Anda di halaman 1dari 7

2010

PT PLN (Persero)

Rhino Fieldianto

[BEDA TEKANAN SEBAGAI


PARAMETER KONDISI INTERCOOLER]
PLTD Trisakti, Sektor Barito. Banjarmasin, Juni 2010.
Latar Belakang
Intercooler adalah salah satu komponen penting dalam sistem udara masuk dan
udara keluar mesin. Fungsi utamanya adalah mendinginkan udara masuk yang mengalir dari
turbocharger bagian compressor menuju mesin. Sesuai dengan sifat fluidanya, semakin
rendah temperatur udara maka massa udaranya akan lebih besar (pada volume udara yang
sama). Dengan semakin banyaknya massa udara, maka pembakaran bahan bakar di ruang
bakar pada beban yang tinggi dapat lebih sempurna (semakin tinggi beban, semakin banyak
massa udara yang diperlukan).
Sebagai komponen yang penting, kondisi aktual intercooler harus dapat teramati,
sehingga perencanaan pemeliharaan dapat lebih tepat dan efisien. Namun pada mesin SWD
9TM PLTD Trisakti, kondisi intercooler tidak dapat teramati karena tidak adanya alat ukur
tekanan pada sisi sebelum intercooler. Pada saat overhaul, pemasangan alat ukur pada sisi
sebelum intercooler sudah dilakukan. Tapi pada saat terjadi surging, alat ukur tekanan itu
rusak akibat peningkatan tekanan yang tiba-tiba dan melampaui tekanan maksimal yang
mampu diterima alat ukur tersebut.
Masalah yang biasa terjadi pada intercooler adalah kotornya bagian dalam
komponen tersebut. Ditambah lagi dengan posisi pembangkit yang dekat dengan stock pile
batu bara dan cukup berdebu, intercooler lebih cepat kotor. Kotornya intercooler dapat
mengakibatkan masalah lanjutan. Karena kotor, debit udara yang dapat masuk ke mesin
menjadi berkurang dan pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan daya mampu mesin.
Kotornya intercooler juga merupakan salah satu penyebab terjadinya surging pada
turbocharger.
Karena berbagai alasan itulah, maka diperlukan cara agar kondisi intercooler dapat
teramati. Pada tulisan ini akan disampaikan salah satu cara untuk melakukan pengamatan
kondisi secara aktual dengan menggunakan alat ukur beda tekanan, yang nantinya dapat
dijadikan dasar dalam perencanaan pemeliharaan intercooler.

1
Tujuan
- Memasang alat ukur beda tekanan udara antara sebelum dan sesudah intercooler.
- Mengetahui kondisi aktual intercooler berdasarkan parameter beda tekanan antara
sebelum dan sesudah intercooler
- Menghasilkan rekomendasi rencana pemeliharaan berdasarkan trending besarnya
beda tekanan tersebut

Dasar Teori
Intercooler
Fungsi utama komponen ini adalah mendinginkan udara masuk yang mengalir dari
turbocharger sisi compressor menuju mesin. Intercooler bekerja berdasarkan prinsip
perpindahan panas dan terdiri dari heat exchanger tipe shell dan tube. Bagian tube yang
dialiri air dari sistem jacket cooling water, berfungsi mendinginkan udara yang mengalir
melalui bagian shell. Bagian tube memiliki sirip-sirip yang memperbesar permukaan logam
sebagai media perpindahan panas antara air pendingin dan udara masuk.

Intercooler

2
Prinsip Kerja Alat Ukur Beda Tekanan
Prinsip kerja alat ukur beda tekanan yang disarankan ini sama dengan prinsip kerja
alat ukur beda tekanan yang terdapat pada filter (lube oil main filter, fuel oil indicator filter,
fuel oil filter). Titik ukur alat ini adalah tekanan pada sisi sebelum dan sesudah intercooler.
Semakin tinggi nilai beda tekanan dapat diartikan bahwa hambatan yang terjadi pada
intercooler semakin tinggi. Hambatan yang tinggi tersebut dapat disebabkan akibat
kesalahan desain intercooler dan juga bisa disebabkan karena kotornya intercooler.
Besarnya beda tekanan yang dianjurkan adalah sebesar 40-60 mmH2O pada saat mesin
mencapai kecepatan putar 428 rpm tanpa beban.

Pipa U yang telah terpasang dan prinsip kerjanya

3
Akibat dari Kotornya Intercooler
- Penurunan daya mampu mesin
Semakin tinggi daya mesin, semakin banyak juga udara masuk yang diperlukan.
Apabila udara masuk kurang dari yang seharusnya dibutuhkan, maka daya mampu
mesin akan lebih rendah dari yang seharusnya.
- Surging
Apabila intercooler kotor, aliran udara masuk tidak seluruhnya bisa masuk ke dalam
mesin. Akan terjadi penumpukan aliran pada bagian sebelum intercooler, dan hal ini
akan mengakibatkan peningkatan tekanan. Apabila tekanan pada bagian sebelum
intercooler lebih besar dari tekanan pada bagian setelah turbocharger sisi
kompresor, maka akan terjadi aliran balik yang berlawanan arah menuju
turbocharger sisi kompresor. Aliran balik ini akan mengakibatkan getaran dan suara
yang keras, dan apabila terus terjadi akan mengakibatkan kerusakan pada bearing
sisi kompresor.

Spesifikasi Mesin SWD 9TM 620


Spesifikasi yang berhubungan dengan sistem udara masuk antara lain:
- Konsumsi udara masuk sebesar 85900 kg/h
- Temperatur udara masuk:

Kurva batas temperatur udara masuk yang disarankan dan daya mesin

4
Spesifikasi Intercooler
- Penurunan tekanan maksimal pada intercooler sebesar 60 mmH2O, pada kecepatan
putar mesin 428 rpm tanpa pembebanan.
- Debit udara masuk harus mampu dilewati sebesar 85900 kg/h
- Debit air pendingin sebesar 140 m3/h

Analisis dan Pengamatan


Hasil pengukuran beda tekanan pada mesin 9:

Dari beberapa hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa intercooler belum


mencapai spesifikasi yang disarankan, bahkan pada intercooler yang dalam kondisi baru
(Desember 2009). Mengenai kapasitas pendinginan, perlu dilakukan pengamatan lebih jauh
lagi.

5
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
- Alat ukur beda tekanan akan membantu pengamatan kondisi intercooler
- Hasil pengamatan kondisi dapat digunakan untuk perencanaan pemeliharaan

Saran
- Perlu dilakukan pemasangan alat ukur beda tekanan
- Pemilihan jenis alat ukur beda tekanan perlu dianalisis lebih lanjut