Anda di halaman 1dari 49

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Nama : Ananto Windha Pratiwi, S.Ked.

NIM : K1A1 15 051

Judul Laporan : Upaya Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Pasien dengan


Diare

Telah menyelesaikan tugas laporan dalam rangka kepanitraan klinik pada Bagian
Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran
Universitas Halu Oleo.

Kendari, April 2019

Mengetahui,
Pembimbing

Dr. dr. Asriati, M.Kes


NIP. 1970050112002122007
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare merupakan keluhan yang sering dijumpai pada orang dewasa.


Diperkirakan pada orang dewasa setiap tahunnya mengalami diare atau
gastroenteritis sebanyak 99 juta kasus. Di Amerika Serikat, diperkirakan 8 juta
pasien berobat ke dokter dan lebih dari 250 ribu pasien dirawat di rumah sakit
tiap tahun (1,5% merupakan pasien dewasa) yang disebabkan karena diare
atau gastroenteritis. Kematian yang terjadi, kebanyakan berhubungan dengan
kejadian diare pada anak-anak atau usia lanjut, dimana kesehatan pada usia
pasien tersebut rentang terhadap dehidrasi sedang-berat. Frekuensi kejadian
diare pada Negara-negara berkembang termasuk Indonesia lebih banyak 2-3
kali dibandingkan Negara maju (Simadibrata dan Daldiyono, 2014).
Penyakit diare di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat karena mordibilitasnya cenderung meningkat, dari hasil survey
mordibilitas yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI tahun 2000
diketahui bahwa kasus diare di masyarakat sebesar 301 per 1000 penduduk,
tahun 2003 sebesar 374 per 1000 penduduk, tahun 2006 sebesar 423 per 1000
penduduk. Kejadian Luar Biasa (KLB) masih sering terjadi, tahun 2008 terjadi
49 KLB dengan dengan jumlah penderita 8133, kematian 239, tahun 2009
terjadi 23 KLB dengan jumlah penderita 5734, kematian 98 (Kemenkes RI,
2011).
Kematian balita karena penyakit diare juga masih sangat tinggi di
Indonesia, bahkan sejak tahun 2001 terlihat terjadi peningkatan angka
kematian balita karena penyakit diare, dari data SKRT 2001 sebesar 13%,
studi mortalitas 2005 sebesar 15,3% dan Riskesdas 2007 sebesar 25,2%. Sama
halnya dengan kematian bayi karena diare juga meningkat, SKRT 2001
sebesar 9%, studi mortalitas 2005 sebesar 9,1% dan Riskesdas 2007 sebesar
42% (Kemenkes RI, 2011). Dari hasil Riskesdas tahun 2018 prevalensi
nasional kejadian diare di Indonesia dialami oleh semua umur, namun
prevalensi tertinggi penyakit diare diderita oleh balita yaitu sebesar 11%
meningkat dari tahun 2013 yaitu sebesar 2,4% (Riskesdas, 2018).
Sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang
terjadi karena infeksi seluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat
menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan
akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan keseimbangan
asam basa. Invasi dan destruksi sel epitel, serta kerusakan mikrovili dapat
menimbulkan keadaan maldiges dan malabsorpsi. Bila tidak mendapatkan
penanganan yang adekuat pada akhirnya dapat mengalami invasi sistemik
(Depkes RI, 2009).
Banyak kematian diare disebabkan oleh dehidrasi. Secara umum
penanganan diare ditujukan untuk mencegah atau menanggulangi dehidrasi
serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan
terjadinya intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan
menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta
(WHO,1995).
Untuk melaksanakan terapi diare secara komprehensif, efisien dan
efektif harus dilakukan secara rasional. Berdasarkan perkembangan telah
ditemukan bahwa dehidrasi akibat diare dari setiap etiologi dan pada usia
berapa pun, kecuali bila parah, dapat dengan aman dan secara efektif diobati
dengan metode sederhana oral rehidrasi menggunakan cairan tunggal pada
lebih dari 90% kasus. Glukosa dan beberapa campuran garam yang dikenal
sebagai Garam Rehidrasi Oral (Oral Rehidration Salts/ORS atau oralit) yang
dilarutkan dalam air untuk membentuk larutan ORS atau oralit. Larutan ORS
diserap di usus kecil bahkan selama terjadi diare yang berlebihan, sehingga
menggantikan air dan elektrolit yang hilang dalam tinja. Pemberian cairan
intravena diperlukan jika terdapat kegagalan oleh karena tingginya frekuensi
diare, muntah yang tak terkontrol dan terganggunya masukan oral oleh karena
infeksi (WHO,1995). Pengendalian diare lain yang telah dilakukan yaitu
pemberian zinc, berdasarkan studi WHO membuktikan bahwa pemberian zinc
kepada penderita diare dapat mengurangi prevalensi diare sebesar 34%,
mengurangi jangka waktu diare akut sebesar 20%, mengurangi jangka waktu
diare persisten sebesar 24% dan dapat mencegah kegagalan terapi atau
kematian akibat terapi diare persisten sebesar 42% (Kemenkes RI, 2011).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis mengangkat kasus
ini sebagai pembelajaran dalam upaya pendekatan kedokteran keluarga yang
bersifat holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan terhadap
penanganan pasien dengan permasalahan penyakit diare.
B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Melakukan pendekatan kedokteran keluarga terhadap pasien diare dan

keluarganya untuk mewujudkan keadaan sehat di Kelurahan Lapulu,

Kecamatan Abeli, Kota Kendari.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui karakteristik (fungsi keluarga, bentuk keluarga, dan siklus

keluarga) keluarga pasien diare.

b. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah

kesehatan pada pasien diare dan keluarganya.

c. Mendapatkan pemecahan masalah kesehatan pasien diare dan

keluarganya.

C. Manfaat

1. Bagi Penulis

Menambah pengetahuan penulis tentang kedokteran keluarga, serta

penatalaksanaan diare dengan pendekatan kedokteran keluarga.


2. Bagi Tenaga Kesehatan

Sebagai bahan masukan kepada tenaga kesehatan agar setiap memberikan

penatalaksanaan kepada pasien diare dilakukan secara haolistik dan

komprehensif serta mempertimbangkan aspek keluarga dalam proses

penyembuhan.

3. Bagi Pasien dan Keluarga

Memberikan informasi kepada pasien dan keluargamya bahwa keluarga

juga memiliki peranan yang cukup penting dalam kesembuhan pasien.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Diare
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair
atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari
biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. Definisi lain menggunakan
kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang
air besar encer tersebut dapat atau tanpa disertai lendir, darah atau pus. Bila
diare berlangsung kurang dari 2 minggu, disebut sebagai diare akut. Apabila
diare berlangsung 2 minggu atau lebih, digolongkan pada diare kronik.
Sedangkan menurut World Gastroenterology Organisation global guidelines
2005, diare akut didefinisikan sebagai pasase tinja yang cair atau lembek
dengan jumlah lebih banyak dari normal, berlangsung kurang dari 14 hari
(Simadibrata dan Daldiyono, 2014).
B. Epidemiologi Diare
Diare akut merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan
mortalitas pada anak di berbagai negara khususnya berkembang. Berdasarkan
data World Health Organization (WHO) ada 2 milyar kasus diare pada orang
dewasa di seluruh dunia setiap tahun. Di Amerika Serikat, insidens kasus diare
mencapai 200 juta hingga 300 juta kasus per tahun. Sekitar 900.000 kasus
diare perlu perawatan di rumah sakit. Di seluruh dunia, sekitar 2,5 juta kasus
kematian karena diare per tahun. Di Amerika Serikat, diare terkait mortalitas
tinggi pada lanjut usia. Satu studi data mortalitas nasional melaporkan lebih
dari 28.000 kematian akibat diare dalam waktu 9 tahun, 51% kematian terjadi
pada lanjut usia. Selain itu, diare masih merupakan penyebab kematian anak di
seluruh dunia, meskipun tatalaksana sudah maju (Amin, 2015).
Prevalensi nasional kejadian diare pada tahun 2018, penderita diare di
Indonesia dialami oleh semua umur, namun prevalensi tertinggi penyakit diare
diderita oleh balita yaitu sebesar 11% meningkat dari tahun 2013 yaitu sebesar
2,4%. Di provinsi Sulawesi Tenggara prevalensi diare tahun 2018 pada balita
sebesar 8% dibawah prevalensi nasional dan meningkat dari tahun 2013 yaitu
sebesar 4% (Riskesdas, 2018). Berbagai faktor yang mempengaruhi kejadian
diare antara lain (Irwanto, 2010) :
1. Faktor lingkungan, yaitu kebersihan lingkungan dan perorangan seperti
kebersihan puting susu, kebersihan botol dan dot susu, maupun kebersihan
air yang digunakan untuk mengolah susu dan makanan.
2. Faktor gizi, misalnya adalah tidak diberikannya makanan tambahan
meskipun anak telah berusia 4-6 bulan.
3. Faktor pendidikan, yaitu pengetahuan ibu tentang masalah kesehatan.
4. Faktor kependudukan, insiden diare lebih tinggi pada penduduk perkotaan
yang padat dan miskin atau kumuh.
5. Faktor perilaku orangtua dan masyarakat, misalnya adalah kebiasaan ibu
yang tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, setelah buang
air besar atau membuang tinja anak.
C. Etiologi Diare
Diare akut disebabkan oleh banyak penyebab antara lain infeksi (virus,
bakteri, parasit, Fungus), keracunan makanan, efek obat-obatan dan lain-lain :
1. Virus
Merupakan penyebab diare akut terbanyak pada anak (70-80%).
Beberapa jenis virus penyebab diare akut antara lain Rotavirus serotype 1,
2, 8, dan 9 pada manusia, Norwalk virus, Astrovirus, Adenovirus (tipe 40
dan 41), Small bowel structured virus, Cytomegalovirus (Amin, 2015).
2. Bakteri
Enterotoxigenic E.coli (ETEC), Enteropathogenic E.coli (EPEC),
Enteroaggregative E.coli (EAggEC), Enteroinvasive E.coli (EIEC),
Enterohemorrhagic E.coli (EHEC), Shigella spp., Campylobacter jejuni
(Helicobacter jejuni), Vibrio cholerae 01, dan Vibrio choleare 0139,
Salmonella (non-thypoid) (Amin, 2015).
Enterotoxigenic E.coli (ETEC) mempunyai 2 faktor virulensi yang
penting yaitu faktor kolonisasi yang menyebabkan bakteri ini melekat pada
enterosit pada usus halus dan enterotoksin heat labile (HL) dan heat
stabile (ST) yang menyebabkan sekresi cairan dan elektrolit yang
menghasilkan watery diarrhea. ETEC tidak menyebabkan kerusakan
brush border atau menginvasi mukosa.
Enterophatogenic E.coli (EPEC) mekanisme terjadinya diare
belum jelas. Adanya proses perlekatan EPEC ke epitel usus menyebabkan
kerusakan dari membrane mikro vili yang akan mengganggu permukaan
absorbsi dan aktifitas disakaridase.
Enteroaggregative E.coli (EAggEC), bakteri ini melekat kuat pada
mukosa usus halus dan menyebabkan perubahan morfologi yang khas.
Bagaimana mekanisme timbulnya diare masih belum jelas, tetapi
sitotoksin mungkin memegang peranan.
Enteroinvasive E.coli (EIEC), secara serologi dan biokimia mirip
dengan Shigella. Seperti Shigella, EIEC melakukan penetrasi dan
multiplikasi didalam sel epitel kolon.
Enterohemorrhagic E.coli (EHEC) memproduksi verocytotoxin
(VT) 1 dan 2 yang disebut juga Shiga-like toxin yang menimbulkan edema
dan perdarahan diffuse di kolon. Pada anak sering berlanjut menjadi
hemolytic-uremic syndrome.
Shigella spp. menginvasi dan multiplikasi didalam sel epitel kolon,
menyebabkan kematian sel mukosa dan timbulnya ulkus. Shigella jarang
masuk kedalam alian darah. Faktor virulensi termasuk : smooth
lipopolysaccharide cell-wall antigen yang mempunyai aktifitas endotoksin
serta membantu proses invasi dan toksin (Shiga toxin dan Shiga-like toxin)
yang bersifat sitotoksik dan neurotoksik dan mungkin menimbulkan
watery diarrhea.
Campylobacter jejuni (helicobacter jejuni), manusia terinfeksi
melalui kontak langsung dengan hewan (unggas, anjing, kucing, domba
dan babi) atau dengan feses hewan melalui makanan yang terkontaminasi
seperti daging ayam dan air. Kadang-kadang infeksi dapat menyebar
melalui kontak langsung person to person. C.jejuni mungkin
menyebabkan diare melalui invasi kedalam usus halus dan usus besar. Ada
2 tipe toksin yang dihasilkan, yaitu cytotoxin dan heat-labile enterotoxin.
Perubahan histopatologi yang terjadi mirip dengan proses ulcerative
colitis.
Vibrio cholerae 01 dan Vibrio choleare 0139 air atau makanan
yang terkontaminasi oleh bakteri ini akan menularkan kolera. Penularan
melalui person to person jarang terjadi. Vibrio cholerae melekat dan
berkembang biak pada mukosa usus halus dan menghasilkan enterotoksin
yang menyebabkan diare. Toksin kolera ini sangat mirip dengan heat-
labile toxin (LT) dari ETEC.
Salmonella (non thypoid) dapat menginvasi sel epitel usus.
Enterotoksin yang dihasilkan menyebabkan diare. Bila terjadi kerusakan
mukosa yang menimbulkan ulkus, akan terjadi bloody diarrhea
(Simadibrata dan Daldiyono, 2007).
3. Parasit
Adapun parasit penyebab terjadinya diare terbagi dua yaitu
golongan protozoa dan helmintes (cacing).
a. Protozoa: Entemoeba histolytica, Giardia lamblia, Cryptosporidium
parvum, Balantidium coli.
Giardia lamblia, parasit ini menginfeksi usus halus.
Mekanisme patogensis masih belum jelas, tapi dipercayai
mempengaruhi absorbsi dan metabolisme asam empedu. Transmisi
melalui fecal-oral. Interaksi host-parasit dipengaruhi oleh umur, status
nutrisi,endemisitas, dan status imun. Di daerah dengan endemisitas
yang tinggi, giardiasis dapat berupa asimtomatis, kronik, diare
persisten dengan atau tanpa malabsorbsi. Di daerah dengan
endemisitas rendah, dapat terjadi wabah dalam 5-8 hari setelah
terpapar dengan manifestasi diare akut yang disertai mual, nyeri
epigastrik dan anoreksia. Kadang-kadang dijumpai malabsorbsi, nyeri
perut dan kembung.
Entamoeba histolytica, prevalensi disentri amoeba ini
bervariasi. Insidennya meningkat dengan bertambahnya umur, dan
banyak pada laki-laki dewasa. Kira-kira 90% infeksi asimtomatik yang
disebabkan oleh E.histolytica non patogenik (E.dispar). Amebiasis
yang simtomatik dapat berupa diare yang ringan dan persisten sampai
disentri yang fulminant.
Cryptosporidium parvum, di negara yang berkembang,
cryptosporidiosis 5-15% dari kasus diare pada anak. Infeksi biasanya
simtomatik pada bayi dan asimtomatik pada anak yang lebih besar dan
dewasa. Gejala klinis berupa diare akut dengan tipe watery diarrhea,
ringan dan biasanya self-limited (Simadibrata dan Daldiyono, 2007).
b. Helmintes: A.lumbrocoides, Cacing tambang, Trichuris trichiura,
S.strercoralis, cestodiasis dan lain-lain.
Strongyloides stercoralis, kelainan pada mukosa usus akibat
cacing dewasa dan larva, menimbulkan diare.
Schistosoma spp., cacing darah ini menimbulkan kelainan pada
berbagai organ termasuk intestinal dengan berbagai manifestasi,
termasuk diare dan perdarahan usus.
Capilaria philippinensis., cacing ini ditemukan di usus halus,
terutama jejunu, menyebabkan inflamasi dan atrofi vili dengan gejala
klinis watery diarrhea dan nyeri abdomen.
Trichuris trichuria., cacing dewasa hidup di kolon, caecum, dan
appendiks. Infeksi berat dapat menimbulkan bloody diarrhea dan nyeri
abdomen (Simadibrata dan Daldiyono, 2007).
4. Fungus
Jenis jamur yang dapat menyebabkan terjadinya diare meskipun
angka kejadian yang sedikit ialah Kandida/moniliasis (Simadibrata dan
Daldiyono, 2007).
5. Parenteral
a. Otitis Media Akut (OMA), pneumonia, Traveler’s diarrhea: E.coli,
Giardia lamblia, Shigella, Entamoeba histolytica dan lain-lain.
b. Makanan :
1) Intoksikasi makanan: makanan beracun atau mengandung logam
berat, makanan mengandung bakteri atau toksin: Clostridium
perfringens, B.cereus, S.aureus, Streptococcus anhaemoliticus
lyticus dan lain-lain.
2) Alergi: susu sapi, makanan tertentu.
3) Malabsorbsi atau maldigesti: karbohidrat, monosakarida (glukosa,
laktosa, galaktosa), disakarida (sakarosa, laktosa), lemak rantai
panjang trigliserida, protein asma amino tertentu, protein
intolerance, cows milk, vitamin dan mineral.
4) Imunodefisiensi: hipogmaglobulinemia, panhipogamaglobuli-
nemia (Bruton), penyakit grnaulomatose kronik, defisiensi IgA,.
5) Terapi obat, antibiotik, kemoterapi, antasida dan lain-lain.
6) Tindakan tertentu seperti gastektomi, gastroenterostomi, dosis
tinggi terapi radiasi.
7) Lain-lain: sindrom Zollinger-Ellison, neuropati autonomik
(neuropati diabetik) (Simadibrata dan Daldiyono, 2007).
D. Klasifikasi Diare
Diare dapat diklasifikasikan berdasarkan (Simadibrata dan Daldiyono,
2007) :
1. Lama waktu diare: akut atau kronik
2. Mekanisme patofisiologis: osmotik atau sekretorik
3. Berat ringan diare: kecil atau besar
4. Penyebab infeksi atau tidak: infeksi atau non-infeksi
5. Penyebab organik atau tidak: organik atau fungsional
E. Patogenesis Diare
1. Virus
Beberapa jenis virus seperti Rotavirus, berkembang biak dalam
epitel vili usus halus, menyebabkan kerusakan sel epitel dan pemendekan
vili. Hilangnya sel-sel vili yang secara normal mempunyai fungsi absorbsi
dan penggantian sementara oleh sel epitel berbentuk kripta yang belum
matang, menyebabkan usus mensekresi air dan elekrolit. Kerusakan vili
dapat juga dihubungkan dengan hilangnya enzim disakaridase terutama
laktase. Penyembuhan terjadi bila vili mengalami regenerasi dan epitel
vilinya menjadi matang (Depkes RI, 2009).
2. Bakteri
a. Penempelan di Mukosa
Bakteri yang berkembang biak dalam usus halus pertama-tama
harus menempel mukosa untuk menghindarkan diri dari penyapuan.
Penempelan terjadi melalui antigen yang menyerupai rambut getar,
disebut pili atau fimbria yang melekat pada reseptor di permukaan
usus. Hal ini terjadi misalnya pada E. coli enterotoksigenik dan V.
Cholera 01. Pada beberapa keadaan, penempelan di mukosa
dihubungkan dengan perubahan epitel usus yang menyebabkan
pengurangan kapasitas penyerapan atau menyebabkan sekresi cairan
(misalnya infeksi E. coli enteropatogenik atau enteroaggrerasi)
(Depkes RI, 2009).
b. Toksin yang Menyebabkan Sekresi
E. coli enterotoksigenik, V. cholerae 01, dan beberapa bakteri
lain mengeluarkan toksin yang menghambat fungsi sel epitel. Toksin
ini mengurangi absorbsi natrium melalui vili dan mungkin
meningkatkan sekresi chlorida dari kripta, yang menyebabkan sekresi
air dan elektrolit. Penyembuhan terjadi bila sel yang sakit diganti
dengan sel yang sehat setelah 2-4 hari (Depkes RI, 2009).
c. Invasi Mukosa
Shigella, C. jejuni, E. coli enteroinvasife dan Salmonella dapat
menyebabkan diare berdarah melalui invasi dan perusakan sel epitel
mukosa. Ini terjadi sebagian besar di colon dan bagian distal ileum.
Invasi mungkin diikuti dengan pembentukan mikroabses dan ulkus
superfisial yang menyebabkan adanya sel darah merah dan sel darah
putih atau terlihat adanya darah dalam tinja. Toksin yang dihasilkan
oleh kuman ini menyebabkan kerusakan jaringan dan kemungkinan
juga sekresi air dan elektrolit dari mukosa E. coli enterotoksigenik, V.
cholerae 01, dan beberapa bakteri lain mengeluarkan toksin yang
menghambat fungsi sel epitel. Toksin ini mengurangi absorbsi natrium
melalui vili dan mungkin meningkatkan sekresi chlorida dari kripta,
yang menyebabkan sekresi air dan elektrolit. Penyembuhan terjadi bila
sel yang sakit diganti dengan sel yang sehat setelah 2-4 hari (Depkes
RI, 2009).
3. Parasit
a. Penempelan Mukosa
G. lamblia dan Cryptosporodium menempel pada epitel usus
halus dan menyebabkan pemendekan vili yang kemungkinan
menyebabkan diare (Depkes RI, 2009).
b. Invasi Mukosa
E. histolytica menyebabkan diare dengan cara menginvasi
epitel mukosa di kolon atau ileum yang menyebabkan mikroabses dan
ulkus. Namun hal ini baru terjadi bila strainnya sangat ganas (Depkes
RI, 2009).
4. Obat-obatan
Beberapa macam obat terutama antibiotik dapat juga menjadi
penyebab diare. Antibiotik agaknya membunuh flora normal usus sehigga
organisme yang tidak biasa atau yang kebal terhadap antibiotik itu sendiri
akan berkembang bebas. Disamping itu sifat farmakokinetik dari antibiotik
itu sendiri juga memegang peran penting. Sebagai contoh ampisilin dan
klindamisin adalah antibiotik yang dikeluarkan di dalam empedu yang
merubah flora tinja secara intesif walaupun diberikan secara parental.
Antibiotik juga bisa menyebabkan malabsorbsi, misalnya tetrasiklin,
kanamisin, basitrasin, polmiksin, dan neomisin (Irwanto, 2010).
F. Patofisiologi Diare
Ada 2 prinsip mekanisme terjadinya diare yaitu sekretorik dan
osmotik.
1. Diare Sekretorik
Diare sekretorik disebabkan karena sekresi air dan elektrolit ke
dalam usus halus. Hal ini terjadi bila absorbsi natrium oleh vili gagal
sedangkan sekresi klorida di sel epitel berlangsung terus atau meningkat.
Hasil akhirnya adalah sekresi cairan yang menebabkan kehilangan air dan
elektrolit dari tubuh sebagai tinja cair yang dapat menyebabkan dehidrasi.
Pada diare infeksi perubahan ini terjadi karena adanya rangsangan pada
mukosa usus oleh toksin bakteri seperti toksin E.coli dan V. cholerae 01
atau virus (Rotavirus) (Mansjoer dkk, 2008).
2. Diare Osmotik
Diare osmotik terjadi bila suatu bahan yang secara osmotik aktif
dan sulit diserap. Jika bahan semacam itu berupa larutan isotonik, air dan
bahan yang larut di dalamnya akan lewat tanpa diabsorbsi sehingga terjadi
diare. Bila substansi yang diabsorbsi dengan jelek berupa larutan
hipertonik, air dan beberapa elektrolit akan pindah dari cairan ekstraseluler
ke dalam lumen usus sampai osmolaritas dari isi usus sama dengan cairan
ekstraseluler dan darah. Hal ini meningkatkan volume tinja dan
menyebabkan dehidrasi karena kehilangan cairan tubuh. Pada diare akan
terjadi kekurangan air (dehidrasi), gangguan keseimbangan asam basa
(asidosis metabolik), yang secara klinis berupa pernafasan kusmaul,
hipoglikemia, gangguan gizi, dan gangguan sirkulasi (Mansjoer dkk,
2008).
G. Manifestasi Klinis Diare
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah dan atau
demam, tenesmus, hematochezia, nyeri perut atau kejang perut. Diare yang
berlangsung beberapa saat tanpa penanggulangan medis adekuat dapat
menyebabkan kematian karena kekurangan cairan tubuh yang mengakibatkan
renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa asidosis
metabolik lanjut (Amin, 2015).
Kehilangan cairan menyebabkan haus, berat badan berkurang, mata
cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun, serta suara
serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan deplesi air yang isotonic (Amin,
2015).
Kehilangan bikarbonat akan menurunkan pH darah. Penurunan ini
akan merangsang pusat pernapasan, sehingga frekuensi napas lebih cepat dan
lebih dalam (Kussmaul). Reaksi ini adalah usaha tubuh untuk mengeluarkan
asam karbonat agar pH dapat naik kembali normal (Amin, 2015).
Gangguan kardiovaskuler pada hipovolemia berat dapat berupa
renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat, tekanan darah menurun sampai
tidak terukur. Pasien mulai gelisah, wajah pucat, ujung-ujung ekstremitas
dingin, dan kadang sianosis. Kehilangan kalium juga dapat menimbulkan
aritmia jantung (Amin, 2015).
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun
dan akan timbul anuria, bila tidak segera diatasi akan timbul penyulit berupa
nekrosis tubulus ginjal akut, yang berarti gagal ginjal akut. Bila keadaan
asidosis metabolik menjadi lebih berat, akan terjadi pemusatan sirkulasi paru-
paru dan dapat menyebabkan edema paru pada pasien yang menerima
rehidrasi cairan intravena tanpa alkali (Amin, 2015).
Terdapat 4 macam tipe klinis diare, dimana tiap macam
menggambarkan kelainan yang mendasari dan perubahan fisiologi yang
berbeda (WHO, 1995) :
1. Diare cair akut (termasuk kolera), berlangsung selama beberapa jam atau
hari, mempunyai bahaya utama yaitu dehidrasi dan penurunan berat badan
juga dapat terjadi jika makan tidak dilanjutkan.
2. Diare akut berdarah yang juga disebut disentri, mempunyai bahaya utama
yaitu kerusakan mukosa usus, sepsis dan malnutrisi, komplikasi lain yang
dapat terjadi seperti dehidrasi.
3. Diare persisten, yang berlangsung selama 14 hari atau lebih, bahaya
utamanya adalah malnutrisi dan infeksi non-intestinal serius dan dehidrasi.
4. Diare dengan malnutrisi berat (marasmus atau kwashiorkor) mempunyai
bahaya utama adalah infeksi sistemik yang parah, dehidrasi, gagal jantung
dan kekurangan vitamin dan mineral.
H. Diagnosis Diare
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesis (WHO,1995)
a. Riwayat diare sekarang :
1) Sudah berapa lama diare berlangsung
2) Total diare dalam 24 jam, diperkirakan dari frekuensi diare dan
jumlah tinja
3) Keadaan klinis tinja (warna, konsistensi, ada lendir atau darah)
4) Muntah (frekuensi dan jumlah)
5) Demam
6) Buang air kecil terakhir
7) Anak lemah, rewel, rasa haus, kesadaran menurun
8) Jumlah cairan yang masuk selama diare
9) Tindakan yang telah diambil (diberi cairan, ASI, makanan, obat,
oralit)
10) Apakah ada yang menderita diare di sekitarnya.
11) Riwayat bepergian ke daerah yang sedang terkena wabah diare
12) Kontak dengan orang yang sakit
13) Penggunaan antibiotik
b. Riwayat diare sebelumnya : kapan, berapa lama
c. Riwayat penyakit penyerta saat ini
d. Riwayat imunisasi : lengkap atau tidak
e. Riwayat makanan sebelum diare : ASI, susu formula, makan makanan
yang tidak biasa.
2. Pemeriksaan Fisis (WHO, 1995)
Pertama, periksa tanda-tanda dan gejala dehidrasi. Cari tanda-tanda
berikut :
a. Inspeksi
1) Kondisi umum: gelisah atau pemarah, lesu atau tidak sadar
2) Mata Apakah normal atau cekung
3) Ketika air atau larutan oralit ditawarkan untuk minum, apakah
diambil atau ditolak, diambil dengan penuh semangat, atau anak
tidak bisa minum karena kelesuan atau tidak sadar
4) Periksalah tanda-tanda masalah penting lainnya. Cari tanda-tanda
ini :
a) Apakah anak kekurangan gizi. Buka seluruh pakaian bagian
atas anak untuk melihat bahu, lengan, bokong dan paha, untuk
bukti dari tanda berkurangnya otot (marasmus).
b) Apakah anak batuk. Jika demikian, hitung jumlah pernapasan
untuk menentukan apakah pernapasannya cepat dan mencari
tidak simetris.
c) Periksa suhu anak. Demam dapat disebabkan oleh dehidrasi
parah, atau oleh infeksi non-intestinal seperti malaria atau
pneumonia.
b. Palpasi
1) Turgor kulit dan tanda lainnya. Ketika kulit di atas perut dicubit
dan dilepaskan, segera merata, perlahan-lahan, atau sangat lambat
(lebih dari 2 detik).
2) Periksalah tanda-tanda masalah penting lainnya. Cari tanda-tanda :
a) Apakah tinja anak mengandung darah merah
b) Apakah anak kekurangan gizi. Carilah tanda untuk edema pada
kaki, jika ada disertai pengurangan otot, artinya anak menderita
gizi buruk. Jika memungkinkan, nilai berat badan anak untuk
umur, dengan menggunakan grafik pertumbuhan, atau berat
badan untuk panjang badan atau mengukur lingkar lengan.
c. Auskultasi
1) Peristaltik usus dan tanda lainnya. Periksalah peristaltic usus
selama 1 menit, apakah peristaltic usus meningkat atau masih
dalam batas normal.
2) Periksalah tanda-tanda masalah penting lainnya. Cari tanda-tanda
ini : apakah anak batuk. Jika demikian, dengarkanlah sura
pernapasan apakah ada ronkhi atau tidak.
Penilaian Dehidrasi Menurut MTBS (Depkes RI, 2009)
Terdapat 2 atau lebih dari tanda-tanda berikut ini :
 Letargi atau tidak sadar
 Mata cekung Dehidrasi berat
 Tidak bisa minum atau malas minum
 Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat
Terdapat 2 atau lebih tanda-tanda berikut ini :
 Gelisah, rewel
Dehidrasi
 Mata cekung
ringan/sedang
 Haus, minum dengan lahap
 Cubitan kulit perut kembalinya lambat
Tidak cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan Tanpa
dehidrasi berat atau ringan atau sedang dehidrasi
3. Pemeriksaan Penunjang (Mansjoer, 2008).
a. Pemeriksaaan tinja
1) Makroskopis: bau, warna, lendir, darah, konsistensi
2) Mikroskopis: eritrosit, lekosit, bakteri, parasit
3) Kimia: PH, clinitest, elektrolit (Na, K, HCO3)
4) Biakan dan uji sensitivitas.
b. Pemeriksaan darah: darah lengkap, analisis gas darah dan elektrolit
(terutama Na, K, Ca, dan P serum pada diare yang disertai kejang),
kadar urum dan kreatinin darah.
c. Pemeriksaan urin : urin rutin.
I. Penatalaksanaan Diare
Departemen Kesehatan mulai melakukan sosialisasi Panduan Tata
Laksana Pengobatan diare pada balita yang baru didukung oleh Ikatan
Dokter Anak Indonesia, dengan merujuk pada panduan WHO. Rehidrasi
bukan satu-satunya strategi dalam penatalaksanaan diare. Memperbaiki
kondisi usus dan menghentikan diare juga menjadi cara untuk mengobati
pasien. Untuk itu, Departemen Kesehatan menetapkan lima pilar
penatalaksanaan diare bagi semua kasus diare yang diderita anak baik yang
dirawat di rumah maupun sedang dirawat di rumah sakit, yaitu (Soebagyo,
2013) :
1. Rehidrasi
Pengantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting
dalam terapi efektif diare akut. Beratnya dehidrasi secara akurat dinilai
berdasarkan berat badan yang hilang sebagai persentasi kehilangan total
berat badan dibandingkan berat badan sebelumnya sebagai baku emas.
Pemberian terapi cairan dapat dilakukan secara oral atau
parateral. Pemberian secara oral dapat dilakukan untuk dehidrasi ringan
sampai sedang dapat menggunakan pipa nasogastrik, walaupun pada
dehidrasi ringan dan sedang. Bila diare profus dengan pengeluaran air
tinja yang banyak (> 100 ml/kgBB/hari) atau muntah hebat (severe
vomiting) sehingga penderita tak dapat minum sama sekali, atau
kembung yang sangat hebat (violent meteorism) sehingga upaya
rehidrasi oral tetap akan terjadi defisit maka dapat dilakukan rehidrasi
parenteral walaupun sebenarnya rehidrasi parenteral dilakukan hanya
untuk dehidrasi berat dengan gangguan sirkulasi. Keuntungan upaya
terapi oral karena murah dan dapat diberikan dimana-mana.
Rekomendasi cairan rehidrasi oral (ORS) untuk rehidrasi dengan kadar
natrium berkisar antara 75-90 mEq/L dan untuk pencegahan dan
pemeliharaan dengan natrium antara 40-60mEq/L. Anak yang diare dan
tidak lagi dehidrasi harus dilanjutkan segera pemberian makanannya
sesuai umur.
a. Tanpa Dehidrasi
Beri cairan tambahan, sebagai berikut :
1) Jika anak masih mendapat ASI, nasihati ibu untuk menyusui
anaknya lebih sering dan lebih lama pada setiap pemberian ASI.
Jika anak mendapat ASI eksklusif, beri larutan oralit atau air
matang sebagai tambahan ASI dengan menggunakan sendok.
Setelah diare berhenti, lanjutkan kembali ASI eksklusif kepada
anak, sesuai dengan umur anak.
2) Pada anak yang tidak mendapat ASI eksklusif, beri satu atau
lebih cairan yaitu: larutan oralit, cairan rumah tangga, air matang
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi, nasihati ibu untuk memberi
cairan tambahan sebanyak yang anak dapat minum :
1) Untuk anak berumur < 2 Tahun, beri 50–100 ml setiap kali anak
buang air besar.
2) Untuk anak berumur 2 tahun atau lebih, beri 100–200 ml setiap
kali anak buang air besar.
b. Dehidrasi Ringan Sedang
Rehidrasi pada dehidrasi ringan dan sedang dapat dilakukan
dengan pemberian oral sesuai dengan defisit yang terjadi dalam 3
jam pertama, namun jika gagal dapat diberikan secara intravena
sebanyak: 70 ml/kgbb selama 5 jam untuk anak umur < 12 bulan dan
2,5 jam untuk anak > 12 bulan. Pemberian cairan oral dapat
dilakukan setelah anak dapat minum sebanyak 5ml/kgbb/jam.
Biasanya dapat dilakukan setelah 3-4 jam pada bayi dan 1-2 jam
pada anak. Penggantian cairan bila masih ada diare atau muntah
dapat diberikan sebanyak 10ml/kgbb setiap diare atau muntah.
c. Dehidrasi Berat
Penderita dengan dehidrasi berat, yaitu dehidrasi lebih dari
10% untuk bayi dan anak menunjukkan gangguan tanda-tanda vital
tubuh (somnolen-koma, pernafasan Kussmaul, gangguan dinamik
sirkulasi) memerlukan pemberian cairan elektrolit parenteral.
Walaupun pada diare terapi cairan parenteral tidak cukup bagi
kebutuhan penderita akan kalori, namun hal ini tidaklah menjadi
masalah besar karena hanya menyangkut waktu yang pendek.
Apabila penderita telah kembali diberikan diet sebagaimana
biasanya, segala kekurangan tubuh akan karbohidrat, lemak dan
protein akan segera dapat dipenuhi. Itulah sebabnya mengapa pada
pemberian terapi cairan diusahakan agar penderita cepat
mendapatkan makanan atau minum.
Cairan Parenteral dibutuhkan untuk mengembalikan dengan
cepat volume darah, serta memperbaiki renjatan hipovolemik. Cairan
Ringer Laktat (RL) adalah cairan yang banyak diperdagangkan dan
mengandung konsentrasi natrium yang tepat dan laktat cukup yang
akan dimetabolisme menjadi bikarbonat. Namun demikian kosentrasi
kaliumnya rendah dan tidak mengandung glukosa untuk mencegah
hipoglikemia. Cairan NaCL dengan atau tanpa dekstrosa dapat
dipakai, tetapi tidak mengandung elektrolit yang dibutuhkan dalam
jumlah yang cukup. Jenis cairan parenteral yang saat ini beredar dan
dapat memenuhi kebutuhan sebagai cairan pengganti diare dengan
dehidrasi adalah Ka-EN 3B. Sejumlah cairan rehidrasi oral dengan
osmolalitas 210-268mmol/1 dengan Na berkisar 50-75 mEg/L
(Smeltzer dan Suzannec, 2011).
2. Zinc
Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut untuk mengurangi
lama dan beratnya diare. Zinc juga dapat mengembalikan nafsu makan
anak. Beberapa penelitian telah membuktikan, pemberian zinc yang
dilakukan di awal masa diare selama 10 hari secara signifikan
menurunkan morbiditas dan mortalitas pasien. Lebih lanjut, ditemukan
bahwa pemberian zinc pada pasien anak penderita kolera dapat
menurunkan durasi dan jumlah tinja atau cairan yang dikeluarkan. Zinc
termasuk mikronutrien yang mutlak dibutuhkan, meski dalam jumlah
yang sangat kecil, dari segi fisiologis zinc berperan untuk pertumbuhan
dan pembelahan sel, anti oksidan, perkembangan seksual, kekebalan
seluler, serta peningkatan nafsu makan. Zinc juga berperan dalam sistem
kekebalan tubuh dan merupakan mediator potensial pertahanan tubuh
terhadap infeksi. Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan
diare akut didasarkan pada efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap
struktur dan fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel
saluran cerna selama diare. Pemberian zinc pada diare dapat
meningkatkan absorpsi air dan elektrolit oleh usus halus, meningkatkan
kecepatan regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah brush border
apical, dan meningkatkan respon imun yang mempercepat pembersihan
pathogen dari usus. Pengobatan dengan zinc cocok diterapkan di negara-
negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki banyak masalah
terjadinya kekurangan zinc di dalam tubuh karena tingkat kesejahteraan
yang rendah dan daya imunitas yang kurang memadai. Pemberian zinc
dapat menurunkan frekuensi dan volume buang air besar sehingga dapat
menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Dosis zinc untuk
anak-anak :
a. Anak di bawah umur 6 bulan: 10mg (½ tablet) per hari
b. Anak di atas umur 6 bulan: 20 mg (1 tablet) per hari

Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut meskipun anak


telah sembuh dari diare. Untuk bayi, tablet zinc dapat dilarutkan dengan
air matang, ASI, atau oralit. Untuk anak-anak yang lebih besar, zinc
dapat dikunyah atau dilarutkan dalam air matang atau oralit (Nursalam,
2005).
3. Antibiotik Selektif
Obat anti diare hanya simtomatis bukan spesifik untuk mengobati
kausa, tidak memperbaiki kehilangan air dan elektrolit. Sebagian besar
kasus diare tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik oleh karena
pada umumnya sembuh sendiri (self limiting). Antibiotik hanya
diperlukan pada sebagian kecil penderita diare misalnya cholera dan
shigella, karena penyebab terbesar dari diare pada anak adalah virus
(rotavirus). Pada bayi berusia dibawah 2 bulan karena potensi terjadinya
sepsis karena bakteri mudah translokasi kedalam sirkulasi, atau pada
anak/bayi yang menunjukkan gajala berat serta berulang atau gejala
diare dengan darah dan lendir yang jelas atau gejala sepsis. Beberapa
antimikroba yang sering dipakai (Mansjoer dkk, 2008) :
a. Cholera :
1) Tetrasiklin 50 mg/kg/hari dibagi 4 dosis (2 hari)
2) Furasolidon 5 mg/kg/hari dibagi 4 dosis (3 hari)
b. Shigella :
1) Trimetroprim 5-10 mg/kg/hari
2) Sulfametoksasol 25 mg/kg/hari dibagi 2 dosis (5 hari)
3) Asam Nalidiksat : 55 mg/kg/hari dibagi 4 dosis (5 hari)
c. Amebiasis :
1) Metronidasol 30 mg/kg/hari dibagi 4 dosis (5-10 hari)
2) Untuk kasus berat : Dehidroemetin hidrokhlorida 1-1,5 mg/kg
(maks 90mg) im sampai dengan 5 hari tergantung reaksi (untuk
semua umur).
d. Giardiasis :
1) Metronidasol 15 mg/kg/hari dibagi 4 dosis (5 hari).
4. Oralit
Oralit adalah campuran garam elektrolit seperti natrium klorida
(NaCl), kalium klorida (KCl), dan trisodium sitrat hidrat, serta glukosa
anhidrat. Oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam
tubuh yang terbuang saat diare. Walaupun air sangat penting untuk
mencegah dehidrasi, air minum tidak mengandung garam elektrolit yang
diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit dalam tubuh
sehingga lebih diutamakan oralit. Campuran glukosa dan garam yang
terkandung dalam oralit dapat diserap dengan baik oleh usus penderita
diare. Sejak tahun 2004, WHO/UNICEF merekomendasikan oralit
dengan osmolaritas rendah. Berdasarkan penelitian dengan oralit
osmolaritas rendah diberikan kepada penderita diare akan mengurangi
volume tinja hingga 25%, mengurangi mual muntah hingga 30%, dan
mengurangi secara bermakna pemberian cairan melalui intravena sampai
33%. Oralit diberikan dengan sendok atau gelas sedikit-sedikit sampai
habis, atau hingga anak tidak kelihatan haus. Bila muntah, dihentikan
sekitar 10 menit, kemudian lanjutkan dengan sesendok setiap 2 atau 3
menit. Walau diare berlanjut, oralit tetap diteruskan. Bila larutan oralit
pertama habis, buatkan satu gelas larutan oralit berikutnya (Kemenkes
RI, 2011).

5. Edukasi Orang Tua


Edukasi orang tua berupa penyuluhan tentang penanganan diare
dan cara-cara pencegahan diare. Ibu atau pengasuh yang berhubungan
erat dengan balita harus diberi nasehat tentang (Depkes RI, 2009) :
a. Cara memberikan cairan dan obat di rumah
b. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :
1) Diare lebih sering
2) Muntah berulang
3) Sangat haus
4) Makan atau minum sedikit
5) Timbul demam
6) Tinja berdarah
7) Tidak membaik dalam 3 hari.
J. Pemantauan Diare
1. Terapi
Setelah pemberian cairan rehidrasi harus dinilai ulang derajat
dehidrasi, berat badan, gejala dan tanda dehidrasi. Jika masuk dehidrasi
maka dilakukan rehidrasi ulang sesuai dengan derajat dehidrasinya. Jika
setelah 3 hari pemberian antibiotik klinis dan laboratorium tidak ada
perubahan maka dipikirkan penggantian antibiotik sesuai hasil uji
sensitivitas (Irwanto, 2010).
2. Tumbuh Kembang
Timbang berat badan sebelum dan sesudah rehidrasi, 2 minggu
setelah sembuh dan seterusnya secara periodik sesuai umur.Jika anak
mengalami gizi buruk maka dikelola sesuai dengan standar pelayanan gizi
buruk. Penderita dapat dipulangkan bila penderita tidak dehidrasi,
keadaaan umum dan tanda vital baik, sudah bisa makan dan minum
(Irwanto, 2010).
K. Pencegahan Diare
Pengobatan penyakit diare sangat efektif dalam mencegah kematian,
tetapi tidak memiliki dampak pada insidensi diare. Petugas kesehatan berperan
dalam edukasi anggota keluarga dan memotivasi mereka tentang langkah-
langkah pencegahan. Untuk menghindari kelebihan informasi yang didapatkan
ibu, yang terbaik adalah dengan menekankan salah satu atau dua dari poin-
poin berikut, dengan memilih yang paling sesuai untuk ibu dan anaknya
(WHO,1995) :
1. Air Susu Ibu
Selama 6 bulan pertama kehidupan, bayi harus mendapatkan ASI
eksklusif. Ini berarti bahwa bayi yang sehat harus diberi ASI dan tidak
boleh menerima makanan atau cairan lainnya, seperti air, teh, jus, sereal,
minuman, susu hewan atau formula. Bayi dengan ASI eksklusif sangat
kecil kemungkinannya untuk mendapatkan diare atau meninggal karena
diare daripada bayi yang tidak mendapatkan ASI atau ASI sebagian.
Menyusui juga melindungi terhadap risiko alergi pada awal kehidupan,
memberikan jarak dan perlindungan terhadap infeksi selain diare
(misalnya pneumonia). Menyusui harus terus diberikan sampai minimal 2
tahun.
2. Memperbaiki Cara Mempersiapkan Makanan
Makanan pelengkap biasanya harus dimulai ketika anak berusia 6
bulan. Memberikan makanan yang baik, memilih makanan bergizi dan
berprilaku higienis ketika mempersiapkan makanan. Selain ASI (atau
susu), makanan lunak (seperti sereal) harus diberikan. Bila mungkin, telur,
daging, ikan dan buah-buahan harus diberikan juga. Makanan lain, seperti
kacang-kacangan matang dan sayuran harus diberikan.
3. Penggunaan Air Bersih
Risiko diare dapat dikurangi dengan menggunakan air bersih yang
tersedia dan melindunginya dari kontaminasi. Keluarga harus :
a. Kumpulkan air dari sumber terbersih yang tersedia
b. Tidak mandi, mencuci, atau buang air besar di dekat sumbernya. WC
harus ditempatkan lebih jauh 10 meter
c. Jauhkan binatang dari sumber air
d. Mengumpulkan dan menyimpan air ke dalam wadah yang bersih,
kosong dan bilas wadah setiap hari, menjaga penyimpanan dengan
wadah tertutup dan tidak membiarkan anak-anak atau hewan untuk
minum dari tempat tersebut, mengambil air menggunakan gagang yang
panjang dengan tujuan agar tangan tidak menyentuh air.
e. Masak air yang digunakan untuk membuat makanan atau minuman
untuk anak-anak.
4. Cuci Tangan
Semua agen penyebab diare dapat ditularkan melalui tangan yang
telah terkontaminasi oleh feses. Risiko diare secara substansial berkurang
jika anggota keluarga melakukan prilaku cuci tangan dengan benar. Semua
anggota keluarga harus mencuci tangan dengan bersih setelah buang air
besar, setelah membersihkan anak buang air besar, setelah membuang
feses anak, sebelum menyiapkan makanan, dan sebelum makan. Cuci
tangan yang baik memerlukan penggunaan sabun dan air yang cukup
untuk mencuci tangan dengan bersih.
5. Keamanan Makanan
Makanan dapat terkontaminasi oleh penyebab diare pada semua
tahapan produksi dan persiapan, termasuk selama masa pertumbuhan
bahan makanan (dengan menggunakan pupuk hewani), di tempat-tempat
umum seperti pasar, selama persiapan di rumah atau di restoran.
Pendidikan kesehatan untuk masyarakat umum harus menekankan poin
berikut mengenai persiapan konsumsi makanan :
a. Jangan makan makanan mentah, kecuali buah-buahan dan sayuran
yang dikupas dan dimakan langsung
b. Cuci tangan dengan bersih dengan sabun setelah buang air besar dan
sebelum menyiapkan makanan atau makan
c. Masak makanan sampai panas
d. Makanlah makanan saat itu masih panas, atau panaskan secara
menyeluruh sebelum makan
e. Cuci dan keringkan semua peralatan memasak setelah digunakan
f. Jauhkan makanan yang dimasak dan peralatan bersih secara terpisah
dari makanan mentah dan alat-alat yang berpotensi terkontaminasi
g. Lindungi makanan dari lalat terbang
h. Penggunaan jamban dan pembuangan kotoran yang aman.
BAB III
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. Zara Putri Alima
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 2 tahun
Agama : Islam
Suku : Bajo Buton
Alamat : Jl. Sawerigading, RT 002 RW 003, Kel. Lapulu, Kec. Abeli
Tanggal Periksa : 25 Maret 2019
B. ANANMENIS
1. Keluhan Utama : Buang Air Besar Encer
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien An. ZPA datang ke Puskesmas Abeli dengan Keluhan BAB
encer lebih dari 5 kali sejak semalam, BAB encer berwarna kuning-
kehijauan, lendir (-), darah (-), ampas (+), Demam (+) sejak sehari
sebelumnya terutama pada malam hari, muntah (-), rewel (+), batuk (-).
Hingga dibawa ke Puskesmas anak masih kuat minum. Riwayat kontak
dengan seseorang yang mengalami keluhan yang sama (-). Sebelumnya
anak sudah pernah mengalami keluhan yang sama 2 bulan yang lalu.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sudah pernah mengalami keluhan seperti ini 2 bulan yang
lalu. Pasien tidak memiliki riwayat alergi.
4. Riwayat Penyakit dalam Keluarga
Keluarga maupun lingkungan sekitar tidak ada yang sedang
mengalami sakit serupa dan tidak ada riwayat alergi makanan ataupun
obat-obatan pada anggota keluarga lainnya. Ayah dan paman pasien
memiliki kebiasaan merokok.
5. Riwayat Kebiasaan
Anak memiliki kebiasaan memasukan barang-barang tertentu
kedalam mulutnya dan setelah bermain di luar rumah jarang cuci tangan.
6. Riwayat Pengobatan
Anak memiliki riwayat minum obat Paracetamol untuk menurunkan
demam.
7. Riwayat Sosial Ekonomi
Aspek ekonomi keluarga orang tua An. ZPA tergolong menengah ke
bawah. Saat ini Ayah An. ZPA bekerja sebagai Nelayan dan ibunya
bekerja sebagai Wiraswasta. Pembiayaan kesehatan An. ZPA dan keluarga
menggunakan BPJS. Akses pelayanan kesehatan terjangkau. Aspek sosial
An. ZPA dan keluarga cukup baik, hal ini mencerminkan interaksi dengan
lingkungan sekitar tergolong baik.
8. Riwayat Gizi
An. ZPA dan keluarga makan sehari-hari biasanya 3 kali sehari
dengan nasi, ikan, sayur, mie instan. Setiap hari An. ZPA memiliki
kebiasaan makan nasi, sayur, ikan dan mie instan. Anak memiliki riwayat
minum Asi Eksklusif sampai sekarang, namun semenjak sakit nafsu
makan anak berkurang sehingga anak terkesan malas makan dan hanya
mau minum saja. Kesan status gizi saat ini kurang.
9. Riwayat Lingkungan
Lingkungan sekitar rumah orang tua An. ZPA tergolong kurang
bersih. Hal ini terkait dengan kondisi rumah yang terkesan kumuh, letak
rumah yang berdempet-dempetan dengan rumah sekitarnya, dan letak
rumah yang berhadapan dengan laut yang membuat masyarakat
membuang sampah dilaut dan sekitar rumah, sehingga terdapat banyak
tumpukkan sampah.
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum : Tampak baik, sakit ringan
2. Kesadaran : Kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6)
3. Tanda Vital
a) Tekanan darah : -
b) Frekwensi nadi : 100x/mnt, regular, nadi kuat
c) Frekwensi nafas : 18 x/mnt, tipe thorakoabdominal
d) Suhu : 37,6o C
4. Antropometri
a) BB : 9 kg
b) TB : 77 cm
c) Indeks Massa Tubuh :
5. Kulit : Coklat, turgor baik, ikterik (-), sianosis (-), pucat (-)
6. Kepala : Bentuk normal, tidak teraba benjolan, rambut tidak
mudah dicabut
7. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
Eksoftalmus (-), edema palpebra (-), strabismus (-)
8. Hidung : Bagian luar hidung tak ada kelainan, secret (-), napas
cuping hidung (-), epistaksis (-)
9. Bibir : Kering (+), mukosa bibir pucat (-), pecah-pecah (-)
10. Mulut : Lidah kotor (-), lidah tremor (-), pembesaran tonsil
(-), gusi berdarah (-), stomatitis (-)
11. Telinga : Otore (-/-), cuping telinga dalam batas normal
12. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar
13. Thorax : Bentuk normochest, simetris, pernapasan
thorakoabdominal, jejas (-)
14. Paru
a) Inspeksi : Bentuk normal, simetris kanan dan kiri
b) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, krepitasi (-), fremitus kiri
sama dengan kanan
c) Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
d) Auskultasi : Vesikuler (+/+), Ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
15. Jantung
a) Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
b) Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
c) Perkusi : Batas kiri pada linea midclavicularis sinistra
Batas kanan pada linea parasternalis dextra
d) Auskultasi : Bunyi Jantung I/II intensitas normal, regular, bunyi
jantung tambahan (-)
16. Abdomen
a) Inspeksi : Sejajar dinding dada, massa (-)
b) Auskultasi : Bising usus kesan meningkat
c) Palpasi : Nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba, turgor
baik
d) Perkusi : Timpani seluruh lapangan perut kesan meningkat
17. Sistem Collumna Vertebralis
a) Inspeksi : Deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
b) Palpasi : Nyeri tekan (-)
18. Ekstremitas
a) Ekstremitas atas : Gerakan bebas, edema (-), akral hangat (+/+)
b) Ekstremitas bawah : Gerakan bebas, edema (-), akral hangat (+/+)
19. Skor Dehidrasi : 7 (dehidrasi ringan)
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium : tidak dilakukan
2. Foto X-ray ekstremitas : tidak dilakukan
E. RESUME
Pasien datang dengan keluhan BAB encer. Keluhan ini dialami sudah
lebih dari 5 kali sejak semalam. BAB encer dengan warna kuning-kehijauan,
tidak terdapat lendir maupun darah, tetapi BAB encer mengandung ampas.
Pasien juga mengalami demam sejak sehari sebelumnya terutama pada malam
hari. Pasien tidak muntah atau batuk. Pasien semakin rewel, terutama saat
demamnya timbul. Tidak ada riwayat kontak dengan seseorang yang
mengalami keluhan yang sama. Sebelumnya pasien sudah pernah mengalami
keluhan yang sama 2 bulan yang lalu.
Keluarga maupun lingkungan sekitar tidak ada yang sedang
mengalami sakit serupa dan tidak ada riwayat alergi makanan ataupun obat-
obatan pada anggota keluarga lainnya. Ayah dan paman pasien memiliki
kebiasaan merokok. Pasien memiliki kebiasaan memasukan barang-barang
tertentu kedalam mulutnya dan setelah bermain di luar rumah jarang cuci
tangan. Pasien memiliki riwayat minum obat Paracetamol untuk menurunkan
demam.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan IMT pasien tergolong underweight,
tampak bibir kering, nyeri tekan pada abdomen dan bising usus terkesan
meningkat.
F. DIAGNOSA HOLISTIK
1. Diagnosis dari segi biologis : diare akut
2. Diagnosis dari segi psikologis
Dari segi psikologis An. ZPA dan keluarga tidak ada masalah. Hubungan
pasien dengan anggota keluarga lainnya baik. Orang tua, nenek, paman,
tante dan sepupu pasien sangat perhatian kepada pasien dan merawat
pasien dengan baik. Hubungan pasien dengan tetangga dan teman sebaya
juga baik.
3. Diagnosis dari segi sosial dan ekonomi
Hubungan pasien dengan anggota keluarga lainnya maupun dengan
tetangga baik, saling membantu jika ada kesulitan.
Dari segi ekonomi pasien termasuk golongan ekonomi menengah ke
bawah dimana penghasilan keluarga didapatkan dari ayahnya sebagai
kepala keluarga yang bekerja sebagai nelayan dan ibunya bekerja sebagai
wiraswasta untuk menghidupi anggota keluarga yang lain. Dengan jumlah
penghasilan yang tak menentu.
G. PENATALAKSANAAN HOLISTIK
1. Farmakologi
a) Oralit 10
b) Zink
c) Paracetamol 3X1
d) Antasida syrup
2. Non Farmakologi
a) Istirahat cukup
b) Banyak mengkonsumsi air mineral
H. PROGNOSIS
Qua ad vitam : Dubia ad bonam
Qua ad functionam : Dubia ad bonam
Qua ad sanationam : Dubia ad bonam
BAB IV
PEMBAHASAN ASPEK KEDOKTERAN KELUARGA

A. IDENTITAS KELUARGA
1. Profil Keluarga
a. Karakteristik Demografi Keluarga
Tanggal kunjungan pertama : 26 Maret 2019
Nama Kepala Keluarga : Tn. H
Alamat : Jl. Sawerigading, RT 002 RW 003, Kel. Lapulu, Kec. Abeli
Bentuk Keluarga : Keluarga Besar

Tabel 1. Daftar anggota keluarga yang tinggal serumah


L/ Umu
No Nama Kedudukan Pendidikan Status Imunisasi Pekerjaan
P r
Kepala
1 Tn. H L 22 th SD Tidak diketahui Nelayan
keluarga

2 Ny. I Istri P 30 th SMP Tidak diketahui Nelayan

3 Ny. J Nenenk P 57 th SD Tidak diketahui IRT

BCG, DPT, Hep


4 An. ZPA Anak P 2 th - -
B, Polio, Campak

5. Tn. D Paman L 41 th SD Tidak diketahui Nelayan

6. Tn. Dn Paman L 35 th SD Tidak diketahui Nelayan

7. Tn. O Paman L 37 th SMP Tidak diketahui Nelayan

8. Tn. L Paman L 31 th SMA Tidak diketahui Nelayan

9. Tn. Di Paman L 20 th SD Tidak diketahui Nelayan

10. Ny. Ha Tante P 31 th SD Tidak diketahui IRT

11. Ny. Sh Tante P 22 th SMA Tidak diketahui -


BCG, DPT, Hep
12. An. Al Sepupu P 4 th - -
B, Polio, Campak
Sumber: Data Primer, 26 Maret 2019

Kesimpulan : Keluarga An. ZPA adalah extended family yang terdiri atas 12
orang yang tinggal dalam satu rumah. Terdapat satu orang yang sakit yaitu An.
ZPA 2 tahun dengan diagnosa Diare. Sedangkan orang tua dan sanak saudara
pasien, mengaku tidak pernah menderita sakit yang berat.

B. PENILAIAN STATUS SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN HIDUP


1. Denah rumah keluarga An. ZPA

WC Kamar Dapur

Dapur

Kamar Ruang
Keluarga

Ruang Kamar
Tamu

2. Penilaian Perilaku Kesehatan Keluarga


a. Jenis tempat berobat : Puskesmas Abeli
b. Asuransi / jaminan kesehatan : menggunakan BPJS
c. Jarak layanan kesehatan tempat berobat : Jarak Puskesmas Abeli
dengan rumah pasien dekat dan terjangkau dapat ditempuh ± 5 menit
dengan kendaraan bermotor.
3. Sarana Pelayanan Kesehatan
Tabel. Pelayanan Kesehatan

Faktor Keterangan Kesimpulan


Cara mencapai sarana Jalan Kaki An. ZPA pergi ke
pelayanan kesehatan Angkot Puskesmas diantar
Kendaraan Pribadi oleh orang tuanya
dengan menggunakan
motor.
Tarif pelayanan kesehatan Sangat mahal Pasien mempunyai
Mahal BPJS sehingga
Terjangkau pelayanan kesehatan
Murah dan obat-obatan
Gratis didapatkan secara
gratis.
Kualitas pelayanan Sangat memuaskan
kesehatan yang dirasakan Memuaskan
Cukup memuaskan
Tidak memuaskan

4. Pola Konsumsi Makanan Keluarga


Kebiasaan makan dan penerapan pola gizi seimbang:
An. ZPA dan keluarga biasanya makan sehari-hari 3 kali sehari dengan
nasi, sayur, ikan. Kadang mengkonsumsi mie instan terutama saat sarapan
pagi. Penerapan pola gizi An. ZPA dan keluarga cukup baik.
5. Pola Dukungan Keluarga
Faktor pendukung terselesaikannya masalah dalam keluarga:
Dalam menyelesaikan masalah, Tn. H (ayah An. ZPA) merupakan
pengambil keputusan utama karena merupakan kepala keluarga. Namun
Tn. H juga tetap mempertimbangkan pendapat-pendapat dari anggota
keluarga lain yang tinggal serumah. Anggota keluarga pasti akan
memikirkan yang terbaik untuk kesehatan An. ZPA.
Faktor penghambat terselesaikannya masalah dalam keluarga:
Faktor yang menghambat penyelesaian masalah adalah banyaknya anggota
keluarga yang tinggal serumah sehingga terkadang terdapat pendapat yang
berbeda-beda saat penyelesaian masalah.
C. IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI DALAM KELUARGA
1. Fungsi Holistik
a. Fungsi biologis
Keluarga Tn. H terdapat satu orang yang sakit yaitu An. ZPA 2 tahun
dengan diagnosis diare akut. Sedangkang Tn. H dan keluarga lainnya
yang tinggal serumah mengaku tidak pernah menderita sakit yang berat
dan tidak pernah periksa kesehatan.
b. Fungsi psikologis
Dari segi psikologis, An. ZPA dan keluarga tidak ada masalah.
Hubungan pasien dengan anggota keluarga lainnya baik. Orang tua,
nenek, paman, tante dan sepupu saling memperhatikan satu sama lain.
Hubungan pasien dengan anggota keluarga lainnya maupun dengan
tetangga baik, saling membantu jika ada kesulitan.
c. Fungsi sosial dan ekonomi
Saat ini An. ZPA tinggal bersama dengan kedua orang tuanya beserta
nenek, paman, tante dan sepupunya. Dari segi ekonomi pasien
termasuk golongan ekonomi menengah ke bawah dimana penghasilan
keluarga didapatkan dari ayahnya (Tn. H) sebagai kepala keluarga
yang bekerja sebagai nelayan dan ibunya (Ny. I) bekerja sebagai
wiraswasta untuk menghidupi anggota keluarga yang lain. Dengan
jumlah penghasilan yang tak menentu.
2. Fungsi Fisiologis dengan APGAR Score
a. Adaptation : kemampuan anggota keluarga beradaptasi dengan
anggota keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari
anggota keluarga yang lain.
b. Partnership : menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling
mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami
oleh keluarga tersebut.
c. Growth : menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru
yang dilakukan anggota keluarga lain.
d. Affection : menggambarkan hubungan kasih saying dan interaksi antar
anggota
e. Resolve : menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang
kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga
yang lain.
f. Penilaian :
Hampir selalu : 2 poin
Kadang-kadang : 1 poin
Hampir tak pernah : 0 poin
g. Penyimpulan
Nilai rata-rata ≤5 : kurang
Nilai rata-rata 6-7 : cukup/sedang
Nilai rata-rat 8-10 : baik

Tabel . APGAR Score Tn. H (22 Tahun)


APGAR terhadap Keluarga 2 1 0
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga √
A bila menghadapi masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya membahas √
P dan membagi masalah dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya menerima √
dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
G
kegiatan baru atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya √
A mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon
emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya √
R membagi waktu bersama-sama

Tabel . APGAR Score Ny. I (30 Tahun)


APGAR terhadap Keluarga 2 1 0
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga √
A bila menghadapi masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya membahas √
P dan membagi masalah dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya menerima √
dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
G
kegiatan baru atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya √
mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon
A
emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya √
R membagi waktu bersama-sama

Untuk Tn. H dan Ny. I APGAR Score dapat dijelaskan sebagai


berikut:

1. Adaptation : Tn. H dan Ny. I puas terhadap dukungan dan saran yang
diberikan keluarganya jika menghadapi masalah.
2. Partnership : komunikasi Tn. H dan keluarganya tergolong baik,
meskipun Tn. H tinggal di rumah mertuanya yang didalamnya juga
banyak anggota keluarga dari istrinya tapi komunikasi keluarga
tersebut tetap lancar dan saling mengisi antara satu dan lainnya.
Begitupun dengan Ny. I, tidak ada masalah dalam berkomunikasi
dengan keluarganya dan berhubungan baik dengan saudara-
saudaranya.
3. Growth : keluarga Tn. H dan Ny. I tidak memberi batasan terhadap
segala aktifitas Tn. H dan Ny. I baik dalam hal pekerjaan atau
kegiatan sehari-hari.
4. Affection : Tn. H dan Ny. I puas dengan kasih sayang dan perhatian
yang diberikan keluarganya.
5. Resolve : Tn. H merasa puas dengan cara keluarganya membagi
waktu bersama-sama. Sedangkan Ny. I merasa kurang puas dengan
waktu luang keluarganya karena pekerjaanya yang terkadang
mengharuskannya bekerja dari pagi sampai malam hari.
Total APGAR Score Tn. H = 10 dan Ny. I = 9
3. Fungsi Patologis dengan Alat SCREEM Score
Fungsi patologis keluarga Tn. H dinilai menggunakan alat
S.C.R.E.E.M sebagai berikut
Tabel SCREEM Keluarga
Sumber Patologis
Tn. H dan keluarga jarang berkumpul
bersama oleh karena pekerjaan yang
+
Social mengharuskan mereka bekerja dari pagi
hingga malam hari.
Menggunakan bahasa Bajo dalam berbahasa
dan berbudaya, pengambilan keputusan juga -
Culture
berdasarkan diskusi keluarga besar
Fungsi agama Tn. H baik -
Religious
Kondisi ekonomi keluarga Tn. H tergolong
-
Economic menengah ke bawah.
Tingkat pendidikan dan pengetahuan Tn. H
dan keluarga tergolong kurang baik,
-
Educational khususnya mengenai kesehatan dan penyakit

yang dialami anaknya.


Dalam pembiayaan kesehatan Tn. H dan
keluarga menggunakan Kartu BPJS sehingga
-
Medical pengobatan diperoleh secara gratis. Akses
pelayanan kesehatan juga terjangkau.

4. Genogram dalam Keluarga

Laki-laki

Perempuan

Pasien

D. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


KESEHATAN
1. Identifikasi Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga
a. Faktor Perilaku Keluarga
1) Pengetahuan
Tingkat pendidikan dan pengetahuan Tn. H, Ny. I dan keluarganya
tentang penyakit yang di derita An. ZPA tergolong kurang
sehingga kurangnya pencegahan terhadap penyakit yang diderita
An. ZPA. Hal ini juga dapat dilihat dari riwayat penyakit An. ZPA
yang sudah pernah menderita penyakit yang sama 2 bulan yang
lalu.
2) Sikap
Sikap keluarga terhadap kondisi An. ZPA tergolong baik. Keluarga
peduli dan perhatian dengan kondisi An. ZPA.
3) Tindakan
Tindakan keluarga terhadap kondisi pasien baik terbukti dengan
membawa An. ZPA untuk berobat di fasilitas kesehatan terdekat.
b. Faktor Non Perilaku
1) Lingkungan
Lingkungan sekitar rumah orang tua An. ZPA tergolong kurang
bersih. Hal ini terkait dengan kondisi rumah yang terkesan kumuh,
letak rumah yang berdempet-dempetan dengan rumah sekitarnya,
dan letak rumah yang berhadapan dengan laut yang membuat
masyarakat membuang sampah dilaut dan sekitar rumah, sehingga
terdapat banyak tumpukkan sampah.
2) Pelayanan kesehatan
Tarif pelayanan kesehatan gratis karena menggunkan BPJS.
E. DAFTAR MASALAH
1. Masalah Medis : Diare Akut
2. Masalah Non Medis
Tingkat pendidikan dan pengetahuan keluarga An. ZPA yang tergolong
rendah memngakibatkan kurangnya pencegahan terhadap penyakit yang
diderita An. ZPA. Selian itu kondisi lingkungan rumah An. ZPA yang
kurang bersih. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah
sembarangan sehingga banyaknya sampah yang bertumpukkan di sekitar
rumah maupun di laut.
BAB V
PEMBAHASAN

Pasien datang dengan keluhan BAB encer. Keluhan ini dialami sudah
lebih dari 5 kali sejak semalam. BAB encer dengan warna kuning-kehijauan, tidak
terdapat lendir maupun darah, tetapi BAB encer mengandung ampas. Pasien juga
mengalami demam sejak sehari sebelumnya terutama pada malam hari. Pasien
tidak muntah atau batuk. Pasien semakin rewel, terutama saat demamnya timbul.
Tidak ada riwayat kontak dengan seseorang yang mengalami keluhan yang sama.
Sebelumnya pasien sudah pernah mengalami keluhan yang sama 2 bulan yang
lalu. Pasien tinggal di keluarga yang mayoritas perokok. Pasien memiliki
kebiasaan memasukan barang-barang tertentu kedalam mulutnya dan setelah
bermain di luar rumah jarang cuci tangan. Pasien memiliki riwayat minum obat
Paracetamol untuk menurunkan demam.
Pasien dan keluarga makan sehari-hari biasanya 3 kali sehari dengan nasi,
ikan, sayur, dan kadang dengan mie instan terutama saat sarapan pagi. Pasien
memiliki riwayat minum Asi Eksklusif sampai sekarang, namun semenjak sakit
nafsu makan anak berkurang sehingga anak terkesan malas makan dan hanya mau
minum saja. Berdasarkan IMTnya An. ZPA tergolong dalam kategori
underweigth.
Lingkungan sekitar rumah orang tua An. ZPA tergolong kurang bersih.
Hal ini terkait dengan kondisi rumah yang terkesan kumuh, letak rumah yang
berdempet-dempetan dengan rumah sekitarnya, dan letak rumah yang berhadapan
dengan laut yang membuat masyarakat membuang sampah dilaut dan sekitar
rumah, sehingga terdapat banyak tumpukkan sampah.
Dalam menyelesaikan masalah, Tn. H (ayah An. ZPA) merupakan
pengambil keputusan utama karena merupakan kepala keluarga. Namun Tn. H
juga tetap mempertimbangkan pendapat-pendapat dari anggota keluarga lain yang
tinggal serumah. Anggota keluarga pasti akan memikirkan yang terbaik untuk
kesehatan An. ZPA.
Faktor yang menghambat penyelesaian masalah adalah banyaknya anggota
keluarga yang tinggal serumah sehingga terkadang terdapat pendapat yang
berbeda-beda saat penyelesaian masalah.
Saat ini An. ZPA tinggal bersama dengan kedua orang tuanya beserta
nenek, paman, tante dan sepupunya. Dari segi ekonomi pasien termasuk golongan
ekonomi menengah ke bawah dimana penghasilan keluarga didapatkan dari
ayahnya (Tn. H) sebagai kepala keluarga yang bekerja sebagai nelayan dan ibunya
(Ny. I) bekerja sebagai wiraswasta untuk menghidupi anggota keluarga yang lain.
Dengan jumlah penghasilan yang tak menentu.
Dari segi psikologis, An. ZPA dan keluarga tidak ada masalah. Hubungan
pasien dengan anggota keluarga lainnya baik. Orang tua, nenek, paman, tante dan
sepupu saling memperhatikan satu sama lain. Hubungan pasien dengan anggota
keluarga lainnya maupun dengan tetangga baik, saling membantu jika ada
kesulitan.
Berdasarkan APGAR Score, Tn. H dan Ny. I puas terhadap dukungan dan
saran yang diberikan keluarganya jika menghadapi masalah. Komunikasi Tn. H
dan keluarganya tergolong baik, meskipun Tn. H tinggal di rumah mertuanya
yang didalamnya juga banyak anggota keluarga dari istrinya tapi komunikasi
keluarga tersebut tetap lancar dan saling mengisi antara satu dan lainnya.
Begitupun dengan Ny. I, tidak ada masalah dalam berkomunikasi dengan
keluarganya dan berhubungan baik dengan saudara-saudaranya. Keluarga Tn. H
dan Ny. I tidak memberi batasan terhadap segala aktifitas Tn. H dan Ny. I baik
dalam hal pekerjaan atau kegiatan sehari-hari. Tn. H dan Ny. I puas dengan kasih
sayang dan perhatian yang diberikan keluarganya. Tn. H merasa puas dengan cara
keluarganya membagi waktu bersama-sama. Sedangkan Ny. I merasa kurang puas
dengan waktu luang keluarganya karena pekerjaanya yang terkadang
mengharuskannya bekerja dari pagi sampai malam hari.
Tingkat pendidikan dan pengetahuan Tn. H, Ny. I dan keluarganya tentang
penyakit yang di derita An. ZPA tergolong kurang sehingga kurangnya
pencegahan terhadap penyakit yang diderita An. ZPA. Hal ini juga dapat dilihat
dari riwayat penyakit An. ZPA yang sudah pernah menderita penyakit yang sama
2 bulan yang lalu.
Sikap keluarga terhadap kondisi An. ZPA tergolong baik. Keluarga peduli
dan perhatian dengan kondisi An. ZPA. Tindakan keluarga terhadap kondisi
pasien baik terbukti dengan membawa An. ZPA untuk berobat di fasilitas
kesehatan terdekat.
BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN HOLISTIK
1. Diagnosis dari Segi Biologis : Diare akut
2. Diagnosis dari Segi Psikologis :
Dari segi psikologis An. ZPA dan keluarga tidak ada masalah. Hubungan
pasien dengan anggota keluarga lainnya baik. Orang tua, nenek, paman,
tante dan sepupu pasien sangat perhatian kepada pasien dan merawat
pasien dengan baik. Hubungan pasien dengan tetangga dan teman sebaya
juga baik.
3. Diagnosis dari Segi Sosial dan Ekonomi :
Saat ini An. ZPA tinggal bersama dengan kedua orang tuanya beserta
nenek, paman, tante dan sepupunya. Dari segi ekonomi pasien termasuk
golongan ekonomi menengah ke bawah dimana penghasilan keluarga
didapatkan dari ayahnya (Tn. H) sebagai kepala keluarga yang bekerja
sebagai nelayan dan ibunya (Ny. I) bekerja sebagai wiraswasta untuk
menghidupi anggota keluarga yang lain. Dengan jumlah penghasilan yang
tak menentu.
DAFTAR PUSTAKA

Amin, L.Z. 2015. Tatalaksana Diare Akut. Jurnal Continuing Medical Education.
Vol. 42 (7). Hal : 504-508.

Departemen Kesehatan RI. 2009. Buku Ajar Diare : Pendidikan Medik


Pemberantasan Diare. Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular
dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Jakarta.

Irwanto. 2010. Ilmu Penyakit Anak : Diagnosa dan Penatalaksanaan. Salemba


Medika. Jakarta.

Kementerian Kesehatan RI. 2011. Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Untuk


Petugas Kesehatan. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan. Jakarta.

Mansjoer, A., Suprohaita., Wardhani, W.I., Setiowulan, W. 2008. Kapita Selekta


Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Salemba Medika. Jakarta.

Riset Kesehatan Dasar. 2018. Hasil Utama Riset Kesehatan Dasar 2018. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Jakarta.

Simadibrata, M dan Daldiyono. 2014. Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV Jilid II.
Interna Publishing. Jakarta.

Smeltzer dan Suzannec. 2011. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
dan Suddarth Edisi 8 Volume 1. EGC. Jakarta.

Soebagyo, B. 2013. Diare Akut Pada Anak. Universitas Sebelas Maret Surakarta
Press. Surakarta.

World Health Organization. 1995. The Treatment Of Diarrhoea : A Manual For


Physicians and Other Senior Health Workers. Department of Child and
Adolescent Health and Development. Switzerland.
LAMPIRAN

Gambar 3. Tampak depan dan halam rumah pasien

Gambar 4. Lingkungan Gambar 5. Lingkungan


sekitar rumah pasien sekitar rumah pasien

Gambar 6. Ruang tamu Gambar 7. Ruang keluarga


rumah pasien rumah pasien
Gambar 8. Kamar tidur Gambar 9. Dapur rumah
pasien pasien

Gambar 10. Kamar mandi rumah pasien