Anda di halaman 1dari 7

A,kasus online

Konflik Dalam Perbedaan Politik Pilkada Serentak Dan Pemilu 2019

Beberapa tahun belakang perpolitikan Indonesia memanas dengan tensi yang terus meningkat
sejak terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden yang secara sah teprilih melalui pemilu.Kubu
oposisi yang mendukung calon lainnya, Prabowo Subianto, begitu gencar mencecar setiap
kebijakan politik yang dibuat oleh Presiden Jokowi.

Bermula pada kasus pidato penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada tahun
2016 yang kemudian viral di berbagai media membuat sebuah celah dalam memicunya gesekan
sumbu-sumbu primordial dalam masyarakat. Puncaknya, terjadi pada Pilkada Serentak tahun
2017 yang menjadi titik balik di mana perpolitikan Indonesia kembali mencuatkan isu-isu
primordial terhadap politik identitas agama dan suku atau etnis (Fathoni, 2017).

Tensi yang memanas ini memicu potensi-potensi terjadinya konflik yang berkelanjutan, baik
secara actus reus dan mens rea. Pada tahun-tahun pemilu yang memanas sejak 2017-2019, tensi
yang berkembang dalam politik Indonesia lebih sering terlatar belakangi oleh isu primordial,
terutama isu agama.Sudah sejak lama agama menjadi sebuah alasan yang jelas mencoba
menciptakan perdamaian, namun ironinya juga sering menjadi katalis dalam menciptakan
konflik (Cortright, 2008).

Sensitifitas dalam perkara politik berbalut agama yang kental ini menciptakan pola yang terulang
kembali di Eropa, ketika kerajaan dan gereja pada waktu itu bekerjasama menutupi segala
tindakan politik yang dibalut dengan kemasan agama.

Mengingat kondisi sosial dari masyarakat Indonesia yang cenderung masih kuat dalam
kepercayaan agama. Namun, sentimental seakan terulang ketika trauma mayoritas merasa
terancam oleh keberadaan minoritas. Hal kembali terulang dengan tahun-tahun pemilu yang
dihadapi Indonesia selama 2017-2019.

Ketika perkara kasus Ahok sudah menemui penyelesaian dengan dihukum penjara pada tahun
2018, tensi politik Indonesia pasca kasus tersebut belumlah usai. Justru Indonesia menemui
babak baru yang justru semakin lebih besar.

Pemilu 2019 adalah puncak tertinggi dari segala bentuk sentimental politik yang semakin
beragam, namun masih terdapat pola yang sama dari sebelumnya. Kontestasi Pemilu Presiden
2014 kembali terulang ketika Joko Widodo harus dipetemukan dengan Prabowo Subianto
sebagai rivalnya.

Psikologi secara sosial baik ekstern (lingkungan sosial, fisik, peristiwa-peristiwa, gerakan massa)
mau pun intern (fisik, perorangan, emosi) dapat diamati dari tokoh dengan pengaruh kuat
tersebut. Pada masa ini, seakan terjadi 'cuci otak' dalam indoktrinasi politik yang membuat
proses-proses politik lainnya menjadi terpengaruh (Budiardjo, 1982).

Bermula dari media sosial yang kasus Ahok yang pidatonya diunggah ke Facebook oleh seorang
pengguna dengan nama Buni Yani, memicu perdebatan dan gejolak amarah pada masyarakat.

Komunikasi para aktor politik dalam ranah internet, terutama media sosial, menjadi salah satu
faktor dalam penilaian kualitas aktor politik tersebut. Melalui media sosial, mereka dapat saja
disanjung, dikritik, bahan candaan, atau objek caci maki publik (Anshari, 2013). Gerbang maya
ini menghubungkan masyarakat secara luas mengenai berkomunikasi secara tidak langsung
dengan aktor-aktor politik.

Penyampaian komunikasi yang dilakukan Ahok sendiri membuat dirinya dicaci dan dibenci oleh
mereka yang beragama Islam dan merasa bahwa agama mereka telah dinistakan. Media sosial
telah mengaburkan pemahaman orang, apakah yang dikatakan tersebut merupakan sikap resmi
atau hanya ungkapan pemikiran atau perasaan dia sebagai pribadi. Sikap resmi atau institutional
rhetoric dan ungkapan pribadi atau everyday talk sering tumpang tindih (Finet, 2001).

Seringkali kita menemui banyaknya berita yang lalu lalang di internet, terutama media sosial
yang lalu lalang tidak tanpa ada penyaring. Penyebaran-penyebaran dari praktik-praktik politik
berupa konten tekstual, gambar, video, dan suara, banyak sekali yang termasuk di dalam arus
dunia maya tersebut. Tidak adanya hukum kuat yang membatasi peredaran konten di dunia maya
tersebut pada akhirnya membuat situasi yang sangat tidak dapat diduga.

Hoaks adalah salah satu bentuk propaganda politik yang menjadi senjata andalan pihak-pihak
yang tidak bertanggung jawab guna memperkeruh suasana. Pihak-pihak ini berusaha untuk
membuat jurang selebar mungkin untuk membuat kedua kubu saling berseberangan dan
bermusuhan. Narasi-narasi yang tersebar, baik berita dari masing-masing kubu hampir tidak
pernah lepas dari jerat hoaks tersebut. Bahkan, elit-elit politik yang seharusnya menjadi model
peran dalam menerapkan etika berpolitik pada nyatanya tetap ada yang terjerat kasus yang
demikian (Paat, 2016).

Tokoh elit politik dinilai tidak bijak apabila terjerat dan terlibat langsung dengan pusaran hoaks.
Seakan menjadi sebuah batu yang dilempar ke dalam kubangan, hal tersebut hanya membuatnya
menjadi keruh. Kondisi terhadap masyarakat menjadi sangat kacau dengan model peran yang
melakukan tindakan politik kotor. Tak heran bila kegaduhan dalam jagad maya menjadi
konsekuensi dari perbuatan pihak-pihak terkait.

Faktor dari aktor politik memberi pengaruh yang begitu besar secara langsung terhadap
masyarakat. Munculnya dikotomi dalam ranah politik ketika pada masa-masa tensi politik,
membuat masyarakat terbagi menjadi beberapa kelompok berdasar pilihan politik dan preferensi
berdasar agama, suku, dan ras. Sebut saja fenomena munculnya 'cebong' dan 'kampret'.
1.Disentegrasi

Adanya disintegrasi sosial dalam cara pandang dan pilihan politik ini dianggap sama sekali tidak
menghasilan sebuah gagasan baru, bahkan cenderung memperburuk perpolitikan dalam
masyarakat (Stefanie, 2018).

Fenomena yang awalnya hanya dari sekedar beradu tagar dan slogan di media sosial ini,
berujung pada pelabelan satu kubu terhadap kubu lain hingga terbawa ke dalam kehidupan
bermasyarakat.Padahal, hal seperti ini sudah berusaha untuk diredam oleh tokoh agama dan
tokoh masyarakat (Abdullah Hamid, 2018) Sering kali perpecahan akibat perbedaan politik dan
pelabelan ini memicu disintegrasi baik keluarga, kolega, dan masyarakat.

Adanya perbedaan politik ini justru dianggap sebagai bentuk pecah belah gaya baru, terlebih para
aktor politik juga tidak tidak dapat berbuat banyak untuk mencegah hal tersebut
terjadi.Perbedaan politik yang tersulut dan bermula dari informasi dunia maya ini akhirnya juga
merambah ke dunia nyata. Masyarakat yang dihadapkan dengan dikotomi dan pelabelan dalam
cara memandang pilihan politik menjadi sebuah ketegangan dalam tingkat yang berbeda.

Perang tagar dan tulisan yang tersebar luas dan beraturan di dunia maya terwujud dalam setiap
gerakan yang justru semakin membuat disintegrasi semakin kuat. Sebagai contoh kecil,
terkadang dalam keluarga masing-masing anggota pasti memiliki pilihan sendiri. Tak jarang
anggota keluarga yang berseberangan dalam pilihan politiknya berubah menjadi musuh dan
seakan ikatan keluarga sudah tidak berarti.

Contoh-contoh dari lingkungan kecil ini juga memberi indikasi bentuk-bentuk disintegrasi dapat
muncul dari sebuah hubungan yang intim dan eksklusif seperti keluarga. Hal ini juga dapat
merambah dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih luas dengan cara pandang politik yang
majemuk.Potensi-potensi konflik kerap terjadi menjelas diadakannya pemilu. Hal ini diperparah
dengan persebaran hoaks yang sama sekali tak terkendali dan sulit dicegah (Halim, 2018).

Pergerakan massa dalam melakukan segala kegiatan berpolitik juga cenderung tak terkendali,
terutama bagi setiap individu. Diskriminasi politik menjadi salah satu gambarang yang jarang
terlihat karena memang hal ini lebih sering tersebar melalui mulut ke mulut.

Hal sesederhana ini menunjukkan dikotomi yang merugikan setiap pihak tanpa terkecuali.
Kehidupan berpolitik masyarakat menjadi tidak tenang ketika bentuk-bentuk diskriminasi dan
persekusi membungkan setiap bentuk ekpresi berpolitik mereka. Ketidakamanan dalam
mengekspresikan antusiasme politik jelas mencederai nilai-nilai etika berpolitik dan memicu
konflik secara horizontal.

Puncak dari deretan konflik yang terjadi selama masa-masa tersebut terkeam jelas dengan adanya
Aksi Bela Islam dengan demo dan aksi damai yang sampai berjilid-jilid dan aksi demontrasi
berujung rucuh berembel Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat. Aksi-aksi dengan pengerahan
massa tersebut memang jelas berbeda dalam pelaksaannya meski tampak jelas sebagai bentuk
dikotomi. Namun, potensi konflik terjadi dan paling parah terjadi pada aksi ricuh di depan kantor
Bawaslu pada 21-22 Mei 2019.

Hal ini sebagai tahap lanjut dari disintegrasi yang terjadi pada masyarakat akibat perbedaan
politik. Konflik-konflik yang demikian tidak hanya memicu mereka yang berada di lokasi, tetapi
bagi mereka yang mengetahui informasi tersebut dari tempat lain. tersebut menjadi sebuah
pemicu bagi gerakan lainnya yang berada di luar lokasi kejadian. Hal tersebut sangat
mengkhawatirkan mengingat potensi yang sama juga dapat terjadi di daerah lainnya.

Perbedaan politik sudah menjadi hal lumrah bagi setiap negara yang menganut demokrasi
sebagai bentuk pemerintahan. Setiap orang bebas untuk mengekspresikan pilihan
berpolitiknya. Namun, dengan adanya perbedaan dalam berpolitik tidak lantas menjadikannya
sebagai sebuah dikotomi yang justru membawa pada disintegrasi. Bentuk konflik secara
horizontal mau pun vertikal mengintai setiap saat.Menjadi tugas bagi setiap pihak untuk dapat
menjaga keutuhan dalam memandang setiap pandangan politik agar tercipta integrasi yang
sinergis dalam kehidupan berpolitik di masyarakat.

B.Penyebab

Bermula pada kasus pidato penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok pada tahun
2016 yang kemudian viral di berbagai media membuat sebuah celah dalam memicunya gesekan
sumbu-sumbu primordial dalam masyarakat. Puncaknya, terjadi pada Pilkada Serentak tahun
2017 yang menjadi titik balik di mana perpolitikan Indonesia kembali mencuatkan isu-isu
primordial terhadap politik identitas agama dan suku atau etnis (Fathoni, 2017).

Tensi yang memanas ini memicu potensi-potensi terjadinya konflik yang berkelanjutan, baik
secara actus reus dan mens rea. Pada tahun-tahun pemilu yang memanas sejak 2017-2019, tensi
yang berkembang dalam politik Indonesia lebih sering terlatar belakangi oleh isu primordial,
terutama isu agama.Sudah sejak lama agama menjadi sebuah alasan yang jelas mencoba
menciptakan perdamaian, namun ironinya juga sering menjadi katalis dalam menciptakan
konflik (Cortright, 2008).

Dan Faktor dari aktor politik memberi pengaruh yang begitu besar secara langsung terhadap
masyarakat. Munculnya dikotomi dalam ranah politik ketika pada masa-masa tensi politik,
membuat masyarakat terbagi menjadi beberapa kelompok berdasar pilihan politik dan preferensi
berdasar agama, suku, dan ras. Sebut saja fenomena munculnya 'cebong' dan 'kampret'.

C.Penyelesaian

Penyelesaiain ini diusulkan oleh Badan pengawas pemilihan umum RI ,dengan menggelar rapat
kerja teknis(Rakernis),acara ini diikuti 309 peserta dari Badan pengawas pemilihan umum
kabupaten/kota dan kordinator divisi,penyelesaian ini bertujuan memberikan kemampuan dan
kemahiran kepada para peserta dalam proses penyelesaian pemilu,yakni mencari titik temu dari
persoalan yang diajukan sebelum masuk proses pesidangan.
Daftar Pustaka

https://nasional.kompas.com/read/2018/08/29/23592811/potensi-konflik-akibat-pemilu-
terancam-meningkat-karena-hoaks

https://www.beritasatu.com/nasional/406921/kelompok-elit-maikan-isu-hoaks

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180709153148-32-312746/cebong-dan-kampret-
sinisme-dua-kubu-nihil-gagasan
Tugas Kewarganegaraan

KASUS

Disentergasi

(konflik dalam perbedaan politik Pilkada serentak

dan pemilu 2019)

OLEH
REGINA VIRATIKA
201601131

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
WIDYA NUSANTARA PALU
2019