuk membentuk asam folat yang digunakan oleh bakteri untuk sintesis purin dan asam
nukleat.
c. Indikasi
Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri (E.Coli, Enterobacter, Staphylococcus
aureus,Chlamydia trachomatis,Proteus mirabilis/P.vulgaris, Haemophilus ducreyi,
Neisseria meningitides,Yersinia pestis) dan juga digunakan sebagai kombinasi pengobatan
untuk toksoplasmosis dan untuk mencegah kekambuhan penderita demam rematik.
d. Kontra Indikasi
 Penderita yang hipersensitif terhadap sulfonamid atau obat-obatan kimia lainnya (mis.,
Sulfonilurea, tiazid)
 Kehamilan
Pada wanita hamil (Kategori C) karena dapat meningkatkan risiko hiperbilirubinemia
neonatal dan kernicterus
 Laktasi
pada wanita menyusui, didistribusikan ke dalam susu sehingga dapat menyebabkan
kernikterus pada bayi.
 Penggunaan Pediatrik
Hindari penggunaan pada bayi <2 bulan (kecuali bila dianggap perlu untuk penggunaan
tambahan dengan pirimetamin untuk pengobatan toksoplasmosis bawaan).
e. Efek Samping
Efek pada saluran pencernaan (sakit perut), anoreksia, mual, muntah, sakit kepala, neuritis
perifer, demam, ruam, pankreatitis, stomatitis, depresi.
f. Bentuk Sediaan
Tablet
g. Kandungan Obat
1 tablet Sulfadiazine mengandung 500 mg
h. Dosis dan Pemberian
Terapi Pencegahan Kekambuhan Demam Rematik
 Bayi dan anak-anak ≥ 2 bulan :
Oral : BB < 27 kg  500 mg sekali sehari
BB > 27 kg  1 g sekali sehari
 Dewasa :
Oral : BB < 27 kg  500 mg sekali sehari
BB > 27 kg  1 g sekali sehari
Toksoplasmosis
 Bayi dan anak-anak ≥ 2 bulan :
Oral  Sulfadiazine 25-50 mg/kg hingga 1-1,5 g (4x/hari) +
Pyrimethamine 2 mg/kg (1x/hari) selama 3 hari, kemudian berikutnya Pyrimethamine 1 mg/kg
(1x/hari) + leucovorin 10 -25 mg (1x/hari)
Durasi : 6 minggu
 Dewasa :
Oral : Pyrimethamine 200 mg
Untuk BB<60 kg : Oral 1 g setiap 6 jam + Pyrimethamine 50 mg (1x/hari).
Untuk BB ≥60 kg : Oral 1,5 g setiap 6 jam + Pyrimethamine 75 mg (1x/hari).
Tambahan : Oral  Leucovorin 10-20 mg/hari.
Durasi : Minimal 6 minggu
Infeksi meningitis Neisseria
 Anak-anak
Oral : Anak-anak usia 2-12 bulan  500 mg sekali sehari selama 2 hari.
Anak-anak usia 1-12 tahun  500 mg dua kali sehari selama 2 hari
 Orang dewasa
Oral : 2-4 g pada awalnya, diikuti oleh 2-4 g dibagi kedalam 3-6 jadwal konsumsi
i. Cara Pemakaian
Berikan secara oral dengan segelas penuh (250 mL) air dan pertahankan asupan cairan
yang memadai selama terapi untuk meminimalkan risiko pembentukan Kristal pada urin
dan pembentukan batu ginjal.
j. Volume / jumlah
1 Box : 1 strip @10 tablet
k. Peringatan
 Reaksi yang parah (kadang fatal), termasuk sindrom Stevens-Johnson, anemia aplastik,
dan diskrasia darah lainnya.
 Sindrom penyakit serum atau reaksi seperti penyakit serum seperti demam, menggigil,
kekakuan, kemerahan, nyeri sendi, erupsi urtikaria, konjungtivitis, bronkospasme,
leukopenia.
 Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan alergi parah atau asma bronkial.
7. Penandaan berdasarkan UU (tanda golongan obat)
Golongan obat keras

8. Label
Harus Dengan Resep Dokter
9. Batas Kadaluarsa
Desember 2023
10. Wadah dan Kemasan
Wadah tertutup rapat dan ringan pada suhu 20-25˚C. 1 blister @10 tablet
11. Penyimpanan
Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.
12. No. Bets : 191019
13. No. Registrasi : GKL 1910211910A1
14. Nama Pabrik : PT. Bhakti Kencana Farma
15. Alamat Pabrik : Bandung-Indonesia
16. Wadah dan Kemasan
BROSUR

®
GESDIAZINE
Sulfadiazine Tablet 500 mg

KOMPOSISI
Tiap tablet mengandung Sulfadiazine.......500 mg

CARA KERJA
Sulfadiazine bekerja dengan cara membunuh bakteri atau mengganggu pertumbuhan bakteri dengan meghambat
PABA (p-aminobenzoic) secara kompetitif dimana bakteri memerlukan PABA (p-aminobenzoic) untuk
membentuk asam folat yang digunakan oleh bakteri untuk sintesis purin dan asam nukleat.

INDIKASI
Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri (E.Coli, Enterobacter staphylococcus aureus, Chlamydia
trachomatis, Proteus mirabilis/ P. Vulgaris, Haemophilus ducreyi, Neisseria meningitides, Yersinia pestis) dan
juga digunakan sebagai kombinasi pengobatan untuk toksoplasmosis dan untk mencegah kekambuhan penderita
demam rematik.

KONTRAINDIKASI
Penderita yang hipersensitif terhadap sulfonamide ,bayi <2 bulan, ibu hamil, ibu menyusui dan porphyria.

PERINGATAN
 Reaksi yang parah (kadang fatal), termasuk sindrom Stevens-Johnson, anemia aplastik, dan diskrasia darah
lainnya.
 Sindrom penyakit serum atau reaksi seperti penyakit serum seperti demam, menggigil, kekakuan,
kemerahan, nyeri sendi, erupsi urtikaria, konjungtivitis, bronkospasme, leukopenia.
 Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan alergi parah atau asma bronkial.

EFEK SAMPING
Sakit perut, anoreksia, mual, muntah, sakit kepala, neuritis perifer, demam, ruam, pankreatitis, stomatitis,
depresi.

ATURAN PAKAI
Berikan secara oral dengan segelas penuh (250 mL) air dan pertahankan asupan cairan yang memadai selama
terapi untuk meminimalkan risiko pembentukan Kristal pada urin dan pembentukan batu ginjal.

DOSIS
Anak-anak 2-12 bulan : 500 mg sekali sehari selama 2 hari.
Anak-anak usia 1-12 tahun : 500 mg dua kali sehari selama 2 hari
Dewasa : 2-4 g pada awalnya, diikuti oleh 2-4 g dibagi kedalam 3-6 jadwal konsumsi

INTERAKSI
Penggunaan dengan obat antikoagulan seperti warfarin, phenytoin dan thiopental, penggunaan dengan obat
Antidiabetes (Sulfonilurea) Tolbutamide dan klorpropamida dan penggunaan obat metotreksat.

CARA PENYIMPANAN
Simpan pada suhu 20-25°C, dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya.

No.Batch 191019
No.Reg GKL1910211910A1
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
Exp.Date Des 2023

DIPRODUKSI OLEH :
BK FARMA PT. Bhakti Kencana Farma
Bandung-Indonesia
DAFTAR PUSTAKA

1. Dibbern et al. 2002. UV and IR Spectra. London : s.n., 2002.


2. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan
Indonesia, 1979.
3. Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 1995.
4. Medscape Drugs and Disease. 1995. https://www.Medscape.coM. s.l. : WebMD, 1995.
5. Manisha Karpe, Nikhil Mali and Vilasrao Kadam. 2012. Journal of Applied
Pharmaceutical Science, Formlation Development and Evaluation Acyclovir Orally
Tablets. Mumbai : Department of Pharmaceutics, Bharati Vidyapeeth's College of
Pharmacy, 2012, Vol. 02.
6. Lachman L., Herbert, A. L. & Joseph, L. K. 2008. Teori dan Praktek Industri
Farmasi Edisi III. Jakarta : Universitas Indonesia, 2008.
7. Lachman, L. & Lieberman, H. A. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri, Edisi
Kedua. Jakarta : UI Press, 1994.
8. Moffat, A.C., dan Galicket, L.Y. 2004. Clarke’s Analysis of Drugs and Poisons In
Pharmaceuticals. Third edition. London : Pharmaceutical Pres, 2004.
9. Niazi, Sarfaraz K. 1949. Handbook of Pharmaceutical manufacturing Formulations
Compressed Solid Products. USA : Pharmaceutical Scientist, 1949.
10. Kepmenkes RI. 1986 No.02396/A/SK/VIII/1986,. Tanda Khusus Obat Keras daftar G.
Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 1986.
11. Permenkes RI No.917. 1993. Golongan Obat Keras . Jakarta : Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 1993.
12. Pharmacist, American Society of Health System. 2011. AHFS Drugs Information
Essentials. New York City : United States of America, 2011.
13. RI, Depkes. 2014. Farmakope Indonesia Edisi V. Jakarta : Departemen Kesehatan RI,
2014.
14. Rowe, R. C., Shesky, P. J., and Owen, S. C. 2006. Handbook of Pharmaceutical
Excipients, Fifth Edition. United Kingdom : Pharmaceutical Press, 2006.
15. Rowe, R.C., Sheskey, P.J., dan Quinn, M.E. 1994. Handbook of Pharmaceutical
Excipients. Second Edition. New York : Pharmaceutical Press, 1994.
16. Rowe, R.C. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth edition. New York :
Pharmaceutical Press, 2009.
17. SC, Sweetman. 2009. Martindale The Complete Drug Reference. Thirty Sixth Edition.
London : Pharmaceutical Press, 2009.
18. Stockley, I.H. 2010. Stockley's Drugs Interaction Ninth Edition. London :
Pharmaceutical Press, 2010.
19. Sulistia, G.G. 2013. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, 2013.

Beri Nilai