Anda di halaman 1dari 16

Tersesat di Syurga

Seorang pemuda, ahli amal ibadah datang ke seorang Sufi. Sang pemuda
dengan bangganya mengatakan kalau dirinya sudah melakukan amal ibadah
wajib, sunnah, baca Al-Qur’an, berkorban untuk orang lain dan kelak harapan
satu satunya adalah masuk syurga dengan tumpukan amalnya.
Bahkan sang pemuda tadi malah punya catatan amal baiknya selama ini dalam
buku hariannya, dari hari ke hari.
“Saya kira sudah cukup bagus apa yang saya lakukan Tuan…”
“Apa yang sudah anda lakukan?”
“Amal ibadah bekal bagi syurga saya nanti…”
“Kapan anda menciptakan amal ibadah, kok anda merasa punya?”
Pemuda itu diam…lalu berkata,
“Bukankah semua itu hasil jerih payah saya sesuai dengan perintah dan
larangan Allah?”

“Siapa yang menggerakkan jerih payah dan usahamu itu?”


“Saya sendiri…hmmm….”
“Jadi kamu mau masuk syurga sendiri dengan amal-amalmu itu?”
“Jelas dong tuan…”
“Saya nggak jamin kamu bisa masuk ke syurga. Kalau toh masuk kamu malah
akan tersesat disana…”
Pemuda itu terkejut bukan main atas ungkapan Sang Sufi. Pemuda itu antara
marah dan diam, ingin sekali menampar muka sang sufi.
“Mana mungkin di syurga ada yang tersesat. Jangan-jangan tuan ini ikut aliran
sesat…” kata pemuda itu menuding Sang Sufi.
“Kamu benar. Tapi sesat bagi syetan, petunjuk bagi saya….”
“Toloong diperjelas…”

“Begini saja, seluruh amalmu itu seandainya ditolak oleh Allah bagaimana?”
“Lho kenapa?”
“Siapa tahu anda tidak ikhlas dalam menjalankan amal anda?”
“Saya ikhlas kok, sungguh ikhlas. Bahkan setiap keikhlasan saya masih saya
ingat semua…”
“Nah, mana mungkin ada orang yang ikhlas, kalau masih mengingat-ingat
amal baiknya? Mana mungkin anda ikhlas kalau anda masih mengandalkan
amal ibadah anda?
Mana mungkin anda ikhlas kalau anda sudah merasa puas dengan amal
anda sekarang ini?”

Pemuda itu duduk lunglai seperti mengalami anti klimaks, pikirannya melayang
membayang bagaimana soal tersesat di syurga, soal amal yang tidak diterima,
soal ikhlas dan tidak ikhlas.
Dalam kondisi setengah frustrasi, Sang sufi menepuk pundaknya.
“Hai anak muda. Jangan kecewa, jangan putus asa. Kamu cukup istighfar saja.
Kalau kamu berambisi masuk syurga itu baik pula. Tapi, kalau kamu tidak
bertemu dengan Sang Tuan Pemilik dan Pencipta syurga bagaimana? Kan
sama dengan orang masuk rumah orang, lalu anda tidak berjumpa dengan
tuan rumah, apakah anda seperti orang linglung atau orang yang bahagia?”
“Saya harus bagaimana tuan…”

“Mulailah menuju Sang Pencipta syurga, maka seluruh nikmatnya akan


diberikan kepadamu. Amalmu bukan tiket ke syurga. Tapi ikhlasmu dalam
beramal merupakan wadah bagi ridlo dan rahmat-Nya, yang menarik dirimu
masuk ke dalamnya…”

Pemuda itu semakin bengong antara tahu dan tidak.


“Begini saja, anak muda. Mana mungkin syurga tanpa Allah, mana mungkin
neraka bersama Allah?”
Pemuda itu tetap saja bengong. Mulutnya melongo seperti kerbau.
Kapankah Nafsumu Puas?
Wednesday, 13 January 2010 14:42
Pengajian Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Hari Jum’at tanggal 11 Sya’ban tahun 545 H. di Madrasahnya
Berserasilah dengan Allah Azza wa-Jalla dalam soal makhluk, dan jangan
berserasi dengan makhluk dalam urusan Allah Azza wa-Jalla. Hancurlah yang
hancur
dan kembalilah yang kembali. Dikisahkan oleh Abdullah bin al-Mubarak ra,
bahwa suatu hari ada seseorang datang kepadanya meminta sesuap makanan,
dan di rumahnya kebetulan tinggal ada sepuluh biji telur. Lalu ia menyuruh
pelayan perempuan untuk memberikan sepuluh telur itu, lalu pelayan itu
memberinya sembilan telur disisakan satu.

Ketika maghrib tiba, tiba-tiba ada lelaki datang mengetuk pintunya, lalu orang itu
berkata, “Ambillah keranjang ini”. Lantas Abdullah ra mengeluarkan apa yang
ada di keranjang itu, ternyata isinya telur. Kemudian ia menghitungnya, ternyata
jumlahnya sembilan telur. Ia bertanya pada pelayan perempuannya, “Mana telur
yang lain? Berapa jumlah telur yang kamu berikan tadi?”.

“Sembilan, saya sisakan satu, agar kita bisa berbuka dengan satu telur itu “jawab
pelayan itu.
“Utang yang harus kita bayar itu sepuluh…” kata Abdullah.
Itulah kehidupan dan amaliyahnya pada Tuhannya Azza wa-Jalla. Mereka
beriman dan membenarkan apa yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka
tak pernah kontra dengan sumber utama itu dalam gerak-gerik kehidupannya,
keluar maupun masuknya harta semata untuk amal kepada Allah Azza wa-Jalla,
karena mereka sangat beruntung dan amaliahnya dan sangat disiplin. Mereka
melihat pintuNya terbuka, dan melihat makhlukNya tertutup, mereka menghindari
pintu itu. Mereka berserasi dengan Allah azza
wa-Jalla untuk makhlukNya, namun tidak berserasi kepada makhluk untuk
menuju Allah Azza wa-Jalla. Mereka juga berselaras dengan Allah Azza wa-Jalla
dalam hal amarahNya bagi orang yang mendapatkan amarah, dan berserasi
dalam CintaNya bagi orang yang dicintaiNya.

Karena itu diantara mereka berkata, “Berserasilah dengan Allah Azza wa-Jalla
dalam soal makhluk, dan jangan berserasi dengan makhluk dalam urusan Allah
Azza wa-Jalla. Hancurlah yang hancur dan kembalilah yang kembali. Kaum sufi
senantiasa
di sisi Allah Azza wa-Jalla, memohon pertolongan padaNya untuk diri mereka
dan yang lain. Mereka tidak mempan dengan cacian si pencaci, dan tidak takut
pada siapa pun dalam menegakkan aturan dan syariatNya.”

Anak-anak sekalian, tinggalkan stressmu, dimana anda tenggelam di dalamnya.


Dan ikutilah jejak kaum sufi dalam ucapan maupun tindakan. Jangan sampai
anda mencari wushul sebagaimana ungkapannya para pendusta yang mengaku-
aku telah sampai (wushul) kepada Allah Azza wa-Jalla. Bersabarlah dengan
cobaan sebagaimana mereka bersabar, hingga anda meraih wushul
sebagaimana mereka raih.

Kalau bukan karena cobaan, niscaya manusia menjadi hamba yang zuhud
semua, tetapi datanglah cobaan pada mereka, namun mereka tidak sabar
menghadapinya, sehingga mereka terhijab dari pintu Tuhannya Azza wa-Jalla.

Siapa yang tidak sabar, ia tidak meraih anugerah. Bila ridho dan sabar hilang
darimu, akan menjadi faktor penyebab yang membuat dirimu keluar dari
ubudiyahmu kepada Allah Azza wa-Jalla, sebagaimana firmanNya dalam hadits
Qudsi: “

Siapa yang tidak rela pada ketentuanKu, dan tidak sabar pada ujianKu, maka
hendaknya ia mencari Tuhan selain Aku.” (Hr. Ibnu Asakir)

Terimalah dariNya, bukan dari yang lainNya. Sang Penentu itu ada bagimu dan
memberikan ujianmu. Wujudkan Islam kalian secara hakiki hingga meraih iman.
Dan berimanlah secara hakiki hingga kalian meraih Iqon (rasa yaqin), maka saat
itulah kalian melihat apa yang belum pernah kalian lihat dari sisi raya yaqin.

Segalanya tampak bagimu seperti rupa yang sesungguhnya, dan informasi


menjadi jelas, karena benar-benar qalbu berserah diri pada Al-Haq Azza wa-
Jalla, karena segalanya menampakkan diri dariNya.
Apabila qalbu mandiri di hadapan Allah Azza wa-Jalla, anda keluar menuju
kepadaNya dengan tangan kemuliaan, sehingga anda menjadi mulia
karenaNya.
Maka jadilah diri anda sangat dermawan, memprioritaskan yang lain dibanding
diri anda, dan sedikit pun anda bukan orang bakhil.

Qalbu yang benar adalah qalbu yang bagus dan mulia hanya bagi Allah Azza
wa-Jalla. Sedangkan batinnya telah bersih dari kotoran adalah mulia, dan
bagaimana keduanya tidak pernah terwujud padahal Allah Yang Maha Mulialah
yang menganugerahkan padanya?

Wahai kaum Sufi, hendaklah anda ini dermawan dan lebih mementingkan orang
lain demi taat kepada Allah azza wa-Jalla. Bukan untuk maksiat. Karena setiap
harta yang didistribusikan untuk maksiat, sama saja membiarkan terhapus
ibadahnya.
Disiplinlah dalam bekerja disertai disiplin taat hingga anda merasakan kedekatan
dari Allah Azza wa-Jalla, hingga seluruh problemamu kau hadapkan padaNya,
besertanya, bukan beserta lainnya.
Dengan begitu makananmu benar-benar dari kiprah anugerah dan
kemurahanNya, hanya saja anda tidak tahu dan tidak mengerti.
Nafsu itu menjadi hijab mereka, manakala nafsu telah hilang dari pusatnya maka
hilanglah hijab itu. Disinilah Abu yazid al-Bisthamy ra, mengatakan, “Aku
bermimpi melihat Tuhanku, dan aku bertanya, bagaimana jalan menuju
kepadaMu wahai Sang Pencipta? Lalu Allah Azza wa-Jalla menjawab,
“Tinggalkan nafsumu dan kemarilah!”.
Lalu aku meninggalkan nafsu itu seperti biji meninggalkan kulitnya. Karena Allah
swt, memperjelas terhadap nafsu, bukan lainnya, dan Dia memerintahkan untuk
meninggalkan nafsu. Karena dunia dan semuanya selain Allah Azza wa-Jalla
mengikuti nafsu. Dunia dan akhirat dengan segala kesenangannya juga
mengikuti nafsu. Allah swt. Berfirman:
“Dan di dalam syurga itu apa yang yang disenangi oleh nafsu-nafsu dan
menyenangkan mata.” (Az-Zukhruf 71).

Kaum Sufi itu ketika siang hari mereka melakukan kebajikan untuk makhluk dan
keluarganya, sedangkan di malam hari, mereka hanya untuk khidmah kepada
Tuhannya Azza wa-Jalla dan khalwat denganNya.

Para raja saja, di siang hari mereka bercengkerama dengan anak-anaknya,


binatang buruan dan menyelesaikan kebutuhan rakyatnya. Ketika malam hari
mereka melakukan pertemuan dengan para menterinya dan pengawal
terpilihnya.

Dengarkan! Semoga Allah swt merahmatimu apa yang aku ucapkan, dengarkan
dengan telinga hatimu, camkanlah dan kerjakanlah bersama Allah Azza wa-Jalla.
Seseorang seharusnya tidak bicara kecuali bersama Allah swt, dan dari Allah
swt. Ia tidak bicara kecuali dengan jalan Allah Azza wa-Jalla yang paling bersih.
Anda tidak bisa diterima jika mengatakan kepadaku, “Betapa bagusnya kamu.”
Tetapi katakanlah kepadaku dengan ucapan hatimu, maka anda jadi bagus.

Amalkan atas apa yang ku ucapkan padamu, ikhlaslah dalam mengamalkan itu,
sampai ketika aku melihat semua itu darimu, aku katakan padamu, “Kalian
memang bagus.”.
Sampai kapan anda puas dengan nafsumu, duniamu, akhiratmu, makhluk dan
segala hal selain Allah Azza wa-Jalla secara total? Makhluk itu hijab nafsumu,
dan nafsumu adalah hijab hatimu, dan hatimu adalah hijab bagi rahasia batinmu.

Sepanjang anda bersama makhluk, maka anda tidak bisa melihat nafsumu.
Namun jika anda meninggalkan makhluk anda akan melihat nafsu anda, betapa
nafsu itu sangat memusuhi Tuhanmu Azza wa-Jalla dan musuh bagi
kebahagiaan sejatimu.

Karena itu perangilah nafsu itu secara terus menerus sampai ia tenang di
hadapan Tuhannya Azza wa-Jalla, tenang dan tenteram pada janjiNya, dan takut
akan ancamanNya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Nya.
Disanalah anda berserasi dengan takdir Allah Azza wa-Jalla.
Maka disitulah hijab sirna dari qalbu. Rahasia batinmu akan melihat sesuatu
yang belum pernah dilihatnya, dimana Qalbu dan rahasia Qalbu mengenal
Tuhannya Azza wa-Jalla,
bergegas menuju kepadaNya, sama sekali tidak terpaku pada sesuatu selain Dia
Azza wa-Jalla.

Sang arif itu tidak pernah berhenti pada sesuatu pun selain Allah Azza wa-Jalla
Sang Pencipta segala sesuatu itu sendiri.
Si arif tidak tidur untukNya, tidak lelah bagiNya, tidak ada batasan bagiNya,
kepada Allah Azza wa-Jalla.

Sang pecinta tiada maujud dirinya, karena ia berada di lembah Takdir dan
Pengetahuan bersama Allah Azza wa-Jalla.

Gelombang lautan ilmu menanjakkan ketinggiannya, hingga melepaskannya ke


angkasa menuju bintang-bintang.

Ia sendiri sirna, tiada, tak terfahami logika. Ia bisu dan tuli, kecuali hanya
mendengar Allah Azza wa-Jalla, tidak melihat lainNya. Ia mati di hadapan Allah
azza wa-Jalla, dan bila Allah Azza wa-Jalla menghendakinya, Dia
menghidupkannya, dan apabila Allah azza wa-Jalla berkehendak, Dia
menampakkannya.

Selamanya, ia berada dalam kemah-kemah taqarrub pada Allah Azza wa-Jalla.


Bila datang kesempatan hukuman mereka siap melaksanakan. Jika ada
kesempuatan keluar, mereka berada di depan gerbang melaksanakan eksekusi
terhadap makhluk, sebagai perantara antara makhluk dengan Allah Azza wa-
Jalla. Itulah situasi kondisi mereka, namun kondisi ruhani mereka itu ada yang
dirahasiakan.

Wahai kaumku, hati-hati! Kalian sedang bingung, karena kalian berada di


simpang zaman yang sia-sia. Sabarlah bersama Allah Azza wa-Jalla, maka
kalian bisa melihat apa yang ada di dunia dan di akhirat.
Bila kalian ingin mewujudkan Islam, kalian harus Istislam (pasrah total). Bila
anda ingin meraih taqarrub dari Allah Azza wa-Jalla, seharusnya anda
menyerahkan diri anda di hadapanNya, takdir dan tindakanNya, tanpa harus
bertanya, “Kenapa? Bagaimana?”.

Dengan cara begitu anda bisa bertaqarrub. Jangan sekali-kali punya kemauan,
karena punya kamuan di hadapanNya itu tidak benar. Allah Azza wa-Jalla
berfirman: “Dan mereka tidak bisa berkehendak kecuali Allah menghendakinya.”
(Al-Insaan: 30)

Bila apa yang anda inginkan tidak tercapai, maka jangan lagi berhasrat lebih.
Jangan sampai engkau tentang Allah Ta’ala, dalam hal tindakanNya. Bila Allah
menguji harga dirimu, hartamu, kesehatanmu, anakmu dan dan hancurnya
dirimu, maka tersenyumlah dalam menghadapi takdirNya, kehendakNya dan
perubahanNya. Tetaplah begitu bila anda ingin dekat denganNya, jika anda ingin
bersih jiwamu bersamaNya. Bila anda ingin hatimu sampai padaNya, sedangkan
anda di dunia, maka rahasiakanlah deritamu dan tampakkanlah kegembiraanmu,
dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik. Rasulullah saw,
bersabda:
“Roman gembira orang beriman itu di wajahnya, sedangkan susahnya tersimpan
di hatinya.”

Jangan sampai anda mengadu pada seseorang, karena jika anda mengadu
pada Allah Azza wa-Jalla, namun juga mengadu pada sesama makhluk, dirimu
gugur di hadapanNya, sehingga masalah anda tidak hilang.

Jangan kagum pula pada amal perbuatan anda, karena kagum itu merusak amal
ibadah anda. Namun siapa yang memandang pertolongan Allah Azza wa-Jalla
(dibalik amal ibadahnya), seluruh ketakjuban amal akan sirna. Jadikan tujuanmu
itu adalah Dia, karena Dialah yang menjadikan rahmat bagimu, menyiapkan
faktor-faktor penyebab sampainya dirimu padaNya.

Bagaimana anda bisa menjadikan tujuanmu padaNya sedangkan anda dusta


dalam ucapan maupun tindakan? Orang yang mencari pujian dari sesama, pada
saat yang sama juga takut akan caciannya.

Semua yang datang dari Allah Azza wa-Jalla benar. Kaum sufi semuanya benar
tanpa dusta. Benar tapi tidak ditampakkan.
Perbuatan mereka lebih banyak dibanding ucapannya, karena mereka adalah
wakil Allah Azza wa-Jalla bagi makhluk, khalifahNya, bentengNya di muka bumi,
merekalah yang begitu spesial di hadapanNya.

Tapi kamu wahai munafiq! Kamu bukan mereka! Jangan kamu campur aduk
kemunafikanmu dengan mereka, pasti tidak akan pernah bisa, baik dalam
angan-angan, ungkapan maupun perkataan.

“Ya Allah jadikanlah kami tergolong orang-orang yang jujur dan benar, Ya Tuhan
kami, berikanlah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat, dan
lindungilah kami dari azab neraka.”

Janganlah kamu merasa mendapatkan kondisi ruhani mereka dengan hanya


formalitas belaka atau berpakaian dengan gaya pakaian mereka, berbicara
dengan wacana mereka, semua itu tidak ada gunanya manakala kamu masih
kontra dengan perbuatan mereka. Kamu kotor tanpa kebersihan akhlak jiwa dan
tanpa Sang Khaliq azza wa-Jalla.

Kalian ini dunia tanpa akhirat, batil tanpa kebenaran, lahir tanpa batin, ucapan
tanpa tindakan, tindakan tanpa keikhlasan, keikhlasan tanpa keserasian dengan
Allah azza wa-Jalla.

Sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla tidak menerima ucapan tanpa amal, amal
tanpa ikhlas, ikhlas tanpa selaras dengan Kitab dan sunnah NabiNya – semoga
sholawat salam baginya –, dan itu semua adalah klaim tanpa bukti, hingga wajar
kalau Dia tidak menerimamu.

Bisa saja anda diterima oleh sesame dengan kedustaan anda, tetapi anda akan
ditolak oleh Allah Azza wa-Jalla, karena Dialah Yang Maha Mengetahui apa
yang ada di hati anda.

Jangan pamer! Karena Sang Maha Waspada terus memandangmu. Allah Azza
wa-Jalla memandang hatimu bukan memandang rupamu.
Dia memandang apa yang ada dibalik baju, dibalik kulit dan tulang belulangmu,
Dia memandang kesendirianmu, bukan memandang popularitasmu.

Apa anda tidak malu ketika anda menjadi sorotan makhluk, anda berias.
Sedangkan ketika menjadi pandangan Allah azza wa-Jalla anda malah najis?

Bila ingin beruntung taubatlah dari dosa-dosamu, bersihkan taubatmu. Taubat


dari kemusyrikan dengan makhluk, dan jangan beramal kecuali hanya demi Allah
azza wa-Jalla.

Sebab aku melihat kamu semuanya salah! Karena kamu bersama hawa
nafsumu, bersama dunia dan syahwatmu, dan kenikmatan yang menyeret
dirimu hingga membuatmu terkena murka.

Engkau rela dengan sesuap makanan demi memuaskan nafsumu, dan engkau
bisa marah gara-gara nafsu pula.

Kendali nafsumu telah memperbudakmu, lalu manakah posisimu diantara


hamba-hamba Allah Azza wa-Jalla, dimana mereka mewujudkan ubudiyah dan
rela pada tindakanNya?
Walau mereka tertimpa derita, tetapi mereka tetap kokoh bagai gunung yang
tinggi, dan mereka tetap memandangnya dengan mata kesabaran, mata
keserasian denganNya.
Mereka biarkan fisik mereka untuk cobaanNya, tetapi mereka melemparkan
hatinya kepada Allah Azza wa-Jalla. Mereka senantiasa sunyi, mereka adalah
sangkar tanpa burung. Ruh mereka di sisiNya, jasad mereka di hadapanNya.

Wahai orang-orang yang kontra Tuhannya Azza wa-Jalla, wahai orang yang
yang gentar padaNya, kemarilah, hingga aku perbaiki dirimu denganNya, aku
akan bermohon kepadaNya agar kalian diterima, dan kalian aman. Aku akan
tundukkan kalian di hadapanNya, hingga kalian melaksanakan perintah dan
kewajibanNya.
Ya Allah, kembalikan kami padaMu, tempatkanlah kami di pintuMu, jadikanlah
kami bagiMu, dalam DiriMu dan besertaMu. Ridhoilah kami untuk bakti padaMu.
Semua cobaan dan anugerah hanya bagiMu, maka sucikanlah batin kami dari
selain DiriMu. Janganlah Engkau biarkan kami ketika Engkau melarang kami,
dan janganlah Engkau tinggalkan kami ketika Engkau memerintahkan kami.
Janganlah Engkau jadikan lahiriyah kami maksiat kepadaMu, dan batin kami
musyrik padaMu.

Raihlah jiwa-jiwa kami hanya bagiMu. Jadikanlah kami semua merasa cukup
kepadaMu dibanding berpaling pada selain DiriMu. Ingatkanlah kami dari alpa
padaMu. Kehendakilah kami untuk taat padaMu dan munajat padaMu .

Jadikanlah kenikmatan qalbu dan rahasia qalbu kami dengan mendekat padaMu.
Pisahkanlah kami dengan maksiat seperti engkau pisahkan antara langit dan
bumi. Dekatkanlah taat padaMu sebagaimana Engkau dekatkan antara hitam
dan putihnya mata kami. Pisahkanlah kami dengan hal-hal yang engkau benci,
sebagaimana Engkau pisahkan antara Yusuf dan Zulaikha untuk maksiat
padaMu. (bersambung)
Kapankah Nafsumu Puas?
(Bagian 2 - Habis)
TUESDAY, 02 MARCH 2010 15:07
Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany - Pengajian Hari Jum’at tanggal 11 Sya'ban
tahun 545 H. di Madrasahnya
Kendalikan dirimu, nafsumu, watakmu dengan puasa dan sholat da'im dan
kesabaran yang da'im pula. Bila hamba benar dalam menata dirinya dan hawa
nafsu dan
wataknya, maka hanya ada dia dan tuhannya tanpa sedikit pun ada
kontaminasi, hingga yang ada hanya qalbu, sirr dan Tuhannya yang
menghampar begitu luas, tanpa kesempitan, penuh rasa sehat tanpa rasa sakit.
Karena itu pakailah akal sehatmu, raihlah ilmu, amalkan, dan ikhlaslah dalam
beramal.

Anak-anak sekalian. Belajarlah dari makhluk, lalu belajarlah dari Sang Khaliq,
sebagaimana Nabi saw, bersabda:
"Siapa yang mengamalkan ilmunya, Allah mewariskan ilmu belum pernah ia
ketahui sebelumnya." (Ditkahrij Az-Zubaidy).

Anda harus belajar dari makhluk dulu, baru kepada Al-Khaliq, yaitu anda meraih
Ilmu Ladunni, suatu ilmu yang dikhususkan dalam rahasia qalbu, yang kelak
menjadi rahasia batin. Bagaimana anda bisa belajar sesuatu tanpa guru?
Sedangkan anda berada di rumah Hikmah. Karenanya carilah ilmu, karena
mencari ilmu itu fardhu, sebagaimana Nabi saw, bersabda: “Carilah ilmu walau
sampai ke China.” (Ditkahrij Adz-Dzahaby).

Anak-anak sekalian, bergurulah kepada orang yang bisa menolong untuk


memerangi hawa nafsu anda, bukan pada orang yang menolong nafsu untuk
mencelakakanmu. Bila anda belajar pada guru yang bodoh dan munafik, yang
memiliki watak dan hawa nafsu, maka ia justru akan menyeret anda pada hawa
nafsu itu.

Para guru ruhani itu tidak bersahabat dengan dunia, namun bersahabat dengan
akhirat. Bila seorang syeikh senang dengan naluri wataknya dan hawa nafsunya
berarti ia sahabat dunia. Bila ia senang dengan qalbunya maka ia sahabat
akhirat. Namun bila ia senang dan empunya rahasia batinnya (sirr) maka ia
adalah sahabat Tuhan.

Wahai orang yang sok menjadi guru ruhani! Keluarlah dan bergaullah dengan
para syeikh yang mukhlis dalam perilaku mereka. Manakala anda masih terus
mencari dunia dengan nafsu anda, berambisi dengan hawa kesenangan anda,
sesungguhnya anda adalah anak-anak, benar-benar naluri watak murni. Nafsu
harus di kendalikan dari dunia dengan berbagai upaya, bukan keterpaksaan,
atau nafsu harus mengikuti qalbu, jauh dan jauh dari dunia dan kesenangannya.
Nafsu meraih haknya manakala ia sudah buta dari dunia, dari akhirat dan dari
segala hal selain Allah Azza wa-Jalla.

Apabila seorang hamba mulai dekat dengan Allah Azza wa-Jalla, akan banyak
kegelisahan dan rasa takutnya. Itulah kenapa, seseorang lebih takut pada
menterinya dibanding pada rajanya, karena menteri adalah orang yang paling
dekat dengan raja.
Orang mukmin tidak akan pernah sampai kepadaNya kecuali dengan keikhlasan.
Inilah kaum sufi senantiasa gelisah sepanjang ia belum bertemu dengan Allah
Azza wa-Jalla. Siapa yang mengenal Allah Azza wa-Jalla rasa takutnya akan
sangat kuat, dan itulah yang disabdakan Nabi saw: "Akulah yang paling
mengenal Allah diantara kalian, dan yang paling amat takut kepadaNya."
(Al-'Ajluny).

Allah Azza wa-Jalla senantiasa memberi ujian pada para Auliya' Nya agar
mereka terus-menerus membersihkan dirinya, bahwa mereka selamanya berada
dalam langkah rasa takut jika berubah, berpindah. Mereka terus merasa takut
walaupun kondisinya sangat aman. Bereka bergentar walau pun mereka telah
diberi ketentraman. Mereka terus mendebat nafsunya, walau nafsu itu sebesar
biji atom, sebesar biji bayam dan alpa yang ringan saja. Ketika mereka merasa
tenang mereka justru terbang. Ketika mereka merasa cukup justru mereka gugah
kefakirannya. Ketika mereka merasa aman, justru mereka bangkitkan rasa takut.
Ketika mereka diberi anugerah justru mereka merasa terhadang. Ketika mereka
gurau tertawa justru mereka menangis. Ketika mereka bergembira, malah
mereka bangkitkan susahnya. Mereka sangat kawatir akan rekayasa tipudaya
yang berbalik dan akibat yang buruk, karena mereka tahu bahwa Tuhan mereka
berfirman: "Allah tidak ditanya apa yang dilakukanNya, namun merekalah yang
ditanya…" (Al-Ambiya': 23)

Anda wahai orang yang alpa! Justru pamer maksiat dan kontra kepada Allah
Azza wa-Jalla, sementara anda malah merasa nyaman. Dalam waktu dekat, rasa
amanmu akan berubah menjadi ketakutan, rasa luang lapangmu akan berubah
menjadi sempit, rasa muliamu akan menjadi hina, rasa luhurmu akan menjadi
rendah, rasa kayamu akan menjadi miskin.

Ingatlah bahwa rasa amanmu di hari kiamat dari siksa Allah Azza wa-Jalla,
diukur dengan rasa takutmu kepada Allah azza wa-Jalla di dunia, dan rasa
takutmu kepada Allah Azza wa-Jalla di akhirat tergantung rasa amanmu di dunia,
namun justru anda tenggelam di dunia dan tercebur di sumur kealpaan.

Maka hidupmu sungguh seperti binatang, tidak kenal kecuali hanya kenal
makan, minum, seks, dan tidur. Secara lahiriyah, prilakumu seperti mereka yang
ahli dalam pembersihan qalbu, tetapi batinmu penuh dengan ambisi duniawi,
menumpuk harta dan memburu rizki, hingga telah menutup pintumu untuk
menuju Allah Azza wa-Jalla.
Wahai orang yang diseret oleh kehinaan ambisinya, bila anda dan penduduk
bumi, bila sesuatu ditarik untukmu, pasti anda belum merasa terbagi. Maka
tinggalkanlah ambisi untuk meraih sesuatu yang sebenarnya sudah terbagi
bagimu, tinggalkan mencari sesuatu yang belum terbagi untukmu.
Bagaimana orang yang berakal sehat memperbaiki zamannya yang sudah
hilang? Maka keluarkanlah makhluk dari hatimu. Lalu jangan kau pandang
mereka, dalam bahaya, manfaat, pemberiaan dan hambatan, begitu juga jangan
kau pandang pujian, cacian, pengghormatan dan penghinaan mereka,
penerimaan dan tolakan mereka. Yakinlah bahwa bahaya dan manfaat itu dari
Allah Azza wa-Jalla, baik dan buruk ada di tanganNya, yang ditarikNya untuk
penguatan pada makhluk. Bila hal demikian terwujud, anda telah berada di
antara Khaliq dan makhluk, anda memandang mereka sekaan-akan mereka
tidak ada, bila disandarkan pada anda. Anda pun memandang ahli maksiat,
dengan pandangan mata kegilaan dan kebodohan, lalu anda mendidik mereka,
mengobati mereka dan sabar atas kepedihan yang ditimpakan pada anda dari
mereka, dan kebodohan mereka.
Orang yang taat kepada Tuhannya Azza wa-Jalla adalah para Ulama' yang
berakal sehat. Dan mereka yang bermaksiat kepada Tuhannya adalah mereka
yang gila dan bodoh. Tukang maksiat bebarti bodoh terhadap Tuhannya, lalu ia
ingkar padaNya dan patuh pada syetannya, berserasi dengan para syetan. Bila
saja mereka tidak bodoh, pasti mereka tidak maksiat padaNya. Dan kalau toh
mereka mengenal nafsunya, dan ia tahu bahwa nafsunya memerintahkan
bebruat buruk, pasti ia tidak berserasi dengan nafsu itu.
Sudah berapa kali aku peringatkan anda dari ancaman Iblis dan para
pendukungnya, tetapi anda malah bersahabat dengannya. Bahkan anda pelihara
pendukung-pendukungnya, hawa nafsu, dunia, watak-wataknya dan sejumlah
pendukung jahat lainnya.
Anda harus menghindari semua itu. Karena semua itu adalah musuhmu. Karena
tidak ada yang anda cintai selain Allah azza wa-Jalla. Karena Dialah yang
menghendakimu demi dirimu, tetapi selainNya menghendakimu demi dirinya.
Bila anda bisa mensirnakan nafsumu dalam situasi sunyi khalwatmu, lalu anda
bergabung dengan para penempuh, maka anda menjadi bahagia bersama Allah
Azza wa-Jalla. Begitu pula jika nafsu, anda biarkan dengan dunia, qalbu
bersama akhirat, rahasia batin (sirr) bersama Allah Azza wa-Jalla, maka
khalwatmu akan indah penuh bahagia bersama Allah Azza wa-Jalla. Namun jika
khalwatmu bersama nafsumu dan lainnya, maka sesungguhnya anda sedang
tidak khalwat!. Khalwat itu hanya dengan Dia Satu-satuNya. Karena anda akan
menemuiNya manakala sudah membenci lainNya. Kapan anda menemukan
kebeningan bersama mereka yang hatinya bersih? Kapan anda benar bersama
mereka yang hatinya benar? Kapan anda ikhlas hingga anda melihat Pintu Allah
Azza wa-Jalla dan Ahlullah? Bila perilaku batinmu benar-benar hakiki maka anda
akan melihat Rijaalullah Azza wa-Jalla (tokoh-tokohnya Allah). Bila anda
memasuki Pintu Allah Azza wa-Jalla, anda akan melihat para pelayanNya,
sedang wuquf di sana.
Tapi anda tidak menginjak dan memasuki majlisNya, bagaimana anda melihat
para pelayanNya, sampai anda mampu melihat PintuNya, hingga anda melihat
pelayan-pelayanNya, bahkan hingga disaat itulah anda melihat Allah Azza wa-
Jalla, maka anda melihat yang benar.
Anda melihat yang benar, dibebankan dan disodorkan serta dihadapkan pada
anda, dan anda melihat kedustaan menolak anda dan melelapkan anda.

Maka bersamalah dengan orang-orang yang jujur dengan kebenaran, sampai


anda beraktivitas dengan aktivitas mereka, maka jujurlah dalam ucapan dan
tindakanmu, bersabarlah dalam seluruh perilakumu. Benar dan jujur itu adalah
tauhid dan ikhlas, berserah diri pada Allah Azza wa-Jalla. Sedangkan pasrah diri
hakikatnya adalah memutuskan diri dari segala bentuk sebab akibat dan
ketergantungan selain Allah swt, serta hati batinmu keluar dari upaya dirimu dan
kekuatanmu, manakala anda ingin bertemu dengan Allah Azza wa-Jalla.
Lepaskan segala selain DiriNya, berpalinglah dari dirimu dan dari mereka.
Berpalinglah dari ciptaan menuju Sang Pencipta.
Sepanjang anda masih bersama diri anda dan mereka, sepanjang itu pula anda
tidak bahagia. Beribu-ribu cara, manakala masih anda campur aduk antara Allah
Azza wa-Jalla dan lainNya, anda tidak bisa bertemu Allah Azza wa-Jalla.
Cara memutuskan diri anda, adalah merenungkan dan mengamalkan apa yang
aku katakan, selebihnya dari kalian masuk dalam samuderaNya dan mengambil
berkah atas kehadiran mereka bersamaNya.
Aku sangat berharap kalian meraih kebaikan dunia akhirat. Dunia itu penjaranya
kaum beriman, jika seseorang melupakan penjaranya ia akan dapat jalan keluar.
Orang beriman berada di penjara. Orang 'arif berada dalam syukurnya, karena
mereka tidak pernah melihat penjara, sebab Tuhan telah memberikan minuman
rindu kepadaNya hingga lupa penjaranya.

Mereka mendapatkan minuman mesra bersamaNya, minuman pencarian


padaNya, meniman lupa dari makhluk dan sadar bersamaNya.
Allah memberikan tegukan demi tegukan minumanNya, lalu mereka selamat dari
makhluk, dan bangun bersama Allah azza wa-Jalla, maka bersama Allah Ta'ala-
lah mereka lupa dari diam diri di penjara. Sementara mereka yang terpenjara
dunia, apinya siksanya didahulukan, maka syurganya adalah perlwanan pada
apinya. Ridho terhadap ketentuanNya adalah syurga mereka, kealpaan adalah
neraka mereka, dan sadar kepada Allah adalah syurga mereka.
Qiyamat dimata awam adalah hisab, namun bagi kalangan Khusus Ilahiyah
adalah kerelaan. Bagaimana tidak demikian? Mereka telah meraih kiamat dalam
diri mereka, ketika di dunia mereka menangis sebelum disiksa, maka tangisan
telah membuat mereka meraih manfaat besar ketika siksaan hadir.
Sufyan ats-Tsaury ra pernah dimimpikan sepeninggalnya. Lalu ia ditanya, "Apa
yang telah diberklakukan oleh Allah Ta'ala padamu?' Ia menjawab, "Allah telah
menempatkan diriku di sisiNya, dan Allah Azza wa-Jalla berfirman padaku, 'Hai
Sufyan ketahuilah bahwa Aku Maha Pengampun lagi Maha sayang. Engkau
telah menangis dengan tangisanmu karena rasa takutmu padaKu, karena malu
padaKu."
Karena itulah anda harus hijrah dari watak nafsumu dan syetanmu, dan sekali-
kali berkenan pada mereka.
Jadikan para pendukung kejahatan itu sebagai musuhmu, dan jangan bergaul
dengan mereka, sampai mereka berselaras denganmu dalam perilakumu.
Taubat itu adalah qalbunya kekuasaan bagi orang yang taubat, dan tidak akan
berubah manakala orang belum bertaubat. Maka dustalah anda jika anda
merasa berubah tapi belum taubat. Allah swt, berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah apa yang ada dalam kaum, hingga
mereka merubah apa yang ada dalam diri mereka."

Janganlah anda menzalimi seorang pun di dunia, karena kelak akan dibalas di
akhirat. Berbuatlah adil di dunia, hingga anda tetap lurus tebak dalam
menempuh jalan syurga. Kedzaliman ketika dibiarkan, maka keadilan akan
menyimpang dari para penegaknya. Biarkanlah segalanya pada posisinya
hingga anda meraih posisi di sisi Allah Azza wa-Jalla.
Saat ini adalah akhir zaman, dan aku melihat kalian berada dalam tipudaya
kalian. Aku sangat khawatir pada kalian akan perubahan dan pergeseran jiwa
kalian, dan kalian melakukan perubahan itu, namun perubahan dari yang halal.

Hai makhluk Allah aku menuntut kebaikan dan manfaat secara total dari kalian,
dengan harapan agar pintu neraka tertutup secara total pula, agar tak satu pun
dari makhluk Allah memasukinya.
Aku memiliki harapan seperti itu karena rahmatnya Allah Azza wa-Jalla, dan
kasih sayangNya yang agung pada makhlukNya. Aku aduduk di sini untuk
kemashlahatan hati kalian dan pembersihannya, bukan untuk merubah
pembicaraan datau membersihkan ucapan. Karena itu anda jangan lari dariku
karena ucapanku yang kasar, semua demi mendidik dalam agama Allah Azza
wa-Jalla. Ucapanku keras, rasa makananku kasar, tapi siapa yang lari dariku dan
lari dari orang seperti aku, tidak akan bahagia. Bila adabmu buruk, maka engkau
tidak akan bisa kembali ke agama. Aku tidak akan membiarkanmu, dan aku tidak
bicara, lakukan itu! Aku tak peduli apakah anda hadir atau tidak hadir. Aku tidak
butuh upaya, kecuali bersama Allah Azza wa-Jalla, bukan dari anda. Aku tidak
kenal jumlah dan hitungan kalian, aku tidak di dalamnya. Lisan tidak berubah,
tapi jiwalah yang berubah. Bukan kanan, bukan kiri, bukan depan dan bukan
belakang, tetapi langkah dada bukan punggung. Mengikuti jejak para Nabi dan
Rasul serta Ulama salaf. Aku terus menerus bersama mereka dalam melawan
semua musuh, menuju Negeri Kedekatan padaNya.
Bertaubatlah dari dosa-dosa
dan su'ul adabmu. Taubat ini berarti membajak di bumi qalbumu. Sebuah
bangunan di qalbumu akan merobohkan bangunan-bangunan syetan. Tegakkan
bangunan Ar-Rahman, dan aku mempertemukan kalian dengan Tuhan dan Rabb
kalian. Aku berdiri tegak dengan lubuk batin, bukan dengan kulit. Yang lahiriah
ini sekadar kulit, aku tidak akan sibuk-sibuk mendidik kulitmu, tetapi aku hanya
akan mendidik batinmu. Singkirkan kulitmu, dan aku akan mendidikmu, hingga
matahati Nabimu merasakan sejuk bersama kalian.
Anak-anak sekalian. Jangan sampai kalian bersamaku demi dunia, bersamalah
denganku demi akhirat saja. Jika benar pergaulanmu denganku demi akhirat,
maka dunia bakal datang kepadamu, mengikutimu, dan anda bisa meraihnya
sekadar cukup saja. Dan aku menjamin kalian, dan yang sekadar cukup itu
membuatmu tidak terhisab.
Dahulukan akhirat atas dunia, dahulukan yang dzohir atas yang lahir, dahulukan
yang benar atas yang batil, Yang Baqa' atas yang fana'. Tinggalkan semua, dan
ambillah. Tapi jangan kalian ambil dengan tangan watak hawa nafsu, ambillah
dengan tangan batin dan rahasia batin. Tinggalkan meraih apa yang dari
makhluk, raihlah yang dari Sang Kholiq. Taatlah pada Rasul, terimalah apa yang
dating darinya berupa perintah dan larangan. Allah swt berfirman:
"Apa yang datang dari Rasul, maka ambillah darinya dan apa yang dilarang
Rasul, maka hindarilah." (Al-Hijr:7).
Jadilah kalian ini ksatria pemberani manakala menjalankan perintah Allah Azza
wa-Jalla dan RasulNya, dan jadilah anda ini orang yang sakit ketika berhadapan
dengan larangan keduanya, dan jadilah kalian orang mati ketika ketentuan dan
takdirNya tiba. Disamping itu, kalian harus bergaul dengan sesama dengan
akhlak terbaik. Jangan sampai anda menuntut dari Allah Azza wa-Jallan tanpa
pengetahuan dariNya bagi anda, dan berselaraslah dengan aturan dan takdirNya
yang ada pada diri anda maupun orang lain. Nabi saw, bersabda:
"Ketika Allah Azza wa-Jalla mencipta Qolam, maka Allah berfirman pada qolam
itu,"Tulislah!". Qolam menjawab, "Apa yang harus aku tulis?". Allah Azza wa-
Jalla berfirman, "Tulislah ketentuanKu untuk makhlukKu sampai hari qiyamat."
(Hr. Thabrani).
Hai orang yang hatinya mati! Wahai orang nafsunya hidup! Hati kalian telah mati,
dan bila kalian berada dalam derita dukanya itu lebih baik ketimbang berada
dalam duka selain dirimu. Kematian hati adalah alpanya dari Allah Azza wa-
Jalla, alpa dari dzikir padaNya. Siapa yang hendak menghidupkan hatinya, maka
biarkanlah dzikrullah Azza wa-Jalla dan bahagia bersamaNya ada di hatinya,
disamping memandang kekuasan dan keagunganNya, serta tindakanNya
terhadap makhlukNya.
Anak-anak sekalian! Ingatlah kepada Allah Azza wa-Jalla, pertama-tama dengan
qalbumu, lalu dengan lisanmu. Dzikirlah seribu kali dalam hatimu, sekali dalam
lisanmu. Dzikirlah ketika bahaya tiba dengan kesabaran. Dzikirlah dengan
meninggalkan dunia, ketika dunia tiba, dan menerima akhirat ketika akhirat tiba,
dan berdzikirlah dengan tauhid ketika Allah Azza wa-Jalla tiba, dan berdzikir
dengan cara kontra kepada segala hal selain Allah Azza wa-Jalla.
Bila anda melepaskan dukungan nafsu anda dan anda lemparkan, maka nafsu
anda akan dikendalikan oleh kendali wara'. Maka tinggalkanlah, "Kata ini kata
itu…".Mengingat mati bisa menjernihkan qalbumu dan membencikan pada
duniamu dan makhluk lainnya. Bila tirai telah terbuka bagi hatimu, maka anda
akan melihat makhluk semuanya fana', mati, hancur, lemah, tak ada yang
mengancam anda dan tidak ada yang memberi manfaat pada anda.