Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH KODE ETIK PSIKOLOGI

BAB XI, XII dan XIII


Dosen pengampu : Santi Esterlita Purnamasari, M.Si., Psikolog

Disusun oleh :Kelompok 10


Riska Saraswati 17081106 Ima Nuryanti T 17081092
Bayu Aji Santoso 17081385 Astrid Gustia A 17081570
Vara Vergi Natalia 17081020 Cindy Clarita P 17081091
Sufi Diqi Tsauri 17081731 Dina Kurnianingtyas 17081527
Muh Hamonongan 17081300 Nonik Widyanti 17081791

FAKULTAS PSIKOLOGI
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2019
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang membahas kode etik psikologi.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah yang membahas kode etik
psikologi dan pelanggarannya, untuk para pembaca agar dapat mengetahui tentang
kode etik psikologi dan untuk memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap
pembaca.
Yogyakarta, Desember 2019

Penyusun

ii
Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................................... ii


Daftar Isi ............................................................................................................................ iii
BAB I .................................................................................................................................. 1
PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
A. Latar Belakang .................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
C. Tujuan ................................................................................................................. 1
BAB II................................................................................................................................. 2
PEMBAHASAN ............................................................................................................. 2
A. Bab XI ASESMEN ............................................................................................. 2
Pasal 62 ....................................................................................................................... 2
Pasal 63 ....................................................................................................................... 4
Pasal 64 ....................................................................................................................... 8
Pasal 65 ..................................................................................................................... 10
Pasal 66 ..................................................................................................................... 11
Pasal 67 ..................................................................................................................... 13
B. Bab XII INTERVENSI ..................................................................................... 14
Pasal 68 ..................................................................................................................... 14
C. Bab XIII PSIKOEDUKASI .............................................................................. 18
Pasal 69 ..................................................................................................................... 18
Pasal 70 ..................................................................................................................... 21
BAB III ............................................................................................................................. 23
PENUTUP .................................................................................................................... 23
A. Kesimpulan ....................................................................................................... 23
Daftar Pustaka ................................................................................................................... 24

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Psikolog maupun ilmuwan psikologi saat terjun ke masyarakat untuk
mengabdikan ilmu yang dimiliki atau untuk menjalankan profesinya harus
memiliki aturan-aturan untuk berkerja secara normatif. Aturan yang mengikat
tersebut berguna untuk mengontrol apa yang dilakukan oleh seorang psikolog dan
ilmuwan psikolog. Oleh karena itu dalam dunia psikologi khususnya di Indonesia
maka disusunlah Kode Etik Psikologi yang mengatur secara keseluruhan
bagaimana seorang psikolog dan ilmuwan psikolog bekerja, melakukan penelitian,
mempublikasikan penelitian, memberikan layanan, mengatasi situasi klien,
asesmen, intervensi, konseling, dll.
Kode etik di Indonesia disusun pada tahun 1979 sejak Kongres I Ikatan
Sarjana Psikologi Indonesia (HIMPSI,2010:131) dan sudah mengalami beberapa
kali evaluasi untuk mengikuti perkembangan zaman dan kondisi lingkungan
masyarakat yang selalu mengalami perubahan.
Dalam makalah ini akan dibahas secara khusus mengenai kode etik
psikologi bab XI, XII dan XIII yang membahas mengenai asesmen, inervensi, dan
psikoedukasi yang dilakukan oleh seorang psikolog dan ilmuwan psikologi, serta
berbagai contoh pelanggaran kasus di setiap pasalnya.

B. Rumusan Masalah
Apa isi dan maksud dari kode etik psikologi Bab XI, XII, dan XIII,
serta contoh kasus apa yang tejadi dan dilakukan oleh psikolog dan ilmuwan
psikologi?

C. Tujuan
Untuk mengetahui apa isi dan maksud dari kode etik psikologi Bab XI,
XII, dan XIII, serta contoh kasus apa yang tejadi dan dilakukan oleh psikolog
dan ilmuwan psikologi?

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Bab XI ASESMEN
Pasal 62
Dasar Asesmen

Asesmen Psikologi adalah prosedur evaluasi yang dilaksanakan secara sistematis.


Termasuk didalam asesmen psikologi adalah prosedur observasi, wawancara,
pemberian satu atau seperangkat instrumen atau alat tes yang bertujuan untuk
melakukan penilaian dan/atau pemeriksaan psikologi.
(1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi melakukan observasi, wawancara,
penggunaan alat instrumen tes sesuai dengan kategori dan kompetensi
yang ditetapkan untuk membantu psikolog melakukan pemeriksaan
psikologis.
Analisis:
Pemberian alat tes sesuai dengan kompetensi
Contoh Kasus:
Psikolog A melakukan observasi terhadap klient nya dengan memberi tahu
bahwa klient nya akan di observasi. Serta dalam proses wawancara
Psikolog memanipulasi hasil pemeriksaan psikologi agar hasilnya
memuaskan.
Keterangan:
Seharusnya psikolog dan/ atau ilmuan psikologi tidak memberi tahu
bahwa klien akan di observasi karna dapat mempengaruhi perilaku klien
yang akan di manipulasi oleh klien dengan sengaja. Serta psikolog dan/
atau ilmuwan psikolog tidak memanipulasi dalam proses wawancara,
dengan menulis atau mendokumentasi data real yang klient ucapkan.

2
(2) Laporan hasil pemeriksaan psikologis yang merupakan rangkuman dari
semua proses asesmen, saran dan/atau rekomendasi hanya dapat dilakukan
oleh kompetensinya, termasuk kesaksian forensic yang memadai mengenai
karakteristik psikologis seseorang hanya setelah Psikolog yang
bersangkutan melakukan pemeriksaan kepada individu untuk
membuktikan dugaan diagnosis yang ditegakkan.
Analisis:
Laporan hasil asemen hanya dapat dibuat oleh psikolog yang kompeten
setelah melakukan asesmen
Contoh Kasus:
Seorang dosen Magister lulusan ilmu sains melakukan assesmen dan
menegakan diagnose. Ia bekerja sama dengan seorang psikolog, psikolog
pun mengetahui bahwa dosen tersebut lulusan magister ilmu sains tetapi
psikolog tersebut membiarkan bahkan tidak mempermasalahkan
melakukan assessment.
Keterangan :
Dari pembahasan pasal tersebut sudah jelas bahwa dosen tersebut
melanggar kode etik. Karena seorang magister lulusan ilmu sains hanya
boleh melakukan asesmen tetapi tidak boleh melakukan penegakkan
diagnosis. Dan seorang psikolog seharusnyatidak boleh diam saja.

(3) Psikolog dalam membangun hubungan kerja wajib membuat kesepakatan


dengan lembaga/institusi/organisasi tempat bekerja mengenai hal-hal yang
berhubungan dengan masalah pengadaan, pemilikan, penggunaan dan
penguasaan sarana instrumen/alat asesmen.
Analisis:
Membuat kesepakatan dengan lembaga tempat bekerja mengenai
pengadaan, pengunaan dan penguasaan instrument asesmen
Contoh Kasus:
Seorang Psikolog diminta bekerja sama dengan salah satu perusahaan
ternama untuk melakukan assessment pengkrekrutan karyawan. Salah satu

3
peserta nya adalah saudara dari si Psikolog sendiri. Dia memanipulasi
hasil assesmen milik saudaranya agar saudaranya ketrima menjadi salah
satu karyawan disitu.
Keterangan:
Seharusnya seorang psikolog harus bersikap professional dalam
melaksanakan tugasnya.

(4) Bila usaha asesmen yang dilakukan Psikolog dan/ atau Ilmuwan Psikologi
dinilai tidak bermanfaat Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tetap
diminta mendokumentasikan usaha yang telah dilakukan tersebut.
Analisis:
Tetap mendokumentasikan hasil asesmen walau dianggap tidak berguna
Contoh kasus:
Psikolog sedang melakukan observasi terhadap klient nya, tetapi dia tidak
pernah mencatat atau mendokumentasikan hasil dari observasi tersebut.
Keterangan:
Seharusnya psikolog tersebut selalu mendokumntasikan hasil assessment
walaupun dinilai tidak bermanfaat untuk menghindari hasil data yang di
manipulasi.

Pasal 63
Penggunaan Asesmen

Psikolog dan/atau ilmuwan psikologi menggunakan teknik asesmen psikologi,


(wawancara atau observasi, pemberian satu atau seperangkat instrumen tes)
dengan cara tepat mulai dari proses adaptasi, administrasi, penilaian atau skor,
mengitepretasi untuk tujuan yang jelas baik dari sisi kewenangan sesuai dengan
taraf jenjang pendidikan, kategori dan kompetensi yang disyaratkan, penelitian,
manfaat dan teknik penggunaan. Hal-hal yang harus diperhatikan berkaitan
dengan proses asesmen adalah:

4
Contoh kasus :
Seorang psikolog kedatangan klien dengan keluhan masalahnya, otomatis
psikolog tersebut akan menggunakan teknik asesmen psikologi untuk mengetahui
masalahnya lebih lanjut, dan dapat membantu kliennya. Psikolog tersebut harus
menggunakan teknik asesmen dengan cara tepat, adaptasi, administrasi, penilaian
sesuai dengan kompetensinya. Misalnya masalah kliennya sudah termasuk
masalah yang rumit berarti itu harus di tangani oleh psikolog yang professional
sesuai dengan kompetensinya. Apabila masalahnya masih termasuk masalah
ringan-sedang berarti ilmuwan psikolog juga dapat membantu kliennya sesuai
kompetensinya.
(1) Konstruksi Tes: Validitas dan Reliabilitas
a) Psikolog dan/atau ilmuwan psikologi menggunakan instrumen asesmen
yang jelas validitas dan reliabilitasnya. Instrumen asesmen ditetapkan hanya dapat
digunakan sesuai dengan populasi yang diujikan pada saat pengujian validitas dan
reliabilitas.
b) Jika instrumen asesmen yang digunakan belum diuji validitas dan
reliabilitasnya. Psikolog dan/atau ilmuwan psikologi harus menjelaskan kekuatan
dan kelemahan dari instrumen tersebut serta interpretasinya.
Contoh kasus :
Seorang psikolog akan mengukur tingkat kecemasan dari populasi siswa SMA 1
SEDAYU, dengan menggunakan skala untuk mengukur tingkat kecemasan
subjeknya. Jadi skala yang digunakan oleh psikolog harus teruji validitas dan
reliabilitas dari skala yang di gunakan tersebut. Apabila skala yang digunakan
tersebut belum diuji validitas dan reliabilitasnya. Maka psikolog harus
menjelaskan kelebihan dan kekurangan dari pengujian skala yang diberikan serta
interpretasinya itu seperti apa.
c) Psikolog dan/atau ilmuwan psikologi dalam mengembangkan instrumen
dan teknik asesmen harus menggunakan prosedur psikometri yang tepat,
pengetahuan ilmiah terkini dan profesional untuk desain tes, standardisasi,
validasi, penyimpangan dan penggunaan.

5
Contoh kasus :
Seorang psikolog dalam mengembangkan skala yang digunakannya dalam
instrumen, maka dalam mengembangkannya harus menggunakan prosedur
psikometri yang tepat, pengetahuan ilmiah terkini, desain tes, standarisasi,
validitas, penyimpangan, dan penggunaannya.

(2) Administrasi dan kategori tes


Administrasi asesmen psikologi adalah pedoman prinsip dasar yang harus
dipatuhi dalam melakukan proses asesmen psikologi. Termasuk dalam proses
asesmen psikologi adalah observasi, wawancara dan pelaksanaan psikodiagnostik.
Contoh kasus :
Seorang psikolog kedatangan klien dengan keluhan ini itu, kemudian psikolog
tersebut mulai melakukan proses asesmen seperti observasi, wawancara dan
pelaksanaan psikodiagnostik. Maka Psikolog tersebut dalam melakukan proses
asesmen psikologi tidak boleh asal-asalan dalam melakukannya, psikolog harus
mematuhi pedoman prinsip dasar yang sudah ditetapkan. Apabila psikolog
tersebut tidak mematuhinya, maka psikolog tersebut melanggar apa yang telah
ditetapkan pada pedoman prinsip dasar dan juga akan berdampak pada kliennya.

(3) Kategori Alat Tes dalam Psikodiagnostik:


a) Kategori A: Tes yang tidak bersifat klinis dan tidak membutuhkan
keahlian dalam melakukan administrasi dan interpretasi.
Contohnya: Test DISC, Papikostik, dan MBTI.
b) Kategori B: Tes yang tidak bersifat klinis tetapi membutuhkan
pengetahuan dan keahlian dalam administrasi dan interpretasi.
Contohnya: Test Kraepelin, pada dasarnya mencari Faktor kecepatan (speed
factor), Faktor ketelitian (accuracy factor), Faktor keajekan (rithme factor), dan
Faktor ketahanan (ausdeur factor).
c) Kategori C: Tes yang membutuhkan beberapa pengetahuan tentang
konstruksi tes dan prosedur tes untuk penggunaannya dan didukung oleh

6
pengetahuan dan pendidikan psikologi seperti statistik, perbedaan individu dan
bimbingan konseling.
Contohnya: Test Binet.
d) Kategori D: Tes yang membutuhkan beberapa pengetahuan tentang
konstruksi tes dan prosedur tes untuk penggunaannya dan didukung oleh
pengetahuan dan pendidikan psikologi seperti statistik, perbedaan individu. Tes
ini juga membutuhkan pemahaman tentang testing dan didukung dengan
pendidikan psikologi standar psikolog dengan pengalaman satu tahun disupervisi
oleh psikolog dalam menggunakan alat tersebut.
Contohnya: Test Wais, IST. Pada test tersebut dibutuhkannya pengetahuan
tentang kontruksi test dan prosedur test untuk penggunaannya.

(4) Tes dan Hasil Tes yang Kadaluarsa


Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tidak mendasarkan keputusan asesmen,
intervensi atau saran dari data hasil tes yang sudah kadaluarsa untuk digunakan
pada saat sekarang. Dalam kondisi relatif konstan hasil tes dapat berlaku untuk 2
tahun, namun dalam kondisi atau keperluan khusus harus dilakukan pengetesan
kembali.
Contoh kasus:
Dalam dunia kerja, tes psikologi digunakan untuk memprediksi performa kerja
seseorang berdasarkan kepribadiannya. Sementara dalam dunia medis, tes
psikologi dilakukan untuk mendeteksi kelainan mental pada diri seseorang
sekaligus memutuskan tindakan yang dapat diambil sebagai bagian dari
pengobatan. Ketika dalam seleksi pekerjaan tertentu mungkin akan dilakukan
kembali misal psikotes untuk memperoleh hasil test yang terupdate.

(5) Asesmen yang dilakukan oleh orang yang tidak kompeten/qualified


Asesmen psikologi perlu dilakukan oleh pihakpihak yang memang berkualifikasi,
perlu dihindari untuk menggunakan orang atau pekerja yang tidak memiliki
kualifikasi memadai. Untuk mencegah asesmen psikologi oleh pihak yang tidak
kompeten:

7
a) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi dapat menawarkan bantuan jasa
asesmen psikologi kepada professional lain termasuk Psikolog dan/atau Ilmuwan
Psikologi lain.
b) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi tersebut harus secara akurat
mendeskripsikan tujuan, validitas, reliabilitas, norma termasuk juga prosedur
penggunaan dan kualifikasi khusus yang mungkin diperlukan untuk menggunakan
instrumen tersebut.
c) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi yang menggunakan bantuan jasa
asesmen psikologi dari Psikolog dan/atau IlmuwanPsikologi lain untuk
memperlancar pekerjaannya ikut bertanggung jawab terhadap penggunaan
instrumen asesmen secara tepat termasuk dalam hal ini penerapan, skoring dan
penterjemahan instrumen tersebut.
Contohnya a & c:
Ketika Psikolog akan melakukan psikotes yang dilakukan secara masal pada
penerimaan pegawai perusahaan tidak mungkin psikolog akan melakukannya
sendirian. Maka dari itu psikolog atau ilmuan psikologi dapat menawarkan
bantuan jasa.

Pasal 64
Informed Consent dalam Asesmen

Psikolog dan/ilmuwan Psikolog harus memperoleh persetujuan untuk


melaksanakan asesmen, evaluasi, intervensi atau jasa diagnostik lain sebagaimana
yang dinyatakan dalam standar informed consent, kecuali jika:

8
a. Pelaksanaan asesmen diatur oleh peraturan pemerintah atau hukum;
Analisis:
Informed consent adalah prosedur yang harus dilalui oleh setiap pengguna jasa
psikologi sebelum memulai setiap jasa psikologi. Dalam hal asesmen, informed
consent dimungkinkan tidak dilakukan sepenuhnya, apabila assesmen berkaitan
dengan penyelesaian suatu masalah yang berkaitan dengan hukum, misal kasus
kriminal, dimana pelaksanaannya telah diatur oleh peraturan perundang-
undangan.
Contoh kasus:
Untuk mengetahui motif dari sebuah pembunuhan, psikolog dimungkinkan
melakukan sebuah asesmen terhadap pelaku tanpa melalui prosedur informed
consent secara menyeluruh.
b. Adanya persetujuan karena pelaksanaan asesmen dilakukan sebagai bagian
dari kegiatan pendidikan, kelembagaan atau organisasi secara rutin, misal: seleksi,
ujian;
Analisis:
Sama halnya dengan poin sebelumnya, proses asesmen dapat dijalankan tanpa
prosedur informed consent sebelumnya. Dalam hal ini asesmen ditujukan untuk
kepentingan tertentu misal penyeleksian dalam penerimaan karyawan ataupun
mahasiswa baru. Informed consent tidak perlu dilakukan karena saat peserta
mendaftarkan diri dalam penyeleksian, pada dasarnya mereka telah menyetujui
tahap-tahap penyeleksian yang akan dijalani, termasuk didalamnya proses
asesmen.
Contoh kasus:
Yaitu adanya test psikotes untuk seleksi karyawan di dalam sebuah perusahaan.
c. Pelaksanaan asesmen digunakan untuk mengevaluasi kemampuan individu
yang menjalani pemeriksaan psikologis yang digunakan untuk pengambilan
keputusan dalam suatu pekerjaan atau perkara.

9
Analisis:
Apabila pelaksanaan asesmen bertujuan sebagai bahan pertimbangan dalam
sebuah pengambilan keputusan, maka tidak perlu dilakukan proses informed
consent secara rinci, karena pelaksanaan asesmen dalam hal ini prosedurnya
sendiri telah disesuaikan dengan keperluan serta peraturan, baik peraturan dalam
kode etik psikologi, maupun peraturan perundang-undangan.
Contoh kasus:
Pelaksanaan asesmen yang dilakukan untuk menentukan hak asuh yang akan
diberikan untuk orang tua yang bercerai.

Pasal 65
Interpretasi Hasil Asesmen

Psikolog dalam menginterpretasi hasil asesmen psikologi harus


mempertimbangkan berbagai faktor dari instrumen yang digunakan, karakteristik
peserta asesmen seperti keadaan situasional yang bersangkutan, bahasa dan
perbedaan budaya yang mungkin kesemua ini dapat mempengaruhi ketepatan
interpretasi sehingga dapat mempengaruhi keputusan.
Analisis:
Hasil dari pelaksanaan asesmen yang dilakukan, harus disampaikan oleh psikolog
dengan cara dan bahasa yang sesuai dengan tingkat pendidikan, budaya, dan
tingkat sosioekonomi dari pengguna jasa psikologi. Hal ini bertujuan agar
pengguna jasa dapat mengerti dengan jelas apa yang disampaikan psikolog, serta
untuk menghindari adanya kesalahpahaman dalam memaknai hasil asesmen yang
telah dijalani.
Contoh kasus:
Dalam menyampaikan hasil asesmen kepada pengguna jasa yang mempunyai
tingkat pendidikan rendah hendaknya sebisa mungkin tidak menggunakan istilah-
istilah asing yang dapat membingungkan pengguna jasa.

10
Pasal 66
Penyampaian Data dan Hasil Asesmen

(1) Data asesmen psikologi adalah data alat/instrumen psikologi yang berupa
data kasar, respon terhadap pertanyaan atau stimulus, catatan serta rekam
psikologis. Data asesmen ini menjadi kewenangan Psikolog dan/atau Ilmuwan
Psikologi yang melakukan pemeriksaan. Jika diperlukan data asesmen dapat
disampaikan kepada sesama profesi untuk kepentingan melakukan tindak lanjut
bagi kesejahteraan individu yang menjalani pemeriksaan psikologis.
Analisis:
Berdasarkan pasal 66 kode etik psikologi Indonesia, data hasil asesmen
merupakan kewenangan seorang psikolog dimana mereka mempunyai hak untuk
melakukan sesuatu agar tercapai tujuan tertentu. Data hasil asesmen ini bisa
diperlihatkan atau disampaikan kepada teman seprofesi untuk kepentingan
tertentu agar masalah klien yang menggunakan jasa psikologi bisa segera
mendapatkan jalan keluar.
Contoh kasus:
Seorang psikolog A merekomendasikan klien X kepada psikolog B, seharusnya
psikolog A menyampaikan data hasil asesmen kepada psikolog B agar setelah
klien diambil alih oleh Psikolog B segera dilakukan penanganannya. Namun
psikolog A tidak memberikannya sehingga psikolog B harus mengasesmen klien
X dari awal yang pada akhirnya hasil tersebut mengalami bias karena klien X
sudah pernah melakukan atau mengalami asesmen tersebut.

(2) Hasil asesmen adalah rangkuman atau integrasi data dari seluruh proses
pelaksanaan asesmen. Hasil asesmen menjadi kewenangan Psikolog yang
melakukan pemeriksaan dan hasil dapat disampaikan kepada pengguna layanan.
Hasil ini juga dapat disampaikan kepada sesama profesi, profesi lain atau pihak
lain sebagaimana yang ditetapkan oleh hukum.

11
Analisis:
Hasil asesmen yang sudah ada dapat disampaikan kepada pengguna layanan agar
klien dapat mengetahui langkah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Psikolog juga bisa menyampaikan hasil asesmen kepada rekan seprofesi untuk
mendiskusikan langkah terbaik apa yang harus diberikan kepada klien. Hasil
asesmen juga bisa diberikan kepada rekan profesi lain untuk kepentingan tertentu.
Penyampaian hasil pemeriksaan sebaiknya dilakukan dua arah, artinya klien tidak
hanya mendegarkan hasil tapi juga mendapat kesempatan bertanya.
Contoh kasus:
Seorang psikolog menyampaikan hasil asesmennya kepada seorang klien secara
tulis dan lisan, ia menjelaskan dengan jelas apa yang terjadi pada diri klien, juga
menjawab pertanyaan klien jika klien tidak memahami mengenai hasil
asesmennya.

(3) Psikolog harus memperhatikan kemampuan pengguna layanan dalam


menjelaskan hasil asesmen psikologi. Hal yang harus diperhatikan adalah
kemampuan bahasa dan istilah Psikologi yang dipahami pengguna jasa. Analisis :
Seorang psikolog ketika akan menyampaikan hasil asesmen psikologi, maka harus
memperhatikan siapa lawan bicaranya. Apakah kliennya adalah orang awam yang
tidak paham tentang psikologi, atau seorang yang berpendidikan dan paham akan
ilmu psikologi, sehingga pada akhirnya tidak ada kesalahpahaman antara psikolog
dengan klien terkait dengan hasil asesmennya.
Contoh kasus:
Seorang klien menanyakan hasil asesmennya kepada seorang psikolog yang
menanganinya, klien ini adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak begitu
paham dengan ilmu psikologi. Ketika menyampaikan hasil asesmennya, psikolog
menggunakan istilah-istilah yang sangat sulit dipahami bagi klien dan tidak
menjelaskannya lebih lanjut apa maksud dari istilah tersebut, sehingga klien
merasa bingung dengan hasilnya.

12
Pasal 67
Menjaga Alat, Data dan Hasil Asesmen

(1) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi wajib menjaga kelengkapan dan


keamanan instrumen/alat tes psikologi, data asesmen psikologi dan hasil asesmen
psikologi sesuai dengan: Kewenangan dan sistem pendidikan yang berlaku, aturan
hukum dan kewajiban yang telah tertuang dalam kode etik ini.
Contoh kasus:
Pada saat Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikolog melakukan tes psikologi contoh tes
iq binet, psikolog/ilmuwan psikologi mengecek kelengkapan alat dengan cara
menceklis satu persatu alat yang akan digunakan apakah ada/tidak lengkap.
Setelah melakukan tes binet, Psikolog/ilmuwan psikologi mengecek ulang
kelengkapan alat tes tersebut apakah ada/tidak lengkap.

(2) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi wajib menjaga kelengkapan dan


keamanan data hasil asesmen psikologi sesuai dengan kewenangan dan sistem
pendidikan yang berlaku yang telah tertuang dalam kode etik ini.
Contoh kasus:
Ketika psikolog dan/atau ilmuwan psikologi memegang data hasil tes klien, maka
psikolog/ilmuwan psikologi wajib menjaga kelengkapan dan keamanan data hasil
asesmen psikologi. Ketika ada seseorang sebut saja A melakukan tes psikologi
minat bakat dan iq di suatu biro psikolog, namun A memilih untuk mengambil
hasil asesmennya ketika diperlukan. Pada saat A akan mendaftar perkuliahan,
universitas yang A pilih meminta hasil tes iq untuk dijadikan pertimbangan.
Sehingga A mendatangi Biro psikolog yang melakukan tes terhadap A. Tetapi
pada saat A meminta hasil tes IQ ternyata hasil tes IQ A tidak ditemukan di
penyimpanan berkas psikolog tersebut, alhasil psikolog tersebut harus
bertanggung jawab atas tidak adanya hasil tes IQ A dengan menawari tes IQ
kembali dengan jadwal yang telah disepakati. seharusnya psikolog tersebut wajib
menjaga kelengkapan dan keamanan data.

13
(3) Psikolog dan/atau Ilmuwan Psikologi mempunyai hak kepemilikan sesuai
dengan kewenangan dan sistem pendidikan yang berlaku serta bertanggungjawab
terhadap alat asesmen psikologi yang ada di instansi/ organisasi tempat dia
bekerja.
Contoh kasus:
Psikolog dan/atau ilmuwan psikolog di suatu instansi/organisasi mempunyai hak
milik atas alat tes psikologi ketika ada teman psikolog dari biro lain yang mau
meminjam untuk menggunakan alat tes psikologi atas ijin psikolog/atau ilmuwan
psikolog di biro tersebut sesuai dengan kewenengan dan sistem pendidikan yang
berlaku dan bertanggung jawab atas alat yang dipinjamkan kepada teman psikolog
tersebut jika ada yang hilang atau disalahgunakan.

B. Bab XII INTERVENSI


Pasal 68
Dasar Intervensi

Intervensi adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan terencana
berdasar hasil asesmen untuk mengubah keadaan seseorang, kelompok orang atau
masyarakat yang menuju kepada perbaikan atau mencegah memburuknya suatu
keadaan atau sebagai usaha preventif maupun kuratif
(1) Intervensi dalam bidang psikologi dapat berbentuk intervensi individual,
intervensi kelompok, intervensi komunitas, intervensi organisasi maupun sistem.

(2) Metode yang digunakan dalam intervensi dapat berbentuk psikoedukasi,


konseling dan terapi.

(3) Psikoedukasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan


pemahaman dan/atau keterampilan sebagai usaha pencegahan dari munculnya
dan/atau meluasnya gangguan psikologis di suatu kelompok, komunitas atau
masyarakat serta kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman bagi

14
lingkungan (terutama keluarga) tentang gangguan yang dialami seseorang setelah
menjalani psikoterapi.
Analisis dan contoh:
Intervensi umumnya mengacu pada suatu upaya untuk mengubah perilaku, pikiran
ataupun perasaan seseorang secara sengaja sesuai dengan tujuan yang
dikehendaki. Hal hal terkait intervensi tentunya terdapat pada kode etik psikologi
Indonesia, tepatnya pada bab XII pasal 68. Pengertian intervensi menurut kode
etik psikologi Indonesia adalah suatu kegiatan yang sistematis dan terencana yang
diperoleh berdasarkan hasil asesmen yang akhirnya dapat digunakan untuk
mengubah keadaan seseorang, kelompok orang atau masyarakat dengan maksud
memperbaiki atau mencegah memburuknya suatu keadaan atau sebagai usaha
preventif maupun kuratif. Dalam kode etik psikologi Indonesia intervensi dibagi
ke dalam beberapa bentuk yang berbeda satu dengan lainnya sesuai dengan subjek
intervensi. Bentuk bentuk tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Intervensi individual
2. Intervensi kelompok
3. Intervensi komunitas
4. Intervensi organisasi atau sistem
Selain dibedakan kedalam beberapa bentuk intervensi, metode yang digunakan
pun terdiri atas beberapa metode yaitu psikoedukasi, konseling dan juga terapi.
Adapun penjelasan masing-masing metode intervensi menurut kode etik psikologi
Indonesia adalah sebagai berikut :
a) Psikoedukasi
Menurut kode etik psikologi Indonesia psikoedukasi merupakan kegiatan yang
dilakukan guna meningkatkan pemahaman juga keterampilan sebagai suatu usaha
pencegahan muncul atau meluasnya gangguan psikologis dalam suatu kelompok,
komunitas atau masyarakat. Psikoedukasi juga digunakan sebagai sarana untuk
meningkatkan pemahaman bagi suatu lingkungan utamanya dalam lingkungan
keluarga mengenai gangguan yang dialami seseorang setelah menjalani
psikoterapi. Psikoedukasi pun terbagi menjadi dua bagian yaitu pelatihan dan
tanpa pelatihan. Pada dasarnya psikoedukasi bagian pelatihan yang dimaksud

15
dalam kode etik psikologi Indonesia merupakan kegiatan yang bertujuan
membawa kearah yang lebih baik yang dapat dilaksanakan oleh perguruan tinggi,
Himpsi, asosiasi/ikatan minat dan praktik spesialisasi psikologi atau lembaga lain
yang kegiatannya mendapat pengakuan dari Himpsi. Sedangkan psikoedukasi
bagian non pelatihan menurut kode etik psikologi Indonesia dapat dilakukan oleh
seorang psikolog, atau ilmuwan psikologi yang memahami metode psikoedukasi
maupun masalah yang ada dalam komunitas dengan tahapan meliputi adanya
asesmen, perancangan program, implementasi program, monitoring, dan evaluasi
program.

(4) Psikoedukasi dapat berbentuk (a) Pelatihan dan (b) tanpa pelatihan.
Analisis:
Sesuai yang tertuang pada pasal 3, Psikoedukasi merupakaan kegiatan dalam
rangka meningkatkan pemahaman dan/atau keterampilan sebagai usaha
pencegahan gangguan psikologis pada masyarakat dikemas dalam bentuk
pelatihan. Pelatihan yang dimaksud adalah sesuai pada pasal 37 tentang pedoman
umum ayat 3 tentang pelatihan.
Contoh:
Pelatihan seperti pelatihan mengatasi insomnia pada mahasiswa yang bertujuan
untuk mencegah maupun mengurangi insomnia pada mahasiswa. Dalam bentuk
tanpa pelatihan dapat dikemas dalam bentuk FGD (Focus Group Discussion)
tentang mental illness yang dilakukan oleh seoarang ilmuan psikologi, maupun
psikolog.

(5) Konseling Psikologi adalah kegiatan yang dilakukan untuk membantu


mengatasi masalah baik sosial personal, Pendidikan atau pekerjaan berfokus pada
pengembangan potensi positif yang dimiliki klien. Itilah untuk subjek yang
mendapatkan layanan konseling psikologi adalah kilen.

16
Analisis:
Konseling psikologi dapat dilakukan oleh ilmuan psikologi (merujuk pada Bab I
Pedoman umum pasal 1 Ayat 4) maupun psikolog untuk membantu klien
mengatasi masalahnya dan mengembangkan potensi klien.
Contoh:
Dilansir pada laman detiks news, Polda Metro Memberikan Konseling Psikologi
kepada korban Teror Thamrin, tujuan diberikannya konseling psikologi agar para
korban secara psikologis dapat recovery. Dikarenakan menjadi korban tentunya
mengalami trauma dan rasa takut dari kejaidan tersebut sehingga untuk mengatasi
masalah akan ketakutan maupun trauma tersebut dapat diberikan konseling
psikologis agar menjadi pribadi yang berdaya dan mampu menjalankan
aktivitasnya kembali. Dari berita terserbut konseling psikologis dapat diberikan
untuk penanganan maupun mengatasi persoalan psikologis yang dihadapi klien
sebagai korban pada kasus terror thamrin.
Diakses pada laman : https://news.detik.com/berita/d-3121380/polda-metro-
berikan-konseling-psikologi-kepada-korban-teror-thamrin/komentar

(6) Terapi Psikologi adalah kegiatan yang dilakukan untuk penyembuhan dari
gangguan psikologis atau masalah kepribadian dengan menggunakan prosedur
baku berdasarkan teori yang relevan dengan ilmu psikoterapi. Istilah untuk subjek
yang mendapatkan layanan terapi psikologi adalah klien.
Analisis:
Terapi psikologi (Psikoterapi) dapat dilakukan oleh psikolog dalam rangka
penyembuhan dari gangguan psikologis yang dialami oleh klien.
Contoh:
Seperti dilansir pada laman detik health, dikarenakan terjadi kecelakan yang
dialami oleh maskapai Lion Air JT 610, kejadian ini dapat memicu kecemasan
pada pengidap fobia naik pesawat terbang. Menurut Bona Sardo, MSi. Seorang
Psikolog dari Universitas Indonesia Fobia Naik Pesawat dapat diatasi dengan
terapi modifikasi perilaku dengan teknik desentisisasi sistemik, tentunya terapi ini
dapat dilakukan oleh psikolog klinis.

17
Diakses pada laman : https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-
4280325/punya-fobia-naik-pesawat-ini-tips-psikolog-untuk-mengatasinya

C. Bab XIII PSIKOEDUKASI

Pasal 69
Batasan Umum

Psikoedukasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk:


a. Meningkatkan pemahaman dan atau keterampilan sebagai usaha
pencegahan dari munculnya dan atau meluasnya gangguan psikologis di suatu
kelompok, komunitas atau masyarakat.
b. Meningkatkan pemahaman bagi lingkung an (terutama keluarga) tentang
gangguan yang dialami seseorang setelah menjalani psikoterapi. Psikoedukasi
dapat berbentuk (a) pelatihan dan (b) tanpa pelatihan (non training)
Analisis:
Pasal ini menjelaskan megenai apa yang dimaksud dengan psikoedukasi.
Pengertian psikoedukasi sendiri adalah:
 Mendidik partisipaan mengenai tantangan dalam hidup
 Membantu partisipan mengembangkan sumber-sumber dukungan dan
dukungan sosial dalam menghadapi tantangan hidup
 Mengembangkan keterampilan coping untuk menghadapi tantangan hidup
 Mengembangkan dukungan emosional
 Mengurangi sense of stigma dari partisipan
 Mengubah sikap dan belief dari partisipan terhadap suatu gangguan
(disorder)
 Mengidentifikasi dan mengeksplorasi perasaan terhadap suatu isu
 Mengembangkan keterampilan penyelesaian masalah
 Mengembangkan keterampilan crisis-intervention

18
Psikoedukasi, baik individu ataupun kelompok tidak hanya memberikan
informasi-informasi penting terkait dengan permasalahan partisipannya tetapi juga
mengajarkan keterampilan-keterampilan yang dianggap penting bagi
partisipannya untuk menghadapi situasi permasalahannya. Psikoedukasi
kelompok dapat diterapkan pada berbagai kelompok usia dan level pendidikan.
Asumpsi lainnya, Psikoedukasi kelompok lebih menekankan pada proses belajar
dan pendidikan daripada self-awareness dan self-understanding dimana
komponen kognitif memiliki proporsi yang lebih besar dari pada komponen
afektif.
Namun ini tidak berarti bahwa Psikoedukasi sama sekali tidak menyentuh aspek
self-awareness dan self-understanding. Hal ini dikembalikan kepada sasaran dari
Psikoedukasi itu sendiri baik anak-anak, remaja, dan orang dewasa di berbagai
seting. Psikoedukasi kelompok ini juga dapat terdiri dari satu sesi ataupun lebih.
Psikoedukasi kelompok, sekilas tampak serupa dengan konseling dan terapi
kelompok. Akan tetapi, terdapat perbedaan-perbedaan yang perlu dihayati sebagai
dasar untuk menentukan kompetensi dan pengetahuan apa saja yang diperlukan
untuk mengadakan psikoedukasi kelompok. Perbedaannya sendiri yaitu :
Psikoedukasi Kelompok Konseling dan Terapi Kelompok
 Menekankan pengajaran dan  Menekankan pengalaman dan
instruksi perasaan
 Menggunakan aktivitas yang  Sedikit menggunakan
terstruktur dan terencana aktivitas yang terstruktur dan
 Tujuan kelompok biasanya trencana
ditentukan oleh pemimpin kelompok  Tujuan kelompok ditentukan
 Pemimpin kelompok berperan oleh anggota kelompok
sebagai fasilitator, guru  Pemimpin kelompok
 Fokus pada pencegahan melakukan pengarahan, intervensi,
 Tidak ada pemilihan terhadap dan perlindungan trhadap anggotanya
anggota kelompoknya  Fokus pada self-awareness
 Anggota kelompok bisa  Pemilihan anggota kelompok

19
berjumlah sangat besar penting untuk dilakukan di awal
 Pembukaan diri dapat pembentukannya
dilakukan tetapi tidak diharuskan  Biasanya terbatas hanya pada
 Privasi dan kerahasiaan bukan 5-10 anggota kelompok
merupakan penekanan utama  Diharakan adanya pembukaan
 Sesinya dapat dibatasi hingga diri
hanya menjadi satu sesi  Privasi dan kerahasiaan
 Penekanan pada tugas menjadi hal penting dan mendasar
 Biasanya terdiri dari beberapa
sesi
 Penekanan pada
mempertahankan keberlangsungan
kelompok daripada tugas

Contoh kasus:
Pendidikan ABK dengan inklusi, tetapi konsep yang dipahami adalah sekolah
bersama, yakni ABK dan anak normal sekolah bersama. Ketika Guru
diwawancarai, ternyata ABK diberi perlakuan yang sama dengan anak normal.
Jika tidak bisa, ABK dikatakan bodoh. Kondisi ini justru menyebabkan gangguan-
gangguan penyerta lainnya. Kondisi ini perlu diberi psikoedukasi terkait konsep
inklusi.

20
Pasal 70
Pelatihan dan Tanpa Pelatihan

1) Pelatihan:
Pelatihan telah diuraikan secara rinci pada buku kode etik ini bab VIII tentang
Pendidikan dan Pelatihan.
2) Tanpa Pelatihan:
a. Langsung dalam bentuk ceramah dan pemberian penjelasan secara lisan.
Contoh:
Psikolog dan/ilmuwan memberikan penjelasan edukasi secara lisan atau dalam
jumlah yang banyak.
b. Tidak langsung dalam bentuk penyebarluasan leaflet, pamflet, iklan
layanan masyarakat ataupun bentuk-bentuk lain yang memberikan edukasi tentang
suatu isue dan/atau masalah yang sedang berkembang di masyarakat.
Contoh:
Seorang psikolog membuat iklan layanan tentang bahayanya menggunakan gawai
secara berlebihan. melalui pamflet, tv, radio, dsb
c. Psikoedukasi tanpa pelatihan dapat dilakukan oleh psikolog dan/atau
ilmuwan psikologi yang memahami metode psikoedukasi maupun masalah yang
ada dalam suatu komunitas dan/atau masyarakat.
Contoh:
Psikolog dan/atau ilmuan membuat acara tentang permasalahan yang sering
terjadi pada masyarakat atau komunitas
d. Tahapan psikoedukasi tanpa pelatihan yang harus dilakukan meliputi
asesmen, perancangan program, implementasi program, monitoring dan evaluasi
program.
Contoh:
Sebelum memberikan edukasi kepada masyarakat umum, psikolog wajib melewati
beberapa tahap untuk bisa memberikan edukasi

21
e. Psikolog dan/atau ilmuwan psikologi dalam melakukan psikoedukasi non
training harus sesuai kaidah-kaidah ilmiah serta bukti empiris yang ada dan
berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan.
Contoh:
Tanpa pelatihan psikolog dan/atau ilmuwan untuk bisa melakukan edukasi, harus
dengan bukti empiris yang ada dan berdasarkan asesmen yang dilakukan
f. Intervensi psikoedukasi non training dihentikan jika berdasarkan hasil
monitoring dan evaluasi menunjukkan telah terjadi perubahan positif ke arah
kesejahteraan masyarakat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Contoh:
Psikolog melakukan edukasi penanganan kepada masyarakat, setelah itu psikolog
monitoring dan evaluasi ke rumah-rumah sekitar dan ternyata ada perubahan
positif maka edukasi tersebut dihentikan.
g. Jika terjadi dampak negatif sebagai akibat dari perlakuan tersebut,
pelaksana psikoedukasi non training berkewajiban untuk mengembalikan ke
keadaan semula.
Contoh:
Bila terjadi dampak negatif akibat dari perlakuan tersebut, psikolog bertanggung
jawab untuk mengembalikan keadaan semula.

22
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

23
Daftar Pustaka

Buku Kode Etik Psikologi Indonesia tahun 2010

24

Anda mungkin juga menyukai