Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Analisis Tapak pada suatu hunian menjadi hal yang penting, mengingat hal tersebut dapat
menjadi suatu acuan dan juga bekal bagi mahasiswa yang akan merencanakaan tapak dalam proses
perencanaan dan perancangan yang sedang dibuatnya, analisis tapak ini seolah menjadi dasar dalam
sebuah perancangan karena apabila saat menganalisis tapak mendapatkan data selengkap mungkin
baik itu berupa data yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun data yang di dapatkan di lapangan,
tentulah hal tersebut menjadi baik untuk mahasiswa agar rancangan yang dibuat dapat selaras dengan
keadaan sekitar dan yang terpenting saat analisis tapak dilakukan oleh mahasiswa, mahasiswa dapat
merencanakaan sebuah tapak yang sebelumnya kurang baik menjadi baik dan yang sudah baik
menjadi lebih baik sesuai dengan tujuan utama perencanaan tapak yakni dapat mewariskan tapak yang
lebih baik untuk kehidupan di masa yang akan datang, dan jangan sampai tapak menjadi baik saat ini
tetapi dalam jangka panjang justru malah memperburuk keadaan. Maka dari itu analisis pada sebuah
hunian / rumah menjadi penting untuk dilaksanakan.

1.2 Batasan Bahasan


Berdasarkan latar belakang di atas, maka batasan bahasan yang akan dibahas adalah
mengenai :
1. Analisis Faktor Tapak

1.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan batasan bahasan diatas,maka rumusan bahasan dalam laporan ini adalah
sebagai berikut.
1. Apa saja hal yang didapatkan setelah menganalisis faktor tapak ?

1.4 Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah diatas, laporan ini disusun dengan tujuan untuk :
1. Mengetahui hasil analisis tapak untuk kemudian dicoba untuk dinilai berdasarkan
persfektif teori – teori yang ada pada literatur.

1
1.5 Manfaat
Manfaat yang diharapkan setelah melakukan penilain karya arsitektur ini adalah sebagai
berikut:

1. Bagi mahasiswa yang melakukan analisis dan penilaian, laporan ini dapat membantu
mahasiswa untuk bisa mengetahui faktor yang dibutuhkan untuk membuat suatu
perencanaan tapak yang baik ke depan. Dan menerapkan analisis tersebut beserta sebuah
inovasi perbaikan untuk tapak untuk diaplikasikan pada karyanya kelak.
2. Bagi Dosen, tugas analisis di lapangan ini akan membantu mahasiswanya untuk bisa lebih
peka dan aktif dan mampu menilai sebuah tapak yang baik ataupun kurang baik. Dengan hal
tersebut tentu kualitas mahasiswa yang diampu akan semakin baik dan memahami dengan
cepat materi yang diberikan di kelas.

2
BAB II
ISI

2.1 FAKTOR TAPAK


Pada laporan ini disajikan faktor tapak yang berada pada bangunan yang ada di
Komplek Perumahan Riung Bagja Bandung.

2.1.1 Lokasi
Lokasi bangunan ini tepatnya berada di Komplek Perumahan Riung Bagja Blok
1A.

Gambar. 1 Peta Kota Bandung

Gambar. 2 Lokasi Bangunan yang dianalisis

3
2.1.2 Tautan Lingkungan
PETA RIUNG BANDUNG

Gambar. 4 Peta Komplek Riung Bandung

2.1.3 Ukuran dan Tata Wilayah


Dari hasil analisis yang telah dilakukan, banyak sekali kekurangan yang
terdapat di komplek perumahan Riung Bagja tersebut, seperti adanya ketidak sesuaian
peruntukkan lahan, hal ini dapat dilihat dari banyaknya rumah yang dibangun, namun
masih terdapat beberapa kotak sawah yang berada disisi rumah tersebut, selain itu garis
sempadan bangunannya yang hampir tidak ada, jarak antara tepi lebar jalan dengan
bangunan yakni tidak ada jarak yang memadai, hal ini tentu berefek pada lebar jalan yang
tidak bisa diperlebar dikemudian hari, namun batasan bangunan ketinggian rumah di
komplek ini hampir sama yakni berkisar antara 1 – 2 lantai saja. Karena tidak adanya
ketentuan parkir, maka banyak dari para penghuni komplek yang memarkirkan
kendaraannya di badan jalan, hal ini tentu membuat jalan semakin sempit meskipun
kendaraan yang melewati jalan tersebut tidaklah terlalu intens.

Gambar. 5 Kendaraan yang diparkir di jalur lalu lintas

4
2.1.4 Kondisi Fisik Alamiah (keistimewaan dan kekurangan)
Keistimewaan yang terdapat di sekitar bangunan adalah dengan adanya lahan
kosong di sebelah bangunan yang dijadikan kebun oleh pemilik tanah, untuk ditanami
pepohonan yang produktif seperti pohon pisang, mangga, singkong, hal tersebut tentu
akan membuat tanah di sekitar menjadi produktif, dan daya resap tanah dapat tetap
terjaga meski disekitar kebun itu hampir sudah seluruhnya dibetonisasi. Adapun pola –
pola drainase yang cukup tertata dengan baik dan tidak terdapat banyak sampah, namun
sangat disayangkan dengan mengendapnya air kotor di saluran drainase tersebut
menyebabkan adanya rasa bau dan juga visual yang kurang baik dari drainase tersebut.
Tipe tanah disekitar bangunan pun terhitung baik, tanah nya dirasa masih subur dengan
indikator dapat tumbuhnya pepohonan dengan baik dan bahkan padi yang tumbuh di
sawah.

Gambar. 6 Pohon Mangga Yang Tumbuh Di Sekitar Bangunan

Gambar. 7 Pohon Pisang Yang Tumbuh Di Sekitar Bangunan

5
Gambar. 8 Sawah di tengah komplek perumahan

Gambar. 9 saluran drainase yang tersumbat

Gambar. 10 saluran drainase yang menggenang dan kotor

6
Gambar. 11 Kondisi Tapak dan Pandangan ke sekitarnya

2.1.5 Kondisi Fisik Buatan (keistimewaan dan kekurangan)


Kondisi bangunan disekitar tapak ini dapat dikatakan cukup padat, karena tidak
adanya space antara bangunan 1 ke bangunan 2, hampir seluruh rumah yang terdapat di
komplek itu adalah rumah deret, melihat kondisi fisik bangunannya seolah tidak ada
kesatuan antara rumah 1 dengan rumah 2, baik dari segi warna, bentuk, bahkan tema
bangunan. Karakterisitik di sekitar tapak pun seperti bentuk atap, garis sempadan, pola
pertamanan dan pola lapisan perkerasan seolah tidak teratur.

Gambar. 12 Fasad Bangunan Yang di Analisis

7
Gambar. 13 Kondisi Perkerasan Jalan Beton

2.1.6 Sirkulasi
Sirkulasi disini adalah lebih kepada menggambarkkan pola – pola pergerakkan
kendaraan dan pejalan kaki di sekitar tapak , tidak begitu banyaknya kendaraan yang
melewati jalan di sekitar tapak menjadikan jalan tersebut tidak memiliki waktu puncak bagi
lalu lintas yang ada pada jalan tersebut. Tidak ada trotoar khusus yang ditujukan bagi
pedestrian untuk berjalan, semua kegiatan berjalan dan juga berkendara difasilitasi oleh satu
jalan yang sama.

Gambar. 14 sirkulasi jalan dari arah timur bangunan

8
Gambar. 15 Sirkulasi Jalan dari arah barat bangunan

Gambar. 16 Sirkulasi Carport pada bangunan

Gambar. 17 Sirkulasi jalan yang terhambat oleh mobil yang diparkir di badan jalan

9
Gambar. 18 Jalur Sirkulasi lalu lintas

2.1.7 Utilitas
Adapun utilitas yang berada di sekitar bangunan adalah listrik, beberapa tiang
listrik dipasang di depan rumah, tepatnya berada di depan di antara rumah 1 dan rumah 2.
Adapun kondisi tiang listrik yang sudah berkarat, posisi tiang yang miring, serta
semerawutnya kabel listrik dan kabel telfon yang di terapkan pada tiang tersebut. Apabila
melihat kondisi saluran air bersih di komplek ini, yakni ada menggunakan air yang disuplai
oleh PDAM yang tentunya jalur distribusinya sudah ditanam di bawah permukaan tapak,
adapun untuk saluran air kotor ini biasanya untuk air kotor hasil cucian dibuang langsung
ke saluran drainase (got) yang ada di sekitar bangunan, namun untuk pembuangan kotoran
ini dibuang pada septic tank yang dimiliki oleh bangunan.

Gambar. 19 Kondisi tiang dan jalur distribusi listrik

10
Gambar. 20 Kondisi tiang dan jalur distribusi listrik

Gambar. 21 Jalur Distribusi Listrik dan Telfon

2.1.8 Pancaindera
Semua aspek panca indera digunakan untuk menganalisis tapak ini, adapun hasil
utama yang didapatkan dari analisis ini khususnya dari hal pendengaran, perabaan, dan
penciuman, dan penglihatan dari sekitar tapak adalah tidak adanya view yang baik dari
bangunan, kebisingan yang biasa terasa saat banyaknya para pedagang keliling yang intens
datang melewati bangunan tersebut, hal ini tentu akan mengganggu apalagi jika bersifat
kontinyu, jika melewati saluran drainase akan melihat dan mencium bau air kotor yang
kurang sedap.

11
Gambar. 22 Kondisi drainase yang berada di sekitar bangunan

Gambar. 23 Air yang mengendap dan bau

2.1.9 Manusia dan Budaya


Kondisi sosial masyarakat di sekitar bangunan adalah terdiri dari kelompok
menengah keatas, namun tidak jauh dari perumahan tersebut terdapat permukiman warga
yang kondisi ekonominya tergolong menengah kebawah, hal ini dirasakan menjadi adanya
sebuah kecenderungan sosial karena adanya perbedaan perekonomian yang cukup
signifikan antara warga komplek perumahan dan juga warga perkampungan disekitarnya.
Usia Rata – rata para warga di sekitar terdiri dari golongan muda, tua dan manula. Namun
dilihat dari kondisi perumahan ini warganya masih terlihat individual.

12
Gambar. 24 Usia rata – rata penduduk di komplek perumahan

2.1.10 Iklim
Curah hujan daerah tersebut sama dengan curah hujan di Kota Bandung, untuk
bulan September kondisinya sedang kemarau, hanya ada 1 kali hujan yang terjadi di
sepanjang bulan september 2015 ini yakni tepatnya pada tanggal 21 September. Kondisi
lingkungan yang terasa gersang karena banyaknya perkerasan beton, namun apabila dilihat
dari sirkulasi bangunan ini cukup baik, yakni banyaknya terdapat bukaan yang ada di
bangunan tersebut, ditambah dengan fasad yang menghadap ke arah utara membuat rumah
ini selalu baik untuk pergerakan udaranya.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Berdasarkan penilaian yang dilakukan penulis diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
a. Sebuah bangunan haruslah dapat menyesuaikan dengan lingkungan di sekitarnya,
semua aspek perlu diperhatikan saat akan membangun suatu bangunan dalam sebuah
tapak.
b. Sebuah bangunan haruslah mewariskan tapak yang baik yang berkelanjutan, jangan
sampai karena perencanaan tapak yang kurang baik jadi menimbulkan permasalahan
baru dan berdampak buruk di masa depan.

3.2 Saran
Saran yang dapat disampaikan adalah sebagai berikut :
a. Bagi Dosen perencanaan tapak, teruslah selalu untuk memacu mahasiswa untuk
lebih kreatif dan inovatif dengan cara memberi tugas analisis seperti ini, agar kelak
mahasiswa meningkat dalam hal kreatifitas dan kompetensinya dalam hal
merancang dan merencanakan tapak.

b. Bagi mahasiswa diharapkan selalu mengaplikasikan faktor tapak yang baik yang
telah dipelajari di kelas dan di lapangan saat menganalisis untuk kemudian
diaplikasikan pada rancangan tapak nanti.

14