Anda di halaman 1dari 2

1.

Wanita hamil dan menyusui


Pemilihan obat untuk ibu yang sedang hamil dilakukan dengan lebih hati-hati, karena
beberapa jenis obat dapat menimbulkan pengaruh yang tidak diinginkan pada janin.
Beberapa jenis obat juga di sekresikan juga ke dalam air susu ibu. Walaupun mungkin
jumlah obat di ASI kadarnya kecil, namun mungkin dapat berpengaruh pada bayi.
Mengingat hal tersebut di atas, sebelum melakukan swamedikasi perlu diperhatikan
kondisi yang sedang dialami dan juga harus mmbaca peringatan/perhatian yang tertera
pada label atau brosur obat sehingga tidak terjadi efek yang tidak diinginkan.namun
sebaiknya wanita hamil dan menyusui lebih baik janganlah minum obat tanpa
berkonsultasi kepada dokter atau apoteker mengenai keamanannya.
2. Perundang-undangan obat

3. Cara cara menggunakan obat


ara2 bagaimanakah menggunakan obat?

Obat dapat dingunakan dengan banyak cara, tetapi yang hanya layak untuk

swamedikasi adalah : melalui mulut, melalui dubur dan melalui kulit/selaput

lendir (salep,krem,tetes2 mata / hidung/kuping) .

 Melalui mulut.

Cara ini paling banyak dingunakan dan meliputi obat2 dalam bentuk

sirop,suspensi dan obat tetes,tablet , tablet bersalut, kapsul dan

serbuk. Cara ini disebut peroral.

 Melalui dubur

Cara ini biasanya dingunakan untuk supositoria atau untuk klisma (la-

vemen). Metode ini dinamakan penggunaan rektal, karena obat

dimasukkan melalui dubur ke bagian terakhir dari usus..

 Melalui kulit

Pada umumnya obat dalam selep atau krem dimaksudkan untuk bekerja

setempat dikulit tanpa diserap kedalam darah,,..


4. Cara penyimpanan obat
Penyimpanan obat dapat mempengaruhi potensi dari obatnya. Obat dalam bentuk
sediaan oral seperti tablet, kapsul dan serbuk tidak boleh disimpan di dalam tempat
yang lembab karena bakteri dan jamur dapat tumbuh baik di lingkungan lembab
sehingga dapat merusak obat. Begitu pula dengan bentuk sediaan cair. Obat yang
mengandung cairan biasanya mudah terurai oleh cahaya sehingga harus di simpan
pada wadah aslinya yang terlindung dari cahaya atau sinar matahari langsung dan
tidak disimpan di dalam tempat yang lembab. Meskipun pada obat-obat biasanya
terdapat kandungan zat pengawet yang dapat menghambat pertumbuhan kuman dan
jamur, akan tetapi bila wadah sudah dibuka maka zat pengawetpun tidak dapat
mencegah rusaknya obat secara keseluruhan. Apalagi bila wadah sering dibuka-tutup.
Maka dari itu obat hendaknya diperlakukan dengan hati-hati, yaitu setelah digunakan,
wadah obat perlu ditutup kembali dengan baik, juga membersihkan pipet/sendok ukur
dan mengeringkannya
Jangan menyimpan obat di dalam lemari pendingin (lemari es) kecuali disarankan
pada label penyimpanan obat tersebut,misal contohnya obat yang disimpan dilemari
es suppositoria,dan lainlain.
Pertimbangkan juga bahwa waktu kedaluwarsa obat bisa lebih pendek dari waktu
yang tertera pada label ketika obat itu sudah dibuka dari kemasannya. Buang obat
yang sudah kedaluwarsa. Cara membuang obat adalah dengan membuka kemasannya
dan dibuang di tempat yang jauh dari jangkauan anak, misalnya jika bentuk sediaan
cair dibuka kemasannya kemudian dikeluarkan isinya ke dalam toilet lalu dibilas
sampai bersih; jika sediaan lain seperti tablet atau kapsul dibuka dari kemasannya lalu
obatnya ditimbun dalam tanah.(KOB)
https://books.google.co.id/books?id=6GUZoTu03b4C&pg=PR11&lpg=PR11&dq